LOVE is HARD part 2

new-1

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                 Kim myungso Infinite

                                 Park jiyeon T-Ara

                                  And other

Lenght                  :–

Genre                   :  Romance, Family, school, sad, dll

Cerita adalah hasil pemikiran otakku yang sangat sesuatu ini, tapi untuk castnya aku meminjam nama mereka. cerita ini sangat flat alias datar jd maaf kl boring dan g da feel, plus typo bertebaran dimana-mana.

====================================================================

Part 2

Suzy dan Jiyeon duduk sambil berhadapan. Jiyeon sibuk mengamati Sooyeon yang sedang asik menikmati es creamnya dengan lahap di samping suzy. Sesekali gadis kecil itu bersikap manja pada Suzy, membuatnya ingin menangis. Harusnya aku yang melakukan itu, itulah yang ada pikiran Jiyeon.

Dia menatap Suzy yang masih terus saja terdiam. Bukan hal aneh baginya, karena dari dulu Suzy memang pendiam. Ingin sekali di menarik Sooyeondari samping suzy ke dalam gendongannya dan meyuapi gadis kecil itu, tapi tidak bisa di lakukannya. Dia masih ingat saat di toilet tadi gadis itu menangis histeris karena tiba-tiba jiyeon memeluknya. Hatinya sakit saat anaknya sendiri takut padanya.

Dia kembali mengamati suzy dengan tatapan iri. Yeoja itu selalu berhasil mendapatkan apa yang dia impikan tanpa harus bersusah-susah. Saat di sekolah dulu, Suzy selalu lebih populer darinya padahal yeoja itu hanya diam sementara Jiyeon yang berusaha keras mendapat perhatian, namun hanya di anggap sebagai bayangan Suzy. Suzy juga terlahir sebagai gadis kaya tanpa harus susah-susah bekerja. Suzy selalu mendapat perhatian guru-guru dan dosen-dosen karena otak pintarnya. Suzy juga dengan mudah mendapatkan Myungso tanpa harus bekerja keras karena mereka di jodohkan. Bahkan orang tua mereka yang bekerja keras memberikan Kim Myungso padanya. Dan sekarang Suzy juga mendapatkan perhatian putrinya dan status ibu dari anak yang dia lahirkan.

Dulu jiyeon begitu senang saat mengetahui myungso lebih memilihnya daripada suzy. Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang membuatnya lebih unggul dari Bae Suzy. Dia tahu Suzy juga menyukai Myungso—meskipun Suzy tidak pernah mengatakannya, tapi karena namja itu lebih memilihnya membuatnya terbang ke langit karena pada akhirnya dia bisa lebih unggul dari pada sahabatnya itu.

Dia berjanji tidak akan mau melepas myungso dan ingin membuat Suzy iri, karena meskipun mengagumi Suzy dia tetap ingin lebih unggul—ingin mengalahkan Suzy—meskipun hanya sekali. Tapi ternyata dia tetap kalah setelah keluarga Kim myungso terlibat dalam hubungan mereka. Dan saat  itu dia baru menyadari arti Kim myungsoo baginya, bahwa cintanya pada namja itu begitu besar, bukan hanya ingin membuat Bae Suzy iri. Dan kekalah atas Kim Myungso membuat Jiyeon untuk pertama kalinya benar-benar membenci Suzy padahal sebelumnya meskipun iri dia tidak pernah membenci Suzy.

Dan kali ini dia tidak akan menyerah begitu saja.

Jika dulu dia merelakan semua yang dia impikan di dapat oleh Bae suzy, sekarang tidak lagi. Dia bukan lagi park Jiyeon yang lemah dan mudah di injak-injak. Dia sudah berubah. Dia sudah belajar untuk menghadapi keluarga Kim Myungso. Lagipula bukankah keluarga namja itu sudah meninggal? Jadi dia hanya perlu bertarung dengan Bae Suzy.

“Jadi sekarang kamu sudah menikah dengan Kim Myungso?” kata jiyeon membuka pembicaraan.

“Mianhae… aku tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Suzy semakin menunduk.

“Gwenchana, aku tidak mempermasalahkannya,” ujar jiyeon santai.

“Lalu tentang Sooyeon, bagaiman dia tiba-tiba bisa hidup? Bukankah dulu mereka bilang anakku sudah meninggal sebelum lahir?”

Suzy menatap Jiyeon kaget. Dia tidak tahu cerita itu, yang dia dengar jiyeon pergi begitu saja meninggalkan anaknya.

“I..i..itu,” katanya gugup. “Mereka hanya bilang kamu pergi meninggalkan anakmu begitu saja di rumah sakit. Jadi…”

Jiyeon tertawa.

“Ah… tentu saja, mereka berbohong. Uang memang bisa melakukan apa saja. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

Suzy menatap jiyeon semakin bersalah.

