LOVE is HARD part 11 [2 part terakhir]

 

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

Kim myungso Infinite

Park jiyeon T-Ara

And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. cerita ini sangat flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana.

=======================================================================

Part 11DONT

Author POV

“Gamsahamida Aghasi,” ujar supir taksi itu ramah begitu Jiyeon membayar argonya dan berniat turun dari taksi itu. Tanpa memperdulikan si supir, Jiyeon melangkah angkuh dan berjalan ke dalam gedung perkantoran yang cukup megah dan mewah itu. Dia langsung melangkah ke dalam lift yang kebetulan terbuka dan menekan tombol 15.

TING!

Dia lalu keluar dari lift itu begitu tiba di tempat tujuannya. Seolah sudah mengenal dengan baik gedung itu dia langsung berjalan dengan pasti ke sebelah kanan  dan langsung menghampiri gadis manis dan anggun yang tertulis sekretaris di mejanya.

“Aku ingin bertemu Myungsoo. Apa dia aga di dalam?” tanyanya angkuh.

Gadis itu berdiri dan tersenyum ramah pada Jiyeon. “Sajangnim sedang tidak ada di kantor aghasi,” jawab gadis itu ramah karena sudah pernah melihat Jiyeon beberapa kali mengunjungi Myungso.

“Apa dia sedang rapat diluar? Kira-kira dia pulang jam berapa, aku akan menunggunya.”

“Sajangnim sedang di luar kota dan belum tahu kapan akan kembali.”

“Keluar kota?” taya Jiyeon heran. Kenapa Myungsoo  tidak memberitahunya. “Bolehkan aku meminta alamatnya? Aku ingin memeberi kejutan padanya.”

Wanita itu mengangguk. Dia sudah sering melihat Jiyeon menemui atasannya, dan atasannya akan selalu menyediakan waktu sesibuk apaun dia jika yeoja di depannya datang menemuinya. Dia menebak mereka memiliki hubungan khusus membuatnya kasihan pada istri atasannya itu—khas pria kaya, selalu tidak puas dengan satu wanita, batinnya—jadi pasti tidak masalah memberi alamat Kim Myungsoo.

“Changwon?”tanya Jiyeon heran. “Dia belum pulang juga dari sana. Apa proyeknya begitu sulit hingga dia menghabiskan waktu lama disana.” Sekretaris Myungso itu tidak menanggapi dan hanya tersenyum ramah. “Tolong jangan beritahu dia aku akan kesana, aku ingin memberi kejutan,” ujar Jiyeon berlalu.

“Myungsoo oppa I’m comming!” ujarnya ceria.

…………..

“Hmm bukankah Soojung dan Sulli juga tinggal di Changwon? Apa aku perlu menemui mereka dan menginap saja disana malam ini sebelum bertemu Myungsoo oppa? Lagipula ini sudah sangat malam,” guman Jiyeon yang sekarang baru keluar dari stasiun Changwoon. Begitu mendapat alamat Myungsoo dia memang langsung bergegas ke Changwoon. “Aku masih menyimpan alamatnyakan?” ujanya lalu mencari sesuatu di tasnya dan tidak berapa lama dia menemukan notes kecil yang berisi alamat-alamat teman-teman lamanya.

“Taksi!” serunya memanggil salah satu taksi agar mendekat dan dan membantu mengangkat barang-baranganya.

*****

“Berhenti!”

Pekik Sulli kencang  pada Soojung yang sedang menyetir. Soojung kaget dan sontak menginjak rem dengan tiba-tiba membut mobil yang mereka kenderai berhenti mendadak dan keduanya terdorong kedepan. Untung mereka menggunakan seat belt sehingga tubuh mereka cepat tertarik dan tidak membuat mereka terluka selain terjeduk pelan.

“Ya…kamu mau membuh kita!” keluh Sulli lagi sambil mengelus jidadnya yang terbentur dasbor mobil.

“Itu semua karena kamu berteriak secara tiba-tiba,” jawab Soojung kesal karena di salahkan. Sulli hanya tersenyum bodoh dan menatap Soojung dengan eye smilenya. “Memang ada apa? Kenapa berteriak tiba-tiba?”

