LOVE is HARD part 4

new-3aaa

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                Park jiyeon T-Ara

                                Kim Jong-In

                                Coi Sulli

                                Jung Soojung

                               Coi Minho

                                  And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. Part ini paling aneh dan  flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana.

==================================================================================

Part 4

Suzy menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan berlantai 3 yang mirip seperti toko-toko yang biasa di temui di daerah Hongdae, yang membedakan toko ini jauh lebih besar—mungkin dua atau tiga kali lebih besar—jika di sebut hanya sebagai toko terlalu besar dan terlalu kecil jika di sebut sebagai gedung kantor untuk perusahaan yang cukup besar. Suzy kembali mengabil kartunama yang kemarin di berikan Jong-in dan menyakinkan bahwa dia tidak salah alamat, papan nama besar yang ada di depan gedung itu seolah ikut meyakinkannya kalau ia  memang berada di tempat tujuannya.

Denga tekad bulat Suzy turun dari mobilnya dan masuk ke dalam bangunan itu. Setelah mendorong pintu kacanya Suzy langsu di sambut oleh dua gadis cantik yang berdiri di balik meja dengan senyum cantik dan ramah yang di yakini Suzy sebagai resepsionis. Dengan langkah pasti dia menghampiri kedua gadis itu.

“Annyeong haseo… ada yang bisa kami bantu Aghasi,” ujar kedua gadis cantik itu masih dengan senyum manis mereka membuat Suzy tidak tahan tidak membalas senyum mereka dengan senyum terbaiknya.

“Nama saya Bae Suzy, dan hari ini saya ada wawancara kerja jam sepuluh. Kira-kira saya harus kemana dan menemui siapa?” tanya Suzy sopan.

“Kalau saya boleh tahu. Siapa yang menghubungi anda?” tanya salah satu gadis itu masih sambil tersenyum. Suzy jadi yakin bahwa kedua gadis itu menangis sekalipun akan tetap tersenyum.

“Bapak Kim Jong-in. Kemarin beliau menyuruh saya untuk datang wawancara hari ini jam sepuluh. Tapi beliau tidak memberitahu saya harus menemui siapa.”

“Baik, tunggu sebentar,” ujar salah satuh gadis itu kemudian meraih telepon di depannya. Setelah kira-kira berbicara tidak sampai satu menit, gadis itu menutup teleponnya dan dan menatap Suzy. “Presdir berkata bahwa dia masih dalam perjalanan dan baru tiba 15 menit lagi, jadi anda di suruh menunggu sebentar. Beliau sendiri yang mewawancarai anda.” Suzy mengangguk sopan dan mengerti meski dalam hati dia sedikit bingung. Biasanya dalam menerima karyawan yang mengurusi adalah seorang Manager Personalia atau bagian HRD, presiden direktur terlalu sibuk mengurusi hal-hal kecil seperti itu.

 Dan setelah mengucapkan terimakasih dia duduk di sofa di depan meja resepsionis itu. Sofa itu memang sepertinya sengaja di sediakan bagi orang-orang yang yang sedang menunggu seperti Suzy.

Sambil menunggu Jong-in, Suzy kembali mengamati gedung kantor K.A.I fashion dan dia cukup menyuki desain dalam bagunan itu yang terlihat sederhana namum elegan, tidak seperti luarnya yang terlalu biasa untuk di jadikan bangunan perkantoran apalagi untuk kator yang mementingkan gaya.

Suzy kembali menebak-nebak alasan Jong-in lebih memilih menggunakan kantor dengan bangunan sederhana begini, padahal perusahaannya cukup berpengaruh dalam dunia fashion korea. Biasanya perusahaan besar akan memilih membeli atau menyewa gedung perkatoran mewah yang biasanya di sediakan hotel-hotel, apartemen atau Plaza-plaza untuk membangun citra perusahaan mereka yang mewah, modren dan berkelas. Belum sempat Suzy melamun terlalu jauh, suara Kim Jong-in sudah menginturpsinya.

“Mianhamida saya terlambat. Tadi saya ada urusan sebentar,” Suzy mendongak dan mendapati Jong-in berdiri di depannya menggunakan celana kain hitam, kemeja putih dan dasi yang menurut Suzy meskipun sederhana dan biasa, tapi tetap fasionable. Dalam hati ia berfikir Jong-in lebih cocok jadi seorang selebritis atau model dari pada membenamkan diri dalam berkas-berkas memusingkan. Ketampanannya terlalu sayang di sia-siakan.

