LOVE is HARD part 12-END

new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

Kim myungso Infinite

Park jiyeon T-Ara

And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. cerita ini sangat flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana.

=======================================================================

Jiyeon menatap punggung Suzy dengan marah. Dia bisa merasakan kepalanya yang mendidih saat ini. Dia sangat marah! Bahkan sangkin marahnya dia bisa membunuh orang dengan auranya saat ini. Kata-kata Suzy sangat menusuk hatinya. Rasanya seperti ada besi panas yang di tekan kuat ke dadanya.

Dia tahu dia sudah kalah. Tapi dia tidak mau mengakuinya.

Dulu dia mendekati Kim Myungsoo memang karena ingin menunjukkan pada Suzy kalau dia juga bisa unggul dari yeoja itu. Dan sebenarnya dia juga tahu kalau Myungsoo menyimpan Suzy di tempat yang istimewa di hatinya meski namja itu tidak menyadarinya. Dan dia berhasil mengalihkan perhatian Myungsoo dari Suzy. Tapi sepertinya semua orang menentang hubungan mereka, bahkan orang tuanya juga.

Dia masih ingat saat ayahnya di PHK karena menjalin hubungan dengan anak keluarga Kim. Dia juga ingat saat ibunya memohon padanya agar melepaskan Myungsoo, kalau tidak keluarganya akan lebih hancur lagi. Dia juga masih ingat saat ayahnya harus meninggal dunia karena bunuh diri akibat PHK itu dan tidak di terima di perusahaan manapun—karena kekuasaan keluarga Kim—tapi dasar Jiyeon keras kepala dia tetap memaksakan diri. Tetap memaksakan diri saat ibunya tidak mau menatap dan menganggapnya sebagai anaknya lagi. Dia terus mendesak Myungso menikahinya tanpa memperdulikan resikonya.

Seharusnya dia tahu resiko apa yang akan dia dapat dari kekeras kepalaanya.

Tapi Jiyeon marah karena pada akhirnya dia gagal untuk mendapatkan Myungso. Dia butuh seorang menjadi kambing hitam. Sudah begitu banyak yang dia korbankan. Sudah begitu keras usahanya, tapi dia tetap tidak berhasil. Dulu dia sempat berfikir dengan kehamilannya dia bisa meluluhkan orangtua Myungsoo, tapi dia salah.

Seharusnya dia mendengarkan nasehat orang-orang. Seharusnya dia mendengarkan Sulli dan Soojung, mendengarkan ibunya. Kalau dia mendengarkan mereka semua pasti ini tidak terjadi. Atau kalau tidak seharusnya dia berjuang sampai akhir, bukannya menyerah di tengah jalan. Meninggalkan semuanya dalam keadaan berantakan. Meninggalkan ibunya yang sakit begitu saja. Meninggalkan Kim Myungsoo yang sangat di cintainya.

***

Suzy gemetaran sambil memeluk Sooyeon di halte dekat restoran itu sambil menunggu taksi. Dia tidak pernah seberani dan sekasar itu sebelumnya. Dia tahu dia melukai Jiyeon, dia tahu yeoja itu sudah terlalu banyak menderita dan melalui kesakitan. Seharusnya dia merelakan semuanya pada Jiyeon. Tapi membayangkan hidup tanpa Sooyeon rasanya dia begitu ketakutan. Dan entah dari mana dia mempunya keberanian itu dan melukai hati Jiyeon. Dia tahu seharusnya Jiyeon lebih berhak atas Sooyeon, tapi dia yang merawat dan membesarkan Sooyeon. Dia sudah terlalu putus asa pada hidupnya yang menyedihkan. Dan hanya karena gadis kecil itulah dia bisa bertahan, dia terlalu memberikan seluruh nyawanya pada gadis kecil itu hingga dia seperti akan mati jika dia kahilangan Sooyeon.

Tapi meski dia terlihat berani dan marah sesungguhnya dia merasa bersalah dan takut. Dia begitu takut, sampai rasanya semua kekuatannya di serap habis. Dia membutuhkan tambahan energi sehingga dia mengeratkan pelukannya pada Sooyeon.

“Eomma kenapa?” tanya Sooyeon ragu melihat tingkah ibunya yang tidak seperti biasanya. Biasanya dia selalu melihat ibunya itu tenang dan lembut, tidak pernah ketakutan dan gemetaran begitu. “Gwenchanayo?”

Suzy menyadari pelukannya yang terlalu erat dan bisa melukai Sooyeon. Dia melonggarkan pelukannya dan menatap gadis kecil itu, “Ne…gwenchana.”

“Tapi kenapa eomma memelukku kuat sekali dan eomma gemetaran?”

“Mian, apa eomma menyakitimu?” tanya Suzy cemas. Sooyeon menggeleng. “Eomma tadi panik saat saengsongnim bilang kamu pergi dengan orang asing. Eomma takut kamu di culik. Eomma gak mau kehilangan kamu.”

“Jiyeon ajhuma bukan orang asing. Dia teman eomma.” Suzy mengehela nafasnya berat. “Lagi pula, dia ternyata orangnya baik.”

“Benarkah? Apa kamu suka dengannya?” tanya Suzy cemas. kalau ternyata Sooyeon lebih memilih Jiyeon, bagaimana dengannya?

Sooyeon mengangguk. “Ne, tapi aku lebih suka dengan eomma. Karena eomma adalah eommaku.” jawab gadis itu membuat Suzy tersenyum lega. Dia kembali memeluk Sooyeon dengan erat, ketakutannya yang tadi kembali mencair.

Benar dia adalah eommanya. Dia tidak perlu khawatir.

“Gomawo, aegiah. Aku memang eommamu.” Ujar Suzy kembali mengeratkan pelukannya.

….

Suzy melihat ada taksi tak jauh dari tempatnya menunggu dan langsung berdiri dan menghentikan taksi itu. Setelah berhenti, dengan lembut dia menuntun Sooyeon masuk kedalm taksi itu terlebih dahulu baru dia menyusul. Suzy baru saja duduk didalam taksi itu dan hendak menyebutkan nama alamat yang dia tuju saat pintu di seberangnya tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk.

“A..Apa yang kamu lakukan,” ujar Suzy panik dan pucat.

“Jiyeon ajhuma..” ujar Sooyeon tak kalah keget melihat Jiyeon.

“Tu…”

“Tolong aku…Kali ini saja, kumohon tolong aku…”Jiyeon memotong Suzy cepat. Suzy yang tadinya ingin mengusir Jiyeon dengan kasar, tiba-tiba terdiam melihat ekspresi Jiyeon. Yeoja itu terlihat panik dan ketakutan. “Sekali ini saja, aku mohon…”tambah Jiyeon lagi sambil sekali-sekali menoleh kebelakang.

Suzy ikut melihat kearah pandangan Jiyeon dan dia bisa melihat ada beberapa namja berbadan besar dan menggunakan kemeja hitam yang sepertinya mencari seseorang. Dia ingin bertanya pada Jiyeon langsung di urungkan saat melihat tatapan cemas Jiyeon saat pria berbadan sangaritu mulai berjalan kerah taksi mereka.

“Jalan pak,” ujar Suzy akhirnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat ekspresi Jiyeon sepertinya dia memang benar-benar membutuhkan bantuannya.

“Ajhuma kenapa? Kenapa ajhuma seperti orang ketakutan?” Tanya Sooyeon tiba-tiba saat taksi itu sudah berjalan meninggalkan dua pria berbadan sangar tadi.

“Hmm…Ani, aku tidak apa-apa,”Jawab Jiyeon bingung.

“Sooyeonah, Jiyeon ajhuma sedang capek, jadi jangan di tanya-tanya dulu ya,” ujar Suzy melihat Sooyeon yang tidak puas dengan jawaban Jiyeon dan hendak bertanya lagi.

“Ne, eomma,” ujar Sooyeon patuh meski dia masih penasaran. Tapi gadis kecil itu memang tidak pernah mau membantah Suzy.

“Gomawo…” Ujar Jiyeon tulus membuat Suzy hanya membalas sambil tersenyum.

 

Soojung memandang Suzy kesal. Dia tidak habis fikir dengan jalan pikiran Suzy. Menurutnya Suzy sudah gila atau otaknya sudah bergeser. Bagaimana bisa yeoja itu membawa Jiyeon ke rumahnya setelah apa yang dilakukan Jiyeon padanya. Bukankah tujuan Suzy datang ke Changwon untuk bersembunyi dari Jiyeon? Memang Jiyeon sudah tahu dia tinggal di sini, tapi bukankah Suzy sedang menghindari Jiyeon, lalu kenapa dia masih membawanya ke rumahnya.

