LOVE is HARD part 5

 new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                Park jiyeon T-Ara

                                Kim Jong-In

                                Coi Sulli

                                Jung Soojung

                                  And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. Part ini paling aneh dan  flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana.

===========================================================

Part 5

“Bagaimana kalau ajhusi saja yang gendong. Ajhusikan namja keren,” Suzy langsung menoleh mendengar suara berat itu dan hampir terkena serangan jantung melihat pemiliknya.

“Pre… presdir,” ujar Suzy kaget melihat Jong-in yang berdiri tepat di belakangnya sambil menatap ke arah Sooyeon.”

“Jongmal? Ajhusi mau menggendongku,” ujar Sooyeon girang.

“Pre… presidir, tidak perlu. Hanya di bujuk sedikit saja dia pasti akan mengerti,” ujar Suzy sungkan. Dia sedikit bertanya-tanya bagaimana Jong-in tiba-tiba berada di belakang mereka.

“Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu di luar jam kerja. Kamu bisa memanggilku jong-in seperti Sulli atau Kai seperti yang lain,” ujar Jong-in sambil tersenyum. Itu pertama kali Jong-in tersenyum padanya dan menurut Suzy senyum Jong-in sangat manis, membuat namja  yang biasanya dingin terlihat manis dan imut.

Seperti senyum Kim Myungso.

Suzy langsung tersentak begitu pikirannya tidak sengaja mengingat suaminya itu. Dan rasa rindu kembali menyeruak di hatinya.

“Ne…ne. Tapi Pres… maksudku  Jong-in-si,” ujar Suzy membenarkan saat Jong-in memelototinya. “Tidak perlu melakukan itu. Sooyeon anak pintar, di kasih pengertian sedikit dia akan mengerti.”

“Gwenchananyo, aku yang ingin melakukannya. Kamu tidak boleh mengecewakannya, dia pasti sudah sangat sedih berpisah dengan ayahnya. Jangan sampai senyum cantiknya hilang,” ujar Jong-in  melewati Suzy dan berdiri di depan Sooyeon. “Jadi kamu ingin di gendong,” ujar Jong-in lalu menggendong Sooyeon yang di jawab dengan tawa ceria gadis kecil itu. Suzy tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Jong-in Sudah menggendong Sooyeon dan berjalan ke arah gadis yang berulang tahun itu.

“Orangtua gadis itu karyawanku,” Ujar Jong-in pada Suzy yang ada di belakangnya sebelum yeoja itu bertanya. Suzy jadi bertanya-tanya, apa Jong-in itu mempunya kemampuan membaca pikiran? Kenapa namja itu bisa menjawab pertanyaan Suzy yang dia ucapkan di dalam kepalanya. “Kamu tahu Changwon tidak sebesar Seoul jadi jadi jangan heran kalau di setiap tempat aku menemukan seorang kenalanku.”

Suzy masih diam dan mengikuti saja Jong-in yng sedang menggendong Sooyeo ke arah orangtua gadis yag berulang tahun dan mengucapkan selamat.

ʚ

Jiyeon sedang duduk di ruang tamu Myungso sementara namja itu sedang mandi. Setelah seharian mereka berdua mengahabiskan waktu, Myungso mengajak Jiyeon—lebih tepatnya Jiyeon yang meminta—ke rumahnya untuk ganti baju sebelum merekan makan malam dan jiyeon dengan senang hati menerimanya. Dia berharap bertemu Suzy dan ingin melihat ekpresi Suzy saat dia dan Myungso datang bersama dan yang paling penting dia juga ingin bertemu Sooyeon putrinya. Tapi jiyeon harus menerima kekecewaan saat tiba di rumah Myungso, dia tidak melihat keberadaan dua yeoja itu.

“Suzy sedang pergi berlibur bersama Sooyeon.” Ujar Myungso saat Jiyeon bertanya.

“Suzy berlibur? Hanya mereka berdua saja.” tanya jiyeon heran. Karena menurutnya ini bukan musim liburan atau akhir pekan.

“Ne. Sooyeon memaksa Suzy ingin pergi berlibur dan aku tak bisa ikut makanya hanya mereka berdua yang pergi.”

“Oh, padahal aku juga ingin melihat Sooyeon. Aku ingin mengenalnya lebih dekat,” ujar Jiyeon kecewa. “Melihat dia takut padaku membuatku sedih. Suzy pasti mengatakan yang jelek-jelek tentangku.”

“Berhentilah berfikiran jelek tentang Suzy, dia bukan orang seperti itu,” jawab Myungso. “Sooyeon memang selalu takut bertemu dengan orang baru dan buat dia hanya Suzylah ibunya.”

“Oppa kenapa kamu selalu membela dia,” ujar Jiyeon kesal.

“Aku sedang tidak membelanya, aku berkata kenyataan. Harusnya kamu berterima kasih padanya, kalau bukan karena Suzy, Sooyeon sudah di buang orang tuaku,” jawab Myungso. “Dia sudah cukup banyak berkorban dan terluka karena kita, jadi berhentilah membencinya,” ujar Myungso lagi membuat Jiyeon terdiam.

“Aku mau mandi dulu, jadi kamu tunggulah di sini,” ujar Myungso lagi sebelum masuk ke kamarnya.