“Itu…bukankah orang itu mencurigakan?” tunjuk Sulli pada seorang wanita dengan mantel coklat sedang berdiri membelakangi mereka seperti sedang mengintai sesorang.

“Mencurigakan? Oddi?” tanya Soojung dan mulai mengikuti arah telunjuk Sulli. “Sedang apa dia berdiri di situ? Bukankah dia sedang mengintip rumahku?!”

“Omo! Jangan-jangan seorang pencuri yang sedang memata-matai target mereka sebelum mereka merampok,” ujar Sulli membulatkan matanya. “Soojungie bagaimana ini?”

Soojung yang juga merasa takut ikut bergidik dan mencoba mengawasi orang tersebut lebih teliti. “Tapi sepertinya aku mengenalnya?” guman Soojung membuat sulli menoleh padanya dan menatap Soojung kaget.

“Omo! Jangan bilang kamu berteman dengan perampok?”

Soojung menatap Sulli kesal. Terkadang sepupunya itu memang menyebalkan dan sangat bodoh. “Maksudku itu bukan begitu,” kesal Soojung. “Dia seperti seseorang yang ku kenal dan sedang mengawasi rumahku untuk memastika sesuatu tapi dia takut untuk mendekat.”

“Ooo…” ujar Sulli membulatkan mulutnya. Meski tidak terlalu mengerti dia tidak bertanya lagi karena menurutnya sosok yeoja itu jauh lebih menarik dari pada berdebat dengan Soojung. “Tapi yeoja itu memang terlihat familiar. Apa kita mengenalnya?”

“Eh bukankah itu Suzy? dan bukankah itu mobil Myungsoo sunbae?” ujar Sulli begitu mengalihakan matanya ke rumah Soojung dan melihat Suzy yang mengantar Myungso ke mobilnya dan kemudian berlalu dengan mobilnya. Karena Suzy dan Myungso tadi berdiri di depan pagar rumah Soojung yang tidak ada lampunya, Soojung dan Sulli tidak terlalu memperhatikannya karena jaraknya yang cukup jauh. Tapi begitu suzy berjalan ke mobil Myungso yang kebetulan di bawah penerangan jalan barulah mereka terlihat.

“Omo! Jangan-jangan…” pekik Soojung pelan saat menyadari sesuatu.

“Wae…wae..wae” tanya Sulli yang mendengar pekikan Soojung.

“Sepertinya yeoja itu sedang mengawasi Suzy dan menunggu Myungso sunbae pulang,” jawab soojung. “Dia terlihat seperti Jiyeon.”

Sulli sontak menoleh dan menatap yeoja itu yang kini mulai melangkah keluar dari persembunyiannya dan melangkah kearah Suzy. Dan benar saja. Meski Jiyeon sudah banyak merubah penampilannya dan menggunakan make-up penuh tapi mereka masih bisa melihat sosok Jiyeon yang mereka kenal dulu dalam diri yeoja itu.

“Omo! Jangan-jangan dia…” pekik Sulli histeris. “Soojungah…Palii jalankan mobilnya, kita harus kesana sebelum hal buruk terjadi,” histeris Sulli.

Soojung yang ikut panik dan semakin panik karena ocehan Sulli jadi semakin panik sampai lupa bagaimana menjalankan mobil. “Ya!! Kamu membuatku panik.”

“Aiss…dasar payah,” ujar Sulli kesal lalu buru-buru keluar dari mobil Soojung dan berlaru secepat yang dia bisa menghampiri Suzy dan Jiyeon. Dia bisa melihat wajah kaget Suzy yang melihat kedatangan Jiyeon. Dan karena melihat Sulli yang keluar dari mobilnya, Soojung semakin bingung sendiri..

“Ya..jangan meninggalkanku sendirian.”

PLAAKKK!!!

Belum sempat Sulli mengejar Jiyeon, dia langsung terpaku di tempat saat Jiyeon dengan tanpa aba-aba langsung menapar Suzy dengan sangat keras, begitu dia tiba di hadapan yeoja itu.

“Neo! Bukankah kamu berjanji untuk melepaskan Myungsoo oppa?! Kenpa kamu malah menggodanya!” pekik Jiyeon. “Kamu pikir dengan kepergianku kamu bisa menggodanya!”