“Mianheyeo Jiyeon-ah… aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Gwenchana, aku bisa mengerti mereka memang sangat menyeramkan,” kata jiyeom dengan nada santai tapi juga sinis. “Aku tahu kamu juga korban.” Suzy sempat lega mendengar perkataan Jiyeon, namun hanya sebentar karena kalimat jiyeon berikutnya mampu membuat tubuhnya bergetar.

“Aku sudah memberimu waktu untuk menikmati milikmu selama ini. Aku datang untuk mengambil mereka kembali.”

ʚ

flas Back

2009

Suzy melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya penuh amarah. Yeoja yang biasanya terlihat tenang itu terlihat berantakan dan penuh dengan kebencian di matanya.

BRAK!!

Tanpa mengetuk pintu suzy langsung masuk, tidak memperdulikan orang yang ada di ruangan appanya.

“Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?! Mana sopan santunmu!” kata ayahnya marah melihat kelakuan anaknya. Suzy bukanlah orang yang tidak memiliki sopan santun, sejak kecil dia selalu jadi anak penurut dan sopan. Tapi di saat seperti ini sopan santun bukanlah hal yang penting baginya.

“Apa yang appa lakukan dengan jiyeon!” teriaknya penuh amarah.

“Bae Suzy turunkan suaramu!” kata ibunya marah. Suzy menoleh.

Bagus orangtuanya dan keluarga Kim sedang ada di ruang kerja ayahnya, itu mempermudahnya menyampaikan isi hatinya.

“Aku bertanya, apa yang kalian lakukan pada jiyeon!! Bukankah sudah kubilang jangan menyentuhnya?!” kata Suzy murka. Dia sudah membuat kesepakatan pada orangtuanya dan orangtua myungso jika mereka tidak akan menyentuh Jiyeon asalkan dia setuju menikah dengan Myungso.

“Kami tidak akan melakukan itu jika, wanita jalang itu tidak kabur bersama Myungso,” kali ini ayah Myungso yang menjawab. Suzy menatap penuh kebencian pada ke empat orang tua itu.

“Jiyeon bukan wanita jalang ajhusi, dia gadis baik-baik.”

“Apa sebutan yang pantas untuk wanita yang rela kawin lari dengan seorang namja lalu hamil, lalu setelah melahirkan dia meninggalkan anaknya begitu saja?”

“Mwo jiyeon hamil dan meninggalkan anaknya? park jiyeon melakukan itu?Kalian jangan membohongiku, jiyeon tidak mungkin melakukan itu,” kata Suzy tidak percaya.

“kalau kamu tidak percaya, kamu bisa melihat bayinya di rumah sakit dan Myungso yang depresi karena di tinggalkan wanita jalang itu.”

“Jaga bicaramu Ajhuma, jiyeon bukan wanita jalang,” kata Suzy kasar. Dia tidak peduli jika di anggap sebagai yeoja kasar. Dia sudah bosan jadi alat untuk pemuas keinginan kedua orang tuanya. Selama ini dia diam saja membiarkan orangtuanya karena berharap semuanya akan baik-baik saja. Tapi orang yang di cintai dan sahabatnya justru semakin menderita. “Kenapa kalian tidak menyalahkan Myungso oppa? Dia kan yang membawa lari jiyeon dan menghamilinya. Seharusnya dia yang menjadi pria jalang.”

“Jaga bicaramu Bae Suzy!” kata ayahnya penuh peringatan.

“Sudahlah. Buat apa kamu membela yeoja jalang seperti dia. Seandainya dia tidak berbuat jauh kami juga tidak akan melakukan ini. dia yang memaksa kami melakukan ini.”

“Kalian yang memaksanya melakukan itu”  kata Suzy berkeras.

“Suzy dari pada kita berdebat pada sesuatu yang tidak berujung, bagaiman jika lebih baik kita memikirkan pernikahnmu dengan Myungso.”

“Aku tidak akan menikah Myungso oppa, dia masih suami Jiyeon.”

“Mereka sudah bercerai dan yeoja murahan itu sudah menandatanganinya. Jangan protes dulu,” kata ibu Myungso menahan protes Suzy. “Yeoja itu sudah pergi meninggalkan anaknya yang baru larir dan myungso yang masih depresi. Kami tahu kamu juga mencintai Myungso.” Suzy terdiam tidak bisa membantah.

“Nah, kalau kamu mau, kamu bisa menikah dengan myungso,” kali ini ibu suzy yang berbicara.

“Aku sudah bilang, aku…”

“Myungso sedang depresi dan anaknya butuh sosok ibu. Apa kamu tega membiarkan mereka begitu saja?” jawab ibunya tepat sasaran. “Dia pria yang kamu cintai dan anak itu anak dari sahabat dan pria yang kamu cintai. Kamu tidak akan tega membiarkannya bukan.”

