SUZY, DON’T LEAVE! part 4

DONT

 

Author: Ririn

Genre: Romance. Sad, family

Legt: Short Chaptered

Cast: Bae Sooji as Suzy n Soojin

Kim Jong in

Lee Junho

Jung Soo jung

And others

Ratting: 17+

 

Ini Cuma 3-4 chapter dan terinspirasi dari novelnya Mira W yang judulnya Jangan pergi lara. Mira W itu adalah alah satu pengarang favoritku dan jgn pergi lara salah satu tulisannya paling aku suka krn genrenya g terlalu married life (kan biasanya tulian Mira W itu tentang masalah rumah tangga). Jadi bagi yang suka baca tulisan Mira W pasti merasa mirip. Tapi ini versi aku, g benar2 mirip, paling 40% aja mirip (inti dan judul cerita) tp kalau alur, setting, cast  n istila2 di sini buatanku. Dan kata2nya hasil karyaku, tdk mengutip sedikitpun dr Mira W. Happy reading aja deh.

========================================================================

Part 4

Author POV

“Kami datang!”

Seru Soojin begitu dia membuka pintu bersama Junho. Dia sedikit merasa aneh saat memasuki rumah. Tidak seperti biasanya yang ribut dengan suara Suzy dan Sangmoon, keadaan rumah kali ini sangat sepi. Bahkan ayah dan ibunya juga tidk terlihat padahal ini baru jam delapan malam jadi tidak mungkin mereka susah tidur.

“Appa, eomma oddiso?” ujar Soojin lagi karena tidak menemukan satupun penghuni rumahnya. Biasanya jika dia datang ibunya akan langsung berlari menyusulnya. “Aneh, kemana semua orang?” ujarnya sambil menoleh pada Jonho yang berdiri di sampinya.

“Suzy-ah…Sangmoon-ah, kami datang…”

Junho hanya mengangkat bahu, “Mungkin mereka sedang keluar,” jawab Junho.

“Aniya, tidak mungkin. Tadi siang  aku menelepon eomma katanya dia tidak pergi kemana-mana hari ini.”

“Mungkin saja urusan mendadak.”

“Ani..ani..kalau mereka keluar, mereka pasti akan mengunci pintu rumah,” jawab Soojin. “Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Suzy?”

“Yeoboo…itu hanya perasaanmu saja. Tidak terjadi apa-apa pada Suzy,” ujar Junho menenangkan. Soojin memang memaksa mengantanya ke rumah orang tuanya karena merasa khawatir dengan Suzy. Dia merasa hatinya tidak tenang dan selalu kepikiran pada saudara kembarnya itu.

“Aku harap juga seperti itu…Tapi perasaanku tetap tidak tenang.” jawab Soojin lemah. “Dulu aku sering merasakan perasaan seperti ini jika terjadi sesuatu pada Suzy. Aku khawatir dia kenapa-kenapa.”

Junho hanya menatap Soojin lekat dan mengelus pundak istrinya itu untuk menenangkan. Dia sudah mengenal Soojin dan Suzy sangat lama, dan dia juga tahu tentang ikatan batin yang kuat antara saudara kembar itu, jadi dia bingung harus menjawab apa. Dia hanya berharap Suzy baik-baik saja. Karena jujur meski dia menikahi Soojin dan menyukai istrinya itu, cintanya untuk Suzy belum sepenuhnya hilang. Dia masih sering memikirkan yeoja itu.

“Kita berdoa saja tidak terjadi sesuatu padanya dan firasatmu kali ini salah,”ujar Junho pelan.

“Hmm..aku berharap begitu,” jawab Soojin lalu menghela nafas panjang. “Kalau begitu aku mencari Suzy di kamarnya dulu, siapa tahu dia ada di sana,” ujar Soojin yang diberi anggukan oleh junho.

“Aku akan menunggu di sisni,” jawab Junho menunjuk sofa depan tv.

…………….

“Suzy-ah apa kamu ada di kama….Eomma apa yang kamu lakukan di situ?” ujar Soojin begitu melihat ibunya berbaring di ranjang Suzy. “Apa kamu tidak enak badan? Kenapa kamu berbaring di ranjang Suzy bukannya di kamarmu?”

“Eoh, kamu datang?” ujar ibunya kaget melihat kemunculan Soojin. “Kenapa kamu tidak memberitahukan sebelumnya? eommakan bisa menyiapkan makanan untuk kalian.”

“Oh, kami hanya mampir sebentar. Aku merasa tiba-tiba khawatir pada Suzy makanya aku ingin melihat keadaannya?” ujar Soojin mendekati ibunya. “Eomma kenapa kamu berbaring di sini? Dan kenapa matamu bengkak? Apa kamu menangis?” ujarnya khawatir.

“Eomma hanya merindukanmu makanya aku berbaring di sini dan karena sangat merindukanmu tanpa sadar eomma menangis,”ujar ibunya berbohong.

