LOVE is HARD part 7

new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                Park jiyeon T-Ara

                                Kim Jong-In

                                Coi Sulli

                                Jung Soojung

                                  And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. Part ini paling aneh dan  flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana. Aku tau cerita ini semakin aneh, tp aku berharap tidak terlalu aneh.. ^^. Dan maaf buat yg kecewa.

========================================================================

Part 7

Suzy meninggalkan Myungso yang masih berdiam diri di tempatnya lalu menghampiri Sooyeon yang sepertinya asik berbicara dengan karyawan restoran.

“Wahh… kamu pasti sangat senang appamu yang tampan itu menemuimu?” Suzy mendengar karyawan wanita yang sedang berbicara dengan Sooyeon.

“Ne, tentu saja. Aku sangat merindukan appa. Sudah lama kami bertiga tidak makan bersama,” jawab Sooyeon pada karyawan itu. Suzy hanya mendesah mendengar jawaban Sooyeon. Sejujurnya dia masih ingin membiarkan Sooyeon bersama Myungso, tapi dia takut Myungso akan membawa anaknya itu kembali ke Seoul secara diam-diam—seperti yang dia lakukan—oh ayolah, dia juga manusia. Jadi jangan salahkan dia jika dia juga punya fikiran negatif.

“Sooyeon-ah…” panggil Suzy menghentikan cerita Sooyeon dengan pegawai restoran tiu.

“Eomma! Apa kalian sudah selesai membicarakan rahasia kalian?” tanya Sooyeon ceria mendengar suara ibunya dan memelankan suaranya ketika menyebut ‘rahasi’ berharap tidak ada yang mendengar selain Suzy meskipun itu sia-sia.

Suzy mengangguk, “Ne, sudah selesai. Sekarang kita pulang, eomma akan menitipkanmu pada sulli ajhuma.”

“Tapi aku masih ingin bersama appa. Aku masih merindukan appa,” ujar Sooyeon kecewa.

“Sooyeonkan tau kalau appa orang yang sibuk, jadi dia tidak bisa menemani Sooyeon terus. Appa harus kembali ke Seoul,” jelas Suzy sabar.

“Tapi aku sudah lama tidak bertemu appa, aku masih merindukannya. Aku masih ingin bermain bersama Appa.”

“Tapi eomma tidak ingin kamu bersama appa. Eomma hanya ingin Sooyeon bersama eomma saja, eomma tidak mau menyerahkanmu dengan appa,” ujar Suzy sedikit emosional. Dia takut jika Sooyeon akan lebih memilih tinggal bersama Myungso dari pada dirinya. “Sooyeon-ah, kamu lebih sayang eomma atau appa?” Suzy tahu dia tidak seharusnya bertanya begitu pada anak empat tahun, apalagi memilih antara ibu atau ayahnya tapi dia tidak bisa menahan diri

Sooyeon yang tidak mengerti maksud perkataan Suzy semakin bingung saat melihat ibunya itu memasang raut sedih seperti orang menangis, “Eomma kenapa menangis? Hiks…Apa aku membuat eomma sedih… hiks… Mianhae, aku tidak akan meminta bermain dengan appa lagi… hiks… eomma berhenti menangis ne,” Sooyeon terisak melihat Suzy yang ingin menangis, tapi bukannya berhenti Suzy semakin ingin menangis. Suzy lalu menarik Sooyeon dalam pelukannya.

“Jongmalyo? Kamu tidak akan memaksa bermain dengan appa lagi?” ujar Suzy lalu melepas pelukannya. Apakah dia sudah terlihat egois? Ya dia egois karena memisahkan seorang anak dari ayahnya. Tapi Suzy tidak peduli.

“Ne, aku akan menuruti semua perkataan eomma, asalkan eomma tidak sedih lagi.”

Suzy tersenyum lalu mencium pipi chubby Sooyeon, “Gomawo chagi, kalau begitu sekarang kita ke tempat Sulli ajhuma ne?” Sooyeon hanya mengangguk.

Mianheyo Sooyeon-ah harus memisahkanmu dari orang tua kandungmu untuk sementara, tapi hanya dengan begini eomma baru bisa hidup. Myungso oppa dan Jiyeon sudah bersama dan bahagia, tapi eomma tidak punya siapa-siapa selain kamu. Eomma tidak punya tujuan kalau kamu tidak ada. Mianheyeo… jongmal mianheyo. Batin Suzy sambil memandang Sooyeon yang berjalan di sampingnya keluar dari resturan itu.

Baru lima langkah kaki Suzy meninggalkan restoran itu saat merasakan ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan langkahnya dan mencari ponselnya dalam tas.

“Presdir?” guman Suzy melihat ID call yang tertera di ponselnya. “Seharusnya jam makan siangku baru habis 15 menit lagi,” gumannya lagi sebelum menerima panggilan itu.

“Annyeonghaseo Presdir?” sapa Suzy sopan.

Kamu mau ke mana?”

Suzy mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Jong-in yang sedikit ketus dan tidak membalas sapaannya. Apa terjadi sesuatu di kantor?

“Saya habis makan siang presdir. Apakah terjadi sesuatu? Saya akan segera kembali ke kantor setelah mengentar Sooyeon ke tempat Sulli.”

“Baiklah kamu tunggu disana, jangan kemana-mana. Kamu tidak perlu mengantar Sooyeon. Arraso!” ujar Jong-in tegas.

Kerutan di kening Suzy semakin banyak mendengar nada memerintah Jong-in yang seenaknya.

“Apa maksudnya? Dan bagaimana dia bisa tahu keberadaanku?” dumel Suzy. Masih sibuk menebak-nebak tentang sikap jong-in saattiba-tiba ia mendengar suara klakson di depannya. Suzy menatap si pengacau dan terkejut karena baru 1 menit yang lalu merek berbicara di telepon kenapa sudah di depannya?