“Untuk apa kamu membawanya ke sini?” Tanya Soojung ketus saat pulang kerja dan melihat Jiyeon ada di rumahnya. Dia masih kesal dengan Jiyeon karena kemarin malam yeoja itu menampar Suzy dan ikut membentaknya dan juga ingin memaksa masuk rumahnya.

“Ya…kamu kasar sekali,” Ujar Sulli pelan sambil menyikut Soojung. Dia juga sebenarnya masih kesal dengan Jiyeong, tapi masa harus terang-terangan di tunjukkan.

“Biar dia tahu, kalau aku tidak menyukainya,”Ujar Soojung masih tidak peduli.

Jiyeon yang mendengar itu hanya bisa menelan ludah menatap Soojung. Dari dulu dia sudah tahu kalau Soojung itu kalau berbicara selalu dari hati dan tanpa mau repot-repot menghaluskan kata-katanya.

“Ya, Soojungah jangan begiti. Dia sedang membutuhkan bantuan,” Ujar Suzy berusaha tenang dengan tatapan tajam Soojung. “Sebagai teman kita harus membantunya.”

Soojung menatap Suzy tidak percaya. “Teman?!” pekiknya histeris. “Sejak lima tahun lalu saat dia menamparku di depan umum, dia bukan lagi temanku. Aku tidak punya urusan apapun lagi dengannya!”

Suzy dan Sulli menatap prihatin pada Soojung. Mereka melihat kejadian itu dan juga mengerti betapa marahnya Soojung saat itu. Sementar Jiyeon hanya menatap Soojung penuh rasa bersalah.

Saat itu Jiyeon sedang bertengkar dengan Myungsoo. Dia sangat marah dan cemburu sekali pada Suzy karna Myungsoo masih saja membela Suzy. Tanpa berfikir panjang, dia langsung mendatangi Suzy yang habis pulang bimbingan belajar bersama Sulli dan Soojung dan langsung menampar Suzy. Soojung yang melihat Suzy hanya diam aja mencoba melerai mereka dengan menjauhkan Jiyeon dari Suzy yang seperti kesetanan sementara Sulli berusaha memeluk Suzy yang hanya diam mematung. Tapi Jiyeon yang sangat marah langsung menjambak rambut Soojung dan menamparnya. Dan perkelahianpun tidak terhindarkan hingga Myungsoo muncul dan menarik paksa Jiyeon dari tempat itu.

“Soojungah…itukan hanya masa lalu kenapa kamu masih mengingat-ingat itu.” Mendengar kalimat Suzy, Soojung makin kesal aja.

“Lagi pula kamu sudah terlalu banyak membantu dia! Mau sampai kapan kamu menghabiskan waktumu untuk mengurusinya,” Tambah Soojung kesal. “Neo, meski kamu selalu menghancurkan hidupnya, selalu saja dia mau membantumu. Kamu selalu bernapsu ingin mengancurkan Suzy, tapi saat butuh bantuan selalu datang merangkak minta tolong padanya. menjijikkan…”

“Jung Soojung…”Tegur Suzy.

“Wae, aku benar kan?” ujar Soojung. “Dulu kamu merelakan Kim Myungsoo padanya dan tidak pernah marah meski dia tahu kamu mencintai kim Myungsoo. Kamu juga memohon-mohon pada orang tuamu agar dia tidak di keluarkan dari sekolah, rela melakukan apapun asalkan orang tuamu jangan menyentuh dia dan keluarganya. Kamu bahkan bersedia menerima pertunangan itu agar tidak terjadi apa-apa padanya mereka, tapi dasar tidak tahu diri dia menyalahkanmu. Lalu kamu mengurusi ibunya, suaminya yang hampir depresi dan juga anakanya… Dan sekarang setelah perlakuan kasarnya tadi malam, dia kembali merangkak meminta tolong padamu. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Bae Suzy,” geram Soojung menatap Suzy yang hanya diam membisu.

Setau Suzy, dia tidak pernah menceritakan semua itu pada Soojung maupun orang lain, selain bagian saat dia harus merelakan impiannya untuk menikah dengan Myungsoodan harus mengurus Sooyeon. Semua itu dia simpan di hantinya sendiri, tapi bagaimana Soojung tau itu semua. Dia menatap Soojung yang juga sedang menatapnya tajam.

“Meski aku dan Sulli terlihat biasa aja dan terkesan tidak terlalu banyak bertanya tentang kehidupanmu, bukan berarti kami tidak mengetahui tentangmu Suzy, kami sahabatmu dan kami tahu terjadi padamu selama ini.”

Suzy membisu. Dia tidak tahu kalau ternyata Soojung dan Sulli sangat perhatian padanya. Bahkan kedua sahabatnya itu sangat mengerti dia dan selalu ada untuknya. Dia sangat berterimakasi sekali pada Soojung, sayang Suli sedang keluar membawa Sooyeon. Begitu melihat kemarahan Soojung, dengan bijak yeoja itu langsung membawa Sooyeon keluar dengan alasan ingin membeli sesuatu.

Mianhae…”Ujar Jiyeon tiba-tiba. “Aku tidak tahu semua yang kamu lakukan itu. Jeongmal mianhae…”Ujar Jiyeon. “Aku terlanjur di butakan kebencian dan kecemburuan.”

“Cieh…”Ujar Soojung muak.

Mianhae atas sikapku. Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf…Apalagai minta tolong, mianhae…” Ujar jiyeon terisak. “Aku selalu iri pada hidupmu yang sempurna dan  ingin menang darimu lewat Myungso. Awalnya hanya kecemburuan biasa tapi melihat ekspresimu sedihmu karena Myungsoo oppa lebih memilihku membuatku seperti di atas angin dan semakin ingin menang darimu, tapi seiring berjalannya waktu aku mencintai Kim Myungsoo dan tak ingin melepasnya. Melihat perhatiannya padamu, aku selalu di bakar api cemburu hingga berusaha membuatnya membencimu dan memaksanya menikahiku. Aku mengabaikan orangtuaku, teman-temanku dan semuanya. Aku tahu itu semua salahku, tapi aku tidak mau di salahkan. Aku ingin seseorang menanggung dosaku. Aku ingin kamu juga merasakan bagaimana sakit hatiku, bagiamana menderitanya aku. Karena kalau tidak, mungkin aku akan bunuh diri dalam penyesalan dan rasa bersalah. Apalagi saat tahu ayahku meninggal bunuh diri dan ibuku sakit-sakitan. Aku tidak punya keberanian untuk menatap wajahnya, hingga aku melarikan diri.”

“Jiyeonah…” Ujar Suzy. Dia bingung harus bertindak apa. Ternyata hidup yeoja ini begitu gelap oleh rasa iri dan juga rasa bersalah yang terlalu di pendam hingga dia semakin terperosok dalam. Dia berfikir menyakiti orang lain mungkin bisa mengurangi rasa bersalahnya. Seharsnya sebagai teman Suzy bisa mengerti perasaan Jiyeon.

“Sebenarnya aku tahu anakku tidak meninggal,” Ujarnya pelan membuat Suzy dan Soojung menatapnya kaget. “Tidak! Saat di rumah sakit, aku memang berfikir dia meninggal, tapi saat di Jepang, sebelum kembali ke Korea 3 Tahun lalu, aku menyelidiki kalian secara diam-diam. Dan dari situ tertulis kalau kalian memiliki anak perempuan berumur 2 tahun. Dari situ aku tahu kalau dia anakku.karena seandainya kalain menikah dan punya anak pasti usianya tidak mungkin 2 tahun. Tapi aku tidak punya keberanian untuk kembali dan mengakuinya sebagi anakku. Tiba-tiba aku takut dengan anak itu. Aku merasa kalau aku mengakui anak itu, semua dendam yang kugunakan sebagai alasan aku hidup akan hancur, aku tidak akan mampu menanggung rasa bersalah itu.”

“Aku ingin balas dendam denganmu karena alasan anakku sudah meninggal. Dan kalau ternyata dia masih hidup, apa aku masih pantas untuk balas dendam? Dendam apa yang harus aku balas?”  Jiyeon tersenyum miring sambil menundukkan kepalanya. “Lagi pula aku tahu, kamu tidak melakukan apapun. Ini semua akibat ulahku.”