Suzy terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia menolak—dia tahu dia punya kesempatan menolak—keluarga Kim bisa membuang anak jiyeon begitu saja. Dia tahu orang tuanya dan orang tuan myungso orang yang tidak punya hati. Dia saja pernah di buang oleh orang tuanya, apalagi anak jiyeon.

“Baiklah, aku terima.”

ʚ

Suzy mentap Sooyeon yang sudah tertidur lelap di tempat tidurnya. Dia mentap gadis polos itu dengan tatapan prihatian. Dia sangat menyayangi sooyeon. Sangat.

Dia ingat ketika pertama kali dia melihat yeoja kecil itu di ruangan bayi di rumah sakit karena terlahir prematur. Ya, karena jiyeon stress akibat tekanan yang dia terima akhirnya bayinya lahir lebih cepat dari waktunya. Saat pertama melihat anak itu di lemari inchubator dia langsung jatuh cinta. wajah itu mengingatkannya pada Kim myungso dan alisnya mirip dengan jiyeon.

Dan saat Suzy akhirnya bisa menggendong Sooyeon dan menatap matanya—mata yang sama persis seperti milik jiyeon—suzy seolah terikat kuat pada bayi perempuan itu. Semua beban dan rasa lelah Suzy  seolah keluar di sedot mata indah yang polos itu. Sejak saat itu Suzy merawat dan membesarkan Sooyeon seperti anak kandungnya. Tidak pernah sekalipun dalam pikirannya bahwa Sooyeon bukan anak kandungnya. Selama ini dia selalu beranggapan gadis kecil itu lahir dari rahimnya sendiri hingga dia bertemu Jiyeon hari ini.

Saat melihat Park jiyeon kembali setelah empat tahun lamanya, kesadaran itu tiba-tiba muncul. Bak film yang di putar ulang akhirnya dia teringat jika Sooyeon bukan lahir dari rahimnya. Dia tidak pernah mengandung gadis itu. Dan ketakutan yang besar menjalar di setiap sel tubuhnya.

“Sooyeon-ah… jalja,” kata suzy sambil mencium kening putrinya itu.”Kamu tidak akan meninggalkan eommakan?” ujarnya sambil berbaring di samping putrinya itu dan melingkarkan satu tangannya memeluk yeoja cilik itu.

Suzy sebenarnya memiliki kamarnya sendiri—kamar yang terpisah dari Kim Myungso suaminya—tapi malam ini dia memutuskan untuk tidur di kamar sooyeon.

“Sooyeon-ah… eomma takut,” kata dengan suara serak. Perlahan tanganya yang menganggur menghapus air matanya yang mengalir. “Kamu tidak akan pernah meninggalkan eommakan? Kamu tidak akan meninggalkan eomma, seperti yang di lakuka orang-orang yang eomma sayangi.”

“eomma takut Sooyeon-ah… sangat takut,” kata suzy terisak sebelum akhirnya dia tertidur.

ʚ

“Hiks…hikss…haramoni…hiks…hiks…” seorang gadis kecil masuk kesebuah rumah tradisional korean dia daerah pedesaan sambil menangis. Dengan gaun kuning kebesaran, sepatu merah, tas merah dan rambut kepang dua gadis berusia lima tahun itu nampak baru pulang dari sekolah. “Haramoni…” teriak gadis kecil itu lagi sambil menangis.

“Eoh, suzy-ah kenapa kamu menangis?” ujar sang nenek panik melihat cucu tercintanya sedang menangis di depan rumahnya. “Kenapa? apa ada yang mengganggumu lagi?” ujar wanita tua itu buru-buru keluar dari rumahnya.

“Haramoni, aku tidak mau sekolah lagi…” ujar gadis itu begitu melihat neneknyav masih sambil menangis.

“Waeyo? Apa ada yang mengganggumu?” kata sang nenek berusaha menenangkan cucunya.

“Aku benci sekolah… mereka selalu mengejekku,” ujar gadis itu sedikit lebih tenang.

“Sudah jangan sedih lagi, mereka mengejekmu karena mereka iri melihat cucu nenek yang cantik ini,” ujar neneknya berusana menenangkan. Dia sudah bisa menebak apa yang di alami cucunya yang malang itu, karena hampir setiap hari cucunya itu mendapat perlakuakn yang sama. “Kamu tidak usah mendengarkan mereka.”

“tapi mereka terus mengejekku. Mereka bilang aku ini anak haram dan anak pembawa sial, makanya eommaku langsung meninggalkanku begitu aku lahir,” kata suzy kecil masih tidak terima.”kata mereka eommaku adalah wanita penggoda yang menggoda suami orang sehingga aku lahir. Setelah aku lahir eomma langsung meninggalkanku begitu saja karena aku membawa sial.”

