LOVE IS HARD part 1

new-1

Author                  : Dordor

Main Cast            : Bae Suzy Miss a

                                  Kim myungso Infinite

                                Park jiyeon T-Ara

                                  And other

Genre                   :  Sad, Romance, Family, school, friendship, dll

Selamat membaca, dan aku harap kalian menyukainya. Jika ada kesalahan enulisan dan alur cerita yang aneh, maaf ya….

==============================================================

 Part 1

2003

 

“Suzy!”

Seorang gadis berkulit putih berambut sebahu tampak menolehkan kepalanya karena merasa namanya di panggil.

“Suzy! Bae Suzy!!”

Gadis itu semakin mempertajam pengelihatannya karena sangat yakin bahwa dialah yang di maksud si pemanggil, namun melihat benyaknnya kerumunan orang di sekitarnya meyulitkannya menemukan si pemanggil.

“Aku di belakangmu!”

Yeoja itu sontak mutar tubuhnya ke belakang dan memandang seorang gadis cantik yang melambai padanya dengan semangat. Dia masih berdiri  menatap orang itu sambil mengingat-ingat saat yeoja yang memanggilnya itu berusaha menerobos kerumunan untuk mendekatinya.

“Ternyata itu benar kamu. Aku tadi tidak sengaja melihat namamu di papan pengumuman, dan tiba-tiba aku melihatmu,” ujar gadis itu semangat begitu berdiri di dekat suzy. “Kita satu kelas lagi, senang rasanya punya seseorang yang di kenal.” ujar gadis itu masih dengan nada ceria. Tapi suzy masih menatap gadis di depannya itu bingung. Terasa familiar tapi dia tidak bisa mengingat.

“Nuguseo?” tanyanya akhirnya karena kepalanya tidak kunjung memberi jawaban. Gadis itu sedikit mengerucutkan bibirnya namun kembali tersenyum ceria.

“Aku Park Jiyeon! Kita satu sekolah saat SD di Gwangju. Kita pernah satu kelas saat kelas 1, 4, 5 dan 6. Bahkan dulu kita selalu duduk satu bangku. Tapi saat lulus kamu pindah ke seoul karena itu kita tidak bisa satu sekolah lagi. Aku tidak menyangka saat SMA kita satu sekolah lagi bahkan satu kelas.”

Suzy memulatkan matanya tidak percaya.

“Park Jiyeon?! Park Jiyeon yang cengeng itu? Park jiyeon yang suka mengikutiku kemana-mana?” tanya Suzy antusias. Ya dia ingat, gadis ini adalah sahabatnya saat sekolah dasar. Jiyeon mengangguk senang karena temanyang sangat dia kagumi akhirnya mengingatnya.

Suzy tidak asal bicara. Saat SD—bahkan hingga sekarang—dia memang sangat populer di sekolahan. Bukan hanya karena dia cantik—karenna jiyeon juga gadis yang cantik—tapi karena Suzy juga sangat pintar dan anak paling kaya di sekolahnya dulu.

“Ya… selain cerewetmu, kamu banyak sekali berubah. Kamu semakin cantik saja. Bahkan kamu sekrang lebih cantik darikiu,” kata suzy jujur. Ya, park Jiyeon memang sangat cantik, apalagi matanya. “Dan kemana lemak-lemakmu itu pergi.”

Suzy agak kesulitan mengenal Jiyeon bukan karena melupakan sahabatnya itu, tapi karena yeoja itu sekarang jadi kurus dan bodynya sangat seksi. Padahal dulu yeoja itu agak tambun—meskipun tetap cantik.

“Molla. Setelah kamu meninggalkanku ke Seoul, aku menangis terus dan malas makan. Saat aku bercermin tiba-tiba saja tubuhku kempes,” kata jiyeong bercerita dengan nada riang membuat suzy tidak bisa menahan senyum. Jiyeon memang gadis periang berbeda dengan suzy yang cenderung yenang dan agak pendiam.

“Kamu ini ada-ada saja.”