“Karena kamu merebut dan menikahi Myungsoo oppa?” Jiyeon terkekeh. “Bukannya aku yang merebutnya darimu dan juga meninggalkannya begitu saja? Karena aku miskin? Apa ini salahmu? Atau karena orangtuaku? Tapi bukankah itu salahku?”

“Kamu masih ingat saat kita bertemu di toilet waktu itu?”tanya Jiyeon lagi. “Sebenarnya aku takut dan ingin menghindari anak itu, tapi…melihat sikap posesifmu melindungi anak itu dariku tiba-tiba aku mendapat ide. Aku tahu kamu sangat mencintainya, jadi alangkah baiknya jika aku membuatmu ketakutan dengan pura-pura mengambil anak itu dan ternyata aku benar. Kamu langsung kabur beberapa hari berikutnya. Kamu tahu aku sangat menikmati sinar ketakutanmu?”

“Kamu benar-benar sudah gila,” ucap Soojung tidak percaya. “Sepertinya jiwamu terganggu. Aku pikir kamu perlu psikiater.”

Suzy menatap Soojung memperingatkan, sementara Jiyeon malah terkekeh. “Aku tahu, aku juga berfikir seperti itu,” Ujarnya santai. “Setelah kamu kabur dan Myungsoo oppa mengajakku ke rumah kalian, aku melihat fotomu dan Sooyeon yang begitu bahagia dengan mata berbinar-binar, tiba-tiba saja rasa cemburu yang membuncak itu mencuat lagi dan aku sempat melupakan dendam itu dan ingin keluargaku kembali padaku. Apalagi saat Myungsoo oppa masih saja luluh padaku. Tapi tiba-tiba sebuah telepon menyadarkanku dari mimpi dan aku harus kembali ke Jepang. Dan setelah di Jepang dan melihat hidupku yang menyedihkan rasa kebencianku kembali memuncak dan ingin mengamil tempatmu. Dan saat melihat kamu dan Myungsoo oppa kemari aku benar-benar sadar. Aku sadar kalau aku sudah terlambat, bahwa aku sudah tidak punya harapan. Tapi aku tidak terima kalah lagi darimu. Aku sangat marah dan membencimu lalu menamparmu. Dan tadi siang saat kamu mengatakan kenyataan, bahwa semua ini adalah akibat kesalahanku aku tahu kamu benar dan aku sangat marah hingga tidak bisa membuka mulutku. Aku marah karena kamu benar.”

Suzy hanya diam mendengarkan Jiyeon. Membiarkan semua racun di dalam hatinya keluar, melepaskan semua ikatan yang mencekiknya. Meski dia juga marah dan kecewa pada Jiyeon, tapi dia tahu kalau kemarahannya akan membuat jiyeon semakin terpuruk. Ini semua harus di akhiri sebelum luka mereka semakin dalam.

“Dan aku juga sadar, ternyata selama ini aku sendirian. Saat aku membutuhkan pertolongan, aku tidak punya siapa-siapa. Aku tidak punya tempat untuk berlindung,” Ujarnya pelan. “Dan Soojung juga benar, kalau aku sudah terlalu benyak mengancurkan hidupmu. Mianhae…seharunya aku tidak menyusahkanmu lagi. Aku tahu aku tidak punya harga diri, tapi  hanya kamu yang bisa menolongku. Aku benar-benar ketakutan.”

Gwenchana…Kamu sudah melakukan hal benar. Memang apa yang membuatmu ketakutan? Aku dan Soojung akan menolongmu.”

Soojung menatap Suzy tidak percaya. Melihat muka Jiyeon saja dia kesal, apalagi menolongnya?

“Aku pikir yang perlu ke psikiater bukan hanya dia, tapi kamu juga,” Ujar Soojung sengit. “Aku tidak peduli apa masalahnya,kalau kamu ingin menolongnya, kamu tolong saja. Aku tidak mau terlibat.” Ujar Soojung angkuh dan berlalu ke arah dapur.

“Tidak usah mendengarkannya,”Ujar Suzy pada Jiyeon. “Dia memang seperti itu, tapi aku tahu dia pasti akan membantumu. Hanya dia mungkin masih kesal padamu.”

Jiyeon mentap Suzy dengan mata berkaca-kaca. “Apa kamu tidak kesal dan memenciku?”

“Sebenarnya  kita ini lucu ya?” tanya Suzy membuat jiyeon bingung. “Dari dulu aku selalu mengagumimu dan iri dengan hidupmu yang sepertinya bebas. Aku bahkan rela tukar tempat denganmu, tapi kamu malah iri denganku,” ucap Suzy menatap jiyeon. Kini sebuah senyum menenangkan menghiaasi bibirnya. “Tapi kita berbeda dalam menyalurkan rasa iri kita. Aku memilih untuk menerima semuanya, tapi kamu mengambil jalan yang salah.”

Suzy menatap Jiyeon dalam. “Aku juga manusia biasa yang sangat membencimu. Tapi aku juga lelah dengan semua ini. Hanya rasa karena rasa cemburumu dan obsesi konyolmu ingin merebut kebahagianku kita semua jadi terluka. Percayalah, selama aku hidup aku belum pernah merasakan bahagia. Kamu hanya buang-buang waktu mengambil sesuatu yang tidak ada. Dengan kebodohanmu ini rasanya aku ingin memberimu pelajaran dan membiarkanmu, tapi aku tahu kamu sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa, jadi aku akan menolongmu,” jawab Suzy. “Lagipulaaku harus berterimakasih padamu karena Sooyeon. Dialah satu-satunya kebahagiaanku setelah nenekku. Aku membantumu untuknya.”

Mata Jiyeon mulai berkaca-kaca menatap Suzy. “Kamu pasti sangat mencintai Sooyeon..”

“Hmm…Aku memang tidak mengandung dan melahirkannya, tapi aku merasa Tuhan menciptakan dia untukku hanya saja lewt kamu. Bagiku dia adalah anakku dan aku ibunya. Semua ibu di dunia ini akan berjuang sekeras apapun demi anaknya. Bahkan jika harus terjun ke neraka.”

“Kamu memang lebih pantas menjadi ibunya,” meski Jiyeon mengatakannya dengan tulus, Suzy bisa mendengar nada kecemburuan disana, tapi bukan kecemburuan yang jahat.

Suzy tersenyum dan menatap Jiyeon, “Tentu saja. Kamu harus mengingat itu,” Jawabnya. “Jadi apa yang membuatmu ketakutan. Aku melihat ada dua orang pria sepertinya sedang mengejarmu, apa yang mereka inginkan darimu.”

Jiyeon terdiam sebentar. “Mungkin setelah mendengar ini kamu akan jijik padaku.”

“Katakan saja.”

“Selama di Jepang, aku hidup sebagai wanita simpanan,” Jiyeon bisa melihat keterkejutan di mata Suzy meski yeoja itu mampu menguasai ekspresinya. “Saat itu aku sedang terpuruk dan seseorang menawariku menjadi seorang wanita penghibur. Awalnya aku menolak, tapi mendengar bayarannya yang cukup mahal aku setuju.”

“Lalu aku bertemu dengan seorang pengusaha Jepang yang sedang melakukan perjalanan bisnis di Seoul dan tertarik padaku dan ingin menjadi pelampiasan birahinya kapanpun dia mau. Dia menawarkanku kemewahan dan semua yang kuinginkan asalkan aku selalu ada untuknya saat dia perlu. Lalu aku setuju dan di bawa ke Jepang.”

Suzy masih hanya diam dan menatap Jiyeon tanpa ekspresi. Dia masih menunggu Jiyeon menceritakan semuanya. Dia tidak ingin menghakimi Jiyeon seolah Jiyeon wanita berdosa dan dia manusia suci. Dia tahu pasti sulit bagi yeoja itu untuk mau membuka aibnya di depan Suzy yang notaben orang paling dia benci.

