SUZY, DON’T LEAVE! part 5-END

DONT

Author: Ririn

Genre: Romance. Sad, family

Legt: Short Chaptered

Cast: Bae Sooji as Suzy n Soojin

Kim Jong in

Lee Junho

Jung Soo jung

And others

Ratting: 17+

 

Ini Cuma 3-4 chapter dan terinspirasi dari novelnya Mira W yang judulnya Jangan pergi lara. Mira W itu adalah alah satu pengarang favoritku dan jgn pergi lara salah satu tulisannya paling aku suka krn genrenya g terlalu married life (kan biasanya tulian Mira W itu tentang masalah rumah tangga). Jadi bagi yang suka baca tulisan Mira W pasti merasa mirip. Tapi ini versi aku, g benar2 mirip, paling 40% aja mirip (inti dan judul cerita) tp kalau alur, setting, cast  n istila2 di sini buatanku. Dan kata2nya hasil karyaku, tdk mengutip sedikitpun dr Mira W. Happy reading aja deh.

========================================================================

Part 5

 

Author POV

“Suzy gwencahana? Dimana yang lain?” Tanya Soojung yang datang ke  kedalam ruang rawat Suzy.

Suzy yang sedang berbaring sambil menonton tv menoleh dan menatap Soojung. “Ini sudah malam, jadi aku menyuruh mereka pulang. Aku merasa aneh di tungguin. Seolah aku akan mati saja.”

“Ohh…maaf baru datang sekarang. Dari tadi pagi aku sibuk menemani dokter Jang operasi. Huh, hari ini banyak sekali pasien patah tulang. Melelahkan,” kata Soojung mengambil posisi duduk di sofa ruangan itu. Karena Suzy adalah salah satu seorang di rumah sakit itu dia mendapat pengobatan dan ruang rawat terbaik di situ dengan gratis. Kadang Suzy merasa dia seperti di hotel bukan di rumah sakit.

“Benarkah? Waahhh…untung aku tidak jadi mengambil spesialis orthopedi sepertimu. Harus berdiri seharian untuk melakukan operasi tidak bisa di lakukan dokter yang tidak punya kaki. Aku harus pikir-pikir lagi mau ambil spesialis apa kalau aku masih bisa buka praktek.”

Soojung menatap Suzy. meski sahabatnya itu berkata dengan nada bercanda, tapi dia tahu pasti Suzy serius dengan ucapannya.

“Gwenchana?” hanya itu yang bisa di katakan Soojung karena dia bingung bagaimana menanggapi perkataan Suzy tanpa membuatnya senang.

Suzy mengalihkan matanya dari tv dan menatap Soojung. “Tentu saja. Aku tidak pernah merasa lebih baik dari ini. kalau keadaan normal omma tidak akan mau menyekawakan kamar semawah ini untukku. Bahkan saat Soojin sakit dia hanya dapat kelas 1 bukan paviliun seperti ini. ckck…ada untungnya juga jadi dokter di sini. Bisa mendapat fasilitas hotel bintang 5.”

Soojung hanya geleng-geleng. Kenapa Suzy masih suka sekali membanding-bandingkan dirinya dengan kembarannya dan selalu ingin mengalahkan Soojin.

“Bukan itu maksudku. Aku dengar dari ibunu kamu sudah mengahiri hubunganmu dengan Kim Jong-in.”

Suzy menatap tv di tatapan kosong dan senyum hambar.

“Hmm…sekarng aku merasa jauh lebih baik.”

“Gotjimal…melihat ekspresimu aku tahu kamu tidak baik-baik aja,” ujar Soojung. “Kenapa kamu tidak berkata jujur saja. Mungkin dia bisa menerimamu.”

“Aku akan melakukan operasi 2 hari lagi dan setelah itu aku hanya punya kaki satu,” ujar Suzy. “Kamu tidak malukan berteman dengan orang cacat? Kalau kamu malu, aku akan menempelimu seperti parasit,” gurau Suzy. “Aku tak ingin menjadi bebannya dan membuat malu dia. Dia bisa mendapatkan yaoja yang jauh lebih baik dariku.”

“Ya… kemana Bae Suzy yang selalu percaya diri? Kenapa kamu jadi seperti ini?”

“Kepercayaan diriku sekarang NOL.”

