SUZY, DON’T LEAVE! Part 2

 DONT

Author: Ririn

Genre: Romance. Sad, family

Legt: Short Chaptered

Cast: Bae Sooji as Suzy n Soojin

         Kim Jong in

         Lee Junho

          Jung Soo jung

          And others

Ratting: 17+

Ini Cuma 3-4 chapter dan terinspirasi dari novelnya Mira W yang judulnya Jangan pergi lara. Mira W itu adalah alah satu pengarang favoritku dan jgn pergi lara salah satu tulisannya paling aku suka krn genrenya g terlalu married life (kan biasanya tulian Mira W itu tentang masalah rumah tangga). Jadi bagi yang suka baca tulisan Mira W pasti merasa mirip. Tapi ini versi aku, g benar2 mirip, paling 40% aja mirip (inti dan judul cerita) tp kalau alur, setting, cast  n istila2 di sini buatanku. Dan kata2nya hasil karyaku, tdk mengutip sedikitpun dr Mira W. Happy reading aja deh.

===============================================================================

Part 2

Author POV

Suzy baru selasai mencuci wajahnya dan bersiap-siap untuk stirahat. Ini memang baru jam sembilan malam dan dia sengaja tidur cepat karena hari ini hari yang sangat panjang dan melelahkan. Satu harian dia harus menghadapi beberbagai pasien yang sedikit menyusahkan, belum lagi bertemu Junho. Dan yang membuatnya paling lelah tentu saja Kim Jong-in.  Oh bukan karena sikap menyebalkan dan pemaksa namja itu—karena Suzy sudah terbiasa dengan itu, atau bukan karena namja itu mengajaknya makan dulu baru mengantarnya pulang tapi entah kenapa sejak kejadian di ruang praktenya itu dia tidak bisa mengenyahkan Jong-in dari kepalanya. Namja itu selah-olah seperti parasit yang tidak mau meninggalkan kepalanya. Jadi Suzy berfikir mungkin dia terlalu lelah dan butuh istirahat agar Kim Jong-in mau menyingkir dari kepalanya.

PLETAK….PLETAKK

“HUH!! APA LAGI INI!!”

Makinya kesal saat baru merebahkan kepalanya dia mendengar seperti ada seseorang yang melempar jendelanya. Dalam keadaan biasa Suzy mungkin akan mengabaikannya tapi dia sedang butu konsentrasi untuk mengusir Kim Jong-in dari kepalanya. Dan orang yang bertanggung jawab akan keributan itu akan menangung akibatnya dari Suzy.

PLETAK…PLETAkk.

Suzy membuak jendelanya dan menyiapkan sumpah serapah yang sudah di hapalnya dengan baik—karena terlalu sering mengucapkannya—tapi begitu melihat si pelaku mulutnya hanya menganga dan otaknya jadi macet.

“Akhirnya kamu lekuar juga, aku pikir aku harus menunggu lebih lama lagi,” Ujar Jong-in dengan senyum bodohnya dari ranting pohon yang ada di dekat kamar Suzy.

“Bagaimana bisa kamu ada di situ?” tanya Suzy heran. Pohon itu kan ada di dalam pekarang rumahnya dan rumahnya itu ada pagarnya dan Suzy yakin jam segini pagar rumahnya sudah di kunci. Oh ayahnya bukan orang yang ramah terdap namja seperti Jong-in—menurut Suzy.

“Aku memanjat pagar kemudian memanjat pohon,” Ujar Jong-in polos membuat yeoja di depannya memutar bola matanya kesal. Bukankah pagar rumahnya sangat tinggi dan di lengkapi cctv? Dalam hati Suzy bertekad akan menyuruh ayahnya memperbaiki keamanan rumah mereka. Bila perlu di beri aliran listrik.

“Untuk apa kamu memanjat pohon dan mengganggu waktu istirahatku? Apa kamu tidak takut ketahuan appaku?”

“Tuan Bae? Oh tadi aku bertemu dengannya begitu aku selesai memanjat pagar. Kemudian dia menyuruhku masuk begitu saja.”

