Sequel I’M Not For You ( I still Love you)

 new-11

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                  Lee ji eun

                                 Jang Wooyoung 2PM

                                Park jiyeon T-Ara

                                  And other

Genre                   :  ????

Leght                     : Oneshot

Warning!!! Typo bertebarang dimana-mana. Cerita punyaku, tp castnya minjem…^^. Cerita ini agak nyeleneh, jd kl gak suka harap maklum…

====================================================================

Suzy POV All

“KYAAA!!!! AKU LULUSS!!!”

Aku mendengar teriakan-teriakan teman-temanku yang melihat papan pengumuman. Ya, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan kami dan semua siswa di angkatanku bersorak gembira dan juga guru-guru karena kelulusan itu, bahkan adik kelas juga ada yang ikut meliaht penguman dan berteriak senang. Tapi tidak denganku, aku tak ikut berteriak senang seperti teman-temanku. Oh bukan! Bukan karena aku tidak lulus, aku lulus dan nilaiku berada di urutan kedua nilai tertinggi, aku kan termasuk siswa pintar di sekolahku ini. Dan bukan juga aku merajuk karena aku tak di posisi pertama, aku tak mempermasalhakan itu. Yang jadi masalah..

“Suzya-ah!! Cukkae!!” teriak ji eun melumuri baju seragamku dengan tinta untuk isi ulang spidol. Aku mengedarkan pandanganku, semua anak-anak memang sedang siuk mengotori baju mereka. “YAK! Ekspresi macam apa itu? Kenapa wajahmu datar sekali, apa kamu tak terima karena kamu di posisi dua?” tanya ji eun yang melihatku hanya bengong menatap sekeliling dan tidak membalas seperti biasanya.

“Aniyo..aku hanya sedih akan meninggalkan masa-masa SMA, aku benar-benar menyukai saat-saat sekolah,” kataku dengan nada sedih.

“Ya..mana ada orang yang berbicara seperti itu saat berita kelulusan! Sekarang saatnya senang-senang. Kamu sedih-sedihnya nanti saja, saat perpisahan.”

“Ah baiklah, kalau begitu maumu,” kataku mulai bersiap mengganggunya, sial dia sepertinya sudah hapal gerak-gerikku dan langsung berlari menghindariku yang sibuk mengejarnya. Aku berusaha tertawa dan mengalihakan pikiranku.

Aku bukannya sedih karena alasan yang ku berikan pada ji eun. Aku sedih karena berita kelulusa berarti sebentar lagi waktunya tiba..ya pertunangan Myungso dan Jiyeon.

Apakah waktu tak bisa berhenti saja? Apakah waktu tak bisa mundur? Apakah waktu tak bisa jalan di tempat sehingga hari ini tak kunjung tiba. Apakah waktu tak bisa salah jalan? Pertanyaan yang konyol! Semua orang tau jawabannya. Tentu saja tak bisa!

Ratapi saja penyesalanmu bae suzy! Ini semua karena kesombongan dan keangkuhanmu!

“SUZY-AH!!” aku berhenti berlari begitu mendengar suara familiar itu. Suara yang aku sukai tapi sekaligus yang paling aku benci. Suara yang paling tak kuharapka ada. Yaeh itu Jiyeon. Park Jiyeon. Gadis cantik yang menjadi sahabatku sekaligus calon tunangan dari namja yang kucintai.

“Ji eun-ah, aku pergi dulu kesana ne..aku mau menemui Jiyeon dulu.” Ujarku pada ji eun yang ikut menghentikan langkahnya saat aku berhenti.

“Oh, jadi itu tunangan Kim myungso?” tanya ji eun. Aku memang sudah menceritaka semuanya pada ji eun tentang perasaanku dan pertunangan myungso, “hmm cantik juga. Tidak kalah denganmu, sebelah dua belaslah,” komentar ji eun menilai jiyeon.

Ne, jiyeon memang sangat cantik. Bahkan menurutku jauh lebih cantik dariku.

“Kamu datang sama siapa?” tanyaku pada Jiyeon begitu aku tiba di depannya. Aku hanya sekedar basa-basi, aku tau dia datang dengan tunangannya.

“Aku datang sendiri,” katanya membuatku sedikit terkejut.”Setelah aku mendengar kabar aku juga lulus, aku langsung datang menemuimu. Aku ingin merayaknnya bersamu.” Katanya lagi penuh semangat. Ah, setelah pindah dari jaeju, jiyeon bisa pinda kesekolah di seoul. Bukan sekolah elit seperti sekolahku ini, hanya sekolah yang sangat biasa yang mana pelajaran tak terlalu penting kecuali uang, hanya perlu datang saat ujian, ya semacam sekolah khusus anak nakal. Ya sekolah mana yang akan menerima jika kamu pindah tepat satu bulan sebelum kelulusan? Dan di sekolah itu jiyeon tak perlu masuk, kecuali saat ujian sehingga dia bisa fokus mengurusi pertunangannya. Dan jiyeon masuk sekolah itu bukan karena dia bodoh atu dia anal nakal.

“Oh kalu begitu, selamat!” ujarku sambil memeluknya. “tapi aku pikir kamu datang bersama myungso.” Ujarku lagi.

“Maunya sih seperti itu, tapi dia masih tidur dan tak mau datang kesekolah. Katanya dia yakin seratus persen akan lulus. Namja itu tidak asik sekali,” komentar jiyeon dengan nada lucu membuatku tak tahan untuk tak terkekeh. “Ah sudah kita tak usah membahasnya, bagaiman kalau sekarang kita pergi merayakan kelulusan kita?” tanyanya antusias yang kubalas dengan anggukan.

*****

Aku berdiri dan ikut bertepuk tangan dengan tamu yang lain saat Myungso dan Jiyeon berhasil bertukar cincin tanda pertunangan mereka sudah sah. Tak lupa aku memasang senyum palsu di wajahku. Ya, aku pura-pura tersenyum bahagia tapi sejujurnya hatiku sangat sakit sampai rasanya aku mau menangis histeris. Selesai sudah perjalanan cintaku..kandas di tengah jalan. Ah tidak, kandas sebelum berjalan.