Suzy kembali menatap Soojung dengan senyum khasnya, “Dulu aku merasa selalu percaya diri dengan diriku dan apapu yang aku lakukan karena aku selalu bisa melakukannya dengan baik. Tapi sejak bertemu Kim Jong-in, tiba-tiba saja aku jadi tidak percaya diri dan takut membuatnya kecewa. Aku tidak siap melihat wajah kecewanya padaku…”

“Kamu benar-benar menyukainya eoh..?” tanya Soojung prihatin. Dulu dia selalu mengagumi Suzy karena kepribadian sahabatnya itu yang cekatan dan tegas dan juga pintar membawa diri. Suzy selalu melakukan semuanya dengan percaya diri membuat orang lain merasa minder. Suzy itu tipe yang sangat mudah menyedot kepercayaan diri saingannya. Tapi lihat sekarng…

“Eoh…aku sangat menyukainya,” Suzy kembali menarik nafasnya. “Aku bahkan sangat mencintainya.”

“Lalu kenapa kamu menyerah.”

“Sudah kubilang karena aku sudah tidak punya kepercayaan diri lagi.  Jadi pergi adalah solusia terbaik yang aku pikirkan.” Ujar Suzy. “Aku bahkan tidak tahu apa yang aku inginkan sekarang. Rasnya aku ingin mati saja,” bisik Suzy pelan.

“Yak…kehilangan kaki bukan berarti kamu harus kehilangan kepercayaan dirimu apalagi cinta. kamu masih tetap Bae Suzy. kamu tidak boleh jadi begini.”

“Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Membuatku ingin aku menangis? ANDWE!! Aku tidak akan menangis.” kata Suzy dengan gaya angkuhnya. “Aku ini gadis perkasa tidak boleh menangis.”

“Aiss dia tidak ingat seminggu yang lalu dia menangis di tangga darurat dengan ingus kemana-mana,” gerutu Soojung.

“Ya! Kapan aku melakukan itu! Aku ini Bae Suzy tidak pernah menangis! Maldo ANDWE!!”

“Terserah apa katamulah,” gerutu Soojung lagi. “Apa kamu benar baik-baik aja? Kamu tidak takut?”

Suzy tersenyum. “Mana ada orang yang akan kehilangan kakinya baik-baik aja . aku benar-benar sangat takut, sampai aku ingin lari dari rumah sakit ini,” ujar Suzy dengan nada bercanda tapi Soojung ingin menangis mendengar nada kesedihan dalam suar itu. “Aku malah berdoa, agar operasinya tidak sukses karena kangker ini sudah terlanjur menyebar sehingga aku tidak perlu menderita terlalu lama.”

“Ya! Bae Suzy. sejak kapan kamu jadi penakut begitu!” omel Soojung

Suzy hanya tersenyum dan mengangkat bahunya acuh tak acuh.

BRRAAKKK!!!

“Ya Bae Suzy, kamu pikir dengan kamu mati kamu bisa kabur dariku begitu saja!” maki Jong-in yang tiba-tiba muncul dengan wajah murka.

“NEO! Bagaimana bisa kamu tahu aku ada di sini?!” tanya Suzy kaget.

“Heh! Sudah kukatakan, kamu tidak bisa memutuskanku begitu saja. Aku yang memulai jadi kamu tidak berhak mengakhiri. Bahkan ke neraka sekalipun aku akan mengejarmu!” ujar Jong-in sengit. “Jadi jangan bertindak seenakmu. Aku yang berkuasa.”

Suzy menatap Jong-in kesal. “Kka! Aku sedang tidak ingin melihatmu. Soojung-ah, ini sudah lewat jam besuk kan? Aku ingin istirahat. Tolong usir orang ini,” ujar Suzy menatap Soojung.

Soojung memandang Jong-in ragu.

“Kau!” tunjuk jong-in pada Soojung membuat yeoja itu merinding seketika.

“Nde?” tanya Soojung.

“Aku masih ada urusan denganmu karena berbohong padaku. Aku akan mengurusmu nanti, jadi lebih baik kamu sekarang keluar. Aku perlu bicara padanya,” lanjut Jong-in sambil menatap Soojung garang membuat Soojung bergidik ketakutan.