“Nde? Appaku melakukannya begitu saja,” tanya Suzy curiga.

“Tentu saja setelah aku bilang aku kekasihmu dan kamu yang menyurku untuk melakukan hal itu demi membuktikan cintaku padamu.”

“Mwo? Membuktikan apa..?” tanya Suzy ragu pada pendengarannya.

“Cintaku padamu, dan dia bilang dia mengerti dan bersimpati padaku karena jatuh cinta pada putrinya,” kata Jong-in santai. “Dia juga bilang aku harus kuat mental dan sabar mengahadi sikap putrinya yang memang agak tidak normal.”

Jong-in terkekeh melihat wajah kesal Suzy. Entah kenapa dia sangat menyukai semua ekspresi yang di kelaurka yeoja itu. Ekspresinya begitu menggemaskan dan  alami membuat dia harus menahan diri untuk tidak meraup yajah cantik itu.

“Tidak mungkin appaku langsung memberikanmu ijin begitu saja setelah memanjat pagar.”

“Oh aku hanya menambahkan bahwa appaku Kin Siwan memberinya salam.” Suzy tersenyum mengejek. Pantas saja appanya tidak menggantung namja sinting tapi menggoda di depannya itu. Kim Siwan adalah CEO tempat appanya bekerja. Intinya appa Suzy itu kepala cabang di perusahaan Kim Siwan. Oh jadi brandalan ini anak konglomerat? Batin Suzy ragu.

“Ck, caramu sangat kampungan. Lalu untuk apa kamu memanjat pohon seperti monyet begitu?”

Jong-in terkekeh, “karena aku merindukanmu. Aku ingin melihat wajahmu sebelum tidur.”

Suzy tidak bisa menghentikan rasa hangat di pipinya mendengar perkataan Jong-in barusan, dasar Kim Jong-in bodoh, apa dia tidak tahu dia hampir saja membunuh Suzy karena hampir kehabisan nafas.

“Ck, dasr pembohong. Baru satu setengah jam yang lalu kamu mengantarku pulang, mana mungkin kamu merindukanku?”

“apa kamu tidak tahu, saat melihatmu pun aku masih merindukanu. Makanya ayo kita menikah saja, biar aku bisa melihatmu setiap saat.”

“Dasar sinting. Kita baru berkenalan seminggu yang lalu bagaimana bisa kamu mengajaku menikah? Apa kamu sedang depresi.” Meski Suzy berkata begitu, dia tidak mampu menolak gejolak kegembiraan di hatinya.

“Memang apa yang salah? Mau baru kenal satu minggu atau seratus tahu toh pada akhirnya kita akan menikah. Itu hanya masalah waktu.”

“Sudahlah berbicara denganmu membuatku semakin tidak waras, lebih baik kamu pulang aku ingin istirahat.”

“Baiklah kamu tidur yang nyenyak dan mimpi indah ya, jangan lupa besok aku akan menjemputmu.” Ujar Jong-in. “Dan ini, aku ingin memberikan ini,” ujar Jong-in sambil meberikan setangkai bunga mawar putih yang kelihatannya masih segar membuat curiga. Mana ada toko bunga yang masih buka jam segini. Dan seandainyapun ada pasti bunga hidupnya tidak sesegar itu. Pasti agak layu sedikit.

Suzy menerima mawar itu—bukan karena dia menerima Jong-in tapi lebih untuk meneliti bunga itu—dengan pandangan menyelidik dan menduga-duga. Terasa familiar…

“Eh…seperti bunga mawar yang ada di taman dekat pagar rumah,” katanya. “Ia, ini bunga yang di tanam Soojin.”

Skakmat! Jong-in terkekeh bodoh menampilkan giginya yang ternyata rapi.

“Tadi bunga itu memanggil-manggilku untuk di petik lalu di berikan padamu.”

