LOVE is HARD part 6

 new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                Park jiyeon T-Ara

                                  And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. cerita ini sangat flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana. Oh ya, peringatan. Ini belum aku edit lagi, jd kl byk typo maaf ya ^^

 ====================================================================

Part 6

 

Author POV

Myungsoo menatap kertas dan foto-foto yang ada di tangannya dengan teliti. Ada berjuta perasaan menghinggapinya saat melihat foto-foto istrinya—kalau dia masih bisa menyebut begitu—dan anaknya yang terlihat baik-baik saja. Dia juga ikut tersenyum senang melihat senyum lepas Suzy yang sudah sangat lama tidak di lihatnnya itu. Meskipun Suzy selalu berusaha tersenyum tulus padanya, tapi dia tahu senyum Suzy itu penuh kepedihan dan tidak lepas.

“Sepertinya kalian bahagia sekali,” guman Myungso pelan dan kembali melihat beberapa foto lain yang di dapatkan orang suruhannya.

Myungso memang menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaan Suzy dan Sooyeon. Bukan hal yang sulit  bagi Myungso menebak keberadaan Suzy. Karena sifat pendiam dan sedikit menutup diri Suzy yang membantunya. Dia tahu Suzy jarang bergaul dan tidak punya teman dekat selain sahabat-sahabat SMAnya yaitu Soojung, Sulli dan Jiyeon. Berhubung Jiyeon sekarang bertindak sebagi orang yng paling ingin di hindarinya Myungso menebak Suzy pasti menemui Soojung atau Sulli, karena Suzy tidak punya kerabat lain setelah neneknya meninggal dan di susul ke dua orang tuanya beberapa bulan yang lalu.

Dan Suzy tidak mungkin ke Gwangju, karena setelah neneknya meninggal rumah mereka disana sudah di jual. Makam nenek Suzy juga ada di Seoul. Jadi yang perlu di lakukan Myungso hanya mencari keberadaan Soojung dan Sulli, dan hal itu sangat mudah karena Soojung dan Sulli lumayan rajin mengikuti reuni SMA mereka yang mana dari cacatan reuni yang di lihat Myungso kedua sepupu itu bekerja di Changwon. Myungso tinggal menyuruh orang memata-matai mereka dan ternyata dugaannya benar, Suzy ada di sana.

Myungso cukup senang melihat foto-foto Suzy dan Sooyeon yang di dapatkan orang suruhannya. Di foto itu terlihat jika Suzy dan Sooyeon sering mengahbiskan waktunya bersama Soojung dan Sulli dan juga 3 namja asing lain. Ah, satunya tidak asing, karena dia pernah melihatnya beberapa kali dan juga hadir saat pernikahannya. Tapi ada satu foto yang menggelitik hati Myungso, yaitu foto saat mereka bertujuh—Suzy-Sooyeon-Soojung-Sulli-Taemin-Minho-Jongin—sedang makan bersama di restoran, ada seorang namja yang menatap Suzy dengan tatapan yang tidak di sukai Myungso. Namja itu menatap Suzy seolah Suzy adalah yeoja ‘paling sempurna dan paling ingin di lindungi.’ Dan Myungso tidak nyaman melihat tatapan itu. Lalu dia mengambil foto yang di meberi penjelasan siapa namja itu oleh orang suruhannya.

Nama Kim Jong-in, Presdir K.A.I  fashion tempat di mana Nyonya Bae Suzy bekerja. Dia juga adalah teman kuliah dan sahabat Lee Taemin yang merupakan kekasih Coi Sulli.

Setelah Myungso membaca catatan kecil di balik foto Jong-in, dia kembali melanjutakan mengamati foto-foto itu, dan perasaan tidak suka pada Jong-in bertambah begitu melihat begitu banyak foto-foto Jong-in yang selalu berdekatan dengan Suzy. Ada juga foto jong-in yang sedang menggendong Sooyeon, foto Jong-in, Suzy dan Sooyeon hanya bertiga, bahkan ada foto yang memperlihatkan hanya mereka berdua saja.

“Ada apa denganku,” guman Myungso yang heran pada dirinya. Myungso memang tidak pernah melihat Suzy dekat dengan namja lain sebelumnya kecuali dengannya. “Kenapa aku tidak suka melihat Suzy tersenyum bersama namja lain.”

“Ceih, namja ini pasti ingin menarik perhatian Suzy dengan menggunakan Sooyeon,” komentar Myungso melihat jong-in yang menngendong Sooyeon. “Dan kenapa Sooyeon mau saja di gendong dan manfaatkan? Bae Suzy kamu mempergunakan putriku.”

Cemooh-cemooh Myungso berhenti begitu telepon di depannya berdering dan melihat lampu yang di beri label sekretarisnya menyala.

“Ada apa?” tanya Myungso mengangkat teleponnya.

“Presdir, nyonya Park Jiyeon memaksa ingin bertemu dengan anda,” jawab sekretaris Myungso dari seberang. Dia memang menyuruh sekretarisnya menolak siapapun yang ingin bertemu dengannya karena dia sedang tidak ingin di ganggu.

