SUZY, DON’T LEAVE! part 1

DONT

Author: Ririn

Genre: Romance. Sad, family

Legt: Short Chaptered

Cast: Bae Sooji as Bae Suzy n Bae Soojin

         Kim Jong in

         Lee Junho

          Jung Soo jung

          And others

Ratting: 17+

Ini Cuma 3-4 chapter dan terinspirasi dari novelnya Mira W yang judulnya Jangan pergi lara. Mira W itu adalah alah satu pengarang favoritku dan jgn pergi lara salah satu tulisannya paling aku suka krn genrenya g terlalu married life (kan biasanya tulian Mira W itu tentang masalah rumah tangga). Jadi bagi yang suka baca tulisan Mira W pasti merasa mirip. Tapi ini versi aku, g benar2 mirip, paling 40% aja mirip (inti dan judul cerita) tp kalau alur, setting, cast  n istila2 di sini buatanku. Dan kata2nya hasil karyaku, tdk mengutip sedikitpun dr Mira W. Happy reading aja deh. oh ya, typo bertebaran d mana2.

========================================================================

part 1

Author POV

“Dasar si tua bangka brengsek!”

Maki seorang yeoja cantik dengan rambut di kuncir sambil berlari-lari di lorong sebuah rumah sakit. Yeoja itu masih saja terus mengumpat dan merapalkan berbagai macam makin yang ada tersimpan di dalam memori otaknya ketika dia sampai dalam sebuah ruangan dengan angka 405 tertera di pintunya.

Dia berheti sejenak, menarik nafas dalam sebelum membuka pintu perlahan dan melangkah sepelan mungkin mendekati gerombolan orang berjas putih yang sedang menglilingi ranjang dengan seorang bocah laki-laki yang sedang terbaring. Yeoja itu mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang sedang terbaring di ranjang bangsal itu dan memusatkan semua perhatian untuk mendekti rombongan itu tanpa di sadari oleh pria paruh baya dengan jas putih yang sekarang sedang sibuk menanyai si anak lelaki tadi.

“Ya..Bae Sooji dari mana saja kamu!” pekik salah satu temannya pelan saat menyadari kedatangan seseorang di sebelahnya.

“Sst!” gadis itu—Suzy—memberi isyarat agar temannya tidak berisik. Temannya itu hendak mengintrogasi Suzy jika tidak tiba-tiba mendengar namanya di sebutkan.

“Jung Soojung, dari pada kamu ribut di situ bagai mana jika kamu saja yang melakukan anamnesa—menayai gejala yang da alami pada pasien— dan diagnosa pada pasien ini,” ujar pria yang menanyai anak laki-laki tadi sambil menunjuk gadis remaja yang berbaring di ranjang sebelah anak laki-laki tadi. Wajah Soojung langsung memucat. Suzy yang telat kenapa dia yang jadi korban, makinya dalam hati. Sementara Suzy tertawa penuh kemenangan dalam hati sambil menatap Soojung tanpa perasaan iba.

Soojung menatap Suzy—temannya yang terkenal pintar—meminta bantuan. Suzy yang mengerti tatatapn Soojung malah mengalihkan matanya dengan angkuh sambil berpura-pura mengamati catatanya yang kosong membuat Soojung berjanji akan membunuh temannya itu.

“Saudara Jung, apa yang kamu tunggu!”

“Ah…ne baik dokter,” ujar Soojung menyerah dan mempersiapkan hatinya mendapat omelan dari dokter Lee, dokter senior yang terkenal sangat galak dan tegas ke dokter muda seperti dirinya.

*****

HAHAHAHAHA

Suzy masih tertawa puas saat melihat raut wajah kesal Soojung yang habis kena damprat dokter Lee karena salah mendiagnosa. Sudah jelas-jelas pasien tadi terkena penyakit Thalasemia dari hasil pemeriksaan darah yang di lakukan eh dia malah bilang cuma terkena Anemia. Dasar Soojung bodoh. Begitu katanya ingin jadi seorang dokter.

“Berhenti tertawa. Kedua penyakit itukan mirip, jadi jangan salahkan aku,” ujar Soojung kesal dan bodoh.

“Ya, jung Soojung. Sejak kapan Anemia menjadi nama sebuah penyakit,” ujar Sooji masih terkekeh membayangkan wajah memerah dokter Lee begitu mendengar jawaban Soojung. “Anemia itu cuma gejala penyakit. Dan lagi hasil pemeriksaan labnya sudah jelas-jelas limpa dan hatinya membengkak belum lagi pemeriksaan darahnya yang banyak di temukan eritrosit immature—Sel darah merah belum matang—seharusnya melihat itu saja kamu sudah curiga kesana.”

Soojung merenggut mendengar penjelasana Suzy. Bukannya dia tidak tahu, tapi melihat wajah galak dokter Lee—yang membuat Soojung bertanya-tanya bagaimana bisa dia menjadi dokter terbaik di rumah sakit mereka dengan wajah begitu—Soojung jadi gugup dan hanya menyebutkan anemia saja.