“sungguh,” kata jiyeon semangat. “Aku menangis terus karena kamu pindah sampai tidak mau sekolah dan makan. Eomma sampai ketakutan melihatku. Lalu eomma bilang dia akan mengirimku sekolah ke Seoul saat SMA makanya aku mau kesekolah lagi. Tapi aku tidak menyangka eommaku benar-benar memasukkanku kesekolah yang sama denganmu.”

“Benarkah kamu separah itu. Mianheyo Jiyeon-ah,” kata suzy merasa bersalah. “Saat itu nenekku tiba-tiba sakit dan harus di rawat Seoul, jadi aku juga terpaksa ikut dengannya. Aku juga sedih harus meninggalkanmu. Kamu adalah sahabat terbaikku,” kata suzy.

Suzy memang tinggal bersama neneknya di Gwangju. Orang tua Suzy adalah seorang pengusaha yang sibuk di seoul. Karena takut kurang kasih sayang, suzy akhirnya di rawat neneknya, tapi saat kesehatan neneknya mulai menurun dia dan neneknya pindah ke seoul untuk mendapat perawatan yang lebih baik. Iapi pada akhirnya neneknya meninggal juga. Mengingat itu suzy jadi sedih lagi.

“Sudahlah, itu hanya kenangan masa lalu. Sekarang bagai mana kalau kita mencari kelas kita?” ujar jiyeon menarik tangan Suzy. “Aku sudah tidak sabar satu kelas lagi denganmu. Oh karena aku baru pindak ke Seoul bagaimana kalau nanti pulang sekolah kamu menemaniku berkeliling seoul?”

“Boleh saja.”

“Suzy!”

Suzy kembali menoleh saat seseorang memanggil namanya. Begitu menyadari orang itu, pipi Suzy langsung memerah.

“Eoh oppa! Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya mau mengucapkan selamat akhirnya kamu masuk sekolah ini dan kita satu sekolah lagi. Aku senang kita satu sekolah lagi.”

Suzy semakin gugup mendengar kalimat orang itu.

“Gomawo oppa. Aku juga senang,” kata suzy berusaha menutupi kegugupannya.

“Eh… ini siapa?” tanya namja itu menyadari seseorang yang ada di sebelah suzy.

“Oh ini sahabatku saat di Gwangju Park Jiyeon. Dia yang dulu ku ceritakan padamu,” namja itu mengangguk. “Jiyeon-ah, ini Kim myungsoo sunbae sekaligus sahabatku. Dia satu tahun dia atas kita.”

Kemudian kedua orang itu berkenalan.

“Oppa, aku dan Jiyeon pergi dulu. Kami harus mencari kelas kami,” pamit Suzy. Sebenarnya dia masih ingin berbicara dengan myungso, tapi berada di dekat myungso membuatnya semakin gugup.

“Wah dia tampan sekali! Bagaimana kamu bisa mengenalnya?” tanya Jiyeon antusias.

“Eoh, kami tetangga dan oran tua kami bersahabat. Kami juga satu sekolah saat SMP. Dulu saat di Gwangju, kalau aku liburan ke seoul aku selalu bermain dengannya.”

“Jincha!! Wah suzy kamu daebak sekali bisa punya teman sekeren itu. Aha namja Seoul memang keren-keren,” kata jiyeon antusias. “Aku tidak menyesal sama sekali pindah ke seoul!”

“Sepertinya ini kelas kita!”

Kata suzy begitu melihat nama mereka tertempel di pintu kelas itu.

“Ah! Matta.. kajja kita masuk!”

ʚ

2004

“Suzy-ah!”

Suzy langsung tersenyum senang saat mendengar Myungso memanggil namanya.

“Ne oppa. Waeyo?”

“Bisakah kita bicara sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata myungso serius.

Suzy yang hendak masuk ke perpustakaan mengurungkan niatnya dan mengangguk. Dia sedikit gugup saat myungso memintanya berbicara. Dia dan myungso memang sudah sangat dekat, membuat Suzy terkadang berfikir jika Kim myungso juga menyukainya.

“Bicaralah oppa.”

