LOVE is HARD part 9

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

Kim myungso Infinite

Park jiyeon T-Ara

Kim Jong-In

Coi Sulli

Jung Soojung

And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. Part ini paling aneh dan  flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana. Aku tau cerita ini semakin aneh, tp aku berharap tidak terlalu aneh.. ^^. Dan maaf buat yg kecewa.

========================================================================

Part 9

Author POV

Suzy menikmati makan siangnya dalam diam meskipun Sooyeon dari tadi sibuk mengoceh. Dia hanya menanggapi sekali-sekali perkataan gadis  kecil itu. Dia sedang malas banyak bicara—memang sejak kapan Suzy suka banyak bicara?—jadi dia lebih memilih menghabiskan makannya dan membiarkan Myungso yang meladeni Sooyeon.

“Aku senang sekali hari ini. Mani Cuahae,” ujar Sooyeon penuh semangat membuatnya menolak suapan yang di berikan Suzy. “Eomma aku sudah besar, aku bisa makan sendiri,” ujar Sooyeon menolak membuat Suzy menyerah dan membiarkan putrinya itu makan sendiri meskipun mulut dan bajunya belepotan. Sepertinya untuk merayakan kebahagiaannya Sooyeon bertekad untuk belajar mandiri.

“Jinchayo? Apa kamu benar-benar senang hari ini?” tanya Myungsoo.

“Ne. Akhirnya appa mau mengatarku ke sekolah lalu di jemput dan makan bersama dengan eomma. Biasanya kan appa tidak mau kalau aku dan eomma mengajakmu makan bersama,” jawab Sooyeon penuh semangat membuat Myungso terdiam dan melirik Suzy yang cuek saja dan menikmati makannya.

“Mianhae, Sooyeon-ah. Kamu kan tahu pekerjaan appa sangat banyak, appa sangat sibuk. Tapi mulai sekarang appa akan lebih sering meluangkan waktu bersama kalian.”

“Jongmal? Appa tidak berbohong? Yakso.”

“Ne. Yakso.”

“Apa appa tidak sibuk lagi? Apa pekerjaan appa tidak banyak lagi.”

“Aniya, pekerjaan appa masih banyak, tapi buat appa Sooyeon lebih penting.”

“Geure, eomma pasti senang kan?” ujar Sooyeon pada Suzy yang di tanggapi Suzy dengan senyum datar. “Eomma selalu sedih setiap appa menolak makan bersama,” ujar Sooyeon membuat Myungso mengamati Suzy yang hanya sibuk dengan makanannya.

“Mianhae,” Ujar Myungso pelan. Dan Suzy tahu itu ditunjukkan padanya, tapi dia belum juga mengangkat kepalanya untuk menatap Myungsoo. “Mianhae karena membuatmu sedih. Aku berjanji tidak mengulanginya.”

Suzy mengangkat kepalanya dan menatap Myungso, “Gwenchana oppa, itu hanya masa lalu. Kamu memang tidak akan melakukannya lagi karena kita sebentar lagi akan bercerai dan aku sudah tidak akan bersedih karena menunggumu lagi, karena aku tidak akan menunggumu lagi.”

Myungsoo menatap Suzy tepat di matanya saat yeoja itu berbicara seperti itu dan itu membuatnya kecewa karena perkataan Suzy sepertinya sungguh-sungguh dari hati yeoja itu.

“Apa kamu benar-benar sangat marah padaku? Apa aku tidak punya kesempatan untuk itu?” suzy tersenyum miris mendengar perkataan Myungso.

“Oppa, buatmu kesempatan itu selalu ada bahkan kesempatan ke seribu. Tapi aku yang tidak punya kesempatan itu. Kamu juga tahu dari awal aku memang sudah berada di tempat yang salah.”

“Karena itu aku datang untuk memperbaiki kesalahan. Bukan kamu yang berada di tempat yang salah, tapi aku yang membuat kesalahan.”

Suzy meletakkan sendoknya dan menatap Sooyeon yang sedang berusaha memasukkan makanan ke mulutnya setelah berhasil dia menatap Suzy bangga membuat Suzy tersenyum dan mengelus puncak kepalanya penuh sayang. Setelah yakin Sooyeon tidak menyimak pembicaraan mereka dia lalu menatap Myungsoo.