Suzy yang kaget hanya menatap Jiyeon sambil memegang pipinya yang di tampar jiyeon sangat keras. Air matanya mengalir begitu saja karena panasnya tamparan Jiyeon di pipinya.

“Aku sudah memeperingatkanmu sebelumnya Bae Suzy. Dan aku membrimu sedikit waktu untuk bisa melepas semuanya bukannya menggodanya. Kamu pikir aku akan tinggal diam?!” amuk Jiyeon lagi. “Tidak akan! Aku tidak akan bersikap lembut padamu lagi Bae Suzy, akan aku tunjjukan siapa aku sebenaranya!”

“Ji..Jiyeonah…” ujar Suzy pelan. “Otthokae ar…”

“Kamu pikir aku tidak akan tahu niat busukmu!” potong Jiyeon kasar. “kamu sangat menyedihkan Bae Suzy. kamu tidak ada bedanya dengan kedua orang tuamu. Menjijikkan!”

Suzy tidak mampu membalas kata-kata Jiyeon. Hatinya sangat panas bahkan lebih panas dari tamparan Jiyeon di pipinya. Dia sudah tahu hal seperti ini terjadi. Bukankah setiap dia bermimpi, dia akan berakhir dengan mimpi buruk.

“Waktumu sudah habis, dan aku tidak akan membiarkanmu lagi menikmati apa yang jadi milikku! Sekarang aku sudah datang untuk mengambilnya,” ujar Jiyeon. “Aku mau mengambil anakku. Dimana anakku!” pekik Jiyeon menarik tangan Suzy yang sedang memgang pipinya dengan kasar. “Kembalikkan anakku!”

Suzy semakin sesegukan di tempatnya. Dia hanya menatap jiyeon dengan mata penuh air mata. Dari dulu dia memang tidak ahli berdebat, dia selalu takut dengan kekerasan. Dia tidak punya keberanian hanya untuk sekedar berteriak pada orang, apalagi melawan Jiyeon yang sedang emosi.

“Jangan menangis di depanku, aku tidak akan kasihan padamu!” bentak Jiyen lagi. “Kembalikan putriku sekarang. Apa dia ada di sini?” tunjuk Jiyeon mulai menarik Suzy kasar menuju rumah Soojung.

“YA PARK JIYEON, BERHENTI!”

Teriak Soojung marah melihat perlakuan Jiyeon pada Suzy.

Jiyeon berhenti dan menoleh. Dia lalu tersenyum sinis pada dua orang yang mentapnya marah.

“Cieh…kamu membawa dua bodyguard eoh!” ujar Jiyeon sinis pada Suzy. dia lalu menatap Soojung dan Sulli sinis, “Annyeong cinguah. Oeramaniyeo…” ujarnya tak kalah sinis.

Soojung dan Sulli hanya menatap Jiyeon kesal. Betapa mengerikannya Jiyeon yang berdiri di depan mereka sekrang. Dia bukan Park Jiyeon sahabat mereka yang dulu. Dia seperti orang yang kerasukan. “Lepaskan tanganmu dan jangan membuat keributan di sini,” ujar Soojung memberi peringatan. Sementar Sulli hanya berdiri di sebelah Soojung memberi dukungan. Dari dulu Sulli sama seperti Suzy tidak terlalu bisa berdebat, mulutnya hanya bawel seperti bebek di sekitar orang-orang yang dia kenal dekat. Berbeda dengan Soojung ang memang sehari-hari sudah jutek, ceplas-ceplos dan tidak mengenal takut.

Jiyeon kembali menatap Soojung tajam. “Cinguah, ini bukan urusan kalian. ini urusanku dengannya,” ujar Jiyeon dan kembali menarik tangan Suzy hendak masuk ke rumah Soojung.

“Tentu saja ini urusanku karena kamu berteriak  di depan rumahku dan hendak memaksa masuk rumahku,” jawab Soojung tidak kalah tajam. “Aku melarang keras kamu menginjakkan kakimu di rumahku.”

Soojung lalu mengalihkan matanya pada Sulli dan Suzy, “Kajja kita masuk, di luar dingin,” katanya lalu menarik tangan Suzy masuk dan meninggalkan Jiyeon yang menatap tajam pada mereka.