“Ah, sudah lah berhenti membahas itu,” ujar Soojung kesal. “Tadi kamu kemana aja? Kenapa bisa telat?”

“Ck, tadi aku harus menemani Soojin untuk cek-up. Suaminya sedang ada urusan dan eomma dan appa sedang rapat sementara Sang Moonkan sekolah. Lagipula siapa suruh si tua bangka itu memajukan jadwal Visit—mengunjungi pasien—akukan jadi telat, untung Soojin bisa di jemput temannya.”

“Kalau begitu berterima kasih lah padaku karena sudah memberi tahumu, kalau tidak siap-siap aja dapat E,” ujar Soojung. “Jadi sebagai balas budi, kamu yang bayar makanan ini,” tambahnya sambil tersenyum manis.

“Arrasso. Gomawo Soojungie,” uajar Suzy dengan ekspresi menyebalkan tapi tidak di hiraukan Soojung.

“Ngomngo-ngomong, kamu sudah tidak kesal lagi dengan kembaranmu itu?” tanya Soojung penasaran karena bersedia menemani Soojin Cek-up, padahal baru kemari Suzy bercerita padanya samabil berurai air mata.

“Tentu saja aku kesal dengannya, tapi mau bagaimana lagi. Kalau aku membiarkan dia sendirian Eomma akan membunuhku karena menelantarkan anak kesayangannya itu,”ujara Suzy menikmati makan siangnya. “Lagi pula dia tidak salah, ini semua kesalahan namja bodoh itu.”

“Jadi kamu sudah bisa merelakan pernikahan Soojin dengan Junho?”

“Mau bagaimana lagi, namja bodoh itu menemuiku dan berkata dia tidak tega menolak perasaan Soojin. Dia takut Soojin akan terluka dan kesehatannya memburuk,”ujar Suzy kesal. “Apa yang bisa aku lakukan, Soojin memang selalu berhasil merebut apa yang aku sukai.”

“Rasa cemburumu terhadap kembaranmu kambuh lagi,” ujar Soojung geleng-geleng. “Kalau kamu juga jadi Soojin kamu juga pasti akan mendapatkan perlakuan yang sama.”

“Jadi apa karena dia memiliki jantung yang lemah sejak lahir dia berhak atas semua perhatian dan kasih sayang dan tidak menyisakan sedikitpun untukku?” ujar Suzy sedikit kesal karena orang-orang lebih menyayangi Soojin dan memperhatikannya dan mengabaikannya begitu saja, padahal dia sendiri juga membutuhkan kasih sayang. Dan sekarang sahabatnya Jung Soo Jung juga ikut membela gadis itu.

Dari lahir Soojin memang sudah memliki jantung yang lemah, sehingga perhatian ibunya sepenuhnya terhadap kakak kembarnya itu dan dia hanya mendapat perhatian dari pelayan di rumah mereka. semua permintaan Soojin akan di kabulkan ibunya sementara Suzy tidak mendapat apa-apa. Suzy masih ingat saat Suzy meminta ibunya membelikannya boneka yang sangat mahal dan ibunya memarahinya dan tidak mau membelikannya meski Suzy sudah menangis meraung-raung. Tapi seminggu kemudian dia melihat Soojin yang baru pulang bersama ibunya memamerkan boneka itu di depannya membuat Suzy menatap ibunya dengan tatapan benci dan berjanji mulai hari itu dia tidak akan pernah meminta apa-apa pada ibunya dan akan berusaha mendapatkan keinginanya seorang diri.

Tapi ternyata Soojin tidak hanya berhasil merebut perhatian ibunya, tapi juga Lee Junho teman kecil mereka yang sudah di taksir Suzy sejak lama dan sudah menjalin hungan dengannya selama satu tahun tanpa sepengetahuan Soojin karena Suzy memang tidak cerita dengan Soojin dan lagi pula  saat itu Junho sedang sekolah di luar negri. Setelah junho kembali ke Korea dan Sojin menyatakan perasaanya Junho tidak tega menolak dan terpaksa menerima perasaan Soojin. Saat itu Suzy marah dan angat kecewa tapi lagi-lagi ibunya memaksa untuk merelakan Junho pada Soojin yang pada akhirnya seminggu yang lalu mereka resmi menikah.

“Eiss aku pikir dengan menemaninya cek-up, kamu sudah gak marah dengannya. Tapi ternyata kamu masih kesal ya,” Ujar Soojung. “Oh ya nanti aku pulangnya nebeng ya, mobilku lagi di bengkel.”

“Aku shift malam hari ini. kalau kamu mau nungguin aku, aku gak keberatan.”

“Oh terimakasi, lebih baik aku pulang naik taksi!” jawab Soojung cepat.

*****

Suzy kembali mengumpat dengan sumpah serapah yang jauh lebih kasar. Ingin sekali dia meneriaki ibunya kalau dia tidak ingat tentang sopan santun terhadap orang tua. Dia sudah sangat lelah dan ingin istirahat, bayangkan saja dia jaga malam di rumah sakit dan baru sampai di rumah tapi ibunya langsung menyuruhnya mengantar anak kesayangann itu ke temapat kerjanya.