“Aigoo, siapa yang berkata begitu. Kamu itu anak yang manis dan membawa keberuntungan. Buktinya nenek tidak sial karena kamu. Nenek justru selalu beruntung sejak kamu lahir.”

“Jinchayo? Aku tidak membawa sial? Lalu kenpa eomma meninggalkanku?” tanya Suzy kecil mulai berhenti terisak.

“Siapa yang bilang eommamu meninggalkamu. Eommamu sedang bekerja agar kamu bisa sekolah dan belajar. Eommanu sedang mencari uang.”

“Eomma tidak meninggalkanku?haramoni tidak berbohong?” tanya suzy senang.

Ada raut sedi di wajah wanita tua itu saat mengangguk, meratapi nasip malang cucunya itu.

“Tapi kenapa eomma tidak pernah mengunjungiku?”

“Kata eommamu dia akan datang kalau kamu jadi anak pintar dan penurut. Kalau kamu jadi anak baik dan pintar eommamu pasti akan datang menemuimu. Makanya kamu harus pergi kesekolah.”

“Aku akan jadi akan baik dan pintar haramoni, tapi jebal bilang pada eomma aku tidak mau pergi kesekolah. Aku benci sekolah, aku tidak punya teman.”

“Kalau mau pintar ya harus sekolah. eommamu akan sedih kalau kamu tidak mau sekolah. kamu harus percaya pada haramoni, kamu pasti punya teman jika kamu jadi anak baik dan pintar. Semua orang suka berteman dengan anak baik dan pintar.”

“Benarkah haramoni? Kamu tidak berbohong.” Sang nenek tersenyum lalu mengangguk.”Tapi bagaiman jika mereka masih mengejekku?”

“kalau mereka mengejekmu kamu tidak usah mendengarkannya apalagi menangis. Kalau kamu menangis mereka akan semakin mengejekmu.kamu harus jadi gadis yang kuat. Dengan jadi anak baik dan pintar pasti semua orang akan menyayangimu.”

“Termasuk Eomma?”

“ne.”

“Appa juga?”

“Ne.”

“Kalu begitu aku percaya pada haramoni. Mulai sekarang aku akan jadi anak penurut dan pintar. Aku tidak akan cengeng lagi,” kata suzy kecil sambil memeluk neneknya.

“Nah, begitu dong cucu nenek. Kajja kita makan, kamu pasti lapar. Nenek memasak makanan kesukaanu.”

…………….

“Haramoni… haramoni…” teriak Suzy semangat sambil berlari menghampiri neneknya yang sedang membuat asinan untuk di jual.

“Wae..suzy-ah,” tanya neneknya heran melihat Senyum ceriah cucunya.

“Aku lulus..aku lulus. Dan nilaikuyang paling tinggi.” Kata suzy sambil menunjukkan nilai kelulusannya dari sekolah Taman kana-kanaknya(TK)

“Wah cucu nenek memang yang paling hebat,” kata neneknya meninggalkan pekerjaannya dan memeluk cucunya senang. “Sebagai hadiah, kamu mau apa?”

“Aku tidak mau hadiah apa-apa. Aku mau eomma saja,” kat Suzy polos membuat orang tua itu terdiam seketika. “Kata Haramoni kalau aku jadi anak baik dan pintar, eomma pasti mau menemuiku. Palli beritahu eomma jika aku dapat nilai paling tinggi.”

Wanita paruh baya itu hanya terdiam menatap cucunya prihatin. Dia tidak ingin mematahkan hati cucunya itu dengan mengatakan bahwa ibunya benar-benar meninggalkannya begitu dia terlahir.

“Su..su…”

“Eomma aku pulang,” belum sempat neneknya menyelesaikan kalimatnya, kata-katany sudah di intrupsi oleh wanita muda, cantik dan modis. “Eomma bogosippo,” ujar wanita itu sambil memeluk nenek suzy. Suzy hanya mentap aneh wanita dengan dandanan heboh itu. Dia belum pernah melihat orang seperti itu sebelumnya di desanya.

“Soo..ra-ya,” ujar wanita tua itu masih kaget. “Kamu pulang?” tanyanya tidak percaya.

“Ne, eomma aku pulang,” ujar wanita bernama Soora itu. “Sebentarlagi aku akan menikah dengan ayah anakku, aku datang untuk memberitahumu.”

“Bukankah dia sudah memiliki istri?”

“Ne, istrinya meninggal karena kangker rahim dan semua harta wanita itu jatuh padanya. Dia lalu datang menemuiku dan menanyakan keberadaan anak kami. Eoh dimana anak itu?” tanya wanita itu celingukan dan tatapannya berhenti pada suzy.

Nenek Suzy belum sempat mengomeli kelakuan putrinya yang bejat saat tiba-tiba memeluk suzy.