“Oppa sebenarnya dari kemarin-kemarin aku bertanya apa tujuanmu datang kemari kalau bukan untuk mengambil Sooyeon dariku.”

“Aku sudah katakan untuk membawa kalian berdua pulang!”

Suzy terdiam sesaat lalu bertanya lagi, “Pada awalnya aku tersentuh dan merasa senang mendengar jawabanmu. Apa kamu tidak berfikir pernyataanmu itu bisa membuat aku berfikir kalau aku masih ada kesempatan dalam hubungan ini?”

“Itu memang tujuanku,” jawab Myungso pelan tapi tegas membuat Suzy terdiam untuk sesaat dan menatap Myungso dalam.

“Lalu bagaimana dengan Jiyeon? Apa kamu sudah memikirkannya?” seolah tersadar dari mimpinya, pernyataan Suzy barusan membuatnya teringat dengan Jiyeon. Ya, bagaimana dengan yeoja itu? Kenapa dia bisa sampai melupakannya beberapa hari ini. “Seandainya kamu mengatakan ini sebelum Jiyeon muncul, mungkin aku akan bersorak gembira tapi Jiyeon sudah muncul dan buatku kata-katamu itu sudah tidak ada artinya lagi.”

“Jadi Oppa berhentilah membuat semua ini jadi rumit, karena kalau tidak aku yakin aku pasti akan gila.”

………..

Jiyeon meringkuk di ranjangnnya dengan perasaan hancur. Isak tangis memang sudah tidak terdengar dari mulutnya, tapi meski begitu cegukannya belum berhenti akibat terlalu lama menangis. Sebenarnya dia bingung sedang menangisi apa—karena Jiyeon berfikir dia sudah tidak memiliki hati lagi. Jadi apa yang dia tangisi?—dan dia juga bingung kenapa dia bisa begini. Apakah dia menangis karena Pria itu—yang menjadikan Jiyeon selingkuhannya—memukulinya dengan tanpa ampun karena Jiyeon menolak di tiduri, atau dia menangisi dirinya yang terlihat menyedihkan.

Entah apa yang membuat Jiyeon menjadi begini. Selama empat tahun ini dia tidak pernah menolak jika pria itu menidurinya sebanyak apapun pria itu meminta, lalu kenapa sekarang dia jadi merasa jijik dengan pria itu? Kenapa dia bertingkah seolah dia adalah wanita suci?

Kim Myungsoo. Tentu saja karena namja itu.

Ia, sejak bertemu namja itu, pikiran Jiyeon kembali melemah. Keingin untuk kembali mendapatnya tiba-tiba meningkat tanpa bisa di kontrol olehnya. Rasa egoisnya untuk memiliki Kim Myungso merasukinya tanpa bisa di kontrol. Tapi yang jadi masalah apakah namja itu masih mau kembali padanya? Apa namja itu masih mau menerimanya. Luhat saja sekarang perasaan namja itu saja sudah mulai goyah, apalagi saat tahu bagai mana hidupnya yang sesungguhnya.

“Tidak! Dia tidak boleh tahu,” ujar Jiyeon mulai bangkit dari tidurnya. “Aku tidak bisa seperti ini terus-terusan, aku juga berhak untuk bahagia.”

Jiyeon mulai bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia perlu membersihkan wajahnya, menjernihkan pikirannya agar dia bisa berfikir dengan benar.

“Aku bukan Jiyeon yang dulu. Aku bukan Park Jiyeon yang lemah. Aku bisa mendapatkan apapun yang seharusnya aku miliki. Aku harus mendapat kebahagiaanku,” katanya sambl melihat pantulan wajahnya di kaca wastafel. “Aku rela melakukan semua ini untuk mengambil kebahagiaan Suzy agar aku bisa merasakan kebahagiaan. Aku tidak boleh kasihan padanya, hidupku jauh lebih menyedihkan.”

Setelah yakin dengan hatinya, jiyeon meninggalkan kamar mandi dan mulai mencari-cari kopernya. Dia akan kembali ke Korea lagi. Dia tidak mau tinggal di jepang lagi dan jadi manusia hina, dia juga pada pria hidung belang yang menampungya selama ini. Tidak ada yang perlu dia takutkan lagi. toh kalau dia ada di Korea pria itu tidak akan punya kuasa akan dirinya.