“eomma…”

“Aku pikir aku bisa melepaskan putriku ini dengan mudah, ternyata eomma merasa sangat kehilangan. Ternyata tidak mudah menikahkan seorang putri.” Ujar ibunya sambil memeluk Soojin. “Bogosippo.”

“Nado, Bogosippo eomma.” Jawab Soojin. “tapi kitakan masih bisa sering bertemu, kenapa eomma harus menangis. Lagipula masih ada Suzy…”

“Benar juga…Masih ada Suzy,” ujar ibunya sedih. “Apa yang harus eomma lakukan pada gadis itu,” ujar ibunya dengan terisak.

“Waeyo? Apa terjadi sesuatu pada Suzy?” Ujar Soojin melepas pelukannya dan menatap ibunya lekat. “Tadi malam aku bermimpi tentangnya. Dalam mimpiku dia terus menangis dan terus berkata ‘Apa yang harus dia lakukan’ dan juga ‘aku ketakutan’. Dan sejak terbangun aku terus memikirkannya. Apa dia baik-baik saja? Dia ada dimana?”

Ibunya menatap Soojin sedih dengan pandangan sayang. “Hm, dia baik-baik aja. Gogjongma, yang perlu kamu khawatirkan adalah dirimu.”

“Tapi perasaanku tetap tidak tenang, aku terus memikirkannya.”

“Dia baik-baim aja. Kamu kan tahu dia anak yang kuat dan hebat, dia akan selalu baik-baik saja,” Ujar bunya dengan nada sedih. Air matanya semakin deras mengalir saat mengatakan itu. “Kamu tdak perlu cemas, Suzy selalu bisa menjaga dirinya dengan baik. dia selalu tahu apa yang terbaik untuknya. Dia anak yang sangat hebat dan kuat,” tambah ibunya lagi lebih meyakinkan dirinya sendiri dari pada meyakinkan Soojin.

“Ne..Suzy memang seperti itu,” Ujar Soojin ragu. Meski dia memempercayai 100% kata-kata ibunya, tapi kepercayaan itu belum bisa membuat hatinya yakin kalau Suzy akan baik-baik saja.

“Tidak perlu cemas,” ujar ibunya berusaha tersenyum. “Apa kamu datang bersama Jonho? Dia ada di mana? Lebih baik kita menemaninya kasihan dia sendirian,”ujar ibunya mulai bangkit berdiri dari ranjang Suzy.

“Baiklah…gundae. kemana orang-orang? kenapa rumah sangat sepi?”

“Appamu sedang menemui seseorang. Sangmoon sedang mengantar Suzy menemui Jong-in.”

“Tumben sekali Sangmoon mengnatar Suzy?”

“Ohh, itu appamu yang minta karena sudah malam. Jong-in sedang sibuk, jadi Suzy tidak mau merepotkannya dengan mengantar jemputnya. Kamu tahu sendirilah gadis itu, dia tidak suka membuat orang lain repot.”

“Ah..benar juga. Kalau begitu aku akan menunggu Suzy baru pulang. Perasaanku tidak akan tenang kalau belum melihat dia baik-baik saja dengan mata kepalaku sendiri,” Ujar Soojin mengikuti ibunya keluar dari kamarnya dulu bersam Suzy.

 

*****

Sejak tadi Kim Jong-in tidak bisa berhenti tersenyum. Dia merasa sangat bahagia karena tidak biasaya Suzy mengajak bertemu lebih dahulu. Biasanya gadis itu akan pura-pura jual mahal. Tapi tadi sore yeoja itu memaksa untuk bertemu di restoran dekat kantornya. Awalnya Jong-in ingin menolak karena sejam lagi dia harus bertemu klien—maklum Jong-in lagi lembur—tapi karena Suzy yang terus merajuk memaksa bertemu akhirnya dia bersedia.

“Hanya sebentar saja…”rajuk Suzy di telepon.

“Tapi aku sangat sibuk. Kerjaanku sedang menumpuk. Aku sudah mengatakannya padamu kan?” Jawab Jong-in heran. Tumben sekali suzy kekanakan begini.

“Apa kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu. Sudah seminggu ini kita tidak bertemu.”

Jong-in tidak bisa menolak lonjakan kebahagiaan dalam dirinya saat Suzy secara blak-balakan mengatakan dia merindukannya. “Tentu saja aku sangat merindukanmu. Bahkan rasanya aku mulai sesak nafas karena merindukanmu.”

“Karena itu, apa kamu tidak ingin bertemu denganku? hanya sebentar, aku janji. Kita hanya makan malam aja, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Jong-in memilih menyerah dengan rengekan Suzy. Meski dia merasa ada yang janggal dengan sikap Suzy tapi dia terlalu bahagia karena Suzy merindukannya untuk menyadari sikap aneh yeoja itu. Lagi pula bukankah Bae Suzy memang aneh dan selalu bertindak di luar dugaan?

“Ada apa tiba-tiba mengajakku bertemu,” Tanya Jong-in begitu mereka bertemu.

