Sehun Michigetda part 6

HunZy

Author : Ririn

Genre : Romance-Comedy

Leght : Chaptered

PG    : 13+

Cast : Oh Sehun

Bae Suzy

Kim Jong-in

Lee Taemin

And Others

Ini ff GJ, dan Cuma iseng2 nyolong idenya sesorang. Maaf ya kl aneh bin ajaib, maklum ini Genre yg pernah aku coba, mudah-mudahan ada yang suka. Ohh Typo bertebaran dimana-mana…

========================================================================

Part 6

Author POV

“Kai…Kim Jong-in,” panggil suzy panik begitu tiba di ruangan Kai.

Dia melihat ada sekitar tiga orang perawat laki-laki sedang berusaha memegang Kai yang terus saja mengamuk padahal tangan dan Kaki namja itu sudah di ikat ke tempat tidur. Mungkin karena Kim Jong-in sekarang bukanlah dirinya hingga kekuatannya sangat luar biasa dan terus saja meronta melepaskan ikatan itu. Hati Suzy terasa teriris melihat Kim Jong-in orang yang selalu terlihat kokoh dan kuat terlihat menyedihkan begitu.

“Apa yang terjadi di sini? Kenapa tidak ada dokter yang menanganinya?” ujar Suzy sambil berlari menyiapkan peralatan dokternya.

“Tadi suter Jung mengecek keadaannya…dan tiba-tiba saja dia mengamuk,” jawab Suster yang dari tadi ikut menemani Suzy berlari menuju ruangan Jong-in. “Dokter Kang sudah berusaha mengobatinya, tapi dia malah menyerangnya hingga terluka. Dan karena ini hari libur tidak banyak dokter yang berjaga. Dia hari ini lebih mengerikan dari biasanya.”

“Suster Jung yang merawatnya?” tanya Suzy menghentikan aktifitasnya menyiapkan obat penenang dengan Spet suntik. “Bukankah sudah aku bilang kalian tidak oleh mengijinkan suster Jung mendekatinya!” bentak Suzy marah.

“Mianhamida dokter Bae…”jawab perawat itu ketakutan. “Dia memohon padaku untuk mengijinkannya menggantikannya merawa pasien Kim selagi Dokter Bae lagi off… karena melihat pasien Kim yang baik-baik saja aku pikir tidak masalah,” jawab perawat itu penuh penyesalan.

Suzy meredam emosinya yang mau meledak dengan menutup matanya dan menghirup nafas dalam. “Apa…kalian tahu yang kalian perbuat!” bentak Suzy. “Aku mau mengurus Kai dulu, dan ini akan kita urus nanti. Dan aku mau Suster Jung ada di ruanganku begitu ini selesai!”

Suster itu mengguk dan menatap ke balik punggung Suzy takut-takut. Suzy yang merasa aneh ikut menoleh dan melihat orang yang menjadi sumber masalahnya. Mungkin karena terlalu panik melihat kondisi Kim Jong-in hingga dia tidak menyadari keberadaan suster Jung yang masih di ruangan itu. Pantas saja Jong-in terus berteriak seperti kesetanan.

“Kenapa kamu masih di situ! Kamu ingin Kai benar-benar gila selamnya!” bentak Suzy kasar pada perawat Jung.

“Su…Suzy…aku hanya…”

“Kaluar!” bentak Suzy lalu mulai berjalan ke arah Jong-in setelah menyiapkan beberapa obat untuk Jong-in.

“Ka..Kai…” guman Suster Jung dengan mata berkaca-kaca.

“Aku bilang keluar dari sini dan aku menunggumu di ruanganku!”

Melihat kemarahan Suzy perawat Jung langsung keluar dari ruangan itu dengan patuh karena di seret beberapa perawat. “Kalian juga semua keluar, aku hanya perlu suster Han yang menemaniku,” lanjut Suzy  menunjuk perawat yang baru memasuki ruangan itu dengan peralatan Suzy.

“AKU AKAN MEMBUNUHNYA…AKU AKAN MEMBUNUHNYA! KARENA DIA SULLI PERGI! KARENA DIA SULLI TIDAK PERCAYA PADAKU…”

Suzy mengehela nafasnya berat  mendengar teriakan Kim Jong-in. Hatinya selalu sakit saat melihat Kim Jong-in yang seperti ini.

Dia merindukan Kim Jong-in yang jutek. Kim Jong-in yang selalu bersikap dingin pada semua orang kecuali padanya.Kim Jong-in yang selalu ada untuknya. Yang selalu melindunginya. Yang selalu menghiburnya dan membantunya. Dia merindukan namja ini…

“Kaiah…”guman Suzy berusaha menenangkan Jong-in. “Kim Jong-in…”bisiknya lagi karena namja itu terus saja memberontak. “Bogosippo…”

“PERGI KAU WANITA MURAHAN! WANITA SIALAN…AKU MEMBENCIMU!”

