LOVE is HARD part 8

new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

Kim myungso Infinite

Park jiyeon T-Ara

Kim Jong-In

Coi Sulli

Jung Soojung

And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. Part ini paling aneh dan  flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana. Aku tau cerita ini semakin aneh, tp aku berharap tidak terlalu aneh.. ^^. Dan maaf buat yg kecewa.

===================================================================

Author POV all

Part 8

Memiliki impian itu sangat menyenangkan. Tapi impian indahmu itu tidak selalu menyenangkan saat hal itu terwujud, dan itu sudah sering di alami suzy sejak kecil yang membuatnya takut untuk bermimpi. Misalkan ketika kecil dia selalu mempunyai impian memiliki ibu dan ayah, tapi saat dia memilikinya ternyata dia justru berharap tidak memiliki mereka. Dia juga pernah bermimpi punya sahabat sejati dan saat memiliki sahabat dia justru terluka. Dia juga pernah bermimpi menikah dengan pria yang di cintainya, tapi saat impian itu terwujud kalian bisa melihat hasilnya sekarang. Masih banyak impian-impiannya yang terwujud tapi justru membuatnya terluka.

Sejak saat itu dia sudah belajar untuk tidak bermimpi lagi, tapi hal itu tidak bisa menghentikannya untuk bermimpi saat dia menonton drama televisi yang dia tonton. Saat itu dia menonton adegan gadis cantik yang di perebutakan dua namja sehingga kedua namja itu saling berantam untuk memperebutkannya. Tapi hingga dia menikah impiannya itu tidak terjadi—karena tidak ada yang mencintainya—dan seiringnya berjalan waktu dia sudah melupakan impian itu. Dia sudah tidak pernah berharap impian itu menjadi kenyataan karena dia tahu tidak ada pria yang menyukainya selain itu dia juga sudah takut untuk bermimpi dan berharap.

Tapi siapa yang menyangka saat impian itu sudah benar-benar dia lupakan impian itu justru menjadi nyata, dan seperti impian-impian Suzy yang sebelumnya, impian ini juga tidak menyenangkan sama sekali. Sangat tidak menyenangkan saat suaminya—Kim Myungsoo—seperti mau berantam dengan atasan yang juga sahabat barunya—Kim Jong-in—hanya karena ingin merebut perhatiannya—bolehkah kali ini dia berharap seperti itu?—dan juga perhatian putrinya.

Suzy begitu terkejut saat dia keluar dari mobil Jong-in dia melihat Myungso yang berjalan kearahnya dan Jong-in yang sedang menggendong Sooyeon dan tanpa aba-aba langsung menarik Sooyeon dari gendongan Jong-in sambil menatap Suzy tajam—mungkin setajam silet—dan pergerakan paksa dan tiba-tiba itu sontak membuat Sooyeon terkejut dan menangis kecang. Namun begitu, myungso tidak menghiraukannya dan malah menatap Suzy murka. Suzy yang ditatap begitu, merasa badanya sudah menjadi potonga-potonga daging tidak berguna akibat tajamnya pandangan itu, dia sebenarnya tidak ingin bergerak jika bukan karena Sooyeon menangis makin kencang sambil memanggil-manggil namanya karena ketakutan melihat sikap Myungso.

“Oppa…Soo…” suzy bingung harus bertindak apa untuk meminta Sooyeon dari Myungso. Dia benar-benar ketakutan saat ini. “Bo…”

“Eomma…”tangis Sooyeon semakin kencang dan ingin menggapai Suzy tapi Myungso tidak membiarkannya.

“Oppa… Sooyeon..”

“Aku mengijinkanmu tinggal dengan Sooyeon bukan berarti kamu sembarangan mengijinkan orang asing menyentuhnya juga,” ujar Myungso tajam. Suzy hanya diam. Sejujurnya dia masih kesal dengan perkataan Myungso yang terakhir dan sekarang namja itu bertingkah aneh dan sorot matanya membuanya sedikit takut.

“Kim Jong-in adalah atasanku dan juga temanku di kota ini, dia buka orang asing,” jawab Suzy dingin membuat Jong-in tersenyum puas karena yeoja itu membelanya.

“Tapi buatku dia orang asing dan aku tidak mengijinkan putriku berdekatan denganya. Kalau kamu masih melakukannya aku tidak mengijinkan Sooyeon tinggal bersamamu lagi dan akan membawanya pulang sekarang!”

“Kamu tidak bisa bersikap seperti itu. Dia juga ibunya,” ujar Jong-in mulai kesal dengan sikap Myungso.

“Ini bukan urusanmu. Ini urusan rumah tangga kami!” kata Myungso dingin membuat Suzy menatapnya dan bertanya-tanya apa sebenarnya maunya Myungso.

“Kamu hanyalah calon  mantan suaminya dan menyia-nyiakannya. Kamu tidak punya hak lagi mengatur hidupnya…”

“Jong-in si lebih baik kamu pulang saja. Ini urusan kami,” ujar Suzy pada Jong-in sebelum namja ikut emosi. Sikap Myungso memang menyebalkan dan tempramen Jong-in juga tidak terlalu ramah membuat Suzy khwatair akan terjadi keributan yang tidak berguna. “Lebih baik kamu pulang saja. Dan gomawo untuk hari ini,” ujar Suzy sambil tersenyum tulus pada Jong-in membuat Myungso semakin kesal.