“Yak! Jung Soojung. Apa yang kamu lakukan? Kenapa belum mengusirnya. Aku ingin istirahat,” omel Suzy tidak kalah garang membuat Soojung dilema. “Apa perlu aku panggil security?”

“Ini rumah sakit keluargaku dan pamanku adalah kepala rumah sakit ini. jadi jangan coba-coba mengusirku karena percuma saja,” ujar Jong-in kesal mendekati Suzy. Suzy mendengus, bagaiman dia lupa ini rumah sakit milik Kim Jung Soo kakak Kim Siwan, ayah Kim Jong-in. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa masih berdiri di situ!” kesal Jong-in pada Soojung yang hanya menatap mereka berdua ngeri.

“Ne…aku akan keluar,” ujar Soojung gugup. “suzy-ah…aku harus piket malam jadi aku tinggal dulu ne,” ujar Soojung lalu menatap Jong-in sekilas lalu kembali menatap Suzy. “Kalau terjadi sesuatu hubungi aku,” tambahnya tanpa suara, agar Jong-in tidak mendengar.

“Yak! Kenapa kamu meninggalkanku!”

“Jadi apa maksud semua ini? bisa tolong kamu jelaskan!”

Suzy hanya menatap Jong-in datar.

“Apa yang kamu mau aku jelaskan?” tanya Suzy. “Bahwa aku ternyata kena kangker dan akan di amputasi? Atau tentang ke khawatiran dokter Jang bahwa kangker ini kemungkinan sudah mulai menyebar dan operasipun akan percuma?”

Jong-in menatap Suzy sengit.

“Bukan itu. Tapi alasan kenapa kamu meminta putus tanpa persetujuanku! Apa aku memberimu hak untuk melakukan itu? Kenapa kamu pergi begitu saja dan menghindariku. Apa kamu pikir kamu bisa kabur dariku. Aniya. Kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku. Kamu akan tetap menjadi istriku, tanpa bisa di tarik kembali. Arraso!”

“Kim Jong-in…” ujar Suzy berkaca-kaca.

“Wae? Kamu tidak ingin menjadi istriku?” kata Jong-in lagi. “Mianhae, tapi sekali aku mengatakan kamu adalah wanitaku, kamu akan tetap jadi wanitaku dan kamu tidak akan pernah bisa kabur dariku. Apapun alasannya meski kamu tidak menginginkannya. Karena kalau kamu kabur aku akan tetap menangkapmu kemanpun, aku psti akan menemukanmu. Wae? Karena aku adalah Kim Jong-in, pria paling hebat dan menakutkan yang pernah ada.”

“Jong-inaah… tapi aku tidak bisa bersamamu terus. Keadaanku tidak memungkinkan.”

“Tutup mulutmu!” ujar Jong-in tajam membuat Suzy terdiam. Dia belum pernah melihat Jong-in semarah dan semenakutkan itu. “Setiap kata yang keluar dari mulutmu membuat aku marah, jadi jangan bicara sebelum aku tidak memintamu.”

“Kamu pikir dengan alasan sepele begini kamu bisa lari dariku! Kamu pikir dengan alasan kangker sialan ini kamu ingin meninggalkanku? Atau karena alasan cacat kamu ingin mencampakkanku!” ujar Jong-in. “Tidak akan! Ku tekankan sekali lagi…alasan apapun tidak akan pernah bisa membuatmu mencampakkanku. Bahkan kamupun tidak ku ijinkan menggunakan kematian ebagai alasan untuk meninggalkanku. Tidak akan pernah…jadi kamu harus sembuh tidak peduli apapun alasannya. Mengerti!”

Suzy terisak, tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya dia ketakutan melihat ekspresi kemarahan Jong-in. Seharusnya dia tersinggung dengan kata-kata kasar namja itu, tapi dia justru sangat bahagia.

“Apa kamu sangat membenciku? Apa kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku? Apa tidak ada sedikit rasa kasihan sedikitpun untukku! Kenapa kamu memeprlakukanku begini? Kenapa merahasiakan ni dariku. Apa kamu tidak menganggpku? Apa aku hanya orang asing…”

“Miahae…”

“Mian? Kalau kamu merasa bersalah, kamu harus hidup dan sehat, kamu harus membayar semua perlakuanmu yang menyakiti hatiku dengan menikah denganku.”