Jong-in terus saja berteriak dan memberontak, membuat hati Suzy semakin sakit. Jong-in tidak mengenalnya.

“Aku Suzy…Aku Bae Suzy…” bisik Suzy pelan pada Jong-in. “Apa kamu tidak bosa mengenaliku?”  katanya memegang wajah Jong-in dan menatap matanya.

Jong-in yang menatap mata Suzy tajam dan terus saja memberontak meski tidak berteriak.

“Suzy…” guman Jong-in saat melihat Suzy.

Suzy tersenyum!

Ya, Jong-in selalu mengenalnya. namja itu tidak akan pernah bisa melupakan Suzy seburuk apapun keadaannya. Meskipun Kim Jong-in akan melupakan semua memorinya dia tidak mungkin bisa melupakan Suzy, karena hanya dengan menatap bola mata Suzy hati Kim Jong-in bisa tenang. Sejak dulu hingga sekarang tidak pernah berubah, meskipun Kim Jong-in sudah memliki Sulli, gadis manis yang memiliki senyum yang paling di sukai Kim Jong-in selain mata indah Suzy.

Sulli?

Hati Suzy kembali sakit saat mengingat sahabatnya itu. Bukan hanya Kim Jong-in yang kehilangan dan terpuruk akibat kepergian Sulli, tapi Suzy juga. Selain Kim Jong-in, gadis malang itu selalu ada buat Suzy setiap dia kesulitan. Dia selalu orang pertama yang menghibur Suzy. Dan dia sudah seperti keluarga bagi Suzy.

“Hmm…ini Suzy. Apa kamu mengenaliku?”

“Suzy…Kim Suzy?”

“Ne…Kim Suzy. Orang yang selalu kamu lindungi dan jaga dengan baik..” Jawab Suzy enggan. Dia tidak suka menyandang marag Kim, tapi Jong-in selalu memaksanya menggunakan marga itu. “Kaiah sampai kapan kamu seperti ini? aku merindukanmu. Aku ingin kamu kembali seperti dulu, Oppa..”

“Oppa…”

“Ne..Oppa,” angguk Suzy. “Dari dulu kamu inginkan aku memanggilmu oppa? Aku akan terus memanggilmu oppa mulai dari sekarang.”

Jong-in tersenyum. Dari kecil dia selalu ingin Suzy memanggilnya Oppa meski yeoja itu menolak karena mereka seumuran—meski Kai lebih tua beberapa bulan. Dan setiap melihat wajah Suzy yang kesal karena ulahnya, Jong-in selalu merasa puas. Dan jika Suzy tersenyum untuknya, maka semua kekhawatirannya dan kekecewaannya pada keluarganya dan hidupnya akan hilang begitu aja. Karena senyum Suzy dan mata indahnya itu bagaikan air tenang yang mampu menghanyutkan semua bebannya.

“Kalau kamu memanggil oppa pasti ada maunya…” ujar Jong-in seperti anak kecil. Suzy tersenyum di sela tangisnya.

“Hmmm…aku mau oppa memukul namja yang membuat aku kesal,” ujar Suzy.

“Apa dia membuatmu menangis? Siapa yang berani-beraninya membuat seorang adik Kim Jong-in menangis,” kesal Jong-in. Suzy tersenyum. Reaksi Jong-in memang selalu begitu kalau ada yang mengganggu Suzy. “Aku akan menghajar mereka.”

“Hmm…karena itu kamu harus sembuh ne. Kamu harus menjagaku baik-baik. Kamu sudah berjanji.” Lanjut Suzy yang mulai menyuntikkan obat penang itu di lengan Jong-in. “Kamu harus sembuh Kaiah. Kamu harus terus ada untukku dan selalu menjagaku. Aku kesepian tanpa kamu setelah Sulli pergi…” lanjut Suzy begitu Jong-in mulai tidur efek obat yang dia berikan.

Setelah pandangan Jong-in mulai tidak fokus, menandakan obat yang di suntikkan Suzy sudah mulai menunjukkn efek, Suzy menoleh pada suster Han yang sedari tadi membantunya memegangi Jong-in.

“Tolong bantu aku melepas ikatnnya,” ujarnya pelan agar Jong-in tidak terganggu.

Suster yang sudah berumur setengah abad itu mengangguk dan langsung membantu Suzy dengan cekatan.

“Dari kecil sampai sekarang dia memang selalu luluh denganmu,” ujar suster itu yang memang sudah mengenal Suzy dan Jong-in dari kecil. “Aku masih ingat saat kalian masih sekolah dan dia ingin memukuli ayah kalian dan tidak ada yang bisa menghentikannya, tapi begitu kamu memohon dia langsung menurut.”