“Ciehh, dasar namja pabo. Kalau ibuku tahu kamu melakukan itu paa bunga kesayangan putrinya, aku jamin kamu akan di jadikan daging panggang,” ujar Suzy. “Dan lagi aku tidak suka bunga, aku lebih suka coklat dan boneka.”

“Baiklah, lain kali aku akan membawamu coklat dan boneka saat kita kencan,” Seru Jong-in dari bawah. Entah sejak kapan dia sudah turun dari pohon. Mungkin Suzy terlalu sibuk mengatur jantungnya yang tidak beraturan sehingga dia tidak sadar.

“Ah satu lagi..”tambah Jong-in saat Suzy hendak membantahnya. “Aku sudah berbicara dengan appamu minggu depan aku dan kedu orang tuaku akan datang untuk melamarmu!” kata Jong-in dan langsung berlari kearah pagar meninggalkan Suzy yang melongo seperto orang bodoh. “Aku hanya dapat ijin 30 menit dari appamu sebelum dia menolak lamaranku.”

“Saranghae Bae Suzy!” tmbah Jong-in lalu buru-buru berlari kearah gerbang rumah Suzy.

Begitu Jong-in tidak terlihat lagi, Suzy tersadar dan memegang jantungnya yang berdebar tak takaruan. Ini baru pertama kali dia merasakan perasaan ini. Bahkan saat ciuman pertamanya dengan Junho dulu jantungnya tidak berdebar sekeras dan semnyenangkan ini.

“Sepertinya aku benar-benar sudah sinting karena jatuh cinta pada orang sinting.”

*****

“Morning!”

Suara apaan itu sudah menjadi seperti sarapan pagi yang wajib bagi Suzy selama seminggu ini begitu dia keluar dari gerbang rumahnya. Dan yang melakukan juga masih orang yag sama.

“Kamu terlihat semakin cantik pagi ini,” masih gombalan yang sama. “Pagi ini sebenarnya sangat indah, tapi mereka harus merelakan gelar ter indah padamu. Karena kamu adalah ciptaan Tuhan yang paling indah yang pernah ada.” Oh itu juga masih sama.

“Ini untuk dokter cantikku,” ujar Jong-in sambil memberikan coklat yang di bungkus dengan pita Pink. Nah ini baru yang beda.

“Kamu bilang kamu hanya akan mebriku coklat saat kencan, dan ini bukan kencan!”

“Buatku, setiap bersamamu adalah kencan.”

Oh, lagi dan lagi. Namja itu berhasil membuat dia hampir mati kehabisan nafas, dan ini juga hal yang baru untuk Suzy.

“Berhentilah membual tuan Kim, ini masih pagi. Bisa-bisa sarapan yang baru aku makan akan keluar kembali.”

“Aku sedang tidak membual nyonya Kim. Aku berkata sebenarnya,” jawab Jong-in dengan gaya selengekannya. “Dari pada kamu terus-menerus membantahku, lebih baik kamu masuk ke mobil. Aku tidak punya banyak waktu karena kita harus memeriksakan kakimu sekrang.”

Suzy menggerutu, tapi mengikuti perintah Jong-in juga—toh percuma membantah Kim Jong-in—dan Suzy bertanya-tanya bagai mana bisa Jong-in masih saja menyinggung kakinya padahal dia sudah berusaha berjalan normal—tidak menunjukka kaki pincangnya pada Jong-in—agar tidak perlu melakukan pemeriksaan

“Ohh, aku belum berpamitan dengan ayah dan ibu mertua. Dengan adik ipar juga belum. Tunggu sebentar, aku berpamitan dengan mereka dulu. Aku harus menunjukkan sopan santunku.”

“Berhentilah membual tuan Kim—dan jangan panggil aku nyonya Kim—sebelum aku turun dari mobilmu ini dan naik taksi!”

“Arrasso, arraso. Aku tahu kamu tidak ingin berpisah denganku meski hanya lima menit,” jawab Jong-in yang langsung dapat lemparan kotak tissu dari Suzy. “Eiss kamu sadis sekali. Tapi itu membuatku semakin menyukaimu. Seksi seperti singa betina.”