“Tapi…Kim jong-in. Aku akan cacat dan menyusahkan hidupmu. Aku akan jadi beban hidupmu…”

Jong-in mendekati Suzy dan langsung eraih yeoja itu kedalam pelukannya. “Jangan membuat spekulasimu sendiri tentangku, jika tidak mengerti apa-apa,” ujar Jong-in melunak. “Apa kamu pikir jika aku hidup tanpamu, hidupku akan jauh lebih baik?” Suzy mengangguk.

“Dasar gadis bodoh,”ujar Jong-in. “Tidak mendengar suaramu dalam sepeluh menit saja sudah membuatku hampir gila. Apalagi jika hidup tanpamu, aku psti jadi patung hidup. Jadi jangan pernah meninggalkanku lagi arraso…” Suzy kembali mengangguk.

“Lebih baik aku hidup meski kau hanya akan menjdi bebanku seumur hidupku dari pada aku hidup tanpamu meski hanya satu hari,” kata Jong-in lagi. “Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada hidupku. Dulu aku baik-baik saja tanpamu, tapi setelah bertemu dengamu…mebayangkan hidup tanpamu rasanya sangat menakutkan.”

Suzy melepas pelukannya dan menatap tajam mata Jong-in, mencari kobongan di mata itu tapi dia tidak menemukannya. Dia hanya melihat kesungguhan kata-kata Suzy.

“Kamu harus bertanggung jawab pada hidupku mulai sekarang.”

………………

Jong-in tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dia merasa sangat bahagia saat ini. Meski dia seharunya tidur karena dia belum tidur sejak kemarin di tambah lagi selama hampir dua minggu ini dia kurang tidur, tapi melihat wajah damai Suzy yang sedang tertidur dalam pelukannya membuat dia enggan melewatkan momen itu.

“Kalau begini kamu seperti bayi, tapi begitu matamu terbuka. Kamu akan terlihat seperti wanita menyebalkan,” gumannya pelan sambil mengelus pipi chuby suzy. “kamu pasti sangat menderita karena harus menghadapi ni sendirian, wajahmu bahkan terlihat kurus.” lanjtnya lalu mencium mata Suzy yang terpejam dengan lembut. “Kamu harus sembuh, arraso!”

Jong-in kembali tersenyum dan hanyut memandangi wajah polos Suzy. senyunya semakin merekah saat melihat mata Suzy yang mengerjap seperti ingin terbangun.

“Morning…”sapanya begitu kedua mata Suzy terbuka. “Apa tidurmu nyenyak?”

“Hmmm…”ujar Suzy sambil menguap. “Apa kamu tidak tidur?” Jong-in mengangguk. “Apa kamu tidak lelah?”

“Aniyo…begitu melihatmu, rasa lelahku menguap begitu saja…”

“Aiss…pagi-pagi sudah menggobal…”Gerutu Suzy. “Apa aku begitu cantik samapi kamu terus memandangiku?” goda Suzy.

“Hmm..nomu..nomu yeoppo.”

“Ck…” Jong-in kembali terkekeh melihat wajah kesal Suzy. Yeojanya sudah kembali dan rasanya semua beban beratnya menguap begitu saja.

“Begitu kamu selesai operasi, kita akan langsung menikah  ya…Aku ingin melihat wajahmu setiap bagun tidur, rasanya menyenangkan.”

“Kenapa kamu sering sekali melamarku? Aku bosan mendengarnya.”

“Hmm…aku akan melamarmu terus samapi kamu sah menjadi istriku. Makanya biar tidak bosan, kita menikah secepatnya saja.”

“Aiss…bagaiman bisa aku bertemu namja aneh sepertimu,” ujar Suzy pura-pura kesal. “lebih baik kamu istirahat sekrang, kamu pasti sangat lelah karena lembur terus.” Jong-in mengangguk.

“Itu hukumanmu karena membuatku jatuh cinta. Ne aku akan tidur,” ujarnya lalu mengeratkan pelukannya pada pinggang Suzy membuat yeoja itu tersentak dan berdebar.

“ya…kenapa kamu tidur di sini? di situ ada tempat tidur.” ujar Suzy sambil menunjuk tempat tidur lipat yang di sediakan rumah sakit untuk orang yang menunggu pasien.