“Tapi…” Jong-in ingin membantah saat dia melihat sorot mata Suzy padanya yang memohon agar dia pulang saja. “Baiklah…tapi jika terjadi sesuatu jangan lupa menghubungiku. Kamu tahu aku selalu ada untukmu.” Suzy mengangguk sebagai ucapan terimakasih.

“Gomawo…” guman Suzy pelan saat Jong-in hendak masuk mobilnya.

ʚ

“Omma…appa menakutkan..hikss…aku takut dengan appa.” Ujar Sooyen pelan saat Suzy menidurkan gadis kecil itu. Setelah Jong-in pergi, suzy memberanikan diri untuk menidurkan Sooyen dulu baru namja itu bisa marah dengannya. Malihat raut ketkutan dimata putrinya saat menatapnya, Myungso tidak berkata apa-apa lagi dan langsung menyerahkan Sooyeon.

“Appa hanya sedang kelehan menunggu kita, makanya terlihat marah. Kamu tidak boleh takut dengan appa ne…”

“Aniyo… appa tidak seperti biasanya. Appa sepertinya sedang marah dengaku.”

“Aniya…appa sedang marah pada eomma karena eomma mengajakmu jalan-jalan sementara appa sendirian menunggu kita. Sudah tidak usah di pikirkan, lebih baik kamu tidur saja.”

“Tapi aku tidak mau appa seperti itu. Aku tidak mau appa marah.”

“Arraso…appa tidak marah lagi kalau kamu tidur sekarang. Jadi lebih baik kamu tidur, besok pasti appa tidak marah lagi.”

“Jeongmal?”

“Ne. Makanya kamu harus tidur ne,” ujar Suzy sambil mengelus pipi putrinya.

“Ne, eomma. Jalja..”

“Jalja.” Ujar suzy lalau mencium Sooyen yang mulai menutup matanya lalu membenarkan selimut Sooyeon sebelum menyusul Myungso yang sedang menunggunya di ruang tamu Soojung. Dia menarik nafas berat sebelum berdiri dan meninggalkan Sooyeon yang tertidur.

ʚ

Suzy melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sooyen dan menyusul Myungso ke ruang tamu. Dia melihat namja itu sedang duduk gelisah dengan tatapan menerawang sementara Soojung dan Sulli mengintip Myungso dari dapur dengan tatapan menyelidik samblil sekali-sekali berbisik-bisik. Suzy menghela nafas berat sebelum menghampiri namja itu. Dia sudah sangat letih dan hanya ingin istirahat, tapi melihat Myungso yang sedang menunggunya sepertinya dia harus menyiapkan diri menjadi korban amukan Myungso.

Saat merasakan seseorang mendekat ke arahnya Myungso mendongak dan mendapati suzy berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan datar. Tidak ada senyum sabar khas suzy yang selalu di berikan yeoja itu padanya.

“Bagaimana dengan Sooyeon? Apa dia sudah tidur?” ujar Myungso lembut membuat suzy mengerutkan keningnya heran. Cepat sekali perubahan emosinya, batin Suzy. Tapi toh di jawab Suzy dengan anggukan.

“Mian,” Ucap Myungso sambil berdiri.

Suzy sedikit kaget dengan kalimat Myungso meski dia mampu mengatasinya dengan wajah tenangnya. Melihat amarah Myungso lima belas menit lalu dia sangat yakin namja itu akan memaki-makinya, bukannya meminta maaf dengan nada menyesal. Dan kenapa sikap Myungso satu harian ini membuat dia selalu terkaget-kaget?

“Mianhae, karena membentakmu tadi. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, tapi melihatmu dan Sooyeon yang sepertinya bahagia bersama namja itu membuatku sangat marah,” aku Myungso jujur. Dari tadi dia menimbang-nimbang apa yang akan di katakannya pada Suzy, tapi bersikap jujur sepertinya adalah pilihannya. “Aku tahu aku kenakan tadi. Mianhae.”

“Oppa…”Suzy tidak tahu harus bereakssi seperti apa terhadap pernyataan Myungso. Apakah dia bisa berharap jika Myungso cemburu melihat kedekatannya dengan Jong-in? Dan kemarahann dan ketakutan Suzy yang tadi menguap begitu saja mendengar nada penyesalan Myungsoo.

“Aku tahu kamu pasti lelah dengan apa yang terjadi hari. Lebih baik kamu istirahat saja, aku akan pulang, besok pagi aku akan datang lagi untuk menjemputmu dan Sooyeon.”

“Ne?” tanya Suzy heran.

“Aku yang akan mengantarmu dan Sooyeon besok pagi. Aku sudah dapat hotel di dekat sini.”

“Mwow? Apa oppa sedang sakit?” Myungso langsung menatap Suzy tajam.

“Waeyo? Apa aku tidak bisa mengantar anakku ke sekolah dan istriku kerja?”

“Oppa tidak perlu melakukannya, aku bisa sendiri. Lebih baik oppa segera pulang ke Seoul, pekerjaanmu pasti sudah menumpuk.”

