HAPPY TOGETHER part 5

 

                                                                               cats                                    

 

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                  Lee ji eun

                                 Jang Wooyoung 2PM

                                Park jiyeon T-Ara

                                  And other

Genre                   :  Romance, Family, school, friendship, dll

=====================================================

Part 5

Author POV

 

“Tuan Bae tidak apa-apa, hanya terlalu banyak pikiran saja. Sepertinya akhir-akhir ini dia sedang tertekan. Dengan banyak istirahat dan kalau boleh di jaga jangan sampai banyak pikirin saja.” Ujar dokter pribadi kakek Bae setelah suzy mengantarnya sampai ke depan rumah. Setelah pulang dari mall terpaksa suzy membawa kakeknya pulang ke rumah karena berkeras tidak mau ke rumah sakit, jadi akhirnya mereka memanggil dokter ke rumah. “Tidak usah terlalu cemas,”ujar dokter itu lagi menenangkan suzy.

“Gamsahamida dokter,”ujar suzy ramah. Raut panik dalam wajahnya perlahan memudar di gantikan raut lega.

Setelah dokter itu pergi suzy langsung berlari ke arah kamar kakeknya. Dia melihat wooyong dan jieun yang duduk di masing-masing sisi kakeknya. Suzy masih bisa melihat Ji eun yang masih sesegukan dalam pelukan kakeknya. Meski suka adu mulut dengan kakeknya suzy tahu ji eun sangat menyayangi kakeknya itu, karena baginya sang kakek bukan hanya kakek tapi juga ayah dan ibu. Sementara wooyoung meski tak samapai menangis suzy bisa melihat namja itu juga terlihat panik.

“Uljima..haraboji tidak apa-apa,”ujar kakeknya menenangkan ji eun.

“Hiks..hiks..haraboji membuatku ketakutan setengah mati, haraboji menyebalkan,”kata ji eun masih terisak.

“Ya..ji eun-ah, lihat itu ingusmu meler,” ejek wooyoung pada ji eun. Dia sedikit lega karena wajah kakeknya tidak sepucat saat di mall. Suzy perlahan menghampiri mereka dan duduk di sebelah ji eun sambil memeluk kakeknya.

“Haraboji juga membuatku ketakutan,”kata suzy lemah. Bayang-bayang kehilangan ibunya sempat terlintas di kepalanya melihat wajah pucat kakeknya dan dia tak menyukainya. Dia baru memiliki keluarga. “Aku takut haraboji akan meninggalkanku,”rengek suzy. Dia bisa merasakan ji eun kembali terisak lebih keras.

“Yak..apa yang kalian pikirkan..haraboji kuat begini tak mungkin mati cepat, meskipun setiap hari kamu berharap dia cepat mati,” kata wooyoung membuat ke tiga orang di ruangan itu langsung meleparkan bantal agar mulutnya tak berbicara sembarangan.

“Dasar cucu kurang ajar..jangan-jangan kamu setiap hari mendoakan aku cepat mati ya,”kata kakeknya kesal.

“Lihatkan? Dia sudah bisa marah-marah, berarti dia sudah sembuh dan kita akan semakin jauh dari warisan,”kata wooyoung yang lagi-lagi dapat pelototan tajam dari tiga pasang mata, tapi paling tidak sudah tidak ada yang menangis. “Sudah lebih baik kita pergi, biarkan haraboji istirahat.”

“Shiro..aku masu disini,”kata ji eun makin mengeratkan pelukannya pada kakeknya.

“Aku juga mau di sini menemani haraboji,”ujar suzy ikut-ikutan. “Haraboji, suka marah-marah karena di tinggal sendirian, jadi mumpung di rumah kita temani haraboji saja.”

“Tapi haraboji kan harus istirahat. Kalian gak dengar apa kata dokter tadi?” kedua sepupunya itu tetap bergeming. “Baiklah, kita akan menemani haraboji, tapi kita duduk disana aja,”kata wooyoung menunjuk sofa di kamar kakek. “Kalau kita disini nanti dia tak bisa tidur.”

Suzy dan ji eun akhirnya setuju dengan usul wooyoung. Dengan berat hati mereka melangka ke sofa  yang di tunjuk wooyoung itu.