“Anakku, kamu sudah besar,” suzy yang masih bingung tidak memberi respo. “Eommamu datang kenpa kamu tidak memelukku juga?”

“Eomma?” tanya Suzy kaget.

“Ne, aku eommamu.”

“Eomma bogosippo.” Ujar suzy senang, tida menyangka perkataan neneknya benar jika dia jadi anak baik dan pintar maka eommanya akan datang. Sang nenek yang awalnya ingin marah tidak jadi melihat cucunya yang begitu bahagia.

…………..

“Eomma kenapa kamu pergi lagi? Apa kamu tidak bisa tinggal disini saja?” tanya Suzy sedih, dia belum puas dengan eommanya, tapi eommanya sudah mau pergi lagi.

“Mianhae chagi, eomma harus pergi lagi, eomma masih ada urusan. Begitu urusan eomma selesai, pasti aku akan menjemputmu dan kita akan hidup bersama.”

“Jinchayo? Dengan appa juga?”

“Ne, dengan appa juga.”

“Tapi aku masih rindu dengan eomma.”

“Suzy-ah kamukan sudah kanji jadi anak penurut,” kata neneknya berusaha membujuk cucunya. “lebih baik kamu sekarang masuk dan belajar, kan kamu sudah bertemu eommamu.” Suzy yang masih rindu dengan eommanya hanya mengerucut tapi meuruti juga perkataan neneknya. Karena biasanya neneknya selalu benar.

“Apa kamu yakin dengan pernikahanmu ini?” tanya nenek Suzy khawatir pada anaknya.

“Eomma kamu tidak usah ribut. Kamu juga maukan Suzy hidup bersama ayah dan ibunya?”

“Iya, tapi…”

“Sudahlah, eomma. Aku harus kembali ke seoul. Aku akan kembali lagi setelah menikah. Dan suzy aku titpkan dulu sama eomma sampai keadaan membaik. Aku tidak mau keluarga wanita yang sudah meninggal itu curiga dan menarik semua warisannya. Aku baru mengambil Suzy lagi setelah keadaan sudah aman. Jadi jaga dia baik-baik.”

Wanita tua itu hanya pasrah melihat putrinya itu. Percuma melawan Soora karena akan berujung pada wanita itu marah dan pertengkaran tidak berguna. Dia hanya menghela nafas saat anak satu-satunya itu pergi lagi.

……………….

“Haramoni…” teriak Suzy begitu dia tiba di rumah.

“Eoh, kamu sudah pulang. Bagaimana hari pertama sekolahmu?”

“Aku senang haramoni. Aku sudah punya teman, namanya Park Jiyeon. Dia sedikit gemuk tapi sangat baik. aku sanagt menyukainya.”

“Benarkah? Aku senang akhirnya cucu nenek punya teman.”.

“Eomma dan appa juga tadi datang ke sekolah menemuiku, tapi hanya sebentar karena mereka hanya ingin berbicara dengan seosongnim.”

“Ayah dan ibumu datang?”

“Ne, mereka naik mobil bagus, tapi karena sibuk dia harus kembali. Mereka juga membelikanku ini,” kata Suzymenunjukkan bungkusan besar yang di pegangnya. “ah, matta… eomma juga menitipkan ini untuk haramoni,” kata Suzy sambil memberikan amplop coklat pada neneknya.

“Ne, nenek benar, ternyata jika aku jadi anak baik dan pintar aku pasti punya banyak teman. Mulai sekarang aku akan jadianak pintar dan penurut.” sang nenek hanya tersenyum akhirnya cucunya bisa ceria lagi dan menikamati sekolah.

Suzy terbangun dari mimpinya. Mimpi yang selalu datang saat dia merindukan neneknya. Satu-satunya oarang yang mencintainya. Air mata suzy kembali menangis mengingat neneknya.

“Halmoni, aku suda jadi anak baik dan penurut. Tapi kenapa tidak ada yang menyayangiku?” guman Suzy kembali menangis. “Bahkan satu-satunya harapanku dan semangat hidupku terancam di ambil,” lanjutanya sambil mengeratkan pelukannya pada Sooyeon. Gadis kecil itu hanya menggeliat saat merasakan pelukan suzy.

Merasa sedikit tenang, suzy menatap jam di kamar Sooyoen. Jam lima pagi. Dengan langkah berat dia bangun dan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Saat menyebutkan itu suzy merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.

Benarkah mereka anak dan suaminya? Miliknya?

Mungkin empat tahun ini mereka miliknya karena pemilik asli pergi. Tapi setelah pemiliknya kembali bolehkah dia berharap mereka masih tetap miliknya?

Daripada memikirkan pertanyaan yang akan membuatnya terluka, suzy cepat-cepat melangkah ke dapur dan menyibukkan diri disana.

