SUZY, DON’T LEAVE! Part 3

DONT

Author: Ririn

Genre: Romance. Sad, family

Legt: Short Chaptered

Cast: Bae Sooji as Suzy n Soojin

Kim Jong in

Lee Junho

Jung Soo jung

And others

Ratting: 17+

Ini Cuma 3-4 chapter dan terinspirasi dari novelnya Mira W yang judulnya Jangan pergi lara. Mira W itu adalah alah satu pengarang favoritku dan jgn pergi lara salah satu tulisannya paling aku suka krn genrenya g terlalu married life (kan biasanya tulian Mira W itu tentang masalah rumah tangga). Jadi bagi yang suka baca tulisan Mira W pasti merasa mirip. Tapi ini versi aku, g benar2 mirip, paling 40% aja mirip (inti dan judul cerita) tp kalau alur, setting, cast  n istila2 di sini buatanku. Dan kata2nya hasil karyaku, tdk mengutip sedikitpun dr Mira W. Happy reading aja deh.

========================================================================

Part 3

Author POV

Begitu tiba di kamarnya Suzy langsung membaringkan tubuhnya dengan susah payah. Dia mentap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya jauh melayang entah kemana. Mungkin karena terlalu banyak yang dipikirakan sehingga kepalanya tidak mampu bekerja sehingga yang mampu di perbuatnya hanya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.

Drrrrrttttt…..drrrttt…ddrrrttt….

Suzy memejamkan matanya begitu merasakan ponsel yang di letakkan di ranjang tepat di kanan tubuhnya bergetar. Karen getarnya tak kunjung berhenti dia membuka matanya karena menyadari itu pasti panggilan masuk bukannya sebuah pesan.

‘Kim kkamjong pabo’

Tertulis sebagai Id pemanggil. Suzy tersenyum, dia tahu namja itu pasti sangat panik dan khawatir meliha banyaknya panggilan masuk dan pesan yang di kirimkannya. Suzy memang menghindari teleponnya dan hanya mengirim pesan kalau dia ingin pergi berlibur. Bukannya dia tidak mau berbicara pada namja itu, tapi Suzy bingung harus berbicara apa. Selain itu dia juga takut Kim jong-in akan meninggalkannya begitu tahu keberaadaannya. Suzy sudah mengakui kalau dia sangat menikmati dan menginginkan Kim Jong-in berada di sampingnya.

“Yeoboseo…” sapa Suzy berusaha terdengar biasa.

Suzy kembali tersenyum mendengar nada suara Jong-in yang berteriak marah karena panik tidak tahu keberadaan Suzy.

“Mianhae…aku meninggalkan ponselku di rumah,” bohong Suzy. Tentu saja dia membawa ponselnya makanya dia selalu bisa berhubungan dengan Soojung.

“Tidak, aku hanya pergi main Iceskating. Inikan sudah musim dingin jadi paling enak main ice skating,” jawab Suzy begitu Jong-in menayakan kemana dia pergi.

“Kamu itu sangat menyebalkan dan bawel. Akukan mau menhilangkan stress dan kalau aku mengajakmu aku akan semakin stress,” jawab Suzy terkekeh. “Lagipula di sana banyak yeoja cantik, nanti kamu akan menggoda mereka.”

“Wae? Kenapa memang kalau aku cemburu,” jawab Suzy pura-pura kesal saat Jong-in menuduhnya cemburu. “Apa tidak boleh?” suzy kembali tersenyum saat Jong-in tertawa puas dan meledek Suzy yang jatuh pada pesonanya.

“Tapi kamu sedikit aneh. Apa terjadi sesuatu padamu?”

“Hmm…sejak mengenalmu, aku jadi ikutan aneh sepertimu,” ujar Suzy.

Setelah berbicara dan bercertita panjang lebar, Suzy akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka. oh, bukan karena Suzy sudah merasa bosan atau mengantuk. Dia justru ingin menghabiskan malam ini dengan mengobrol dengan Jong-in, tapi rasa sakit di lututnya semakin menjadi-jadi seperti di pukul palu besar. Dia takut meringis kesakitan sehingga Jong-in mendengar ringisannya dan membuatnya harus menjawab kecemasan namja itu. Dan Suzy masih belum siap menerima jika Jong-in menolaknya.

“Aku sudah ngantuk, aku tutup dulu ne…” ujar Suzy.

“tunggu!” ujar Jong-in mencegah Suzy. “Aku sudah sangat merindukanmu dan aku ingin melihat wajahmu. Apa besok aku bisa mengajakmu kencan?”

Suzy tersenyum senang. Tentu saja dia bersedia dan sangat mau.

oh, dan aku tidak menyukai penolakan, kamu tahukan nyonya Kim,” ujar Jong-in tak sabaran karena Suzy tak kunjung menjawab.