“Wahh cepat sekali dia tidurnya,”komentar ji eun melihat kakeknya yang tertidur, padahal baru lima menit yang lalu mereka pindah.

“Sudah ku bilang kakek itu ngantuk. Biasanya orang sakit itu habis minum obat pasti ngantuk,”ujar wooyoung sambil tiduran di sofa dan asik sibuk dengan PS di tangannya.

“Ngomong-ngomong, kenpa kakek tiba-tiba sakit lagi?” Tanya ji eun heran. Maklum sudah tiga bulan ini sejak suzy datang kakeknya tak pernah sakit lagi.

“Mollayo..kami habis mengantri beli makan, trus mencari tempat duduk, tiba-tiba kakek mengeluh pusing dan wajahnya pucat,”ujar suzy mengingat kejadian di restoran tadi. “Apa karena terlalu ramai jadi kakek pusing?”

“Mungkin saja, kakek memang sudah lama sekali tidak ke mall,” ujar ji eun. “Oh..ya gimana hubunganmu dengan myungso oppa?” tanya ji eun penasaran. Suzy sudah sering jalan bareng myungso, tapi sepupunya itu tak pernah menjelaskan tentang hubungan mereka.

“Aku gak tahu..aku merasa seperti di gantung,”aku suzy jujur.

“Maksudmu?” tanya ji eun pensaran. Mereka berdua sekarang duduk di karpet depan sofa, sementara wooyoung dengan santainya tiduran di sofa sambil main PS setelah mengusir sepupunya itu dari sofa. Dia tidak terlalu tertarik mendengarkan obrolan kedua yeoja itu. Kalau bukan shoping, ya namja, kalau tidak teman-teman sekolah mereka.

“Kadang aku berfikir mungso oppa itu menyukaiku. Kamu tahu lah, terkadang dia sangat romantis dan perhatian,” ujar suzy mengungkapkan isi hatinya. “Tapi kadang aku juga berfikir myungso oppa hanya menganggapku sebagai adiknya, seperti dia menganggap jiyeon.”

“Kenapa memang?”

“Kami sudah melakukan hal-hal yang biasanya di lakukan sepasang kekasih, tapi dia belum bilang mencintaiku atau menembakku, jadi aku merasa hubungan kita gak jelas.”

“Ck..dasar namja, selalu saja begitu. Suka memberi harapan kosong. Kalau dalam dua minggu ini dia belum nembak kamu, lebih baik kamu jauhi saja dia suzy-ah.” Suzy tak menjawab, dia hanya menerawang. Dia juga ingin melakukan itu, tapi dia merasa tidak mampu menjauhi myungso. Dia terlalu menyukai namja itu. Bahkan jika namja itu hanya menganggapnya adik sekalipun bukan masalah asalkan ada di dekatnya.

“Gak tahu lah..lihat aja nanti,”ujar suzy lemah. “Lalu kamu..bagai mana dengan gi kwang oppa? Ak..”suzy langsung menghentikan ucapannya begitu ji eun membekap mulut suzy.

“Sssstt..nanti wooyoung oppa mendengarnya,”ujar jiyoung pelan. Suzy mengangguk mengerti.

“Lalu bagaimana?” tanya suzy lagi. “Sepertinya aku makin sering melihat kalian berduaan,”kata suzy pelan, berharap wooyoung tak mendengar.

“Ya, begitulah. Ada perkembangan meski baru sedikit. Kebanyakan aku yang membuntutinya sih..”kata ji eun sambil terkekeh. “Aku selalu mencari-cari alasan biar aku bisa berduaaan dengannya. Meski dia sering berbicara tidak jelas, tapi lumayanlah.”

“Kalu begitu fighting!” kata suzy semangat.

“Kamu juga fighting!”seru ji eun tak kalah semangat.

Sementara wooyoung hanya bisa geleng-geleng sambil konsentrasi pada PSPnya. Tadi kedua sepupunya itu menangis mewek, tapi begitu membahas namja, keduanya langsung semangat sambil ketawa-ketawa gak jelas. Bahkan sepertinya mereka sudah lupa kenapa mereka ada di kamar kakeknya.

“Dasar yeoja,”batinya dalam hati.