“Saat aku kembali ke negara ini lagi, dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negri dalam waktu lama, jadi itu aku gunakan sebagai kesempatan untuk melakukan rencana balas dendamku, apalagi aku dengar orangtuamu dan orangtua Myungsoo oppa sudah meninggal dalam kecelakaan. Itu pasti mempermudah rencanaku. Aku memang berniat menghancurkan hidupmu dan Myungsoo oppa, karena dia juga sebagai laki-laki sangat lemah dan tidak bisa melindungiku. Tapi ternyata aku malah jatuh cinta lagi dan ingin bahagia bersama dia dan anak kami, apalagi saat melihat Myungsoo oppa sudah mencintaimu dan tidak ada aku lagi di hatinya, tapi dia belum menyadarinya. Hal itu memuat aku ingin segera memenangkan hatinya sebelum dia sadar seperti dulu.”

Myungsoo menyukainya? Seperti dulu? Suzy ingin menanyakan itu, tapi dia hanya dam saja.

Jiyeon tersenyum saa menyadari ekspresi Suzy. “Sebenarnya aku tahu sejak dulu Myungsoo oppa menyukaimu, tapi dia tidak menyadarinya. Dia selalu berfikir perasaanya itu hanya perasaan oppa pada dngsaengnya, tapi aku menyadari itu perasaan jauh dari pada itu. Dan aku berhasil  mengalihkan perasaannya,” ujar Jiyeon. “Aku berfikir kali ini, aku akan berhasil seperti dulu. Tapi aku, aku sudah gagal. Myungsoo bukan lagi namja lugu yang mudah berpaling dengan perhatian yang kuberikan. Dia lebih cepat sadar akan perasaannya.”

“Aku kabur dari Jepang secara diam-diam dan memancing amarah tuan Tsukhasa—org yang menjadika Jiyeon simpanan—hingga dia sangat marah dan mengejarku. Aku tahu dia pasti mengejarku, tapi aku tidak menyangka menemukanku secepat ini.”

“Apa dia sangat mengerikan?” akhirnya Suzy membuka suara.

“Dia bisa melakukan apapun untuk memuaskan kemarahannya, bahkan jika itu harus membunuh. Tapi kalau dia akan langsung membunuhku aku tidak keberatan. Aku yakin dia akan menyiksaku…dan aku takut padanya.”

“Kalau dia semengerikan itu, apa kamu pikir aku bisa melawannya?”

Jiyeon terdiam. Benar, Suzy hanyalah wanita lemah, apa yang bisa di lakukannya untuk melindunginya? “Mian, aku terlalu takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.”

Suzy menghela nafas berat dan menatap Jiyeon. “Aku akan meminta bantuan Myungso oppa. Dia pasti bisa melakukan sesuatu,” ujar Suzy akhirnya.

“Jangan!” pekik Jiyeon membuat Suzy menatapnya heran. “Myungsoo oppa sudah mengetahui semuanya dan tidak mau membantuku. Dia menatapku jijik,” guman Jiyon pelan.

“Myungsoo oppa tahu?”

“Tadi malam kami bertemu,”Ujar Jiyon pelan. “Setelah dia mengantarmu, aku meneleponnya dan memaksa bertemu. Ternyata diam-diam dia menyelidikiku dan mengetahui semuanya. Dia menatapku jijik.”

Suzy menatap Jiyeon. “Tapi hanya dia yang bisa membantumu. Aku tidak punya apa-apa untuk menolongmu.’

“Tapi…”

“Kamu tidak perlu cemas. Aku akan mencoba membujuknya, bila perlu aku akan memohon,” potong Suzy. “Myungsoo oppa sedang ke luar kota dan besok akan kembali sebelum dia balik keSeoul, jadi besok baru kita bisa menemuinya. Untuk sementara kamu istirat dulu di kamarku da Sooyeon, kamu bisa menghabiskan malam ini besamanya. Aku aka tidur bersama Soojung atau Sulli.”

Jiyeon menatap Suzy dalam sebelum membuka suaranya. “Setelah apa yang kulakukan padamu, kenapa kamu masih mau repot-repot menongku?”

Suzy menghela nafas panjang, “Aku melakukannya bukan untukmu, tapi untuk Sooyeon. Lagi pula ini tidak gratis.”

“Ne?”

“Anggap aja sebagai permintaan maaf karena merebut paksa Sooyeon darimu. Aku juga ingin kamu menyerahkan Sooyeo seutuhnya sebagai bayarannya.”

“Aku memang tidak berniat jadi ibu untuknya, kamu lebih pantas jadi ibunya.” Ujar Jiyeon lemah. “Aku berniat pergi dari kehidupan kalian. Aku ingin memulai hidup baru.”

“Jiyeon…”

“Gwenchana. Aku juga lelah dengan semua ini dan ingin hidup normal,” Jiyeon menatap tulus pada Suzy. “Kalau aku tetap ada di sekitar kalian, itu akan membuatku merasa semakin bersalah dan akan sulit memulai hidup baru. Aku ingin melupakan semua yang terjadi. Tapi sebelumnya bolehkah aku minta satu hal lagi?”

Suzy diam menunggu.

“Sebelum aku pergi, bolehkah aku berperan jadi ibu untuk Sooyeon?” Suzy mengangguk. “Gomawo Suzy-ah..”

***

“Kamu sudah gila Suzy!”

“Jebal oppa…”

“Andwe!”

“Oppa…”

“Sekali tidak, tetap tidak!”

“Wae? Apa kamu tidak kasihan pada Jiyeon? Dia sangat ketakutan.”

“Dia pantas mendapatkannya,” ucap Myungsoo tegas membut Suzy bingung bagai mana membujuk Myungsoo. Selama ini dia terlalu pasrah menerima hidupnya sehingga dia tidak tahu caranya membujuk seseorang. “Kita sedang makan malam jadi jangan merusak seleraku.”

Tapi Suzy sudah memutuskan untuk keras kepala jdi tidak menghiraukan Myungsoo. Karena tujuannya mengajak Myungsoo makan malam berdu adalah untuk memohon pada namja itu, jadi dia tidak akan menyerah.

“Oppa, biar bagai manapun kamu pernah mencintainya dan berjuang mati-matian untuknya. Masa kamu tidak kasihan sedikitpun.”

Myungsoo menatap Suzy jengkel dan langsung kehilangan napsu makannya. Dia baru pulang dari Seoul karena ada sedik masalah di kantor pusat dan membutuhkan kehadirannya, dan begitu selesai dia langsung kembali ke Changwon karena begitu merindukan Suzy—dan sedikit bertanya-tanya kenap dulu dia tidak mersakan hal itu. Pasti karenaxSuzy selalu ada di sekitarnya—dan saat Suzy menjemputnya di bandara dan mengajak makan malam berdua tanpa Sooyeon—bukan karena tidak menyayangi putrinya itu, tp dia juga butuh waktu berdua dengan Suzy—Myungsoo ingin berteriak kegirangan. Tapi kalau tau akan membahas ini lebih baik dia tetap di Seoul aja.

“Aku menyesal pernah melakukan itu semua,” ucap Myungsoo tanpa menyambunyikan kejengkelannya.

“Oppa…”

Myungsoo memotong, “Aku memang ingin  melihatmu  keras kepala, tapi bukan untuk orang lain apalagi untuk Jiyeon. Kalau kamu meminta untukmu aku tidak perlu berfikir dua kali.”

“Tapi ini juga untukku.”

“Suzy dengar…”

“Aku mohon kali ini saja. Aku tidak akan meminta apapun lagi.”

“Suzy aku tidak keberatan memenuhi semua permintaanmu, asalkan itu untukmu.”

“Lalu kenapa kau tidak mau membantu Jiyeon dan seoalah kamu muak dan sangat membencinya. Seingatku beberapa bulan yang lalu kalian masih baik-baik saja.”

“Ia semua baik-baik saja sampai akhirnya aku tahu kalau dia menipu dan memperda aku.”

“Jangan bilang hanya karena dia menjadi wanita simpanan. dia mengambil jalan yang salah, tapi bukan berarti tidak bisa di maafkan dan tidak bisa mendapat pertolongan,” ucap Suzy dingin. “Aku harap oppa tidak lupa ibuku juga dulu seorang wanita simpanan dan aku anak harm mereka.”

Mata Suzy memerah. Mendengar Jiyeon di hina dia menjadi ikut sakit hati. Karena melihat Jiyeon dia jadi teringat ibunya. Dia memang membenci semua sikap dan tindakan ibunya tapi bukan berarti dia tidak menyayangi wanita yang melahirkannya itu. Dia tahu ibunya hanyalah wanita polos yang tidak mengenyam pendidikan dan jatuh cinta pada ayahnya yang kejam dan ambisius. Ibunya selalu minder bersanding dengan ayahnya karena merasa bodoh meskipun dia sangat luar biasa cantik. Demi mendapatkan cinta suaminya, ibunya rela melakukan apa saja termasuk bersikap kejam.