Dia harus secepatnya kembali ke Korea sebelum hati Myungsoo kembali berubah. Sebelum namja itu benar-benar memberikan hatinya pada Suzy.

……………..

Tadinya Jong-in akan menghabiskan makan siang dengan ibunya, tapi karena wanita itu terus-terusan meledek dan menyerang kelemahannya—kulit eksotis (baca: hitam) dan bibir seksinya (baca: dower), padahal kulit dan bibir Jong-in kan kesalah ibunya karena mau menikahi ayahnya dan melahirkan Jong-in—membuat jong-in gerah dan semakin kesal dan akhirnya mencarai-carai alasan untuk menghindari ibunya, paling tidak sampai moodnya membaik—dan untungnya ibunya ada urusan tiba-tiba sehingga mereka tidak bisa makan siang bersama. Tapi ternyata kesialannya belum berakhir, karena dia tejebak dengan Coi Sulli si gadis paling cerewet se dunia.

Entah bagaimana dia bisa berada di restoran yang sama dengan Sulli padahal Jong-in sengaja mencari restoran yang jauh dari tempat yeoja-yeoja cerewet dan menyebalkan—macam Sulli dan ibunya—tapi siapa sangkan si Taemin sialan yang membuat janji pada sulli batal datang dan saat yeoja itu hendak pulang manik matanya menangkap Jong-in yang baru masuk restoran dan langsung membajak Jong-in untuk makan siang bersamanya. Lihat saja Sulli belum berhenti juga bicara sejak setengah jam yang lalu..

“…rasanya aku ingin mencabik-cabik leher dan menjambak rambutnya. Bagaimana dia bisa mengajakku makan siang di restoran yang jauh dari salonku dan saat aku sudah di sini, dia tiba-tiba harus ada rapat mendadak. Ku pastikan dia tidak akan bia tidur tenang karena membuatku kesal. Akan aku buat rambutnya gimbal…” umpat Sulli meluapkan kekesalnnya pada namjacingunya Lee Taemin membuat Jong-in mendelik ngeri. Bagaimana Taemin bisa tahan menjalin hubungan dengan yeoja cerewet dan sadis seprti Sulli. Atau jangan-jangan Taemin terpaksa pacaran sama Sulli karena takut di mutilasi yeoj ini? ya..pasti seperti itu.

“…Soojung juga menyebalkan. Aku sedang kesal, dia asik-asikan dengan si Minho manusia paling aneh itu melihat cerry bolossom sambil memberi makan burung. Dasar Minho bodoh! Harusnya kalau Tetem gak bisa datang dia tidak boleh membawa Soojung…” maki Sulli membuat Jong-in kembali bersimpati pada Minho yang polos dan tidak tahu apa-apa. Sulli memang kalau sedang kesal suka berbicara aneh. “Dan Suzy juga tidak berbeda!” Kuping Jong-in yang sudah pengang dan seperti mau tuli mendengar makian Sulli langsung jernih lagi begitu nama Suzy di sebut. “Kenapa dia masih saja mau menemani namja menyebalkan itu. Harusnya dia dan Sooyeonkan menemaniku makan siang…”

“Hmmm…Sulli-ah, apa aku boleh bertanya?” Sela Jong-in setelah setengah jam lebih hanya diam dan berusaha menulikan telinganya.

“Wae? Kamu mau bertanya apa?!” tanya Sulli jutek karen Jong-in mengganggunya meluapkan kekesalannya.

“Tentang hubungan Suzy dan suaminya. Apa kamu tahu kenpa mereka bercerai?” tanya Jong-in hati-hati. Sulli adalah tipe yeoja yang blak-blakan apalagi kalau sedang kesal, yeoja itu suka bicara tanpa di pikir. Berbeda dengan Soojung yang meski tetap cerewet Soojung lebih hati-hati dalam berbicara. Jadi mumpung tidak ada Soojung dia bisa mengorek informasi dari Sulli.

“Tentu saja!” Ujar Sulli dengan gaya angkuh ‘Sok tahu segalanya.’

“Lalu apa alasan mereka bercerai?”