“Ajhusi!” Ujar Sooyeon saat melihat Jong-in yang menghampiri mereka.

ʚ

Jiyeon mentap ponselnya dengan senyum miris. Dia menghela nafasnya panjang untuk kesekian kalinya. Dia sebenarnya bingung dengan apa yang dia harapkan saat ini.

Sebelum menelepon Myungso tadi, dia hanya ingin pamit dan tidak berharap namja itu akan mengantarnya ke bandara. Tapi saat mendengar nada bosan namja itu saat menerima teleponnya dia tidak bisa menahan godaan untuk meminta Myungso mengantarnya ke bandara, tapi dia harus kecewa saat Myunso menolaknya mentah-mentah.

Harusnya dia senangkan Myungso tidak mengantarnya ke bandara. Harusnya dia juga senang Myungso tidak menanyakan alasan ke pergiannya ke bandara, karena dia tidak ingin berbohong pada namja itu dan mengatakan sejujurnya sama saja dengan bunuh diri bagi Jiyeon. Tapi mendengar nada cuek dan acuh-tidak acuh Myungso membuat Jiyeon mengharapkan sebaliknya. Tiba-tiba dia berharap Myungso akan memaksa untuk mengantarnya ke bandara, bila perlu menahannya agar tidak pergi meninggalkan Korea meski sebentar. Dia berharap Myungso akan menanyakan alasannya kembali ke Jepang.

“Jangan bodoh Park Jiyeon. Hal itu sama saja kamu dengan bunuh diri,” maki Jiyeon pada dirinya atas pikiran bodoh itu. “Lebih baik kamu siap-siap kembali ke Tokyo menyelesaikan semuanya agar bisa segera kembali lagi ke sini.” Gumannya kembali dan mulai membereskan pakaiannya.

ʚ

Myungso menatap pemandang di depannya dengan tangan terkepal kuat. Ingin sekali dia merik bahu namja itu dan menyalurkan kemarahannya lewat tinjunya ke wajah sok tampan itu kalau saja orang itu tidak segera menghilang dari hadapannya.

“Bae Suzy, kamu pergi meninggalkanku hanya untuk pergi bersama pria seperti itu!” umpatnya kesal saat mobil itu berlalu begitu saja di depan hidungnya. “Jadi pergi dengan Bosmu termasuk hal yang kau sukai?”

ʚ

Suzy hanya duduk diam di samping Jong-in yang sibuk menyetir. Dia tidak berani membuka pembicaraan—bukan karena sifat pendiamnya—karena melihat raut wajah Jong-in yang seperti orang marah. Padahal dia ingin sekali bertanya bagaimana Jong-in tahu keberadaannya dan bagi mana tiba-tiba Bosnya itu muncul di hadapannya tidal lebih dari satu menit setelah sambungan telepon terputus. Tapi yang paling penting kemana Jong-in akan membawanya bersama Sooyeon, karena ini bukan jaln ke kantor.

“Kita akan pergi bersenang-senang!” ujar Jong-in menjawab seolah mendengar isi kepala Suzy. Tuh kan, benar tebakan Suzy dulu. Jong-in memang punya kemampuan membaca pikirannya. Tunggu ke taman bersenang-senang?!

“Nde?” tanya Suzy kaget dan heran.

“Kita tidak akan kembali e kantor. Hari ini aku akan membawamu dan Sooyeon bersenang-senang,” ujar Jong-in menoleh pada Suzy sambil tersenyum manis membuat namja itu terlihat makin tampan tapi anehnya membuat suzy semakin takut. Suzy takut jika dia menyukai senym manis itu.

Sudah pernahkah Suzy bilang jika senyum Jong-in itu sangat manis?

“Nde? Tapikan saya harus bekerja presdir. Nanti saya di marahi kepala desainer Kim kalau tidak kembali.”

“Kamu tenang saja, hari ini kamu free. Kamu tidak usah khawatir, aku adalah bosnya jadi kamu tidak akan kena masalah.”

“Tapikan pekerjaan saya masih banyak. Saya harus segera menyelesaikan.”

“Sudahlah kamu tidak usah membantah. Aku tidak sering-sering melakukan hal ini pada karyawanku,” ujar Jong-in tersenyum jahil membuat Suzy bergidik ngeri. “Lagi pula melihat ekpresimu aku yakin tidak ada gunanya kamu bekerja hari ini.” timpal Jong-in dengan nada mengejek.

Suzy hanya terdiam dan mengutuk dirinya karena tidak bisa memperbaiki ekpresinya. Tapi ini salah Jong-in juga yang datang tiba-tiba.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi melihat ekspresimu yang seperti orang depresi membuatku tidak tahan melihatnya. Aku ini tidak suka melihat karyawanku yang sedang depresi, itu berpotensi membuat ke rugian pada perusahaanku. Apa kamu tidak tahu aku ini sangat suka uang? Jadi hari ini kita lebih baik bersenang-senang.”

“Tapi presdir tetap saja…”

“Berhentilah memanggilku presdir, ini bukan jam kerja. Kalau kamu masih melakukan itu lagi aku akan menciummu sekrang juga,” ujar Jong-in tegas tapi dengan senyum jahil membuat Suzy menatap Jong-in ngeri. “Dan kamu juga tidak bisa membantah, turuti saja kata-kataku. Kalau kamu masih membantah, aku tidak hanya menciummu tapi akan menikahimu sekarang juga.”

Suzy langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat lalu  menelan ludahnya dengan Susah payah. Dia tahu Jong-in hanya bercanda tapi entah kenpa dia merasa takut juga mendengar ancaman namja itu. Dan dia berjanji tidak akan membuka mulut untuk membantah Jong-in satu harian ini.