ʚ

“Oppa kamu sudah bangun?” sapa suzy melihat myungso keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Suzy hanya menghela nafas karena lagi-lagi dia di acuhkan.

Sabar Suzy-ah, bukankah kamu sudah biasa di perlakukan begitu? Justru akan aneh jika tiba-tiba dia menyapamu dan tersenyum.

Begitu Myungso masuk ke kamar mandi, suzy kembali memusatkan perhatiannya pada Sooyeon yang sedang di suapinya.

“Eomma aku sudah kenyang.”

“Satu sendok lagi, ne. Setelah itu minum susu,”kata Suzy yang di beri anggukan Sooyeon. “Nah selasai. Kamu tunggu disini dulu, eomma mau menyiapkan pakaian appa dulu ne,” lagi-lagi Sooyeon hanya mengangguk.

Suzy lalu melangkah ke kamar Myungso dan menyiapkan pakaian suaminya itu selagi di kamar mandi. Dia hanya bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri saat myungso sedang mandi atu tidak melihatnya, kalau tidak namja itu akan menolaknya mentah-mentah.

Selama empat tahun pernikahannya dengan Myungso suzy belum pernah merasakan yang namanya menjadi istri sungguhan. Myungso hanya menganggapnya sebagai banyangan. Berbicara kalau perlu, menghindar sebanyak yang dia bisa. Namja itu selalu berangkat ke kantor pagi sekali dan pulang malam sekali. Hari sabtu juga masuk kantor, namun saat hari minggu libur namja itu akan beralasan pergi bersama tema-temannya atau jika di rumah dia sibuk bersama Sooyeon dan mengacuhkannya. Myungso hanya berbicara padanya jika itu menyangkut Sooyeon.

Tapi Suzy tidak menyerah. Dia selalu bersabar seperti yang selalu dia ajarkan neneknya. Toh meskipun tidak di anggap myungso, namja itu dan Sooyoun adalah miliknya secara hukum. Dan sejauh ini dia tidak pernah khawatir dan cemas.

Tapi tiba-tiba bayangan jiyeon kembali di kepalanya membuat dia kembali menggigil ketakutan.

Setelah memilihkan pakaina myungso dia buru-buru keluar dari kamar namja itu sebelum myungso selsai mandi dan menyiapkan sarapannya.

“Kajja Sooyeon-ah, eomma sudah selasai,” suzy menghampiri Sooyeon yang menunggunya di depan tv untuk mengantarnya ke sekolah.

“Apa eomma akan bertemu dengan ajhuma yang kemarin lagi?” tanya Sooyeon membuat suzy menghentikan langkahnya tiba-tiba.

“Waeyo? Kamu merindukannya?”

“Aniyo..hanya saja ajhuma itu datang ke mimpiku dan dia bilang ingin bermain denganku.”

Suzy terdiam. Sebarapa besarpun cintanya pada sooyeon, gadis itu bukanlah anak kandungnya. Dan ikatan batin antara anak dan ibu memang tidak bisa di putus.

“Kenapa? kamu ingin bermain dengannya? Kalau kamu mau eomma bisa mengantarmu bertemu ajhuma itu.”

“Aniyo, aku sedikit takut melihat tatapannya. Dia terlihat seram.”

Suzy hanya tersenyum mendengar perkataan Sooyeon. Apa Sooyeon akan bersikap seperti itu jika tahu bahwa Jiyeonlah ibu kandungnya bukan dirinya.

“Kajja, lebih baik kita berangkat sekarang. Nanti kamu bisa terlambat sekolah.”

ʚ

suzy menatap jiyeon yang duduk di depannya. Setelah tadi mengantar Sooyeon, tiba-tiba yeoja itu menghubunginya—kemarin mereka sempat bertuka no. Telepon—dan meminta bertemu. Dan sekrang disinilah mereka di restoran dekat kantor Kim Myungsoo suaminya.

“Aku akan mengambil mereka darimu,” ujar jiyeon tegas membuka pembicaraan setelah cukup lama hening. Suzy yang sudah bisa menebak hanya bisa terdiam. “Aku akan mengambil semua yang harusnya milikku.”

“Aku tahu,” jawab Suzy singkat.

Mereka kembali diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Aku sempat menebak-nebak, Bae suzy yang cantik. Bae Suzy yang pintar. Bae Suzy yang di agung-agungkan orang akan seperti apa kelak,” kata jiyeon dengan nada mengejek. “Ternyata hanya berakhir sebagai ibu rumah tangga yang menyedihkan. Padahal aku berharap lebih darimu.”

“Maaf mengecewakan harapanmu.”

“cih, masih bersikap polos dan lugu. Aku heran apa bagusnya kamu dariku. Hanya karena terlahir dari keluaraga kaya saja.” Suzy tidak menanggapi.

“Kenapa kamu membenciku?” tanya Suzy akhirnya. Dia selalu menyukai jiyeon tapi kenpa yeoja itu sepertinya sangat membencinya.