“Hmm… tapi tidak disini,” kata myungso mengamati lalu lalang orang keluar masuk perpusatakaaan. Oh jangan salah sangaka. Murid sekolah mereka buka orang-orang yang rajin membaca. Hanya perpustakaan adalah tempat yang tenang untuk tidur dan bolos pelajaran. Guru-guru jarang memeriksa tempat itu. “Bagaimana jika disitu?” tunjuk myungso pada taman di samping perpustakaan yang memang sepi.

Suzy semakin merasakan jantungnya meloncat kegirangan.

“Nah… apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya suzy penuh harap.

“Engg…” kata myungso ragu. “Jiyeon kemana?”

Suzy sedikit bingung. Jika hanya itu yang ingin ditanyakan kenapa harus cari tempat yang sepi.

“Eoh, dia sedang makan dikantin bersama Sulli dan Kristal,” jawab suzy meski masih heran.

“Kamu tidak makan?”

“Rencananya aku akan menyusul mereka setelah aku dari perpusataan,” jawab suzy tenang, meskipun Myungso gugup.

“Suzy-ah….” kata myungso ragu, tapi Suzy masih menunggu namja itu melanjutkan kalimatnya. “Apa Park Jiyeon sudah memiliki pacar?” tanyanya dengan wjah memerah.

PRANG!!

Rasanya suzy mendengar hatinya hancur bagaikan gelas kaca yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Hancur berkepung-keping.

“Aku tiak tahu,” katanya kaku.

“Kamukan sahabatnya kenapa bisa tidak tahu?” tanya myungso masih dengan wajah memerah. Kalau Suzy adalah Park Jiyeon yang ekspresif mungki dia akan menangis histeris.

“Apa kamu menyuakinya Oppa?” tanya Suzy susah payah.

Myungso mengangguk semangat. Dia sudah lama mengenal myungso dan namja itu bukanlah namja yang dingin. Tapi baru kali ini dia melihat binar secerah itu di mata namja itu. “Ne, aku sangat menyukainya sejak berkenalan dengannya setahun yang lalu. Tapi aku takut untuk bertanya.”

Suzy akhirnya mengerti.

Kim Myungso selalu mengantar jemputnya—karena biasanya Jiyeon akan mengikuti Suzy kemanapun—bukan untuknya, tapi untuk Jiyeon. Namja itu juga sering ikut bergabung di kantin dengan suzy dan teman-temannya ternyat bukan karena dirinya tapi karena Jiyeon. Dia hanya digunakan sebagai alat untuk dekat dengannya.

Suzy bodoh!

Siapa yang tidak menyukai Park Jiyeon. Yeoja cantik dan ceria. Suzy memang tidak kalah cantik dan populer dari Jiyeon bahkan lebih populer dari Jiyeon tapi siapa yang tertarik dengan yeoja pendiam dan kutu buku sepertinya?

“Aku kurang tahu oppa. Tapi sepertinya dia belum memiliki pacar,” jawab suzy akhirnya.

“Jinchayo? Kamu tidak bohong!” kata myungso kegirangan. Suzy hanya mengangguk. “Lalu seperti apa naja yang dia suka.”

“Oppa kalau kamu memang menyukainya, lebih baik kamu mengatakannya saja. Dia juga sepertinya menyukaimu.”

Pecahan hati suzy yang sudah hancur itu kembali di lidas sampai benar-benar tidak bisa di perbaiki oleh ahli manapu saat dia mengatakan kalimat itu.

“Jinchayo!”kata myungso hampir berteriak sangkin senangnya. “Dari mana kamu tahu?”

“Dia pernah bilang kamu sangat tampan dan kamu adalah tipe idealnya. Jadi kalau kamu benar-benar menyukainya kamu katakan saja sekrang, dia pasti menerimanya.”

Myungso yang kesenangan tidak menyadari raut sedih dan senyum terpaksa suzy. Dia benar-benar sangat senang sampai dia memeluk suzy sangat erat. Tidak tahu perbuatannya itu membuat suzy benar-benar terluka dalam.