…………….

“Gwenchana?” tanya Sulli begitu mereka berada di ruang tamu Soojung. “Omo! Merah sekali. Apa itu sakit?”

Suzy menatap Sulli dengan senyum yang dipaksakan. “Hm, ini tidak sakit sama sekali,” ujarnya tersenyum.

“Tidak sakit bagaimana. Ini sangat merah sebentar lagi pasti akan biru,” kata Sulli lagi. “Kamu tidak perlu bersikap puar-pura baik-baik saja di depan kami.”

“Bagaimana bisa kamu hanya diam saja saat dia menamparmu dan memperlakukanmu begitu,” omel Soojung yang baru datang dari dapur dan membawa telur dan iar dingin. “Ini kompres pipimu lalu oleskan ini, nanti merahnya akan cepat hilang,” ujarnya menyerahkan telur itu pada Suzy.

“Gomawo…” ucap Suzy menerima telur itu dan mengelusnya ke pipinya yang di tampar Jiyeon. “lalu aku harus berbuat apa. Yang di katakannya itu benar semuanya. Aku sudah berjanji akan melepaskan Myungso oppa dan Sooyeon tapi aku malah mengambil mereka.”

Sulli dan Soojung menatap Suzy prihatin. “Apa kamu sudah memberi jawaban pada Myungsoo sunbae?” suzy mengangguk.

“Pikiranku berkata untuk tidak memaafkannya dan mengakhiri semua ini, tapi hatiku menyuruh untuk memaafkan dan menerima dia apapun yang sudah terjadi. Hatiku sakit saat dia memperlakukanku solah-olah tidak ada selama ini, tapi ternyata hatiku jauh lebih sakit saat aku tidak bisa melihatnya.”

Suzy menatap Sulli dan Soojung yang juga menatapnya. Merasa sudah waktunya dia berbagi cerita pada kedua sahabatnya itu dan berharap mendapat dukungan. Dia membutuhkan dukungan saat ini.

“Apa aku terlalu kejam jika aku juga menginginkan Myungsoo oppa dan Sooyeon tetap di sampingku?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. “Apa aku begitu egois jika aku juga ingin bahagia meski aku tahu aku merebut kebahagiaan orang lain. Apa menurut kalian tindakanku salah jika aku tetap memeprtahankan posisiku?”

Sulli menatap Suzy prihatin. Dia ikut meneteskan air matanya melihat suzy yang menangis. Dia lalu memeluk Suzy berharap dapat memberikan ketenangan pada sahabatnya itu. Karena menurut yang dia tahu pelukan dapat memberikan ketenangan.

“Aniyo…kamu tidak salah. Kamu juga berhak bahagia,” jawab Suli sambil menepuk punggung Suzy pelan.

“Meski itu akan melukai hati jiyeon?”

“Hmm…kamu sudah melakukan hal yang benar.”

Soojung menghela nafasnya melihat kedua sahabatnya itu menangsi bersama. “Ne..kamu sudah melakukan hal yang benar,” ujarnya. “Aku justru akan kecewa dan marah jika kamu menyerah begitu saja.”

Suzy menatap Soojung.

“Aku terkaang merasa jengkel dengan sifatmu yang terlalu pengalah dan selal merasa dirimu tidak layak untuk bahagia,” ujar Soojung. “Setiap manusia itu di ciptakan untuk bahagia. Tapi kebahagiaan tidak ada yang datang begitu saja, kita harus mengejarnya. Terkadang kita perlu bersikap egois.”

“Ne, jiyeon saja mau mengejar kebahagiaan dengan begitukeras, tapi kenapa kamu tidak pernah mau mengejar kebahagiaanmu,” timpal Sulli.

“Bagaimana aku bisa mengejar kebahagiaanku jika ada yang terluka karenaku.”

“Lalu kamu mau terus hidup seperti ini? terluka seorang diri?!” suzy menggeleng. “Karena itu, mulai sekrang kamu juga harus mengejar kebahagiaanmu. Kalau kamu tidak berhasil paling tidak kamu pernah berusaha dan tidak akan menyesal karena tidak pernah berbuat apa-apa. Kalu dengan mempertahankan mereka kamu bahagia, lakukanlah.”