“Kalau begitu ijinkan dia masuk,” jawab Myungso.

“Baik, presdir.” Jawab Sekretarisnya sebelum Myungso menutup teleponnya. Dia menghela napas panjang sebelum menyimpan foto-foto yang dia lihat ke laci mejanya.

“Oppa!!” pekikan nyaring Jiyeon langsung terdengar bersamaan dengan pintu ruang kerjanya yang terbuka.

“Ne. Ada perlu apa kamu datang ke sini.”

Senyum ceria Jiyeon langsung hilang begitu mendengar nada datar Myungso. “Ya, kenapa kamu berkata begitu. Apa aku tidak boleh datang ke sini? Apa kamu tidak merindukanku?” sungut jiyeon kesal. Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu dan dia sudah sangat merindukan Myungso, tapi reaksi Myungso saat melihatnya benar-benar melukai hatinya.

“Aniyo, bukan begitu maksudku. Kenapa kamu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.”

“Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi ponselmu mati dan selama dua hari kamu tidak bida di hubungi.” Jawab Jiyeon makin kesal.

“Mianhae… aku sedang banyak pekerjaan.”

“Lalu ponselmu kenapa tidak bisa di hubungi.”

“Oh itu, ponselku hilang dan aku lupa meminta asistenku untuk mencari gantinya.”

“Jeongmalyo, kamu tidak berbohong?” Myungso hanya mengangguk dan memberi senyum pada Jiyeon.

“Jadi katakan apa tujuanmu datang, pekerjaanku masih banyak.” Jiyeon hanya menghela nafas. Dia menyerah untuk memaksa Myungso untuk tidak terlalu ketus, karena sepertinya mood Myungso memang sedang tidak baik.

“Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa oppa sudah makan siang?” ujar Jiyeon semanis mungkin.

“Mian, aku sedang malas makan. Pekerjaanku sangat banyak. Kamu tahukan sejak orangtuaku dan orangtua Suzy meninggal, secara otomatis aku yang harus mengurus kedua perusahaan.”

“Tapi kamu juga harus makan oppa, kalau kamu nanti sakit bagaimana,” ujar Jiyeon membujuk.

“Park Jiyeon, sudah ku bilang aku sedang tidak ingin makan! Apa kamu tidak mengerti!” ujar Myungso sedikit membentak membuat Jiyeon terdiam. Ini untuk pertama kalinya Myungso membentaknya. Mereka memang sering berbeda pendapat, tapi sebelumnya Myungso tidak pernah membentaknya.

Melihat mata Jiyeon yang memerah, Myungso langsung tersadar.  “Mian…”

“Oppa kamu jahat,” kata Jiyeon memotong Myungso dengan mata memerah. “Kamu berubah dan aku membencimu.” Katanya dan langsung pergi meninggalkan Myungso.

“Yak! Park Jiyeon Mianhae, aku tak…” ujar Myungso mengehentikan Jiyeon tapi yeoja itu terlanjur keluar dari ruangannya.

“Aish… gara-gara namja hitam sialan itu, moodku jadi berantakan,” umapat Myungso sebelum berlari mengejar Jiyeon.

“Mianhae, aku yang salah,” ujar Myungso begitu berhasil mengejar Jiyeon yang berjalan ke arah lift. “Baiklah kita makan bersama.”

“Tidak usah, kamu urus saja pekerjaanmu yang menumpuk itu,” ujar jiyeon berusaha menyembunyikan senyumnya. “merekakan lebih penting dariku.”

“Aniyo, bukan begitu. Kamu jauh lebih penting dari pekerjaanku.”

“Kalau begitu aku mau oppa menghabiskan hari ini bersamaku tanpa memikirkan hal lain termasuk pekerjaan.”

Myungso menarik nafasnya dalam sebelum mengangguk. “Arraso.”

ʚ

“Oppa kapan Suzy kembali dari liburannya? Ini sudah hampir dua bulan,” tanya jiyeon di sela-sela makan siangany.

“Molla, dia tidak memberitahuku. Kalau dia sudah bosan dia pasti pulang.”

“Tapi ini sudah terlalu lama. Jangan-jangan dia ingin membawa kabur Sooyeon.” Myungso langsung mengehntikan kunyahannya mendengar ucapan Jiyeon.

“Kenapa kamu tidak sabaran, dia kan sudah meminta ijin darimu membawa Sooyeon.”

“Ia, aku memberi dia ijin, tapi tidak selama ini juga. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama.”

“Apa yang membuatmu terburu-buru memangnya.”

“Kalau dia terlalu lama bersama Suzy aku takut Sooyeon akan membenciku dan lebih menyayangi suzy.” Myungso kembali menarik nafas panjang saat Jiyeon mulai berfikiran jelek tentang Suzy. “Sebenarnya mereka pergi liburan kemana sih oppa? Kalau kamu tidak bisa menyusul biara aku saja yang menyusul mereka.”