“Berhentilah memelukku Oppa! Lebih baik sekarang kamu temui jiyeon!” kata suzy melepaskan pelukan Myungso dengan berat hati. “kalau kamu memelukku aku banar-benar akan menangis sekarang,”katanya dalam hati.

“Oh baiklah. Gomawo Suzy. Kamu memang sahabatku yang terbaik.” Myungso masih sempat mengacak-acak rambut Suzy sebelum dia meninggalkan yeoja itu.

Begitu yakin myungso sudah pergi, suzy langsung berjonggkok di tempatnya dan menangis tanpa suara. Dia memegang dan meremas seragam sekolahnya sekuat tenaga berharap dengan begitu rasa sakit di hatinya akan berkurang walau hanya sedikit. Tapi perbuatan itu sepertinya sia-sia karena sakit di hatinya tidak berkurang sedikitpun.

——–

“Suzy!!!”

Pekik jiyeon begitu dia masuk kelas dan melihat Suzy sedang duduk bersama Kristal dan Sulli.

“Sulli!! Krisatal!!”

Teriak jiyeon lagi saat melihat kedua sahabatnya itu.

“Ya! Ada apa denganmu kenapa sepertinya kamu senang sekali?” tanya kristal heran. Sebenarnya bukan hal aneh jika jiyeon berteriak histeris, tapi kali ini beda. Yeoja itu kalihatan seperti memenangkan loter satu juta dollar.

“Aku sedang senang Cingu ya,” kata jiyeon langsung memeluk ke tiga sahabatnya itu.

“Wae? Apa kamu dapat Voucer belanja gratis?” tanya sulli yang memang haoby shopping. Jiyeon menggeleng.

“Voucer ke salon?” kali ini kristal yang menjawab, tapi jiyeon masih menggeleng.

“Tiket liburan keluar negri?”

“Voucer makan?”

“Menang lotre?”

“Tiket nonton super Junior?”

“Lalu apa?” tanya Suli dan kristal bersamaan setelah semua tebakan mereka salah.

“Dia baru pacaran dengan Kim Myungso,” jawab suzy membantu Jiyeon.

Tadi malam myungso benar-benar menyatakan cintanya pada Jiyeon dan setelah itu Jiyeon langsung menelepon Suzy dan bercerita penuh semangat. Tidak tahu sahabatnya itu sudah hampir mati karena sakit hati.

“MWO?! Kamu pacaran dengan Kim myungso?!” pekik sulli dan kristal bersamaan. Sontak semua penghuni kelas menatap mereka penuh minat. Jiyeon mengangguk semangat.

“Bagaimana bisa?’ taya Kristal dan Sulli masih tidak terima. Mereka berdua juga kan menyukai Kim Myungso. Oh ayolah, tidak ada seorang gadispun di sekolah mereka yang tidak menyukai Kim Myungso.

“Tentu saja bisa. Karena aku cantik.”

———

Berita pacaran Kim myungso dan Park Jiyeon tersebar begitu cepat di sekolah. banyak yang berpendapat mereka cocok tapi tidak sedikit juga yang tidak setuju—kebanyakan dari yeoja yang naksir Kim Myungso. Mereka berpendapat Kim Myungso terlalu sempurna untuk Park Jiyeon. Myungso dari keluarga kaya sedangkan Park Jiyeon dari keluarga biasa—meskipun tidak bisa di bilang miskin. Hanya tidak sebanding dengan keluarga Kim Myungso.

Tapi itu tidak membuat Park Jiyeon dan Kim myungo putus. Malah cinta mereka semakin besar. Myungso sangat mencintai park Jiyeon dan juga sebaliknya.

Suzy?

Tentu saja yeoja itu semakin terpuruk meskipun tidak di perlihatkannya. Dia tetap tenang seperti basanya meskipun hatinya sudah hancur. Dia sering terlibat dalam kencan mereka berdua. Atau saat kedua sejoli itu saling memberi kejutan. Dan yeoja malang itu selalu tidak mampu menolaknya. Jika dia sudah tidak tahan, dia hanya masuk kekamarnya lalu mengunci pintu dan menuju kamar madi. Diamenyalakan Shower lalu menangis tersedu-sedu.