“Berheti memanggilku seperti itu, aku bukan istrimu,” ujar Suzy pura-pura kesal.

“Itu hanya masalah waktu, cepat atau lambat kamu akan menyandang namaku,”ujar Jong-in percaya diri. “aku akan menjemputmu begitu aku pulang kerja, arraso.”

“Kapan aku mengatakan setuju tuan kkamjong (jong hitam)?”

ck..kamu jangan ikut-ikutan meledekku juga.”kesal Jong-in. “Aku sudah bilang tidak ada yang bisa menolakku.”

“Lalu untuk apa menyakan pesetuanjuaku, kalau ujung-ujungnya kamu tetap menyeretku apapun jawabanku?”

Jong-in terkekeh mendengar Suzy yang merajuk seperti wanita remaja. Yang benar saja, yeoja galak dan jutek seperti Suzy bisa juga merajuk. “Aku hanya ingin bersikap seperti namja terhormat yang meminta persetujuan yeojanya. Lagi pula aku sudah tahu kamu akan setuju,” jawab jong-in lalu tertawa. Dia bisa membayangkan wajah suzy yang pasti seperti akan muntah. “Berhentilah merajuk, kamu membuatku semakin ingin menikahimu malam ini.”

 Setelah mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, suzy akhirnya memutuskan sambungan telepon dan menghela nafasnya berat. Apa perlakuan Jong-in masih akan tetap manis padanya saat tahu keadaannya? Atau kalau namja itu mau menerimanya, apa keluarganya akan mau menerimanya. oh, Kim Jong-in itu anak Kim Siwan, salah satu orang terkaya di Korea. Suzy memang tidak buruk, bahkan mungkin akan jadi salah satu menantu idaman setiap orang, tapi itu dulu sebelum dia mengidap kanker tulang.

Dari pada memikirkan hal yang membuat kepalanya ikut-ikutan sakit, Suzy lebih memilih bangkit dari tidurnya dan meraih obat penghilang rasa sakit dosis tinggi yang dia konsumsi beberapa hari ini dan kemudian memutuskan untuk tidur.

*****

“Kita mau kemana?” tanya Suzy begitu dia berada di mobil Jong-in.

“Kencan.”

“Maksudku mau kencan kemana? Kakiku belum sembuh benar jadi aku tidak mau pergi ke tempat-tempat yang banyak tangganya.”

Jong-in menatap Suzy sekilas lalu kembali konsentrasi menyatir. “Tenang saja, aku tidak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh. Aku juga sudah lelah, pekerjaan di kantor sangat banyak  dan setiap hari kami lembur. Paling aku hanya mengajakmu makan dan nonton bioskop atau sekedar menghabiskan waktu berdua.”

Suzy menatap Jong-in prihatin. Ayahnya juga sedang sibk-sibuknya di kantor. Dan dari yang Suzy dengar perusahaan ayah Jong-in sedang membuka cabang di luar negri dan di saat bersamaan perusahaan sedang mengerjakan proyek besar jadi semua karyawan kantor sangat sibuk. Jong-in yang bertugas menangani proyek sementara ayahnya mengurusi pembukaan cabang baru, apalagi Jong-in yang bekerja sebagai kepala devisi yang sedang di persiapkan ayahnya untuk meduduki kursi direktur menggantikan ayahnya.

“Kalau kamu sangat sibuk kenapa mengajak kencan?”

“Itu semua gara-gara kamu!” ujar Jong-in kesal.

“Kenapa aku? Memang aku berbuat apa?” uajar Suzy tidak terima.

“Siapa suruh kamu menghilang tiba-tiba selama dua hari tanpa kabar membuat aku emosi dan tidak bisa konsentrasi. Jadi untuk mengembalikan suasan hatiku yang selalu riang, kamu harus menghabiskan waktu bersamaku. Tapi karena aku sibuk, aku hanya punya waktu sekarang karena besok dan seterusnya sampai satu bulan ke depan aku akan lembur terus.”

“Mian,” ujar Suzy bersalah.

“Ada apa denganmu? Biasanya kamu tidak mau di salahkan. Kenapa tiba-tiba minta maaf?” tanya Jong-in heran.

“Ck, kamu itu bawel sekali. Lebih baik kamu konsentrasi menyetir.”

Jongin terkekeh, melihat sikap Suzy yang sudak kembali.

“Ngomong-ngomong bagaimana dengan kakimu? Kamu bilang hasil pemeriksaannya baru keluar dua hari kemudian.”

“Ohh, tidak apa-apa, hanya persendian lututku sedikit cedera dan kata dokter harus banyak istirahat dan tidak boleh naik tangga terlalu sering agar cepat sembuh.”

“Baguslah. Lalu bagaimana di rumah? Bukannya kamarmu ad di lantai dua?”