“Cukkae..selamat atas pertunangan kalian. Semoga kalian bahagia,” ucapku dengan nada riang pada pasangan itu.

“Gomawo suzy-ah,” ujar jiyeon semangat dan langsung memelukku sangkin bahagianya. Aku sempat melirik myungso dari balik bahu Jiyeon, dan namja itu hanya menatapku dingin dan datar tanpa ekspresi. Tatapan yang paling aku benci. Aku tak suka myungso menatapku seperti itu, biasanya tatapan itu buat orang-orang selain aku. Biasanya dia selalu menatapku dengan tatapannya yang hangat.

“Ne, sama-sama. Pokoknya kamu harus membahagiakan myungso. Dia itu luarnya terlihat galak, aslinya dia sangat lembek, dia itu seperti nanas (aku pinjam istilah yg digunain member IFINETE buat myungso, gpp kan hehe).” Kataku sambil melepas pelukan Jiyeon.

“Berhentilah bersikap seolah kamu memang mengerti aku,” aku langsung berdiri kaku begitu mendengar suara dingin itu. Aku benar-benar mau menagis, dia tak pernah berbicara sedingin itu padaku. “Kalau kamu sudah selesai lebih baik kamu pergi, masih banyak tamu yang mengantri untuk memberi ucapan.” Katanya lagi masih dengan nada yang sama.

“myungso-ah..” tegur jiyeon pada myungso mendengar nada kasar dan dingin itu. Aku langsung menguasai ekspresiku lagi dan berusaha tersenyum.

“Gwencana jiyeon-ah, dia memang seperti itu. Jadi kelak kamu harus bersabar.” Kataku pada jiyeon. “Maaf aku memang tak mengerti kamu dengan baik, karena biasanya kamu yang melakukan itu terhadapku. Dan selamat untuk pertunanganmu. Dan tak usah khawatir sebentar lagi aku akan pergi, aku tak akan pernah muncul di depanmu lagi,  itu yang kan yang kamu inginkan makanya menghindariku dua minggu ini?” ujarku berbisik di telinganya pada kalimat terakhir dan berusaha terdengar seperti bercanda.

“suzya-ah, apa makudmu..” Myungso tak bisa bertanya lebih lanjut, karena ada tamu yang datang hendak memberi selamat pada mereka dan kesempatan itu aku gunakan untuk pergi.

*****

“Kamu sudah siap?” tanya eommaku padaku sambil memastikan semua barang-barangku sudah lengkap tanpa ada yang tertinggal, “Mana paspormu?”

“Ini” kataku sambil menunjukkan buku kecil itu pada ibuku.

“suzy-ah aku pasti merindukanmu..ah seandainya aku di anugrahi otak encer sepertimu, aku juga mau dapat beasiswa di inggris.”

“Siapa suruh kamu malas belajar? Itu masalahmu,” kataku pada ji eun dan di balas cibiran olehnya.

“Eiss, sudah mau berpisah apa kamu tak bisa berkata manis sekali aja,” sungutnya. “Tapi kamu harus sering-sering datang ke korea dan jangan lupa menghubungiku nanti jika kamu liburan kekorea.”

“Bilang saja kau mau minta oleh-olehkan?”ujarku langsung. “Tapi sepertinya aku tak akan pulang sampai aku lulus. Aku kan mengambil dua jurusan dan pasti aku akan sangat sibuk sekali,” kataku dengan nada sedih. “lebih baik kamu saja yang datang mengunjungiku.”

“Sekarang saatnya kamu masuk,” ujar eommaku begitu mendengar bagian informasi menyuruh penumpang pesawat yang akan aku naiki sudah harus boarding.

“Ne, eomma, jangan lupa jaga kesehatanmu,” kataku sambil memeluk eommaku dan appaku. Aku menangis saat memeluk mereka. bagaimana tidak, aku ini anak satu-satunya dan sudah pasti sangat di manja. Aku sangat dekat dengan kedua orang tuaku.

“Kamu juga, jaga kesehatan. Jangan lupa makan, jangan lupa minum vitamin, jangan terlalu keras belajar,sekali-sekali bersantailah. Jangan tidur terlalu telat, jangan…”

“Sudah-sudah, kau membuatnya semakin sedih,” sela appa begitu mendengar nada suara eomma yang hendak menangis. Aku juga menangis dan berusaha tersenyum.

“Kalau begitu ku pergi dulu, anyeong..”kataku setelah menyelesaikan perpisahan mengharukan itu dan melangkah ke pintu keberangkatan.

Aku memang medaftar di beberapa universitas terkenal di luar negri. Dan aku diterima di lima universitas  yang masuk dalam 10 terbaik di dunia, yaitu MIT, universitas chicago,oxford, cambrige dan colombia university, tapi aku lebih suka di inggris daripada di amerika dan pilihanku jatuh pada Oxford dari pada Cambrige, karena aku memang lebih menyukainya dari dulu. Tadinya aku juga berharap ke terima di harvard tapi ternyata otakku tak sepintar itu.

Sebenarnya aku harus berangkat seminggu yang lalu, karena aku perlu menyesuaika diri dan belajar cara hidup disana, ya semacam kelas perkenalan begitu tapi aku meminta mengundurnya sampai hari pertunangan myungso dan jiyeon dan tadi setelah mengucapkan selamat dan pamit kepada orang tua myungso aku dan orang tuaku menyelinap pergi ke bandara. Semua orang tau kecuali myungso dan jiyeon, aku sengaja melarang orang memberitahukann mereka dengan alasan mereka nanti akan mengacaukan pertunangan mereka dan aku tak mau hal itu terjadi. Mengingat semua orang tau bagaimana sikap myungso padaku, semua setuju merahasiakannya sampai pertunangan berakhir.

Mengenai orang tuaku, awalnya mereka tak setuju aku pergi, tapi appa tiba-tiba harus di pindah tugaskan ke Afrika dua bulan lagi, eomma akhirnya setuju dari pada aku ikut ke negara itu. Dan tentu saja mereka tak mungkin menitipkanku pada keluarga myungso seperti yang biasa mereka lakukan jika mereka harus pergi berhari-hari, mengingat myungso sudah bertunangan dengan jiyeon. Mereka memang diam saja, tapi aku tau mereka semua tahu tentang perasaan myungso padaku.