Tapi semua berubah saat mereka duduk di bangku kaliah. Ya semuanya berubah.

Persahabatannya dengan Jiyeon dan Myungso hancur. Jiyeon dan Myungso membrnci Suzy. Suzy yang pada dasarnya pendiam semakin diam dan menutup diri. Semua berawal dari kata PERJODOHAN.

“Aku membencimu Bae suzy! Sangat membencimu!” pekik Jiyeon begitu melihat Suzy. Suzy yang tadinya sibuk dengan bukunya di perpustakaan mentap Jiyeon bingung.

“Apa maksudmu?” tanya Suzy bingung.

“Kamu tahu aku sangat mencintai Myungso oppa, tapi kenapa kamu mengambilnya dariku?”

“A..aku…”

“Aku selalu mengagumimu. Menganggapmu sebagai teman, tapi kenapa kamu memperlakukanku begini?” katanya dengan nada tajam.

“Aku tidak mengerti maksudmu jiyeon-ah…”

“Tidak usah berpura-pura bodoh. Kamu menyukai Myungso Oppa kan?”

Suzy yang kaget tidak tahu harus menjawab apa. Dituduh tiba-tiba begitu oleh jiyeon membuat lidahnya tidak bisa bergerak.

“Jadi itu semua benar? Kamu bahkan tidak bisa menyangkal. Aku selalu menganggapmu teman dan tidak pernah merebut milikmu, tapi kenapa kamu mengambil milikku?” kata jiyeon semakin marah.

“Aku masih tidak mengerti maksudmu? Memang aku mengambil apa?”

Jiyeon memberi tatapan jijik pada Suzy membuat luka baru di hati suzy. Suzy bahkan ragu apa hatinya masih ada tempat untuk luka baru.

“Perjodohan itu. Kalau kamu memang menyukai Myungso oppa dan ingin merebutnya dariku caramu sangat licik. Kamu tahu aku merasa jijik pernah mengagumimu.”

Suzy mengerti. Perjodohannya dengan Kim Myungso yang di atur keluarga mereka.

“Kamu salah paham Park Jiyeon. Aku…”

“Tidak usah menyangkal. Dengan kamu menyetujui perjodohan itu, bukankah kamu ingin merebut myungsoo oppa dariku. Tapi kamu salah! Jika kamu pikir dengan begitu kamu akan mendapatkan Myungso oppa kamu salah karena myungso oppa adalah milikku dan selamanya milikku.” Kata Jiyeon tajam lalu meninggalkan suzy.

Suzy hanya mematung di tempat bingung harus berbuat apa. Dia tidak menyangkal dengan perdohoan ini dia berharap bisa memiliki Kim Myungso, tapi itu hanya harapannya. Dia tidak berniat mewujudkannya. Dia menyetujui perjodohan itu karena orangtuanya dan orang tua Kim Myungso mengancam akan menghancurkan keluarga Park Jiyeon jika dia menolak. Tapi dia juga sedang memikirkan cara untuk membatalkannya. Tapi Kim myungso dan Park Jiyeon tidak percaya padanya. Ya Kim Myungso juga tadi pagi menemuinya dan berkata hala yang sama.

“Aku membencimu Bae Suzy. Sangat membencimu.”

ʚ

2009

“Jiyeon-ah…” kata suzy kaget melihat sahabatya yang sudah satu tahun setengah tidak di lihatnya dan sudah membencinya itu tiba-tiba muncul di depan rumahnya. “Kamu datang sendiri? Myungsoo oppa dimana? Gwenchanayo?” tanya Suzy prihatin melihat temannya yang terlihat berantakan itu.

“Kamu menang Bae Suzy dan aku menyerah,” kata Jiyeon tajam.

“Apa makasudmu? Lebih baik kita masuk dulu. Kita bisa bicara di dalam,” kata suzy meraih tangan Jiyeon.

“Tidak Usah! Aku tidak lama, aku hanya berpamitan.”

“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Suzy bingung.