“Tapi bagaiman dengan Sooyeon? Apa dia tidak akan membeciku saat dia tahu aku memisahkannya dari ibu kandungnya?”

“Bagi Sooyeon kamu adalah ibu kandungnya. Semua orang tahu bahwa kamulah ibu kandung Sooyeon. Apa kamu pikir Sooyeon tidak akan membencimu kalau kamu melepaskannya?” tanya Soojung lagi. “Seseorang tidak bisa di sebut sebagai seorang ibu hanya karena di yang melahirkan. Seorang ibu adalah sosok yang selalu ada untuknya. Sosok yang bisa mengajar dan menuntunnya. Bukansosok yang tiba-tiba muncul begitu aja.”

“Tapi kalau Jiyeon…”

“Jiyeon sudah tahu tentang Sooyeon sejak kalian bertemu. Tapi sampai sekrang dia pernah serius ingin mengambilnya darimu. Dia hanya menggertakmu agar kamu takut padanya. Dia hanya sibuk mencari dan mengejar Myungsoo.”

Suzy terdiam memikirkan kata-kata Soojung. Memang benar Jiyeon hanya mengancamnya akan mengambil Sooyeon, tapi yeoja itu benar-benar tidak melakukan apa-apa untuk mengambil Sooyeon darinya.

“Kalau kamu memikirkan kebahgaian Sooyeon, kamu pastikan mengambil keputusan yang terbaik dan yang paling dia inginkan.”

*****

Myungso sedang konsentrasi menyetir sedikit terusik karena bunyi ponselnya yang berdering. Dia meraih ponselnya yang dia letakkan di bangku di sebelahnya dan masang Headset dan menjawab panggilan itu tanpa melihat si pemanggil.

“Yeoboseo,”

“Oppa ini aku.”

Myungso sedikit tersentak mendengar nada suara Jiyeon sudah beberapa hari ini tidak di dengarya. Dia bahkan hampir melupakannya.

“Ne…ada apa kamu meneleponku?”

Wae? Kenapa kamu bertanya begitu. Apa aku tidak boleh meneleponmu?”

“Aniyo…bukan begitu maksudku. Hanya bertanya apa ada sesuatu yang penting?”

“Apa hanya kalau ada yang penting baru aku bisa meneleponmu?” Myungsoo terdiam. “Oppa apa kamu tidak mau bertanya keadaanku dan sedang dimana?” Myungso kembali terdiam dan memilih konsntrasi pada jalanan. Jiyeon tertawa sinis.

“Sekarang kamu ada di mana? Aku ingin bertemu.”

“Minhae Jiyeon…aku tidak bisa, aku sedang tidak di Seoul.”

“Arrayo…aku juga sekarang di Changwon.”

“Ne? Di Changwon.”

Nde. Aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu.”

Myungso mengela nafas berat sebelum membuka suaranya. “Baiklah, tapi ini sudah malam. bagaimana jika kita bertemu besok saja saat makan siang. Aku juga sudah lelah.”

“Tapi aku ingin bicara sekrang. Aku tidak bisa menunggu besok.”

“Baiklah, kamu di mana aku akan menyusulmu.”

*****.

 

Suzy melangkah riang denga Sooyeon yang menggandeng tangannya begitu dia dan Sooyeon turun dari mobil Myungsoo. Namja itu tidak bisa mengantar Sooyeon ke depan sekolahnya karena dia ada urusan yang sangat penting sehingga Suzy menyuruhnya langsung pergi dan tidak usah mengantarnya ke kantor karena dia bisa naik taksi.

“Eomma, aku senang sekali hari ini,” ujar Sooyeon riang sambil berjalan menggandeng tangan Suzy.

“Jincha? Wae.”

“Hmm…aku senang karena appa dan eomma mengantarku ke sekolah lagi. Aku berharap pekerjaan appa tidak banyak lagi sehinggu dia bisa sering menghabiskan waktu bersama kita.”

Suzy tersenyum dan menatap Sooyeon yang sekarang meloncat-loncat kecil.

“Apa kamu begitu senang melihat eomma dan appa bersama?”