“Good bye Seoul and welcome Oxford,”  gumanku pelan mentap seoul yang mulai mengecil dari pesawat tempatku duduk sekarang ini.

*****

5 tahun kemudian.

Drrrrttt….drrtttt…

Aku mengutuk jengkel pada si penelepon. Berani sekali dia menggangguku di minggu pagi yang cerah. Apa dia tidak tahu aku ini paling tabu bangun pagi di hari libur.

“Hello,” sapaku dengan nada ketus.

“Yakk!! Bae Suzy kamu dimana?! Kenapa kamu belum datang. Aku sudah menunggumu lebih dari dua jam!!!”

Aku langsung menjauhkan telepon dari telingaku. Aiss siapa sih yang teriak-teriak seperti itu? Apa dia pikir aku tuli. Tapi tunggu… dia menggunakan bahasa korea.

“Nuguseo?” tanyaku lagi begitu yakin orang itu sudah selesai berteriak.

“Mwo!! Kamu tidak tahu aku siapa! Sebenarnya kamu sedang dimana?! Aku seperti orang bodoh menunggu di bandara dan kamu tahu sendiri bahasa inggrisku sangat buruk!!!”

Aiss lagi-lagi orang ini berteriak lagi. Aku bisa-bisa tuli.

Eh tapi, tunggu. Di bandara? Sepertinya aku mengingat sesuatu. Aku lalu menatap penelepon. Lee Ji Eun.

Ya ampun aku lupa! Ji eun kan datang mengunjungiku ke singapura hari ini dan aku sudah berjanji menjemputnya di bandara jam tujuh pagi dan sekarang jam SEMBILAN PAGI!!!

“Mianhae Ji eun-ah… aku ketiduran..

“MWOYA KE…”

Aku langsung mematikan telepon sebelum aku kembali mendengar teriakannya. Dia itu badannya aja kecil tapi suaranya sungguh cetar membahana. Dan tanpa membuang waktu aku langsung melesat ke kamar mandi.

………………

“Yak kenapa kamu masih marah. Aku kan sudah meminta maaf. Kalau ada yang meminta maaf kamu harus memaafkan,” kataku pada ji eun. Kami sudah ada di mobil menuju apartemenku tapi dia masih marah dan tidak mau berbicara.

“Yak cingu-ah mianhae!”

“Lee ji eun mianhayeo!

“Yak! Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar ketiduran, siapa suruh pesawatmu mendarat pagi-pagi buta.” Kataku mulai kesal karena dia terus mengacuhkanku.

“Yak! Berbicaralah, aku kan sudah meminta maaf!”

“AKU MASIH KESAL PADAMU! KENAPA KAMU MEMATIKAN TELEPONKU BEGITU SAJA!!” kata ji eun marah.

Aku melongo!

Jadi dia marah bukan karena aku telat menjemputnya, tapi karena aku mematikan teleponnya sepihak.

“Kalau kamu tidak suka berbicara padaku, seharusnya kamu tidak usah menyuruhku datang kesini,” katanya menggebu-gebu sambil menangis. Kenapa dengan yeoja ini? dua tahun tidak bertemu kenapa dia semakin aneh saja?

“Ya siapa bilang aku tidak suka bicara denganmu. Aku mematikan telepon itu karena…”

“Tidak usah mencari alasan. Kamu pasti terpakasa memintaku datang mengunjungimu kan? Sebenarnya kamu tidak suka berbicara dengan ku?”

“Siapa yang bilang begitu?” tanyaku semakin bingung. Kenapa dia menangis semakin kencang.

“Biasanya kalau kita tidak suka sama orang yang menelepon pasti kita akan mematikan teleponnya begitu saja.”

Huh! Dasar yeoja ini. kenapa sejak dia pindah ke Busan sikapnya makin aneh dan sensitif?

“Aniyo, aku mematikan teleponmu karena aku panik dan harus buru-buru menjemputmu. Kalau kita berbicara terus di telepon kamu akan menunggu lebih lama di bandara dan aku ingat kamu tidak bisa menggunakan bahasa inggris.”

“Jincha…”tanyanya ragu, tapi isakannya sudah berhenti.

“Ne. Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku mau mengorbankan tidurku hanya untuk menjemputmu.” Kataku meyakinkan. “Sudah berhentilah menangis, bukankah kamu datang ke singapura untuk liburan?”

“Ah benar juga,” katanya sekarang sudah mulai tersenyum. “Setelan ini juga kamu akan kembali ke seoul denganku kan?”

“Ne, kataku mengangguk.”

Ji eun sebenarnya sedang ada tugas dari kantornya di Busan ke Malaysia, jadi sebelum kembali ke Korea aku mengajaknya liburan di Singapura dan memintanya kembali ke korea bersamaku. Ya, tiga hari lagi aku ada tugas selama enam bulan di korea.

Kalian pasti bingung, kenapa tiba-tiba aku ada di singapura. Bukannya dulu aku ada di Oxford Inggris?

Ya setelah lulus dua tahun lalu—Ji Eun juga datang pas acara wisudaku—Aku bekerja di perusahaan Otomotif sebagai seorang manager pemasaran. Tugasku itu berkeliling-keliling dunia untuk mengecek setiap produk yang kami pasarkan atau target pasar kami setelahnya. Setelah bekerja selama setahun di London, dua bulan di Frankurt, dua bulan di paris, 3 bulan New York, dua bulan di Jepang dan tiga bulan di Singapura sekarang aku akan di pindah ke Seoul—target pasar kami yang berikutnya.

Kedengarannya sih pekerjaanku menarik karena selalu berkeliling-keliling dunia, tapi ini sungguh-sungguh melelahkan. Aku baru mulai menyesuaikan diri pada likungan dan budaya baru, tapi aku sudah harus bersiap-siap pindah lagi. Tapi mau bagaimana aku harus menjalaninya, lagi pula aku masih singgle—salah satu alasan perusahaan memilihku untuk berkeliling. Dengan begini aku juga bisa melupan Kim myungso, ya namja yang menjadi cinta pertamaku. Ah bagai mana kabarnya ya sekarang? Apa mereka sudah memiliki anak?