“Eomma sedang ada rapat pagi-pagi sekali jadi tidak sempat mengantar Soojin,” ujar ibunya. “Kantor eomma dan dan Sujinkan berlainan arah. Jadi kamu antar dia sebentar ne.”

“Eomma, aku sudah sangat capek dan ngantuk. Aku mau tidur,” tolak Suzy. “Suruh dia naik taksi aja, diakan sudah besar sudah menikah. Atau kenapa tidak suaminya saja yang mengantar.”

“Suzy! jaga bicaramu!” kata Eommanya marah. “kamukan tahu keadaan Soojin jadi dia tidak boleh pergi sendirian. Dan Junho sedang keluar negri makanya Soojin menginap disini, jadi tidak bisa mengantarnya.”

“Tapi aku sudah sangat lelah.”

“Eomma sudahlah, Suzy sudah capek. Biarakan dia istirahat, aku bisa naik taksi aja,” ujar Soojin lembut membuat Suzy mual mendengarnya. Soojin sebenarnya sangat baik dan lembut tapi melihat perlakuan orang-orang padanya membuat Suzy kesal padanya.

“Tuhkan dia aja tidak keberatan,” ujar Suzy bersiap-siap masuk ke rumah.

“Tidak ada penolakan! Eomma tidak mau tahu kamu harus mengantarnya ke tempat kerjanya!”

Suzy menatap ibunya kesal. Dia ingin meneriaki ibunya kalau anaknya bukan hanya Soojin, tapi masih ada dirinya. Bukan hanya Sojin yang bisa mati sewaktu-waktu, tapi dia juga bisa. Tapi yang dia lakukan hanya berbalik dan kembali menuju mobilnya dengan kesal membuat Soojin menatapnya dengan perasaan bersalah.

“Eomma, kamu jangan terlalu memeperhatikanku. Kamu juga harus memikirkan perasaannya,” ujar Soojin pada ibunya.

“Eomma hanya khawatir padamu.”

“Tapi eomma Suzy juga anak Eomma.”

“Arraso, eomma mengerti. Lebih baik kamu berangkat sekarang sebelum kamu terlambat. Hati-hati chagi,”ujar eommanya lembut sambil memeluk Soojin. Soojin hanya menghela nafasnya lalu mengikuti Suzy.

“Noona aku ikut!” teriak Sangmon yang berlari dari rumah begitu melihat Suzy masuk kedalam mobilnya. Tanpa aba-aba pria remaja itu duduk di kursi paling depan karena dia tahu Soojin tidak di ijinkan duduk di depan karena jantungnya yang lemah.

“Yak, bocah kenapa kamu juga ikut-ikutan!” ujar Suzy melampiaskan kedongkolannya pada adik laki-lakinya itu.

“Noonaku yang cantik, akukan searah dengan tuan putri itu, jadi aku sekalin ikut,” Suzy terkekeh mendengar kalimat adiknya itu. Untung Soojin tidak mendengarnya kalau tidak dia pasti terkena serangan jantung mendengar ejekan adiknya padanya

 “Pelankan suaramu kalau kanjeng ratu mendengar kamu menghina tuan putri kamu bisa di hukum berat,” ujara Suzy dengan nada mengejek membuat keduanya kembali tertawa.

Sangmoon tidak bisa lagi membalas kalimat Suzy karena Soojin yang sudah masuk kedalam mobil.

“Suzy-ah, mianhae ne jadi merepotkanmu,”ujar Soojin menyesal.

“Sudah tidak usa minta maaf, aku sudah biasa di perlakukan begitu,”ujar Suzy cuek lalu menjalankan mobilnya pelan-pelan.

“Eh, noona, kapan Junho hyung pulang dari Jepang?” tanya Sangmoon pada Soojin.

“Oh, dua hari lagi kurasa. Waeo?”

“Aniya..hanya saja kalinkan belum berbulan madu. Apa kalian tidak akan bulan madu. Masa baru menikah sudah langsung ke luar negri.”

“Oppa memang sedang sibuk dan eomma yang memakasa pernikah di percepat,”ujar Soojin membuat Suzy kembali mendengus kesal. Lagi-lagi ibunya. “Setelah dia pulang kami akan bulan madu ke Jaeju.”

“Jincha?”

“Ne. Eh Suzy-ah. Kapan kamu menyusul. Bukankah kamu bilang akan mengenalkan kekasihmu itu padaku? Kapan dia kemabli ke korea?” sebenaranya Suzy cerita pada Soojin kalau dia punya kekasih yang sedang sekolah di luar negri tapi dia tidak pernah menyebutkan namanya. Dia ingin memberi kejutan pada keluarganya nanti. Tapi ternyata keputusannya itu salah dan dia menyesalinya.

“Dia sudah di korea.”

“Jincha? Lalu kenapa kamu tidak mengenalkannya padaku?”

“Kami sudah putus!”

“Putus! Waeyo? Bukankah kamu bilang kalian saling mencintai?”