Begitu Myungso berlalu, Jiyeon berdiri dari duduknya dan mulai mengamati ruang keluarga Myungso. Dia mengemati setiap foto yang memenuhi tembok rumah itu, dan semua foto itu hampir di penuhi foto-foto Sooyeon, baik bersama Suzy atau bersama Myungso meskipu lebih banyak foto Sooyeon sendiri. Jiyeon cukup lega mendapati tidak ada foto suzy dan myungso berdua termasuk foto pernikahan mereka.

Jiyeon kembali mengamati foto-foto Sooyeon mulai dari bayi sampai foto terbarunya, dan persaan rindu yang amat sangat mengalir di hatinya. Dia akhirnya bisa mengikuti pertumbuhan Sooyeon dari foto-foto yang di pajang Suzy itu. Jiyeon bisa melihat jika Suzy merawat Sooyeon dengan sangat baik, tapi rasa iri itu kembali memenuhi hatinya saat melihat foto kebersamaan Sooyeon dan Suzy yang terlihat bahagia.

“Seharusnya itu tempatku,” guman Jiyeon. “Seharusnya aku yang melakukan itu semua,” gumannya lagi saat melihat foto Suzy dan Sooyeon yang tertawa bahagia dan saat mereka memakai baju yang sama.

“Bae Suzy kenapa kamu selalu mendapatkan yang aku inginkan sih? Membuatku semakin membencimu. Aku tahu kamu tidak salah dan justru ikut menderita, tapi entah kenapa melihatmu bahagia membuatku membencimu,” gumannya lagi. Setelah berkata begitu fikiran Jiyeon kembali melayang ke pertemuan pertamanya dengan Suzy.

Flas Back

“Annyeonghaseo. Park jiyeon immida,” ujar jiyeon meperkenalkan dirinya sambil berdiri di tempat duduknya. Seteleh memperkenalkan diri, dia duduk lalu gantian yeoja aneh bersepatu merah, ransel merah dan gaun merah muda kebesaran dengan gigi kelinci yang duduk di sebelahnya yang melakukan hal yang sama.

“Annyeonghaseo, jeoneon Bae Suzy ieyo. Bangapseumnida (selamat pagi, saya Bae Suzy. Senang bertemu anda),” ujar Suzy dengan senyum terbaiknya memperkenalkan diri pada teman sekelas barunya. Hari ini memang hari pertama mereka masuk sekolah, jadi guru mereka menyuruh mereka memperkenalkan diri satu persatu.

 

Saat Suzy duduk, dia menoleh pada Jiyeon dan tersenyum pada yeoja itu, tapi Jiyeon hanya menatapnya datar dan membalas dengan senyum alakadarnya. Karena menurutnya orang-orang seperti Suzy harus di hindari, karena dia menebak Suzy pasti yeoja miskin dan polos yang akan menjadi korban bully teman-temannya. Dan Jiyeon sudah muak di perlakukan seperti itu makanya dia bertekad hanya berteman pada orang populer agar dia juga ikut populer dan tentunya bebas bully. Yeah yeoja gendut sepertinya memang jadi bulan-bulanan empuk teman-temannya. Makanya dia meminta eommanya mencarikan sekolah yang jauh dari rumah mereka yang tidak ada teman-teman Tknya agar dia bisa memulai hidup baru. Dan sialnya dia justru duduk sebangku dengan yeoja yang berpotensi jadi murid paling sering di bully.

“Kamu tidak ingin pergi istirahat dan bermain bersama yang lain?” tanya Suzy pada Jiyeon begitu bel istirahat berbunyi.

“Aniyo, aku ingin di kelas aja,” jawab Jiyeon datarnya.

“Kalau begitu, aku juga disini saja,” jawab Suzy sambil tersenyum. Jiyon sontak menatap Suzy tidak suka.

“Waeyo? Bukankah kamu mau pergi bermain bersama yang lain?”

Suzy tersenyum, “Aniyo, aku tidak memiliki teman lain, kamu juga kan? Jadi bagaimana kalau kita berteman saja. Aku tahu rasanya tidak punya teman.”

“kenapa aku harus berteman denganmu?”

“Karena kita sebangku.”

Jiyeon belum sempat menjawab  begitu dintrupsi seorang guru, yang sepertinya kepala sekolah mereka masuk ke kelas mereka.

“Bae Suzy!” ujar kepala sekolah itu memanggil Suzy.

“Ne, saesongnim. Ada apa?” tanya Suzy bingung.

“Bisakah kamu ikut ke ruangan saya? Ada yang ingin bertemu denganmu.”

“Ne, saengsongnim,” ujar Suzy mengikuti kepala sekolahnya, menekan rasa penasarannya.

“Baru hari pertama masuk sudah berurusan dengan kepala sekolah,” ujar Jiyeon berdumel, lalu mulai mengeluarkan bekal makan siangnnya yang di siapkan eommanya.

Baru separuh bekal makan siang habis, dia mendengar suara ribut-ribut di luar kelasnya. Karena merasa terganggu sekaligus penasaran, dia akhirnya menyimpan makan siangnya dan ikut melihat kerumunan.

“Chogiyo… Ada apa?” tanya Jiyeon pada seorang gadis yang dia yakini teman sekelasnya, tapi lupa namanya.