“Yak, aku sedang menyetir! Berhentilah melempariku!” sungut Jong-in karena Suzy kembali melemparnya dengan sepatu olah raga Jong-in yang sudah berbulan-bulan tidak di cuci—mungkin bertahun-tahun—yang kebetulan ada di mobilnya.

………….

“Kamu langsung ke kantor aja, aku bisa sendiri,” kata Suzy begitu mereka tiba di parkiran rumah sakit. tadi Jong-in menerima panggilan mendadak agar jangan sampai telat ke kantor.

“Masalah kantor tidak terlalu penting, banyak yang mengurusi di sana. Tapi aku harus menemanimu memeriksakan kakimu. Kamu hanya sendirian,” ujar Jong-in cuek membuat Suzy mendesis sebel.

Apa namja ini sedang meremehkannya? Ini di rumah sakit tempat dia bekerja dan semua dokter dan pegawai rumah sakit ini dia kenal. Lagi pula dia sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri sejak kecil.

“Kau meledekku ya? Ini rumah sakit tempat aku bekerja, semua yang kerja di sini adalah kenalanku,” ujar Suzy kesal.

“Kamu itu semakin marah semakin membuatku ingin menciummu,” ujar Jong-in yang langsung mendapat pukulan dari Suzy. “Kalau kamu tidak di temani, aku yakin kamu tidak akan memeriksakan kakimu.”

“Eisss. Aku akan memeriksakannya, tidak usah khawatir. Aku pusing mendengar ocehanmu, lebih baik kamu ergi sekarang.”

“Aku tidak percaya.”

“Aku akan mengabulkan keinginanmu kalu aku tidak memeriksakan kakiku, bagaimana?”

“Hmmm…baiklah. Nanti saat aku mnjemputmu aku ma dengar hasil pemerisaan kakimu. Awas saja kalu tidak.”

*****

Suzy terduduk lemas di tangga darurat rumah sakit tempat dia praktek. Bahkan untuk menopang tangannya sudah tidak mampu sehingga dia hanya bisa bersandar pada dinding rumah sakit.  Air matanya bahkan tidak berhenti mengalir.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Apa salahku, kenapa aku harus begini?”

Kata-kata itu terus-terus dia gumankan begitu dia keluar dari ruangan dokter Jang, dokter spesialis orthopedi(tulang). Dia kembali melihat kertas hasil pemeriksaan kakinya kemarin.

Setelah dia melakukan pemeriksaan—di temani Soojung—dokter Jung langsung curiga dan menduga sesuatu yang buruk melihat bengkak di tempurung lutut Suzy dan tulang kaki kananya yang semakin kurus. Dan setelah melakukan semua pemeriksaan dan melihat hasilnya—tanpa bantuan dokter Jang—dia langsung lemas dan terpaku.

“Bagaimana dengan kemo?” tanya Suzy saat dokter Jang menyatakan kangker tulang kakinya sudah sampai pada stadium akhir.

“Kita akan mengusahakan itu juga. Tapi melihat stadium dari kangker itu, saya khawatir kemo sudah tidak mampu. Kita harus segera mengopereasinya sebelum kangker itu menyebar semakin jauh dan terlambat untuk di tangani,” ujar dokter Jang sedih, apalagi setelah melihat wajah Suzy yang bersaha tenang tapi juga ketakutan. Suzy adalah salah satu mahasiswa favoritnya, karena selain pintar Suzy cukup pintar bergaul dengan dokter-dokter senior.

“Tapi dok, aku akan lumpuh. Aku tidak akan punya kaki lagi,” ujar suzy tanpa ekspresi. Wajahnya masih datar tapi matanya sudah mulai memerah.

Soojung yang menemani Suzy—karena kebetulan Soojung mengambil spesial orthopedy—hanya menatap Suzy dengan iba. Air matanya sudah mengalir dari tadi. Dia tidak menyangka sahabatnya yang paling aktif, cerewt, bawel itu akan kehilangan kakinya.