“Dia harus menikah dengan wanita lain,” ujar Suzy makin kesal. “Sudah, tidak usah di bahas lagi, membuat aku semakin kesal aja.” Kata-kata Suzy membuat Soojin diam. Suzy mengang sedikit ketus dan galak dan Soojin sudah terbiasa. Tapi entah kenapa sejak sebulan lalu Suzy semakin jutek dan ketus padanya. Belum lagi adik kembarnya itu selalu menghindarinya membuat Soojin merasa sedih.

“Ya noona, kalau kamu menjalankan mebilnya sepelan ini? aku baru tiba di sekolah saat bel pulang sekolah berbunyi,” gerutu Sangmon kesal.

“Yak, kamu tidak lupa dengan pesan kanjeng ratu. Selama anak tercintanya ada di mobil kita tidak boleh berjalan melebihi kecepatan 30km/jam.”

“Ya, Noona eomma kan tidak di sini. Lagi pula aku yakin Soojin Noona tidak keberatan bukan?” tanya Sangmoon pada Soojin.

“Ah, ne. Aki pikir tidak masalah,” ujaranya ragu.

Suzy tersenyum puas ingin mengerjain Soojin, dia mulai menekan kopling dan menambah kecepatan mobilnya dan mulai menyalip beberapa kendaraan di depannya membuat Sangmoon berteriak senang dan Soojin menutup matanya kuat-kuat.

“Noona, kamu memang daebak. Harusnya kamu jadi pembalab saja, tidak usah jadi dokter,”ujar Sangmon puas.

“Sudah jangan banyak bicara, kamu turun sana,” usir Suzy.

“Arraso, aku pergi. Soojin Noona, aku masuk dulu.”

“Ne, belajar yang rajin,” ujarnya sebelum Sangmon berlalu.

“Kamu tidak ingin pindah kedepan?” ujar Suzy begitu Sangmoon turun.

“Kamukan tahu aku tidak bisa duduk di depan,” ujar Soojin.

“Heh, aku benar-benar seperti sopir untukmu,” ujar Suzy mulai melajukan mobilnya.

*****

Tiga hari setelah terakhir dia mengantar Soojin ke kantornya, ibunya kembali merecoki Suzy untuk mengantar Soojin.

“Eomma, aku sedang tidak enak badan,” ujar Suzy.

“Kamu jangan banyak alasan, kamu terlihat baik-baik saja,” ujar Ibunya sambil menyiapkan sarapan di piring Soojin membuat Suzy kembali iri pada kembarannya itu. Ibunya selalu menyempatkan diri untuk Soojin sesibuk apapun dia, padahal sekalipun ibnya tidak pernah menyendokkan nasinya.

“Tapi kakiku sedang sakit, aku malas bawa mobil sendiri,” ujar Suzy. Dia tidak bohong kakinya memang sakit sejak dua bulan terkhir dan semakin hari semakin sakit membuatnya kesusahan tapi bukan itu alasannya menolak mengantar Soojin. Dia hanya malas saja bertemu Junho, mantan kekasihnya itu yang sekarang menjadi suami Soojin. Suzy tidak bisa berbohong, meski dia bilang merelakan Junho tapi dia masih sangat mencintai namja itu. Dan ibunya menyuruhnya mengantar Soojin ke bandar untuk menjemput Junho. Bagaimana ibunya bisa melakukan itu, padahal ibunya tahu perasaannya pada Junho. Oh tentu saja, karena ibunya hanya memikirkan Soojin.

“Kakimu sakit? Sejak kapan. Kelihatannya kamu baik-baik saja,” ujar ibunya cuek masih sambil menyiapkan sarapan Soojin.

Mendengar kalimat ibunya Suzy ingin menangis. Apa setitikpun tidak ada perhatian ibunya padanya? Padahal semua penghuni rumahnya sudah tahu keadaan kakinya dan memaksa untuk memeriksakannya. Tapi ibunya sama sekali tidak tahu? Melihat raut wajah terluka Suzy Sang moon langsung menyahut.

“Kaki Suzy noona sakit sejak dua bulan lalu sewaktu jatuh di kamar mandi.”

“Apa kakim belum sembuh chagiya? Kenapa tidak kamu periksakan?” sahut ayahnya yang baru bergabung ke meja makan saat mendengar tentang kaki Suzy. Suzy hanya diam sembil mengangguk. “Kamu harus segera memeriksakannya sebelum makin parah,”uajra ayahnya khawatir membuat Suzy terharu. Hanya ayahnyalah ang bersikap netral di rumah mereka.

“Ne, Suzy-ah kamu harus segera memeriksakannya. Kalau kamu takut aku akan menemanimu,” kata Soojin ikut khawatir. Dia sudah tahu masalah kaki Suzy tapi karena pernikahannya dia sempat melupakan itu.

“Kakimu sakit sejak dua bulan yang lalu? Aku kok tidak tahu?” kata ibunya dengan nada kaku menatap Suzy.

“Sejak kapan Eomma tahu keadaanku dan Sangmoon. Bagimu hanya Soojinlah anakmu!” ujar Suzy ketus membuat semuanya terdiam. “Aku harus berangkat sekarang. Ini hari pertamaku praktek dan aku tidak mau terlambat,”tambahnya sebelum meninggalkan meja makan yang tiba-tiba jadi kaku.