“Ne Choayo. Aku berharap kita bertiga hidup selamanya. Eomma, appa dan Sooyeon besama selamanya.”

Suzy menghentikan langkahnya tepat di gerbang sekolah Sooyeon. Dia berjongkok menyejajarkan tingginya denga gadis kecil itu.

“Apa kamu benar-benar menyayangi eomma?”

Sooyeon mengangguk.

“Apa kamu ingin selamnya hidup bersama eomma dan appa?” sooyeon kembali mengangguk. “Eomma juga ingin hidup bersama Sooyeon dan appa selamnya. Dan mulai sekarang Eomma akan berjanji akan mempertahankan appa dan Sooyeon di sisi Eomma. Eomma tidak akan menyerah. Tapi kamu juga harus berjanji tidak akan pernah meninggalkan eomma ne?”

“Yakso!” ujar Sooyeon riang dan langsung mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Suzy meski sebenarnya di tidak mengerti maksud Suzy.

“Kalau begitu kajja, kamu masuk nanti kamu terlambat,” ujar Suzy lalu mencium kening Sooyeon. “nanti siang eomma akan menjemputmu. Jangan berbicara dengan orang asing kalau eomma terlambat menjemput ne.” Sooyeon mengangguk dan membalas ciuman Suzy.

“Eomma aku masuk dulu,” ujarnya lalu mulai berlari.

……….

“Pagi…presdir…” sapa Suzy kikuk saat tak sengaja bertemu Jong-in yang hendak masuk ke kantor.

“Oh…Suzy pagi,” jawab Jong-in tidak kalah kikuk. Sejak pernyataannya itu dia menjadi canggung setiap bertemu Suzy. “Kamu baru datang.”

Suzy mengangguk sopan.

“Tidak bawa mobil?” tanya lagi karena tidak melihat mobil Suzy.

“Ne, tadi Myungso oppa mengantarku dan Sooyeon…” Suzy langsung menghentikan kalimatnya saat melihat perubahan wajah Jong-in. “Maksudku aku tidak bawa mobil,” tambahnya canggung.

Jong-in berusaha tersenyum meski hatiya sakit. “Ohh..” jawabnya singkat. “Kalu begitu aku duluan. Aku ada meeting pagi-pagi ini,” ujanya saat mereka sudah ada di gedung kantornya.

Suzy menghela nafas beratnya. Dia ingin berbicara dengan Jong-in dan menyuruh namja itu agar berhenti berharap padanya, tapi entah perasaannya saja atau tidak tapi sepertinya Kim Jong-in sedang menghindarinya. Dia lalu mengangkat bahunya cuek dan berjalan keruangannya.

………….

“Soojungah, aku sedang ada pertemuan dengan pihak majalah, sepertinya  selesainya agak telat, apa kamu bisa menjemput Sooyeon dan mengantar ke salon Sulli?” tanya Suzy di telepon sambil berjalan menuju lift. Tadi sela rapat, ada filenya yang ketinggalan sehingga dia kembali ke kantornya dulu “Sulli sedang banyak costumer jadi aku tidak bisa meminta bantuannya,” lanjutnya lagi.

“Ne…tiba-tiba pihak majalah yang mau mengiklankan produk kami mengajukan kesepakatan baru. Katanya ada sedikit masalah degan modelnya,” jawab Suzy ketika Soojung bertanya rapat apa. “Jadi apa kamu bisa?”

“Oh…kamu juga tidak bisa. Gwenchana, tidak perlu. Aku tidak enak kalau harus meminta bantuan Minho oppa,” lanjut Suzy masuk ke dalam lift dan menekan angka tujuannya. “Hmm…myungsoo oppa sedang ada urusan katanya….gwenchana, nanti aku akan menghubungi pihak sekolah. aku akan meminta mereka menjaga Sooyeon sebentar sampai aku datang. Ya sudah…aku tutup dulu, aku mau ada rapat.”

Setelah keluar dari lift suzy tidak langsung masuk keruangan yang akan dia tuju tapi terlebih dahulu dia berbelok ke toilet.

“Yeoboseo,” ujarnya sopan saat sambungan teleponnya di angkat. “Selamat siang Saesongnim…saya ibunya Kim Sooyeon,” sapanya.