“Tapi ini jalan terbaik Suzy. kita harus segera melakukannya sebelum menyebar ke tempat lain dan terlambat. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan apa akibatnya.”

“Tapi aku tidak akan punya kaki lagi?”

Suzy tidak siap dengan semua ini dan dia tidak pernah siap. Dari kecil dia terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari kecil dia selalu sehat, dan belum pernah sakit. dari kecil dia yang paling kuat. Soojinlah yang penyakitan, Suzy tidak!

Lalu sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan pada Jong-in. Namja itu adalah namja yang sangat tampan dan masih sangat muda, bagaimana dia bisa hidup bersama Suzy yang sebentar lagi akan mejadi yeoja lumpuh. Apa Jong-in akan menerima keadaannya? Kalau Jong-in menerimanya bagaimana nasib namja itu? Masa depan namja itu begitu cerah.

Dan Suzy akhirnya menyadari dia sangat menyukai Kim Jong-in.

Lalu bagai mana denga Bae Suzy yang kuat. Bae suzy yang mandiri. Bae Suzy yang sehat. Bae Suzy yang….

Air mata Suzy kembali mengalir mengingat nasipnya. Selama ini dia terbiasa melakukan semuanya sendiri dan sebenatar lagi dai berpotensi menjadi manusia cacat yang tidak bisa melakukan apa-apa.

“Suzy-ah, neo gwechana?” ujar Soojung sambil memeluk sahabatnya itu lebut. Dia bisa merasakan kesedihan Suzy. Dia tahu masalah kaki Suzy karena Soojung sedang mengambil spesil orthopedi dan saat pemeriksaan kaki Suzy dia ikut bersama dokter Jang.

“Soojug-ah, apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus aku? Bagai mana aku bisa menjelaskan ini pada semua orang?”

“Suzy…”

Sojung semakin erat memeluk Suzy karena merasakan bahunya yang semakin bergetar kuat menandakan sahabatnya itu sedang berusaha keras menahan tangis. Dia juga tidak tahu harus berkata apa, karena menurut Soojung takdir memang terlalu kejam terhadap sahabatnya itu. Selama ini Suzy tidak pernah mendapat perhatian dari ibunya karena Soojin yang yang punya penyakit sejak lahir dan kekasihnyapun harus dia relakan untuk saudara kembarnya itu. Dan selama ini Suzy hanya bisa merasa menang dari Soojin karena dia lebih sehat dari saudara kembarnya itu, hanya itu yang berusaha Suzy pikirkan agar dia tidak membenci Soojin—tapi Soojung juga tahu meski Suzy sering kesal pada Soojin, suzy sangat menyayangi Soojin. Terbukti terkadang Suzy akan merasakan sakit juga saat Soojin sedang merasa kesakitan ya semacam telepati saudara kembar. Suzy tidak mungkin bisa merasakan itu kalau dia tidak menyayangi saudara kembarnya itu—tapi sekarang Suzy juga sakit. hal yang selama ini dia banggakan sudah hilang. Dan saat Suzy akhirnya bisa menemukan kebahagiaannya bersam orang yang benar-benar sangat ia cintai.

“Kenapa dia harus memilih aku? Kenapa kakngker itu harus memilih kakiku Soojung-ah?” rancau Suzy. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Gwenchana Suzy-ah… kami semua akan membantumu.”

“Tapi aku sebenatar lagi akan lumpuh. Kakiku harus di amputasi sebelum kakengker itu menyebar, itukan yang tadi di katakan dokter Jang!”

…..

Suzy menindari Jong-in. Sudah dua hari ini dia mencari-cari alasan agar tidak bertemu dengan Jong-in membuat namja itu uring-uringan. Dia tahu Suzy sedang menghindarinya. Dia sudah mendatangi rumah sakit tapi katanya dia ijin cuti sampai waktu yang tidak di tentukan, di rumahnya juga dia tidak ada. Saat dia menelepon atau mengerim pesan yeoja itu tidak menanggapinya. Dia tahu Suzy menyembunyikan sesuatu yang besar dan dia harus mencari tahu.