*****

“Miahae, tadi malam aku tak bisa ikut manggung, kakek sedang sakit,” kata wooyoung pada teman-teman bandnya yang sedang duduk bersamanya di kantin kampus di tambah myungso. Sejak dia dekat dengan suzy, dia makin sering menempel pada wooyoung. Maklum, biar hubungannya makin lancar.

“Gwenchana..tadi malam myungso yang menggantikanmu,”kata gwikang santai dan sibuk dengan makan siangnya. “Lalu gimana keadaan kakekmu?”

“Gwenhana. Sudah baikan.”

“Kita sebenarnya gak sedih kamu tidak datang, tapi gegara kamu tidak datang aku jadi gak bisa melihat bidadariku,”kata junho mayun yang di amini oleh changsung.

“Woo-ah, nati sore boleh gak kita main ke rumahmua?”tanya changsung penuh harap.

“Gak boleh!”ujar wooyoung tegas, mebuat changsung dan junho langsung mayun. Gi kwang dan myungso hanya terkekeh melihat tingkah keduanya.

“Wa..e..kita kan mau menjenguk Haraboji..”rengek junho.

“Pokoknya gak boleh. Dimana ada kalian, pasti akan terjadi kekacawan,”kata wooyoung tegas. “Aku masih ingat saat kalian berdua membersihkan kulkas di rumahku, dan eomma mengomeliku habis-habisan. Kalian juga mengacak-acak rumahku.”

“Cih..itukan sudah lama. Lagi pula kami tidak akan melakukannya lagi, kami Cuma mau melihat suzy. Sudah satu minggu kita tak bertemu, daku mulai merindukannya,”jawab junho masih berusaha merayo wooyoung.

“Apalagi itu tidak boleh!! Sudah sana, lebih baik kalian pesankan aku makanan. Kalo tidak aku gak mau membayar makanan kalian.”

Dengan muka di tekuk keduanya akhirnya menurut dan pergi membeli makanan wooyoung.

“Kalian berdua juga jangan hanya cengengesan!” kata wooyoung pada myungso dan gi kwang.

“Aku suda bilang, kalau kamu belum serius janga dekatu Ji Eun jangan beri dia harapan palsu!”

“Ak..”gi kwang yang handak membantah mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam wooyyoung. “Arraso, aku tidak akan memberinya harapan palsu. Puas!”katanya jengkel.

“Kamu juga myungso, kalau kamu tidak serius jangan beri suzy harapan palsu. Kalau kamu memang tak menyukainya lebih baik jangan dekati dia.”

“Aku tidak beri dia harapan palsu. Aku memang menyukainya,”kata myungso tak terima.

“Tapi dia merasa di gantung. Dia merasa kamu hanya menganggapnya sebagai adik.”

“Aniyo..aku menyukainya. Aku memperlakuaknya seperti pacarku. Kenpa dia berfikir begitu?” tanya myungso heran. Perasaannya dia sudah menunjukkan perasaannya terang-terangan, masa suzy tak melihatnya?

“Kamu tak pernah mengatakan mencintainya. Kamu juga belum meresmikan hubungan kalian.”

“Apa harus begitu? Tapi aku kan suda menunjukkannya.”

“Yeoja itu perlu kepastian. Mereka suka kata-kata manis dan rayuan. Mereka kurang peka membaca situasi, karena mereka itu suka memikirkan sesuatu secara berlebihan. Makanya ada pepatah ‘wanita itu mahluk yang rumit’. Di bilang cinta minta bukti, di kasih bukti minta kata-kata cinta. Jadi kamu harus membarikan kepastian,” jelas gi kwang bak pakar cinta mebuat wooyoung hanya geleng-geleng melihat sahabatnya yang paling antik itu.

“Pokoknya, intinya..kalian jangan sampai mebuat dongsaeng-dongsaengku sakit hati. Kalau sampai itu terjadi, kalian berhadapan denganku,”ancam wooyoung pada keduanya.

“Huh! Sister complexnya kumat lagi,” gerutu gi kwang kembali sibuk dengan piringnya yang sudah kosong.

*****

“Suzy-ah, aku sama sulli mau jalan-jalan ke mall dulu, kamu mau ikut gak?” tanya ji eun begitu bel pulang sekolah berbunyi. “Dia mau beli baju buat acara ulag tahun perusahaan appanya.”