Melihat ekspresi ketakuta Suzy Jong-in hanya bisa tertawa, dan melihat tawa bahagia Jong-in Sooyeon ikut-ikutan tertawa membuat Jong-in mengacak-acak rambut gadis kecil itu.

ʚ

“Apa pres… maksudku anda yakin akan datang ke tempat seperti ini?” tanya Suzy pada Jong-in.

“Berhentilah bersikap formal padaku, ini bukan jam kerja. Lagi pula kita ini kan teman,” ujar Jong-in kesal. Jong-in jadi heran, bagaimana bisa dia menyukai yeoja pabo seperti Suzy. Buktinya Suzy selalu saja susah bersikap santai saat bersamanya padahal Jong-in sudah berkali-kali memperingatinya. Apa lagi sebutan untuk itu selain pabo coba!

“Mianhaeyo… saya hanya belum terbiasa,” ujar Suzy sopan. “Arraso saya akan membiasakannya.”

“Bagus kalau begitu.”

“Tapi apa Pre….” Suzy memukul bibirnya yang susah sekali di beritahu. “Maksudku, apa kamu yakin datang ke tempat seperti ini?” tanya Suzy lagi. Jong-in tersenyum puas lalu mulai mengamati sekelilingnya dan kemudian menggaruk tenggkuknya yang tidak gatal. Ya, apa dia yakin datang ke tempat ini bagaimana bisa dia datang ke tempat ini! ah mungki dia sudah gila.

“Tentu saja! Memang apa salahnya datang ke tempat seperti ini. Orang keren seperti aku ini juga perlu datang ke tempat seperti ini,” ujar Jong-in lebih meyakinkan dirinya sediri dari pada meyakinkan Suzy.

Suzy hanya geleng-gelng dan tidak ambil pusing, dia lebih memilih mengamati Sooyeon yang sibuk lari kesana-kemari di depan mereka. Gadis kecil itu terlalu senang di bawa ke kebun binatang seperti ini. Yeah mereka akhirnya datang ke kebun binatang setelah Sooyeon memaksa Jong-in membawanya ke tempat ini. Itu salah Jong-in sendiri karena dia bertanya tempat apa yang ingin Sooyeon kunjungi.

“Ajhusi, lihat ini. bibir kalian sama!” pekik Sooyeon melihat jerapah yang sedang sibuk mengunyah daun-daun membuat Jong-in melotot.

“Mwoya! Kamu menyamakan bibirku yang seksi ini dengan bibir binatang berleher panjang itu!” pekik Jong-in lalu mengejar Sooyeon membuat gadis kecil itu langsung berlari sambil tertawa. Dan Suzy tidak bisa menahan tawanya saat Jong-in dan Sooyeon kembali kejar-kejaran saat Sooyeon—untuk yang kesekian kalinya—lagi-lagi menyamakan bibir Jong-in dengan setiap binatang berbibir tebal yang di lihatnya.

“Hah bocah ini! kamu belajar darimana mengodaku terus-terusan eoh? Kemarin kamu masih terlihat seperti anak baik-baik dan polos!” kesal Jong-in sambil menggendong Sooyen dan pura-pura melemparnya membuat gadis kecil itu berteriak ke girangan. “Ayo, mengaku siapa yang mengajarimu? Kalau tidak ajhusi tidak akan berhenti dan akan terus melemparmu!”

“Hahahaha…. ajhusi! Kurang tinggi, ayo lebih tinggi lagi… hahahaha,” teriak Sooyen di sela-sela tawanya.

“Oh-ho, kamu malah kesenangan ya! Kalau kamu tidak menjawab, aku akan melemparmu ke laut!”

“Aku tidak akan memberitahunya. Ini rahasiaku dengan Sulli ajhuma. Rahasia tidak boleh di beritahu,” jawab Sooyeon. “Ajhusi berhenti, aku mulai pusing.”

“Ck, jadi Sulli yang mengajarimu hal yang tidak benar. Arraso, aku akan menurunkanmu, tapi kamu tidak boleh mengejekku arraso,” ujar Jong-in sambil menurunkan Sooyeon.

“Weeekkk,” Sooyeon berlari dan meleltkan lidahnya pada Jong-in.

“Ais, bocah ini semakin pintar membantah saja,” ujar Jong-in mengejar Sooyen.

Suzy hanya tertawa dan tersenyum melihat tingkah konyol dan kekanakan Sooyeon dan Jong-in. Dia tidak mau ikut dalam permainan konyol kedua bocah itu, jadi dia hanya mengikuti mereka dari belakang. Suzy cukup senang dan harus berterimakasih pada Jong-in, karena namja itu entah bagaimana selalu muncul di saat yang tepat dan selalu berusaha membuatnya tersenyum. Suzy harus mengakui meski namja itu lebih sering bersikap cuek dan ketus, tapi tidak jarang juga Jong-in bersikap konyol seperti ini saat Suzy sedang sedih. Dia jadi bertanya-tanya bagaimana namja itu bisa tahu dia sedang sedih dan butuh di hibur? ah, dia lupa Jong-in kan punya kemampuan membaca pikirannya.

Suzy memang baru mengenal Jong-in beberapa bulan ini, tapi namja itu sudah melakukan banyak hal untuknya. Melakukan hal yang seharusnya dia dapatkan selama empat tahun ini. Yaitu perhatian dan rasa nyaman. Seharusnya suaminyalah yang melakukan itu padanya tapi itu hanya harapannya saja. Lihat saja bukan hanya padanya Jong-in bersikap begitu, tapi pada Sooyeon juga.