“Aku tidak akan kembali tanpa membawa kalian, kalau kamu khawatir tentang pekerjaanku lebih baik kamu segera ikut aku kembali ke Seoul. Ya sudah leih baik kamu istirahat,” ujar Myungso dan pergi meninggalkan Suzy yag hanya bisa mematung di tempatnya.

Ada apa dengan Kim Myungso? Kenapa sifatnya tiba-tiba berubah? Apa dia bukan Kim Myungso atau Suzy yang sedang bermimpi? Tidak, Suzy harus bagun dari mimpinya, karena dia sudah takut bermimpi, dia takut mimpinya kali ini juga akan berakhir menyedihkan seperti mimpi-mimpinya yang lain.

ʚ

“Apa haya perasaanku aja atau memang Kim Myungso sedang cemburu dengan Jong-in?” ujar sulli pada Soojung begitu Myungso pulang.

“Kim Myungso cemburu? Sama Kai? Mana mungkin. Orang yang cemburu itu karena dia menyukai seseorang sementar Myungso tidak,” jawab soojung sambil mengawasi Suzy yang masih duduk di tempatnya meski Myungso sudah pergi. “Solma…Kim Myungso tidak mungkin tiba-tiba menyukai Suzy setelah sekian lama,” tambah Soojung membuat mereka berdua bertatapan.

“Aniya…aniya. mana mungkin Kim Myungso tiba-tiba suka sama Suzy pas Jiyeon sudah kembali.”

“Siapa tahu saat Jiyeon pergi secara perlahan Myungso sunbae menyukai Suzy tapi tidak menyadarinya dan saat Suzy pergi dia baru sadar.”

Soojung dan Sulli kembali terdiam mencerna perkataan Soojung yang sepertinya masuk akal. Biasanyakan kita akan merasakan sesuatu saat kita kehilangan.

“Kalau begitu apa Myungso sunbae datang kesini untuk mengajak Suzy dan Sooyeon pulang dan kembali berbaikan. Apa mereka akan baikan, tapi kenapa suasanya masih aneh begitu? Tapi gimana dengan Jiyeon apa hubungan mereka sudah berakhir? Meski aku sedikit sebel sama dia tapi diakan juga banyak menderita dan kehilangan dan dia juga pernah jadi sahabat kita.”

“Molla. Tapi Myungso sunbae yang paling menyebalkan, dia seperti namja yang tidak bertanggung jawab. Dia akar masalahnya, tapi kalau akhirnya dia bisa menyukai Suzy aku ikut senang aja, yang penting semuanya selesai.”

“Benar juga, tapi bagai mana dengan Jong-in. Aku lebih suka Suzy sama Jong-in dan berharap mereka menjadi kekasih. Jong-in kelihatnnya benar-benar menyukai Suzy.”

“Ck, makanya jangan sok menjodoh-jodohkan orang. Tapi aku juga lebih suka Suzy dengan Kai. Kai meski sok Cool tapi dia orang yang baik dan menyenangkan, berbeda dengan Myungso Sunbae, meski dia tanpan tapi auranya membuat aku merinding.”

“Ah, kamu juga begitu saat berdekatan Kim Myungsoo? Aku pikir Cuma aku aja. Makanya aku gak mau berdekatan dengannya lebih dari satu menit.”

“Sedang apa kalian disini?” Soojong dan Sulli sontak menatap Suzy yang berdiri di samping mereka berdua yang tengah asik bergosip.

“Eh…sejak kapan kamu berdiri di situ? Bukannya kamu tadi ada di sana ya? Membuatku kaget saja” tunjuk Sulli ke arah Sofa yang ada di ruang tamu.

“Aku mau mengambil minum,” jawab Suzy heran saat melihat raut wajah Sulli dan Soojung yang aneh. “Apa yang kalian lakukan di pintu dapur?”

“Aniya, kami juga mau minum tadi…eh maksudku mau membuat minum untuk Myungso sunbae tapi dia keburu pulang. Apa ini tidak kemalam kalau dia pulang ke Seoul?” jawab Sulli.

“Ngomong-ngomong apa yang dilakukan Myungso Sunbae di Changwon?” tambah Soojung.

“Oh dia akan menginap di hotel dekat sini malam ini,” jawab Suzy sambil menuang air putih. “Dia sedang ada urusan di sini makanya sekalian bertemu dengan Sooyeon.”

“Darimana dia tau kamu tinggal disini?” tanya Soojung lagi salmbil duduk di kursi meja makan depan Suzy yang di ikuti Sulli.

“Molla,” ujar Suzy mengangkat bahunya. “Aku gak sempat bertanyaanya tadi.”

Sulli mendengas sebal dan mengutuk sifat Suzy yang terlalu cuek dan tidak mau tau, padahal dia sudah berharap mendapatkan gosip heboh dari sahabatnya itu. Misalkan Myungso tiba-tiba sadar akan perasaannya dan seperti orang gila mencari keberadaan Suzy dan langsung berlari menemuinya.

“Tadi sepertinya Myungso sunbae tidak suka melihatmu berdekatan dengan Jong-in, apa dia cemburu?” selidik Sulli.

“Aniya, sepertinya dia hanya tidak suka aku membawa Sooyeon terlalu malam sementara dia menunggu kami sangat lama sendirian padahal dia sudah sangat merindukan Sooyeon. Mana mungkin dia cemburu.”

“Tapi melihat raut wajahnya, aku ya…” omongan Sulli di potong oleh Suzy.