“Gwenchanayo, saya mengerti anda sibuk. Lagi pula saya yang datang kecepatan, takut terlambat.”

Jong-in tersenyum sekilas karena Suzy mengingat perkataannya kemarin. “Kalau begitu kita langsung saja, saya masih banyak pekerjaan,” ujar Jong-in berjalan menaiki tangga yang ada di belakang meja resepsionis setelah membalas sapaan kedua gadis cantik tadi. “Apa yang kamu lakukan disitu?” ujar Jong-in yang sadar Suzy masih berdiri di tempatnya.

“Oh..Mianhamida,” ujar Suzy kikuk karena sedikit di bentak Jong-in lalu mengikuti langkah namja itu.

………………..

Jong-in mengamati hasil gambar Suzy yang dia minta tadi dan dia cukup puas dan merasa tidak sia-sia meluankan waktunya yang padat untuk mewawancai Suzy secara langsung tanpa lewat bagian HRD seperti yang seharusnya. Dia memang sudah lama menginginkan Suzy bekerja di perusahaannya. Meskipun masih baru, dia tahu suzy kelak akan menjadi aset potensial bagi perusahaannya. Dan segala sesuatu yang berbau uang tidak akan di lewatkan Jong-In begitu saja. Hal itulah yang membuat bisnisnya sangat pesat meski belum genap lima tahun dia geluti.

“Apa… anda sebelumya pernah bekerja sebagai desainer,” ujar Jong-in memulai tes wawan caranya dan meletakkan hasil gambar dan tes tulis Suzy di depannya.

“Belum. Begitu lulus kuliah, saya sibuk mengurus rumah tangga saya sehingga tidak sempat bekerja,” jawab Suzy berusaha tenang. Meski Sulli dan Soojung meyakinkannya bahwa dia pasti di terima, suzy tetap tidak bisa menghentikan debarannya jantungnya. Biar bagaimanapun ini adalah tes kerja, dan yang namanya ujian dalam bentuk apapun selalu bernasil membuat seseorang panik. Apalagi bagi Suzy ini yang pertama.

“Lalu kenapa sekarang anda tiba-tiba ingin bekerja.”

“Saya butuh pekerjaan.”

“Di riwat hidup anda masih tertulis status menikah, kenapa nada tiba-tiba bekerja jika selama ini anda tidak bekerja. Apa suami anda tidak keberatan,” ujar Jong-in sambil membaca CV yang di berika Suzy. “Maaf bukan maksud saya mengorek masalah pribadi. Hanya saya ingin memastikan bahwa anda sungguh-sungguh bekerja bukan karena alasan lain. Saya tidak mau ternyata anda bekerja tanpa persetujuan suami anda dan akan muncul masalah berikutnya.”

“Saya sedang menunggu putusan percerain saya. Tidak lama lagi status saya kembali single.”

“Oh, maaf.” Kata jong-in singkat melihat raut sedih di wajah Suzy. Jong-in kembali melihat hasil tes tulis dan gambar Suzy, “Dari gambar yang kamu buat saya sangat puas dan hasil tes tulisnya juga sangat memuaskan. Dari 15 pertanyaan anda menjawab 14 benar.” Jong-in terdiam sebentar lalu tersenyum menatap Suzy. “Anda di terima bekerja di sini.”

Melihat binar kebahagiaan di mata indah di tambah senyum manis yeoja itu tak urung membuat jong-in merasakan gelombang kegembiraan Suzy dan juga ada getaran aneh di hatinya saat melihat senyum itu.

“Kamsahamida… kamsahamida…” Ujar Suzy berulang-ulang untuk meluapkan kegembiraannya. Pekikantertahan Suzy itu tak urung membuat Jong-in berfikir bahwa dia ingin membuat yeoja di depannya ini selalu merasakan eufori kebahagiaan seperti itu.

“Sama-sama. Saya juga berterima kasih anda mau bekerja di tempat saya ini. dan sekrang mari kita bicarakan masalah hak dan kewajiban yang kamu dapatkan,” ujar Jong-in mengintrupsi Suzy yang tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih. “Anda bisa mulai bekerja minggu depan, dan untuk sementara bekerja sebagai Desainer training dan setelah satu bulan anda baru bisa dinyatakan sebagi karyawan tetap.” Suzy mengangguk tanda mengerti.