“Kamu pasti senang bisa bertemu dengannya Kim myungso lagi kan? Ah ngomong-ngomong bagaimana kabarnya sekarang?”

Aku mentap Ji Eun heran, kenapa dia bisa menanyakan pertanyaan yang sedang ada dalam keplaku?

“Mana ku tahu. Yang tinggal di korea kan kamu bukan aku?” tanya berusa bersikap cuek.

Sejak aku kaliah di Oxford aku memang sudah tidak pernah mendengar kabarnya lagi, apalagi setelah orang tuaku pindah ke Afrika. Oh ya, orang tuaku sekarang tinggal di Afrika selatan dan negara itu tidak kalah modren dengan negar-negara Eropa saat aku mengunjungi orang tuaku. Tidak seperti yang di bayangkan Eomma.

“Eis, kamu kan juga tahu, begitu aku lulus, aku juga melanjutakan kuliahku di Busan. Aku tidak perah mendengar kabarnya apalagi bertemu. Kan yang menjadi sahabat dekatnya kamu.”

“Saat di inggris dulu aku sudah tidak pernah mendengar kabar darinya lagi, apalagi setelah appa pindah ke afrika.”

“Jincayeo? Kenpa bisa?” tanya Ji Eun sambil menatapku. “Maksudku, kita selalu berhubungan bahkan samapai sekarang. Saat wisudamu dulupun aku datang, kenapa dengan Kim Myungso kamu malah putus hubungan.”

“Kenapa kamu menanyakan itu terus? Apa jangan-jangan kamu masih naksir dia ya?” tanyaku curiga.

“Aniyo aku kan sudah bertunangan dengan wooyoung oppa, aku penasaran saja. Apa jangan-jangan kamu yang masih mencintainya?” aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Aku memang masih mencintai Kim Myungso dan aku tidak bisa berbohong. “Jongmalyo. Wah daebak… bahkan setelah lima tahun seorang Bae Suzy masih saja mencintai Kim myungso.”

“Kamu berisik sekali. Sudah turuh, kita sudah sampai,” kataku begitu kami tiba di parkiran apartemenku.

“Lalu bagaimana jika ternyata Kim Myungso belum menikah dengan Park Jiyeon? Apa yang akan kamu lakukan. “Ji eun masih saja bertanya saat aku sedang membantunya mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi.

“Itu tidak mungkin, kamu jangan ngaco.”

“Akukan hanya bertanya seandainya?”

“Molla!” kataku kesal. “Sudalah, kalau kamu berisik terus, aku akan meninggalkanmu di tengah jalan nanti,” kataku melangkah masuk ke apartemenku.

Tapi bagaiman jika ternyata Myungso dan Jiyeon tidak jadi meikah? Apa yang harus aku lakukan?! Ah molla…molla, aku tidak mau memikirkannya. Aku yakin itu tidak mungkin terjadi. Jiyeon pernah bilang, dia akan melakukan apa saja agar Kim myungso menjadi miliknya.

==========

“Wahh akhirnya aku tiba di seoul juga. Seindah apapun negri orang tapi udara di negri sendiri itu jauh lebih enak ya,” kicau Jieun begitu kami keluar dari bandara. Aku hanya menggeleng-geleng melihat tingkahnya. Yang sudah lama tidak ke seoulkan aku, kenpa dia sepertinya lebih heboh.

“Mana pacarmu, kenpa belum datang. Aku sudah lelah,” kataku sambil mencari-cari wooyoung oppa. Wooyoung adalah seniorku di Oxford, dan dia bertemu Jieun saat acara wisudaanku dulu. Kalau di pikir-pikir aku adalah makcoblang mereka.

“Molla, tadi saat menunggu bagasi katanya dia sudah tiba,” jawab jieun sambil ikut celingukan mencari kekasihnya itu. Aku masih bertanya-tanya bagaimana wooyoung oppa yang keren dan pintar bisah jatuh cinta pada sahabatku yang babo ini. “Ah itu dia.” Tunjuknya pada namja yang juga celingukan mencari seseorang.

“OPPA!” teriakku dan Ji eun bersamaan. Wooyoung oppa langsung menoleh ke arah kami. “Kamu dari mana saja, kami mencari-carimu dari tadi,” kata ji eun dengan nada sedikit manja.

“Mianheyo chagi. Tadi aku ketoilet dulu,” jawab wooyoung oppa dan memeluk Ji eun mesra.

“Ehem… ehem…” dehemku. “Kalian jangan lupa disini masih ada orang.”

“Oh suzy, gimana kabarmu? Bogosippo,” kata wooyoung oppa melepas pelukan Ji Eun dan gantian memelukku. Aku memang cukup dekat dengannya, mengingat sangat sedikitnya warga Korea di Oxford membuat kami seperti saudara seperjuangan.

“Nado, bogosippo oppa. Aku baik-baik saja,” kataku membalas pelukannya. “Oppa kamu semakin tampan saja,” godaku.

“Tentu saja. Apa sekarang kamu menyesal sudah menolakku dulu?” tanyanya masih dengan nada bercanda. Aku hanya tertawa. “Tapi sudah terlambat, aku sudah menemukan oarang lebih cantik darimu,” lanjutanya kembali memeluk JiEun yang di balas oleh Ji Eun dengan manja.

“Kau bercanda Oppa! Yang benar saja Ji eun lebih cantik dariku,” kataku dengan nada meledek Ji Eun.

“Aku memang lebih cantik darimu! Terima saja,” balas Jieun sengit.

“Sudah-sudah, kalau berbicara terus kita tidak akan pulang-pulang, kalian pasti lelah,” kata wooyoung Oppa melerai. “Mana barang-barang kalian, biar aku yang membawa. Barangmu sedikit juga suzy-ah, bukanya kamu akan tinggal selama enam bulan disini?”