“Kamu tenang saja, minguu depan aku berencana menyusul dan membawa mereka pulang,” jawab Myungso.

“Mereka? kamu hanya perlu mebawa Sooyeon aja. Kalau Suzy masih ingin liburan biarkan saja.”

“Suzy itu masih istruku, jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Lagipula Sooyeon tidak akan mau ku ajakpulng kalau Suzy tidak ikut. Mereka berdua itu sangat dekat.”

“Kenapa kamu belum menceraikan Suzy? Apa dia tidak mau?” tanya Jiyeon lagi. Dia tidak suka Myungso memanggil Suzy sebagi istrinya karena gelar itu dulu miliknya, yeah walau pernikahan mereka hanya sebentar dan belum sah secara hukum. “Dia sudah berjanji akan melepaskanmu.” Myungso hanya dia tak menjawab.

“Suzy belum kembali jadi aku tidak bisa mengurusnya,” ujar Myungso berdalih.

“Cieh, jangan-jangan itu tujuannya untuk berlibur dan tidak kembali-kembali. Karena dia tidak ingin di ceraikan olehmu…”

“Minggu depan aku akan membawa Sooyeon dan Suzy pulang jadi berhentilah membahas itu. Aku mengorbankan pekerjaanku dan menemanimu seharian bukan untuk mendengar itu,” ujar Myungso mulai kesal. Entah kenapa menyebut Suzy membuatnya teringat pada namja yang selalu ada bersamanya itu. Dan itu membuat mood myungso semakin buruk. “Kalau kamu mengeluhkan Suzy dan hal tidak berguna lainya, lebih baik aku mengurusi pekerjaanku,” ancam Myungso membuat Jiyeon menghentikan niatnya untuk membantah myungso.

ʚ

Myungso menatap sekolah play group di depannya. Kemudian dia melihat jam yang melingkar di tangannya, dan kalau dia tidak salah perkiraan Sooyeon akan pulang sekitar sepuluh menit lagi. Dengan tekad yang sudah bulat dia keluar dari mobil dan melangkah menuju gerbang sekolah Sooyeon. Disana sudah berdiri beberapa orang tua yang sepertinya menunggu anaknya pulang sekolah. Dan setelah mengedarkan matanya dia belum menemukan sosok Suzy.

Sambil menunggu Sooyeon, Myungso mulai asik dengan pikirannya. Menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan jika bertemu Suzy. Apa harus memarahinya karena membawa Sooyeon tanpa ijinnya? Atau harus mengucapkan terimakasih karena Suzy menjaga Sooyeon dengan baik. atau harus meminta maaf karena perlakuannya selama ini pada Suzy. Atau…

Sedang asik menimang-nimang tindakannya pada Suzy, tiba-tiba para murid berhamburan keluar dan berlari mencari para orangtua meraka. Dan tak lama kemudian dia menemukan sosok Sooyeon yang sedang berlari sepertinya sedang mencari seseorang. Langkah gadis kecil itu langsung berhentti begitu melihat keberadaan Myungso.

“APPA!!” pekik Sooyeon berlari kepeluka Myungso dan tentu saja namja itu langsung memeluk Sooyeon. “Bogosippo, jongmal bogosippo,” ujar Sooyeon di pelukan Myungso.

“Nado… bogosippo,” jawab Myungso memeluk erat Sooyeon yang sudah tidak di temuinya selama dua bulan ini.

“Eh, Eomma!” ujar Sooyeon dalam pelukan Myungso begitu mata gadis cilik itu melihat Suzy yang berdiri mematung. Sontak Myungso membalikkan badannya dan menatap Suzy dengan pandangan yang sulit di artikan. Dan dengan berat hati karena sudah tertangkap basah, Suzy akhirnya mendekati dua orang yang paling dia cintai itu.

“Annyeong oppa,” ujar Suzy berusah mengendalikan suaranya agar terdengar sanati. “Lama tidak bertemu.”

“Eoh…,” Ujar Myungso canggung. Meski sudah mempersiapkan diri bertemu Suzy, namun pada akhirnya dia merasa gugup juga saat bertemu langsung dengan Suzy.

“Eomma… Appa… Baegopa,” ujar Sooteon memecahkan keheningan di anatar kedua orang tuanya. “Bagai mana kalau kita makan bersama?”

“Baegopa? Kalau begitu kajja kita makan,” Jawab Myungso.

“Eh… Aku masih harus bekerja, jadi aku tidak bisa ikut,” ujar Suzy sebelum Myungso melangkah. “Kalain makan berdua saja.” Meski Suzy berusaha menutupi dengan senyum khasnya, tapi Myungso dapat menangkap ke khawatiran dan ketakutan di mata Suzy.

“Tapi aku ingin makan bersama eomma dan appa juga. Sudah lama kita tidak makan bersama,” Ujar Sooyeon mulai terisak.