“Karena aku merindukanmu.” Jawab Suzy mengalihkan matanya dari buku menu dan menatap Jong-in nakal.

“Cih…kamu mencoba menggodaku eoh?”

“Nde… Aku sedang belajar menjadi wanita penggoda. Wae? Kamu tidak suka?” ujar Suzy pura-pura merajuk.

“Aigoo….Uri Suzy kyopta.”

“Appo…”Jawab Suzy berusaha melepskan tangan Jong-in yang sedang mencubit pipinya. “Lepasakan.”

“Andwe…Aku tidak akan melepaskannya kalau kamu tidak berhenti bersikap sok manja begitu.”

“Cih…Biasanya namja suka kalau yeoja begini. Dasar aneh,” Gerutu Suzy kembali fokus pada buku menu. Jong-in hanya terkekeh. “Kamu mau pesan apa?”

“Aku mau pesan hatimu.”

“Aish…”

Jong-in hanya terkekeh. “Hari ini kamu aneh sekali. Apa terjadi sesuatu? Apa kamu melakukan kesalahan padaku? Apa kamu beselingkuh?” Tanya Jong-in lagi begitu pesanan mereka datang. “Tidak biasanya kamu bersikap begini.

“Wae? Apa kamu tidak suka?”

“Ani. Chuae!” jawab Jong-in cepat. “Hanya saja aku berharap kamu akan terus seperti ini, bukan hanya hari ini saja.”

Suzy hanya tersenyum sambil menatap Jong-in.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita berkencan aja hari ini.”

“Ck…berhenti menggodaku dengan wajah begitu,” ujar Jong-in melihat aigo Suzy. “Meski aku ingin mengahibiskan hariku bersamamu tapi aku tida bisa, aku harus bertemu klien penting hari ini.”

“Aiss…Tapi inikan sudah malam mana ada bertemu klien jam segini?”

“Ini klien penting. Dia baru tiba di Korea hari ini dan harus pergi keluar negri lagi malam ini. kami harus melakukan kesepakatan sebelum dia pergi karena akan sangat sulit bertemu dengannya lagi.”

“Apa dia yeoja? Cantik?”

“Ohh..dia yeoja dan sangat cantik. Aisss aku tidak boleh melewatkan pertemuan ini.”

Suzy mendengus,”Kalau begitu kamu tidak boleh bertemu dengannya. Malam ini kita berkencan, kamu tidak boleh kemana-mana!”

Jong-in mengerutkan dahinya, “Apa ada yang sedang cemburu?” Jong-in tertawa senang melihat wajah kesal Suzy. “Gokjongma…Meski ada bidadari menggodaku, hatiku tetap untukmu,”Ujar Jong-in dengan gaya sok gantengnya.

“Kalau begitu, jangan pergi. Kita berkencan aja malam ini.”

“Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba aneh?”

“Aku hanya ingin tahu, apa kamu benar-benar mencintaiku sebelum aku benar-benar menikah denganmu. Aku ingin tahu sebesar apa cintamu untukku.”

“Tentu saja aku mencintaimu! Kenapa kamu bertanya lagi!” kesal Jong-in karena Suzy meragukannya.

“Kenapa kamu marah? Akukan hanya ingin bukti. Kita baru kenal sebulan lebih dan kamu tiba-tiba melamarku. Aku perlu memastikan kamu serius atau hanya main-main.”

“Bae Suzy kamu sangat aneh malam ini. Apa terjadi sesuatu padamu?”

“Jadi kamu mau meninggalkan rapatmu dan berkencan denganku?”

“Kamu bukan gadis remaja lagi Bae Suzy. Kamu tahu seberapa pentingnya rapat ini bagi perusahaanku. Dan lagi aku melakukan ini untukmu. Aku ngin menunjukkan pada appaku kalau aku bisa di andalkan dan sudah cukup dewasa menikah. Apa kamu belum mengerti.”

Suzy menggeleng.

“Hmm..aku tidak mengerti. Yang aku inginkan sekarang bukti kalau kamu benar-benar mencintaiku.”

Jong-in menghele nafas berat. Makan malam yang tadinya menyenangkan rasanya jadi seperti duri dalam tenggorokannya, sangat tidak nyaman.

“Sepertinya ada yang salah denganmu. Dan aku tidak mengerti kamu,” Ujar Jong-in. “Cepat habiskan makanmu sebentar lagi aku harus bertemu klienku. Aku akan memanggilakan taksi untukmu karena aku tidak bisa mengantarmu.”

“Aku juga tidak mengerti kamu,”Ujar Suzy menatap dalam Jong-in. “Lebih baik kita akhiri saja semua ini.”

Jong-in yang hendak meraih gelas langsung berheti dan menatap tajam Suzy. “Moragow? Apa katamu tadi?”

“Hm…Kita akhiri saja semua ini,”Ujar Suzy dengan suara serak. “Kita baru saling mengenal dan tidak mengerti satu sama lain. Kita punya pandangan yang berbeda dan aku tidak mau menjalani hubungan seperti itu.”