“Eoh… sisanya au sudah mengirimnya lewat paket. Mungkin dua hari lagi akan tiba disini,” kataku mengikuti mereka ke parkiran.

“Oke ladies, sekarang kita akan berangkat. Aku harus mengantarmu kemana Suzy-ah?” tanya wooyoung oppa duduk di balik kemudi setelah selesai memasukkan barang-barangku kedalam bagasi.

Aku lalu menyebutkan alamat ruamh lamaku. Dan tiba-tiba aku merasa jantungku berdetak tidak karuan. Meskipun sudah lima tahun tidak bertemu, aku masih tidak siap jika bertemu Kim Myungso dan Park Jiyeon. Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti?

Pikiranku mulai melayang kemasa-masa SMP, masa-masa paling indah dalam persahabatan kami dan masa-masa SMA saat persahabatan kami mulai renggang akibat pernyataan Kim Myungso dan saat aku mulai menyadari perasaanku. Tiba-tiba aku merasa gugup.

“Sampai!” sahut Ji eun membawaku ke alam nyata.

“Eoh… sudah samapai. Cepat sekali,” kataku kaget. Rasanya aku belum ada lima menit duduk di mobil wooyoung oppa.

“Tentu saja, dari tadi kamu sibuk melamun sampai tak sadar sudah tiba. Kamu memikirkan apa sih?”

Aku hanay tersenyum lalu membuka pintu. Aku sekilas menatap rumah yang ada di seberang rumahku.

Sepi.

Tapi bukan karena sudah tidak di huni. Sepi karena penghuninya sedang tidak ada di rumah.

“Kira-kira mereka sudah memiliki anak belum?” tanyaku dalam hati, lalu mulai sibuk mengeluarkan barang-barangku dari bagasi wooyoung oppa.

“Suzy-ah mianhae aku tidak bisa menemanimu beres-beres. Aku harus bertemu orang tua wooyoung oppa, kemudian fitting bajuku, dan aku harus kembali ke Busan mengurus kepindahanku ke Seoul,” kata ji eun dengan nada menyesal. Ji Eun memang akan menikah sebulan lagi makanya dia ikut bersamaku ke Seoul bukannya ke Busan. Ya, wooyoung Oppa memang tinggal di Seoul.

“Arraso, justru aku yang harusnya menyesal karena tidak bisa membantu mengurusi pernikahanmu, karena aku baru tiba aku juga harus mengurusi kerjaanku. Tapi begitu ada waktu aku akan membantumu.”

“Gwencanyo, aku mengerti kamu memang sangat sibuk. Aku baru marah jika kamu menolak menjadi pendampingku nanti, kamu harus memegangi ekor baju nanti.”

“Arasso… sudah kalian pergi saja, nanti calon menunggu terlalu lama.”

“Kalau begitu kami pulang dulu suzy-ah,” kali ini wooyoug oppa yang berbicara. “kalau ada apa-apa jangan lupa menghubungiku. Aratchi!”

“Ne. Arraso.”

“Dahh Suzy-ah!!” Ji eun melambai dengan semangat saat mobil wooyoung oppa mulai meninggalkan rumahku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Setelah mareka tidak terlihat lagi, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelumnya aku kembali mentap sekilah rumah myungso oppa.

“Oppa apa sekarang kamu hidup bahagia?” gumanku lirih. Setelah berdiri beberapa saat akhirnya aku berjalan masuk ke rumah.

“Welcome back home,” akau mentap rumahku yang sudah lama tidak berpenghuni. “Lebih baik aku besok saja bersih-bersihnya, aku mau tidur dulu,” kataku mulai melangkah ke kamarku dulu. Untung eomma menutupi semua barang-barang di rumah ini dengan kain, sehingga tidak banyak debu yang menempel di tempat tidurku.

——–

“Ergghhh” erangku pelan saat aku terbangun.

Gelap.

Tentu saja, sangkin lelahnya aku ketiduran sampai malam begini. Aku meraba-raba poselku untuk melihat jam dan juga sebagai penarangan. Jam delapan. Berarti aku tertidur lima jam. Pantas perutku lapar, aku kan hanya makan tadi pagi sebelum berangkat ke seoul.

Ah sial!

Aku lupa belum berbelanja sama sekali, itu berarti tidak ada makanan sama sekali di rumah. Dan aku sedang malas keluar rumah.

Apa aku delivery saja ya?

Tidak. Aku lebih baik keluar saja, sekalian ke super market. Aku harus membeli beberapa keperluan pribadiku dan tentu saja mengisi kulkas yang aku tidak tahu masih berfungsi atau tidak. Setelah menyambar jaket dan dompet, aku berjalan menuju gerbang rumah.

DEG!

Dan jantungku hampir copot mendapati orang yang ada di depanku  saat ini.

Dia masih tampan seperti dulu. Mungkin… sekarang dia jauh lebih tampan. kalau dulu dia memiliki ketampanan khas remaja sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa. Model ketampanan seorang pria muda yang mapan yang membuat semua wanita tergila-gila padanya.

“Tadinya aku hanya ingin memastikan apakah ada penghuni baru di rumah ini atau tidak. Karena tiba-tiba lampunya menyala setelah lima tahu,” katanya pelan dengan tatapan tajam. Aku yakin jika mata mampu membunuh, pasti aku sudah mati saat ini. “Aku sungguh tidak berharap penghuni lamanya kembali.”

Aku masih diam tidak bereaksi. Bingung harus menjawap apa. Takut-takut jika aku bergerak sedikit saja, jantungku akan meloncat keluar.

“KENAPA KAMU BERANI-BERANINYA MUNCUL DI HADAPANKU BAE SUZY!!!”

Teriakan itu membuatku semakin membeku dan ketakutan. Tiba-tiba aku sangat takut padanya. Dulu aku tahu Kim Myungso—ya, namja itulah yang berdiri di depanku—adalah seorang preman paling di takuti di sekolah dan di distrik perumaha kami, tapi aku belum pernah takut padanya sebelumnya. kali ni aku benar-benar merasa takut. Dan tentu saja merasakan rindu yang meledak-ledak.

“Mianhae…” hanya itu yang mampu aku katakan.