“Kalian aja yang pergi, kasian haraboji kalau di tinggal sendirian. Dia kan masih belum sehat, imo kan masih di luar negri,”kata suzy sambil membereskan buku-bukunya.

“Ah..suzy-ah, kamu membuat moodku juga hilang,”ujar ji eun lemah. Hari ini dia mau menghabiskan harinya untuk belanja seharian. “Sullia-ah lebih baik kamu pergi sendirian aja,”katanya tak bersemangat.

“Ahh, ji eun-ah kamu gak asik, kamu kan sudah janji menemaniku,”ujar sulli merenggut.

“Gwenchana, kamu pergi aja sama sulli, biar aku aja yang jaga haraboji..kalau kita berdua pergi nanti gak ada yang jagain haraboji. Jadi kita bisa gantian.”

“Tapi haraboji pasti nanti memarahi aku kalau ketahuan belanja lagi,”kata ji eun masih tak bersemangat.

“Nanti aku bilang kamu ada latihan eskul, trus aku gak bisa ikut karena lagi malas,” kata suzy menyemangati ji eun. Dia tahu ji eun sangat gila belanja. Dia malas ikut belanja selain karena harus menjaga kakeknya tapi karena malas kalau harus berbelanja bareng ji eun.

“Jincha?! Gomawo sepupu…selain cantik, kamu juga sangat baik hati,”kata jieun girang dan langsung memeluk suzy semangat.

“Ais…lepskan!”kata suzy sedikit berontak. “Tapi kamu jangan buat ulah lagi..kamu tahu wajah wooyoung oppa kalau tahu kamu berbuat onar lagi.”

“Aiss..lama-lama kamu seperti wooyong,”kata ji eun kesal. Suzy sama sulli hanya terkekeh melihat ji eun yang sedikit merajuk.

“Sudah sana pergi..hati-hati,” kata suzy melambai pada ji eun dan sulli yang masuk ke mobil sulli.

“Dan suzy-ah..baik-baik di rumah ya,”kata suli sebelum masuk ke mobilnya yang di ikuti ji eun. Setelah kedua orang itu pergi, suzy kemudian masuk ke dalam mobil jemputannya.

“Kajja ajhusi, langsung pulang aja,”kata suzy pada supir kakeknya itu.

*****

“Haraboji..aku pulang..”teriak suzy begitu di masuk ke rumah.

“Oh kamu sudah pulang,” kata kakeknya semangat begitu melihat suzy berjalan ke arahnya. “Mana ji eun?”

“Dia ada eskul hari ini..aku sedang malas makanya aku langsung pulang. Tenang saja, nanti dia akan di antar sulli,”kata suzy dan langsung memeluk kakeknya dan mencium pipinya. “Kakek sudah makan?”

“Belum, aku sedang menunggu kalian,”

“Aiss..haraboji ini kebiasaan deh..ini kan sudah lewat jam makan siang, haraboji sedang sakit jadi gak boleh telat makan,”kata suzy kesal dengan kakeknya yang suka membandel itu.

“Aku kan tidak suka makan sendirian,” kata kakeknya sedikit manja, membuat suzy geleng-geleng. Memang orang semakin tua semakin kekanakan.

“Trus gimana kalau aku, ji eun, oppa pulangnya sore..haraboji pasti tidak akan makan,” suzy semakin kesal karena kakeknya malah mengangguk. “Haraboji!”

“Makanya kalian jangan pulang sore terus..tinggal sendirian di rumah dengan kursi roda itu sangat membosankan.”

“arrasso..”kata suzy mengalah. “Kalau gitu, kakek tunggu aku ganti baju dulu setelah itu kita makan siang ne..”kata suzy kemudian langsung berlari ke kamarnya.

——

“Haraboji..minggu depan ada pertemuan orang tua, siapa yang pergi ke sekolah kami? Jiyoung Imo kan baru pulang dari jepang bulan depan?” tanya suzy sambil memberika undangan dari sekolahnya pada kakeknya. Mereka sudah selesai makan dan sedang bersantai sambil menonton TV.

Kakeknya menerima undangan itu dan melihatnya, “Apa wali murid wajib datang? Memang ada pertemuan apa?”