“Aku mau pergi menghilang dari keluarga busuk kalian. Aku sudah lelah dan aku menyerah.” Kata jiyeon berapi-api. “Kalian keluarga kaya hanya bisa menghina dan menginjak-injak orang kecil seperti kami dan itu semakin membuatku muak.”

Suzy hanya diam tidak tahu harus bereaksi apa. Dia tahu apa yang dilakukan keluarganya dan keluarga Kim myungso pada keluarga Jiyeon dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah Jiyeon menemuinya di perpustakaan dulu dia dan Kim myungso kabur entah kemana. Lalu keluarga Kimyungso menekan keluarga Jiyeo agar yeoja itu keluar dari persembunyiannya dan setelah satu setengah tahun sepertinya mereka berhasil.

“Mianhae…” hanya itu yang mampu di ucapkan Suzy.

“Tidak perlu. Aku tahu kamu tidak salah, tapi karena kamu anak keluargamu dan karena kamu akan di jodohkan dengan Myungso oppa sehingga aku di perlakukan tidak adil begini aku membencimu.”

Suzy hanya menundukkan kepalanya.

“Aku kesini hanya berpamitan dan memberimu peringatan, karena aku pikir meskipun sebentar kamu pernah menjadi sahabatku. Dan suatu saat aku pasti kembali untuk membalas kalian. Jadi persiapkanlah dirimu sampai saat itu tiba.”

ʚ

2013

“Eomma!!”

Teriak seorang anak kecil berusia empat tahun begitu melihat ibunya datang menjemputnya.

“Sooyeon-ah,” kata Suzy senang sambil memeluk anaknya yang berlari kearahnya. “Uhh uri Aegy sudah besara sekarang. Sudah berat.” Canda Suzy begitu dia menggendong Sooyeon.

“Eomma Baegopa,” kata Sooyeon Manja. suzy hanya tersenyum.

“Baikalah. Kamua mau makan apa?” tanya suzy menurukan putrinya itu dari gendongannya dan menuntunnya berjalan ke arah mobilnya.

“Ayam!!” sahut Sooyeon semangat membuat Suzy tertawa geli.

“Arrasso, kajja!” kata Suzy sambil menuntunt Sooyeon ke dalam mobil.

“Cha… kita pergi makan ayam!” sahut Suzy riang. Ya sejak dia memiliki Sooyeon, hari-hari Suzy terasa lebih ceria meski kehidupannya masih suram seperti dulu. Tapi melihat senyum cantik yeoja empat tahun itu membuat rasa lelahnya hilang seketika.

“Eomma! Bagaimana jika kita mengajak appa juga?”

Suzy langsung terdiam mendengar perkataan Sooyeon. Dia ragu jika harus meminta suaminya makan siang bersamanya. Dia tahu Myungso—ya, akhirnya mereka menikah—pasti tidak akan menolak ajakan Sooyeon, tapi dia tahu myungso hanya akan diam saja jika mereka bertemu.

“Lain kalia saja chagy. Appa sedang banyak kerjaan, otthe?”

“Tapi aku juga ingin makan dengan appa…” rengek Sooyeon.

“Apa kamu tidak sayang dengan eomma lagi sampai tidak mau makan berdua dengan Eomma?” tanya Suzy pura-pura merajuk.

“Aniya… aku juga sayang eomma. Tapi aku juga merindukan appa.” Suzy mentap Sooyeon dengan tatapan bersalah. Myungso memang lebih banyak mengahbiskan waktunya di kantor dari pada di rumah. Ya, tentu saja untuk menghindari Suzy. Tapi meski begitu namja itu masih sering menelepon sooyeon.

“Bagaimana saat makan nanti kita vidio Call dengan appa? Nanti kalau appa sudah tidak sibuk lagi kita baru makan bersama. Otthe?”

“Cuahae. Tapi aku juga mau makan escream.”

“Arraso. Uri Sooyeon bisa memakan semuanya.”

“Jinchayo!! Eomma Daebak!!”

Suzy tersenyum senang melihat putri kecilnya itu yang kegirangan. Meskipun myungso bersikap dingin padanya paling tidak senyum Sooyeon masih bisa menjadi obat paling ampun baginya.