“Perusahaan kami hanya punya satu desainer utama, dan ada sekitar sepuluh orang asisten desainer di tambah kamu menjadi sebelas. Dan setiap enam bulan akan ada kompetisi antar desainer jika ada yang memenuhi kriteria akan di angkat menjadi desainer utama, tapi sejauh ini belum ada. Dan aku berharap anda bisa memenuhi kriteria kami karena di sainer utama kami hendak pensiun,” Jong-in bisa melihat kerutan tidak kentara di dahi Suzy dan dia harus menahan godaan untuk menyentuh wajah gadis itu agar lebih rileks. “Makanya kami sangat mengharapkan ada seseorang yang bisa menggantikannya.”

“Dan masalah bayaran, anda meminta gaji berapa?” tanya Jong-in.

“Saya tidak keberatan dengan bayaran, asalkan layak saya tidak mempermasalahkannya. Yang penting saya bisa bekerja dan melakukan impian saya,” ujar Suzy.

“Baiklah masalah bayaran dan pekerjaan… anda akan mendampingi desainer utama dan melakukan perintahnya. Dan untuk kontrak seperta peraturan yang harus di taati ada di sini,” ujar Jong-in sambil menyerahkan maap plastik warna merah ke Suzy. “Disitu juga ada sejarah dan visi-misi perusahaan. Nah saya kira sudah cukup penjelasan saya, mungkin ada yang anda ingin tanyakan.”

“Sejauh ini saya mengerti, jika nanti ada yang saya kurang mengerti saya aan bertanya lagi,” Jong-in mengangguk.

“Baiklah selamat bergabung di perusahaan kami dan mengharapkan kerjasama anda,” ujar Jong-in mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Suzy menerima ulurn tangan itu.

“Kamsahamida Presdir. Saya akan melakukan yang terbaik.”

“Saya kia segitu saja. Setelah ini apa yang akan anda lakukan?” tanya Jong-in. Melihat wajah bingung Suzy Jong-in kembali melanjutkan. “Saya pikir ini waktunya makan siang an saya mau mengajak anda makan siang. Mungkin masih ada beberapa yang belum kamu mengerti, jadi kita bisa membahasnya sambil makan siang,” kata Jong-in sedikit gugup.

“Mianhamida. Tapi saya harus menjemput anakku dari sekolah,” ujar Suzy merasa bersalah.

“Oh… saya mengerti.”

“Kalau begitu, saya boleh permisi?”

“Ne. Silahkan.”

Begitu mengucapkan terimakasih sekali lagi Suzy bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan begitu Suzy sudah benar-benar meninggalkan Jong-in, namja itu menghembuskan nafas lega.

“Huh! Kenapa jadi aku yang gugup,” rutuknya pelan.

ʚ

Myungso duduk kaku di balik meja kerjanya. Dia bingung harus bereaksi apa, kejadian ini terlalu tiba-tiba. Meskipun Suzy sudah memperingatkannya sebelumnya, tapi karena terlalu sibuk memikirkan masalah Suzy yang kabur membawa anaknya  lima hari yang lalu membuat dia tidak sempat menyiapkan reaksi apa yayng harus dia lakukan dalam kejadian seperti ini.

“Oppa kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu masih marah karena kejadian empat tahun yang lalu?” ujar Jiyeon melihat Myungso yang masih mematung di tempatnya. Dia sudah menunggu saat-saat seperti ini dan dia berharap Myungso akan langsung berlari dan memeluknya erat bukan duduk mematung seperti sekarang ini.

“Oppa!!” ujar Jiyeon mulai kesal.

“Oh, ne. Kapan kamu datang. Kenapa tidak memberitahukan dulu,” ujar Myungso datar. Dia sedikit mengutuki sikap datarnya. Sepertinya bersikap dingin pada Suzy selama lima tahun ini sudah menjadi kebiasaannya bahkan pada Jiyeon sekalipun. Seharusnya dia berdiri dan menarik Jiyeon kedalam pelukannya dan melepaskan rindu.

“Apa Suzy tidak memberitahukanmu kalau aku sudah datang?” tanyanya sdikit kesal.

“Oh, ne dia sudah mengatakannya. Katanya kalian tidak sengaja bertemu di restoran saat makan siang,” kata Myungso masih datar dan kaku. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin terlalu senang membuatnya menjadi kaku.