Suzy tersenyum dan mulai membringkan Jong-in agar namja itu tidur dengan nyaman.

“Tentu saja karena aku dongsaeng kesayangannya dan dia sudah berjanji akan melakukan semua yang aku mau asalkan aku tersenyum dan tidak menangis,” ucap Suzy dengan mata berkaca-kaca.

“Ini pasti sulit bagimu, harus merawat oppamu sendiri,” ujar Suster Han prihatin. Suzy tidak menjawab. “Dulu dia yang selalu menjagamu dan melindungimu agar tidak ada yang menghinamu, tapi sekarang kamu yang melakukannya untuknya.”

“Ne…dia selalu menjagaku dan melindungiku,” jawab Suzy. “Hanya dia satu-satunya orang yang mau mengakui aku sebagai anggota keluarga Kim meski ayahku sendiri tidak mau mengakuiku karena aku anak haram. Dia bahkan hampir menghajar ibunya karena menamparku dan mengataiku anak pembawa sial.”

“Kamu yang sabar ya…dia pasti akan sembuh. Kamu harus memberi dia perhatian.” Ucap suster Han. “Dia selalu menurut padamu, jadi dia pasti sembuh kalau kamu yang menjadi dokternya.”

“Ya berhentilah menangis. Kamu membuat apartemenku berantakan,” ujar Taemin kesal melihat tingkah Sehun.

Begitu dia menyeret Sehun dari Lotte World, namja itu terus saja menangis dan ingusan tiada henti sehingga menghabiskan persediaan tissu Taemin untuk melap air mata dan ingus Sehun.

Lihat saja lantai ruang tamu Taemin  yang sudah tertutup oleh sampah tissu Sehun yang penuh ingus itu.

CHHHRROOOTTT….

“Dasar jorok!”  pekik Taemin jijik saat Sehun bukannya menjawabnya malah mengeluarkan ingusnya dengan tissu.

“YAKK!!” bentak Taemin karena Sehun malah melepar tissu hasil pembuanagn ingusnya ke arah Taemin yang sedang menikmati donatnya. “Aiss…lama-lama aku juga bisa gila, jika harus berhadapan dengan orang yang gangguan jiwa,” umpat Taemin kesal dan langsung membuang donat yang terkena ingusnya Sehun.

“Hiks…Hiks..”

“Ya…berhentilah merengek seperti anak perempuan. Kamu itu namja,” ujar Taemin berusaha menyadarkan Sehun. Tapi dasar Sehun yang memang bukan manusia biasa, bukannya mendengar Taemin dia makin semangat membersihkan hidungnya.

“Hatiku sudah hancur…”

“Hatiku sakit!”

“Hatiku perih!”

“Aku tidak mau hidup lagi!” rancau Sehun sambil memukul-mukul dadanya.

Taemin hanya mampu menggaruk keplanya dengan frustasi. Dia sudah sering menghadap pasien rumah sakit jiwa dengan tingkah yang aneh-aneh, tapi menghadapi Sehun adalah hal yang paling sulit baginya.

“Belum tentu Suzy dan Jong-in menjalih hubunga. Suzy memang selalu begitu pada pasiennya.”

“Tapi dia tidak menyukaiku. Dia lebih memilih si hitam itu dari pada aku.”

“Dia pergi meninggalkan aku begitu saja!”

“Hatiku hancur!”

“Aku ingin mati!”

“Aiss…Kenapa kamu jadi begini!” pekik Taemin. “Kalau Samchon dan Imo tahu kamu jadi begini, mereka akan membunuhku!”

“Rasanya..sangat sakit Tetemah. Dadaku sesak,” rancau Sehun dengan mata berkaca-kaca.

Taemin yang tadinya siap mengocehi Sehun lagi,mengurungkan niatnya dan menatap Sehun prihatin. Apa dia benar-benar sangat mencintai Suzy? tanyanya dalam hati.

Pada awalnya Taemin hanya berfikir Sehun hanya main-main saja dengan apa yang dia lakukan selama ini. Dia bisa maklum Sehun ingin mendekati Suzy karena yeoja itu memang sangat cantik. Tapi dia tidak pernah berfikir jika Oh Sehun, manusia paling kekanakan yang pernah di kenal Taemin bisa jatuh cinta sangat dalam pada Suzy. Ah Oh Sehun juga namja normal, pikir Taemin.

“Apa kamu benar-benar sangat menyukai Suzy?”

Sehun menatap Taemin dengan mata berkaca-kaca. Dia menarik ingusnya dalam lalu menangis lagi.

“Ya…ya..kenapa kamu menangis semakin kencang?”