Jong-in masih menatap Suzy tajam dan tidak mengeluarkan sepetah katapun. Dia terlalu terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Suzy.

“Kamu adalah namja yang sagat menarik dan tampan. Kamu datang begitu saja di saat hatiku sedang berlobang besar. Awalnya aku tidak mau memperdulikanmu tapi ternyata tingkah konyolmu mampu mengalihkan rasa sakit di hatiku dan perlahan bisa melupakan sakitku. Aku pikir tidak ada salahnya membuka hatiku untukmu tapi beberapa hari ini aku mulai ragu. Aku belum bisa benar-benar melupakan cinta pertamaku dan kita berbeda. Tiba-tiba kamu terasa seperti orang asing bagiku dan aku takut.”

“Gumanhae….”

“Lalu aku menyadari, kalau ternyata aku hanya merasa senang bersamamu tapi tidak benar-benar mencintaimu meski aku sudah berusaha. Dan barusana aku semakin yakin untuk mengakhiri semua ini begitu mendengar pilihanmu. Kamu lebih memilih pekerjaanmu dari pada aku. Jadi kita akhiri saja semuanya eoh…”

“Bae Suzy aku bilang berhenti…”

“Arraso…mari kita berhenti,”Jawab Suzy lalu mengaduk isi tasnya untuk mencari ponselnya. “Sangmoon-ah, aku sudah selesai, kamu bisa menjemputku sekarang.”

“Gamsahamida Kim Jong-insi  buat semuanya. Mianhae atas semua sikapku selama ini, aku harap kita bisa jadi teman baik setelah ini,”Ujar Suzy mulai berdiri dari kursinya.

“Micheso! Jangan pernah berani-berani berkata begitu. Aku yang memulai semua ini dan kamu tidak punya hak untuk mengakhirinya!” Ujar Jong-in tegas. “Aku akan menganggap kamu sedang mabuk dan besok saat kamu tebangun pikiranmu bisa jernih lagi.”

“Mianhae, tapi aku sudah tidak tahan dengan sikap egoismu itu. Aku pergi dulu!”

“Berhenti!” pekik Jong-in begitu Suzy mulai berjalan.  Suzy berhenti sejenak lalu mulai berjalan lagi. “Bae Suzy berhenti! Aku bilang berhenti!”

“Kamu akan menyesali ini semua Bae Suzy!”

“Hmm..Aku tahu akan menyesal. Sekarangpun aku sudah menyesal.” Batin Suzy.

“Kamu tidak bisa berbuat sesukamu! Kamu tidak bisa mengakhirinya! Aku tidak akan pernah melepasmu!”

“Mianhae..”Guman Suzy dan langsung masuk ke mobil yang di kendarai Sangmoon.

“Noona Gwenchana?” tanya Sangmoon khawatir.

“Ani…Rasanya sakit sekali,”Ujar Suzy menangis sambil memukul-mukul dadanya. “Rasanya seperti di remas sangat kuat…”

“Apa noona harus melakukan ini…”

“Hmm…”guman Suzy sambil mengangguk. “Bisakah kita langsung pulang.” Sangmoon menghela nafas berat dan langsung menjlankan mobilnya.

*****

“Tidak bisakah kamu mencari alternatif lain? Apa sudah tidak ada jalan lain selain amputasi?” ujar tuan Bae, pada pria berkaca mata dan beruban di depannya.

Pria itu hanya menggeleng, “Mianhae…tapi hanya itu satu-satunya cara. Ini sudah sangat terlambat untuk melakukan pencegahan.”

“Apa tidak ada satupun rumah sakit di negri ini yang bisa mengobatinya tanpa harus di amputasi? Bagaimana kalau di luar negri. Saya punya uang, saya akan membayar berapun,” ujar tuan Bae putus asa.

“Mianhae…sampai saat ini belum ada pengobatan untuk kanker. Kita hanya bisa memperlambat penyebarannya. Dan satu-satunya cara untuk sebuh total ya harus amputasi. Kalau kalian datang lebih awal mungkin kemo masih bisa di harapkan.”

“Bagaimana kalain bisa menyebut amputasi sebagai pengobatan!”pekik tuan Bae frustasi. “Dia masih sangat muda dan penuh mimpi. Bagaimana dia menghadapi hidupnya tanpa kaki. Dia gadis yang sangat aktif..”Ujar tuan bae dengan mata memerah. Hatinya begitu hancur membayangkan masa depan putrinya.

“Mianhae Bae…kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar pria tua itu. “Kemanapun kamu pergi jawabannya akan tetap sama, jadi berhentilah berkeliling,” lanjut dokter itu mengingatkan. Dia memandang adik kelasnya semasa sekolah menengah itu prihatin. Dia sudah tahu kalau Tuan bae berkeliling Seoul bahkan Korea untuk mencari pengobatan bagi putrinya itu agar tidak di amputasi, bahkan dia juga mencari-cari info dari luar negri. Dia bisa sedikit mengerti bagai mana hancurnya perasaan tuan Bae, karena setiap dia mereka burkumpul tuan Bae selalu membanggakan ke tiga anaknya terutama Suzy karena bisa keterima d fakultas kedokteran dan lulus dengan nilai terbaik.