“Karena Suzy ingin bercerai dari Kim Myungso.” Jawab Sulli bangga.

“Aishh…aku juga tahu tentang itu. Yang ingin aku tahu alasannya Suzy ingin berceri dari Kim Myungsoo apa?”

Sulli tersenyum dan mencodongkan badannya ke Jong-in, “Aku akan meceritakannya semuannya padamu tapi jangan beritahukan Soojung ya. Dia bisa membunuhku nanti,” Bisik Sulli saat Jong-in ikut merunduk an mendekatkan wajahnya pada Sulli. Jong-in mengangguk. “Aku menceritakan ini padamu karena aku lebih mendukungmu dari pada suaminya itu.”

“Guare. Kalau begitu ceritakan,” ujar Jong-in sedikit berbisk. Sebenarnya dia heran kenapa mereka berbisik-bisik karena tidak ada orang lain yang mereka kenal di restoran ini. Tapi karena dia butuh informasi dari Sulli terpaksa dia mengikuti permainannya agar Sulli senang.

“Sebelum aku cerita, aku mau sepatu, celana, jaket dan tas koleksi musim dingin kalian dua pasang warna merah dan hijau sebagai bayarannya sebelum produk itu di luncurkan. Aku sudah melihat rancangannya dari file Suzy dan itu memang keren sekali. Aku ingin punya tapi haraganya lumayan mahal.”

Jong-in mendengus. Dia serusanya sudah menebak Sulli akan meminta hal beginian. Sulli itu memang sedikit lemot dan bodoh—menurut Jong-in—tapi entah bagai mana otaknya selalu jalan untuk memeras Jong-in. Dan percayalah ini bukan yang pertama kali Sulli memeras Jong-in.

“Baiklah. Kalau begitu sekarang katakan!” ujar Jong-in mulai kesal.

“ASSA!! Dapat koleksi K.A.I fashion yang terkenal dan mahal itu sebelum di lanunching. Wahh, Jong-inah kamu memang Daebak. Nanti teman-temanku pati iri semua, terutaman Soojung.” Pekik Sulli dan menegakkan punggungnya. “Ngomong-ngomong kenapa kita menunduk dan bisik-bisik?” tambah Sulli.

Jong-in menegakkan punggungnya dan mengumpat dalam hati untuk yang kesekian kali. Damm! Kenapa orang-orang sepertinya janjian merusak moodnya hari ini.

“Kamu ceritakan sekarang atau kamu akan menyesal!” maki Jong-in kesal pada Sulli. Sulli terkekeh.

“Mian, jangan marah dulu akan aku ceritakan…”ujar Sulli tapi belum juga menceritakan tapi malah sibuk tertawa membuat Jong-in menatapnya garang, “Arrasso…arraso. Suzy meminta cerai karena suaminya tidak mencintai Suzy. Kim Myungso menyukai yeoja lain?”

“Mow? Maksudmu namja brengsek itu berselinkuh?” tanya Jong-in heran. “tapi melihat dia mengejar Suzy sampai kesini sepertinya dia menyukai Suzy juga.”

“Itu juga yang membuatku dan Soojung heran. Tapi ini juga tidak bisa di bilang selingkuh. Sebelum menikah dengan Suzy, Kim Myungso sempat menikah dengan yeoja lain dan kalau di pikir-pikir justru karena Suzy mereka bercerai. Tapi ini bukan salah Suzy juga. Ini agak rumit  di ceritakan, aku sampai bingung menjelaskannya.”

“Apa maksudmu. Dia pernah menikah dan justru Suzylah orang ketiga tapi namja itu tidak mencintai Suzy,” ujar Jong-in mendengar pernyataan Sulli yang aneh itu. “Apa mereka tidak sengaja melakukan sesuatu hingga Suzy hamil?”

“Ahh..bukan begitu juga. Suzy dan Kim Myungso menikah karena di jodohkan. Orang tua Kim Myungso tidak menyukai Jiyeon dan memaksa mereka bercerai lalu membuat Suzy dan Kim Myungso menikah.”

“Lalu kenapa Suzy tidak menolak? Sepertinya Suzy bukanlah yeoja yang bisa di paksa.”