“Molla. Aku juga kurang tahu. Tapi katanya orang tua wajib datang, kalau enggak nanti ada hukumannya. Paling ada hubungannya dengan kami yang akan menghadapi ujian nasional, kami kan sudah kelas tiga.”

“Ah..paling ini tentang pengumpulan dana seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau Cuma begini saja biar wooyoung  yang pergi,” kata kakeknya mengembalikan undangan itu. “Lebih baik kamu berikan ke wooyoung saja.”

“Ne..kalau begitu pas nanti oppa pulang, aku akan memberikannya,” kata suzy meletakkan undangan itu ke meja samping tempat duduknya. Dia kembali menonton tv bersama kakeknya.

“Haraboji..”panggil suzy. Kakeknya yang menatap bosan pada tv menoleh ke arah suzy. “Kemarin, haraboji, kenpa tiba-tiba sakit? Bukannya haraboji sebelumnya sehat-sehat saja?”

Kakeknya menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dada dan kepalaku sakit,”kata kakeknya sambil menyentuh dadanya.

“Haraboji membuatku ketakutan setengah mati,”kata suzy dan merangkul tangan kiri kakeknya. “Kehilangan eomma saja sudah membuatku hampir mati, kalau kakek sampai pergi meninggalkanku juga pasti aku tidak akan memaafkanmu..kakek tahu kakek ini punya banyak dosa padaku,”kata suzy sedikit bercanda.

“Mianhae..”kata kakeknya tersenyum hangat. “dosaku memang banyak padamu.”

“Heh..Tentu saja. Tapi karena kakek sudah minta maaf, maka akan ku maafkan…” kata suzy dengan wajah pura-pura galak. “Karena kemarin kita tidak jadi nonton, bagaimana kalao sekarang aja kita nonton..aku punya DVD baru,”kata suzy menawarkan.

“Kalau karokean saja gimana?” kakeknya mencoba menawar.

“Karoke? Hmmm…boleh juga. Kalau begitu, tunggu disini, aku akan memutarnya,”kata suzy dan beranjak ke tv di depannya dan mulai sibuk mencari-cari kaset MP3. “Kakek mau lagu apa?” tanya suzy pada kakeknya.

“Elvis Presley..!”kata kakeknya penuh emangat.

Suzy hanya bisa memutar bola matanya mendengar perkataan kakeknya. Yang benar saja! Masa dia akan karokean dengan lagu penyanyi yang ngetopnya pas tahun 50-an..dia dalam rencana aja masih belum. Ckck..tapi gak papalah, kakeknya lagi sakit jadi dia menuruti saja.

*****

“Oppa besok ada pertemuan orang tua di sekolah, kamu harus datang,” kata suzy sambil memberikan surat unadangan itu pada wooyoung yang sedang asik menonton bola bersama kakeknya.

“Kenapa harus aku? Memangnya tampangku seperti orang tua?” kata wooyoung.

“Eiss…tentu saja kamu itu sudah tua. Masa kamu tidak sadar sih? Haraboji sama kamu saja, kamu lebih tua,” sahut ji eun yang sibuk maskeran di samping kakenya.

Wooyong yang ingin membalas langsung di sela suzy, “Karena Imo masih di jepang dan kakek sakit jadi kamu yang jadi wali kami.”

“Kenapa selalu aku yang menjadi wali buat kalian sih? Lama-lama orang berfikir aku ini ayah kalian,” kata wooyoung masih sebal. Dia malas menghadiri pertemuan orang tua yang membosankan.

“Eoh…kamu memang lebih cocok jadi Samchon dari pada oppa. Mulai hari ini aku akan memanggilmu samcho aja,” ujar ji eun lagi.

“Ya! Bocah pendek kamu urusi aja maskermu itu. Nanti kamu tidak bisa bertumbuh lagi,” balas wooyoung.

Dari pada mendengar kedua sepupunya itu beradu mulut, suzy lebih memilih duduk di sebelah kakeknya menonton tv sambil memakan buah. Karena melerai ji eun dan wooyoung adalah perbuatan sia-sia. Sebentar berhenti, sebentar lagi adu mulut.