“Apa yang harus aku lakukan…Aku tidak mungkin bisa membiarkannya hidup cacat seperti itu. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku saja? Aku sudah tua sementara dia maih sangat muda.”

Dokter itu hanya menepuk bahu tuan Bae prihatin.

“Berhentilah berkeliling mencari pengobatan, karena semua dokter di dunia ini akan menjawab hal yang sama. Lebih baik kamu pulang dan segera lakukan perawtan sebelum terlambat. Sebagai ayah kamu harus terlihat tegar dan tidak boleh lemah. Yang di butuhkan putrimu sekarang adalah tempat bersandar bukan teman meratap.”

“Tapi bagaimana aku bisa hidup melihatnya begitu. Meski dia terlihat baik-baik saja di depan kami, aku tahu dia menangis diam-diam di kamarnya saat tengah malam. bahkan saat mandipun aku mendengar dia terisak…” air mata tuan Bae mengalir begitu saja. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Yang perlu kamu lakukan adalah membuat pilihan,” jawab Sang dokter. “Kamu memilih melakukan operasi secepatnya atau terus mencari informasi pengobatan hingga terlambat menyelamatkan nyawa putrimu. Kamu pasti tahu jika tidak segera di operasi kangkernya akan menyebar dan sudah sangat terlambat untuk menyelematkannya.”

“Lagi pula aku dengar, sekarang sudah banyak kaki palsu yang bagus.”

Tuan Bae menatap kakak kelasnya itu dalam dan terdiam.

“Tidak…tidak…Suzy tidak boleh pergi!”

*****

“Suzy kamu sudah pulang!” pekik Soojin girang begitu melihat Suzy datang bersama Sangmoon dan langsung memeluk Suzy. “kamu kemana saja, aku menunggu dari tadi.”

“Kamu datang, ada apa?” tanya Suzy begitu Soojin melepaskan pelukannya.

“Hm..aku datang menemuimu. Aku sangat mencemaskanmu.” Suzy menatap Soojin curiga dan langsung beralih menatap ibunya. Ibunya yang mengerti arti tatapan Suzy hanya menggeleng.

“Mencemaskanku?”

“Ne…kamu tahu, aku bermimpi kamu menangis dan berkata kamu kesakitan dan ketakutan. Apa terjadi sesuatu padamu? perasaanku tidak tenang.”

“Aniyo…aku hanya merasa sedikit tidak enak badan karena kakiku belum sembuh. Kamu terlalu berlebihan,” ujar Suzy sambil berjalan kearah dapur untuk minum.

“Benarkah? Tapi kenapa perasaanku berkata kamu sedang menghadapi masalah yang sangat besar?”

“Itu karena kamu sangat suka berlebihan,” jawab Suzy. “Ah mungkin karena aku batal menikah dengan Jong-in.”

“Mow! Batal menikah! Waeyo? Apa dia yang membatalkannya!” pekik Soojin.

“Aiss…berhentilah berteriak-teriak begitu, kamu membuatku hampir tersedak,” kasal Suzy. “Aniyo aku yang membatalkannya.”

“Mian..”ujar Soojin bersalah. “Kamu? waeyo? Bukannya kamu sangat menyukainya. Aku bisa melihat matamu yang berbinar-binar saat membicarakannya.”

“Tiba-tiba aku merasa ragu. Aku masih ingin melanjutkan pendidikanku menjadi sepsialis jantung dan belum ingin menikah.”

“Gotjimal…aku tahu kamu berbohong. Apa terjadi sesuatu padamu,” ujar Soojin. “Kita saudara kembar, dan aku bisa tahu kalau kamu sedang berbohong. Pasti terjadi sesuatu, katakan padaku.”

Suzy terdiam menatap Soojin. Memang sangat sulit membohongi Soojin, karena mereka punya ikatan batin yang kuat. Kembarannya itu selalu bisa merasakan kalu dia sedang sakit.

“Tidak terjadi sesuatu, jadi lebih baik kamu tidak usah berlebihan,” jawab Suzy. “Aku dengar  seminggu lagi kalian akan bulan madu. Kamu pasti senang,” Ujar Suzy mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Soojin tahu tentang penyakitnya. Belum tau apa-apa saj Soojin sudah panik, apalagi jika dia tahu yang sebenanya. Bisa-bisa Soojin langsung pingsan di tempat.

“Eoh, bagamana kamu tahu. Apa eomma yang mengatakannya?” ujar Soojin dengan wajah tersipu. “Kami akan ke pulau Jaeju selama sepuluh hari. Oppa sudah bisa mendapat cutinya.”