“Ck, kamu itu terlalu banyak menghayal. Myungso oppa kalau sedang kesal memang seperti itu. Ya sudah aku capek satu hari ini, aku mau tidur dulu,” ujarnya sambil meninggalkan Soojung dan Sulli dan menuju kamarnya dan Sooyeon. Sementara kedua sepupu itu masih duduk dimeja makan menatap Suzy tidak puas karena sulit sekali megorek infor masi darinya dan akhirnya mereka berdua melanjutakan obrolan mereka dan berandai-andai.

ʚ

Suzy menggandeng tanga sooyeon saat dia hendak mengantar Sooyeon kesekolah sebelum dia berangkat kerja. Sementara Soojung dan Sulli masih sibuk dengan sarapannya saat Suzy akan berangkat, karena dia harus mengatar Sooyeon terlebih dahulu. Namun saat membuka pagar dan berniat masuk ke mobilnya, Suzy di kejutkan kehadiran Myungso yang berdiri sambil bersandar persis di depan gerbang rumah sooyeon.

“Oppa…apa yang kamu lakukan pagi-pagi disini?” ujar Suzy kaget saat melihat Myungso. Mendengar suara Suzy, Myungso yang awalnya menundukkan kepalanya dan menatap Suzy sambil tersenyum membuat Suzy harus berusaha menahan jantungnya agar tidak meloncat.

“Oh, kamu sudah keluar… aku pikir aku akan menunggu lebih lama lagi,” jawab Myungso tersenyum lega karena akhirnya orang di tunggu muncul juga.

“Sedang apa oppa berdiri pagi-pagi disini?”

“Tentu saja untuk mengantarmu dan Sooyeon. Aku sudah mengatakannya tadi malam, kamu belum pikun kan?” ujar Myungso dengan nada bercanda dan menghampiri Suzy dan Sooyeon, sementara Sooyeon sedikit bersembunyi di belakang Suzy karena dia masih takut dengan Myungso.

“Aku sudah bilang, oppa tidak perlu melakukannya.”

“Waeyo? Aku ingin melakukannya,” jawab Myungso.

“Oppa berhentilah menggangguku dan seolah memberiku harapan. Aku tidak mau berharap lebih padamu.”

“Kalau begitu jangan berhenti berharap.”

“Ne?”

“Sudahlah, kamu dan Sooyeon akan terlambat kalau berdiri disini. Sooyeon-ah, kenapa kamu tidak memeluk Appa?” tanya Myungso pada Sooyeon yang masih bersembunyi di belakang Suzy padahal biasnya gadis kecil itu akan berlari dan memeluk appanya. “Kamu tidak merindukan appa?”

Sooyeon sedikit mengintip dari balik tangan Suzy dan menatap Myungso dan memastikan jika ayahnya itu tidak lagi terlihat menyeramkan.

“Appa tidak marah lagi dengan Eomma dan Sooyeon?” ujar Sooyeon hati-hati.

“Ne? Appa tidak pernah marah pada kalian. Ohh apa appa membuatmu takut tadi malam, mianhae ne? Appa hanya sedang lelah,” bujuk Myungso mengingat kelakuannya tadi malam.

“Ne, appa sangat menakutkan. Appa benaran tidak marah kan?” ujar Sooyeon memastikan. “Aku takut kalo appa marah.”

“Ne appa tidak marah, mianhae sudah membuatmu takut,” jawab Mungso. “Lalu, gak ada pelukan buat appa?” tanya Myungso sambi merentangkan tangannya yang langsung di balas Sooyeon seperti biasa.

“Appa bososippo.”

“Appa juga merindukanmu. Kajja sudah waktunya kita berangkat, appa yang akan mengantarmu sekolah,” ujar myungso melepas pelukannya.

“Jeongmal, appa akan mengantarku kesekolah?” ujar Sooyeon sambil melompat senang sementara Suzy hanya diam mengamati mereka berdua.

“Ne…cuahaeyo?”

“Ne…nomu..nomu cuahae. Akhirnya aku akan di antar appa ke sekolah. Kajja,” ujar Sooyeon menarik Myungso dan Suzy di kedua tangannya membuat Suzy hanya diam dan mengikuti Sooyeon. Dia tidak ingin merusak momen kebahagiaan gadis kecil itu.

“Appa tidur di mana semalam? Kenapa tidak ikut tidur di rumah Soojung ajhuma?” tanya Sooyeon begitu mobil Myungso mulai berjalan.

“Di rumah Sojung ajhuma kamarnya sudah penuh, gak ada kamar kosong lagi jadi appa terpaksa tidur di hotel aja,” jawab Suzy yang duduk di samping Myungso sementara Sooyeon duduk kursi penumpang yang di belakang.

“Ah benar juga, kalau begitu kenapa kita tidak tinggal di rumah saja. Kan di rumah kamar nya banyak jadi appa tidak perlu tidur di tempat lain,” tanya Sooyeon polos membuat Myungso tersenyum tipis tapi tak berniat menjawab, karena dia penasaran akan jawaban yang di berikan Suzy.

“Eh…itu…eng…Eommakan sudah pernah bilanga kalau Appa sama Eomma sudah tidak bisa tinggal bersama lagi,” jawab Suzy bingung.