“Kamu salah tentang itu. Suzy tipe yeoja yang sangat mudah di paksa. Suzy itu punya kecenderungan mengorbankan perasaan dan kebahagiaanya  demi orang-orang yang di cintainya. Aku dan Soojung mengambil kesimpulan kalau Suzy itu sejak kecil kurang kasih sayang, jadi dia selalu berfikir orang-orang akan mencintainya kalau dia mau mengorbankan perasaannya,” ujar Sulli sedih. “Jadi hanya dengan di ancam sedikit saja dia sudah menyerah.”

“Dia ancam? Di ancam apa?”

“Aku dan Soojung juga kurang yakin tapi dari desas-desus pelayan di rumah Suzy—karena Suzy tidak mau cerita, terpaksa Sulli dan Soojung yang suka bergosip mengorek berita dari pelayan rumah Suzy yang memang sudah akrab dengan mereka—yang kami dengar, orang tua Suzy mengancam akan membuat hidup Jiyeon dan anak Jiyeon menderita kalau Suzy menolak menikah dengan Kim Myungso. Suzy tidak punya pilihan, lagi pula dia menyukai Kim Myungso dan tidak tega melihat namja itu depresi karena di tinggal Jiyeon.”

“Oke, aku mengerti kalau Suzy peduli pada namja brengsek itu karena dia menyukainya. Tapi kenpa dia harus peduli dengan nasip keluarga dan anak wanita yang menikah dengan pria yang di cintainya?” tanya Jong-in heran. Karena cerita Sulli alasan Suzy menikahi Kim Myungsoo lebih codong pada nasib wanita itu dari pada karena alasan cinta Suzy pada Myungso—yang sepertinya hanya alasan tambahan, bukan alasan utama.

“Oh, apa aku belum cerita…kalau Jiyeon itu adalah sahabat Suzy dari kecil?” ujar Sulli heran. “Oh sepertinya belum. Uhmm, Suzy dan Jiyeon itu berteman sejak SD. Dan kami—Sulli dan Soojung—berteman dengan Suzy karena Jiyeon. Jiyeon itu lebih mudah bergaul dan kamu tahulah sepeti apa sifat Suzy yang susah bergaul. Tapi seiringa berjalannya waktu, karena Jiyeon terlalu sibuk pacarn dengan Kim Myungsoo kami lebih dekat dengan Suzy. Dan sepertinya Jiyeon juga sadar kalau Suzy menyukai Kim Myungso, sehingga Jiyeon berusaha bersikap mesra dengan Myungso biar Suzy cemburu. Dan sifat Suzy yang kalu berteman selalu loyal dan tulus membuat aku dan Soojung semakin menyukainya,” jelas Sulli panjang lebar.

“Jadi yeoja itu tahu kalau Suzy menyukainya tapi masih pamer kemesraan?” ujar Jong-in tidak suka. “Apa itu bisa di sebut teman? Kenapa Suzy masih mau memikirkan orang seperti itu? Dan…lalu dimana anak wanita itu sekarang? Apa dia tingga bersama ibunya?”

“Aniyo. Suzy yang merawatnya dan menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri,” jawab Sulli cepat. Dia langsung menutup mulutnya saat Jong-in menatapnya aneh. Dia manyadari kebodohannya. Soojung sudah berkali-kali mengingatkannya, kalau Sulli boleh menceritakan masa lalu suzy, tapi tidak boleh mengatakan pada siapaun Sooyeon itu bukan anak kandung Suzy. Kalau suzy tahu, yeoja itu akan terluka. Bagi Suzy Sooyeon itu seperti jiwannya, saat Jiyeon muncul saja dia sudah sangat kacau dan menagis histeris dan berkata Sooyeon itu dia lahirkan sendiri.

“Jangan bilang, anak itu adalah Sooyeon?” Sulli menutup mulutnya dan menggeleng kuat, tapo Jong-in sudah tahu jawabannya. “Jadi gadis kecil itu bukan anak kandung Suzy?”

“Aku mohon Soojung jangan sampai tahu kalau aku menceritakan ini padamu, aku bisa di bunuhnya,” ujar sulli takut-takut. “Apalagi Suzy.”

“Waeyo?” tanya Jong-in heran.