“Gwenchana, aku akan menempati kamar tamu di bawah untuk sementara. Lagipula semenjak Soojin menikah kan kamar kami kan rasanya terlalu besar untukku sendiri.”

“Bagus. Kamu harus cepat sembuh,” ujar Jong-in membelokkan setirnya karena mereka sudah mulai memasuki parkiran sebuah restoran. “Aku sengaja menyibukkan diri sekarang agar aku bisa libur dan menikahimu secepatnya.”

“Jadi pastikan begitu proyek ini selasai, kakimu sudah sembuh karena kita akan menikah.”

…………………

Suzy menatap mobil Jong-in yang sudah meninggalkan rumahnya setelah mengantarnya pulang. Awalnya namja itu ingin masuk dan menyapa kedua orang tua Suzy tapi karena Suzy kasihan melihat namja itu yang pasti sangat kelelahan Suzy langsung menyuruhnya pulang dan istirahat saja. Dia kembali mengingat kata-kata Jong-in yang menyuruhnya mengobati kakinya dalam waktu sebulan ini karena ingin mengajaknya menikah. Tapi apa yang akan di lakukan Jon-in begitu tahu kakinya tidak bisa sembuh? Bahkan justru akan menghilang satu. Apa kira-kira reaksi namja itu.

Suzy merasa tidak berdaya sekarang. Buakannya dia tidak percaya dngan Jongin. Suzy bisa merasakan namja itu sangat tulus mencintainya dan akan menerima apapun keadaannya. Hanya dia tidak mau membiarkan Jong-in yang begitu tampan dan memiliki masa depan yang cerah harus menghabiskan waktunya untuk mengurusi istri yang terancam lumbuh. Dia harus mengakhiri semua ini.

Ya dia harus mengahiri semua ini sebelum melangkah terlalu jauh.

“Mian…mianhae…” guman Suzy pelan sambil merapatkan mantelnya. Rasa dingin yang menusuk karena salju sepertinya mulai turun membuat kakinya mulai sakit kembali dan menyadarkan suzy dari lamunannya. “Ahh, sakitt…” pekiknya sambil memegang lutut kanannya. Efek obat penghilang rasa sakita yang dia konsumsi banyak-kanya karena akan bertemu Jong-in—suzy tahu efeknya tidak bagus jika meminumnya terlalu banyak, tapi dia tidak mau Jong-in melihatnya meringis kesakitan—sepertinya sudah mulai menghilang.

Dengan suhu dingin yang menusuk tulang dan rasa sakit yang luar biasa di kakinya membuat keringat dingin keluar di dahi Suzy saat yaeoja itu tidak menemukan obat penghilang rasa sakit di tasnya.

“Sialan, sepertinya aku tidak membawanya tadi,” makinya pada dirinya. “Sakit sekali Tuhan…” ringisnya.

“Appo…” katanya saat berusaha berdiri karena kakinya sangat lemas dan tidak kuat berdiri. Dan dengan Susah payah dia menekan bel rumahnya berharap ayahnya keluar dan bisa menggendongnya masuk kerumah karena kakinya yang sudah sangat sakit pastinya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.

Suzy mulai terisak karena sakit di kakinya yang semakin menjadi, sementara penghuni rumahnya sepertinya tidak ada yang terbangun untuk membukakan pintu—padahal ini masih jam sepuluh malam dan biasanya Sangmoon belum tidur—dan Suzy sudah tidak punya tenaga untuk berdiri hanya sekedar untuk menekan bel lagi.

“Appa appo…”tangis Suzy. Dia menangis bukan hanya karena sakit di kakinya tapi juga karena merasa dirinya yang sangat menyedihkan. “Appoo…”

Tiba-tiba dia teringat dengan ponselnya yang tergolek di tasnya. Dengan cepat dia kembali mengaduk-aduk tasnya dan meraih ponselnya dan menghubungi ponsel Sangmoon—karena biasanya adiknya itulah yang tidur paling lama di rumahnya.

“Sangoon-ah, tolong ke depan bukakan pagar. Noona di depan dan kakiku sakit jadi aku tidak bisa berdiri,”ujar Suzy begitu Sangmoon mengangkat teleponnya.

Klik.

Suzy bisa merasakan Sangmonn yang sangat panik dan langsung mematikan ponselnya. Meski Sangmoon itu terlihat cuek dan sedikit pemalas, tapi Suzy tahu dia itu sangat perhatian dan paling mudah panik kalau ada terjadi sesuatu pada Suzy atau Soojin. Mungkin karena dia merasa satu-satunya anak namja jadi dia merasa bertanggung jawab terhadap kedua kakan perempuannya.

“Noona nan Gwenchana? Kamu kenapa?” suzy bisa mendengar suara panik Sangmonn begitu pintu gerbang terbuka.