“Aku juga mau pergi nanti aku ketinggalan Bus,” ujar Sangmoon menyusul Suzy. “Noona tunggu aku, kita naik bus bersama!” teriaknya lagi sambil berlari mengejar Suzy.

Soojin dan ayahnya hanya menghela nafas berat dan menatap ibunya. Perasaan bersalah kembali menghingapinya pada kedua adiknya itu. Gara-gara dia kedua adiknya itu menjadi kekurangan kasih sayang ibu.

****

Suzy berjalan dengan tertatih-tatih keruang prakteknya. Semakin hari kakinya semakin sakit aja.

“Hei Bae Suzy, kenapa dengan jalanmu!” Suara cempreng Soojung langsung terdengar begitu Suzy samapi di lorong rumah sakit. “Kakimu bukannya sembuh eh malah makin parah.”

“Hmmm rasanya makin sakit aja di daerah lututku,”ujar Suzy sambil memegang lututnya.

“Bukannya kamu keseleo di daerah pergelangan kaki? Kenapa yang sakit di daerah lutut?”tanya Sojung khawatir.

“Molla, mungkin karena aku terlalu banya bergerak jadi persendian lututku cedera,”ujar Suzy asal.

“Kamu tidak sebaiknya memeriksanya? Aku khawatir terjadi sesuatu.”

“Aniyo, ini hanya sebentar. Nanti juga sembuh sendiri.”

“Kamu sudah mengatakan hal yang sama sejak dua bulan yang lalu,” ujar Soojung kesal. “Aku tidak mau tahu kamu harus memeriksanya sekarang.”

“Arrasoo aku akan memeriksanya, tapi tidak hari ini. Karena hari ini hari pertamaku praktek sendiri,” kata Suzy. “lain kali saja saat aku punya waktu.”

“Kamu itu! Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu,”oceh Soojung. “Kamukan seorang dokter, kalau kamu saja tidak mau di obati apalagi pasienmu.”

“Arraso ajhuma bawel, aku akan memeriksakannya secepatnya. Kamu dari pada mengoceh lebih baik kamu pergi keruanganmu.”

“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu,”ujar Soojung begitu mereka ada di depan ruangan Suzy.

*****

“Selamat pagi,” Sapa Suzy ramah pada wanita paruh baya yang memasuki runag prakteknya.

“Selamat pagi. Apa anada dokter yang akan memeriksa saya?” tanya wanita itu.

“Ne, nyonya…Han,” Ujar Suzy setelah memeriksa nama pada laporan yang di berikan perawat sebelumnya.

“Anda masih muda,” ujar wanita itu meremehkan membuat Suzy kesal. Apa yang salang dengan muda. Apa doktermuda seperti dia tidak boleh menjadi dokter.

“Iya Nyonya. Saya memang baru di lantik menjadi dokter,”jawab Suzy berusaha ramah meski di merasa kesal. Kenapa orang-orang suka meremehkan dokter muda?

“Dimana dokter Kim biasanya dia yang memeriksa saya.”

“Dokter Kim sedang ada pekerjaan di luar negri jadi untuk sementara saya yang akan menggantikannya.”

“Tapi saya lebih suka dengan dokter Kim!”

Suzy ingi rasanya meneriaki wanita tua yang bawel itu. Meski dokter Kim adalah dokter senior tapi nilainya saat sekolah dulu jauh lebih bagus dari dokter itu.

“Tapi dokter Kim sedang keluar negri dan dia sudah memepercayakan semua pasiennya pada saya nyonya. Jadi saya harap anda juga percaya dengan saya.”

“Tapi…”

“Saya sudah lulus dari pendidikan saya dan sudah mendapat ijin untuk mengobati pasien jadi anda tidak perlu khawatir.”

“Baiklah kalau begitu,”ujar orang itu akhirnya dan merelakan dirinya untuk di periksa Suzy membuat Suzy akhirnya menghirup nafas lega.

Dan nyonya Han bukan satu-satunya pasien yang meragukan Suzy, seluruh pasiennya hari ini melakukan hal yang sama membuat Suzy semakin muak. Dan saat jam sudah menunjukkan angka 5 sore itu, suzy bersiap-siap pulang sebelum pitunya tiba-tiba terbuka dengan kasar.

BRAKKK!!

Kekagetan Suzy semakin bertambah seorang pria berkulita agak gelap—untuk orang korea—memiliki rambut acak-acakan dan badan ang tinggi tiba-tiba masuk keruangannya dengan tangan kiri memegang bahu kanan. Tanpa menunggu aba-aba dari Suzy namja itu langsung menuju rangjang untuk periksanya dan langsung berbaring.

“Apa yang kamu lakukan?”tanya Suzy berusaha menguasai kekagetannya.

“Mencoba berbaring,”ujar namja itu.

“Aku tahu. Tapi kenapa kamu berbaring di situ? Itu untuk memeriksa pasien bukan untuk tempat tidur.”

“Siapa yang mau tidur? aku juga pasien.”