“Hidup Suzy itu sejak kecil sudah sangat menyedihkan. Dia tidak pernah mendapat kasih sayang sekalipun dari orang yang dia cintai selain neneknya. Tapi neneknya sudah meninggal saat dia lulus sekolah dasar,” ujar Sulli. “Saat dia merawat Sooyeon dan Sooyeon menyayanginya dan menganggap dia ibunya, Suzy seperti lupa diri dan menganggap Sooyeon adalah anak kandungnya dan dia lahirkan sendiri. Dan dia datang kesini karena ketakuta dan ingin sembunyi dari Jiyeon, karena Jiyeon bilang mau mengambil semua yang awalnya jadi miliknya.”

Sulli menarik nafas sebelum melanjutkan, “Suzy merelakan semua tapi tidak dengan Sooyeon. Saat dia tiba di rumah Soojung, dia menangis dan bilang kalau Sooyeon itu anaknya, kalau dia yang melahirkan Sooyeon dan tidak ada yang akan mengambilnya darinya berulang-ulang. Keadaaannya sangat kacau saat itu. Jadi aku mohon, kamu pura-pura tidak tahu aja soal siapa Sooyeon sebenarnya. Aku takut Suzy akan kembali menyedihkan saat orang menyebut Sooyeon bukan anak kandungnya.”

Jong-in menghela nafas. Sejak pertama melihat Suzy dia sudah tahu bahwa yeoja itu sangat menyedihkan dan rapuh tapi dia tidak tahu seberapa dalam lukannya dan serapuh apa yeoja itu. Dan setelah mendengar cerita Sulli, dia tahu Suzy benar-benar sangat rapuh sekali seperti daun kering yang hanya di tiup angin saja akan gugur.

“Arrasso. Aku tidak akan menyinggung masalah itu.” Ujar Jong-in membuat Sulli bisa sedikit bernafas lega.

…………………..

Setelah selesai makan dan keluar dari restoran, manik mata Suzy menangkap Sulli dan Jong-in yang sepertinya baru keluar dari toko kue di samping restoran tempat mereka makan. Suzy bisa menebak pasti Sulli memaksa Jong-in membelikannya cake kesukaannya mengingat bagaimana sikap Sulli, dan di saat bersamaan Jong-in juga melihat Suzy.

“Sulli ajhuma, jong-in ajhusi!” pekik Sooyeon senang melihat dua orang yang di sukainya.

“Oh, Sooyeon-ah, annyeong. Ajhuma baru beli kuae kamu mau?” tawar Sulli sambil mendekati Sooyeon. “Annyeonghaseo Myungsoo-ssi,” ujar Sulli kaku dan sopan pada Myungso sambil menundukkan keplanya.

“Oh..Annyeong,” balas Myungso tidak kalah kaku.

Jong-in juga ikut mendekati mereka dan mengelus kepala Sooyeon. “Ini tadi ajhusi belikan untukmu, kamu maukan?” ujar Jong-in menyerahkan bungkusan yang dia pegang yang seharusnya di belikan untuk Suzy.

“Ne. Gamsahamida ajhusi. Jong-in ajhusi memang Jangg!!” ujar Sooyeon senang membuat Jong-in tersenyum.

“Sooyeon-ah, apa yang kamu lakuka di situ, kita harus pulang,” ujar Myungso kesal karena Sooyeon sepertinya sangat menyukai Jong-in.

“Ne, appa, sebenatar aku mau di suapi sulli ajhuma dulu.”

“Hmm, apa kamu akan kembali kebutik?” tanya Jong-in pada Suzy yang berdiri di samping Myungso.

“Ne, presdir.”

“Bagaimana kalau kita pergi bersama? Aku juga harus kembali kesana,” tawar Jong-in tidak memperdulikan tatapan Myungso yang seperti ingin membunuhnya.

“Tidak perlu, aku yang akan mengan…”omongan Myungso langsung di potong Suzy.

“Baiklah presdir. Aku ikut denganmu saja,” jawab Suzy cepat membuat Myungso semakin mendidih dan Jong-in tersenyum puas. Sementar Sulli menatap ke dua pria itu ngeri dan lebih memilih memusatkan perhatiannya dengan Sooyeon.