“Apa kamu tidak bisa meluangkan waktumu sebentar saja?” ujar Myungso membuat Suzy sedikit kaget. Untuk pertama kalinya Myungso mengajaknya makan bersama, biasanya namja itu yang akan mencari-cari alasan agar dia tidak dekat-dekat dengan Suzy. “Seharusnya sekarang kan masih jam makan siang.”

“Oh… Ne…ne.” Ujar Suzy masih tidak percaya dengan pendengarannya. “Kalau hanya makan siang sepertinya bisa,” jawab Suzy membuat Sooyeon menghentikan isakannya.

“Jincha? Kita akan makan bersama. Horeee ,” ujar Sooyeon berteriak riang dalam pelukan Myungso membuat Myungso dan Suzy tidak bisa menahan senyum melihat kelakuan gadis kecil itu.

“Gomawo sudah mau meluangkan waktumu,” ujar Myungso membuat Suzy benar terkena serangan jantung ringan. ‘Kim Myungsoo mengucapkan terimakasih padanya karena dia mau meluangkan waktu makan siang bersama?’ sepertinya Suzy perlu membenturkan kepalanya ke aspal agar dia terbangun dari mimpinya.

ʚ

suzy dan Myungso kembali terdiam setelah mereka selesai membacakan pesanannya kepada pelayan restoran tempat mereka makan siang. Ah…sejak tadi mereka memang selalu terdiam, hanya suara ceria Sooyen yang terdengar. Gadis kecil itu dengan riangnnya bercerita tentang kejadian apa yang di alaminya tadi sekolah dan bagaimana dia mendapat pujian dari gurunya karena berhasil mewarnai lebih cepat dari teman-temannya, tanpa menyadari kecanggungan yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Toh, suasana canggung seperti ia hadapi saat kedua orang tuanya bertemu, jadi baginya tidak ada yang berbeda dari biasanya.

“Appa sewaktu saem tadi menyuruh murid-murid bernyanyi, aku juga maju yang pertama?”

“Benarkah? Lalu kamu menyanyi lagu apa?” jawab Myungso.

“Aku bernyanyi Gom Se Mari(lagu beruang),” jawab Sooyeon dan langsung menyanyikan lagunya dengan lengkap denga gerakannya penuh semangat (kyk Han ji eun di full house, tau kan^^) tanpa di minta. Lagi-lagi Suzy dan Myungso hanya tersenyum melihat tingkah lucu Sooyeon.

Setelah pesanan mereka datang dan Sooyeon sibuk dengan makanannya, suzy dan Myungso masih saja terdiam tanpa berniat menyentuh makanan mereka.

“Bagaimana kabarmu?” ujar Myungso memulai percakapannya dengan Suzy. Dengan sikap pendiam Suzy, Myungso yakin jika dia tidak yang memulai makan istrinya itu akan betah berdiam diri hingga tahun depan.

“Baik,” jawab Suzy singkat sambil membantu Sooyeon makan.

Myungso memaki-maki Suzy dalam hati. Kenapa yeoja ini semakin hari semakin pendiam? Dulu saat mereka masih bersahabat baik, meski Suzy bukan orang yang banyak bicara tapi yeoja itu akan menanggapi setiap perkataannya dengan baik sehingga dia tidak perlu mencari-cari bahan pembicaraan yang baru.

“Sepertinya kamu sangat suka tinggal di tempat ini.”

“Ne.”

“Aku dengar kamu sudah mendapatkan pekerjaan disini sebagai seorang desainer, kamu pasti senang akhirnya bisa melakukan impianmu,” ujar Myungso lagi dan hanya di balas anggukan oleh Suzy. Myungso kembali mendenges. “Selamat atas pekerjaan barumu.”

“Gomawo,” jawab Suzy, tanpa perlu mau repot-repot memikirkan dari mana Myungso tahu tentang dirinya dan kenapa namja itu mencari tahu tentangnya.

“Apakah pekerjaan buru itu sangat menyenangkan?”

“Ne.”

“Apa kamu tidak mengalami kesulitan?”

“Aniyo.”

“Bisakah kamu menjawab pertanyaanku tidak dengan satu kata dan melihatku saat berbicara!” ujar Myungso kesal karena Suzy dari tadi hanya menjawab singkat dan tidak menatap wajahnya.

Suzy tersentak dan langsung menatap Myungso dengan wajah bingung. Tidak hanya Suzy tapi Sooyen juga menatap Myungso kaget. Myungso memang sering bersikap dingan dengan Suzy tapi dia belum pernah melihat ayahnya itu membentak Suzy.

“Mianhae oppa, tapi aku sedang menyuapi Sooyeon, dan kalau oppa ingin marah denganku nanti saja saat Sooyeon tidak melihat,” jawaban Suzy sontak membuat Myungso menatap Sooyeon yang melihatnya dengan tatapan sedikit kaget. “Sooyeon-ah ayo makan lagi, tadi appa sedang kaget,” ujar Suzy pada Sooyeon yang di jawab anggukan oleh gadis kecil itu.