“Aku benar-benar menyukainya. Rasanya aku tidak bisa bernafas dengan benar jika tidak melihatnya. Aku…aku… aku seperti kehilangan arah….”

“Aku…aku…aku…”

Taemin yang merasa tidak tega akhirnya mendekat dan menepuk-nepuk pundak Senun agar namja tu bisa sedikit lebih tenang.

“Sudah lah tidak usah di pikirkan. Mungkin in pertanda agar kamu berhenti bertindak bodoh dan kembali hidup seperti dulu,” ujar Taemin lembut. “Berhentilah berharap pada Suzy kalau kamu tidak mau jadi gila benaran.”

“Oeh…Imo meneleponku,” guman Taemn begitu ponselnya berdering. “Yeoboseo Imo?”

“Taemin, dimana anak bodoh itu? Kenapa tidak pernah mengangkat ponselnya?”

Taemin melirik Sehun yang di sebelahnya sdang sibuk melap ingusnya lalu bersuara, “Dia sedang tidur Imo. Dia kurang enak badan.”

“Kurang enak badan? Apa dia sakit?”

“Aniyo…hanya sedikit merasa pusing. Dia terlalu banyak main air di tadi malam,” bohong Taemin.

“Dasar bocah itu. Dia pikira dia masih anak kecil dan bermain-main terus,” omel ibunya Sehun kesal. “Bilang padanya kalau dia tidak menghubungiku sampai besok pagi, aku yang akan menyeretnya kembali ke sini.”

“Ne, Imo…aku akan memberitahunya,” ujar Taemin ngeri. Ibunya Sehun itu tidak berbeda jauh dari anaknya. Suka berbuat nekat. Taemin bisa membayangkan ibunya Sehun menyeret paksa Sehun dan Sehun tidak mau, lalu terjadi aksi tarik-tarikan. Dan yang berakhir Taemin yang akan kerepotan. “Imo tenang saja, begitu dia bangun aku akan menyuruh menghubungimu. Bila perlu aku akan langsung mengirimnya ke Jepang.”

“Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu,”Kata ibu Sehun. “Kalau dia berbuat aneh-aneh lagi, langsung lempar aja dia.” Kata Ibu Sehun mengahiri panggilan teleponnya.

Taemin menatap Sehun geleng-geleng. Tidak heran Sehun memiliki sifat yang begitu antik begini, ibunya aja begitu. Bukannya menyuruh anaknya agar di jaga baik-baik, dia malah menyuruh anaknya di lempar.

“Ya…Imo meneleponmu. Dia menyuruhmu menghubunginya,” ujar Taemin sambil menendang pelan kaki Sehun.

“Biarakan saja…Crooottt…dia memang selalu begitu. Sangat bawel…hiks..hiks…”

“Tapi dia bilang kalau samapi besok kamu tidak menghubunginya, kamu akan di seret pulang sama Imo,” jawab Taemin jijik.

Memang sebanyak apasih ingus Sehun? Kenapa dari tadi tidak habis-habis juga.

“Mwo?! Eiss…eomma jincha…” kesal Sehun langsung berlari dan meraih ponselnya yang dia letakkan di rak dekat tv.

“Eomma…aku belum mau pulang!”

Pekik Sehun begitu sambungan teleponnya di angkat.

“Aiss…Jincja. eomma menyebalkan!” pekik Sehun lagi, setelah terdiam sebentar mendengarkan ibunya. Dia lalu menoleh pada Taemin yang hanya memandangnya aneh. “Tetemah otthokae sepertinya aku harus kembali ke Jepang besok. HuaaAAA….” histeris Sehun lagi.

“Ya, sudah kamu pulang aja. Mungkin di sana kamu akan lebih baik dan menemukan yeoja lain,” jawab Taemin memberi nasehat. “Bukanya kamu bilang kamu tidak punya harapan lagi dengan Suzy.”

“HUAAA…Tapi aku masih belum ingin berpisah dari dokter cantikku.”

Suzy menatap wanita cantik yang mengenakan pakaian perawat rumah sakit jiwa tempatnya bekerja dengan tatapan marah. Ingin rasanya dia meneriaki wanita itu atau mungkin menamparnya atasa apa yang telah dia perbuat. Tapi dia masih punya nurani, bagaimanapun yeoja itu pernah jadi sahabat baiknya.

“Mian…Mianhae…”guman orang itu dengar suara bergetar karena menangis. “Jeongmal mianhae…aku tidak bermaksud membuat dia jadi seperti itu.”

Suzy memandangnya dengan tatapan penuh kebencian. “Lalu maksudmu seperti apa? Kamu ingin membuatnya seperti apa!”