“Kalau begitu kajja, apa yang kau tunggu,” ujar Jong-in. “Sulli-ah kamu bisa pulang sendiri kan?” tambah Jong-in pada Sulli. Sulli menatap Jong-in kesal, karena di telantarkan begitu saja, tapi melihat tatap Jong-in dia hanya mengangguk. Untung salonnya dekat sini, kalau tidak dia akan melaporkan Jong-in pada Taemin pacarnya.

Suzy mengangguk dan menoleh kearah Myungsoo, “Oppa aku pergi dulu, aku menitip Sooyeon ne, kamu boleh membawanya satu harian, tapi nanti begitu aku pulang kerja aku akan menjemputnya lagi.” Ujar Suzy lalu menoleh ke arah Sooyeon. “Sooyeon-ah, eomma kerja dulu ne, kamu sama appa aja hari ini ne.” Sooyeon mengangguk lalu memeluk Suzy dan mencium semua bagian wajah Suzy.

“Annyeong,” ujar Suzy pada Sooyeon begitu dia berdiri dan berjalan ke arah mobil Jong-in.

“Berhenti,”pekik Myungso begitu Suzy melangkah ke mobil Jong-in. Suzy berhenti tapi tidak menoleh pada Myungsoo. “Jangan berani-berni melangkah ke mobilnya Bae Suzy, atau kamu akan menyesal.”

Tapi Suzy tidak peduli dan kembali melangkah. “Yak kubilang berhenti!” teriak Myungso semakin kecang saat Suzy berjalan semakin dekat ke mobil Jong-in. “Kamu pasti menyesal Bae Suzy, kamu benar-benar akan menyesal,” teriak Myungso saat Suzy benar-benar sudah pergi bersama mobil Jong-in.

…….

Jong-in menyetir dalam diam sambil sekali-sekali melirik Suzy yang hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Sejak mendengar perkataan Sulli tadi Jong-in merasa semakin ingin melindungi Suzy dan akan berjanji jika bersamanya Suzy akan selalu tersenyum.

“Apa kamu ingin jalan-jalan,” ujar Jong-in memecahkan keheningan.

“Ne?” tanya Suzy heran.

“Aku mengajakmu jalan-jalan. Sepertinya moodmu sedang tidak baik.”

“Aniyo. Aku baik-baik saja.”

“Tapi lihat ekspresimu begitu datar,” ujar Jong-in lagi.

“Ekpresiku memang selalu begini,” jawa Suzy sambil menatap Jong-in.

“Ah, benar juga. Habis tadi aku bersama Sulli yang cerewet aku samapi lupa kalau kamu memang seperti itu,” ujar Jong-in kikuk keudian tertawa hambar. “Lalu bagaimana, apa kamu mau jalan-jalan dulu?”

“Aniyo, aku baik-baik saja. Aku tidak nyaman pergi jalan-jalan saat pekerjaanku menumpuk,” jawan Suzy.

“Baiklah…baiklah,” kata Jong-in mengalah. “Bagaimana kalau makan es crean?”

“Ne?”

“Biasanyakan seorang gadis akan suka makan escream. Dan katanya yang manis-manis bisa membuat suasana hati lebih baik.”

Suzy tersenyum, “Aku bukan gadis lagi, aku sudah memiliki anak,” jawab Suzy. “Tenang aja, suasana hatiku tidak akan mempengaruhi kinerjaku. Dan bagi seorang ibu sepertiku, hanya pekerjaan dan anakkulah satu-satunya cara untuk membuat suasana hati lebih baik.”

Jong-in mentap Suzy sekilas. Dia kembali teringat kata-kata Sulli untuk tidak mengungkit-ungkit masalah Sooyeon bukan anak kandung Suzy di depan yeoja itu.

“Uh, hidupmu sungguh membosankan. Sepertinya kamu membutuhkan seorang Kim Jong-in untuk membuat hari-harimu lebih berwarna.”

Suzy kembali terdiam. Kembali hanyut dalam pikirannya. Dia bukan orang yang berani bermimpi dan berandai-andai ataupun menduga-duga. Dia sudah merasa terlalu lelah dengan hidup yang dia jalani tanpa menambah beban untuk bermimpi. Jadi dia juga tidak berani menduga-duga sikap Jong-in yang sangat baik padanya. Tapi meski begitu, dia tetap merasa aneh dengan perlakuan Jong-in sangat baik padanya. Oke, mereka memang berteman, tapi mereka baru mengenal dan apa yang di lakukan Jong-in sudah melebihi dari apa yang bisa di lakukan oleh seorang teman.