“Bagini lebih menyenangkan. Jangan berisik, aku mau tidur,” ujar Jong-in sambil menutup matanya. Suzy hanya tersenyum dan membiarkan Jong-in tertidur sambil memeluknya. Toh hatinya juga jauh lebih tenang saat namja itu memeluknya.

“Mian..”ujar Suzy pelan, tapi dia tahu Jong-in bisa mendengranya. “Mianhae membuatmu susah dan harus bertemu yeoja seperti aku.”

“Aku juga minta maaf karena membiarkanmu mengahadapi semua ini sendirian. Kamu pasti merasa ketakutan,” ujar Jong-in lembut masih dengan posisi yang sama. Tiduran sambil memeluk Suzy dengan mata terpejam. “Maaf aku baru datang tadi malam dan tidak sempat mencegahmu. Ini semua karena salahmu aku jadi terlambat ke pertemuan dengan klien dan akhirnya aku mengejarnya keluar negri.”

“Mian…”ujar Suzy lagi.

“Hmm, aku akan menerima permintaan maafmu kalau kamu berjanji kamu tidak akan pernh meninggalkanku dengan alasan apapun, dan kamu juga berjanji tidak akn pernah menyembunyikan apapun dariku.”

Suzy tidak menjawab tapi dia membalas pelukan Jong-in dengan erat. Meyakinkan hatinya ini semua bukan mimpi. Bahwa namja di dalam dekapannya ini benar-benar nyata.

Tiba-tiba Jong-in membuka matanya. “Ngomong-ngomong apa kata dokter? Kapan kamu di operasi?”

“Besok siang,” jawab Suzy. “Katanya kanker di kakiku sudah mulai menyebar, tapi mereka tetap memotong kakiku hingga setengah paha dan sisa kankengkernya akan di obati dengan kemo…”

“Apa kamu takut?”

“Operasinya?Awalnya…tapi begitu kamu muncul di ruangan ini aku sudah tidak takut lagi.”

“Bagus…kalau begitu kamu harus sembuh dan tidak boleh menyerah.”

“Tapi kata dokter Jang karena kangkernya sudah mulai menyebar ada kemungkinan aku tidak bisa sembuh…”

“Tapi bukannya kamu bilang akan di lakukan kemo?”

“Hmm…itu kalau berhasil.”

Jong-in meraih wajah Suzy dan menatap mata Suzy yang memerah. Dia mencium bibir Suzy sekilas kemudian menatap mata Suzy lagi.

“Sekarang aku tidak takut jai cacat lagi. Tapi aku takut kalau ini semua tidak berhasil dan harus berpisah darimu.”

“Seumur hidupku aku tidak pernah berdoa karena semua yang ku inginkan sudah tersedia,” Ujar Jong-in mengelus pipi Suzy dan satu tangannya berpindah ke pinggangnya meraih tangan Suzy ke dalam gemgamannya. “Aku belum pernah meminta apapun pada Tuhan sebelumnya, jadi kupon permohonanku pasti masih banyak.”

Suzy diam menatap Jong-in menunggu kelanjutan kalimatanya. “Aku dengar Tuhan akan mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh meminta. Jadi…Aku akan berdoa untuk pertama kalinya pada Tuhan dan memohon dengan sungguh-sungguh agar semua kupon permintaanku di berikan padamu, agar kamu bisa sembuh.”

Suzy menatap Jong-in dengan senyumnya dan  mata berkaca-kaca.

“Aku akan berdoa pada Tuhan, agar Bae Suzy tidaka akan pernah meninggalkan Kim Jong-in.”

*****

Semua orang tengah sibuk berbincang-bincang dengan kerabat mereka masing-masing di setiap sudut ruangan gedung Hotel mewah yang meraka  itu. Semua orang menggunakan pakaian terbaik mereka dan tersenumbangga pada setiap orang karena berhasil di undang ikut ke acara pesat itu. Tidak dari hanya gedung itu saja yang mewah, tapi dekorasi dan makanannyapun sangat mewah di impor dari tempat terbaik di belahan dunia.

Sambil sibuk menikmati hidangan lezat dan anggur tebaik para tamu itu mulai berbisik-bisik karena sudah tidak sabar menunggu si empunya acar muncul. Mereka sangat penasaran sekali melihat seperti apa wajah tuan muda yang akan menjadi raja di pesta ini, karena hari ini mereka akan menyaksikan secara resmi acara penunjukan sang pewaris memimpin perusahaan menggantikan ayahnya.