“Oh itu ada orang kaya datang ke sekolah kita mobilnya sangat bagus,” jawab yeoja itu tanpa menoleh pada Jiyeon dan masih memandang mobil sedan hitam mengkilat itu. Hampir semua teman satu sekolahnya melakukan hal yang sama. Tidak mengherankan murid-murid sekolah Jiyeon langsung heboh melihat ada mobil mewah datang ke sekolah mereka karena sekolah mereka ada di pedesaan dan miskin. Paling kaya hanya pegawa pabrik atau pegawai kantor pos, sisanya hanya petani atau pedagang di pasar. Maklum sekolahnya hanyalah sekolah negri untuk anak-anak desa.

Orang tua jiyeon sebenarnya cukup terpandang di desanya bahkan mungkin yang paling kaya, ayahnya kepala pengawas pabrik dan dulu dia di sekolahkan di sekolah yang cukup bagus, tapi karena fisiknya yang gemuk dia jadi sering di bully teman-temannya sehingga dia memaksa orang tuanya memasukkanya ke sekolah yang standarnya lebih rendah. Dan meski keluarganya tidak semiskin teman-temannya, dia tahu keluarganya tidak akan mampu membeli mobil sebagus yang di depannya. Paling keluarganya hanya mampu membeli mobil keluaran jepang yang terkenal dengan sebutan mobil kaleng.

“Orang kaya? Nuguya?” tanya Jiyeon penasaran.

“Orangtuanya Bae Suzy. Makanya tadi kepala sekolah memanggilnya, kerena orang tuanya ingin bertemu dengannya,” jawab temannya yang lain. “Wahh… aku tidak menyangka Bae Suzy itu sangat kaya.”

“Bae Suzy?” tanya jiyeon meyakinkan. Jika dia melihat penampilan Suzy, dia yakin Suzy bukanlah gadis dari keluarga kaya. Lihat saja bajunya yang kebesaran dan sudah usang. Belum lagi kulit putihnya yang kemerahan karena terpanggang matahari sehingga terlihat agak gelap.

“Ne.. Bae Suzy. Dia kan teman sebangkumu masa kamu tidak tahu?” tanya temannya lagi. “Wahh..kamu beruntung sekali bisa sebangku dengan Suzy. Aku juga mau berteman dengannya. Pasti menyenangkan punya teman orang kaya.”

“Ne… aku juga ingin berteman dengannya. Siapa tahu aku bisa di ajak naik mobil semewah ini,” jawab teman Jiyeon yang lain. Tapi dia yakin yeoja itu bukan teman sekelasnya. “Kira-kira aku harus menabung berapa lama biar bisa beli mobil begini ya?”

“Ck… kamu menabung sampai matipun tidak akan mampu membeli mobil begini. Aku lihat di buku appaku, katanya ini mobil buatan jerman dan harganya lebih mahal dari semua penghasilan semua orang di desa ini jika di kumpulkan semua.”

“Wahh Bae Suzy itu hebat sekali. Sudah kaya tapi masih mau bersekolah di sekolah miskin begini.”

“Aku dengar dia juga sangat pintar saat TK dulu. Dia satu TK dengan adikku,” ujar kakak kelas jiyeon.

Tidak lama kemudian yang terdengar adalah kata-kata pujian untuk Suzy yang hanya di dengarkan Jiyeon dalam diam. Dan penilain Jiyeon sebelumnya pada Suzy sirna begitu saja.

“Permisi… permisi,” Jiyeon tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara yang meminta jalan itu. Dan dia melihat Suzy bersama dua orang dewasa yang di tebak Jiyeon kedua orangtua Suzy karena dia bisa melihat kemiripan mereka.

“Suzy-ah, kami pulang dulu ne…” ujar Wanita paruh baya itu sambil memeluk tubuh Suzy di samping mobilnya. “Nanti eomma dan appa kapan-kapan main ke sini lagi.”

“Kenapa kalian langsung pergi. Aku masih merindukan kalian,” rengek Suzy karena masih ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.

“Eomma dan Appa harus kembali ke Seoul untuk bekerja. Kamu juga masih harus sekolah.” bujuk eommanya lagi.

“Kenapa harus bekerja di Seoul? Kenapa tidak bekerja di sini aja?” rengek Suzy.

“Appakan kantornya di Seoul, nanti kalau appa tidak bekerja, appa tidak bisa membelikanmu barang seperti ini lagi?” kali ini appanya yang membujuk Suzy sambil menunjuk tas yang baru Suzy dapatkan yang penuh dengan berbagai macam mainan.

“Apa aku tidak boleh ikut ke Seoul saja?”

“Lalu haramoni bagaimana? Dia akan sedih kalau kamu tinggal sendirian. Haramonikan tidak mau pindak ke Seoul,” jawab ibunya.

“Begini saja. Kalau kamu liburan, kamu bisa datang berkunjung ke Seoul,” jawab Appanya sebelum Suzy membantah lagi.

“Jongmalyo?” ujar Suzy girang yang di beri anggkan oleh kedua orang tuanya. Sebelum kedua orang tuanya pamit, sudut mata Suzy menangkap keberadaan Jiyeon yang menatapnya intens. “Eomma, appa… perkenalkan ini cinguku Park Jiyeon,” ujar Suzy memperkenalkan Jiyeon sambil menariknya ke sisinya.