Suzy baru menyadarinya saat-saat ibunya sebelum meninggal. Saat itu sebelum ibunya pergi ibunya berjiarah ke makam neneknya dan Suzy yang juga ingin mengunjungi neneknya terkejut melihat ibunya menangis dan mendengar semua isi hatinya. Karena tidak ingin mengganggu dan membuat ibunya malu Suzy memutuskan meninggalkan tempat itu diam-diam. Tapi siapa yang menyangka jika itu terakhir ia melihat ibunya dan membuat Suzy selalu merasa bersalah karena hingga saat-saat terakhir dia selalu memandang ibunya sangat buruk.

“Kalau hanya itu aku tidak akan muak dengannya,” ujar Myungsoo menarik Suzy dari pikirannya. “Kamu tidak berfikir kematian orang tua kita hanya kecelakaan biasakan?”

“Maksud oppa?”

“Itu semua suda direncanakan. Dan dalam empat tahun ini ini bukan pertama Jiyeon kembali. Dia pernah datang bersama yang memelihara dia untuk mencelakai orang tua kita.”

“Oppa kamu jangan bercanda…” wajah Suzy menjadi pucat.

“Sejujurnya aku memang ingin orang tuaku mati, tapi aku tidak berharap itu kenyataan, apa lagi di bunuh.”

“Jiyeon tidak mungkin melakukan hal sepeeti itu…”

“Aku sudah menyelidiki semuanya dan kamu pikir kenapa dia mau jadi simpanan pria itu? Tentu saja bukan hanya uang, tapi agar bisa mengancurkan kita semua. Dan dia kembali lagi untuk menghancurkanmu setelah berhasil membunuh orang tuamu. Apa kamu masih mau menolongnya.” Tanya Myungsoo. “Oh, dari awal dia masih tau Sooyeon masih hidup, tapi dia tidak berniat menyentuhnya. Dan saat tahu kamu sangat menyanyanginya dia memanfaatkan Sooyeon, membuatku semakin muak dengannya. Jadi jangan pernah kasih pada iblis itu.”

Suzy terdiam menatap Myyngsoo. Dia tidak percaya Jiyeon mampu melakukan itu semua.

“Tapi oppa tetap harus menolongnya,”  Ucapnya setelah terdiam cukup lama.

“Apa?”

Tanya Myungsoo tidak percaya.

“Dia sudah menyesal, lagi pula dia berjaji akan menghilang dari kehidupan Sooyeon selamnya. Dan itu salah satu alasanku membantunya,” uca Suzy penuh harap. “Kalau oppa tidak mau aku akan minta tolong Kim Jong-in sajangnim saja. Sepertinya dia punya sedikit kekuasaan di Jepang juga.”

“Mwo?” kuping Myungsoo langsung berdenging begitu nama Jong-in di sebut. “Kamu masih berhubungan dengannya? Bukannya sudah ku katakan untuk berhenti bekerja di sana?”

“Wae? Aku suka bekerja di sana. Oppa kan tahu impianku menjadi seorang desainer.”

“Tapi aku tidak suka kamu kerja disana.”

“Apa kamu tidak tahu bosmu yang bibirnya tebal itu menyukaimu?”

“Arra..”

“Tahu, tapi kamu masih dekat-dekat dengannya?” kekesal Myungsoo langsung meningkat bahkan melebihi saat membahas Jiyeon tadi. “Apa kamu juga menyukainya?”

Dengan polosnya Suzy mengangguk buat asap keluar dari kuping Myungsoo. “Sajangnim orang yang baik. Dia selalu menghibur dan membantuku.”

“Besok kamu harus resaign dari sana!” ucap Myungsoo tegas. “Aku tidak mau tau. Titik!”

“Wae? Aku masih ingin bekerja. Lagi pula bula depan ada pameran hasil karyaku dan kalau aku lolos aku bisa melakuka Fasion Show  sendiri..”

“Kalau kamu ingin bekerja aku akan menyewa tempat untukmu. Bila perlu aku akan mendirikan perusahaan pakaian untukmu. Pokoknya jangan dekat-dekat bosmu itu.”

“Kenapa oppa bersikap aneh. Aku kan masih butuh bantuan Jong-in untuk menolong Jiyeon.”

“Aku sedang cemburu bae Suzy, neo arra!” pekik Myungsoo membuat Suzy terdiam karena kaget.

Myungsoo cemburu? Pada Kim Jong-in?

“Aku akan membantu Jiyeon dan sebagai gantinya kamu harus berhenti kerja. Arrasoo!”

Suzy lalu tersenyum dengan pipi tersipu. Bukan karena akhirnya Myungsoo mau membantu Jiyeon tapi lebih karena Myungsoo cemburu pada Jong-in. Pada namja yang memang di sukai Suzy karena begitu baik dan selalu menghiburnya. Tapi rasa sukanya buka sesuatu yang perlu di cemburui, karena murni dia menganggap Jong-in hanya temannya.

Rasanya suzy bahkan bisa pulang dengan melayang sangkin bahagianya saat ini. Jika seperti ini rasanya saat kita memiliki orang yang kita cintai, Suzy tidak heran orang rala melakukan apapun untuk mendapatkan orang kita cintai.

***

“Aku akn menunggumu di sini, jadi jangan lama-lama,” Ujar Myungsoo pada Suzy yang hendak turun dari mobiknya.

“Bukannya oppa harus ke bandara sebentar lagi? Nanti ketinggalan pesawat. Tidak usah menungguku.”

“Supaya kalian bisa bermesraan dengan teng,” Suzy memutar bola matanya. Merasa menyesal menceritakan tentang pernyataan cinta Jong-in waktu itu. “Aku masih punya waktu satu jam, jadi cepat selesaikan urusanmu kalau kamu tidak ingin aku terlamat. Atau kamu mau aku ikut?”

“Oppa tunggu di sini saja, aku tidak akan lama.” Ujar Suzy cepat langsung turun dari mobil Myungsoo dan langsung masuk ke kantor K.A.I Fashion.

Begitu Suzy masuk langsung di sambut senyum ramah kedua resepsionis yang selalu setia dengan senyum mereka. “Apa sajangnim sudah datang?” tanya Suzy pada kedua gadis itu.  Jong-in memang sedang ke Jepang beberapa hari lalu dalam rangka kerja sama dengan salah satu mall di sana. Dan katanya hari ini dia sudah kembali.

“Sudah desainer Bae, baru sepuluh menit lalu.”

“Terimaksih, aku ke ruangannya dulu ya,” ucap Suzy.

…………..

Myungsoo yang sedang menunggu di mobilnya meraih ponselnya dan menghubungi asistennya.

“Aku mau ke Jepang pagi ini untuk melihat perusahaan yang di sana,” ucap Myungsoo tegas dan dingin. Sikap yang dia tunjukkan saat di kantor atau kerja agar para karyawannya hormat padanya dan mampu membuat lawan bisnisnya segan berurusan dengannya. Tidak heran di usianya yang masih muda dia mampu memimpin dua perusahaan besar—perusahaan keluarganya dan Suzy—sekaligus dengan baik bahkan mungkin lebih baik. “Tolong atur pertemuanku dengan tuan Tsakuza.”

“Bukankah tuan Tsakuza baru kembali ke Jepang kemarin dan kita sudah mencapai kesepakatan?”

“Kamu tidak di ijinkan bertanya,”ujar Myungsoo memperingatkan. “Lakukan yang kuperintahkan.”

“Baik sajangnim,” ucap asistennya sedikit takut.

Setelah mengatakan semua kemauannya, dia mengakiri pembicaraan dan menyimpan kembali ponselnya. “Kamu harus berterima kasih banyak padaku Suzy karena bersedia mengurusi masalah beginian. Untung dia mantan mafia yang sedang bangkrut dan menggantungkan hidupnya dengan dana dari perusahaan kita. Kalau tidak aku tidak akan bersedia,” guman Myungsoo.

“Ah kenapa dia lama sekali? Apa pria itu mencoba meranyunya?” gertunya lagi sambil menatap pinti K.A.I Fashion.Apa aku menyusulnya saja.”

***

Jong-in menatap surat pengunduran diri suzy dengan tatapan kosong.