Sudah dua hari dia tidak melihat yeojanya itu dan dia nyaris gila dan membentak semua orang yang mengajaknya bicara. Ini tidak bisa di biarkan, dia harus menemukan yeoja itu secepatnya sebelum dia membunuh orang.

Pada awalnya Jong-in hanya tertarik pada Suzy karena yeoja itu sangat cantik katika dia datang menjenguk  temannya di rumah sakit dan melihat Suzy datang terlambat saat mengunjungi pasien lain. Makanya saat dia mengejar copet dan terluka dia langsung masuk keruangan praktek Suzy—dia bukannya tidak tahu jika terluka harus masuk ke UGD dulu, tapi dia hanya mencari alasa agar bisa berbicara dengan Suzy—tapi siapa sangka saat melihat mata Suzy dia justru terperangkap dan terjebak terhadap pesona yeoja itu dan membuatnya tidak bisa berfikir logis. Bagai mana bisa seorang yeoja bisa membuat hidup Jong-in jadi kacau hanya karena tidak melihatnya. Itu sungguh bukan Kim Jong-in.

Setelah bertanya kesan-kemari—lebih tepatnya ke Sangmoon adik Suzy—kalau Suzy punya sahabat yang namanya Jung Soojung yang bekerja di rumah sakit. dan tanpa berfikir lagi dia menemui yeoja itu, siapa tahu dia bisa mendapatkan informasi.

“Aku Kim Jong-in, kekasih Suzy,”ujar Jong-in begitu dia berhasil menemui Soojung. “Aku ingin tahu tentang Suzy apa kamu tahu dia ada di mana?”

Soojung menatap Jong-in sesaat, menimang-nimang apakah dia harus berkata jujur atau tidak. Dia bisa mehata kepanikan dan rasa frustasi di mata namja itu. “Sudah dua hari ini dia menghindariku, dia tidak ada di rumahnya. Dia juga tidak menganggakat teleponnya dan Sangmoon bilang kamu adalah sahabat Suzy, jadi aku pikir mungkin kamu tahu sesuatu tentangnnya.”

“Aku juga tidak tahu. Terakhir kali aku melihatnya dua hari yang lalu dan ijin karena tidak enak badan. Apa kamu sudah mencarinya di rumahnya?”

“Kalau dia ada di rumahnya aku tidak mungkin bertanya padamu,” ujar Jong-in ketus membuat Soojung heran. Bukankah kata Suzy namja itu selengekan dan tidak bisa serius? Kenapa di mata Soojung dia sangat pemarah.

“Maaf harus membuat anda kecewa tapi aku juga tidak tahu keberadaanya. Dia hany bilang sedang ijin karena sakit selama beberapa hari.”

“Sakit? sakit apa?”

Soojung tergagap, bingung harus menjawab apa. Dia bukanlah orang yang pandai berbohong dan apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan kecuali sedikit berkilah. Dia memang tidak tahu Suzy ada di mana, tapi dia masih berhubungan dengannya hingga tadi pagi.

 “Sepertinya…dia kelelahan. Mungkin dia sedang pergi refresing,” ?” ujar Soojung gugup. “Andakan kekasih kenapa tidak tahu?” Jong-in mendesis kesal mendengarjawaban soojung yang seperti meledeknya.

“Akukan hanya bertanya keadaannya, kenapa kamu seperti meledekku!” ujar Jong-in. “Kalau tidak tahu ya sudah, susah sekali!”

Soojung melongo. Bagaimana bisa Suzy menyukai namja brutal seperti itu. Tampansih, tapi sangat menyebalkan. “Yak! Kenapa kamu jadi marah-marah.”

Jong-in menghela nafas, “Mian, suasana hatiku sedang buruk karena sahabatmu itu tiba-tiba menghilang,” ujar Jong-in menyesal. “Kalau kamu tidak tahu lebih baik aku pulang sekarang, tapi kalau kmau tahu keberadaannya tolong kabari aku,” kata Jong-in sambil menyerahkan kartu namanya.