“Ne…Saya sedang ada rapat, saya takut selesainya agak telat dan karena lokasinya agak jauh dari sekolahan, saya khawatir saya akan terlambat menjemput Sooyeon. Karena itu saya ingin…Ne?” tanyanya bingung. “Hari ini pulangnya lebih capat dari biasanya dan ada seorang wanita yang mengaku kerabat saya dan hendak menjemput Sooyeon?” suzy tampak berfikir keras. Dia hanya mengenal Sulli dan Soojung di kota ini, dan kedua wanita itu mengaku sedang sibuk. Jadi siapa kira-kira….

“Bagaimana ciri-cirinya?” tanya Suzy panik. Dia mulai memikirkan satu nama. Dan satu nama itu membuatnya ke takutan. “Mwo?! BGAIMANA BISA KALIAN MEMBIARKAN PUTRIKU DI JEMPUT ORANG YANG TIDAK DI KENAL!” teriak Suzy keras saat yakin bahwa wanita itu adalah Jiyeon. Untung toilet itu tidak ada orang selain Suzy sehingga tidak ada yang terkena serangan jantung.

Pihak sekolah itu  kaget dengan teriakan Suzy dan hanya bisa menjawab gugup dan meminta maaf. “Kaliankan gurunya! Harusnya menjaganya!” pekiknya lagi. “Apa mereka sudah lama pergi?!” tanya Suzy lagi melunak mencoba menjernihkan pikirannya.

“Mereka baru pergi lima menit lalu naik taksi nyonya. Maafkan kami…wanita itu mengaku teman anda dan Sooyeon juga mengatakan dia mengenalnya.”

Suzy langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam. Karena panik dan bingung dia melupakan bahwa baru saja dia bersikap tidak sopan. Tanpa menunggu dia langsung keluar dari toilet dn menemui desainer Kim yang sedang sibuk berdiskusi dengan pihak majalah.

“Maafkan saya sajangnim. Tapi saya ada urusan mendesak jadi sepertinya tidak bisa ikut rapat. Bolehkan saya ijin?” tanyanya begitu bertemu desainer Kim. Wanita paruh baya yang terlihat masih cantik dan modis itu menatap Suzy.

“Sepetinya benar-benar sangat mendesak. Baiklah kamu boleh pergi, aku bisa mengurusnya. Lagipula hanya tinggal hanya tinggal memilih modelnya dan sudah ada beberapa nama.” jawab wanita itu melihat raut wajah Suzy.

“Gamsahamida sajangnim,” jawab Suzy dan langsung berlari dari ruangan itu.

……….

Jiyeon tersenyum sinis melihat Suzy yang langsung berlari kearahnya begitu dia memberitahu keberadaanya.

Begitu menjemput Sooyeon dan membawanya ke kedai eskrim, Suzy langsung meneleponnya berkali-kali. Jiyeon tahu pasti yeoja itu sedang panik makanya dia sengaja baru mengangkat panggilan ke sepuluh Suzy agar membuat Suzy kebingan sendiri. Dan begitu panggilan ke sepuluh dia mengangkat, Suzy langsung berteriak menanyakan keberadaan Sooyeon.

“Sooyeonah…!” pekik Suzy begitu memasuki kedai eskrim. “Kim Sooyeon,” panggilnya panik sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kedai. Mendengar suara Suzy Sooyeon langsung berteriak dan melambai ke Suzy.

Eomma! Di sini!”

Teriaknnya riang. Suzy yang mendengar langsung menoleh dan menghampiri Sooyeon.

“Gwenchana? Kamu tidak apa-apa?” tanyanya langsung memeluk gadis kecil itu erat membuat Sooyeon sedikit bingung. “Bukankah Eomma bilang jangan kemana-mana sampai eomma menjemputmu.”

“Gwenchana…ajhuma ini sedang mentraktirku makan eskrim.”

“Cie..” decak jiyeon. “Kamu pikir aku akan melukainya. Aku ini ibunya, seharusnya dia lebih aman bersamaku dari pada bersama orang lain.”

Suzy menatap Jiyeon tajam. “Aniyeo. Dia anakku!”

“Ya…Bae Suzy!” pekik Jiyeon kesal.