“Tapi jam praktekku sudah habis dan anda tidak ada dalam daftar pasienku hari ini,”ujar Suzy karena dia yakin semua pasiennya sudah dia tangani.

“Ini darurat, aku tidak sempat mengisi kertas bodoh itu. Aku sedang terluka,”ujar namja itu sambil menunjuk lenganya yang sedang ia pegangi.

“Anda terluka kenapa tidak ke UGD dan malah datang kesini?” ujar Suzy panik tapi dengan sigap mengeluarkan kembali peralatannya dan mulai memeriksa orang itu dan membersihkan lukannya dengan antiseptik.

“Aku tidak tahu dimana UGDnya, dan hanya ruangan ini yang tidak ada antriannya,” ujar namja itu sambil mengamati wajah serius Suzy yang mulai membersihkan lukanya.

“Orang bodoh,”guman Suzy. jelas-jelas UGD ada di bagian paling depan rumah sakit ini dan pasti melewati tempat ini jika ingin masuk ke ruangan praktek Suzy. Tapi meski namja itu mendengar dia tidak menghiraukan.

“Tapi sepertinya aku pikir aku tahu alasannya. Karena takdir yang membawaku kesini,”ujar namja itu membuat Suzy jijik. Jika dia tidak ingat tentang sumpahnya sebagi seorang dokter ingin rasanya dia mengambil jarumya dan menjahit mulut namja brandalan itu. Tentusaja berandalan. Apalagi namanya coba kalu seorang namja berpenampilan berantakan, rambut acak-acakan dan sedang terluka. Dia pasti habis berkelahi. “Namaku Kim Jong-in orang-orang memanggilku Kai.”

Suzy berusaha mengacuhkan dan terus berkonsentrasi membersihkan luka namja itu. Dalam hati ia bertanya, apa namja itu tidak kesakitan sama sekali saat dia membersihkan lukanya yang cukup besar itu dan masih sempat-sempatnya menggoda dirinya?

“Dokter cantik, kamu akan semakin cantik kalau kamu sedikit tersenyum.” Lanjut Jong-in lagi. “Ah tapi dengan wajah jutek begitu justru membuatmu semakin menarik, berbeda dari yeoja lain. Aku sudah sering bertemu dokter cantik, tapi kamulah yang paling cantik.”

“Bisakah anda diam? Saya perlu berkonsntrasi membersihkan luka anda,”ujar Suzy berusa formal. “karena luka anda cukup dalan dan lebar jadi saya harus menjahitnya. Ini akan sakit jadi mohon di tahan.” Dan Suzy bisa mendengar ringisan kesakitan saat Suzy mulai menjahit luka itu.

“Kalau kamu yang mengobati, sakit tidak terasa sama sekali,”ujar Jong-in masih berusaha merayu Suzy. “Ngomong-ngomong kamu tidak bertanya tentang asal lukaku ini?”

“Sepertinya terkena pisau.”

“Wah selain cantik ternyata kamu hebat juga,” ujar Jong-in antusias. “Tadi aku memang sedikit berurusan dengan copet dan tidak sengaja pisunya kena tanganku,”ujar Jong-in penuh semangat tapi Suzy sama sekali tidak tertarik. Namja jenis jong-in adalah yang paling di benci Suzy. namja brandalan dan tipe playboy. “Apa kamu mau mendengarkan cerita lengkapnya?”

“Tidak terimakasih!”

Setelah berkutat dengan jarumnya, suzy kahirnya selesai menjahit luka Jong-in setengah jam kemudia. “Selesai!”

“Wah pekerjaanmu sangat memuasakan,”kata Jong-in mengamati hasil pekerjaan Jong-in. “Dokter cantik apa kamu akan pulang sekarang? Bagaiman kalau aku antar.”

“Terimaksih, tapi sudah ada yang menjemputku.”

*****

Sepertinya Suzy harus mengucapkan selamat tinggal pada hidupnya yang tenang. Entah bagimana orang-orang selalu membuatnya kesal, lihat aja sekarng dia baru saja duduk di meja prakteknya setelah akan siang katika tiba-tiba pitu ruangannya di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Dan suasana hatinya semakin buruk melihat si tamu tidak di harapkan itu.

“Mau apa kamu ke sini!” ketus Suzy pada orang itu.

“Aku sedang mengantar Soojin cek-up dan sekalian aku ingin bicara denganmu.”

“Tapi aku sudah tidak ingin bicara denganmu lagi Lee Junho!” ujar Suzy hampir histeris. Meski Suzy sudah berusaha merelakan manja itu tapi dia tidak bisa membohongi dirinya kalau dia masih merasa sakit hati saat memandang Junho.