“Jinjayo. Wah, kamu hebat sekali hari pertama sudah mendapat teman,” ujar eommanya antusias. “Jadi kamu temannya Suzy?”

 

Jiyeon yang masih kaget, langsung menangguk dan tersenyum. “Ah..ne. Park Jiyeon imida. Saya temannya Suzy.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum senang. Dan saat Jiyeon mengakui Suzy sebagai temannya, ada perasaan amat bahagia di hati Suzy. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengakui dirinya sebagai teman, aplagi di depan banya orang. “Ya suadah chagiya… kami pamit pulang ya. Jangan lupa kasih pada haramoni yang tadi eomma titip. Ne.”

Setelah saling peluk dan mengucapkan perpisahan, kedua orang tua Suzypun pergi.

“Jadi mulai sekarang kita berteman?” tanya Suzy antusias pada Jiyeon yang masih berdiri di sebelahnya.

“Tentu saja, mulai hari ini kita cingu. Dan selamanya kita akan terus bersahabat,” jawab Jiyeon tidak kalah senang.  Akhirnya untuk pertama kalinya juga dirinya mempunyai seorang teman yang populer di sekolahnya, yang berarti dia juga akan ikut populer dan yang penting dia akan terbebas dari kasus bully.

Sejak hari itu Jiyeon menikmati hari-harinya. Meski pada awalnya dia kurang tulus berteman dengan Suzy, namun seiring berjalannya waktu dia benar-benar tulus menganggap Suzy sebagai sahabatnya. Dia sangat menyayangi Suzy dan menganggap Suzy itu sebagai saudaranya. Makanya sewaktu Suzy tiba-tiba pindah ke Seoul dan memutuskan untuk sekolah di sana Jiyeon sangat sedih dan memaksa eommanya memasukkannya ke sekolah yang sama seperti Suzy. Tapi siapa yang menyangka justru pertemuannya kembali dengan Suzy akan berakhir dengan rusaknnya persahabatan mereka hanya karena seorang namja. Rasa iri yang selama ini dia simpan baik-baik pada Suzy akhirnya berani muncul ke permukaan hanya karena Kim Myungso.

——

“Apa yang sedang kamu lakukan.”

Suara halus dan berat Myungso menyadarka Jiyeon kembali ke masa kini. Hidungnya langsung mencium bau segar dari tubuh Myungso. Bau khas orang baru mandi.

“Aku hanya sedang mengamati foto Sooyeon,” jawab Jiyeon berbalik menghadap Myungso. Dia harus menahan dirinya untuk tidak berlari ke arah myungso dan memeluk namja itu, karena menurutnya myungso yang hanya menggunakan kaus hitam dan celan pendek juga warna hitam itu terlihat sangat menggoda.

“Oh… Sooyeon anak yang manis dan penurut,” ujar Myungso mendekati Jiyeon dan ikut mengamati foto-foto putrinya itu. Myungso baru menyadari begitu banya momen-momen Sooyeon yang hilang darinya karena terlalu sibuk menghindari Suzy. Dia baru sadar ternyata Sooyeon sangat cocok berada  dalam gendongan Suzy. Putrinya itu juga sering menggunakan baju-baju yang sama denagan Suzy. ‘Pasti Suzy yang membuatnya secara khusus’ pikir Myungso. Dan dia baru sadar ternyata ada begitu banya foto Sooyeon yang di pajang Suzy di tembok rumah mereka yang terlihat seperti galeri pameran foto-foto Sooyeon mulai dari bayi hingga sekarang. Kenapa ia tidak pernah sadar?

“Kalau orang melihat. Pasti mereka mengira Suzy adalah ibu kandung Sooyeon karena cara tersenyum dan berpakaian mereka yang sama, padahal…” Jiyeon tidak melanjutkan kalimatnya, karena rasa sakit kembali mengiris hatinya.

“Aku juga baru sadar cara tersenyum mereka mirip. Bahkan gaya mereka saat berfoto juga sama,” kata Myungso menerawang. Jiyeon menatap Myungso curiga. Entah kenapa perasaan aneh itu kembali mengusik hatinya dan bisikan itu kembali terdengar, ‘Dia bukan Kim Myungsomu lagi Park Jiyeon. Dia sudah berubah.’ Tapi dia tidak mau mengakui dan hanya menganggap itu hanya kekhawatirannya saja.

“Oppa kapan aku, bisa bertemu Sooyeon? Kapan Suzy kembali liburan?”

Myungso menatap Jiyeon, menimbang-nimbang jawaban yang akan dia ucapkan. Memilih jawaban jujur bahwa Suzy membawa pergi Sooyeon atau tetap berbohong. Melihat sifat Jiyeon yang ekpresif, dia takut bahwa yeoja di depannya akan berteriak histeris dan memaki-maki Suzy. Dia sedang banyak pikiran dan menghadapi Jiyeon yang sedang mengamuk adalah hal yang paling di hindari Myungso saat ini.

“Bukankah Suzy sudah meminta ijin darimu untuk membawa Sooyeon pergi? Kenapa kamu tidak sabaran?”

“Bukannya begitu. Kalau Suzy membawanya terlalu lama, lalu kapan aku punya waktu dengan Sooyeon dan membuatnya mengerti bahwa aku adalah ibunya bukan Suzy.”