“Sooyeonah…eomma sedang ingin bicara dengan ajhuma ini. kamu pergi main disana dulu otthe?” tanya Suzy lembut ke arena permainan anak yang ada di depan kedai itu. Gadis kecil itu mengangguk mengerti.

“Tapi aku boleh bawa ini?” tanyanya menunjuk gelas eskrimnya.

“Ne..kamu tunggu disana. Dan jangan kemana-mana samapi eomma datang. Arraso.”

“Arrayo…”jawabnya lalu berlari kesana. “Ajhuma, aku kesana dulu ne,” pamitnya ke jiyeon sebelum dia berlalu.

“Jadi aku hanya seorang ajhuma, dan kamu ibunya!” ujar Jiyeon sengit begitu Sooyeon berlalu.

“Ne. Kamu seorang ajhuma asing dan aku ibunya!” jawab Suzy tak kalah sengit. “Jadi berhentilah menggangu keluargaku dan lebih baik kamu pergi! Karena mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam lagi!”

“Mwow! Kamu berani melawanku!”

“Ne…mungkin sebagai Bae Suzy aku tidak akan pernah mau melawanmu. Tapi tadi malam aku tersadar aku ini sorang ibu. Dan seorang ibu akan berjuang sekeras apapun untuk anaknya.”

“Neo! Kamu sudah berjanji akan melepaskan mereka..”

“Mianhae…aku memang berjanji begitu saat aku pikir mereka lebih menginginkanmu. Tapi aku tahu sekarang, mereka lebih membutuhkanku dari padamu.”

“Mereka melakukan itu karena aku tidak ada dan sekarang aku sudah kembali. Jadi sesungguhnya akulah yang mereka butuhkan.”

“Aniyo!”jawab Suzy tegas. “Kamu sudah membuangnya jadi kamu sudah tidak punya hak!”

“Bae SUZY!”

“Wae…kamu mau bilang ini semua karena orangtuaku?” tanya Suzy. “Tapi karena kamu juga aku harus membuang mimpiku untuk merawat mereka saat kamu membuang mereak seperti samapah. Hal ini juga tidak akan terjadi kalau kamu tidak memaksakan diri tanpa mendapat restu mereka. Atau paling tidak mau bertanggung jawab pada kekacauan yang kamu buat. Bukannya lari begitu saja saat semuanya hancur dan membuatku harus menyelesaikan semuanya. Dan setelah semuanya ku erbaiki tiba-tiba kamu mau datang dan mengambilnya?”

“Kamu bisa berkat begitu  karena kamu tidak ada di posisiku. Kamu sudah terlalu nyaman dengan hidupmu Bae suzy.”

“Jangan asal bicara kalau tidak mengerti,” serga Suzy. “Tahu apa kamu tentang hidupku. Kalau kamu di hidupku aku ragu kamu masih mau hidup sekrang.”

Jiyeon menatap suzy marah.

“Jadi aku memperingatkanmu jangan pernah mengganggu keluargaku. Karena kamu tidak tahu apa yang bisa ku perbuat.”

Setelah mengatakan itu Suzy pergi meninggalkan Jiyeon yang menatapnya tajam. Suzy tahu dia sangat kasar dan egois, tapi di satu sisi dia juga lega karena bisa melakukan itu. Dia sudah lelah hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan Jiyeon.

 

TBC

 Aku putuskan Endingnya next part..kekekeke

Tyty ini ff lbh panjang dr yg aku buatkan. Setelah aku ketik panjang bgt tyt…jd g jd end di sini. Awalnya aku pikir bs buat press dan semua konfliknya tak percepata tp tynty susah juga. Aslinya aja bawel jd ffnya juga bawel…hehehe

Advertisements

77 thoughts on “LOVE is HARD part 11 [2 part terakhir]

  1. Wwahaaa..
    makin seruu..
    gitu donk suzy.. jgn mau ditindas..
    semangat buat end part dear..
    Ditunggu sangat 😀

  2. menunggu endingnya.. benar-benar berharap menunggu ending semoga author mau bikib endingnya supaya engk digantungin gini

  3. Aigoo senangx lihat suzy bisa tegas seperti itu,.
    rasain tu jiyeon huhu,.
    next part ne thor,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s