“Mian?! Hanya itu yang mampu kamu katakan!!” katanya dengan kemarahan yang sama meskipun nadanya sudah tidak sekeras tadi.

“Mianheyeo… aku tidak bermaksud muncul di hadapanmu. Aku…”

“Jadi kamu berencana bersembunyi terus eoh!” katanya dengan nada mengejek. Tapi kemarahannya sama sekali belum berkurang.

Tiba-tiba saja air mataku mengalir lagi. Huh! Kenapa aku cengeng sekali sih?!

DEG!

Jantungku kembali berlari tidak beraturan saat tiba-tiba dia memelukku.

“Mianheyeo,Uljima jangan menangis lagi. Kamu kan tahu aku paling tidak bisa melihatmu menangis. Aku tidak berniat membentakmu tadi, aku hanya terkejut melihatmu tiba-tiba,” bukannya diam aku malah menangis semakin deras. Aku juga bingung, kenapa aku tambah menangis.

“Yak! Kenapa kamu menagis semakin kencang… aku kan sudah minta maaf,” katanya sambil mengelus punggungku.

“Aku lapar,” kataku melepas pelukannya. Dia menatapku bingung. “Bisakah marah-marahnya nanti saja? Aku tidak makan sejak pagi dan di rumah tidak ada makanan sama sekali.”

Dia kemudian tertawa keras lalu mengelus kepalaku lembut. “Pabo… dari dulu kamu tidak berubah. Kajja!” katanya lalu menarik tanganku tanpa ijin.

“Oddi?” tanyaku heran.

“Bukankah kamu bilang kamu lapar? Eomma tadi memasak banyak jadi kamu makan di rumah saja.”

“Ta… tapi,” kataku ragu. Aku belum siap jika harus bertemu keluarga myungsoo oppa, apalagi jiyeon tunangan Myungso yang mungkin sudah menjadi istrinya.

“Wae? Kamu takut aku mebunuhmu?!” katanya mengejek. “Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Mungkin setelah kamu selasai makan baru aku mempertimbangkannya.”

“Ta… tapi…”

“Sudah tidak usah banyak protes. Kamu berhutang banyak padaku, jadi kamu harus menurutiku.” Aku hanya pasrah dan tidak menolak lagi. Sebelum membuka pintu rumahnya di menoleh padaku lalu tubuhku kembali menegang mendengar kalimatnya berikutnya.

“Aku senang kamu kembali.”

……………….

“Jadi kenapa kamu pergi diam-diam?” tanyanya sambil menatapku tajam setelah aku selesai makan.

Aku menatapnya takut-takut. Takut tiba-tiba dia menghajarku—kalian belum lupakan dia itu dulu preman. Bagaiman tidak, sekarang kami hanya berdua di ruang makan. Tadi saat datag kedua orang tua myungsoo oppa kaget melihatku dan sempat mengomeliku karena aku tidak pernah memberi kabar, tapi mereka senang melihatku kembali. Setelah melihat tatapan tajam kim myungso kedua orang tuanya meninggalkan kami berdua begitu saja.

“Oppa kita baru bertemu, kenapa kita tidak bertukar kabar dulu.”

“Kamu tidak usah mengalihakan pertanyaan dan aku sudah melihat keadaanmu baik-baik saja. Jadi jawab saja pertanyaanku.”

Huh! Kenapa sikap juteknya kembali lagi sih?

“Jiyeon dimana? Aku juga merindukannya,” tanyaku pura-pura tidak mendengar perkataannya. “Bukannya kamu yang tidak mau berbicara padaku?” tanyaku akhirnya setelah melihat tatapan tajamnya itu.

“Aku kan sudah pernah bilang padamu kalau aku ingin kuliah di inggris kan? Karena aku pintar aku di terima kuliah disana, tapi saat aku ingin memberitahumu kamu menghindariku.” Kataku menjelaskan.

“Lalu kenpa kamu malah pergi saat pertunanganku?! Kalian semua berkomplot membohongiku. Ajhuma dan ajhusi juga tiba-tiba menghilang.”

“Lalu kamu ingin aku pergi sebelum acara pertunanganmu?” tanyaku berusa sedikit bercanda. Aigoo… kenpa dia jadi suka menatap tajam padaku sih?. “Baiklah aku akan jelaskan… seharusnya aku berangkat seminggu sebelum acara pertunanganmu, lalu aku mengundur pas hari pertunangan kalian. kalau aku memberitahumu dan Jiyeon, aku khawatir kalian akan berbuat ulah dengan meninggalkan acara pertunangan hanya karena untuk mengantarku. Atau mungkin kamu akan mencegahku berangkan…hehehe,” kataku sambil terkekeh pelan, berusaha mencairkan tatapan dinginnya. Tapi sepertinya usahaku sia-sia.

“Tentu saja, kalau aku tahu aku akan menyusulmu ke pesawat dan menarikmu turun secara pakasa.”

Aku hanya mampu menelan ludah mendengar nada bicaranya. Apa aku jahat jika aku berharap dia melakukan ucapannya. Dulu saat meninggalkan gedung pertunangan hingga pesawat lepas landas aku berharap myungso oppa datang dan menyeretku turun seperti adegan di fil-film. Bahkan saat di Oxfordpun aku masih berharap dia tiba-tiba muncul.

“Oppa itu sudah lama berlalu kenpa kamu masih marah eoh. Apa kedatangaku sekarang tidak cukup sebagai permintaan maaf?” kataku dengan senyum manis andalanku. Saat dia ingin menjawabku aku buru-buru menyelanya, “Aku sudah menawab pertanyaanmu. Lalu dimana Jiyeon? Aku juga merindukannya.”

“Di Jepang.”

“Ne? Di Jepang? Sedang apa dia disana?” tanyaku heran.

“Makanya kamu jangan asal kabur begitu saja dan tidak pernah memberi kabar sedikitpun,” katanya kesal. Huh! Kenapa namja ini bersikap jutek terus, bukankah aku sudah minta maaf. “Tentu saja ikut suaminya.”