“Kim Jong-insi. Boleh aku bertanya?” tanya Suzy ragu-ragu.

“Ne, tentu saja.”

“Hmm…kenapa kamu sangat baik dan perhatian padaku? Kamu juga banyak membantuku.” ujar Suzy ragu.

“Waeyo. Kenapa kamu bertanya begitu? Apa kamu tidak suka?”

“Aniyo, bukan begitu. Aku hanya belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang lain kecuali Soojung dan Sulli. Jadi aku merasa penasaran kenapa kamu begitu baik pada hal kata Sulli kamu orang paling cuek dan tidak mau tahu urusan orang.”

Jong-in tersenyum dan menatap Suzy.

“Apa aku begitu sering kalian bicarakan? Sepertinya aku benar-benar populer.”

“Mereka berdua memang sering membicarakanmu, bahkan hampir tiap hari.”

“Kamu tidak ikut membicarakanku?”

“Aku tidak terlalu suka membicarakan orang lain,” ucap Suzy membuat Jong-in mendesis pelan. Dasar Bae Suzy aneh. “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Masa kamu tidak tahu sih?” ujar Jong-in penasaran. Masa Suzy sama sekali tidak menyadari perasaannya. “Ck, kamu itu benar-benar terlalu polos, apa sebelumnya belum ada namja yang mendekatimu?”

“Opso. Selain Myungsoo oppa, tidak ada satupun namja yang dekat denganku. memang apa hubungannya.”

“Oh, pantas saja,” jawab Jong-in masih tetap menyetir. Jong-in kemudian menghentikan mobilnya karena mereka memang sudah tiba di butik ibunya. Sebelum menjawab dia menatap suzy lalu memegang tangannya membuat Suzy semakin bingun.

“Karena aku menyukaimu. Karena aku mencintaimu…” ujar Jong-in sambil menatap Suzy.

“…Sejak pertama bertemu….”

TBC

Kl ceritanya aneh aku minta maaf. Awalnya aku g buat begini, tp entah krn apa tiba-tiba aku merubah total ceritanya dan jadinya begini.

Kalau mau jujur dari semua part LIH, part ini yang paling ancurrr bgt..hehehehe. maklum wkt ngerjain ini dulu pas Moodku sedang buruk n ngeditnya juga saat Feel buat ff ini da ilang (tp g ngedit sama sekali..hehehehehe). Tp berhubung byk yg nanya jd aku post. Tp next partnya aku g janji post kapan. Aku mau konsen ke ff Suzy, don’t leave..

Mianhae buat yang kecewa #Bow

Advertisements

70 thoughts on “LOVE is HARD part 9

  1. pkok.a hrus myungzy ya ya thor : D
    klo myungsoo balik ma jiyeon crita.a kya.a agak ga nyambung
    myungppa kan dah suka ma suzy msa blik ma jiyeon, kurang pas gmana gtu thor, hehe
    d.tunggu next.a thor, : D

  2. Thor lanjutttt dong part 10 nya -_-
    lama bgt perasaan thor….

    please thor…. ni ff DAEBAKkkkkk…..
    lanjut ne… okokokok

  3. Aarrgh mying mendidih jong inx malah kesenangan hehehehe,.
    penasaran ma apa yg bakalan myung lakuin ma suzy,.
    langsung lompat next chap thor,.

  4. jd apa suzy eonni akan berubah dan menyukai jong in-ssi?? Trus myungsoo oppa gmana, yaaah udh nyatain perasaan.a lg..aigoo gmana inii…

  5. kira2 apa yg akan myungsoo lakukan agar suzy menyesal krn tak mengidahkan laranganx?????

  6. myungpaa bener” marahh aigoo
    ..
    apa jawaban suzy kira” …

    masih berharapp myungzy kembalii laagii…

  7. mian thor baru komen di part ini, soalnya aku biasa komen klo emg ffnya menarik dan bagus xD btw thor…aku nangis T.T sedih bgt thor idup suzy uri queen. aku suka thor ffnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s