“Waeyo?” tanya Sooyeon membuat Myungso semakin memusatkan perhatiannya pada pembicaraan Suzy dan Sooyeon. “Aku suka tinggal sama eomma dan Sojung dan Sulli ajhuma, tapi aku juga ingin tinggal bersama appa. Aku selalu merindukan appa. Aku janji akan jadi anak penurut asalkan kita bisa tinggal seperti dulu lagi.”

Suzy menoleh kebelakang dan menatap Sooyeon sekilas. Dia tahu memang kejam kalau harus memisahkan seorang anak dari salah satu orang tuanya tapi dia tahu kalau Myungso hanya mencintai Jiyeon dan tidak mungkin memilihnya, lagi pula meski dia tidak mau mengakuinya tapi kenyataannya dia bukalah ibu kandungnya yang cepat atau lambat, mau atau tidak mau Sooyeon akan kembali pada orangtua kandungnya dan dia justru akan terlihat sangat kejam pada Sooyeon kalau sampai dia tetap memaksa menjadi istri Myungso. Dia justru memisahkan Soyeon dari salah satu orang tuanya.

“Sooyeon-ah ini urusan orang dewasa, Sooyeon belum mengerti. Tapi ada sesuatu yang membuat appa dan eomma tidak bisa tinggal bersama lagi, nanti kalau Sooyeob besar Sooyeon pasti mengerti dan ini bukan karena kesalahan Sooyeon tapi ini salah eomma.”

“Kenapa orang dewasa suka sekali melakukan hal yang rumit. Kalau eomma berbuat kesalahan eomma hanya perlu minta maaf pada appa, appa pasti memaafkan, eomma kan sering bilang begitu. Lalu kita bisa tinggal bersama lagi. Benarkan appa?” taya Sooyeon pada Myungso yang dari tadi hanya diam sambil mnyetir.

“Tapi Sooyeon-ah ini bu…”omongan Suzy langsung di potong Myungsoo.

“Appa tidak marah pada eomma, justru appa yang berbuat salah makanya eommamu tidak mau tinggal bersama appa,” sahut Myungso membuat Suzy menatapnya aneh dan membuat Sooyeon semakin bingung. “Kalau kamu mau tinggal lagi dengan appa kamu harus mau membujuk eommamu agar mau tinggal bersama appa.”

Suzy menatap tajam Myungso dan ingin menanyakan apa maksud pertanyaan Myungso dan dia juga ingin bertanya bagai mana dengan Jiyeon? Tapi mengingat ada Sooyeon ada di mobil itu dia hanya mengatupkan mulutnya.

“Eomma appa tidak marah kalau begitu, jebal kita tinggal bersama appa lagi ne?” bujuk Sooyeon mendengar perkataan Myungso.

Suzy menarik nafasnya panjang, “Sooyeon-ah kita sudah ada di depan sekolahmu, lebih baik kita turun sekarang,” ujar Suzy yang memang sudah ada di depan sekolah Sooyeon.

“Ah, matta kenapa cepat sekali,” ujar Sooyeon dengan nada sedih. jarang-jarang dia bisa mengobrol dengan kedua orangtuanya. Gadis kecil itu lalu mengambil ranselnya dan turun dari mobil Myungso di bantu Suzy karena kakinya yang masih pendek hingga dia agak kesulitan turun. “Eomma, appa aku masuk dulu,” ujar Sooyeon sambil mencium Suzy dan Myungso bergantian.

“Ne, hati-hati dan belajar yang rajin,” jawab Myungso.

“Jangan nakal ya…dan nanti tunggu eomma menjemput di didalam aja, jangan berkeliaran dan berbicara dengan orang asing. Arrasso?” nasehat Suzy.

“Ne Arrasso. Appa, eomma Annyeong,” ujar Sooyeon masuk kesekolahnya sambil melambai yang di balas Suzy dan Myungso.

“Kajja,” ujar Myungsoo pada Suzy begitu Sooyeon benar-benar masuk ke kelasnya. “Aku akan mengantarmu ke kantor dan jangan membantah atau aku menarikmu dan tidak mengijinkanmu kerja. Aku punya hak untuk itu, karena aku masih suamimu, ingat!” ujar Myungso yang melihat hendak membantah. Terpaksa Suzy mengikuti Myungso kemobilnya tanpa suara.

Sepanjang perjalanan ke kantornya, hanya hanya keheningan yang menjadi latar Suzy dan Myungso. Sejak awal memang Suzy aslinya pendiam ditambah dia masih kesal dan heran dengan sikap Myungso yang tiba-tiba aneh membuatnya semakin enggan memulai pembicaraa. Takut-takut dia akan membuat dirinya syok lagi akan sifat Myungso yang lain. Dan sejak kejadian kemarin suasan canggung yang sunyi yang biasanya mereka alami semakin mendominasi.

Lain lagi dengan Myungso. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa canggung dan salah tingkah hanya berduaan dengan suzy, dan yang membuatnya semakin bingung kenpa seolah-olah dia sangat ingin menempel dengan Suzy dan seolah-olah tidak ingin bercerai. Bukankah itu yag dia inginkan selama ini? dan kenapa juga dia tidak suka istrinya itu berdekatan dengan namja lain? Sebenarnya ada apa dengannya? Sejak kapan Bae Suzy mampu memprorak-porandakan emosinya? Apa dia sudah sinting atau kena karma.