“Kim Jong-insi!” panggil Soojung saat Jong-in mulai melangkah. “Suzy baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri beberapa hari, setelah itu dia akan kembali. Tidak perlu khawatir,” ujaranya begitu Jong-in menoleh, lalu setelah berkata begitu dia berlalu meninggalkan Jong-in yang bingung.

*****

 “Apa Suzy sudah pulang?” tanya ayahnya pada Sangmoon begitu pulang kerja bersama nyonya Bae.

“Ne, appa. Dia pulang tadi pagi tapi dia di kamar terus tidak mau keluar,”jawab Sangmoon sambil menonton TV.

“Ada apa dengannya apa dia sedang bertengkar dengan Jong-in? Tidak biasanya di seperti itu. Dia bisanya akan membuat ke gaduhan,”ujar ayahnya khwatir.

“Molla,” Ujar Sangmoon mengangkat bahunya. “Tapi tadi siang Jong-in Hyug memang menanyakan tentang noona.”

“Aiss, gadis itu. Dulu saat Junho menikah dengan Soojin aja dia menangis teriak-teriak, kenapa sekarang dia malah mengurung kamar. Dia begini malah lebih mengkhawatirkan. Aku akan melihatnya dulu,”ujar Appanya.

“Dasar yeoja itu, hanya membuat khawatir saja. Sudah besar hanya masalah cinta saja harus menangis,”ujar ibunya sambil duduk di samping Sangmoon.

“Yeobo, kamu tidak boleh begitu. Kalau Soojin saja kamu akan melakukan apa saja. Suzy juga anak kita, dia juga perlu perhatian kita.”

“Tapikan Soojin berbeda dia memang butuh perhatian ekstra!”

“Apa karena Soojin sakit jadi dia dapat perhatian lebih?” ujar Suzy  yang tiba-tiba muncul. “Apa kalau aku kena penyakit parah, eomma juga akan memberiku perhatian lebih? Bagaimana kalau aku mematahkan kakiku sekarang dan jadi lumpuh.” tanya Suzy santai langsung ikut duduk di samping Sangmoon dan merebut remot Tv.

“Suzy, jaga bicaramu!” ujar ibunya marah.

“Waeyo? Akukan hanya bertanya, kenapa eomma marah sekali. Eomma terlalu serius,” ujar Suzy santai dan mulai mengganti chanel tv dan tidak berani menatap mata ibunya. Dia takut jika dia menatap ibunya dia akan menangis.

“Noona aku sedang menonton bola,” gerutu Sangmoon sebal.

“Eiss anak kecil lebih baik kamu belajar biar pintar,” omel Suzy. “Aku mau menonton drama.”

“Noona kenapa kamu jadi menyebalkan,” engus Sangmoon. “Di rumah ini sudah ada noona yang pintar. Soojin noona yang anak baik-baik. jadi biar lengkap harus ada anak yang malas juga.”

“Eiss…bocah ini. mau jadi apa kamu nanti kalau sudah besar.”

“Ohh, noona sekarang tingkamu seperti Soojin Noona yang selalu berfikiran lurus dan sok bijak,” gerutu Sangmoon dan kembali merebut remot tv. Dan tidak lama kemudian kedua kakak adik itu saling rebutan remot Tv.

“Auuuu,” pekik Suzy kesakitan saat remot tv itu tak sengaja jatuh di lutut kanan Suzy. sontak ayahnya yang baru ikut bergabung keruang tv setelah berganti baju dan ibunya yang masih duduk di sofa mengamati tingak ke dua anaknya menatap Suzy heran.

“Waeyo? Kamu kenapa?” taya ayahnya cemas. “Mana yang sakit?”

“Noona kamu jangan berlebhan deh, hanya remot jatuh kekamu saja kamu langsung menjerit begitu,” ujar Sangmoon langsung merebut remot dan mengganti chanel tv.