“Apa ini?”

“Itu surat pengunduran diriku,” ucap Suzy ragu. Entah kenapa melihat wajah kecewa Jong-in, Suzy jadi tidak enak.

“Kenapa?”

“Eh…Aku…suamiku ingin aku kembali ka Seoul.”

“Suami?” tanya Jong-in. “Seingatku dulu kamu bilang kamu sudah tidak punya suami. Kalian dalam proses perceraian.”

“Kami berubah pikiran dan memutuskan rujuk. Mianhamida karena mengecewakan, tapi sebagai istri saya harus menurut.”

“Apa kamu pikir perusahaan ini main-main? Bekerja saat ada masalah dan keluar begitu rujuk?” kesal Jong-in. “Aku tidak bisa menerima pengunduran dirimi. Kita sudah membahas tentang masalah kontrak kerja sebelumnya.”

Suzy menatap Jong-in bingung. Dia tidak menduga Jong-in akan bereaksi begitu. Kalau bukan Myungsoo yang memaksa dia juga ingin tetap bekerja. “Tapi di kontrak hanya di sebutkan jika saya keluar selama masa taining maka saya harus mengganti rugi semua biaya trainingnya. Dan jika saya berhenti sebelum genap 1 tahun maka semua desain dan royalti yang saya hasilkan akan jadi milik perusahaan. Tapi masa training saya sudah sudah berakhir dan saya tidak keberatan dengan desain saya.”

Jong-in menatap Suzy tajam,. “Kenapa kamu keluar? Apa kamu tidak nyaman di sini?”

“Bukan. Saya sangat senang bekerja di sini,” jawan Suzy. “Tapi saya tetaplah hanya seorang istri.”

“Bukan karena pernyataanku wwktu itu kan?”

“Ah, mengenai itu, aku sepertinya…”

“Stop! Tidak perlu di bahas.” Potong Jong-in cepat.

“Tapi…”

Lagi Jong-in memotong. “Aku sudah mengatakan untuk memikirkannya, tidak perlu di jawab,” Jong-in sudah tahu jawabab Suzy, tapi dia tidak mau mendengar. Rasanya menyesakkan. “Pernyataanku itu berlaku selamanya. Kapanpun kamu berubah pikiran. Tidak peduli sebulan, setahun atau sepuluh tahun. Aku akan menunggu.”

Suzy menatap Jong-in, semakin bingung dengan reaksi namja itu. Dia tidak tega, tapi dia tahu perasaannya hanya untuk Myungsoo, suaminya, baik dulu, sekarang atau kapanpun.

“Tidak!” ucap Suzy tegas. “Baik sebulan, setahun atau sepuluh tahun lagi aku tidak pernah membalas perasaanmu, jadi jangan menungguku. Karena cintaku hanya untuk suamiku.” Jong-in menatap Suzy. Jika tidak ingat dia adalah seorang pria, mgkin dia akan menangis, karena di tolak orang yang kita cinta ternyata menyakitkan. “Maaf sajangnim karena mengecewakan anda, tapi keputusanku sudah bulat. Saya tetap mengundurkan diri. Kalau anda tidak puas anda bisa menuntut saya.”

Perasaan Suzy benar-benar tidak enak. Jong-in sudah begitu baik padanya, tapi dia berkata agak kejam—sedikit heran kenapa akhir-akhir ini mulutnya jadi tajam—dia hanya tidak mau di anggap memberi harapan meski sedikit saja.

“Sepertinya, urusan saya sudah selesai, jadi saya permisi dulu. Gamsahamida atas bantuannya selama ini,” ucap Suzy berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat lalu melangkah pergi meninggalkan Jong-in yang hanya mampu menatapnya.

…………..

“Kena lama sekali? Aku hampir menyusulmu ke dalam,” oceh Myungsoo begitu Suzy masuk ke mobil. Suzy jadi heran sendiri, kenapa Myungsoo jadi cerewet sekali padahal dulu sangat pelit bicara.

“Kami bicara sebentar.”

“Apa dia tidak mengijinkanmu berhenti? Cieh, namja itu, wanita sudah menikah juga masih di rayu. Dasar playboy kacangan.”

Suzy menatap Myungsoo kesal karena dari tadi sibuk mengoceh. “Yang pentingkan sudah selesai. Sekarang oppa harus ke bandara kan?”

“Kenapa sepertinya kamu ingin sekali mengusirku? Apa kamu tidak suka di dekatku. Kamu lebih suka dengan playboy kacangan itu.”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai,” ucap Suzy. “Lagi pula kenapa oppa jadi cerewet seperti bebek.”

“Mwow? Bebek? Yak…Kamu mau mati…”

Suzy tertawa melihat reaksi Myungsoo. Meski kesal dengan ledekan Suzy, tapi Myungsoo tak urung senang melihat tawa lepas Suzy. Tawa lepas Suzy yang peetama untuknya.

“Tertawalah sepuasmu,” ucap Myungsoo pura-pura kesal. “Tapi setelah aku pulang dari Jepang kamu dan Sooyeon harus ikut aku pulang ke Seoul. Arraso!”

“Arraso Myungsoo oppa!”

******

Myungsoo mengamati jam tangannya dengan kesal. Dia sudah menunggu lebih dari 10 menit tapi orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Dengan menggertakkan gigi dia menatap pintu restoran dengan kesal.

“Awas saja orang ini. Akanbku beri pelajaran dia,” gumannya kesal karena menunggu tamu ini dia menyia-nyiakan waktunya lebih lama di Jepang. Padahal urusannya sudah selesai dan dia bisa pulang bertemu Suzy dan Sooyeon. Kalau bukan karena Suzy yang memaksa dia tidak mau buang-buang waktu untuk hal tidak berguna. Dia seorang pebisnis yang waktunya sangat berharga.

Setelah menunggu sekitar 10 menit kemudian, dia melihat orang yang di tunggu akhirnya muncul juga bersama beberapa pengawalnya.

“Maaf tuan Kim membuat anda menunggu. Ada sekit masalah di kantor tadi. Apa anda menunggu sudah lama?” tanyanya dengan wajahmenjilat membuat Myungsoo muak. Kalau bukan karena dia perlu membuat kesepakatan, Myungsoo pasti sudah menjebloskan ke penjara karena terlibat pembunuhan orang tuanya bersama Jiyeon.

“Sekitar 20 menit. Apa anda tidak tahu waktuku sangat berharga?” ucapcMyungsoo kasar. Dia tidak perduli pria ini mantan mafia yang sedang bangkrut. “Dan seprtinya kantor anda selalu ada masalah.”

Bukannya tersinggung pria ini malah tertawa. “Selera bercanda anda belum berubah. Masih sinis. Jadi apa yang ingin bicarakan? Sepertinya tidak ada urusannya dengan bisnis.”

“Karena saya tidak punya banyak waktu, saya lang saja,” ucap Myungsoo menyesap kopinya. “Saya ingin anda tidak mengganggu Park Jiyeon lagi tuan Tsakuza Arigawa.”

Tsakuza Arigawa tertawa geli mendengar perkataan Myungsoo. “Apa cinta lama bersimi lagi? Hahaha…aku tidak menyangka pelacur cilik berhasil merayu anda, padahal aku dengar istri anda sangat cantik,” ujar Arigawa dengan nada memuakkan. “Bagai mana kalau anda tukar dengan istri anda.”

Myungsoo menggeram kasar. Dia berdiri dan meraih baju Arigawa dengan kasar. “Jaga bicara anda. Karena anda katakan adalah istri saya.” Myungsoo bisa melihat dari sudut matanya pengawal Arigawa hendak bergerak melihat tindakannya, tapi Arigawa memberi tanda untuk tidak ikut campur.

“Aku hanya bergurau tuan Kim, kenapa anda begitu serius,” ujar Arigawa santai, seolah sudah menebak reaksi Myungsoo. Dan setelah sedikit tenang Myungsoo melepas tangannya dan kembali duduk. Sedikit menyesal dengan tundakannya yang lepas kontrol. Seharusnya dia bisa lebih menahan diri, karena biar bagaimanapun Arigawa adalah mantan mafia dan ini negara kekuasaannya.

“Jika anda menggunaka isteri saya sebahan gurauan, saya juga akan membuat perusahaan dan hidup anda sebagai bahan gurauan,” ucap Myungsoo dan mampu menghilangkan senyum menjijikan di wajah Arigawa.