“Gwenchana, kakiku sepertinya tiba-tiba kram dan tidak bisa di gerakkan. Kamu bisa bantu noona masuk ke rumah?” bohong Suzy dan memasang senyum palsu.

“Noona menangis?” ujar Sangmoon kaget karena melihat mata Suzy yang seperti habis menangis saat dia berusaha memapah kakaknya. “Apa begitu sakit?”

“Hmmm sedikit,” jawab Suzy.

“Bukannya kamu bersama Jong-in hyung? kenapa tidak meminta bantuannya membawanya masuk ke rumah? Apa kalian bertengkar?” tanya Sangmoon sambil memapah Suzy masuk ke rumah.

“Hmm…aniyo. dia kelelah jadi aku langsung suruh pulang. Sakitnya juga baru muncul setelah dia pergi.”

“Jangan-jangan kaki noona sudah sakit dari tadi tapi pura-pura sok kuat di depan hyung biar dia tidak panik ya?” tanya Sangmoo. “Sepertinya aku benar kan?”

“Aniyo. Kamu jangan sok tahu,”ujar Suzy gugup.

“Noona tidak usah berbohong padaku. Aku sudah mengenal noona sejak lahir. Dan di rumah ini aku yang paling mengenal Noona,” ujar Sangmoon sambil membuka pintu. “Dulu aku sering melihat noona pura-pura terlihat baik-baik saja di depan Soojin noona padahal noona sakit agar Soojin noona  tidak cemas dan khawatir.”

Suzy terkekeh mendengar kalimat Sangmoon. Dia memang sering melakukan itu. Saat Soojin jatuh sakit dan harus di larikan kerumah sakit, Suzy sering merasa sakit juga—mungkin itu yang di namakan kontak batin saudara kembar—tapi dia selalu bertingkah baik-baik saja agar Soojin—yang sangat mudah khawatir—merasa tenang.

“Sebenarnya, ada apa dengan kaki Noona?” tanya Sangmoon tegas sambil membantu Suzy duduk di Sofa. “Dan jangan coba-coba berbohong noona.”

Suzy menatap sangmoon dengan curiga. Apa adik laki-lakinya itu menyadari sesuatu? Karena tidak biasanya Sangmoon menampilkan wajah serius seperti sekarang ini kecuali dia merasa hal ini sangat penting dan serius.

“Ada apa denganmu? Kenapa tampangmu serius sekali seperti ibu-ibu yang mau melahirkan?” ujar Suzy berusaha bercanda. Mungkin karena sudah berada di dalam rumah dan sedikit hangat kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi meski tetap masih susah di gerakkan.

“Aku serius Noona!” ujar Sangmoon lagi

“Gwenchana, tidak terjadi apa-apa. Kakiku hanya kram karena kedinginan,” jawab Suzy pura-pura melepas mantelnya agar Sangmoon tidak melihat.

“Lalu ini apa? Tolong noona jelasakan,” Ujar Sangmoon memberikan dua amplop coklat seukuran kertas gembar A3 dan juga seukuran amplo surat biasa. “Jelas-jelas nama Noona tertulis di situ.”

Wajah Suzy kaget begitu melihat kedua amplop itu. Yang besar itu kertas film hasil foto ronten dan Ct scan kakinya dan amplop kecil itu hasil pemeriksaannya.  “Dari mana kamu mendapatkan ini?”

“Aku ke kamar Noona untuk meminjam laptopmu. Karena tidak ada di meja aku mencari di lacimu dan aku menemukan itu. Aku membukanya karena namamu tertulis di situ.”

“Itu Pr….”

“Noona bisa memarahiku karena membuka barang-barangmu tanpa ijin, tapi tolong jelasakan itu padaku. Katakan kalau iti tidak benar,” Potong Sangmoon saat melihat Suzy akan mengomelinya karena masuk kamarnya tanpa ijin seperti biasanya.

Suzy kembali kaget saat melihat mata adiknya yang memerah seperti ingin menangis.

“Apa yang mau aku jelaskan, kamu sudah melihatnya dan di situ sudah di tulis dengan jelas,”Jawab Suzy dengan suara tercekat.

“Katakan kalau itu tidak benar Noona,” pinta Sangmoon lalu berjongkok di depan Suzy yang sedang duduk di sofa. “Itu tidak benar kan?”

Air mata Suzy mengalir begitu saja saat melihat sangmoon yang menangis di depannya. Dia tidak menyangka adiknya yang yang sedikit nakal dan acuh-tidak acuh itu bisa menangis juga.

“Aku juga berharap begitu. Tapi… itu memang benar.”

“Ada apa ini? kenapa kalian menangis?” ujar ayahnya yang tiba-tiba muncul bersama ibunya.