“Oppa Gomawo,” ujar Suzy saat sudah tiba di depan kantornya.

“Aku akan menjemputmu saat makan siang dan menjemput Sooyeon lalu kita makan siang bersama,” ujar Myungso sebelum Suzy benar-benar keluar dari mobilnya. Suzy menatap Myungso sekilas sebelum dia mengangguk. Dia sedang malas membantah Myungso karena dia tahu pada akhirnya namja itu akan memaksa sampai dia menyerah. “Kalau begitu hati-hati dan selamat bekerja,” tambah Myungsoo sebelum pergi dan membuat Suzy kembali terbengong-bengong.

ʚ

Jong-in menatap Suzy yang sedang berjalan ke ruangannya dan terlihat murung. Dia tadi melihat Suzy di antar suami atau mantan suaminya dan Jong-in tidak menyukainya. Semalaman dia tidak bisa tidur karena khawatir pria bodoh—menurut Jong-in—itu menyakiti Suzy, tapi melihat ekpresi namja itu spertinya semuanya baik-baik saja meskipun ekspresi Suzy terlihat datar—seperti biasa—tapi sepertinya hubungan mereka semakin baik dan seharusnya jong-in merasa senang karena Suzy baik-baik saja, tapi entah bagaiman dia malah tidak suka. Dia justru berharap namja itu menyakiti Suzy agar yeoja itu semakin membencinya dan Jong-in memiliki peluang yang semakin besar.

“Suzy, Bae Suzy?” suzy langsung menoleh begitu namanya di panggil.

“Ne..presdir, ada apa?” tanya Suzy sopan.

“Aniya, aku hanya bertanya bagaimana semalam, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Jong-in basa-basi.

“Saya baik-baik saja presdir. Gamsahamida telah menghawatirkanku.”

“Hmm, bagus kalau begitu. Lalu bagaimana dengan koleksi kita musim ini? apa sudah masuk ke bagian produksi?” Jong-in sebenarnya masih ingin bertanya lebih jauh tentang kejadian tadi malam, tapi dia tahu Suzy akan menolak menjawab kalau dia membahas masalah pribadinya apalagi ini masih di kantor. Terpaksa dia membahas masalah pekerjaan yang penting mereka bisa mengobrol.

“Sudah presdir. Begitu presdir menandatanganinya saya langsung menyerahkannya kebagian produksi dan keuangan. Semuanya berjalan lancar dan sekarang para desainer sedang mempersiapkan kompetisi untuk menjadi desainer tetap.”

“Ah benar tentang kompetisi desainer itu, aku berharap kamu melakukan yang terbaik. Aku memang tidak terlibat langsung dengan itu, tapi dalam penilaian aku juga ikut ambil bagian. Jadi aku berharap kamu dan para desainer lain tidak mengecewakanku, karena perusahaan ini benar-benar butuh desainer baru.”

“Algashamida, presdir. Saya dan para desainer lain pasti akan melakukan yang terbaik. Presdir tidak perlu khawatir.”

“Bagus kalau begitu,” jawab Jong-in. “Oh ya aku lupa desainer Kim tadi memintamu ke butiknya jam makan siang, katanya ada hal yang ingin dia bicarakan tentang rancanganmu yang baru.”

“Baiklah, saya akan kesana setelah selesai rapat,” jawab Suzy sambil melihat jam tangannya dan setengah jam lagi dia dan para desainer lain memang ada rapat  dengan bagian produksi, keuangan dan advertasing perusahaan mereka.

“Oh, rapt tentang konsep iklan dan konsep koleksi terbaru kita itu ya?” tanya Jong-in. “Aku juga ikut rapat itu, bagaimana kalau kita pergi bersama,” ajak Jong-in. “Setelah itu baru kita pergi kebutik desainer Kim.”

“Aku juga ada urusan dengan eomma tapi karena rapat ini aku harus ke kantor dulu, dan tadi aku melihatmu tidak membawa mobil jadi sekalian saja kita pergi bersama,” tambah Jong-in saat Suzy menoleh padanya. Diakan punya kemampuan mebaca pikiran Suzy jadi meskipun yeoja itu tidak bertanya Jong-in sudah tahu.

ʚ

“Bagaimana tadi malam, apakah namja itu melakukan yang gak menyenangkan,” kata Jong-in untuk menghilangkan kesunyian diantara mereka. sekarang mereka memang sedang dalam perjalanan ke butik ibunya Jong-in.

“Gwenchana, tidak terjadi apa-apa. Itu hanya masalah rumah tangga kami, dan aku minta maaf karena anda melihat situasi tidak menyenangkan itu,” jawab suzy. Dia memang sedang sedikit malu pada Jong-in saat atasnya itu melihat pertengkarannya dengan Myungso. Siapa yang tidak malu jika ada orang luar yang melihat dia sedang bertengkar dengan suaminya. Suzy adalah yeoja yang menghargai sopan santu dan tata krama yang mana dia tidak mau masalah interen keluarganya harus dilihat orang, cukup dia pendan sendiri semuanya.

“Kamu janga terlalu formal padaku kalau kita sedang tidak di kantor,” tegur Jong-in lagi untuk kesekian kalinya. “Bagulas dia tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu. Aku tidak heran kalian akan bercerai sepertinya dia adalah pria kasar, bagaimana bisa kamu menikah dengannya.”