“Tapi aku mau minta maaf denganmu. Aku tahu kamu sangat terluka tapi kamu tahu aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak tega menolak Soojin, kamu tahukan bagimana kondisinya,” kata Junho dengan nada menyesal. “Aku juga sangat mencintaimu, tapi Soojin…”

“Sudahlah oppa, aku tidak mempermasalahkannya lagi. Aku sudah bisa menerimanya,”Junho sedikit lega mndengar perkataan Suzy. “Tapi kamu harus menjaga Soojin baik-baik. Kalau kamu membuatnya terluka aku akan membunuhmu.” Suzy tahu seberapa berasarpu kekesalan dan ke cemburuannya pada Soojin dia tidak akan tega melihat kembarannya itu sakit. Rasa sayangnya pada saudaranya itu jauh lebih besar dari kebenciannya. Karena itu meski dia sakit hati dia tetap merelakan Junho. Meski selelah apapun dia dia tetap menyediakan waktunya engantar atau menemani Soojin meski harus berdebat dulu dengan ibunya. Tapi itu bukan karena dia tidak mau mengantar Soojin dia hanya ingin membuat ibunya kesal—sedikit berharap dengan ibunya memerahinya ibunya bisa menatap wajahnya bukan hanya wajah Soojin.

“Gomao Suzy-ah, aku senang kalau kamu tidak marah lagi. karena aku juga terluka melihatmu terluka,” ujar Junho. “Berarti hubungan kita bisa jadi sahabat lagi seperti dulu.”

“Aniyo, aku memang memaafkanmu tapi bukan berarti aku sudah tidak sakit hati lagi. hubungan kita sudah berubah, kamu bukan lagi sahabatku tapi kakak iparku,” Ujar Suzy tegas. “Dan aku lebih suka tidak sering-sering melihatmu.”

Sepertinya hari buruk Suzy msih terus berlanjut hingga dia menutup prakteknya karena saat dia sedang mebereskan barang-barangnya tiba-tiba pintunya kembali terbuka tanpa ijin dan rasa jengkel setelah bertemu Juho dan juga dari beberapa pasien rewel yang meremehkannya seolah-olah akan meledak bagai lahar saat namja berandalan itu muncul lagi.

“Kamu sudah mau pulang ya? Berarti aku datangnya tepat waktu. Aku sudah khawatir aja kamu pulabg duluan,” oceh namja itu lega begitu melihat Suzy yang masih di ruangannya. “Apa kamu tahu aku tadi berlari-lari dari parkiran ke sini dan mengabaikan suster cantik yang menyapaku. Kamu harus bersyukur punya namjacingu setia sepertiku.”

Namjacingu?

Suzy menatap orang itu kesal. Seharusnya seminggu yang lalu saat namja itu datang menemuinya dengan tangan terluka harusnya di abaikannya saja kalau dia tahu akibatnya begini. Setelah dia mengobati tangan najma itu—Kim Jong-in—namja itu malah datang setiap hari mengganggunya dan memaksa mengantar jemput Suzy kerja bahkan makan siang. Oh percayalah Suzy sudah menolaknya mulai dari cara halus sampai kasar—dengan melepar namja itu dengan sepatunya hingga menjambak rambut Jong-in—tapi namja itu tidak peduli dan malah menyeret Suzy ke mobilnya. Huh! Selama ini Suzy berfikir dirinyalah orang paling menyebalkan seduni ternyata masih ada yang jauuuhhh lebih menyebalkan. Dan dia sudah berung kali menolak sebutan namja atau yeoja cingu itu tapi lagi-lagi namja itu tidak bisa di bantah. Jadi dari pada lelah sendiri Suzy memutuskan mengacuhkannya saja.

“Wahh aku senang kamu menatapku seperti itu. Terlihat sangat menggoda dan seksih,” oceh Jong-in dengan nada yang mampu membuat perut Suzy mual. Namja sinting! Maki Suzy.

“Kajja! Aku sangat lapar, kita makan dulu sebelum pulang. Karena pekerjaanku begitu banyak aku belum sempat makan dan aku harus lari-lari begitu aku selelsai Meeting agar kamu tidak menungguku,” lanjut Jong-in penuh ceria seolah-olah Suzy akan sangat gembira mendengarnya.

Suzy hanya geleng-geleng dan mulai melangkah meninggalkan meja kerjanya.

“Tunggu, kenapa kakimu belum sembuh? Apa kamu belum mengobatinya?” ujar Jong-in menarik bahu Suzy yang melihat jalan yeoja itu agak sedikit pincang. Sudah satu minggu ini dia melhat keadaan kaki Suzy dan memaksa yeoja itu untuk mengobatinya tapi sepertinya yeoja itu masih mengacuhkannya.

“Itu bukan urusanmu!”

Jong-in menarik bahu Suzy lebih kuat dan mengahadapkan yeoja itu padanya dan menatap tajam Suzy membuat suzy sedikit agak kaget.

“Sudah kubilang kamu adalah yeoja cinguku, jadi semua urusanmu adalah urusanku!”

“Itu hanya menurut pendapatmu. Bagiku kamu bukan siapa-apa.”

Jong-in sedikit menarik sudut bibirnya dan menatap Suzy jahil, “Tapi tidak ada yang bisa menolak Kim Jong-in.” Dan tatapan mata dan senyum miring itu membuat Suzy sedikit bergidik dan ingin melihat senyum itu lebih jelas lagi dan juga terliha uh…mm seksi!