“Kamu sudah tahu tapi tak mencariku?” kata Jiyeon semakin kesal. “Aku sebenarnya ingin memberimu kejutan, tapi sepertinya tidak ada gunanya. Melihat reaksimu sepertinya kamu tidak mengharapkan kehadiranku,” tambah Jiyeon dan mulai berbalik siap meninggalkan ruang kerja Myungso.

Baru dua langkah dia berjalan, dia merasakan tangannya di tarik dan hal itu tak mampu menahannya untuk tersenyum. Hanya sedetik karena detik berikutnya dia memasang wajah kesal dan berbalik menatap Myungso yang memegang tangannya.

“Wae? Kenapa kamu menahan tanganku. Bukankah kamu tidak mengharapkan kehadiran…” Jiyeon langsung mnghentikan kalimatnya begitu merasakan Myungso memeluknya.

“Bogosippo…” Ujara namja itu ambil memeluk Jiyeon. “Aku hanya sedikit shok karena kedatanganmu tiba-tiba. Aku takut ini hanya mimpi, makanya aku bingung harus bersikap seperti apa.” Ujar Myungso pelan persis di telinga Jiyeon sambil mengeratkan pelukannya. “Bogosippo… jongmal bogosippo. Kamu tidak tahu aku sangat merindukan hari ini.”

Mendengar suara Myungso yang serak dan nada sungguh-sunggu namja itu, membuat semua kekesalan Jiyeon menguap begitu saja. Dia lalu membalas pelukan namja itu tak kalah erat. Meluapkan semua keriduannya yang dia tahan selama empat tahun ini.

“Nado, oppa. Bogosippo.”

ʚ

Sekarang jiyeon dan Myungso sedang ada di restoran di depan gedung kantor Myungso. Setelah selesai meluapkan rasa rindu di antara mereka berdua, Jiyeon meminta Myungsoo untuk menemaninya makan siang dan namja itu langsung menurutinya.

Jiyeon mengamati Myungso yang sedang sibuk melihat menu untuk menentukan makanan yang hendak dia pesan. Dia senang akhirnya bisa bertemu myungso, hal yang paling dia natikan selama empat tahun ini. Dan melihat namja itu juga merasakan hal yang sama membuatnya semakin senang, tapi meski begitu ada yang berubah dari Myungso. Dia tidak yakin itu apa, tapi dia sangat yakin Myungso benar-benar berubah. Bukan hanya sifat dingin dan kakunya, ada hal lain. Dan entah bagaimana dia merasa Kim Myungso yang ada di depannya saat ini bukan lagi Kim Myungsonya yang dulu. Tapi dia buru-buru mengenyahkannya begitu dia menatap namja itu. Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya.

“Kamu sudah selesai memesan oppa,” ujar Jiyeon begitu karyawan restoran yang berdiri di sebelah meja mereka sudah pergi.

“Ne.”

“Oppa kamu banyak berubah,” ujar Jiyeon lagi. “Kamu jadi pendiam dan dingin.”

“Benarkah?” taya myungso heran. “Terlalu lama hidup tanpamu membuat hatiku menjadi dingin dan kaku,” jawab myungso sambil tersenyum.

“Mianhae. Aku…”

“Arrayo. Gwenchanayo, aku tahu kamu pergi bukan karena keinginanmu tapi karena paksaan orang tuaku.” Ujar myungso sambil menggemgam tangan Jiyeon. “Kamu sudah kembali, jadi aku akan berusaha mengubah sikapku.”

“Miahae dan Gomawo sudah mau menungguku.”

“Cheonma,” sahut Myungso. “Mianhae dan Gomawo sudah mau kembali padaku.”

Mereka kembali terdiam. Bingung harus memulai dari mana, terlalu banyak hal yang sudah mereka lewatkan. Mungkin empat tahun yang terlewat membuat mereka kehilangan bahan pembicaraan.

“Kamu juga banyak berubah,” ujar Myungso akhirnya setelah cukup lama terdiam mengamati Jiyeon.

“Jongmal,” Ujar jiyeon antusias, dia memang banyak berubah dan itu di lakukannya untuk mempersiapkan diri sebelum bertemu Myungso. Dia ingin tampil lebih cantik dari Bae Suzy agar Myungso lebih memilihnya. Dan dia menggu reaksi Myungso.

“Ne. Kamu jadi terlihat lebih banyak berdandan glamour,” ujar Myungso jujur. Mendengar reaksi Myungso membuat Jiyeon kesal.

“Wae… kamu tidak menyukainya. Apa aku tidak terlihat cantik?!” ujarnya kesal.