“Baiklah, saya mengerti,” ujarnya serius membuat Myungsoo puas. Inilah yang di sukainya membuat preman macam Tsakuza Arigawa tunduk padanya. “Kena anda ingin saya melepaskan pelacur itu, melihat reaksi anda aku yaki anda sangat mencintai istri anda.”

“Saya tidak menginginkannya. Saya hanya ingin anda tidak mengganggunya dan melaskannya.”

“Saya tidak mengerti. Kalau penawaran anda tidak menarik saya tidak akan melepaskannya. Dia sudah terlalu banyak menyusahkan dan merepotkan saya, jadi dia harus membayarnya seumur hidupnya. Paling tidak di ranjang,” ujarnya dengan nada menjijikkan.

“Saya sedang tidak buka sesi tawar-menawar, tapi saya menyuruh,” ujar Myungsoo dingin. “Kecuali anda ingin hidup anda hancur saat ini? Karena hanya 1 panggilan telepon dariku saya yakin hidupmu akan berakhir di jalana ah, tidak juga myngkin di penjara.”

Myungsoo benar-benar puas melihat reaksi Tsakuza Arigawa. Terkadang melihat orang lain takut padamu ada kepuasan tersendiri.

“Saya tidak mengerti kenapa anda ingin melepas Park Jiyeon padahal anda tidak menginginkannya,” ujar Tsakuza Arigawa berusa mengendalikan ekspresi geramnya karena berhasil di tundukkan anak yang umurnya jaul lebih muda dan masih bau kencur. Tapi dia memang membutuhkan Myungsoo untuk bertahan hidup dan sialnya dia memegang kartu ASnya. “  Anda tidak tahu dia terlibat dalam kematian orang tua anda?”

“Saya tahu. Tapi istri saya memutuskan untuk memaafkan dan menolong sahabatnya. Saya sudah terlalu banyak menyakitinya dam belum pernah meminta apa-apa. Jadi saat dia meminta saya tidak bisa menolak.”

“Jadi ini semua atas permintaan istri anda?” Myungsoo hanya mengangguk. “Pasti anda sangat mencintai istri anda.”

Saat mengingat Suzy senyum di wajah myungsoo langsung merekah dan tidak sabar ingin bertemu yeoja itu.

“Sangat,” ucap Myungsoo. “Sepertinya urusanku sudah selesai, aku harus pulang sekarang. Dan aku serius perkataanku, jika anda mengganggu Park Jiyeon, anda harus bersiap-siap jadi gembel dan masuk penjara.”

***

“Eommaaa!” pekik Sooyeon senang saat melihat ke datangan Suzy. Maklum sudah satu minggu ini dia jarang melihat ibunya itu. “Eomma dari mana saja kenapa baru datang sekarang?”

Suzy hanya tersenyum mendengar rengekan anaknya dan langsung meraih ke dalam pelukannya. “Mianhae aegy-ah eomma harus menjemput sulli dan soojung ajhuma dulu. Apa kamu tidak senang bersama Jiyeon ajhuma?” sooyeon melihat Sulli yang melambai riang di belakangnya sementara Soojung memasang wajah merenggut.

Choahae, tapi aku lebih senang jika ada eomma. Eomma mani mani mani Choahae,” Suzy menatap Jiyeon yang tersenyum memaksa mendengar perkataan Sooyeon. Seminggu ini Suzy memang membiarkan Jiyeon menghabiskan waktunya bersama Sooyeon tapi ternyata dia tidak mampu mengalahkan pesona Suzy di mata gadis cilik itu.

“Jincha?” tanya Suzy yang di beri anggukan antusias oleh Sooyeon. “Sooyeon-ah, maukah kamu main dengan Sulli ajhuma? Eomma ingin bicara dengan Jiyeon ajhuma sebentar. Nanti eomma akan langsung menyusul.”

Suzy lega karena Sooyeon tipe anak penurut tanpa banyak tanya. Dan setelah pamit dengan jiyeon yang di beri pelukan erat oleh Jiyeon, Sooyeon langsung mengikuti Sulli.

“Mianhae..” ucap Suzy begitu Sooyeon pergi bersama Sulli dan Soojung. “Karena harus menyuruhmu cepat pergi padahal aku tahu kamu masih ingin menghabiskan waktu bersama Sooyeon. Tapi Myungsoo oppa memintaku melakukan ini sebelum dia kembali dari jepang.”

Jiyeon tersenyum dan menghapus air matanya. “Aniyo seharusnya aku yang meminta maaf dan berterima kasih karena banyak menyusahkanmu dan masih mau membantuku.” Jiyeon menatap ke arah kepergiaan Sooyeon, “Lagi pula, aku tidak pernah menjadi ibu baginya dan satu minggu ini mencoba aku tidak bisa menggantikanmu. Jadi sebelum semuanya kembali rumit aku memang harus pergi. Kamu adalah yang terbaik untuk mereka.”

Suzy menatap Jiyeon sedih, sebenarnya dia tidak keberatan Jiyeon tetap di Korean dan bersama merawat Sooyeon, tapi sepertinya Myungsoo yang berkeras  agar Jiyeon menjauh dari mereka. Tapi sejujurnya Suzy lebih suka Jiyeon pergi. Meski yakin Jiyeon sudah berubah suzy masih suka merasa takut jika melihat Jiyeon.

“Semoga kamu bisa memulai hidup baru di sana,” ucap Suzy lalu memeluk Jiyeon. “Myungsoo oppa sudah memastikan jika Tsakuza Arigawa tidak akan menggangumu. Lagi pula kekuasaan pria itu tidak sampai ke Sri Langka, jadi kamu bisa tenang.”

“Gomawo Suzy-ah, semoga kamu bisa hidup bahagia selamanya.”

“Pasti! Kamu juga.”

“Aku harus pergi, pesawatku sudah di suruh boarding,” ujar Jiyeon melepas pelukannya.

“Apa kamu tidak ingin pamit dengan Sooyeon, sulli dan soojung?”

“Tidak perlu. Sampaikan saja salamku,” ucap Jiyeon meraih kopernya dan menitikkan air mata. “Aku pergi dulu ya.” Suzy mengangguk dan ikut terisak. Ini perpisahan mereka yang kedua sebagai sahabat seperti saat mereka kecil dulu. Dan rasanyanya masih sama. Mengharukan!

Selamat tinggal Park Jiyeon sahabtku. Semoga kita tidak bertemu lagi.

***

Suzy berjalan santai di samping Myungsoo dan senyum cerah tidak hilang dari bibirnya. Bagai mana tidak, saat ini dia sedang berjalan berdua bersama Myungsoo di sepanjang jalan meninggalkan makam neneknya. Sooyeon sebenarnya ikut mereka ke Gwangju, tapi karena kelelahan dan tertidur dia terpaksa di tinggal di hotel bersama pelayan yang mereka bawa karena mereka berencana tinggal beberapa hari di gwangju.

Meski dari tadi mereka hanya diam, tapi suasananya tidak canggung, yang ada hanya suasan tenang yang menyenangkan. Mereka menikmati keheningan itu. Seolah tautan tangan mereka sudah mampu mewakili hati, pikiran dan setiap kata.

“Kalau di ingat-ingat, ini kunjungan pertamaku sebagai cucu menantu ya,” ucap Myungsoo memecah kehaningan. Saat ini mereka baru meninggalkan makam nenek Suzy setelah menghabiskan waktu 2 jam bagi Suzy bercerita di depan makam itu. Makam neneknya memang cukup jauh dengan parkiran mobil.

“Benarkah?”

“Hm, dulu aku hanya pernah datang sekali itupun saat pemakaman nenekmu. Saat itu kamu sangat kacau. Tidak menangis tapi hanya diam seperti patung dengan mata kosong, seolah kamu ingin terjun  terjum kedalam makam nenekmu,” ucap Myungsoo menerawang.

“Hmm dulu aku sepertinya kehilangan tujuan hidup,” ujar Suzy. “Selama hidupku hanya nenek yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku. Saat aku sedih,senang, marah atau apapun aku selalu berlari padanya. Dan saat tahu nenek meninggal, jujur saat itu aku sempat berfikir ingin ikut di kubur.”

Myungsoo menatap Suzy tidak percaya. “Apa hidupmu semenyedihkan itu?”

“Kalau oppa tidak merasakan sendiri oppa tidak akan percaya.”