Karena Kim myungso? Bukankah Myungso lebih memilih jiyeon dari padanya. Karena dia lahir dari keluarga kaya? Itu bukan salahnya, toh aslinya hidupnya jauh lebih menyedihkan dari Jiyeon. Karena menikah dengan Kim myungso? Bukankah Jiyeon yang meninggalkannya. Dan hati namja itu hingga sekarang masih milik Jiyeon.

“Karena semua yang ku inginkandengan mudah kau dapatkan tanpa bersusah-susah. Semua yang aku impikan justru jadi milikmu. Cantik, kaya, populer, pintar, kebahagiian, orang tua yang mau melakukan apapun untukmu, pria yang kamu sukai menjadi suamimu tanpa melakukan apapun bahkan anakku. Semuannya itu, semua yang aku inginkan kamu dapatkan begitu saja.”

Suzy tersenyum miris dan memandang jiyeon.

“Aku justru iri padamu. Semua yang aku inginkan ada padamu,” kata Suzy jujur. “Kalau aku boleh memilih, aku ingin terlahir sebagai Park Jiyeon dari pada Bae Suzy. Sayangnya aku tidak bisa memilih.”

Jiyeon memandang Suzy sinis. Dia merasa suzy hanya mencoba membuatnya merasa bersalah dan kalah.

“Apa yang kamu lihat selama ini, sesungguhnya hanya topeng. Aku heran apa yang kau irikan. Cantik? Kamu lihat dirimu sekarang, kamu sangat cantik seperti model  sementara aku hanya ibu rumah tangga biasa yang bau bawang. Kaya? Aku tidak menginginkkannya. Pintar? Seanadinya kamu tahu perjuanganku untuk mendapat predikat itu. Kasih sayang orang tua, aku belum pernah merasakannya. Dan suami yang tidak mencintaiku apakah itu membuatmu iri? Dan mencintai anak suami dengan wanita yang di cintainya yang juga sahabatmu. Apa tidak terdengar menyedihkan.” Suzy terdiam sebentar. “Sesungguhnya aku sangat menyukaimu sebagai temanku. Karena kamu adalah temaku yang pertama, tapi sepertinya tidak begitu denganmu.”

Jiyeon hendak berbicara, namun di dahului Suzy.

“Aku sudah tahu kamu akan kembali dan mengambil semuanya. Tidak perlu cemas, aku akan mengembalikan semuanya milikmu, karena sejak awak semua ini memang bukan milikku. Tapi… tapi untuk Sooyeong bisakah kamu memberikan waktu untuk kami berdua?”

“Aku sangat menyayangi anak itu dan selalu berfikir jika dia adalah anak kandungku. Kedatangamu yang tiba-tiba membuatku ketakutan dan belum siap. Aku hanya ingin memiliki kenangan yang indah sebelum kami berpisah. Masih banyak yang ingin aku lakukan bersamanya. Aku pasti mengembalikannya. Aku mohon.” Kata suzy dengan suara memohon.

Jiyeon terdiam. Dia kaget dengan reaksi Suzy. Dia sempat berfikir jika yeoja itu akan marah-marah dan memaki-makinya. Yeoja itu akan mengibarkan bendera perang untuknya dan dia sudah menyiapkan perlengkapan perang. Namun melihat Suzy yang memelas dan pasrah membuat hati kecilnya bergetar. Tiba-tiba dia merasa kasihan pada yeoja di depannya ini. Entah kenpa dia merasa Suzy jauh lebih menderita dan hancur darinya.

“Baiklah.” Katanya akhirnya. “Aku akan memberimu waktu bersamanya, tapi saat aku datang kamu sudah harus siap melepasnya.”

“Gomawo Jiyeon-ah.” Nada tulus dalam suara Suzy kembali membuat hati jiyeon bergetar. Perasaan iba tiba-tiba menghampirinya.

ʚ

Myungso membuka pintu mobilnya dengan malas. Dia sengaja pulang cepat karena Suzy memintanya. Sebrnarnya dia ingin menolak seperti biasa, tapi mendengar nada memohon yeoja itu membuatnya sedikit tidak tega. Selama dia mengenal Suzy, yeoja itu belum pernah memohon pdanya. Biasanya yeoja itu yang selalu menuruti kemauan orang lain.

Sebenarnya Myungso sedikit bersalah memperlakukan Suzy begitu. Dia tahu yeoja itu tidak salah dan tidak terlibat dalam hal ini. justru dia juga korban seperti dirinya. Tapi setiap melihat Suzy, dia selalu teringat akan orangtuanya yang selalu memaksanya menikah. Dia juga akan teringat pada Jiyeon yang berteriak histeris karena Suzy selalu merebut impiannya. Dan itu membuat amaranya semakin meledak. Sebenarnya dia juga tahu soal perasaan suzy padanya, tapi sejauh ini yeoja itu tidak pernah memaksanya. Tapi justru itu yang membuat dia dan jiyeon dulu  sering bertengkar. Jiyeon selalu marah saat dia membela Suzy. Dan melihat Suzy dia jadi ingat semua itu. Dan emosinya kembali mendidih.