“Aniyo, kamu terlihat cantik bahkan sangat cantik, hanya saja tidak terlihat natural. Aku lebih suka Park Jiyeon yang ceria dan polos seperti dulu.”

Jiyeon tahu dia harusnya senang karena Myungso benar-benar menyukainya bukan karena penampilan, tapi entah mengapa melihat Myungso yang sepertinya tidak menghargai usahanya empat tahun ini untuk merombak penampilan membuatnya kesal.

“Jadi oppa kecewa melihatku sekarang!” ujarnya kesal. “Oppa lebih menyukai yaoja seperti Suzy yang berpenampilan natural,” entah kenapa rasa jengkelnya pada Suzy kembali lagi, padahal setelah pertemuannya terakhir dengan Suzy dia sudah tidak kesal lagi pada yeoja itu karena Suzy mau mundur secara suka rela. Dan saat Myungso mengatakan lebih suka pada yeoja natural, dia teringat lagi pada Suzy yang benar-benar tidak terlalu berubah banyak dari segi penampilan. Masih terlihat polos dan natural!

“Kenapa kamu selalu mebawa-bawa Suzy dalam pembicaraan kita! Dan aku sedang tidak mebanding-bandingkan kamu dengannya, aku hanya membandingkanmu dengan dirimu empat tahun lalu,” Ujar Myungso mulai sedikit kesal. Ini pertemuan mereka setelah empat tahun, tapi Jiyeon sudah mulai mengajak ribut lagi. “Dan aku juga tidak bilang tidak suka kamu yang sekarang, hanya lebih suka kamu yang dulu.”

“Tapi…”

“Jiyeon-ah sudah lah. Ini pertemuan kita yang pertama setelah empat tahu, kenapa kita harus ribut. Harusnya kita menikmati hari ini.”

Jiyeon terdiam mendengar perkataan Myungso, selain perkataan namja itu seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka membuat Jiyeon tidak bisa membantah.

“Bisakah kita tidak memikirkan hal lain. Hari ini cukup kita memikirkan tentang kita berdua. Aku sudah mengorbankan pekerjaanku yang menumpuk jadi jangan buat aku menyesal,” ujar Myungso tegas setelah pelayan tadi berlalu. Jiyeon mengangguk.

“Arraso. Mianhae oppa,” ujar Jiyeon. Entah kenapa jika saat bersama Myungso dia selalu sangat membenci Suzy. Dia pikir setelah empat tahun menghilang dan mempersiapkan diri, dia tidak akan takut kalah saing dengan Suzy apalagi setelah membandingkan penampilan Suzy dengannya. Namun berhadapan dengan Myungso ketakutan itu kembali lagi. Ternyata dia masih seorang pecundanh jika di bandingkan dengan Suzy.

“Lalu selama empat tahun ini kamu kemana saja dan apa yang kamu lakukan?” tanya Myungso menghilangkan kekakuan di antara mereka.

“Aku ke Jepang dan bertemu seseorang. Dia yang membantuku selama ini sehingga aku bisa seperti sekarang. Aku sudah memiliki beberapa salon di Jepang dan cukup sukses.” Jawab Jiyeon.

“Seseorang? Nugu?”

Jiyeon tiba-tiba merasa gugup mendengar pertanyaan Myungso, tapi dia berusaha menutupinya.

“Oh, kamu tidak mengenalnya oppa. Dia orang jepang, jadi kamu tak perlu memikirkannya.”

Myungso mengerutkan dahinya sebelum berkata, “Aku hanya ingin berterima kasih padanya karena sudah mau menjagumu selama ini, apa tidak boleh.”

“Oh, dia orang yang sangat sibuk jadi sulit untuk bertemu dengannya. Kalau oppa ingin mengucapka terimakasih, aku akan menyampaikannya.” Jiyeon berharap Myungso tidak mendengar nada panik dalam suaranya. “Sudahlah oppa berhenti membicarakan hal itu, lebih baik kita membicarakan tentang kita berdua saja.”

Meskipun masih penasaran, namun Myungso mengangguk juga membuat Jiyeon bernafas lega.

“Kalau begitu, bagaimana setelah ini kita pergi kencan,” ujar jiyeon antusias yang di jawab anggukan oleh Myungso. Melihat itu Jiyeon tersenyum senang. “Kalau begitu cepat habiskan makanmu.” Ujarnya riang.