“Kamu sendiri yang memberi ijin, jadi jangan salahkan dia,” jawab Myungso. “Lagi pula sampai kapanpun Suzy akan tetap menjadi ibunya, meskipun bukan dia yang melahirkannya.” Tambah myungso. Melihat raut wajah terluka Jiyeon, Myungso kembali menambahkan. “Bukankah kamu bilang tadi kamu ingin makan malam bersama?” tanya Myungso mengalihkan pembicaraan.

“Kamu selalu saja membelanya. Seandainya sekali saja kamu tidak membelanya di depanku aku tidak akan membenci Suzy,” dumel Jiyeon pelan tapi masih dapat di dengar Myungso, tapi Myungso tidak menanggapi.

“Apa yang kamu lakukan, tidak ingin makan malam?” tanya Myungso yang sudah berdiri di depan pintu. Jiyeon akhirnya berjalan mengikutinya.

“Kalau begitu, aku ingin makan di tempat kencan kita dulu,” ujar Jiyeon riang. Myungsoo hanya mengangguk. “Oh-ho… kamu kembali jadi pendiam lagi. Bukannya oppa sudah berjanji untuk bicara lebih banyak.”

“Arraso, terserah padamu saja,” jawab Myungso dan tersenyum pada Jiyeon.

ʚ

“Masuk!” ujar Jong-in begitu mendengar ada yang mengetuk ruangannya.

“Permisi Presdir. Saya datang membawa rancangan desain terbaru yang akan kita produksi,” ujar Suzy begitu masuk ruangan Jong-in, sementara namja itu masih sibuk berkutat dengan kertas-kertas yang ada di depannya.

Suzy menatap Suzy yang berdiri di hadapannya sambil memegang map merah. “Kenapa kamu yang mengantarnya?” tanya Jong-in bingung. Karena biasanya yang mengantar laporan begitu adalah sekretarisnya atau kepala desainernya.

“Tadi desainer Kim yang memintaku mengantarkannya langsung pada Presdir. Katanya beliau sedang sibuk jadi tidak sempat mengantarnya kesini.”

Jong-in hanya geleng-geleng dengan kelakuan ibunya. Dia tahu ibunya punya maksud tersendiri menyuruh Suzy datang ke sini. Kepala desainer Jong-in memang ibunya sendiri, dan karena sudah tua ibunya ingin segera mendapat pengganti. Dari semua desainer yang di miliki Jong-in, dengan Suzylah wanita paruh baya itu cocok. Dia tidak heran karena siapa yang akan tahan bekerja dengan ibunya yang sangat galak dan cerewet, dia yang anaknya saja tidak tahan. Dan kebetulan sifat Suzy yang pendiam, jadi mereka cocok.

“Itu adalah semua desain yang akan kita produksi untuk koleksi musim dingin kita dan sudah di setujui dalam rapat kemarin. Presdir hanya tinggal menandatanganinya, lalu akan segera di produksi secepatnya.”

“Saya hanya perlu menandatanganinya kan?” tanya Jong-in.

“Ne, presdir.” Jawab Suzy, menunggu Jong-in menandatanganinya. “Baiklah presdir, kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu.” Ujar Suzy begitu Jong-in menandatanganinya.

“Ah, tunggu dulu. Aku ingin bertanya tentang kompetisi desainer itu, apa kamu sudah menyiapkan hasil rancanganmu?”

Suzy mengerutkan dahinya mendengar perkataan Jong-in, yang menurutnya tidak terlalu memiliki urusan untuk itu karena semua urusan kompetisi itu 100% urusan kepala desainer dan bagian tim kreatif mereka, tapi toh di jawabnya, “Ne Presdir, saya sudah menyiapkan beberapa desain dan sedang mengerjakannya.”

“Oh baguslah. Kamu harus berusaha dan menang,” jawa Jong-in semangat. “Aku berkata begini bukan karena aku atasanmu, tapi sebagai teman. Kitakan berteman,” jawab Jong-in gugup.

“Oh, ne presdir. Saya akan berusaha,” jawab Suzy sopan.

“Sudah aku katakan kamu tidak usah terlalu formal terhadapku, santai saja. Kitakan berteman seperti Sulli dan Soojung.”

“Ne, tapi inikan masih jam kerja, jadi anda adalah atasan saya.”

“Ah benar juga,” jawab Jong-in mengangguk-angguk. Dia jadi bingung sendiri, kenapa dia sering salah tingkah jika berhadapan dengan Suzy, padahal dia belum pernah begitu sebelumnya. “Makan siang nanti apa kamu akan menjemput Sooyeon?” tanya Jong-in lagi. Dia semakin bingung pada dirinya, karena entah kenapa dia ingin sekali menahan Suzy di ruanganya dan menghabisakan waktu untuk untuk mengobrol berdua, tapi sialnya dia selalu bingung harus mengobrol apa. Keplanya langsung kosong begitu Suzy menatapnya.

“Ne, Presdir. Apakah ada sesuatu yang penting saat jam istirahat?” tanya Suzy cemas. Sulli dan Soojung tidak bisa menjemput Sooyeon, jadi kalau dia juga tidak bisa dia bingung harus meminta tolong siapa.

“A…Aniyo,” jawab Jong-in buru-buru. “Kebetulan aku sedang ada urusan di daerah situ, mungkin kamu butuh tumpangan.”