“Mwo?! Su… suaminya?” tanyaku memastikan pendengaranku belum rusak. Bukankah… bukankah…

“Ne… dia menikah setahun yang lalu dengan kakak kelasnya saat di Jaeju yang sudah bekerja di Jepang. Dan setelah menikah dia ikut pindah kesana.” Lalu tiba-tiba saja dia tersenyum mengejek padaku. Mwo! Kenpa dia mengejekku?

“Bu… bukannya kalian akan menikah?”

“Rencananya begitu, tapi begitu tahu kamu kabur tanpa petunjuk aku langsung membatalkannya dan menjelaskan semuanya. Jiyeon langsung setuju karena meras bersalah pada orang bodoh sepertimu. Dia merasa gara-gara dia kamu kabur tanpa pamit. Lalu setelah itu dia langsung bertemu dengan suaminya yang sekarang dan menjalin hubungan.”

“Kenapa jadi be… begitu? Aku..aku pikir…” aku bingung harus berkata apa. Ini terlalu tiba-tiba. Apa aku harus senang atau merasa bersalah…

“Kamu pikir apa? Kamu pikir dengan kabur begitu saja semuanya akan berjalan sesuai dengan harapan konyolmu itu?” katanya masih dengan tatapan mengejek dan sekarang di tambah tatapan meremehkan! “Kalau kamu mau berjalan sesuai kemauanmu, kamu harus pastikan dulu semuanya berjalan lancar baru kabur.”

Dan setelah mengatakan itu, tiba-tiba tatapannya berubah jadi lembut dan seolah menghipnotisku untuk terus mentapanya.

“Sudah kubilang aku hanya mencintaimu, bagai mana bisa kamu memaksaku menikah dengan orang lain yang bukan kamu…” dia meraih tanganku dan mengelusnya dengan lembut. “Aku hanya mencintaimu Bae Suzy… dari dulu sampai sekarang. Aku tidak mau orang lain jadi istriku kalau bukan kamu.”

“Oppa…”

“Wae? Kamu mau kabur lagi! Tidak akan bisa,” katanya dengan nada galak, tapi tatapannya tetap lembut membuat hatiku rasanya hangat. Aku masih bingung harus bereaksi apa. Apa aku harus senang? oh tentu saja harus senang bodoh! Namja yang kamu cintai, namja yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku selama lima tahun ini sekrang berada di depanku, menggenggam tanganku, mentapaku hangat dan engatakan mencintaiku. Kenapa aku menangis lagi sih…

Omo! Kenpa dia berdiri dan berjalan kearahku. Dan dia memelukku!!

“Uljima… jangan menangis, aku tidak tahan melihatmu menangis… maaf kalau aku membentakmu, aku bukan sedang memarahimu hanya sedikit kesal dengan kebodohan yang suka mengambil keputusan sendiri.”

“Hikss… aku menangis bukan karena kamu marahi bodoh… tapi karena aku senang…” kataku membalas pelukannya. “Aku senang karena kamu mau mencintai yeoja pabo dan  egois sepertiku dan selama ini masih mau menungguku,” kataku sambil terisak.

“Untung kamu datang hari ini. Aku sedang mempertimbangkan menyerah besok,” katanya membuatku kesal dan memukul bahunya pelan. Dia terkekeh. Dia lalu melepas pelukannya dan meraih wajahku ke dalam kedua tangannya dan menghapus air mataku. Aku marasa semua darah di tubuhku mengair ke wajahku. “Kalau kamu belum datang sampai besok, aku memutuskan untuk menemui orang tuamu dan melamarmu secara paksa. Kalau kamu tidak bisa datang secara baik-baik, aku akan menyeret paksa kamu.”

“Oppa…”

“Meskipun orang tuamu tidak mau memberi tahukan alamatmu tapi aku selalu tahu kabarmu dari mereka. Aku selalu menghubungi ajhuma  sampai dia kesal karena terus ku ganggu hanya untuk menanyakan keadaanmu. Dan melihat lampu rumahmu menyala, tiba-tiba saja aku merasa seperti merasa hidup kembali. Dan saat melihatmu tadi paru-paruku tiba-tiba tersa ringan. Aku baru tersadar tanpa melihatmu aku kesulitan bernafas…”

“Bae Suzy jangan pernah pergi lagi dariku. Jangan pernah membuat aku kesulitan bernafas lagi…”

CUP!

Aku langsung mencium bibirnya dengan cepat untuk menyuruhnya berhenti berbicara, kalau dia terus berbicara manis begitu, bisa-bisa jantungku akan meledak karena terlalu semangat memompa darah. Aku bisa melihat dia sedikit kaget dan wajahku… mungkin labih merah dari kepiting rebus.

“Yak! Kamu curang… aku sedang menyurun kalimat rayuan dan hanya dapat segitu? kenapa hanay sebentar…” ucapnya lalu menarik wajahku dan menciumku. Aku menutup mataku dan membalas ciuman itu, awalnya hanya ciuman biasa tapi semakin lama semakin dalam dan menuntut… ini ciuman pertamaku dan aku tidak mengerti hal begituan jadi aku hanaya mengikuti permainannya saja. Tapi satu hal yang aku pahami bahwa ciuman ini adalah ciuman yang manis dan hangat bukan ciuman penuh napsu.

Lima menit kami berciuman ketika aku mendengar grasak grusku dari arah pintu ruang makan. Aku menghentikan ciuman kami membuat myungsoo oppa sedikit kesal tapi akhirnya mengikuti arah pandangku.

Omo! Kenpa ada ajhuma dan ajhusi di pintu? Dan apa yang mereka lakukan.

Ajhuma sedang sibung berbicara di telepon sambil mentap kearah kami. Sekali-sekali matanya mentap ajhusi yang sedang memegang kamere dan memotret kamu.

Mwo! Memotret kami?! Othokke ini memalukan sekali…

Eomma… Appa apa yang sedang kalian lakukan?” tanya myungso oppa kesal. “kalian mengganggu saja.”