“Aku tidak marah denganmu, aku hanya kesal karena kamu mengacuhkanku?” jawab Myungso dengan nada ang lebih lembut.

“Waeyo oppa?” tanya Suzy bingung dan menatap Myungso sekilas, takut-takut Myungso akan marah lagi dan membuat Sooyeon ketakutan.

“Kamu masih bertanya?” ujar Myungso dengan nada biasa tapi tidak bisa menghilangkan kekesalannya. “Aku tidak suka jika sedang berbicara denganku kamu mengacuhkanku dan hanya menjawab acuh tak acuh.”

Suzy menghentikan kegiatannya menyuapi Sooyeon dan membiarkan yeoja kecil itu menikmati es coklat yang tadi dia pesan sendirian, lalu menatap Myungso lekat dengan tatapan yang sulit di artikan dan membuat Myungso jadi salah tingkah. Dia belum pernah di tatap Suzy lebih dari 3 detik dengan tatapan seperti tu pula dan tatapan Suzy yang seperti itu membuatnya tidak nyaman.

“Ada apa denganmu oppa? Apa kamu benar-benar Kim Myungso?” tanya Suzy membuat Myungso mengerutkan keningnya. “Bukannya biasanya kamu tidak suka aku berada di dekatmu dan memandangmu? Bukannya biasanya kamu berharap aku mengacuhkanmu dan menganggapku tidak ada? Bukannya biasanya kamu menghindari apapun itu yang akan menghubungkanmu denganku? kenapa kamu tiba-tiba marah saat aku melakukan apa yang kamu inginkan?”

Myungso terdiam. Benarkah selama ini dia bersikap seperti itu? Apa dia sekejam itu dan kenapa dia tidak menyadarinya selama ini? dan kalau benar dia memang seperti itu dulu, kenapa tiba-tiba sekarang dia membenci dirinya yang dulu? Kenapa dia berharap Suzy bisa tersenyum dan tertawa padanya seperti yang dilakukannya dengan pria hitam berbibir tebal itu?

“Oh, i… itu. Aku hanya teringat permintaanmu yang terakhir saat kamu ingin aku bersikap sepert saat-saat kita masih sekolah dulu,” ujar Myungso mencari-cari alasan.

Suzy tersenyum seperti biasa pada Myungso, tapi bukan senyum yang di harapkan Myungso. Senyum Suzy sekrang senyum orang tertekan.

“Aku senang karena oppa mau mengabulkan permintaanku, tapi kamu tidak perlu melakukannya. Aku gak mau oppa melakukan yang tidak oppa sukai, oppa bisa bersikap seperti biasa.”

“Waeyo? Karena kamu sekarang sudah menemukan namja yang bisa bersikap baik padamu?” ujar Myungso tanpa bisa mengontrol kekesalannya.

“Mwo? Apa maksudmu oppa?” tanya Suzy bingung.

“Kamu pikir aku tidak tahu kamu berselingkuh di belakangku?” ujar Myungso dengan nada Sinis. “Kita belum resmi bercerai kamu sudah berani mendekati pria lain. Apa kamu semurahan itu,” kata Myungso tanpa berfikir, dia sendiri juga kaget dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.

“Su… Suzy..,” ujar Myungso menyadari kesalahannya saat melihat mata Suzy yang memerah. Dia tahu Suzy pasti sering menangsi di belakangnya tapi yeoja itu belum pernah menangis di hadapannya sekasar apapun perlakuannya. Pasti kata-katanya sangat kasar.

“Sooyeon-ah… apa kamu tidak ingin main di sana sebentar? Eomma dan appa sedang ingin bicara,” Ujar Suzy pada Sooyeon yang duduk di sebelahnya.

“Waeyo? Aku juga ingin mendengarnya,” ujar Sooyeon bingung. Sebenarnya meski Sooyeon ada di situ gadis kecil itu juga tidak akan mengerti pembicaraan kedua orang tuanya, Suzy hanya tidak mau Sooyeon kata-kata kasar ang tidak sengaja keluar dari mulutnya dan Myungso, melihat amarah Myungso dan amarahnya yang mulai tersulut akibat penghinaan Myungso. Ya seperti tadi ‘berselingkuh’ dan ‘murahan.’

“Ini rahasia antara eomma dan appa. Sooyeonkan tahu kalau rahasia tidak boleh ada yang tahu,” bujuk Suzy.

“Aku juga punya rahasia dengan Sulli ajhuma, kata ajhuma aku tidak boleh bilang siapa-siapa.” ujar Sooyeon senang.  “Baiklah aku mengerti, appa aku pergi main ke sana dulu ya?” ujar Sooyeon berlari ke arena permainan anak yang di sediakan restoran itu. Setelah Sooyeon pergi Suzy kembali menatap Myungso.

“Oppa apa kamu sangat membenciku? Begitu besarkah kesalahanku padamu. Apa menyutujui perjodohan itu adalah dosa yang sangat besar sehingga aku sangat hina di hadapanmu?” kata Suzy dengan mata semakin merah dan juga suara serak. “Mianhae atas semua kesalahanmu, dan mianhae karena aku kamu dan Jiyeon harus hidup begini.”