Yeoja itu mengangkat wajahnya dan menatap Suzy penuh penyesalan dan rasa bersalah. “Aku…aku…”

“Sudah kukatakan dari awal Jung Soo Jung, jangan pernah berada di dekatnya dalam radius 5o meter, tapi kenapa kamu masih berani mendekatinya?!” pekik Suzy kesal. “Kamu ingin dia benar-benar gila selamanya? Belum puas kamu menghancurkan hidupnya!”

Air mata Jung Soojung mengalir begitu deras. Hubungannya dengan Suzy memang sudah memburuk akibat dari ulahnya, tapi mendengar sahabatnya itu berkata dingin padanya membuat hatinya tambah sakit, “Aku…aku hanya merindukannya. Aku hanya ingin melihatntya,” jawabnya lemah sambil menangis.

“Tapi dia tidak ingin melihatmu. Kami sudah tidak ingin melihatmu,” Jawab Suzy dengan nada dingin. Nada yang jarang dia gunakan sejak Kim Jong-in memasuku hidupnya.

“Suzyah…”

“Jangan panggil namaku se akrab itu karena aku membencinya,” kata Suzy lagi. “Aku belum bisa memaafkan perbuatanmu, neo Arra?”

“Mianhae…sungguh aku…”

“Aku apa?” potong Suzy sengit. “Kamu hanya ingin bahagia sendiri sehingga membuat salah paham antra Sulli dan Kai? Kamu hanya ingin mengejar kebahagiaanmu sendiri dan berusaha memisahkan mereka berdua. Apa kamu tidak tahu seberapa besar mereka berdua mencintai? Bukankah kamu juga sudah berteman dengan kami sejak kecil dan juga sahabat kami!”

Jung Soojung terdiam. Dia tidak bisa menjawab Suzy. Hatinya di penuhi rasa bersalah yang sangat besar. Se andainya dia tidak egois dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Seandainya saja dia tidak bertindak bodoh….

“Ahh…aku lupa. Kamu hanya berpura-pura berteman dengan kami dan berpura-pura tertawa dan menangis bersama kami. Aku jadi merasa jijik dengan semua kepalsuan yang kau lakukan. Sahabat selamanya? Cih…sahabat pantatku..”

Jung Soojung semakin terisak mendengar perkataan Suzy. “Aniyo…aku tulus menyayangi kalian dan…”

“Tulus?” potong Suzy lagi. “Lalu kenapa kamu memfitanah kai dan Sulli? Merancang semuanya seolah-olah Kai sudah lama menjalin hubungan denganmu agar Sulli salah paham dan memutuskan pernikahan mereka? Apa itu yang di namakan Tulus?”

“Mian…aku tidak tahu kalau semuanya akan berakhir begini. Aku sungguh-sungguh tidak berfikir semuanya akan berakhir begini?”

“Aku tidak tahu apa yang sudah di perbuat Sulli padamu hingga kamu tega melakukan ini padanya. Padahal Sulli lebih menyukaimu di banding aku yang sering membuatku iri padamu. Tapi kamu bertingkah seolah baik-baik saja tapi kamu menusuknya dari belakang.”

“Mian…aku hanya terlalu mencintai Kai. Aku sudah mencoba menerima hubungan mereka tapi pada akhirnya hatiku tetap sangat sakit.”

“Cinta? Lalu kamu membunuh Sulli!”

Soojung menatap Suzy kaget, “Aku tidak bermaksud sama sekali. Aku…aku hanya ingin membuatnya salah paham dan membatalkan pernihan mereka.”

“Kamu tahu seperti apa Sulli dan Kai saling mencintai. Memisahkan mereka sama aja dengan membunuh mereka Jung Soojungsi.” Soojung tertunduk lemas. “Dan sekarang setelah berhasil membuat mereka batal menikah, membuat Kai gila, kamu masih belum puas? Kamu masih ingin Kai terus gila dan tidak bisa sembuh?!”

Tubuh Soojung bergetar karena menangis. “Aniyo…aku…aku hanya merindukannya dan ingin menyentuhnya. Hatiku juga sakit melihatnya begitu. Aku sunggguh mneyesal…”guman Jung Soojung pelan.

“Apa kamu tidak sadar kamu sumber semua masalah ini? Kalau kamu ingin dia sembuh jangan pernah muncul di hadapannya!” pekik Suzy. “Apa kamu juga ingin membunuhku seperti Sulli!”

“Mianhae…aku sungguh menyesal!”

“Penyesalanmu tidak ada gunanya Jung Soojung,” jawab Suzy. “Aku tidak bisa melarangmu untuk keluar dari rumah sakit ini karena ini bukan milikku. Tapi aku melarang keras kamu mendekati Kim Jong-in sebagai dokternya dan juga sebagi Dongsaenya aku melarangmu mendekati oppaku.”