“Aku dengar istrinya juga sangat cantik,” bisik salah satu undangan itu. Seorang wanita paruh baya dengan gaun warna biru elegan dan sangat mewah.

“Darimana kamu tahu? Memang kamu suah pernah melihatnya?” tanya temannya yang menggunakan gaun dark red sambil meminum winenya.

“Suamikukan di undang saat pernikan mereka dua hari lalu,” ujarnya dengan nada bangga. Karena pernikahan mereka sangat privat dan hanya dibatasi orang terdekat. “Suamiku cukup dekat dengan keluarga Kim.”

“Benarkah?”

“Aku dengar wanita itu seorang dokter. Dia bekerja di rumah sakit yang sama dengan putraku…” ujar wanita yang lain tidak mau kalah. “Dia benar-benar sangat beruntung, karena bisa menikah denga pewaris kerajaan bisnis keluarga Kim.”

“Ne…dia memang sangat beruntung. Karena aku dengar dia kehilangan kakinya karena kanker tulang.”

Tiba-tiba suara pembawa acara membuat semua ruangan tiba-tiba sunyi termasuk para wanita tadi dan memusatkan perhatian meraka pada panggung yang mana di sana sudah berdiri Kim Siwan dengan gagah dan senyum khasnya. Setelah memberikan sedikit basa-basi sang pembawa acara kemudian membikan mikenya pada sang pengusaha.

“Terimakasih atas semua perhatiannya dan waktunya,” ujar Kim Siwan penuh percaya diri. Meski dia sudah berusia lanjut tapi usia tidak bisang menghilangkan kegagahannya dan sisa-sisa ketampanan masa mudanya. “Hari ini aku mengadakan acara ini untuk mengenalkan putra tunggalku sebagai penggantiku sekaligus pengunduran diriku secara resmi.”

Semua memusatkan perhatiannya pada pria itu saat memulai kata sambutannya dan beberapa tertawa saat Kim Siwan membrikan goyonan ringan tentang usianya dan ketampananya yang sudah mulai berkurang.

“Sepertinya karena usia aku sudah tidak mampu berdiri terlalu lama di sini, jadi aku akhiri di sini. Dan selanjutnya biarlah para yang muda yang bekerja,” ujarnya lalu terdiam sesaat saat seorang pria muda, Gagah, tampan dan mempesona datang sambil menuntun seorang yeoja cantik dan anggun dengan senyum indahnya. Kalau tidak teliti memperhatikan sang wanita itu akan terlihat sangat sempurna, tapi cara jalannya yang sedikit pincang dan kaki kanannya yang berjalan kaku meyakinkan orang bahwa wanita dengan dress warana  gold itu benar-benar manusia, bukan malaikat.

“Aku memperkenalkan secara resmi putraku Kim Jong-in sebagai penggantiku besama istrinya yang sangat menawan Bae Sooji.”

Semua tepuk tanga langsung membahana memenuhi ruangan ini.

“Dia benar-benar sangat cantik. Kalau kita tidak tahu, pasti tidak ada yang menduga dia tidak punya satu kaki.” Bisik seorang wanita pada tamu yang lain.

“Hari ini kamu sangat luar biasa cantik. Seperti seorang dewi.” Bisik Jong-in pada Suzy begitu Jong-in menyelesaikan pidatonya dan mulai berdansa. Suzy hanya tersenyum malu. “Maaf belum sempat mengajakmu bulan madu. Tapi setelah acara ini selesai kita akan langsung berngkat.”

“Gomawo, sudah mau hidup untukku,” bisik Jong-in sambil mengecup singkat pipi Suzy membuat pipi yeoja itu merona.

“Nado,” bisik Suzy.

*****

“otte, kamu menyukainya?” tanya Jong-in pada Suzy yang duduk di sebelahnya. “Karena terlalu sibuk aku tidak bisa membawamu keluar negri.”

“Hmmm…rasanya sangat nyaman dan segar,” jawab Suzy sambil mengedarkan padanangannya pada sekeliling. “Aku sudah sangat lama tidak mesakan suasana pedesaan begini. Aku lebih suka tempat seperti ini dari pada harus keluar negri.”