Suzy terdiam sebentar untuk menelan ludah agar tangisnya tidak pecah, “Sekarang kedua orang tua kita sudah meninggal dan Jiyeon sudah kembali. Aku sudah menyerahkan surat cerai kita padamu, apa itu masih belum cukup untuk menebus kesalahanku? Apa aku masih terlihat sangat menjijikkan di matamu sampai kamu mengatakan aku murahan? Oh atau karena aku membawa Sooyeon secara diam-diam? Aku minta maaf oppa… jongmal Mianhaeyo, tapi sebelumnya aku sudah meminta ijin padamu untuk membawanya bersamaku kan? Berselingkuh? Atas dasar apa kamu berkata begitu? Seandainyapun aku dekat dengan pria lain, itu bukan hal yang salah bukan. Aku sudah menadatangani surat cerai kita. Kita bukan lagi suami istri.”

“Dan apa cuma kalian saja yang terluka di sini? Apa Cuma kalian yang punya perasaan? Lalu bagaimana denganku? apa aku hanya boneka yang tidak memiliki perasaan. Kena sepertinya semua kesalahan di timpakan padaku? Kenapa hanya aku yang menjadi murahan…?”

Myungso terdiam. Dia tidak bisa membuka Suaranya. Bukan—bukan seperti itu maksudnya. Dia tadi hanya asal bicara tanpa berfikir dan melihat Suzy yang menangis dan mengungkapkan isi hatinya mebuat hatinya juga merasa sakit.

“Oh apa karena aku mencintaimu padahal kamu dan Jiyeon saling mencintai itu yang membuatmu berfikir aku murahan? Benarkah oppa aku sangat murahan. Selama ini aku selalu bisa menahan rasa sakitku sesakit apapun itu, tapi mendengar orang yang aku cintai mengatakan aku adalah wanita murahan rasanya sakitanya bekali-kali lipat.”

“Suzy.. mianhae. Maksudku bukan begitu…” Suzy tidak peduli dengan perkataan Myungso. Rasa sakit diddanya sudah meluap keluar tak bisa di tahan lagi.

“Aku tahu saat aku menikah denganmu aku sudah tidak memiliki harga diri. Orang-orang menyebutku perebut suami orang dan menjijikkan, tapi aku selalu bisa menahan diri karena ku pikir meski kamu membenciku tapi kamu mengenalku sedikit. Kamu tidak akan mungkin menganggapku murahan, kamu tau keadaan yang sebenarnya, lagi pula dulu kita bersahabat baik. tapi aku salah, kamu tidak mengenalku. Kamu juga menganggapku murahan… kenapa hidupku bisa begini oppa? Kenapa aku harus hidup sebagi wanita murahan…” ujar Suzy. Kali ini air mataya tidak bisa di bendung lagi. “Dan justru kata murahan harus keluar dari mulutmu.”

“Suzy… mianhae, aku hanya sedang kesal, bukan maksudku berkata begitu…”

“Sudahlah oppa, kamu tidak perlu berbicara lagi. Semakin banyak kamu bicara rasanya aku akan semakin sakit hati. Lagi pula jam makan siangku sudah habis, aku harus kembali kekantor,” ujar Suzy memotong Myungso. “aku akan membawa Sooyeon bersamaku, kamu sudah berjanji memberiku waktu bersama Sooyeon sampai aku bersedia melepasnya dan aku belum siap bersiap berpisah darinya.”

Suzy sudah bersiap melangkahkan kakinya saat Myungso mengehentikannya.

“Kamu tidak boleh pergi!” ujar tegas membuat Suzy behenti dan menatapnya bingung. “Aku bilang kamu tidak boleh kembali bekerja!”

Suzy menatapnya sesaat tapi kemudian mengacuhkan Myungso dan mulai melangkahkan kakinya.

“Bae Suzy berhenti!” teriak Myungso membuat Suzy kaget. Sekarang beberapa pengunjung restoran itu menatap mereka bingung. Sebenarnya mereka duduk di pojok dan di sana sepi tapi karena teriakan Myungso beberapa pengunjung mulai menyadari mereka dan menatap mereka bingung.

“Aku tidak mengijinkanmu pergi bekerja!”

“Kamu tidak punya hak mengatur hidupku oppa!” jawab Suzy. Dia sedang marah saat ini, sehingga dia melupakan tentang tata krama dan tidak peduli jika dirinya dan Myungso menjadi pusat perhatian.

“Aku suami dan aku berhak mengaturmu!”

Suzy terdiam mendengar perkataan Myungso. Dia tidak tahu harus bereaksi apa. Di satu sisi dia senang pada akhirnya Myungso mengakuinya sebagai istrinya dan Myungso mengakuinya di depan umum. Tapi di satu sisi ia yakin Myungso pasti sedang mempermainkannya. Mungkin namja itu ingin balas dendam padanya dengan cara membuat Suzy tidak bekerja dan tidak membiarkan dirinya melakukan hal-hal yang di sukainya. Termasuk bekerja.