Suzy baru ingat, kalau Soojin mengundang mereka semua makan malam karena Junho dapat promosi di kantornya, tapi karena Suzy ada janji dengan Jong-in dia menolak sementara Sangmonn tidak mau ikut karena Suzy tidak ikut, karena dia nanti akan merasa bosan. Pantas saja tadi tidak ada yang membukakan pintu.

“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat, penampilanmu berantakan dan pakaianmu agak lembab dan tidak menggantinya?” ujar ibunya heran melihat penampilan Suzy.

“Appa, eomma…otthokae?” ujar Sangmonn di sela-sela tangisnya. “Apa yang harus kita lakukan pada Noona?”lanjutnya masih menangis tapi tidak menatap orang tuanya.

“Waeyo? Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kenapa kalian menangis?” ujar ayahnya semakin bingung. Dia tidak pernah melihat Sangmoon dan Suzy menangis bersama. Biasanya meraka akan saling meledek dan menjahili. “Kenapa dengan Suzy?”

“Kaki noona…”

“Kenapa dengan kaki Suzy?” ujar ibunya mulai ikut khawatir. Sementara Suzy tidak bisa membuka mulutnya selain menangis.

“Kenapa kalian tidak menjawab? Kenapa dengan kaki Suzy?” ujar Ayahnya mulai kesal karena panik. “Suzy kenapa dengan kakimu? Jawab appa?” ujar ayahnya pada Suzy dan yeoja itu bukannya menjawab malah semakin menangis. Dan saat itu ayahnya melihat amplop yang ada di pangkuan Suzy dan langsung meraihnya.

“Sakit di kaki Noona ternyata kangker tulang.”

*****

Suzy tahu ini sudah lewat tengah malam—mungkin jam satu pagi—dan dia sudah berusaha untuk tidur, tapi matanya tak kunjung terlelap. Biasanya jika orang terlalu banyak menangis akan mudah terlelap, tapi tidak bagi Suzy membuat dia gelisah dan bolak-bali berguling di ranjangnya. Dia kembali mencoba untuk tertidur dengan menutup matnya, tapi bayangan ayahnya yang menangis mengetahui kakinya membuat dia kembali membuka matanya. Dia sudah terlalu biasa hidup tanpa perhatian orang lain dan melihat orang menangis untuknya membuat hantinya tidak nyaman.

“Otthokae, kenapa nasip putriku jadi begini,” ujar ayahnya langsung memeluk Suzy sambil menangis.”Kenapa ini bisa terjadi.”

Suzy kembali teringat saat ayahnya menangis sambil memeluknya. Seingat Suzy ayahnya tidak pernah menangis seperti itu, bahkan saat Soojin masuk ruang ICU ayahnya biasanya hanya tertunduk lemas.

Air mata Suzy kembali mengalir saat mengingat Sangmon yang ikut menangis saat tahu keadaannya. Dia merasa perasaannya teraduk-aduk saat menyadari ternyata keluarganya sangat menyayanginya.

“Pokoknya mulai besok kamu harus mulai menjalani perawatan,”ujar ayahnya dengan tegas begitu Suzy menceritkan semuanya keadaan kakinya. “Mungkin semakin cepat kita melakukan perawatan, kemungkinan terburuk bisa kita atasai. Arraso.”

“Ne,” jawab Suzy. “Tapi bolehkah aku minta sesuatu sebelumnya?”

“Apa?”

“Aku akan menjalani semua pengobatan, bahkan jika harus di amputasi sekalipun,” ujar Suzy menatap keluarganya berusaha tegar. Sesungguhnya dia takut dengan kemungkinn itu, tapi dia tidak mau keluarganya sekamin khatir melihatnya. “Tapi bisakah kalian menyembunyikan semua ini dari Soojin?”

“Wae? Dia juga pasti merasa khawatir denganmu?”

“Karena itu aku tidak mau dia tahu. Kalian kan tahu bagaiaman kalau ia khawatir? Dia angat mudah panik, sementara dia tidak boleh panik.”

Suzy ingat bagaimana Soojin itu sangat mudah khatir berlebihan. Sejak lahir Suzy dan Soojin selalu menghabiskan waktu bersama dan menggunakan barang-barang yang selalu mirip, sekolahpun mereka selalu sama meski saat kuliah akhirnya mereka beda jurusan meski masih satu universitas. Biasanya Sojin dan Suzy selalu bisa merasakan jika salah satu di antara mereka kesulitan atau sakit dan jika Suzy yang mengalami hal buruk dan Soojin tahu, saudara kembarnya itu sering melakukan hal nekat yang mengancam keselamatannya.