Sedang asik menupas apel buat kakeknya, tiba-tiba hpnya bergetar.

From: Myung Oppa.

Lagi ngapain? Sibuk?

Suzy tersenyum senang dan langsung membalas pesan itu.

To: Myung Oppa.

Tidak juga. Hanya mengupas apel sambil nonton tv.

From: myung Oppa.

Kalau aku telepon sekarng, boleh?

Suzy tidak bisa menahan rasa senangnya dan langsung menatap kakenya.

“Haraboji, buahnya sudah cukupkan? Aku ke kamar dulu ne?” katanya langsung berlari ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari kakeknya, membuat pria tua itu memberunggut sebal.

“Kalau sudah pacaran saja, aku di lupakan.” Kata sambil mencomot buah yang tadi di kupas suzy. “Awas saja kalau namja itu meminta restuku, tidak akn kuberikan.”

“Eis…haraboji, kamu ini kejam sekali,” sahut jieun.

*****

“Pagi-pagi sudah melihat si pendek dan si sok cantik. Sepertinya hari ini aku bakal sial seharian,” kata jiyeon begitu melihat suzy dan ji eun yang berdiri di dekat parkiran mobil. Begitu bel istirahan, mereka berdua dan juga sulli… lebih tepatnya hampir seluruh siswa berhamburan ke ke parkiran untuk memastikan wali mereka datang. Maklum, bagi walinya yang tidak datang akan mendapat masalah. Lagi pula setelah ini mereka sudah tidak ada pelajaran, karena semua guru rapat, tapi mereka tidak di ijinkan pulang.

“Huh..pagi-pagi sudah melihat setan. Bukannya setan biasanya muncul malam hari ya? Kenapa siang bolong begini sudah muncul, ah kekuatan setan sekarang memang luar biasa,” kata ji eun pada suzy dengan nada sinis. Tapi tentu saja itu di tujukan pada jiyeon.

“Mwo setan?!” pekik jiyeon tidak terima. “Dasar keluarga murahan…”

“Apa kamu bilang? Murahan?! Ya! Apa kamu tidak punya cermin? Seharusnya kamu bercermin dulu!”

Suzy buru-buru menarik ji eun menjauh, karena sepertinya sebentar lagi mereka akan berperang lagi. “Ya..ini di sekolah.”

“Biarin saja. Aku ingin merobek mulutnya,” ujar ji eun tidak terima dan meronta dari suzy.

“Jieun-ah sudahlah. Lagian wooyoung oppa sebentar lagi datang kamu mau kena masalah?” ujar suzy. “Ah, itu dia sudah datang,” tunjuk suzy pada mobil sport warna hitam yang baru datang.

“Appa! Kamu datang?!” suzy menoleh mendengar teriakan jiyeon. Dia menatap seorang pria paruh baya yang sekarang sedang berjabat tangan dengan wooyoung.

“Itu ayahnya Park jiyeon?” tanya suzy begitu melihat jiyeon berlari kearah pria itu.

“Ne… wae? Kamu mengenalnya?” taya jieun.

“Aniyo. Hanya aku pernah berbicara dengannya sebentar sewaktu menunggu myungso oppa saat ulang tahun haraboji. Pantas aku sepertinya pernah melihatnya, mungkin karena ayah Park Jiyeon.”

“Sebenarnya dia orang yang baik dan ramah. Berbeda dengan anaknya. Tapi sepertinya dia memiliki hubungan yang kurang bagus dengan haraboji,” kata ji eun.

“Benarkah? Memangnya ada masalah apa?”

Jieun mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. “Aku juga kurang tahu. Haraboji tidak pernah mau mengatakannya.”

“Eoh, bukankah kamu gadis yang waktu itu?” ujar ayah Jiyeon saat sudah berdiri di depan suzy di ikuti wooyoung dan jiyeon. “Aku juga melihatmu kemarin di mall bersama tuan Bae, tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

“Annyeong haseo..nn…nan Bae suzy Immida. Ne, aku cucunya,” kata suzy memperkenalkan diri.

“Cucu? Aku tidak tahu tuan Bae punya cucu yang lain selain wooyoung dan ji eun.”

“Ahh..dia sepupuku yang baru datang dari Amerika ajhusi. Dia anaknya Jihae ajhuma, dongsaeng eommaku,” kata wooyoung menjelaskan.