ʚ

“Sooyeon-ah, makannya pelan-pelan ne,” ujar Sulli pada Soyeon pada yang sedang makan es kream dengan rakus sehingga wajah gadis cilik itu sedang belepotan. “Aigoo… melihat cara makanmu, orang pasti berfikir kamu seperti tidak pernah makan eskrim.”

“Makan es kream itu harus cepat-cepat ajhuma, kalau tidak nanti meleleh jadi tidak enak,” jawab Sooyeon sekenanya.

“Arasso… Arasso. Kamu boleh makan cepat asalkan bajumu tidak kotor,” Ujar Sulli mengalah.

“Yak! Kamu tidak boleh membiarkannya seperti itu. Seorang gadis harus punya tata krama dan makan harus pelan-pelan,” ujar Soojung yang baru datang dari toilet.

Tadi Suzy meminta tolong pada kedua sahabatnya itu untuk menjemput Sooyeon karena Suzy baru selesai wawan cara saat jam setengah satu sementara Sooyeon pulang sekolah jam dua belas. Dia takut Sooyeon menunggu terlalu lama jika dia yang harus menjemput. Soojung yang kebetulan janji makan siang di restoran dekat salon Sulli yang bertugas menjemput, sebenarnya salon Sulli, tempat kerja Soojung dan sekolah Sooyeon tidak terlalu jauh, tapi karena Soojung yang membawa mobil terpaksa dia yang menjemput Sooyeon—karena cukup jauh jika harus jalan kaki mengingat Soojung punya batas waktu istirahat.

“Gadis empat tahun belum perlu belajar tata krama,” ujar Sulli.

“Justru seseorang itu harus di ajarkan tata krama biar tidak pabo sepertimu.”

“Mow! Pabo katamu!” kata Sulli tidak terima. Sementara Sooyeon tidak mengubris pertengkaran kedua jahumanya yang tidak penting itu dan tetap asik dengan aktifitasnya makan es kream.

“Ah, sudahlah. Berbicara denganmu tidak ada habisnya,” ujar Soojung. “Sooyeon-ah, seorang yeoja itu kalau makan harus pelan-pelan. Harus elegan,” Kata Soojung pada Sooyeon.

“Tapi ajhuma, nanti es kreamnya meleleh. Kalau meleleh jadi tidak enak.”

“Makanya kalau yeoja itu makan tidak boleh banyak-banyak…”

“Yak! Anak kecil itu justru bagus makan banyak, karena dia  masih butuh bertumbuh. Sooyeon-ah tidak usah dengarkan dia, cukup dengarkan Sulli ajhuma…”

“Ck… lihat, makanya badanmu besar begini. Tidak ada seksi-seksinya karena kamu terlalu banyak makan,” potong Soojung.

“Mow! Tapi meski begitu aku tetap imut,” ujar Sulli sambil beragyo.

“Cih, menjijikkan. Ingat umurmu!” ujar Soojung. “Wanita imut itu tak ada gunanya. Para namja itu sukanya pada yeoja cantik, berkarisma dan seksi sepertiku. Jadi Sooyeon-ah kamu harus dengarkan Soojung ajhuma ne…”

“Tapi eomma tidak melarangku makan enak,” jawab Sooyeon polos.

“Ck, Eommamu tidak tahu apa-apa. Makanya dengarkan Ajhuma saja, ajhuma jauh lebih mengerti…”

Sulli yang hendak membalas Soongjung tidak jadi mendengar suara Suzy.

“Annyeong!!” ujar Suzy begitu masuk salon Sulli.

“Oh… kamu sudah datang. Eh, Kai kamu datang juga,” ujar Kristal melihat Jong-in yang ada di belakang Suzy.

“Ne… aku ada janji dengan Taemin dan Minho. Katanya mereka mau makan bersama kalian.” ujar Jong-in sambil memegang tengkuknya.

“Kamu datang bersama Suzy jong-in-ah…” kali ini Sulli yang bertanya.

“Aniyo, kami bertemu di depan,” jawab Suzy.

“Kenapa kalian tidak datang bersama saja, kan kalian datang dari tempat yang sama,” kata Sulli begitu suzy berjalan ke arah kedua yeoja itu menghapiri Sooyeon.

“Aku tidak tahu dia datang ke sini. Lagi pula aku membawa mobil sendiri,” jawab Suzy pelan sehingga tidak bisa di dengar Jong-in.

“Apa Minho sama Taemin belum datang?” tanya Jong-in mengintrupsi.