“Kamu kan tahu seberapa penting dia bagiku. Tanpa dia aku akan tetap menjadi sampah buangan. Jadi jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap oppaku, aku yang akan menghabisimu dengan tanganku.”

“Suzyah…”

“Sudah kubilang jangan memanggilku dengan nada menjijikkan begitu,” ujar Suzy. “Ini peringatan terakhirku dan jangan samapi aku melihatmu lagi dalam radius 50 meter dari oppaku. Sekarang kamu boleh keluar!”

……..

Suzy mengehela nafasnya berat. Sudah setengah menit lalu Jung Soojung meninggalkan ruangannya dengan wajah berurai air mata.

Sejujurnya hatinya juga berat berkata kasar begitu pada Jung Soojung. Dia juga merindukan saat-saat mereka bertiga—Suzy, Sulli dan Soojung—bersama. Merindukan saat Sulli, gadis manis yang sangat baik hati itu selalu berusaha mendamikan ia dan Soojung saat berdebat—Suzy dan Soojung memang sama-sama keras kepala dan selalu berdebat.

Rindu saat mereka ke sekolah bersama, membolos bersama, memalak adik kelas karena mereka tidak punya uang jajan—karena mereka bertiga memang dari keluarga yang tidak mapu (sejak Suzy keluar dari keluarga Kim dia tidak menerima sepeserpun uang mereka)—dan juga rindu saat-saat mereka berlari ke arah Jong-in untuk meminta perlidungan akibat dari pacar atau oppa dari para orang yang mereka palak mengejar mereka.

Karena Jong-in termasuk di takuti di daerah mereka selalu berhasil melindungi mereka tapi berkhir di omeli namja hitam itu. Dan pada akhirnya hanya Sulli yang mampu menenangkan namja itu.

Dia merindukan saat mereka bertiga di tambah Jong-in pergi jalan-jalan bersama. Menghabiskan waktu bersama. Tertawa bersama, dan menangis bersama.

Suzy tersenyum kecil saat mengingat sikap Jong-in yang sangat protektif menjaga Suzy dari namja yang berni mendekati Suzy. Namja itu bisa berubah menjadi ajing harder Suzy yang bersiap mengejar dan menggit siapapun yang berani menggoda adik tercintanya itu, yang membuat Suzy sering membujuk Sulli agar mau mengajak Jong-in kecan supaya Suzy bisa kencan dengan namja yang di taksirnya.

Suzy dan Kim Jong-in memang saudara se ayah tapi beda ibu. Suzy anak haram perselingkuhan ayahnya dengan wanita penghibur.

Begitu terlahir, dia di serahkan ke keluarga ayahnya karena ibunya tidak mampu merawat Suzy—dan tidak lama setelah itu langsung bunuh diri—tapi karena keluarga Kim adalah seorang pejabat negara dan citra adalah yang utama, Suzy akhirnya di serahkan untuk di rawat supir mereka dan menggunakan nama keluarga supir mereka.

Karena perlakuan Nyonya Kim yang buruk dan ayahnya yang tidak menganggap keberadaannya, saat Sekolah dasar Suzy akhirnya kelaur dari rumah Kim dan tinggal bersama keluarga Bae di perkampungan kumuh di Seoul dan bertemu dengan Soojung dan Sulli dan juga perawat Han—perawat yang mengenal latar belakang keluarga Suzy.

Pada awalnya Suzy sangat membenci semua keluarga Kim, termasuk Kai. Tapi namja itu entah kenapa sangat menyayangi Suzy dan selalu menjaganya dan melindunginya dari orang-orang yang suka membulinya karena dia anak haram. Dan seiring berjalannya waktu Suzy menerima Jong-in dan menyayanginya bahkan bergantung pada namja itu. Karena hanya Kim Jong-in satu-satunya keluarganya di dunia ini yang menerimanya apa adanya.

Dan umur yang sama—meski beda bulan—membuat mereka semakin dekat. Dan namja itu juga yang mati-matian melindungi Suzy dari semua orang termasuk ibunya sendiri yang sangat membenci Suzy.

Melihat keadaan Jong-in yang seperti itu membuat hati Suzy sangat sakit. Dia tidak menyangka namja yang terlihat sangat kuat itu, namja yang selalu tempatnya berlindung, namja yang selalu menjaganya itu akan jadi begini. Terlihat sangat rapuh dan butuh perlindungan.

Dan suzy membenci siapapun yang membuat satu-satunya keluarganya jadi begitu.

Dia membenci Jung Soojung yang membuat oppanya jadi begitu.

Dia juga membenci Jung Soojung karena sudah membuat sahabat terbaiknya meninggal meski secara tidak langsung. Sehingga oppanya jadi gila.