“Dan dengan bodohnya aku dan Jiyeon masih saja berusaha menyakitimu.”

Suzy tersenyum. Sekarang dia bisa tersenyum ringan mengingat semua masa lalu yang menyakitkan karena cinta yang di berikan Myungsoo dan Sooyeon yang berlimpah padanya. “Jangan berkata begitu. Sejujurnya penyelamatku agar aku tidak terjun ke makam nenek adalah oppa,” ucapnya menatap myungsoo lembut.

“Jeongmalyo?”
“Oppa masih ingat saat oppa memegang tanganku dan berkata oppa akan selalu menjaga, melindungi dan menghibur aku selamanya?” Myungsoo terlihat berfikir lalu kemudian mengangguk. “Sejak saat itu aku mulai mencintaimu.”

“Ia saat itu aku berkata begitu untuk menghiburmu. Tapi kenyataan aku malah menyakitimu.”

Suzy merhenti dan Myungsoo mengikutinya.dia tersenyum hangat, “Berhentilah merasa bersalah dan menyesal, sekarang aku sudah bahagia. Dan aku yakin mulai sekarang oppa aka menjaga, melindungi dan menghiburku selamanya.”

Myungsoo tersenyum lembut dan meraih pinggang Suzy ke dalam pelukannya, “Tentu saja selamanya,” ucapnya lalu mencium Suzy lembut dan intens.

“Oppa, ini di tempat umum dan terbuka,” ujar Suzy di sela-sela kesadarannya di tengah-tengah ciuman panas Myunsoo yang memabukkan saat tangan namja itu sudah mulai nakal menjelajahi tubuhnya.

Myungso melepas ciumanya dan menatap Suzy dengan senyum nakal, “ Arraso, kalau begitu kita harus cepat ke mobil. Mobil tertutup buka?”

“oppa!” pekik Suzy kesal sekaligus malu, tapi dia tetap mengkitu Myungsoo saat namja itu menarik tangannya.

“Hiks…hikss…haramoni…hiks…hiks…” seorang gadis kecil masuk kesebuah rumah tradisional Korean dia daerah pedesaan sambil menangis. Dengan gaun kuning kebesaran, sepatu merah, tas merah dan rambut kepang dua gadis berusia lima tahun itu nampak baru pulang dari sekolah. “Haramoni…” teriak gadis kecil itu lagi sambil menangis.

“Eoh, suzy-ah kenapa kamu menangis?” ujar sang nenek panik melihat cucu tercintanya sedang menangis di depan rumahnya. “Kenapa? apa ada yang mengganggumu lagi?” ujar wanita tua itu buru-buru keluar dari rumahnya.

“Haramoni, aku tidak mau sekolah lagi…” ujar gadis itu begitu melihat neneknyav masih sambil menangis.

“Waeyo? Apa ada yang mengganggumu?” kata sang nenek berusaha menenangkan cucunya.

“Aku benci sekolah… mereka selalu mengejekku,” ujar gadis itu sedikit lebih tenang.

“Sudah jangan sedih lagi, mereka mengejekmu karena mereka iri melihat cucu nenek yang cantik ini,” ujar neneknya berusana menenangkan. Dia sudah bisa menebak apa yang di alami cucunya yang malang itu, karena hampir setiap hari cucunya itu mendapat perlakuakn yang sama. “Kamu tidak usah mendengarkan mereka.”

“Tapi mereka terus mengejekku. Mereka bilang aku ini anak haram dan anak pembawa sial, makanya eommaku langsung meninggalkanku begitu aku lahir,” kata suzy kecil masih tidak terima.”kata mereka eommaku adalah wanita penggoda yang menggoda suami orang sehingga aku lahir. Setelah aku lahir eomma langsung meninggalkanku begitu saja karena aku membawa sial.”

“Aigoo, siapa yang berkata begitu. Kamu itu anak yang manis dan membawa keberuntungan. Buktinya nenek tidak sial karena kamu. Nenek justru selalu beruntung sejak kamu lahir.”

“Jinchayo? Aku tidak membawa sial? Lalu kenpa eomma meninggalkanku?” tanya Suzy kecil mulai berhenti terisak.

“Siapa yang bilang eommamu meninggalkamu. Eommamu sedang bekerja agar kamu bisa sekolah dan belajar. Eommanu sedang mencari uang.”

“Eomma tidak meninggalkanku?haramoni tidak berbohong?” tanya suzy senang.

Ada raut sedih di wajah wanita tua itu saat mengangguk, meratapi nasip malang cucunya itu.

“Tapi kenapa eomma tidak pernah mengunjungiku?”

“Kata eommamu dia akan datang kalau kamu jadi anak pintar dan penurut. Kalau kamu jadi anak baik dan pintar eommamu pasti akan datang menemuimu. Makanya kamu harus pergi kesekolah.”

“Aku akan jadi akan baik dan pintar haramoni, tapi jebal bilang pada eomma aku tidak mau pergi kesekolah. Aku benci sekolah, aku tidak punya teman.”

“Kalau mau pintar ya harus sekolah. Eommamu akan sedih kalau kamu tidak mau sekolah. kamu harus percaya pada haramoni, kamu pasti punya teman jika kamu jadi anak baik dan pintar. Semua orang suka berteman dengan anak baik dan pintar.”

“Benarkah haramoni? Kamu tidak berbohong.” Sang nenek tersenyum lalu mengangguk.”Tapi bagaiman jika mereka masih mengejekku?”

“kalau mereka mengejekmu kamu tidak usah mendengarkannya apalagi menangis. Kalau kamu menangis mereka akan semakin mengejekmu.Kamu harus jadi gadis yang kuat. Dengan jadi anak baik dan pintar pasti semua orang akan menyayangimu.”

“Termasuk Eomma?”

“Ne.”

“Appa juga?”

“Ne.”

“Kalu begitu aku percaya pada haramoni. Mulai sekarang aku akan jadi anak penurut dan pintar. Aku tidak akan cengeng lagi,” kata suzy kecil sambil memeluk neneknya.

“Nah, begitu dong cucu nenek. Kajja kita makan, kamu pasti lapar. Nenek memasak makanan kesukaanu.”

…………….

 “Haramoni…” teriak Suzy begitu dia tiba di rumah.

“Eoh, kamu sudah pulang. Bagaimana hari pertama sekolahmu?”

“Aku senang haramoni. Aku sudah punya teman, namanya Park Jiyeon. Dia sedikit gemuk tapi sangat baik. Aku sangat menyukainya.”

“Benarkah? Aku senang akhirnya cucu nenek punya teman.”.

“Eomma dan appa juga tadi datang ke sekolah menemuiku, tapi hanya sebentar karena mereka hanya ingin berbicara dengan seosongnim.”

“Ayah dan ibumu datang?”

“Ne, mereka naik mobil bagus, tapi karena sibuk dia harus kembali. Mereka juga membelikanku ini,” kata Suzymenunjukkan bungkusan besar yang di pegangnya. “ah, matta… eomma juga menitipkan ini untuk haramoni,” kata Suzy sambil memberikan amplop coklat pada neneknya.

“Ne, nenek benar, ternyata jika aku jadi anak baik dan pintar aku pasti punya banyak teman. Mulai sekarang aku akan jadi anak pintar dan penurut.” sang nenek hanya tersenyum akhirnya cucunya bisa ceria lagi dan menikamati sekolah.

 

 

Haramoni, apa kamu melihatku sekarang?

Haramoni tahu, ternyata haramoni selali lagi benar. Meski berat aku selalu berusaha jadi anak baik dan penurut dan meski terlihat tidak mungkin tapi pada akhirnya aku bahagia.

Haramoni, aku akan selalu menuruti kata-katamu. Karena aku tahu kamu selalu benar.

Haramoni, meski hidup kita sulit dan berat, aku berterima kasih karena kamu menjadi nenekku. Karena meski kamu sedih, kamu selalu menghiburku. Meski kamu letih kamu selalu tersenyum untukku. Meski kamu sakit kamy selalu memikirkan kebahagiaanku.

Haramini, sekarang kamu bisa istirahat dengan tenang, karena aku sudah bahagia.

Haramoni… saranghae.

END

 

 

Advertisements

57 thoughts on “LOVE is HARD part 12-END

  1. Waahh selesai juga akhirnya baca ff ini . Ampe jam 00.19 . Kekekek :v . Ditunggu ff myungzy yang lainnya ya thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s