 Suzy sempat takut Sooyeon akan terus merengek tentang ayahnya tapi melihat kedekatan putrinya itu dengan Jong-in—jangan lupakan Temin dan Minho juga—dia yakin Sooyeon tidak akan terlalu merindukan Myungso. Karena saat mereka bertiga masih tinggal bersama, Myungso jarang meluangkan waktunya pada Sooyeon, kekebun binatangpun mereka tidak pernah pergi. Bahkan suzy yakin Sooyeon labih akrab dengan Jong-in dari pada Myungsoo. Lihat saja tingkah mereka saat ini…

“Ajhusi tidak cocok pake benda seperti itu?” ujar Sooyeon protes karena Jong-in ingin memaksa benda seperti yang di pakai Sooyeon. Lebih tepatnya yang di pakai Suzy, karena kedua wanita itu sedang memakai barang couple.

“Waeyo? Ajhusi tetap terlihat keren saat memakai ini,” ujar Jong-in sambil menatap benda di keplanya itu. Suzy hanya geleng-geleng. Kenapa Jong-in tiba-tiba bersikap sangat konyol satu harian ini. Kemana sikap karismatiknya itu pergi?

“Aniyo, ajhusi terlihat jadi aneh. Mana ada kelinci berkulit hitam memakai bando kelinci warna putih?” protes Sooyeon membuat Jong-in mayun. Dan kenapa gadis kecil ini selalu menyerang kelemahannya satu harian ini.

“Yak! Kenapa kamu menyebalkan. Lalu kalau aku tidak pantas, lalu hanya kamu yang pantas?”

“Aniyo, eomma yang lebih pantas. Eommakan kulitnya putih,” ujar Sooyeon melihat Suzy yang memang terlihat cocok dengan bandana itu.

“Guare… eommamu memang pantas. Selain putih dan pipinya bulat, giginya juga mirip kelinci,” ujar Jong-in mengamati wajah Suzy.

“Ah… matta. Sulli ajhuma dan Soojung ajhuma juga bilang kalau gigi eomma itu seperti gigi kelinci,” ujar Sooyeon ikut-ikutan mengamati Suzy.

“Ya, kenapa kalian jadi berkomplot menyerangku?” ujar Suzy protes, membuat Sooyeon dan Jong-in tertwa puas lalu ber high-five.

ʚ

Jiyeon menatap Seoul malam hari yang terlihat cantik akibat lampu-lampu dari dalam pesawat. Dia mencoba memuaskan matanya dengan pemandangan indah yang di berikan negara kelahirannya itu sebelum dia tiba di Tokyo, Jepang. Sudah tidak terhitung berapa kali dirinya menghela nafas berat. Sejujurnya dia tidak ingin meninggalkan Seoul dan harus kembali Jepang. Negara yang paling ingin di hindari tapi tak kuasa di lakukannya. Apalagi setelah dia bertemu dengan Myungso dan mengetahui kalau ternyata anak mereka masih hidup.

Tidak… Tidak, dia sungguh tidak ingin kembali ke Jepang.

“Bisakah waktu berhenti saat ini saja?’ doanya dalam hati sejak kemarin—saat dia menerima telepon dari Jepang. Tapi sialnya doanya tidak terkabul.

‘Mungkin dosaku terlalu banyak, makanya tidak di kabulkan.’ Putus Jiyeon dalam hati lalu mulai berhenti berdoa.

Baru sepeluh menit dia di dalam pesawat, dia sudah merasa bosan. Mungkin karena Seoul yang tampak berkilaun tidak tampak lagi, atau karena ke dua orang yang duduk di sebelahnya sudah tertidur—Jiyeon tidak heran, karena ini adalah penerbangan paling malam yaitu jam sepuluh malam dan masih butuh waktu hampir 3 jam lagi untuk sampai di Tokyo.

Karena bosan Jiyeon akhirnya memutuskan untuk ikut tidur, namun baru saja dia menutup mata bayang-bayangan kejadian saat dia berpisah dengan Myungso langsung perputar di otaknya.

‘Apa mungkin karena aku kembali ke Jepang dan terancam kehilangan dia lagi?’ tanya Jiyeon dalam hati. Dia ingin menyingkirkan kenangan menyakitkan itu, tapi entah kenpa justru bayangan itu semakin jelas.

Flass Back

Jiyeon membuka mata perlahan. Dan hal pertama yang di tangkapnya adalah cahaya putih yang menyilaukan tapi buram. Setelah beberapa kali berkedip dan memicingkan matanya, Jiyeon akhirnya tahu kalau dia sedang menatap bola lampu yang menyala dari atas ranjangnya.

‘Ah, pantas silau,’ batinya. Eh tunggu dulu! Di atas ranjang? Ini bukan ranjangnya, karena rasanya lebih keras dari biasanya. Dan ranjang ini sangat kecil hanya cukup dia sendiri, sementara dia biasa menggunakan ranjang untuknya dan Myungso. Dan ruangan ini bukan kamarnya karena kamarnya berwarna coklat muda dan penuh dengan dekorasi-dekorasi yang dia tata sendiri. Sementara ruangan ini? ruangan ini hanya berwarna putih polos dan di hiasi gorden biru polos, tidak ada hal lain.

‘seperti rumah sakit’ batinnya.

Rumah sakit? Benar dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya dan…

Kenapa perutnya terasa kaku dan rata? Bukankah seharusnya dia sedang hamil delapan bulan? Dan kenapa rasanya agak perih di perutnya…. dan dia ingat kejadian kemarin.

Dia ingat saat ibu Kim Myungso dan ibu Suzy akhirnya menemukan tempat persembunyian mereka dan melabraknya habis-habisan saat Myungso sedang bekerja. Dia bahkan masih merasakan pipinya yang masih perih akibat tamparan ibu Myungso dan rasa sakit di kepalanya akibat jambakan ibu Suzy. Ya ibu Myungso dan ibu suzy datang menemuinya dan memperlakukannya seperti binatang, bahkan mereka berdua mengabaikan fakta jika Jiyeon sedang hamil tua.dan dia masih mengingat jelas makian-makian kasar yang di lontarkan kedua wanita itu padanya, seolah-olah Jiyeon adalah mahluk paling rendah dan paling menjijikkan yang pernah ada.