Jong-in tersenyum dan menatap Suzy penuh sayang. “Kalau kamu mau, kita bisa ke sini tiap hari.”

“Ck, dasara tukang obral janji.”

Jong-in terkekeh. “Itulah resikonya kalau kamu menikah dengan pria sukses dan sibuk sepertiku…tapi kamu tidak boleh menyesal eoh..”ujar Jong-in buru-buru.

Suzy hanya tertawa dan geleng-geleng. Sikap Jong-in sama sekali tidak berubah. Masih narsis dan pemaksa.

“Apa kamu ingin berkeliling? Dari sana pemandangannya jauh lebih indah.” Tunjuk Jong-i pada bukit yang ada di depan mereka.

“Tidak perlu, kita disini aja,” ujar Suzy. sebenarnya dia bukannya tiak mau, tapi itu jalannya mananjak dan dia tidak mau menyusahkan Jong-in dengan mendorong kursi rodanya ke sana. “Dari sini juga indah.”

“Yak apa yang kamu lakukan!!” pekik Suzy kaget saat Jong-in tiba-tiba mengangkatnya dari kursi rodanya.

“Menggendong istriku,” ujar Jong-in dan mengedipkan sebelah matanya. “Aku ingin melihat pemandangan dari sana, dan aku tidak suka sendirian.” Suzy hanya terdiam sambil menatap Jong-in. Sudah satu minggu mereka menikah dan ini hari ke tiga mereka bulan madu, tapi jantungnya masih berdebar tidak karuan setiap namja itu menyentuhnya membuat Suzy khawatir bahwa bukan hanya Soojin yang punya kelainan jantung, tapi dia juga. “Dan kamu jangan pernah takut menyusahkanku. Aku suamimu dan aku akan sangat kecewa kalau kamu masih takut membuatku mengurusimu.”

“Arraso. Mulai hari ini aku akan menyusahkan hidupmu.”

Jong-in tersnyum dan terus berjalan kearah bukit sambil menggendong Suzy.

“Terimaksih karena terus hidup dan mau menjadi istriku,” ujar Jong-in pada Suzy yang masih dalam gendongannya.

“Terimakasih juga sudah mau memilihku menadi istrimu dan teri makasih sudah mau menerima aku apa adanya,” jawab Suzy sambil mengalungkan tangannya di leher Jong-in.

Cup!

Suzy tiba-tiba mencium Jong-in dan langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain karena malu. Dan sontak Jong-in menghentikan langkahnya.

“Ya..siapa yang memberimu hak untuk membuang wajah seperti itu? Aku yang berkuasa di sini. Tatap wajahku!” kata Jong-in. Dengan wajah memerah Suzy menghadapkan wajahnya pada Jong-in.

“Gomawo sudah ada di sini bersamaku,” ujar Jong-in mencium istrinya itu lembut dan penuh kasih. Suzy yang dalam gendongan Jong-in agak kesulitan membalas ciuman Jong-in tapi meski begtu dia masih bisa menikmati manisnya ciuman itu.

“Jangan pernah pergi Suzy,” ujar Jong-in di sela-sela ciumannya. “Jangan pernah meninggalkanku.”

END

Hahahahahahaha

Gj ya…hehehe. Maklum inikan ffnya terinspirasi dari novel jadi, pas aku mau ubah endingnya aku agak bingung mau di buat seperti apa. Tapi mau buat endingnya kyk novelnya, lupa soale novelnya juga dulu aku bacanya pas pinjam d perpus sekolah pas SMA dan sdh lupa cm ingat samar-samar. Jdnya dilema deh dan hasilnya anehhh…hehehe.

Oh ya maaf, td malam g jd post. Soale aku ke tiduran ( g bs nonton bapak Jokowi d NET pdhal da nungguin T T). Mudah2an g terlalu mengecewakan.

 

Advertisements

58 thoughts on “SUZY, DON’T LEAVE! part 5-END

  1. Kyaaaaa terharu (━┳━ _ ━┳━)(━┳━ _ ━┳━)(━┳━ _ ━┳━)(━┳━ _ ━┳━)(━┳━ _ ━┳━) but aku sukaaaa happy ending (^^)(^^)(^^)(^^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s