Suzy masih ingat jelas saat dia marah dengan ibunya dan kabur dari rumah. Karena hingga malam Suzy tak kunjung pulang dan Soojin merasa khawatir, Soojin akhirnya nekat keluar dari rumah secara diam-diam dan mencari Suzy. Karena cuaca yang dingin, dia malah kelelahan dan sesak nafas hingga pingsan. Untungnya ada yang menemukannya dan segera membawanya kerumah sakit. Suzy menangis sejadi-jadinya—bukan karena ibunya memarahinya sampai menamparnya—saat itu dan berjanji jika Soojin sadar—karena saat itu Soojin kritis—dia berjanji tidak akan membuat Soojin khawatir lagi dan akan memberikan semua yang di inginkan Soojin. Dan meski dia sangat jutek dan suka membentak Soojin, tapi saudara kembarnya itu akan dengan sabar meladinya dan mendengarkan semua keluh kesah Suzy—karena Suzy memang suka mengeluh. Suzy jadi benar-benar merindukan Soojin.

Suzy masih sibuk dengan pikirannya tentang Soojin, tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya terbuka pelan. Karena sedang tidak ingin berbicara, dia pura-pura tidur saat orang itu berdiri di samping ranjangnya tanpa berniat menyalakan lampu. Suzy yang penasaran karena sudah sepuluh menit lebih orang itu tak kunjung bergerak berniat membuka matanya tapi di saat bersamaan ranjangnya bergerak dan orang itu berbaring di belakangnya dan memeluknya dari belakang.

“Mian…mianhae…”ujar orang itu sambil terisak. “Eomma minta maaf karena kurang memperhatikanmu,” tambah ibunya.

Suzy ikut terisak saat mendengar kata-kata ibunya. Baru kali ini ibunya datang ke kamarnya untuk memeluknya dan menangis untuknya. Dia tidak tahu harus senang karena perlakuan ibunya atau sedih karena ibunya melakukan itu karena dia sakit.

“Eomma, bolehkah aku bertanya?” ujar Suzy setelah tangis ibunya sedikit reda.

“Ne..”

Masih dengan posisi yang sama yaitu suzy berbaring dengan ibunya memeluknya dari belakang sambil mencim kepalanya

“Kenapa eomma tidak menyukaiku? Apa karena aku sehat sementara Soojin tidak?”

“Dari mana kamu mendapat pikiran seperti itu? Eomma tidak pernah membencimu?”

“Lalu kenapa eomma tidak pernah memperhatikanku dan selalu memarahiku,” jawab Suzy.

“Mianhae karena eomma memperlakukanmu agak keras,”ujar ibunya. “Eomma sangat menyayangimu, Soojin dan Sangmoon dengan sama besar…hanya Soojin perlu perhatian khusus.”

Suzy hanya diam, menunggu ibunya menjelaskan lebih lanjut. Ini pertama kali Suzy berbicara sedekat ini dengan ibunya, jadi dia ingin tahu semua yang mengganjal di hatinya.

“Kamu dan Sangmonn terlahir dengan sempurna dan kuat, sementar Soojin sangat lemah, jadi eomma memperlakukan Soojin dengan istimewa agar dia tidak punya perasaan iri pada kalian berdua. Eomma sengaja agak sedikit keras terhadapmu dan Sangmoon karena eomma tahu kalian berdua nak yang kuat. Eomma tidak mau kamu menjadi gadis yang lemah dan tidak bisa mandiri seperti Soojin. Eomma mau, anak gadis kesayangna eomma bisa mandiri dan sukses tanpa bergantung pada orang lain.”

“Tapi apa eomma tidak tahu, kalua aku juga membutuhkan kasih sayang eomma?”

“Mianhae…”

“Lalu kenapa eomma memaksaku merelakan Junho oppa…”

“Eomma mengenalmu lebih dari yang kamu kira. Aku tahu jika kamu tidak mencintai Junho, eomma tahu kamu hanya mengaguminya. Berbeda dengan Jong-in eomma tahu kamu mencintainya.”

“Lalu kenap eomma tiba-tiba bersikap seperti ini? apa karena sekarang aku terlihat menyedihkan, jadi eomma perlu memberikan perhatian lebih padaku,” ujar Suzy terisak.

“Aniyo…bagi eomma kamu adalah putri kebanggan eomma dan tidak pernah menganggap kamu menyedihkan…”

“…Kamu tahu, saat kamu bisa belajar berjalan tanpa aku ajari seperti Soojin, eomma sangat bangga padamu. kamu juga bisa belajar makan, berbicara dan belajar membaca tanpa bantuan eomma. Kamu juga selalu bisa menyelesaikan masalahmu dan mendapatkan keinginanmu tanpa bantuan eomma. Kamu selalu tahu apa yang terbaik untukmu dan selalu menjadi anak gadis kebangganku, meski eomma tidak pernah mengatakannya. Kamu anak yang sangat kuat.”