“Tidak! Kami tidak akan pergi bulan madu minggu depan,”Ujar Junho yang tiba-tiba muncul ke dapur bersama ibu Suzy. “Kami akan pergi besok,” tambah Junho sambil menatap Soojin.

“Oppa…”

“Aku hanya ingin memberimu kejutan. Kita akan berbulan madu keliling eropa selama dua bulan dengan kapal pesiar bukan ke Jaeju seperti yang kukatakan sebelumnya.”

“Tapi oppa bilang pekerjaan oppa sangat banyak.”

“Sudah ku bilang aku ingi memeberimu kejutan. Bukannya kamu bilang kamu ingin bulan madu ke Eropa naik kapal pesiar?” ujar junho sambil mengambil posisi duduk di meja makan menghadap Soojin dan Suzy.

“Ia, tapi aku berandai-andai saja, tidak berharap sungguhan. Itukan sangat mahal…”

“Sepertinya kamu belum sadar menikah dengan siapa? Aku ini pewaris J&J Group. Apa kamu belum sadar?” Junho tersenyum melihat wajah kaget Soojin. “Tenang saja. Aku sudah dapat ijin dari appa. Dia baerkata bahkan aku tidak boleh kembali kekorea sebelum dia dapat cucu.”

“Aiss…aku benar-benar iri padamu,” celetuk Suzy. “Bagaimana bisa kamu mendapat suami yang begitu mencintaimu sampai-sampai rela mengorbankan pekerjaannya demi mewujudkan impianmu.”

Soojin dan Junho menatap Suzy yang tersenyum pada mereka.

“Nde…kamu benar-benar harus iri padaku.” Ujar Soojin.

“Soojin-ah. Ada yang Eomma ingin tunjukkan padamu, bisakah kamu menemani eomma ke kamar sekarang?” tanya ibunya tiba-tiba.

“Aku? Oh ne..” ujar Soojin mengikut ibunya.

Setelah di tinggalkan Soojin dan ibunya, Suzy merasa tiba-tiba suasana dengan Junho. Sejak Soojin dengan Junho menikah mereka berdua belum pernah duduk berdua lebih dari sepuluh menit karena biasanya Suzy akan menghindar. Padahal biasanya suasana di antara mereka selalu menyenangkan.

“Mian…Mianhae…”

Ujar Junho setelah terdiam cukup lama. Suzy hanya menatap Junho dalam diam dan sudah tidak marah lagi. Bahkan sekarang dia merasa konyol karena pernah marah pada namja di depannya ini. dia merasa kekanakan. Benar kata ibunya kalau dia tidak benar-benar mencintai Junho, dia salah mengartikan perasaan pada seorang kakak dengan cinta.

“Tidak perlu. Sekarang aku justru merasa bersyukur oppa akhirnya menikah dengan Soojin. Tidak ada seorangpun namja yang akan menjaga Soojin sebaik oppa. Setelah aku pikir-pikir kalu di suruh sekali lagi memilih namja yang harus meikah dengan Soojin aku akan memilih oppa.”

Junho hanya menatap Suzy sedih.

“Aku benar-benar menyesal Suzy-ah…Seandainya aku tahu kalau kamu juga sakit aku tidak akan…”

“Junho oppa! Aku tidak suka oppa menatapku seperti itu,” potong Suzy. “Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

“Aniyo, aku tahu kamu pura-pura baik-baik saja. Aku sudah mengenalmu dengan cukup baik. kamu pasti sangat menderita. Harusnya aku tidak membuat keputusan bodoh seprti itu…”

“Tidak! Aku justru bersyukur oppa melakukan itu.”

“Seharusnya aku tetap menikah denganmu dan tidak menjadi pengecut. Kamu harus menghadapi semua ini sendirian.” Ujar Junho membuat Suzy sedikit kesal. “Aku benar-benar menyesal..”

“Oppa…”

“Kalau kamu ingin aku meninggalkan Soojin dan kembali padamu aku bersedia. Kamu katakan saja,” potong Junho sambil memegang tangan Suzy. “Aku masih mencintaimu dan tidak akan pernah berubah…”

“Lee Junho!” pekik Suzy kesal untuk menghentikan rancauan Junho.

“Sekarang aku benar-benar bersyukur tidak jadi menikah denganmu. Kamu tidak bisa menggunakan kasihan sebagai alasan untuk menikah..”

“Aku tidak kasihan. Aku…”

“Selama ini aku juga salah mengartikan perasaanku. Aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai oppaku. Seharusnya aku berterimakaih pada Soojin karena dia aku akhirnya mengerti perasaanku yang sesungguhnya.”

Suzy menarik nafasnya dan kembali berbicara, “Oppa, aku tahu kamu adalah orang yang sangat baik. tapi kamu tidak boleh menggunakan rasa kasihan untuk membenarkan tindakanmu. Aku memaafkan karena bersikap begitu pada Soojin, tapi kalau kamu meninggalkan Soojin dan membuatnya terluka. Aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”

“Jadi oppa, aku mohon kamu membawa Soojin selama aku operasi dan mejalani terapi hingga keadaanku benar-benar sehat.”