“Mianhae Jong-inssi sebelumnya kalau aku kasar, Myungso oppa bukanlah namja yang kasar, dia hanya sedang banyak pikiran makanya begitu. Jadi jangan berfikiran jelek tentangnya. Kami bercerai tidak ada hubungannya sama sekali dengan sikap kasar Myungso oppa.”

Jong-in menatap Suzy sekilas. Dia tidak suka Suzy membela pria brengsek itu. Dan meski Suzy membelanya dia, sekali lihat saja Jong-in sudah tahu kalau namja itu adalah namja pengecut yang brengsek.

“Lalu sedang apa dia di sini? Dan kenapa dia masih mengatur-aturmu sementara kalian sudah hampir bercerai.”

“Kami belum benar-benar bercerai karena ada masalah dengan perceraian kami jadi Myungso oppa masih punya hak melakukannya. Dan sebagi istrinya aku wajib menuruti perkataannya,” jawab Suzy sambil memandang lurus jalanan di depannya. Kemudian menoleh pada Jong-in, “Tapi bisakah kita tidak membicarakan masalah keluargaku? Aku sedikit tidak nyaman,” ujar Suzy. “Dan aku juga tidak pernah membicarakannya pada Soojung dan Sulli meski mereka adalah sahabatku,” tambah Suzy buru-buru saat dia tahu jong-in hendak membantah dan menggunakan kata ‘teman’ sebagai alasan. Sepertinya kemampuan membaca pikiran juga sudah di miliki Suzy.

“Baiklah kalau begitu maumu. Lalu kita membicarakan apa?”

“Lebih baik kita diam saja,” jawab Suzy membuat Jong-in menatapnya sebal.

“Aku tidak suka diam, rasanya aneh,” sungut Jong-in.

Suzy menatap Jong-in, “Tapi Sulli dan Soojung bilang anda orangnya ang cool dan tidak terlalu suka banyak bicara?”

Jong-in terkekeh. Merasa senang karena sepertinya dia terlibat dalam pembicaraan Suzy dan yeoja-yeoja bawel itu. Apakah mereka juga membicarakan karismanya? Tanya jong-in dalam hati.

“Ah itu hanya pada orang tertentu,” jawab Jong-in santai. “Bianya aku selalu bertemu orang-orang bawel dan ceret jadi meski aku gak banya bicara sudah ada yang membuat ribut, kalu dalam kasusmu kan beda. Kamu kalu tidak di ajak bicara, sampai matipun kamu hanya diam saja. Seperti ada di kuburan, membuat merinding.”

Suzy tersenyum sekilas mendengar Jong-in yang berbicara sangat panjang dengan nada lucu karena kalau menurut cerita Sulli dan Soojung—yang memang sering membicarakan Jong-in—atasannya itu adalah namja yang cool dan ketus. Dia memang adalah penahluk wanita tapi bukan jenis namja yang suka menggombal dan umbar janji dan kedua sahabatnya itu pasti akan terkena serangan jantung kalau melihat Jong-in yang sangat cerewet dan bawel, oh.. jangan lupaka sedikit merajuk.

“Jadi kamu jangan terlalu pendiam, biar aku tidak berubah jadi namja bawel. Karismaku bisa hilang kalau ada yang tau aku jadi bawel ne. Seharusnya yang cool itu namja bukan malah yeojanya,” Suzy melebarkan senyumnya saat Jong-in kini memasang aegyo yang benar-benar menyedihkan. Kalau mau tau coba bayangkan orang hutan yang sedang tersenyum (peace buat fansnya Kkamjong, diakan suamiku jd suka-suka aku dong bikin dia seperti apa 😛 …Kaburr).

“Mianhae jong-inssi, tapi itu memang sudah sifatku. Aku agak kesulita kalau memulai pembicaraan.”

“Huh! Bagaiman mungkin kamu bisa berteman dengan Sojung apalagi Sulli yang mulutnya seperti pantat ayam. Kamu harus banyak bergaul dengan mereka.”

“Ne.”

“Ais, susah sekali berbicara enganmu. Baru juga di nasehati sudah mulai lagi,” protes Jong-in. “Pokonya kalu bersamaku kamu tidak boleh hanya menjawan satu kata apalagi tidak bersuara.”

“Ne, Jong-inssi.”

“Tuh Mulai lagi.”

“Itu dua kata Presdir. Aku kan hanya di larang mengucapkan satu kata,” ujar Suz membela diri membuat Jong-in menggeleng frustasi. Tapi dalam hati di bersyukur bisa membuat Suzy tersenyum.

“Ah..akhirnya sampai juga,”kata Jong-in begitu dia tiba di butik ibunya.

…………..

“Oke, nanti kita lanjutkan lagi, sekarang waktunya makan siang dulu. Suzy bagai mana kalau kita bertiga makan siang bersama,” ujar desainer Kim sambil menunjuk Jong-in yang sedang sibuk dengan laptonya pada Suzy saat jam makan siang tiba.

“Mianhae kepala tim, tapi aku harus menjemput putriku dulu dan berjanji makan siang bersamanya,” ujar Suzy sungkan karena harus menolak tawaran atasnnya.