Dan saat ibu Myungso sedang sibuk menamparnya dan memaki-makinya, ibu Suzy yang kesal akibat kekeras keplaan Jiyeon karena tidak mau melepaskan Myungso mendorongnya dengan keras hingga punggungnya membentur pintu—karena saat Jiyeon membuka pintu, saat itu juga kedua wanita itu menganiayanya—dengan sangat keras. Tapi bukan sakit di punggungnya membuat dia menjerit kesakitan, tapi rasa sakit di perutnya yang sepertinya akan meledak. Dan kedua wanita itu bukannya membantunya tapi justru masih sibuk memaki-makinya hingga ia mendengar suara panik Myungso. Dan saat Myungso memeluknya,pandanga Jiyeon sudah gelap.

“Andwe!! Itu tidak mungkin terjadi!” pekik Jiyeon histeris. “Anakku, dimana anakku! Dia belum waktunya keluar, kenapa mereka mengeluarkannya,” racaunya mulai panik. “Anakku… anakku…” Jiyeon baru saja hendak berdiri dari ranjangnya saat dua wanita dan dua pria paruh baya yang paling di bencinya memasuki ruanganya.

“Kamu sudah sadar rupanya,” ujar wanita yang seharusnya menjadi ibu mertuanya. “Padahal aku berharap kamu tidak akan pernah bangun.”

“Seharusnya kamu tidak usah membawanya kerumah sakit. Harusnya kalian membiarkan saja dia mati seperti anaknya itu,” kali ini  ayah myungso lah yang bersuara.

“Itu yang akan kami lakukan kalau Myungso bodoh itu, tidak muncul,” jawab ibu Myungso.

“Apa mau kalian? dan apa maksudnya dengan anakku…” Jiyeon langsung menghentikan kalimatnya begitu mengerti arti kalimat itu. “Andwe… anakku belum meninggal. Dia tidak mungkin meninggal,” teriak Jiyeon histeris. “Apa yang kalian lakukan pada anakku?”

Ke empat orang itu hanya tersenyum sinis dan menatap Jiyeon bosan. “Anakmu sudah mati. Seharusnya kamu yang mati kalau saja Myungso tidak memilih menyelamatkamu dari pada anak itu. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa bertanya pada Dokter.”

“Andwe! Andwe! Itu tidak mungkin, kalian bohong. Anakku masih hidup!” jerit Jiyeon putus asa. Rasanya hatinya benar-benar tersayat-sayat. Rasa sakit sangat luar biasa lebih sakit dari pada kejadian kemari saat perutnya terasa mau meledak. Dia bisa tahan di perlakukan buruk oleh orang tua Myungso dan Suzy. Dia rela menjalani neraka sekalipun, tapi tidak dengan anaknya. Dia tidak bisa jika anaknya harus meninggal dengan cara menyedihkan begitu. “Myungso oppa dimana Myungso oppa?” dia harus memastikan dari mulut Myungso sendiri, karena dia tidak bisa percaya pada ke empat orang ini.

“Myungso? Pelacur sepertimu masih berani menanyakan keberadaannya setelah apa yang kamu lakukan!” bentak ibu Myungso. Jiyeon mengerutkan dahi.

“Dia sedang berkabung, atas meninggalnya bayi itu. Dia tidak mampu menahan kesedihannya, sehingga dia perlu di beri obat penenang,” kali ini ibu Suzy yang berbaik hati menjawab. “Jadi berhentilah menggoda calon suami Suzy. Karena kamu hanya memberi penderitaan baginya.”

“Jangan pernah lagi mendekati Myungso, karena kami bisa bertindak lebih jauh. Anggap saja kematian anakmu sebagi peringatan. Kami bisa melakukan lebih.”

Kematian anaknya hanya sebagai peringatan? Jadi menurut mereka, nyawa anaknya tidak ada bedanya dengan seekor tikus yang biasanya di gunakan untuk meneror orang.

Jiyeon menatap ibu dari sahabatnya itu dengan penuh kebencian. Wanita itu memang memiliki beberapa kemiripan dengan Suzy secara fisik, tapi dia tahu sifat mereka sangat berbeda. Suzy adalah yeoja lembut yang sangat baik hati, sementara wanita ini adalah jelmaan iblis. Dan dia berjanji akan membalas kematian anaknya lewat Suzy.

‘jika mereka menyiksa anaknya hingga mati, kenapa dia tidak bisa memperlakukan anak mereka begitu?’

“Dulu aku sering mendengar cerita bahwa di dunia ini ada banyak iblis yang menyamar dalam wajud manusia. Aku hanya menganggap itu sebagai dongeng sebelumnya, tapi setelah bertemu kalian aku baru tahu ternyata iblis dalam bentuk manusia itu benar-benar ada,” ujar Jiyeon datar tapi penuh kebencian.

“Ka… kau! Berani-beraninya mengatakan kami iblis.” ibu Myungso hampir saja memukul Jiyeon jika tidak di tahan ayah Myungso.

“Sudah hentikan, ini di rumah sakit. Jika ada dokter atau perawat yang melihat urusannya bisa panjang,” ujar ayah Myungso.

“Wae, aku benar bukan?” kata Jiyeon. Dia tidak lagi takut pada ke empat orang itu, toh apa lagi yang di takutinya? Anaknya sudah meninggal akibat perbuatan mereka. Memang masih ada hal yang ditakuti  seorang ibu yang sudah kehilangan anaknya? “Hanya karena ingin memisahkan aku dari Kim Myungso, kalian sampai rela memperlakukanku seperti binatang hingga aku kehilangan anakku. Apa sebegitu berharganya Kim Myungso itu? Apa tidak ada arti anakku sama sekali?”