Taemin mendesah pelan untuk yang kesekian kalinya—entah untuk yang keberapa sudah tak terhitung—sejak Sehun kembali memasuki hidupnya. Keputusannya mengambil spesialis ke jiwaan ternyata adalah keputusan yang tepat setelah bertemu Oh Sehun. Ada-ada saja tingkah sepupunya itu yang membuatnya kesal.

Lihat saja tadi pagi, setelah menangis sejak kemarin dan menghabiskan stok tissunya, namja itu kembali berulah lagi. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena di pakasa ibunya untuk kembali ke Jepang.

Sehun memang sudah berhenti menangis dan membersihkan ingusnya, tapi tadi pagi dia berganti merenggut dan terus merengek pada Taemin agar ikut membujuk ibunya agar Sehun tidak usah kembali ke Jepang.

“Memang apa yang salah dengan Jepang?” tany Taemin setelah kesal mendengar rengekan Sehun.

“Disana tidak ada kamu!”

“Apa hubungannya?”

“Kamua aku sedang sedih siapa yang akan mengiburku? Kalau akau sedang curhat siapa temanku? Kalau aku sedang bosan, siap[a temanku bermain?” rengeh Sehun. “Pokonya aku tidak mau pergi ke Jepang.”

Taemin melongo dan menatap Sehun kesal. Apa coba maksud Sehun? Memang dia pengasuhnya yang selalu ada untuk Oh Sehun.

“Tapi kan kamu bisa melupakan Suzy. Bukannya kalau kamu terus di Seoul tidak bisa melupakannya.”

Mendengar nama Suzy di sebut, Sehun langsung murung dan memukul Taemin dengan kesal.

“Yak! Kenapa kamu memukulku!”

“Ini semua salahmu! Kalau kamu mau membantuku lebih dekat dengan dokter cantik ini semua tidak akan begini. Kamu selalu mengganggu kami.”

“Aiss…berhenti! baiklah…baiklah aku akan menelepon Imo.” Ujar Taemin membuat Sehun berhenti memukulnua. “Kamu sadis sekali,” Gerutunya lalu meraih ponnselnya.

Setelah berbicara sebentar di telepon dia menatap Sehun, “Imo bilang mereka akan kembali Ke Seoul dan memintamu kembali ke sana untuk membantu mereka pindahan,” dumel Taemin.

“Jincha? Kenapa eomma tidak bilang?” ucap Sehun semangat.

“Maknya jangan asal menutup telepon sembarangan,” gerutu Taemin. Sehun hanya mendesis kesal. “Tapi bukannya kamu bilang ingin kembali ke Jepang agar bisa melupakan Suzy.”

Sehun kembali murung, “Aniyo…aku tidak ingin melupakannya. Aku ingin terus melihatnya. Aku berkata begitu hanya karena sedang kesal,” ujar Sehun. “Aku terlalu mencintainya hingga aku tidak bisa berfikir normal. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk menenangkan waktu sebelum kembali berjuang.”

“Ne? Kamu belum menyerah juga?” tanya taemin takjub.

“Tentu saja! Sebelum ada ikatan Suzy, dia masih terbuka untuk siapa saja,” jawab Shun semangat membuat Taemin kembali takjub pada sepupunya itu. Bukannya tadi masih sedih, kenpa sekrang sudah senang? Cepat seklai perubahannya.

“Tapikan samchon dan Imo akan kemabli, kamu tidak bisa berpura-pura lagi jadi orang gila?”

“Jangan bilang aku Oh Sehun kalau masalah seperti itu tidak bisa ku atasi,” ujartnya memukul dadanya. “dari pada kamu banya omong lebih baik kamu ke rumah sakit, ambil koperku, karena aku butuh untuk mengambil sisa barang-barangku yang di jepang.”

“Kenap harus aku?”

“Karena kamu Lee Taemi,” jawab Sehun enteng.

Taemin memotar bola matanya menatap Sehun. “Jawabannya apa itu?”

“Molla,” jawab Sehun asal. “Pokonya kamu harus mengambil tasku. Aku masih kesal dengan dokter cantik dan si hitam itu. Aku harus jual mahal sedikit biar tidak terlihat muraha.”

“ya…selama ini kamu itu sudah bukan murahan lagi, tapi seperti tidak punya harga. Jadi berhenti bersikap jual mahal.”

Sehun langsung menendang kaki Taemin. “Aku tidak peduli, pokoknya kamu harus mengambil tasku, atau aku bilang pada Imo, kalau kamu tidak melayaniku dengan baik,” ancam Sehun dan langsung meninggalkan taemin yang menggerutu kesal.