“Oh, gwenchanayo, aku membawa mobil sendiri.”

“Benarkah?” ujar Jong-in kecewa.

“Kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu. Saya harus menyerahkan ini pada bagian keuangan agar mereka segera mencairkan dana untuk produksi,” ujar Suzy melihat Jong-in yang sedang terdiam.

“Oh..ne. kamu boleh pergi.”

………….

Jong-in menatap kepergian Suzy dengan tatapan gusar.

“Aish, kenapa aku jadi seperti orang tolol,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutnya.

Jong-in bukanlah pria polos yang tidak pernah berhubungan dengan wanita atau mendekati yeoja. Ah bahkan kalau di telusuri lagi, dia adalah seorang playboy yang suka bergonta-ganti wanita seperti berganti pakaian. Dari remaja dia memang di anugerahi fisik yang sempurna dan menarik sehingga kaum hawa dengan senang hati menawarkan diri. Dan sebagai orang yang sopan—menurut jong-in—dia tidak pernah menolak yeoja manapun. Dan juga sebagai orang yang menghargai karya Tuhan—menurut Jong-in lagi—dia tidak pernah menyia-nyiakan yeoja manapun.

Meskipun para yeoja dengan senang hati menawarkan diri, bukan berarti dia tidak pernah mengejar yeoja. Dia beberapa kali mengejar yeoja yang tidak tertarik padanya—baik yang benar-benar tidak tertarik atau hanya pura-pura tidak tertarik—tapi sebelumnya dia tidak pernah salah tingkah seperti remaja ingusan, atau merasa tiba-tiba kehilangan isi kepalanya hanya karena di tatap oleh seorang yeoja.

“Aku terkenal dengan tatapan tajam mematikan, tapi kenapa justru aku yang mati kutu di tatap mata polos itu,” gumannya lagi.

Jong-in tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat pertama bertemu dengan Suzy ketika Sulli memperkenalkan mereka dua bulan yang lalu. Yang pasti dia tiba-tiba merasa jantungnya begitu bersemangat dan mulutnya terkunci rapat karena terlalu takut salah bicara saat bersama Suzy. Dia ingin terlihat keren di hadapan Suzy—meski dia sadar dia sudah sangat keren. Dan saat melihat senyum Suzy untuk pertama kalinya begitu di terima bekerja, tiba-tiba ada perasaan di hatinya ingin membuat senyum tercantik—menurut Jong-in—itu tetap ada di wajah cantik Suzy. Apapun caranya dia akan membuat yeoja itu terus tersenyum.

Dia jadi ingat percakapannya dengan teman-temannya saat Sooyeon merengek ingin di peluk appanya.

“Otthe Jong-in ah?” tanya Sulli pada Jong-in begitu Suzy bergi menghampiri Sooyeon.

“Waeyo?” ujar Jong-in pura-pura tidak tahu. Semua mata—Soojung-minho-Taemin—sekarang menatap mereka berdua penasaran.

“Cieh, tidak usah pura-pura bodoh. Aku tahu kamu tertarik pada Suzy,” jawab Sulli to the point.

“Mwo?! Kai tertarik pada Suzy!” pekik Soojung-Minho-Taemin berbarengan. Mereka memang tahu Jong-in seorang playboy, tapi mereka tahu Jong-in tidak pernah tertarik pada wanita yang sudah menikah dan memiliki anak termasuk janda meskipun itu sangat cantik.

“Yak! Kecilkan suara kalian!” pekik Jong-in panik.

“Jadi benar kamu menyukai Suzy?” tanya Minho  masih tidak percaya. Seorang Kim Jong-in yang Playboy menyukai wanita yang sudah memiliki anak. Apa Jong-in akhinya jatuh cinta?

“Yak! Suzy itu sahabatku, awas kalau kamu macam-macam,” ancam Soojung masih mengendalikan rasa kagetnya.

“Otthokahae? Suzykan sudah punya anak?” kali ini Taemin yang berkomentar.

“Waeyo? Diakan sudah bercerai dengan suaminya. Lagipula Sooyeon itu….” Sulli langsung mengehentikan omongannya begitu soojung memelototinya. “Maksudku Sooyeon itu anak yang manis dan baik. Apa yang salah dengan wanita yang sudah menikah!” protes Sulli.

“Bukannya begitu chagiya, tapi kita sedang berbicara Kim Jong-in. Si playboy yang…. ah, susah jika di ungkapkan dalam kata-kata. Meskipun Suzy itu cantik, tapi dia kan bukan tipe yeoja yang pernah di kencani Kai,”jelas Taemin panjang lebar yang memang cerewetnya tidak kalah dengan kekasihnya Sulli. “Lagipulakan Suzy belum resmi bercerai, dia hanya meninggalkan surat cerai pada suaminya dan sampai sekarang kita tidak tahu apa suaminya sudah meneruskannya pada pengadilan.”

Kali ini Jong-in tertarik dengan kata-kata Taemin dan menatap Sulli meminta penjelasan.

“Suaminya, pasti sudah menyelesaikan semuanya. Dia tidak mencintai Suzy dan menyukai yeoja lain, memang apalagi yang akan di lakukannya selai cepat-cepat bercerai dengan Suzy agar bisa bersama wanita yang di sukainya.” Jawab Sulli.