Pria itu mentap suzy intens dan mencoba mengamati wajahnya lebih teliti.

“Ji hae? Anaknya Ji hae?” tanyanya kaget. “Ji hae punya anak? Aku tidak pernah tahu,” kata pria itu masih terus menatap suzy membuat suzy merasa sedikit tidak nyaman. Wooyoung, jieun dan jiyeon juga menatap pria itu heran.

“Ne… kami juga buru tahu,” jawab wooyoung ragu. Meskipun kakeknya tidak terlalu menyukai pria itu, tapi mereka cukup dekat. Beberapa kali mereka sering mengobrol dan makan bersama. Pria itu juga sering membantu dan mengajarinya dalam bermusik. Tentu saja itu semua tanpa sepengetahuan kakeknya. “Seandainya, bukan karena kabar kecelakaan ajhuma di liput di tv mungkin selamanya kami tidak akan tahu keberadaan suzy.”

Park You Shin menoleh dengan cepat ke wooyoung. “Apa maksudmu?!” tayanya kaget. “Ji hae kecelakaan? Lalu bagaimana keadaannya!”

Wooyoung semakin heran dengan reaksi Park You Shin, kenapa mendengar kabar bibinya kecelakaan seperti dia mau meledak. “Hmm…Gomo akhirnya meninggal, makanya suzy di bawa ke korea.”

Mendengar jawaban Wooyong, Park You shin langsung menatapnya dengan tatapan kaget dan wajahnya juga memucat. “Me… meninggal? Apa aku tidak salah mendengar?” tanyanya dengan nada lemah dan syok.

“Appa kenapa wajahmu pucat?” tanya Jiyeon khawatir dan heran melihat perubahan raut wajah ayahnya.

————-

Suzy sekarang duduk di kafe depan sekolahnya dengan ayahnya Jiyeon. Setelah mendengar kabar kematian ibunya, pria itu mengajaknya berbicara berdua dan Suzy sama sekali tidak keberatan karena dia juga memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.

“Apa…apa anda mengenal Mom? Maksudku eommaku?” tanya suzy ragu. Dia penasaran dengan hubunga yang terjadi antar ibunya dengan pria di depannya itu. Dia yakin hubungan mereka tidak hanya sekedar teman jika melihat ekspresinya saat mendengar kabar ibunya meninggal.

Pria itu menatap suzy lagi, suzy bisa melihat mata pria itu memerah menahan tangis membuat suzy semakin yakin ada sesuatu di antar mereka. Tidak mudah seorang pria menangis.

“Ne, aku mengenalnya. kami dulu adalah teman dekat,” katanya parau. Suzy tidak puas dengan jawaban itu.

Baiklah sekaranglah saatnya. Sudah cukup tiga bulan dia menahan diri. Sekarang dia sudah bertemu dengan teman ibunya, jadi dia akan mulai mencari tahu.

“Hanya teman dekat? Lalu seberapa dekat?”

“Sangat dekat.”

“Kalau begitu apa ajhusi tahu semua tentang masa lalu eommaku?” tanya suzy penasaran membuat pria itu menatapnya. “Eommaku adalah orang yang sangat tertutup. Aku tidak tahu apa-apa tentangnya, jadi aku ingin mencari tahu.” Tambahnya buru-buru.

“Aku rasa aku tahu sedikit,” katanya ragu.

“Kalau begitu apa ajhusi tahu siapa ayahku?” tanya langsung.

“Ne… kamu tidak tahu siapa ayahmu?” tanya Park You shin kaget. Tentu saja! Belum hilang rasa kagetnya mendengar kabar kematian ibunya Suzy, gadis di depannya ini sekarang mempertanyakan padanya siapa ayahnya.

“Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya.”

“Apa ibumu tidak menikah di Amerika? Kenapa kamu tidak tahu?”

“Awalnya aku juga berfikir begitu, tapi Mom tidak pernah menikah di Amerika.” Jawab suzy yakin. “Awalnya aku mengira aku ini anak di luar nikah, tapi haraboji meyakinkanku ayah dan ibuku menikah secara sah. Dan setelah kuhitung-hitung usiaku sepertinya Mom datang ke New York saat sedang hamil satu bulan lebih. Jadi bisa kusimpulkan ayahku ada di korea.” Kata suzy menatap pria yang sedang menatapnya itu.