“Baiklah aku menyerah. Aku kembalikan anak kalian, ambilah aku tidak memerlukannya lagi,” ujar Jiyeon tegas. “Tapi ini tidak akan berakhir begitu saja, suatu saat aku akan kembali dan membalas perbuatan kalian berkali-kali lipat!”

ʚ

Setelah merasa cukup kuat, Jiyeon memutuskan meninggalkan rumah sakit. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat terkutuk itu. Karena semakin lama dia di situ, kenangan menyakitkan—anaknya meninggal—itu akan terbayang terus. Dan sampai saat ini dia belum bisa mempercayai kenyataaan itu.

Tapi dia tahu, dia tidak bisa berdiam diri terus. Dan dia tidak akan membiarkan semua itu berlalu begitu saja, dia harus membayar rasa sakit yang di derita anaknya, kalau tidak begitu tidak akan bisa hidup. Dia harus keluar dari rumah sakit dan menyusun rencananya.

Bae Suzy!

Nama itu terlintas begitu saja di otaknya. Dia tahu Suzy tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa. Dia sangat mengenal Suzy. Meski dia sering iri pada keberuntungn Suzy, dan selalu menginginkan semua yang di miki Suzy, gadis itu akan dengan suka rela memberikan semuanya padanya. Dan sebesar apapun dia berusaha membuat Suzy iri, sahabatnya itu tidaka pernah marah padanya. Karena itu dia sangat menyayangi Suzy melebihi sahabat-sahabatnya yang lain. Dan meskipun dia sering bertengkar dengan Myungso hanya karena iri dengan Suzy, sejujurnya dia tidak pernah banar-benar bisa membenci Suzy.

“Mianhae Suzy-ah,” gumannya pelan.

Tapi hanya yeoja itulah satu-satunya cara untuk balas dendam. Karena Ibu yeoja itu mendorongnya sangat kuat hingga membuat perutnya sakit dan mengakibatkan bayinya….

“Aku tahu kamu tidak salah dan tidak tahu apa-apa, tapi anakku juga tidak salah dan tidak tahu apa-apa.”

Jadi dia akan  membuat Suzy menderita dan merasakan rasa sakit yang di alaminya. Jika mereka memperlakukan anakku seperti binatang, dia juga bisa memperlakukan anak mereka seperti itu. Karena setiap mengingat Suzy, kenangan tentang kehilangan anaknya juga akan muncul.

Dan karena dia menghargai Suzy sebagai sahabatnya, dia akan memperingatkannya terlebih dahulu. Hanya itu hal terakhir yang akan di lakukannya sebagai sahabat Bae Suzy.

“Jiyeon-ah…” kata suzy kaget melihat sahabatya yang sudah satu tahun setengah tidak di lihatnya dan sudah membencinya itu tiba-tiba muncul di depan rumahnya. “Kamu datang sendiri? Myungsoo oppa dimana? Gwenchanayo?” tanya Suzy prihatin melihat temannya yang terlihat berantakan itu.

“Kamu menang Bae Suzy dan aku menyerah,” kata Jiyeon tajam.

“Apa makasudmu? Lebih baik kita masuk dulu. Kita bisa bicara di dalam,” kata suzy meraih tangan Jiyeon.

“Tidak Usah! Aku tidak lama, aku hanya berpamitan.”

“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Suzy bingung.

“Aku mau pergi menghilang dari keluarga busuk kalian. Aku sudah lelah dan aku menyerah.” Kata jiyeon berapi-api. “Kalian keluarga kaya hanya bisa menghina dan menginjak-injak orang kecil seperti kami dan itu semakin membuatku muak.”

Suzy hanya diam tidak tahu harus bereaksi apa. Dia tahu apa yang dilakukan keluarganya dan keluarga Kim myungso pada keluarga Jiyeon dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah Jiyeon menemuinya di perpustakaan dulu dia dan Kim myungso kabur entah kemana. Lalu keluarga Kimyungso menekan keluarga Jiyeo agar yeoja itu keluar dari persembunyiannya dan setelah satu setengah tahun sepertinya mereka berhasil.

“Mianhae…” hanya itu yang mampu di ucapkan Suzy.

“Tidak perlu. Aku tahu kamu tidak salah, tapi karena kamu anak keluargamu dan karena kamu akan di jodohkan dengan Myungso oppa sehingga aku di perlakukan tidak adil begini aku membencimu.”

Suzy hanya menundukkan kepalanya.

“Aku kesini hanya berpamitan dan memberimu peringatan, karena aku pikir meskipun sebentar kamu pernah menjadi sahabatku. Dan suatu saat aku pasti kembali untuk membalas kalian. Jadi persiapkanlah dirimu sampai saat itu tiba.”

——-

Jiyeon membuka matanya. Rasa sikit yang dirasakannya empat tahun yang lalu, masih sama sakitnya hingga sekarang. Tapi tujuan awalnya sudah mulai goyah.

“Apa aku masih bisa meneruskan rencana balas dendamku, dengan kenyataan bahwa anakku masih hidup?” ujar Jiyeon dalam hatinya. “Apa aku masih harus membalaskan dendamku karena perlakuan keluarga mereka sementara Suzylah yang membesarkan anakku dengan sangat baik? dia bahkan memberikan namaku sebagi nama anakku.”

Tanpa bisa Jiyeon kontrol, air matnya jatuh perlahan. Dia mengingat wajah Sooyeon yang ketakutan melihatnya. Dia juga mengingat saat Myungso yang sepertinya sudah berubah. Dan dia teringat bagaimana kehidupannya sekrang. Hidup seperti apa yang dia jalani saat ini.

Dia kembali teringat Sooyeon dan rasa rindu itu kembali meremas hatinya dengan sangat kuat. Dia sebenarnya bisa saja mencari keberadaan Suzy dan menemui Sooyeon, tapi dia tahu dia tidak pantas lagi menjadi ibu Sooyeon. Dia terlalu hina untuk itu.