“Kenapa? Apa kakimu belum sembuh? Bukannya kamu bilang sudah ke dokter. Apa kata dokter?” tanya ayahnya panik, karena Suzy masih meringis kesakitan sambil memegang lututnya.

“Ohh, ia sedikit sakit,” ujar Suzy berusa tersenyum dan menatap ayahnya. Dia berusaha menahan sakit dikakinya yang sanagt luar biasa itu. “Ini efek keseleo yang tidak langsung aku obati jadi lututku sedikit cedera,” bohong Suzy.

“Benarkah? Tapi kenapa lama sekali sembuh. Dan kenapa bengkaknya semakin besar…”

“Ia kakimu juga semakin kurus noona, seperti kaki haramoni-haramoni,” ledek Sangmoon yang langsung dapat jitakan dari Suzy.

“Ia..dokter Jang bilang, harusnya aku dulu istirahat begitu kakuku keseleo dan bukannya banya bergerak. Tapi appakan tahu sendiri bagaimana aku,” ujar Suzy tersenyum. “Gogjongma apaa, ini hanya sebentar. Dokter jang sudah memebriku obat, katanya dalam beberapa hari bengkaknya akan hilang dan kembali normal.”

“Jeongmal?” tanya ayahna masih khawatir.

“Ne, jincha.”

“Tapi kenapa kamu spertinya keskitan sekali?” kali ini ibunya yang bersuara.

“Ini karena dua hari ini aku berpetualang di gunung, jadi kakiku semakin bengkak. Tapi aku sudah ambil cuti dari rumah sakit. aku akan mengobati kakiku sampai sembuh.”

“Lagian noona juga. Sudah tahu kakinya sakit, bukannya istiraha. Sok-sokan mau mai Sky,” celetuk sangmoon.

“Aku hanya ingin menikmati selagi aku bisa,”guman Suzy pelan sehingga tidak ada yang bisa dengar. “Sudahlah aku mau istirahat dulu. Aku lelah.”

“Oh, ne. Istirahatlah,” ujar ayahnya. “Apa perlu apaa gendong?” tawar appanya melihat Suzy yang kesusahan berjalan.

“Aniyo. Dari kecil aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian sesulit apapun itu,”ujar Suzy sambil menatap ibunya. Aku juga ingin melakukan segala sesuatu yang bisa aku lakukan sebalum aku sudah tidak bisa melakukannya.

“Oh, Noona. Jong-in Hyung mencarimu seperti orang gila karena tidak melihatmu. Sebaiknya kamu memberi kabar padanya sebelum dia mengamuk!” sahut Suzy. dia memang tidak memebritahukan siapapun kemana dia pergi—karena tidak ingin di ganggu—dia hanya bilang ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Di baru memberitahu Sangmoon begitu dia tiba di rumah.

“Arraso aku akan meneleponnya,” jawab Suzy sambil melangkah menaiki tangga dengan kesusahan dengan pandangan yang berbeda-beda dari anggota keluarganya. Pandangan geli dari sangmoon karena jalan Suzy yang aneh dan pandangan tidak tega dari ayahnya. Sementara ibunya memandangnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

Dia seorang ibu. Meski dia jarang memperhatikan Suzy tapi dia bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres denga putrinya itu. Naluri ke ibuannyakembali berbicara.

TBC

Maaf ya kalo ceritanya sedikit aneh dan banyak Typo. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengedt ini. aku tahu alurnya agak berantakan (krn aku ngetik langsung n begitu jd aku g edit lagi alias lgsung di publis). Dan kalo ada yg bilang alurnya cpt, itu emang sengaja krn ini emang Short chapter.

Thx for reading.

Advertisements

54 thoughts on “SUZY, DON’T LEAVE! Part 2

  1. Kasian suzy eonni
    part ini brhasil mmbuat q mneteskan air mata .
    Apa yg akan dilakukan zyeonn nanti.a? Akankah dia mrelakan kaki.a untk di amputasi? Aigoo q ingin zyeon sembuh tpi tanpa harus khilangan kaki.a .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s