Dasar Bae Suzy sinting! Maki Suzy pada dirinya.

“Aku sudah menyuruhmu memeriksa kakimu kamarin dan kenapa kamu masih belum melakukannya!” kali ini nada suara Jong-in lebih tegas tapi terdengar nada khawatir di sana.

“Aku sibuk, jadi tidak punya waktu untuk hal sepele be…”

“Sepele kamu bilang! Kalau ternyata terjadi sesuatu yang buruk bagai mana… kalau ternyata kakimu patah atau…”

“Aku seorang dokter, aku jauh lebih mengerti apa yang harus aku lalukan dari kamu!” ujar Suzy sedikit kesal dengan kebawelan mulut Jong-in. Yang punya kaki dia kenapa namja itu yang repot?

“Justru karena kamu dokter seharusnya kamu lebih memperhatikan kesehatanmu. Bagaimana kamu bisa menyuruh orang berobat kalau kamu saja malas berobat,” oceh Jong-in lagi. “Pokoknya aku tidak mau tahu sekarng kita harus memriksakannya,” ujar Jong-in mulai menarik bahu Suzy.

“Hei jam segini labnya sudah pulang.”

Jong-in menghentikan langkah kakinya dan berfikir. “Baiklah, besok pagi kita harus memeriksanya. Tidak ada penolakan!”

“Kita?”

“Ya, aku dan kamu. Karena kalau tidak kamu akan menunda-nuda terus!”

Suzy ingin tersenyum senang tapi berusaha di tahannya. Entah kenap melihat perhatian Jong-in yang begitu manis—menurut Suzy—membuat jantung berdebar-debar tak terkendali. Ah belum lagi tatapan mata tajam namja itu yang begitu dekat membuat getaran di kakinya makin kuat. Ah di balik penampilan urakan namja itu ternyata seorang Kim Jong-in memang sangat tampan.

Suzy Bodoh!

Sepertinya benar kata namja itu, tidak ada yang bisa menolak Kim Jong-in.

“Ehem..terserah kamu aja!” ujar Suzy berusah Jutek untuk menutupi kegugupannya. “Toh aku membantah juga bakal percuma.” Ujarnya melepaskan tangan Jong-in dari bahunya dan mendahului namja itu.

“Bagus kalau kamu udah mengerti,”jawab Jong-in sumringah. Meski Suzy berusaha menutupinya dia bisa menangkap nada gugup dalam suara suzy, oh dan tentu saja dia melihat rona merah di pipi putih yeoja itu saat dia menatapnya.

Apa kubilang Bae Suzy, tida ada yang mampu menolakku, ujarnya dalam hati lalu mengikuti Suzy.

TBC

hehehe. maaf ya kl ceritanya aneh. sbenarnya aku masih kena writter block, tp maksain buat nulis. Buat yg nungguin ffku yg lain maaf ya, aku masih malas buat mengetiknya, tp sebenarnya yg Love is hard part 9 sdh aku ketik cm malas aja ngepost krn blm ada mood buat ngelanjut part berikutnya. Kalian tahulah alasannya knp . Aku tahu n suka L itu krn Suzy.  Aku bukan fansnya L dan hanya suka aja, itupun krn di pairingin ma Suzy d luar itu aku sama sekali ga tahu apa-apa ttg L.  Kl bukan krn serin baca ff ttg Suzy aku mgkin g akan tahu siapa itu Kim Myungsoo.

Buat yg suka baca ffku dan fans Kim Myungsoo, aku minta maaf ya, mgkin ffku yg ada Myungnya g bakal aku lanjut lagi, soale feelnya da ilang. Tahukan bagi seorang penulis(meski aku g bs d sebut peulis) feel itu penting bgt. Tapi aku tetap suka L dan tdk membencinya (krn aku termasuk org yg demokratis), kl ada ff ttg mereka aku juga masih suka baca, hy g mood bikin aja.  kl dia da punya pacar rasanya aneh bikin ff ttg dia n d pasangin sama idolaku. Tp kl mau d pasangin ama pacarnya sih ggp kali ya, 😀

Oh ya maaf aku menyinggu ini lg, aku hy kasih info kl ff yg ada Myungnya g bakal aku lanjut ampe aku mendapatkan feel lg.

Advertisements

58 thoughts on “SUZY, DON’T LEAVE! part 1

  1. iiiihhh eomma suzy nyebeliiiiin…
    sumpah.. aku.jengkel bgt baca part pas ada eommanya suzy atau pas soojin sok baik.. klo dia beneran baik.. dia bakal susah payah buat eommanya jg menyayangi yg lain..gak cuma dirinya.. dasar muna.. haha
    mian.. abisnya nyebelin bgt…
    lanjut baca aah

  2. Bagus author ,q suka sma cerita.a apa lagi sma karakter suzy yg jutek gimana gitu dan jong in yg konyol ttpi prhatian
    author izin baca next part.a ne

  3. Kalo dokter nya cantik macem suzy mah para namja pada pura pura sakit wkwk
    Btw salam kenal ya kak puri imnida..lanjut baca ne from kaizy shippers ☆彡☆彡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s