Lagi pula bukannya mereka sudah bercerai?

“Kita sudah bercerai oppa dan aku sudah menandatanganinya. Jadi kamu tidak punya hak lagi.”

“Aku tidak menandatanganinya dan sudah membakarnya! Jadi kamu masih istriku!”

Suzy kontan membalikkan badan mendengar kalimat Myungso yang barusan. Tangis yang dari tadi di tahannya dengan susah payah kini menghilang begitu saja mendengar perkataan Myungso yang mengejutkan.

‘Sebenarnya apa mau namja ini? bukankah yang dia harapakan adalah bercerai denganku agar bisa bersama jiyeon?’ batin Suzy. Dan Suzy yang selalu berusaha berfikiran positif tidak bisa menahan godaan yang di tawarkan fikiran negatif.

‘apa sebegitu bencinya mereka padaku sehingga mereka tidak bisa melihatku bahagia? Apa begitu senangnya mereka melihatku menderita dan hidup dalam rasa sakit hati yang terus-menerus? Apa mereka memang menginginkanku menderita sendirian melihat kebahagiaan mereka? apa aku tidak boleh bahagia?’

“Lakukan saja apa maumu oppa, aku tidak keberatan. Tapi aku tidak mau lagi hidup seperti dulu denganmu dan terus-terusan menderita. Aku hanya akan melakukan hal-hal yang aku sukai dan kamu tidak bisa melarangku. Bekerja adalah hal yang aku sukai!” ujar Suzy tegas lalu meninggalkan Myungso dan menyusul Sooyeon.

Sementar Myungso yang masih berdiri di tempatnya hanya diam mematung. Dia terlalu sibuk dengan mengisi kepalanya yang sudah berhaburan entah kemana akibat perkataan Suzy. Belum pernah Suzy membantah dan berkata setegas itu padanya.

Lagipula ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba berkata sangat kasar pada Suzy dan membuat yeoja itu menangis. Dan kenapa dadanya begitu sakit melihat Suzy menangis. Kenpa dia tidak suka Suzy pergi bekerja… ah bukan-bukan, dia bukannya tidak suka Suzy bekerja, tapi memikirkan Suzy akan bertemu namja berkulit hitam dan berbibir tebal itu membuat dia sangat marah dan dia tidak suka Suzy harus bertemu dengannya, apalagi tersenyum seperti di foto-foto yang di lihatanya.

Tidak menandatangani dan membakar surat cerai mereka?

Myungso ingin tertawa. Ya memang benar dia belum menandatanganinya. Tapi bukan karena tidak ingin bercerai tapi dia terlalu sibuk sehingga tidak sempat menandatanganinya—itu alasan yang di karang sendiri oleh Myungsoo—tapi membakar? Yang benar saja, dia masih menyimpan rapi surat itu di laci meja kerjanya.

Dan mengapa dia berbohong begitu pada Suzy? Dan yang paling membingungkan, kenpa dia tiba-tiba tidak mau bercerai dengan Suzy?

Sepertinya pekerjaannya membuat masalah pada otaknya. Tapi satu hal yang harus di lakukannya… menjauhakan Suzy dari namja hitam itu lalu membawa istri dan anaknya kembali ke Seoul. Dia tidak boleh kembali sebelum berhasil memboyong keluarganya. Keluarga? Entalah.

Alasannya?

Nanti saja Myungso pikirkan.

Setelah berhasil kembali mengisi otaknya sempat kosong, myungso mulai bisa berfikir. Dia mencari ponselnya di kantongnya. Setelah itu dia menekan Dial pada nomer asistennya.

“Aku tidak bisa pulang ke Seoul besok. Untuk sementara urusan di kantor kamu yang menangani dan untuk pekerjaan yang harus ke selesaikan kamu bisa mengirim lewat email,” ujar Myungso tegas begitu asistennya mengangkat teleponnya. “Aku tidak bisa memastikan kapan aku pulang, nanti kalau urusan disini sudah selesai aku akan menghubungimu lagi.” Katanya mengakhiri panggilan.

Baru saja ia hendak memasukkan ponselnya ke saku celananya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan nama Park Jiyeon muncul di sana. Setelah menghela nafas panjang dengan ragu Myungso mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseo….”

“Oppa kapan kamu kembali ke Seoul? Apa kamu akan pulang malam ini?” tanya Jiyeon di seberang.

“Waeyo? Apa terjadi sesuatu?”

“Aniyo. Hanya saja nanti malam aku harus kembali ke jepang. Ada urusan yang harus aku selesaikan, aku hanya ingin kamu mengantarku ke bandara.”

“Ke jepang? Berapa lama?”

“Ne. Kurang tahu, tapi mungkin akan lama. Sekitar sebulan atau dua bulan. Makanya aku ingin melihatmu sebelum aku kembali ke Jepang.”