“Tapi itu dulu. Sekarang berbeda. Aku sekarang menjadi anak yang lemah dan tidak tahu tujuanku. Aku sekarang ini merasa takut eomma…” ujar Suzy terisak. Membayangkan dia akan kehilangan kaki kanannya membuat dia ketakutan. “Sekarang aku takut menghadapi masa depan.”

“Uri aegi yang cantik…eomma tahu kamu anak yang kuat,”ujar ibunya. “Aku tahu kamu bisa mengahadapi ini. kamu anak yang kuat, berbeda dengan Soojin. Kamu bisa mengatasi semua masalahmu.”

“Tapi kakiku akan di amputasi eomma. Dokter Jang bilang, stadium kangker ini sudah sangat parah dan harus di amputasi dalam waktu dekat ini sebelum menyebar,” ujar suzy semakin terisak. “Aku gak mau kehilangan kakiku. Aku tidak mau hidup tanpa kaki…apa yang harus aku lakukan..”

“meski aku bilang pada appa aku mau di amputasi, tapi sejujurnya aku takut. Aku takut harus hidup tanpa kaki…aku takut harus hidup bergantung pada orang lain…aku takut harus hidup jadi orang cacat…aku gak mau di amputasi. Aku lebih baik mati saja dengan kangker itu dari pada hidup tanpa kaki…”

“Suzy, jangan berbicara begitu. Apa kamu tidak pikirkan perasaan eomma, appa sangmoon dan Soojin. Dan bagai mana dengan Jong-in?”

“Tapi aku hanya akan jadi beban untuk kalian…”

“Aniyo, kamu bukan beban. Kamu adalah keberuntungan kami. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena tidak punya kaki. Kamu bisa melakukan hal besar tanpa kaki. Bila perlu eomma akan jadi kaki buatmu.”

Suzy membalikkan badannya dan menatap mata ibunya dalam kegelapan kamarya. Mesku begitu dia bisa melihat mata ibunya yang berkaca-kaca akibat menangis.

“Eomma…kenapa aku bisa begini? Kenapa harus aku. Apa salahku…kenapa penyakit ini memilih aku?” tangsi Suzy.

“Mianhe…maafkan eomma karena kamu terlahir dari ibu sepertiku. Seandainya bukan karena aku …seandainya bukan aku ang jadi inumu pasti kamu tidak akan menderita begini. Maafkan aku kamu punya ibu sepertiku sehingga kamu jadi menderita. Ini semua kesalahanku…”

“Ani…eomma. ini bukan salahmu. Kamu adalah ibu yang terhebat di dunia. Ini sudah takdirku…”

“Aniyo…seandainya aku lebih memperhatikanmu. Seandainya aku lebih mejagamupasti kamu tidak akan menderita begini. Maafkan karena kamu harus lahir dari ibu yang buruk sepertiku.”

Suzy menggeleng keras, “Ani…eomma adalah ibu terbaik. Meski eomma keras, tapi eomma bisa membesarkan kami bertiga dengan baik. Aku tahu tidak mudah menjadi ibu bagi kami bertiga. Jika yang jadi ibu kami orang lain, mungkin dia akan mengeluh tapi eomma bisa membesarkan kami bertiga dengan baik. Bahkan eomma selalu menyempatkan diri sesibuk apapun untuk Soojin. Seandainya harus di suruh memilih lagi, aku tetap akan memilihmu sebagi ibuku.”

“Gomawo…tapi Mianhae kamu harus punya ibu sepertiku,”ujar ibunya meraih Suzy kedalam pelukannya dan mengusap kepalanya. “Seandainya eomma bisa menggantikan posisimu, eomma rela. Eomma rela melakukan apapun bahkan jika harus memotong semua anggota tubuhku asalkan kamu tetap hidup dan bahagia. Eomma akan melakukannya.”

“Aniyo…eomma tidak perlu melakukannya. Aku akan melakukan pengobatan apapun termasuk mengamputasi kakiku asalkan eomma tidak sedih,” ujar Suzy. “Aku akan melakukannya eomma…”

“Tapi bolehkah aku minta beberapa hal dari eomma?”

“Apapun chagi…”

“Bisakah eomma menemaniku tidur setiap malam samapi aku selesai operasi..hemm?” tanya Suzy. “Aku masih merasa takut, dan dengan di peluk eomma begini aku merasa sedikit lebih tenang.” Suzy akhirnya menyadari kepana ibunya selalu menemani Soojin, karena pasti sangat menakutkan bagi Soojin harus hidup dengan penyakitnya itu yang sewaktu-waktu dia bisa kehilangan nyawanya. Dan dengan pelukan ibunya rasa takutanya bisa sedikit berkurang.

“Tentu saja. Eomma akan selalu menemanimu tidur.”