“Karena Ajhusi bilang adalah teman dekat Mom, pasti ajhusi tahu siapa ayahku kan? Ajhusi pasti tahu Mom menikah dengan siapa?” tanya suzy penuh harap. “Aku sudah bertanya pada haraboji, tapi dia tidak memberitahuku. Dia hanya bilang ayahku masih hidup dan dia di Korea.”

“Tuan Bae berkata begitu?” Suzy  mengangguk sebagai jawaban. “Ayahmu di Korea dan ibumu hamil saat dia pergi ke Amerika?” Suzy kembali mengangguk.

“Berapa usiamu?”

“Sama dengan jiyeon dan jieun. Hanya beda bulan saja.”

Mereka berdua kembali terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Suzy yang pada ayalnya merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri pria di depannya itu mulai menebak-nebak jawabannya. Dan jantungnya mulai berdebar saat pemikiran itu terlintas di kepalanya, dan saat tebakannya ternyata benar jantungnya benar-benar berhenti selama satu detik.

“Kalau yang di katakan tuan Bae itu benar, berarti aku adalah ayahmu.”

TBC

 

Oke, maaf… part ini semakin hancur aja. Dan saat nulis ini aku gak dapat feelnya sama sekali, aku yg baca ulang aja merasa ngeri sendiri, tapi aku benar2 gak ada ide lagi, aku hanya berusaha menamatkan ff ini (utang tetaplah utang ^^). jdlah sgt pendek, plus banyak adegan2 yg sebenarnya ingin aku masukkan tp bingung mau masukinnya gmn (salah satunya MyungZy moment), tp aku benar2 buntuuu bgt. Part berikutnya aku gak janji bs post kpn, tp aku bakal berusaha menamatkan ff ini dan berjanji buat MyungZy lbh eksis lagi. Kritik dan saran di harapkan bgt.

Aku sering merasa kesulitan dpt fell dan ide saat menulis, tp part ini adalah yg paling parah bgtttt menurutku (aku benar2 gak ada feel dan ide buat nulis ini). suer aku gak bohong.

satu lagi aku malas ngedit gambarnya (soale, aku gak bakat bagian ngedit2 gt ^^)

Advertisements

26 thoughts on “HAPPY TOGETHER part 5

  1. Omo… Omo…. Trnya suzy sodaran ama jiyeon… Keren kok thor ceritanya next thor ff lainnya. Jg lama2 yaaaa… penasaran ama cerita2nya cz cerita2nya bagus semua… Semangat thor!!!!!

  2. Yaaaahhh… Gak ada moment myungzy. 😦
    Tapi gpp deh. Moga next part banyak moment myungzy-nya.
    Jadi appanya jiyeon itu appanya suzy jga? Omooo… Keterlaluan skali itu ahjussi sampai gak tau kalau mom suzy hamil n punya anak padahal kan dia suaminya. Cuuiiihhhhh
    Dasar ahjussi nappeun.

  3. Wenuahhhh mbk thor bagus bnget, lnjutin jha. Whaiitingggggg……. Gmn yea setelah suzy crita ma ayah’y jhiyeon. Apa memng apa suzy jg ayah’y jhiyeon? Jd pnasaran niee

  4. akhirnya sdah ktahuan jg siapa ayah suzy eonni …
    d.tunggu next part ya thor … : )
    love is hard.a jangan lama-lama ya thor, aku slalu menunggu … : D

  5. wah berarti benar ajhusi ayahnya suzy,,
    tp knp kok omma suzy perpisah dgn ayah suzy,,
    wah makin penasaran nih

  6. ahhhh gapapapa thor ceritanya menurut aku seru banget penasaran nih kelanjutannya gimana, adegan myungzy disempil sempilin juga gapapa thor semangat author

  7. Iya thor…feelnya emang sedikit gak dpt tp tetep suka kok wlpun myungzy momentnya jg krg hehe
    Loh trus knp eomma suzy sm appanya bs pisah? Kan mereka udh nikah?
    Ditunggu next partnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s