“Mianhae Jiyeon-ah… aku tidak bisa pulang malam ini. Paling cepat aku baru bisa pulang lusa, urusanku disini masih banya. Kamu hati-hati saja ne.”

“Arrasoo oppa. Gwenchanayo. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, jangan lupa istirahat. Saranghae.”

“Ne… Aku tutup ,” ujar Myungso lalu menutup telepon dari Jiyeon setelah mendengar jawaban dari Jiyeon.

Myungso menghela nafas lega. Sepertinya Tuhan sedang mendukungnya penuh. Dengan perginya Jiyeon ke Jepeng dia bisa menyelesaikan misinya disini tapa harus pusing-pusing memikirkan alasan apa yang harus di berikan pada Jiyeon.

“Baiklah sekarang yang penting mencari penginapan di dekat tempat tinggal Suzy baru mulai menyusun rencana.”

TBC

HAHAHAHAHHAHAHHAHAHAHA
Kembali tertawa kesetanan.
Salahkan siapa dengan cerita yg semakin absurd ini? tentu saja reader yg memaksaku menyelesaikan ff ini pdhal aku msh UTS jd pemikiranku terpecah… hehehe (pd hal aslinya otaknya aja yg gak guna, sok2 nyalahin org… kekeke)
Oke.aku gak byk cincong, hy kasih sedikit bocoran: part depan ntar Myungso ama Kai akan saling berhadapan trus jambak-jambakan lalu cubit-cubitan, lalu Suzy, Sooyeon, Soojung, Sulli, Taemin dan Minho akan duduk manis sambil makan popcorn lihat aksi Myungso-Kai yg sdh berubah jd saling toel-toelan…(hahaha, gak ding, bercanda. Kekekeke)
Ntar part depan akan ceritain Jiyeon gmn dia bs sukses sprt skrg n bgmn perjuangan dia buat dapatin itu semua di jepang (kl ini benaran).
Dr koment yg aku baca bykan benci bgt ama karakter Jiyeon, pdhal sebenarnya aku pengen buat Jiyeon itu menderita n kasihan jg (intinya aku pengen buat semua tokohnya hidupnya sebenarnya kasihan dan keadaan yg buat mereka jd seperti itu), jd dia sedikit nyebelin tp jg kasihan. Tp sprtnya aku gagl, krn hampir semua sgt membenci jiyeon (author yg gagal…hiks..hiks).
Oke, td niatnya gak byk cincong, eh malah byak. Tp part berikutnya br bs post jumat/sabtu ya (soale mau belajar dl. Abis bikin ff itukan sedikit mikir, jd pas aku belajar tiba-tiba penjelasan ttg Hormon malah ttg ff. Hehehe)
Terakhir Gomawo sudah membaca. Dan maaf atas Typo dan ke absurd an ceritanya. 
Advertisements

100 thoughts on “LOVE is HARD part 6

  1. ap sih mw nya si myungsoo , is dsar labil
    kmarin suzy di acuhkan , skrang mlah ngejar2 suzy ,
    ending ny suzy sma kai ajj y thor
    part slnjut ny jgn lma2 y thor

  2. Myungsoo egois. Nggak kasihan ama Suzy apa? Ngomong seenaknya! Kalo cemburu..ngomong aja cemburu..!! ckckck..emosi aku! jdi gemes pngen nyium myungsoo.. #eh

    keren kak!! FIGHTING^^
    Author jjang!! 🙂

  3. ihh apaa apaan sii myung ini kn yg lu mau suzy udh nrutin tpi knpa kmu mlah gni ? Mauu kmbli sperti dlu ? Emng lu dlu gmna ma suzy ? Mau bwt suzy skit lgi ? Udh suzy ma jongin ja .. Biarkn dia mrasa bhgia ..

    Aku ga bnci jiyeon ko thorr, aku ngertii knapa dia gtuu ..

  4. perdebatan yang hebat haha
    aku suka bagian debat suzy sama myungsoo.. berasa keren aja suzy nya keke..
    di lanjut bacanya ya thor

  5. myungsoo mulai galau nih.. kkkkkk~
    lama bangett jiyeon di jepang, emang mw ngapain sih dia disana, dan siapa gerangan yang udah bantu dia selama ini??

  6. Huhu,.
    suzy ngluapin kekesalanz ma myung,.
    bnr2 bikin nyesek lihatx,.
    lagian knp sih myung punya kulut asal jeplak aja jd kesel sendiri ka myung hehehhe,.
    suka bngt dgn cara didik suzy ke sooyeon,.

  7. yeayy.. myung blm sadar juga ckckck, mesti konsultasi ke sulli kali ya..kkk
    wah mungkin dngan adanya kai jd lebih memacu kerja jantung myung…
    makin daebak nih cerita..

  8. seruuu…bnget thor
    knapa myungsoo oppa sikap.a jd bgitu?? Sperti ga mau khilangan suzy eonni sj.
    Lnjuut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s