Ajhusi dan ajhuma hanya tersenyum bodoh, “Mian kala kami mengganggu, padahal tadi sedang seru-serunya.Kami sedang mengabadikan momen indah ini,” sahut ajhuma sambil menyengir, membuatku semakin malu. “dan aku sedang berbicara di telepon dengan ibumu Suzy-ah… katanya dia besok akan datang kesini mempersiapkan ernikahan kalian untuk minggu depan. Ya sudah kalian lanjutkan saja, kami tidak akan mengganggu lagi, kami sudah dapat gambar yang bagus. Kajja yeobo-ah..” kata ajhuma lalu menrik tangan ajhusi.

“Mwow menikah minggu depan?” tanyaku kaget. Apa-apan mereka. apa mereka pikir menikah itu seperti mau pergi liburan, bisa di lakukan tanpa persiapan. “Apa aku tidak salah dengar?”

“waeyo, apa menurutmu kelamaan?Menurutku juga satu minggu terlalu lama. Bagai mana kalau besok saja,” sahut myungso oppa.

“Mow?!” namja ini. Apa dia sudah gila, “maksudku satu minggu itu terlalu cepat, bukannya terlalu lama.”

“Aku tidak mau kabur lagi. Menunggu lima tahun itu tidak cepat tahu…”

Tunggu dulu ada yang salah…

“Kapan aku bersedia menjadi istrimu, kamu bahkan belum melamarku?”

“Aku tadi sdah menyusun kata-kata romantis ingin melamarmu, tp siapa suruh kamu langsung menciumku!,” katanya sambil nyengir. “Lagi pula tanpa ijinmupun aku akan tetap menikahimu.” Jawabannya tak urung membuatku tersenyum senang… Aigo, dia manis sekali.

“Mana ada orang yang melamar dengan cara memaksa seperti itu. Tidak romantis sama sekali.” Kataku pura-pura merajuk.

Cup!

“Jadi kamu mau tidak jadi istriku?” tanyanya setelah menciumku sekilas.

Dasar curang! Mana mungkin aku menolak kalau begitu caranya. Aku hanay mampu menganggu sambil menunduk.

Dia lalu merangkuh wajahku. Dia menatap mayaku dalam lalu perlahan wajahnya mulai mendekat hingga aku merasakan daging kenyal dan lembut itu menyentuh bibirku lalu memejamkan mata. Manis dan hangat. Aku kembali membuka mata saat dia melepas ciuman kami.

“Saranghae Bae Suzy…” ujarnya lembut di depan wajahku hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

“Nado, saranghae Oppa.”

END

Wahh akhirnya satu sequel seleasi juga. Oke aku akan mulai menyicil utangku satu persatu, krn aku gak mau di bilang Author pejabat alias authro yang tukang ngumbar janji. Hehehe.

Dl kan aku janji buatin sequel buat ff yg endingnya kurang memuaskan menurut kalian (tp meski sekuel tetap tdk memuaskan), nah yg pertema ini dulu ya… aku bikin sequel ini karena gak sengaja aku baca komen di LiH part1 yg bilang dia lagi sering baca ff myungzy yg tragis gt, dan pengen ff mereka yg happy2 aja, jd aku berfikir buatin sequel ini. sebenarnya gak happy2 jg sih tp paling tdk gak sedih2…hehehe. karena aku ngetik ini Cuma 2,5 jam jd pasti sangatttt jauh dr kata memuaskan, meski begitu tetap di rapkan kritik dan saran. Makasih ya…

Advertisements

48 thoughts on “Sequel I’M Not For You ( I still Love you)

  1. Waaaahhhhh… Gak nyangka ada sequelnya. 🙂
    Happy ending pula. Senengnyaaaaa.
    Tadinya lupa sma part sbelumnya tapi stelah dibaca alur crita ini jadi inget.
    Kreeennn… Walaupun masih ada typo tapi isi critanya gak bikin kecewa. 🙂
    Untung myung gak jadi nikah sama si jiyeon. Dan masih stia nunggu suzy.
    Oia… Itu comment aku di LIH trnyata dah dibaca ma author. 🙂
    Gomawo ne thor dah bkin sequel ff ney. Puas bacanya. 🙂

    • hehehehe
      ia dl aku janji buatin sequel ffku tp blm ada ide jg.. 🙂 . terus aku baca comentmu n aku lgsung pengen bikin squel yg ini… hahahaha
      Aku memang selalu lgsung baca coment yg masuk n klsmpt aku lgsung bls dan kl bs aku berusaha mengabulkan…hehehe
      mknya kl ada kritik, saran atau apa aja lgsung di sampaikan aja,kl aku bs bakal usahakan kok… 😉
      makasih ya da mau baca n coment..

  2. Ska sma squelnya thor..
    Haaaa walaupun pertamanya nyesek bgt (klu diposisi suzy)
    Tp endingnya bikin seneng bgt Ћϱћϱћϱ (ړײ)
    Ditunggu ff suzy lainnya

  3. aaah puas bnget thor bacanya…myungzy happy end…

    btw suzy kayak maudy ayunda lulus di 5 univ tp yg dipilih oxford..huakakak nyambung2in

    bgus thor sequelnya..aku suka pke bngeeet

    • hahahahaha…
      emang terinspirasi dr situ…
      aku tiba2 ingat maudy, mknya aku pilih Oxford (kl gak salah maudy milih di situ kan?)… 🙂

  4. akhirnyaa happy end myungzy nya
    myungzy bersatu deh..
    aku udah deg degan btakut sad ending tadinya…
    nice thor 🙂

  5. Kirain mreka gak bkalan brsatu tpi trnyta mreka ttap brsatu (ง’̀⌣’́)ง bagus thor ffny

  6. Kyaaaaa senangnya .
    Akhirnya myungzy bisa nikah ><
    Aaaaa suka sama ffnya author .
    Daebak !
    Keep writing thor ~

  7. yeay myungzy bersatu akhirnyaa .
    seneng bgt aku . dikira bakalan sad ending lagi taunya engga hehe
    ditunggu ff myungzy lainnya ne:D

  8. Hwaah senangnya .. Bikin sequel kedua dong thor .. Atau dibikin chapter sampe rumah tangaa pnya anak .. Trs ada konflik apa gitu . Jd seru bngt .. Heheh ..Saran doang si 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s