“Lalu bagaimana kamu menjelaskan keadaanmu pada Soojin setelah kami kembali.”

“Akan aku pikirkan nanti. Aku bisa mengatakan kalau aku kecelakaan dan kehilangan kakiku.”

“Apa kamu pikir Soojin tidak akan sedih?”

“Paling tidak dia tidak akan merasa khawatir dan mengabaikan kesehatannya untuk merawatku. Aku paling enci dengan tatapan kasihan dari orang-orang. Aku hanya perlu memasang senyum terbaikku dan dia tidak akn terlalu cemas. Jadi aku mohon batu aku oppa kali ini.”

Junho menarik nafas panjang dan menatap Suzy sedih. “Arraso, aku akan mebawa Soojin menjauh darimu  sampai kamu benar-benar sembuh.”

……………..

“Aku pasti akan sangat merindukanmu,” ujar Soojin sambil memeluk Suzy sebelum dia berngkat besama Junho.

“Cieh…Kamu bersikap seperti ini seolah kita tidak pernah bertemu lagi saja,” ujar Suzy.

“Kamu jangan bicara begitu. Apa kamu tidak tahu aku sangat mencemaskanku?” Rajuk Soojin melepaskan pelukannya.

“Kamu bawel sekali. Lebih baik kamu pergi sekarang, nanti kalian terlambat.”

“Oppa bisakah kita tidak usah pergi? Aku ingin di sini saja bersama Suzy… aku masih merasa khawatir.”

“ANDWE!!” pekik Suzy. “Kalian harus pergi.”

“Wae?” ujar Soojin bingung.

“Aku ini ingin refresing. Aku pusing melihatmu yang terus menempel padaku padahal kamu sudah menikah. Aku ingin menikamati waktuku tanpamu,” jawab Suzy membuat Soojin merenggut. “Lagipula kamu tidak kasihan pada suamimu itu yang sudah cape-capek menyiapkan ini semua tapi kamu batalkan begitu saja.”

Soojin menatap Junho sesaat lalu kembali menatap Suzy. “Kamu menyebalkan. Aku hanya tidak ingin berpisah denganmu, aku juga tidak tahu kenapa. Ya sudah, kami pergi dulu.”

“Ne..hati-hati..”ujar ibunya dan ayahnya. “kalian harus membuatkan cucu untuk kami.”

“Aku akan sering-sering menelepon,” ujar Soojin pada kedua orang uanya. “Dan neo, jangan pernah sekali-sekali tidak menjawab teleponku, kalu tidak aku akan menempelimu seumur hidupmu.”

“Kamu harus hidup dan sehat saat kami kembali,” bisik junho pada Suzy sebelum dia menggandeng Soojin ke mobil.

Suzy hanya tersenyum dan melambai pada Soojin dan Junho yang mulai menjauh.

“Kalian tunggu di sini. Appa akan mengambilkan mobil,” Ujar ayahnya begitu mobil Soojin dan Junho menghilang.

“Aku akan mengambilkan barang-barangmu. Kamu tunggu di sini saja. Dan Sangmoon temani noonamu di sini ne,” ujar ibunya menyusul ayahnya masuk kealam rumah.

“Eoh…”Ujar Sangmon. “Noona gwenchana?” tanya Sangmoon yang melihat raut wajah Suzy. “Appo?”

“Hmm…hatiku rasanya sakit.”

“Apa kamu merindukan Jong-in hyung? apa kamu mau aku menghubnginya.”

Suzy menggeleng dan tersenyum. “Aniya…aku hanya merasa sedih melihat Soojin pergi. Apa nanti reaksinya saat kembali melihat kakiku hilang satu.”

Tin…Tin…

Sangmoon tidak jadi menjawab saat mendengar suara klakson yang di bunyikan ayahnya. “Noona kajja…apa Noona perlu di tuntun?”

Suzy menggeleng. “Aku masih bisa berjalan. Tadi aku sudah meminum obat penghilang sara saikit.”

“Apa kamu sudah siap?” tanya ayahnya begitu Suzy masuk ke dalam mobil. Suzy mengangguk. “Apa kamu takut?”

Suzy kembali mengangguk. “Sedikit.”

“Gwencahan, eomma ada di sini.” Ujar ibunya menggemgam tangan Suzy yang duduk di sebelahnya di kursi penumpang paling belakang.

“Hmm…arayo, makanya aku tidak terlalu takut.”

TBC

Hehehe, rencananya aku mau buat END part ini, tp setelah aku selesai ngetik ternyata hasilnya ampe 26 halaman. Jd aku putuskan untuk menjadikannya 2 part krn takut terlalu panjang dan berpotensi bosen. Next partnya akan aku posting ntar malam atau besok pagi (sekalian Sehun Michigetda part 3).