Tapi bolehkah dia bermimpi?

Bolehkah dia berharap jika apa yang dulu menjadi miliknya bisa dia miliki lagi?

Dan kalimat-kalimat kebencian yang di lontarkan Jiyeon pada Myungso tentang Suzy kenyataanya hanya alibi yang dia gunakan agar Myungso tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Agar namja itu tidak menyadari seburuk apa hidup yang dia jalani, maka dia pura-pura bersikap seolah Suzylah yang ingin memisahkannya dengan Sooyeon, bukan dia yang menghindari gadis kecil itu. Dan kalau Jiyeon boleh jujur kebenciannya pada Suzy sudah menguap begitu mereka bertemu di restoran untuk yang kedua kali. Dan saat-saat yang dia habiskan dengan Myungso hanyalah untuk mengobati kerinduannya meski dia tahu Myungo sudah berubah.

Sejujurnya lagi, saat rasa kebencian itu lenyap tiba-tiba cinta dan impian yang sudah lama di kubur Jiyeon bangkit lagi. Saat menyusun rencana balas dendamnya, dia tidak mengharapkan cinta Myungso. Dia sudah bisa hidup tanpa cinta Myungso selama empat tahun ini, makanya begitu tiba di Korea di tidak langsung menemui namja itu. Tapi dia tidak menyangka, rasa cinta itu tidak benar-benar mati hanya saja mati suri selama empat tahun ini dan saat melihat Kim Myungso lagi rasa cinta itu kembali hidup dan bernafas. Dan impian memiliki keluarga bahagia juga hidup kembali. Impian yang sudah lama dia buang.

Impian yang dia buang jauh-jauh sejak ia bersedia menjadi wanita simpanan seorang pengusaha di Jepang.

Ya, selama ini untuk bertahan hidup Jiyeon pergi ke Jepang untuk menjadi simpanan seorang pengusaha berdarah Korea-jepang yang di temuinya di sebuah clup malam.

Dia tidak bertemu seorang dermawan di negri itu seperti yang dia ceritakan pada Myungso dan dia juga tidak punya salon… ah tapi pria itu berjanji akan memberikan Jiyeon salon sebagi hadiah ulang tahunnya tahun ini.

Hanya itu satu-satunya cara bagi Jiyeon, agar dia bisa hidup layak dam memiliki tumpukan uang untuk melawan kedua orang tua Myungso dan Suzy. Oh, ayolah. Ini bukan negri dongeng, atau film yang mana akan ada pangeran berkuda putih atau ke ajaiban yang akan menolong sang putri—meskipun ada dia bukanlah seorang putri—jadi dengan otak pas-pasan itu, dia hanya mampu mengandalkan wajahnya. Dan pilihan satu-satunya adalah menjadi simpanan pria kaya.

Kenapa simpanan?

Karena pada kenyataanya pria kaya sudah tua dan beristri. Dan hanya pria hidung belang yang mau melimpahkan uangnya begitu saja. Dia tidak mau anak orang kaya—karena dia tahu akan berakhir seperti Myungso—karena biasanya anak orang kaya tidak punya kuasa. Dia juga butuh seseorang yang kuat untuk bisa melawan keluarga Kim Myungso, dan kebetulan pria itu memenuhi syarat dan sangat menyukai Jiyeon. Dia rela melakukan apa saja pada Jiyeon tapi tidak pernikahan, karena sebagai seorang pebisnis sukses dia butuh citra di depan masyarakat. Lagi pula Jiyeon tidak mengharapkan Komitmen jadi dia tidak ambil pusing.

Pria itu berjanji pada Jiyeon akan melakukan apapun yang di minta Yeoja itu, asalkan Jiyeon akan selalu melayaninya. Dia akan memberika semua yang di inginkan Jiyeon asalakan yeoja itu selalu ada saat di inginkan pria itu. Ya seperti saat ini, Jiyeon harus terbang ke jepang saat pria itu berkata menginginkan Jiyeon malam ini. Dan meski enggan Jiyeon harus tetap datang, karena meskipun dia tahu pria itu sangat menyukai Jiyeon tapi kalau ke inginannya tidak di kabulkan pria itu akan mengamuk.

Dan amukan Pria itu adalah hal yang paling di benci Jiyeon.

ʚ

Soojung dan sulli sedang sibuk di balkon lantai dua rumahnya sambil mengamati seorang pria yang sibuk mondar-mandir sejak tadi dengan wajah penuh amarah. Mereka sedang tidak mengawasi seorang pencuri atau orang yang tidak di kenal, karena mereka berdua sangat mengenal dan hapal pria itu. Tentu saja karena pria itulah kedua sahabat mereka saling membenci.

“Kenapa dia masih berdiri di situ. Ini sudah lebih tiga jam dan ini sudah malam,” guman Sulli sambil mengamati orang itu. “Apa kamu tidak menyuruhnya masuk?”

“Aku sudah bolak-balik menyuruhnya masuk, tapi dia hanya bertanya apa Suzy dan Sooyeon masih lama pulang? Kemana mereka pergi? Saat aku bilang tidak tahu dia hanya menatapku tajam lalu mengacukanku,” ujar Soojung kesal karena Myungso membalas sikap ramahnya dengan jutek.

“Ck, kenapa dia tiba-tiba datang kemari dan dari mana dia tahu Suzy tinggal disini?” tanya Sulli lagi.

“Molla,” jawab Soojung cuek tapi masih saja mengawasi Myungso.

“Lebih baik kamu keluar dan tawarkan dia makan, dia pasti belum makan, ini sudah malam,” ujar Sulli memerintah.

“Kenapa kamu menyuruh-nyuruhku? Kenapa tidak kamu saja yang menawarkan?”