“Sudah, mereka sudah ada di restoran sebelah, kamu bisa menyul mereka. Kami sedang menunggu Suzy tadi, kami akan menyusul sebentar lagi” jawa Soojung. Jong-in mengangguk dan keluar.

“Bagaimana tadi!” tanya Sulli dan Soojung bersamaan.

“Aku di teriman.”

YEYYY!!!!

Pekik Soojung dan Sulli bersamaan di ikuti Sooyeon melihat tingkah dua ajhumanya, dia jadi ikut berteriak. Suzy hanya geleng-geleng.

“Kamu harus mentraktir kami!”

“Arrasso!”

“Kalau begitu. Kajja!” ujar Sulli menarik tangan Suzy.

ʚ

Suzy duduk kaku bersama Jong-in, Kristal, Sulli dan kedua pacara mereka.

Suzy yang pada dasarnya pendiam dan sedikit pemalu selalu merasa kurang nyaman jika berada di antar orang asing. Dia memang bersahabat dengan Soojung dan Sulli, tapi dengan ketiga namja yang duduk bersama mereka masih asing baginya.

Dia juga mengenal Taemin, tapi dia hanya sebatas kenal tidak pernah berbicara berdua. Dia mengenal Taemin karena dia sudah menjalin hubungan dengan Sulli sejak bangku kuliah. Namja itu kerap menjemput dan mengantar Sulli saat dia, Sulli dan Soojung pergi keluar bersama. Namja itu juga datang saat pernikahnnya dulu menemani Sulli. Tapi hanya sebatas itu Suzy mengenal Taemin dan baginya namja itu masih orang asing.

Sementara Minho? Dia bahkan belum mengenalnya kecuali mendengar namanya dalam pembicaraannya bersama Soojung dan Sulli. Karena kekasih Soojung itu asli orang Changwon dan mereka baru berkenalan setelah Soojung pindah ke kota ini.  Dan ini baru pertemuan pertamanya dengan namja tampan bermata belo itu.

Dan Kim Jong-in, dia memang sudah mengenalnya dan sekarang menjadi atasnnya. Tapi justru itu yang membuat Suzy semakin gugup dan kaku. Duduk bersebelahan dengan atasannya.

“Suzy-si kenapa kamu hanya diam,” komentar Taemin meilihat Suzy yang hanya diam saja tak bersuara.

“Ani. Gwenchanayo,” ujar Suzy gugup.

“Suzy memang seperti itu. Dia selalu gugup kalau bersama orang yang baru di kenal.”

“Wah berarti karena aku dong,” ujar Minho bercanda.

“A…aniyo,” ujar Suzy buru-buru. “Aku memang aslinya tidak banyak bicara.”

“Jangan-jangan karena ada Jong-in di sini ya?” celetuk Sulli membuat Jjong-in menoleh menatap Suzy dan yeoja itu semakin gugup.

“Suzy-ah kamu santai saja. Kami berlima ini sudah sering makan siang bersama,” kata Soojung menenangkan. “Taemin sama Minho itu rekan bisni Kai. Dan Kai itu sahabat dan teman kuliah Taemin, makanya dia bisa kenal Sulli. Dan kita itu sudah seperti keluarga.”

 “Kamu santai saja, kalau di luar jam kerja kamu tidak perlu menganggap aku sebagai atasanmu. Anggap saja temanmu.” Tambah Jong-in.

“Oh… Ne. Arraso.” Jawab Suzy. Tapi meski begitu dia masih saja terlihat kaku.

“Bagaimana Changwon? Apa kamu menyukainya?” tanya Minho berusaha akrab pada Suzy.

“Kamu harus jawab yang baik-baik Suzy-ah, kalau tidak kamu akan mendapat kuliah gratis tentang kelebihan dan ke indahan Changwon darinya, aku dan Taemin pernah mengalaminya,” ujar Sulli sebelum Suzy menjawab membuat yang lain tertawa sementara Minho merenggut.

“Aku juga sering mengalaminya,” Soojung ikut menambahkan.

“Ne, dan itu cukup membuatmu jera untuk mengulangi kesalahan yang sama..” timpal Taemin.

“Yak! Bukankah Changwon memang sangat indah…” minho memulai ceritanya tentang seluk beluk ke indahan kota ke lahorannya membuat Suzy tersenyum. Sudah lama dia tidak mengalami hal-hal menyenangkan seperti itu, apalagi setelah Sulli dan Soojung pindah dari Seoul. Suzy memang kesulitan bergaul terhadap orang baru, jadi katika sahabat-sahabatnya pergi dan suaminya yang mendiaminya Suzy jarang bergaul.