“Dan, aku juga ingin membatalkan rencana pernikahan dengan Jong-in. Bisakah eomma membantuku?”

“Kenapa? Apa kamu takut Jong-in tidak mau menerimamu. Eomma pikir dia bukan orang yang seperti itu.”

“Arra. Hanya saja, Jong-in itu punya masa depan yang panjang dan menghabiskan hidup dengan wanita cacat seperti aku akan membuat masa depannya sia-sia. Dia bisa mendapat wanita yang lebih baik yang pantas untuknya…”

“Tapi kamu adalah yeoja terbaik di dunia. Tidak ada yang lebih baik darimu…”ujar ibunya.

Suzy sedikit tersenyum. Rasanya sangat menyenangkan mendapat pujian dari ibunya dan itu sedikit menghibur hatinya. “Gomawo eomma, tapi bagiman dengan reaksi keluarganya,” tambah Suzy. “jebal eomma bantu aku ne…” tambah Suzy buru-buru saat dia merasa ibunya akan kembali membantahnya.

“Baikalah kalau itu mumu, eomma akan membantumu,” ujar ibunya kahirnya. “Apalagi.”

“Hmm..bisakah eomma terus memelukku seperti ini dan mengelus kepalaku dan juga menyanyikan aku sebuah lagu sebelum aku tidur?… aku dengar dari appa, dulu waktu muda eomma sangat pintar menyanyi.. eoh..”

“Jeball…aku ingin eomma menyanyi untukku. Mendengar eomma menyanyi akan membuatku merasa tenang.”

“tapi aku sudah lama tidak pernah menyanyi…”

“Jeball eomma. Aku ingin mendengar suaramu. Anggap saja ini seperti permintaan terakhir, karena aku tidak tahu apakah operasi nanti akan sukses mengangkat semua kangker itu atau justru sudah terlanjur menyebar…”

“Suzy, jaga ucapanmu! Jangan bicara sembarangan, kamu tidak akan kenapa-napa!”ujar ibunya marah.

“Arrayo, maknya eomma menyanyi ne…”

“Baiklah, kamu mau lagu apa?”

“Dulu sewaktu kecil eomma sering menyanyikan alhu anak-anak untuk Soojin, aku juga mau eomma menyanyikan itu untukku.”

“Arraso, eomma akan menyanyi…sekarang kamu tidur..”

Ibunya mulai menyanyikan lalu Dang Geun Song(lagu tetang wortel) dengan halus, sambil mengelus kepla Suzy dan menepuk pundaknya pelan dengan air mata mengalir.

Ah ah ah
Dang geun song! (Carrot song)
Na bogoshipni? Dang geun! (Do you miss me? Carrot!)
Na saenggakna ni? Dang geun! (Do you think about me? Carrot!)
I love you, you love me
Dang geun! Dang geun! Dang geun! (Carrot! Carrot! Carrot!)

Na joa hani? Dang geun! (Do you like me? Carrot!)
Na sarang hani? Dang geun! (Do you love me? Carrot!)
I love you, you love me
Dang geun! Dang geun! Dang geun! (Carrot! Carrot! Carrot!)

Na haengbok haeyo! Dang geun! (Always be happy! Carrot!)
Na jeul gowoyo! Dang geun! (Always cheer up! Carrot!)
Saranghae saranghae (I love you, I love you)
Dang geun song! (Carrot song!)

Ddae ro nun jja jeung na go (Even though at times you feelirritable)
Ddae ro nun him dul ro do (Even though at times its difficult)
No ekyote onjena oot go it nun nal saenggakhae (Always think of me, who will always be smiling by your side)
Ddae ro nun seul po ji go (Even though at times you feel sad)
Ddae ro nun we ro wo do (Even though at times its lonely)
No ekyote onjenahamgge ha nunnarul saenggakhae (Always think of me, who will always be with you)

Ah ah ah
Dang geun Song! (Carrot song!)

Setelah yakin Suzy tertidur, ibunya berhenti menyanyi dan berbisik pelan.

“Jangan pergi Suzy…jangan pergi anak eomma yang kuat. Eomma akan selalu ada di sampingmu ne… Jangan pernah tinggalkan emma, anak kebangganku.”

TBC

Sory update lama. Soale aku ngerayain natal, jd sedikit sibuk n g sempat ngetik…hehehe

aku tahu ini ceritanya makin aneh dan lebay, tp inilah hasil otakku. n typo bertebaran dmn2… 😀
meski terlambat, merry cristmast buat yg ngerayain ya..

Advertisements

62 thoughts on “SUZY, DON’T LEAVE! Part 3

  1. Sumpah nangis q baca ff ini,bahkan mata q smpe bengkak author.eotokkhae?
    Ff.a keren banget deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s