Dan masih dengan persaan kesal pada Sehun, Taemin berjalan ke ruangan Jongin dengan malas. Saat membuka pintu, dia sedikit terkejut melihat Suzy yang tidur dengan posisi duduk di dekata ranjang Jong-in sambil menggemgang tangannya. Dalam hati dia bersyukur Sehun tidak melihatnya, kalau tidak dia tidak tahan lagi menghadapi tingkah Sehun yang berikutnya.

Suzy terbangun saat mendengar suara pintu terbuka.

“Oh, Dokter Taemin… ada apa pagi-pagi ke sini? Apa terjadi sesuatu pada Sehun?” tanya Suzy sedikit panik. Dia masih merasa bersalah akibat kejadian kemarin.

Taemin tersenyum ramah pada Suzy. “Aniyo…dia baik-baik saja, aku hanya mau mengambil koper Sehun.” ujarnya menenangkan. “Kamu tidur di sini? Kamu tidak pulang?”

Suzy mengangguk. “Ne…Kai terus mengamuk sepanjang malam. Dia hanya mau tidur kalau aku menemaninya,” jawab Suzy. “Dia bahkan tidak mau melepaskan gemgamanku.”

Suzy kembali menatap taemin yang sekarang sedang membereskan barang-barang Sehun. “Memang Sehun kemana?”

“Dia kan kembali ke Jepang siang ini,” Sahut Taemin. Dia melihat raut sedih di wajah Suzy. “Sepertinya hubungan kalian cukup dekat ya,” ujar Taemin mengalihkan pembicaraan.

Suzy tersenyum. Di rumah sakit ini memang tidak ada yang tahu kalau mereka saudara selain perawat Han yang merupakan tetangga ayah angkat Suzy—Tuan Bae—dan juga Jung Soojung. Suzy tidak berani mengakui Kai saudaranya, karena ayah dan ibu tirinya sudah memepringatkannya agar tidak mencemari nama keluarga.

“Begitulah,” jawab Suzy. “Kami memang sangat dekat sekali sejak dulu.”

“Apa kalian memiliki hubungan selain pasien dak dokter?” tanya Taemin penasaran. Entah kenapa dia juga penasaran dan ingin tahu sejak dulu. Bukannya dia suka ikut campur urusan orang, tapi dia kasihan juga sama Sehun.

“Hmm…kami punya hubungan lebih dari itu,” jawab Suzy membuat Taemin membelalakkan matanya. Melihat perubahan wajah Taemin Suzy tersenyum. “Tapi bukan hubungan yang seperti yang kamu pikrkan,” tambahnya kemudian.

Taemin tersenyum bersalah karena sepertinya wajahnya menampakkan apa yang dia pikirkan. Dia jadi tidak enak pada Suzy.

“Bolehkah aku bertanya hubungan apa?” tanya taemin. “Oh, bukan maksudku ingin ikut campur. Aku hanya ingin memberi tahu Sehun agar tidak salah paham. Kamu tahu dia sebenarnya…”

“Arra,” potong Suzy.

“Ne?” tanya Taemin.

“Maksudmu kalau Sehun sebenarnya pura-pura gila untuk mendekatiku kan?” ujar Suzy tersenyum. “Dan juga salah paham tentang hubunganku dengan Kai.”

“Neo Arra?” tanya Taemin Kaget. “Bagaimana kamu tahu?”

Suzy terkekeh pelan dan berusaha melepaskan gemgaman Kai dan mendekati Taemin.

“Aku ini dokter jiwa,” ujarnya. “Kamu pikir aku tidak bisa membedakan mana yang sakit betulan dan mana yang pura-pura?”

Taemin tersenyum bodoh. Dalam hati dia juga mengutuki dirinya. Tentu saja Suzy pasti menyadarinya, seorang dokter jiwa juga di beri pendidikan untuk membedakan penyakit kejiwaan. Dan sebenarnya dia juga hearan kenapa Suzy membiarkan Sehun bebas berkeliaran sementara yang lain dia awasi dengan ketat. Bahkan dia tidak pernah memeberika Sehun obat selain vitamin.

“Kalau kamu tahu kenapa kamu membiarkannya selama ini?”

Suzy duduk di ranjang Sehun dan mengamati Taemin yang sekarang sedang memasukkan beberapa figura foto Sehun yang membuat Taemin heran pada Sehun. Kenapa Coba Sehun harus membawa figura fota begitu banyak ke rumah sakit jiwa.

Taemin lalu menatap Suzy yang sedang tersenyum malu-malu dan bukannya menjaeab pertanyaanya. Dia jadi mencurigai sesuatu yang tidak beres.

“Hmmm…sebenarnya aku juga menyukai Sehun sejak pertama melihatnya.”

TBC

Advertisements

51 thoughts on “Sehun Michigetda part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s