“Suzy adalah yeoja yang baik dan cantik, aku heran kenapa suaminya menyia-nyiakan dia?” ujar Minho prihatin sambil melihat Suzy yang sepertinya sedang membujuk Sooyeon.

“Ah, sudahlah, tidak usah membahas suaminya, kitakan sedang membahas Kai,” ujar Soojung mengalihkan pembicaraan dari pernikahan Suzy. Mengingat mulut Sulli yang suka berbicara tanpa di pikir, dia takut Sulli akan membocorkan masalah rumah tangga sahabatnya itu. Jong-in hanya mendengus karena pembicaraan kembali padanya. “Bagaimana kamu bisa bilang Kai tertarik pada Suzy, mereka bahkan baru bertemu baru dua kali.”

“Apa aku belum pernah cerita? Kalau Jong-in pernah melihat foto kita ber empat saat SMA? Aku-kamu-Jiyeon dan Suzy. Dan saat itu Jong-in menanyakan tentang Suzy. Tapi aku tidak memberitahunya mengingat sifat Jong-in.”

“Mwo! Kai  mulai menyukai Suzy sejak saat itu?” tanya mereka bertiga kembali. Sulli hanya terkikik geli sementara Jong-in hanya dia saja dengan muka memerah.

“Belum sih,” jawab Sulli membuat yang lain kembali menatapnya bingung.

“Dia baru benar-benar menyukai Suzy saat aku menunjukka hasil desain Suzy yang membuatnya dapat bea siswa,” jelas Sulli dengan suara sedramatis mungkin, dan ketiga temannya menatapnya dengan intens, sementara Jong-in membuang mukanya ke arah lain karena dia kembali salah tingkah dan membuat mulutnya terkunci ntuk membantah. Toh yang di katakan Sulli memang benar, jadi apa yang mau dia bantah.”Saat itu Jong-in memaksaku untuk mempertemukannya dengan Suzy dengan alasan ingin menjadikannya desainer perusahaannya. Padahal aku tahu dia bohong, sebenarnya dia sangat ingin bertemu Suzy karena dia penasaran dan mulai menyukai Suzy. Tapi aku tidak memberitahunya karena Suzy sudah menikah saat itu.”

“Bagaimana kamu tahu dia bohong?” tanya Taemin mewakili kedua temannya yang ikut penasaran. Sepertinya gosip tentang Jong-in adalah hal yang paling menarik bagi mereka.

“Cieh, makanya otakk kalian di pake,” ujar Sulli sedikit meremehkan yang langsung dapat jitakan dari Soojung. Karena menurut Soojung dia jauh lebih pintar dari Sulli.

“Sudah cepat jelaskan saja!” guman Soojung tidak sabaran.

“Apa aku belum pernah cerita kalau ibu Jong-in itu adalah seorang Desainer yang cukup terkenal di kota ini. Dia punya butik meski tidak terlalu besar tapi cukup terkenal.”

“Kamu sudah pernah mengatakannya, lanjutakan saja.”

“Cih, dengan otak begitu, kalian menyebut kalian pintar,” komentar Sulli lagi kesal karena teman-temannya itu sangat bodoh. Padahalkan sudah jelas. “Jong-in bisa menggunakan eommanya sebagai desainer di perushaannya—seperti saat ini—dan untuk apa dia mempekerjakan Suzy sebagai desainer? Meskipun Suzy dapat beasiswa dan sangat berbakat, tapi saat itu dia kan belum lulus. Bagi orang yang baru membuka perusahaan Jong-in sama saja dengan main judi jika mempekerjakan orang amatiran seperti Suzy, karena Suzy masih perlu pelatihan dan training. Jika kalian berada di posisi Jong-in, membuka perusahaan–yang pasti dananya terbatas—apa kalain mau mempertaruhkan perusahaan kalian pada seorang desainer amatiran? Hanya perusahaan besar yang berani menerima orang yang tidak memiliki pengalaman seperti Suzy, karena tanpa Suzy mereka punya banyak desainer berpengalaman. Jadi mereka bisa memberi waktu pada para desainer training sampai mereka mampu.” Jelas Sulli panjang lebar.

“Wahh aku tidak menyangka yeoja cinguku ini sangat pintar dan cerdas,” puji Taemin sambil tepuk tanga membuat cuping hidung Sulli kembang-kempis.

“Wahh, aku tidak menyangka Kai ternyata bisa seromantis itu. Kkamjong-ah aku pikir kamu ini sangat menyeramkan, tapi ternyata kamu sangat manis,” Goda Minho.

“Ais, kalian sangat berisik sekali. Lebih baik aku ke sana saja,” ujar Jong-in dengan wajah merah menahan malu.

“Cie…cie… dia mau menemui pujaan hatinya,” goda yang lain melihat Jong-in yang menghampiri Suzy.

ʚ

Suzy menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dan jantungnya seolah-olah ikut berhenti saat langkahnya juga berhenti. Rasa takut, gelisah,panik, rindu, senang dan berbagai macam perasaan itu bercampur jadi satu hingga dia sulit menentukan apa yang dia rasakan saat ini, saat melihat seorang namja yang sedang berdiri memunggunginya. Meski hanya punggug dan juga sudah dua bulan tidak melihatnya, dia sangat hapal pemiliknya. Karena hanya bagian itulah yang bisa dia nikmati dengan bebas selama empat tahun terakhir ini, karena jika bagian depan orang itu menghadapnya dia tidak akan berani menatapnya lebih dari 3 detik.