“Inikan rumahmu,” jawab Sulli bergidik. “Melihat tampang seramnya aku tidak mau dekat-dekat dengannya.”

“Wajahnya memang tanpan, tapi sikapnya sangat buruk,” komentar Soojung. “Aku heran apa yang di lihat Suzy dan Jiyeon darinya sampai membuat mereka bermusuhan?”

“Molla, mungkin dia punya iner beauty yang tidak terlihat,”jawab Sulli asal yang langsung dapat jitakan dari Soojung. Sulli baru saja ingin membalas Soojung saat sepupunya itu berseru…

“Oh! Itu mobil Kai! Kenapa Suzy keluar dari mobil Kai! Kenapa dia dan Sooyoen pulang dia anatar Kai? Dan kenapa mereka memakai bando kelinci?” ujar Soojung bingung. Sulli langsung membalikkan kepalanya menatap mobil Jong-in dan pria itu keluar sambi berlari ke arah pintu satunya  lalu menggendong Sooyen yang tertidur dan baru kemudian Suzy keluar.

“Omo! Ssepertinya akan ada perang dunia ke tiga!” pekik Sulli antusias melihat Myungso yang menghampiri Suzy dan Jong-in dan menarik pakasa Sooyeon dari gendongan Jong-in.

TBC

KEKEKEKEKE

aneh g? makin aneh y??

Oh akhirnya bs Up-date tepat waktu *meras keringat. Sebenarnya mau aku up-date td malam td modemuku lemotttt bgt, jd aku up-date skrg dehhh (cm berharap tdk terlalu mengecewakan hehehe)… nah sudah pd tahukan kenapa Jiyeon sgt membenci Suzy? Sebenarnya aku memang niatnya membuat Jiyeon itu terlihat jahat tp sebenarnya dia yg paling kasihan, bukan cuma Jiyeon sebenarnya semuanya, biar adil..kekekeke. kl di baca lagi sejujurnya Myungsolah yg paling nyebelin di sini y gak? (maaf ya buat fans L oppa, tp dia gak jahat cm nyebelin aja..kekekeke). tp yg paling nyebelin itu sebenarnya ortu Myungpa dan Suzy…

Krn aku da selesai uts aku bakal post ff ini 2x seminggu, tp ini gak lama lagi bakal END kok… jadi yg mulai bosen tenang aja..kekeke.

Oh ya, berhubung ff ini g lama lg bakal END n kemarin ada yg nagih squel yg aku janjiin dl k kalian plus aku lagi baik hati bgt  mau yg mn aku bikinin dl sequelnya? (coffee, Believe me, IOBIU, YHTMI). Tenang aja Our wdding pt2 n Happy to gather da dlm pengetikan dikit lagi selesai n d post (jd g usah d tagih yg itu y ^^).

Dan terimakasih buat yang sudah baca n coment. I Love u guysss…

 

Advertisements

84 thoughts on “LOVE is HARD part 7

  1. Hah ternyata ketebak semua hidup jiyeon dalam 4 tahun ini thor disini semuanya kasian yaa, bakal ada perang ketiga kayanyaa huaa next part ditunggu thor makin seru nih hehe 😀

  2. aigoooo… perang dunia ketigaaaaa… gimana jadinyaaaa… penasaraaaan thorrr.. jujur aku suka banget sama FF inii… banget banget bangeeeeeettt… sampe aku bookmark biar gampang kalo mau dibaca ulang ehehheehe.. next thooorrr ~ tetep semangaaaat heeheheh ^ ^ Fighting~

  3. Aaaa!! Suka liat myung cemburu:D keren thor,, sukaaa bgt ceritanya!:)
    emmm thor, entah kenapa aku merasa canggung(?) pas baca ff ini.. Soalnya bahasanya formal bgt,, misalnya kamu n saya kalau bisa diganti sma kau n aku aja.. Hehehe mian ne thor..
    Aku banyak permintaan^^~
    next part ditunggu..
    Fighting!!

  4. akhh,.kasihan juga Jiyeon..
    Tapi Myung,,kau sudah cemburu?? wishh..gitu dong..ini baru asyikkk..
    Aigooo,…jong in cocok ama mereka,.Jong In penolong Suzy…
    Huah…masih da emosi wktu bca part ini…
    KEREN Thor!!
    Gak sabar..gimana ya endingnya?

    FIGHTING^^

  5. Ternyata myungsooo cburu jg, klau dpikir2 myungsoo udah buat sakit ati ma suzy. Woahhhhh pa yg terjd stelah suzy,seyoon ma jogin smpai rmah d sambut bgan myungsooo??? Bkin Pnasaran

  6. owww ternyt itu yg terjadi sm jiyeon dulu, kasian sih tpi dia juga salah karena keegoisannya dan knpa semua ksalahan dilimpahkan ke suzy bukannya myungsoo >.<
    4 tahun dijepang apa yg terjdi ma jiyeon? apa mungkin dia jg sdh punya kel disana?
    bakalan ada perang dunia nih

  7. Myungsoo cemburu nih yee , tuh kan dikira jiyeon di jepang beneran punya salon ternyata baru mau dikasih aja udah di umbar umbar ,

  8. sooyeon lucu ngatain kai haha…
    ternyata jiyeon jadi itu ya di jepangnya.. heh kehidupn memng kejam keke myungsoo cemburu setelah part ini pasti benar2 ada perang dunia 3 haha

  9. akhirnya hidup jiyeon selama 4 tahun ini ketahuan juga, pantes aja dia panik pas myungsoo nanya2in dia..

    omaigattt, jiyeon kamuu.. hehh gak tau mau ngomong apa..

    perang dunia ke tiga..
    wow bangett, orang yg lagi cemburu emang seremmm ihhh..

  10. ortu myunhzy emang jahaattt tappii jiyeon kan harusnya gk gituu gkk liatt apaa pengorbanan suzy bat dy.. huhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s