“Appa!” teriak Sooyeon begitu melihat Myungso masuk. Myungso yang melihat putrinya itu langsungsung tersenyum senang. satu-satunya kenangannya yang tersisa dengan jiyeon.

“Uh, putri appa sudah wangi, apa kamu sudah mandi?”

“ne, eomma yang memandikanku. Appa berhentilah menciumku, appa bau,” kata Sooyeon sedikit kesal, karena dia sudah wangi tapi di cium-cium appanya yang belum mandi. “Appa mandi dulu baru menciumku.”

“Arraso, appa akan mandi. Appa kan hanya merindukanmu.”

“Eiss… salah Appa jarang di rumah.”

“Baiklah anak manis, appa mandi dulu,” katanya sambil mengacak-acak rambut anaknya dengan gemas.

“Eoh, kamu sudah pulang oppa?” tanya suzy hangat begitu melihat myungso hendak masuk ke kamar. “oppa cepatlah mandi, setelah itu kita makan. Ada yang mau aku bicarakan.” Kata suzy sebelum myungso masuk kamar. Myungso tidak menjawan dan langsung masuk kamar membuat suzy hanya tersenyum miris.

………….

“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Myungso begitu dia selesai makan. Dia akhirnya membuka suara terlebih dahulu karena Suzy tak kunjung bicara.

“Aku tidurkan Sooyeong dulu ne,” kata Suzy menunjuk Sooyeon yang tertidur di pangkuannya. Lalu menggendong anaknya itu ke kamar. Myungso menatap Suzy, dia merasa Suzy sedikit aneh.

Setelah selesai menidurka Sooyeon, Suzy hendak kembali ke meja makan, namun tidak jadi saat melihat Myungso duduk di ruang TV. Dia lalu menghampiri suaminya itu dan duduk di sebelahnya.

Setelah cukup lama terdiam, suzy akhirnya menyerahkan amplop coklat pada myungso. Myungso menatap bingung pada amplop itu lalu menatap Suzy.

“Itu surat cerai kita,” kata Suzy menjawab kebingungan Myungso.

TBC

 Gmn ceritanya? Ngebosenin banget ya… soale aku merasa ini ff ku yg super duper mellow bgt dahh. Awal mula aku pengen nulis cerita ini krn aku lagi suka bgt dengerin lagu Novita Dewi  ‘X factor’ yg judulnya ‘sampai habis air mataku’ . Tiba2 aku ke ingat ma ff yg pernah aku baca (lupa judulnya solae da lama bgt… da ada setahun yg lalu mgkin) dan pengen biki yg temanya begitu. Tp ini bukan Song fict lagu itu kok, krn lagunya novitakan ttg kekasihnya yg g balik2, kl ff ini kan  Suzy menunggu cinta Myungso yg tak kunjung datang. Hehehe…

Liat comen kalian ada yg berharap Myungyeon dan ada yg berharap MyungZy membuatku galau, hehe.. pdhal aku sdh punya Ending sendiri lo (entah itu MyungYeon atau Myungzy… pokonya msh rahasia ^^), dan soal cast namjanya akan nambah kok tp br ada di part depan. 

Aku gak berharap banyak sama kalian pd kalian selain tdk bosan membaca ceritanya…^^ thx for All.

Advertisements

65 thoughts on “LOVE is HARD part 2

  1. huaaa suzy hatimu terbuat dr apa?!
    *keren thor ceritanya, aku kira myungso udh bisa buka hati buat suzy ternyata dia belum bisa move on*

  2. ternyata hidup suzy jauh dari kata maniss.. apalagi keluarganya hwaa…
    tapi kerenn thor aku suka, makin penasaran.. izin lanjut ya..

  3. poor suzy..
    suzy kamu keren banget, masih sempat2nya bilang kata2 kayak gitu ama jiyeon.. kalo aku mah udah smack down si jiyeon ishhhh..
    next thor, penasaran ama reaksinya myungsoo..

  4. aigoo…thor baca part ini bkin emosi meninggi n dagdigdug.
    Heh sedih bnget kalau tau suzy eonni bgini keadaan.a,tdk pernah ada yg menyayangi.a sepenuh hati..nyesek rasanya. Eon yg sabar lg yaa.

  5. Mwoya thooor???surat cerak 😥
    Suzy knpa tiba2??
    Ksihan suzy jg klau lma2 ϑɪ posisi seperti itu…
    Jiyeon-si, mwoya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s