Suzy sebenarnya ingin membalikkan langkahnya dan meninggalkan namja itu sebelum namja itu menyadari keberadaannya, tapi dia teringat sesuatu.

“Sooyeon!” pekiknya dalam hati.

Meski selama dua bulan ini dua sudah mulai bisa menikmati hari-harinya di Changwon karena keberadaan Sulli dan Soojung… ah dia tidak bisa melupakan ke beradaan Jong-in. Atasannya entah bagaimana selalu muncul di hadapannya dan membantunya melakukan banyak hal—tentusaja Jong-in beralasan karena Suzy juga sahabat Sulli dan Soojung jadi Suzy juga sahabatnya makanya dia mau membantu, dan Suzy menerima saja alasan itu—tapi meski begitu dia belum siap kalau harus berpisah dengan Sooyeon, dia masih butuh waktu lebih banyak untuk berpisah dengan putrinya itu. Kalau di pikir-pikir lagi, suzy sepertinya tidak akan pernah siap berpisah dengan putrinya itu.

Dan saat Suzy sedang menimang-nimang apa yang harus di lakukan, tiba-tiba saja murid-murid sekolah Sooyeon berhamburan dan manik mata Suzy menangkap Sooyeon yang berlari riang/ seprtinya mencari keberadaannya. Namun tiba-tiba langkah gadis cilik itu berhenti saat melihat Myungsoo…

“APPA!!” pekik Sooyeon berlari kepeluka Myungso dan tentu saja namja itu langsung memeluk Sooyeon. “Bogosippo, jongmal bogosippo,” ujar Sooyeon di pelukan Myungso.

“Nado… bogosippo,” jawab Myungso memeluk erat Sooyeon yang sudah tidak di temuinya selama dua bulan ini.

“Eh, Eomma!” ujar Sooyeon dalam pelukan Myungso begitu mata gadis cilik itu melihat Suzy yang berdiri mematung. Sontak Myungso membalikkan badannya dan menatap Suzy dengan pandangan yang sulit di artikan. Dan dengan berat hati karena sudah tertangkap basah, Suzy akhirnya mendekati dua orang yang paling dia cintai itu.

“Annyeong oppa,” ujar Suzy berusah mengendalikan suaranya agar terdengar sanati. “Lama tidak bertemu.”

TBC

Jreng!!jreng!!Jreng!!

Saya balik lagi dengan cerita membosankan ini. kekeke. Sebenarnya aku gak ada niatan buat lanjutin nie ff ampe aku selsai UTS. Tp membaca beberapa coment(meski sedikit bgt) yg minta kelanjutannya, jadi aku tulis deh. Dan kebetulan Moodku sudah sedikit membaik( soale mau ultah my twins Suzy), jd tdk ada salahnya juga ya, menghilangkan ke jenuhan. Maaf ya kl mulai boring dan MyungZy momen dikit bgt (hampir gak ada), tp part depannya aku bakal banyakin. Hehehe ^^

Oh ya just info aja ya, Buat Happy Together, aku kena writerblock, pd hal aku da buat kerangka ceritanya tp entah knp aku bingung menuangkannya dlm btk cerita. Jd buat yg nungguin itu aku gak bs janji bs ngepost kpn ya..

Trus buat Our wedding, krn itu rencananya mau aku buat berdasarkan real story mereka (semacam behind the scenes mereka berdua) jd moodku jg tiba2 ilang nulis itu, soale eommanya kyuhyun( ibu mertuakua..kekeke), lbh milih yoona dr Suzy. Tu ff emang da lama aku tulis jauh sebelum mama Kyupa muncul di mamamia dan cerita awalnya eomma kyu itu suka bgt ama Suzy. Jd aku msh nunggu inspirasi, mau di bawa kemana kehidupan pernikahan mereka. hehehe

 

Advertisements

98 thoughts on “LOVE is HARD part 5

  1. Jiyeon munafik..tpii dia mulai tulus…
    emosi bnget sama Myungsooooo!! sehrusnya dia sadar…kasihan Suzy. Myungsoo gk thu sih ma Jiyeon! Suzy kn lebih baik..
    nyesek again,nihh.
    aigo..Kai suka suzy.. #yes

    FIGHTING KAK AUTHOR!! KEREEENNNN!!

  2. Pingback: My Homepage

  3. ciee jong in dasar modus kekeke tpi ga’ papa udh ada sekutu yg bakal dukung U Lrik soojung-minho-taemin-sulli kekkeke
    ngapain myung dateng, kok tau suzy ada di situ?

  4. Aaaa kenapa bisa ada myungsoo ?
    Oh ya ampun terus surat cerainya udah ditandatangani belum sama myungsoo ? Zzzzzz

  5. kyaaaaaa bnerr pan kai ska ma suzy kkk ..

    Ihh pa paan jiyeon msh sbell ma suzy .. Tuh kn myung dah ma kmu bwt aja lgi ank susah amitt ..

  6. ehh ada myungsoo??
    udah mau bawa sooyeon ke seoul kah?
    gak enak banget suzy pasti nyesek tuhh..
    next thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s