“Aku pergi kesana dulu ya, sepertinya Sooyeon memanggilku,” ujar Suzy mengintrupsi adu mulut antara Sullu-Taemin-Soojung-Minho, sementara Jong-in tidak terlalu berbeda dengan Suzy, namja itu lebih banya diam dan tersenyum hanya ssekali dia ikut menimpali.

“Oh, ne. Sepertinya acara sudah hampir selesai,” Jawab Soojung.

Di restoran tempat mereka makan sedang merayakan lang tahun anak seusia Sooyeon, dan saat mereka masuk pelayan restoran itu menawarkan Sooyeon untuk ikut karena akan ada beberapa permainan untuk anak kecil dan Suzy tidak mampu menolak melihat wajah antusias Sooyeon. Meski gadis kecil itu agak takut pada orang baru, dia tidak akan menolak jika sudah melihat badut.

“Waoyo?” tanya Suzy begitu berada di depan Sooyeon.

“Eomma aku merindukan appa. Aku juga ingin seperti itu,” ujar Sooyeon menunjuk anak perempuan yang sedang berulang tahun di gedong ayahnya, sementara ibu gadis itu sibuk menyalami tamu yang hendan memberi ucapan selamat.

Suzy terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak terlalu suka berbohong, tapi dia bingung bagaimana menjelaskan maksudnya pada Sooyeon agar gadis kecil itu mengerti tanpa harus berbohong.

“Kamu ingin di gendong?” hanya itu yang mampu keluar dari mulut Suzy.

Sooyeon mengangguk

“Bagaimana kalau Eomma saja yang menggendong.”

“Tapi aku mau Appa.”

“Sooyeon-ah appakan tidak ada di sini, appa sedang di Seoul. Jadi Appa tidak bisa menggendongmu.”

“Kenapa kita tidak telepon Appa saja. Biasanya kalau aku meminta appa dia akan datang,” rengek Sooyeon. Suzy jadi bingung tidak biasanya putrinya itu bersikap sangat manja.

“Kenapa kamu tidak mau di gendong Eomma? Kan sama saja. Apa kamu tidak sayang pada eomma lagi?”

“Aniyo, itu berbeda. Eomma yeoja dan appa namja. Kalau appa yang gendong terlihat lebih keren.” Suzy menatap Sooyeon heran, sejak kapan pula anaknya yang dia didik baik-baik ini jadi mementingkan masalah keren-kerenan.

“Bagaimana kalau ajhusi saja yang gendong. Ajhusikan namja keren,” Suzy langsung menoleh mendengar suara berat itu dan hampir terkena serangan jantung melihat pemiliknya.

“Pre… presdir,” ujar Suzy kaget melihat Jong-in yang berdiri tepat di belakangnya sambil menatap ke arah Sooyeon.

TBC

Ini part paling gagal… HAHAHAHAHA

Moodku nulis ff ini ilang gara2 skandal Myung ama cew Ulzang itu. Sebenarnya dia pacaran atau tdk n sama siapapun gak mengurangi penilaianku sama Myung. Itukan pilihannya (di luar itu benar atau salah), kan kita juga suka baca atau nonton film dmn cew yg kurang baik jd pemeran utama tp kita tetap dukung biar dia jadian amat tokoh utama. Dan KDY itu (entah dia baik ato jahat) pasti punya sesuatu kl Myung benaran pacaran sama dia dan aku bukan org yg suka menilai dan mengatur hidup org lain krn aku tak suka di gituin.  

Tapi begitu berita dia pacaran entah kenpa moodku buat ff ttg dia ilang total. Dl kl nulis ff di bayanganku myung itu single jd aku bebas bayangin dia jd pacar siapa, tp begitu skandal itu menyeruak dan dan Myung blm konfirmasi aku jd susah dpt mood. Setiap mau bayangin dia yg muncul malah Myung da py pacar jd susah deh dpt feel buat dia. Hehehe

Jd mgkin part depannya bakal lama aku post ampe mood aku balik ^^. Aku sebenarnya da nyelesaiin ampe part akhir tp hy garis besarnya alias alur doang ( n Ending) tp blm di kembangin dan moodku benar2 susah buat ngembangin ceritanya, jdnya aneh dan super datar begini.

Advertisements

79 thoughts on “LOVE is HARD part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s