Dan krn ada yg minta our wedding d lanjutkan, aku akan lanjutin meski sebenarnya aku da hampir lupa ff itu. Dan LIH jg bakal aku lanjut (krn aku sdh memutuskan menamatkan ff itu meski feelnya akan berkurang). Jd bagi yg nungguin ff2 itu, nongkrongin terus aja blog ini, krn aku bakal usahakan tiap hr post 1 ff.. hehehe. Gomawo…

Oh ya thx buat semua comentnya, comen kalian semua bikin aku makin semangat nulis, dan maaf tdk balas semua (krn malas *timpuk Ririn) tp aku baca kok…kekeke

Advertisements

48 thoughts on “SUZY, DON’T LEAVE! part 4

  1. Wahhhh, daebak thor fell’a dpet bkin mewek.. Ksihan suzy’a jong in hrus tau tetap dismping dan trima adanya suzy.. Hrus happy ending thor..
    KaiZy jjang

  2. Huhuhu sediiiihhh…poor suzy
    Sangat ditunggu chapt endingnya thor…sangat berharap happy ending

    Ditunggu jg kelanjutan ffmu yg lain
    Hwaiting

  3. Smoga Jongin cpet tau tntang keadaannya Suzy biar Jongin nggak slah pham. Nggak sbar sma next nya nanti mlam….Next….

  4. Akhrny clur juga lnjtan nya.
    Bguz bget thor.
    Mdah” suzy bza balik kn am kai.
    Dan hdup bhgia.
    Bgus thor chapter in
    menguras air mata.

  5. Woah, akhirnya publish juga thor \^.^/ Part ini bikin nyesek thor TT.TT Poor uri Suzy uri Jongin juga 😦 Ngga ada cara lain ya thor ? Hiks ditunggu banget lanjutannya thor, author Jjang~~

  6. kasihan suzy…
    ceritanyq bikin nangis..hiks hiks..hiks..

    daebak thor..
    ditunggu lanjutannya

  7. jong in jangan sampai benci suzy,andai dia tahu keadaan suzy sebenarnya…baca bagian2 akhire jadi nangis…next ya+jangan lama

  8. kasihaan bget suzy….moga” ada keajaiban za dech buat ksembuhan suzy…Reaksi kai ntar gmn yah? 😥 Thor Love Is Hurtx mna?:(

  9. Baca ff ini sampe nangis aku .. Aigoo .. Uri suzy kasian banget .. Next ff jgn lamalama ne .. Gomawo 🙂

  10. part ini bener2 buat air mataku keluar… aigoo sedih aT_T.. gimna reaksi jongin kalau tau suzy sakit..
    ceritannya bagus kok thor gak ngebosenin lagi.. di tunggu kelanjutannya..

  11. Akhir’y part yg ditunggu2 datang. Yeah suzy memutuskan joogin. Iy thor lanjutin jha ff thor yg jdul’y apa aja,smua crita’y bagus kox. D tunggu yea part2 lanjutan ff’y our weding,happy toger, love is hard dll semangat thorrrrr

  12. Berharap happy ending ja ‎​‎​‎​G̶̲̅ãK̶̲̅ tega ma suzy yg menderita hiks,,,,,,

  13. Thor itu jongin beneran putus gitu sm suzy, kasian suzy ._. Udh mau kehilangan kaki trus hrs pisah sm jongin
    Kasian jg jonginy, dia kan gak tau apa” 😦
    Semoga last partnya suzy sm jongin bersatu sampe nikah, yaaa wlpun suzy hrs kehilangan kakiny tp setidakny dia ad jongin hehe
    Buat LIH itu ff udh ditungguin bgt thor ^^ dan disitu feel suzy-jongin udh berasa bgt…dan myungpa yg egois beneran hrs dibuat menyesal kayakny

  14. mian ya thor baru komen yang suzy don’t leave.a skarang
    oz aqw mo komen eh mlah ktinggalan jauh, huhu
    moga ja suzy cpet smbuh n kmbali k.jong in
    d.tunggu next.a thor : D

  15. Suzy beneran akan kehilangan 1 kakinya yaa? Trus Suzy bakalan gak sama Jong in lagi? Hwaa jgn sampe itu terjadi.. 😥 penasaran ma kelanjutannya

  16. Kasiaaan suzy..
    emang ikatan batin org kembar tu kuat..
    semoga suzy bisa sehat..
    Kai aah.. kami harus nyari tau ttg suzy.. :((

  17. Ahhh
    Sumpah nyesek amettt
    Sedihh
    Suzy bkalan kehilangan kaki.y tp ak berharap kai mw jdi kaki buat suzy
    Jiaahhh
    Hehehhe

  18. Wahwah ikatan batin yg sangat kuat yah…. tp aku sedih kenapa Suzy harus memutuskan Jongin secara sepihak? terus bgaimana kelanjutan kisah Kaizy? /keren thor/

  19. Jadi kaki suzy eonni akan benar” diamputasi huwa kasian.,a zyeonn #hikz
    dan apakah suzy eonni masih bisa selamat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s