Mendengar kalimat Suzy Jong-in langsung menoleh, “Oh, kamu mau menjemput Sooyeon ya? Kalau begitu biar aku antar, kamu tidak bawa mobil kan?”

“Gamsahamida sajangnim, tapi tidak perlu. Sebentar lagi akan ada yang menjemputku, dia sudah dalam pejalanan,” tolak Suzy. Raut wajah Jong-in langsung berubah saat menebak siapa orang itu. “Ah, sepertinya dia sudah datang,” lanjut Suzy saat ponselnya berdering dan melihat nama si penelepon dan buru-buru mengangkatnya.

 “Ne, oppa.”

“……”

“Araaso, aku akan keluar sekarang,” ujar Suz sambil memutusan sambungan telepon. “Kepala Tim, Presdir saya permisi dulu. Nanti saya akan kembali sebelum jam makan siang berakhir,” pamit Suzy yang di balas anggukan ramah dari desainer Kim dan anggukan kaku dan wajah datar oleh Jong-in.

Jong-in masih menatap lurus punggung Suzy hingga dia menghilang dari pandangan bersamaan dengan mobil putih di depannya berlalu dari jendela butik ibunya. Namja itu bisa merasakan darahnya yang mendidih dan amarahnya yang siap menyebur bagaikan lahar saat melihat Suzy pergi dengan namja yang Jong-in tidak tahu siapa namanya.

“Lebih baik kamu cucui kepalamu sebelum kamu membakar butikku dengan auramu yang menyebalkan itu,” ujar Kepala desainer Kim melihat kelakuan putranya itu. Dan Jong-in langsung menatap ibunya kesal. “Ah, masalah percintaan anak muda memang rumit.”

“Ah, tapi calon mantan suaminya Suzy memang sangat tanpan, pantas aja dia tidak melirik orang berkulit hitam sepertimu,” tambah ibu Jong-in dan langsung melenggang santai ke luar kantornya untuk makan siang meninggalkan putarnya yang semakin terbakar itu. “Berhentilah menggunakan aura panas seperti itu, kalau tidak kulitmu akan semakin hitam!”

“EOMMAA!!” pekik Jong-in semakin kesal. Kenapa ibunya suka sekali menyiram minyak ke api.

Sementara ibunya semakin terkikik karena senang bisa membuat anaknya semakin kesal. Karena menurut ibu Jong-in membuat anaknya semakin kesal adalah hiburan yang sangat menarik.

“Apa yang kamu lakukan, kenapa masih berdiri di situ? Kamu belum sepenuhnya patah hati nak! Suzy sepertinya belum berniat membatalkan perceraian mereka, jadi jangan coba-coba untuk berfikir bunuh diri dengan menolak makan siang. Karena percuma juga kamu tidak akan langsung mati!”

Jong-in kembali mendengus, bagaimana namja tampan dan penuh karisma sepertinya bisa terlahir dari wanita aneh dan nyentrik seperti itu. Tapi dari pada terus menjadi bahan olok-olokan ibunya, akhirnya dia mengikuti ibunya.

TBC

 

Maaf bgt up-datenya lama bgt dan ternyata hasilnya mengecewakan.

Pulsa modemku itu habis sejak 5hr yang lalu dan sialnya ATMku bisa ilang dr dompet (tp untung uangnya g ilang setelah aku print buku tabungan)  jd aku g py uang SAMASEKALI krn Emakku juga g bs transfer uang, jd aku hrs berhemat dgn sisa uang di dompet ampe ATMku selesai di urus dan itu butuh waktu 2 minggu(jd aku g bs beli pulsa mode. Ini aja pinjam modem tmn kosku krn kebetulan dia d kmps ampe malam). Dan yg bikin aku kesal knp aku sering bgt jd korban kehilangan???? Dan knp hrs ATM! Apa dia g tau itu itu adl nyawa bg anak kos sprt saya 😥  (maaf sedikit meluapkan emosi).

 Maaf bgt ya atasketerlambatannya.

Bg yg tau fbku pst jg g pernah liat aku Olkan pdhal biasanya tiap hr (klpun OL cm bentar dan nyolong2 lewat lepi tmnku :D)

Advertisements

90 thoughts on “LOVE is HARD part 8

  1. Hahahaha KAI trbakar api cemburu 😀
    Knpa Myung gak sdar2 aja sih klo dia itu sayang ma Suzy
    Dtnggu next partny

  2. Kyaaaaa…….. thor next part cpet yea…!!! Cerita’y menegangkan, ceritny nyentuh bangt, kya kta sendiri yg ky gtu…. next part Im waiting your….!!

  3. Agggghhhhhhh bisa gila tiap saat nungguin love is hard part 9. Thor hrus tnggung jwab cpat mna love is hard part 9 nya

  4. astagaa eommanya kkamjong asikk banget tuh kayaknya.. kkkkkk..
    aura gelap bikin kulit makin gelap kkkkk ada ada aja..
    next thor.

  5. Myung klo cemburu bnr2 bikin serem lihat ja sooyeon ampe ketakutan gitu,.
    ommax kai jjang,.
    masak anakx sendiri diledekin mulu hehhehehe,.

  6. hmmm myung udah blm sadar juga klo dia menyukai suzy..
    wkwkwk ketawa liat kelakuan kai sm ommanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s