“Sudah sampai!” ujar suzy begitu memarkir mobilnya di restoran cepat saji tidak jauh dari rumahnya. “Kajja.”

“Kamu mau pesan apa chagi?” tanya Suzy lembut pada gadis kecil itu begitu mereka tiba di dalam restoran.

“Aku mau makan ayam goreng, escream strobery, escream coklat dan escream blubery.”

“Aigo banyak sekali. Kamu yakin mau memakan semuanya?”

“Eomma sudah janji aku bisa memakan semuanya.”

“Arraso, tidak usah merajuk. Wajahmu jadi jelek begitu.”

Setelah memberikan pesanannya pada pelayan suzy dan Sooyeon menunggu di kursi dekat kaca besar.

“Eomma, aku ingin pipis.”

“Pipis? Kajja kita ketoilet.” Suzy langsung membawa Sooyeon ke toilet takut putrinya itu tidak tahan dan pipis di celana. “Kamu habis minum apa di sekolah tadi, kenapa pipisnya banyak sekali.”

“Kan eomma yang menyuruku banyak minum. Lagipula anak kecil sepertiku itu wajar pipisnya banyak, karena kita masih dalam masa pertumbuhan,” kata sooyeon membuat kesimpulan sendiri.

“Teori darimana itu? Memang ada yang bilang begitu?”

“Aku,” jawab sooyeon polos. Suzy hanay menggeleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang menurutnya yang lucu itu.

“Kajja kita cuci tangan di wastafel dulu,” kata suzy menggendong Sooyeon karena anak itu belum mampu mencapai wastafel. “kamu bisakan mencuci tangan sendiri?” tanya suzy yang di beri anggukan oleh Sooyeon.

“Anak pintar,” puji suzy yang membuat Sooyeon malah semakin semangat memainkan air. “Ya…cuci tangannya yang benar jangan main-main begitu nanti kena orang lain…”

Terlambat. Karena tanpa sengaja Sooyeon mencipratkan air pada yeoja yang sedang mencuci tangannya di sebelah mereka. menyadari itu Suzy langsung buru-buru meminta maaf.

“Gwesong hamnida,anakku tidak sengaja,” kata Suzy buru-buru membungkuk.

“Gwenchanayo. Aku mengerti,” jawab orang itu. Suzy yang mendengarnya langsung merasa lega dan mengangkat wajahnya untuk menatap orang itu. Begitu menyadarinya di langsung membeku di tempatnya.

Meskipun yeoja itu menggunakan kaca mata hitam. Make-up tebal. Tatanan rambut yang berbeda. Penampilan yang lebih berkelas dan elegan. Meskipun yeoja itu sudah tidak di lihatnya empat tahun lalu dan sudah berubah banyak bukan berarti Suzy tidak mengenalinya lagi. Bukan berarti dia kesulitan mengenalinya seperti pertemuan mereka saat SMA. Tidak mungkin dia bisa melupakan yeoja ini, karena yeoja ini selalu menjadi mimpi buruknya selama ini. tidak pernah absen dari mimpinya.

“Dan suatu saat aku pasti kembali untuk membalas kalian. Jadi persiapkanlah dirimu sampai saat itu tiba”

“Pa… Park Jiyeon…” kata Suzy gugup. Dia benar-benar ketakutan saat ini. dengan perasaan takut dia dia semakin mengeratkan Sooyeon dalam pelukannya, seolah dengan begitu dia berharap Jiyeon tidak bisa melihat Sooyeon.

Jiyeon membuka kacamatanya dan tersenyum manis, namun itu membuat suzy semakin ketakutan.

“Lama tidak bertemu Bae Suzy. Bagaimana kabarmu?” kata jiyeon dengan nada ramah sambil menilai penampilan Suzy. Tapi entah kenapa di telinga Suzy suara ramah jiyeon seperti sebuah ancaman.

“Eomma, nuguseo?” tanya sooyeon menatap Jiyeon tertarik. Dia belum pernah melihat teman ibunya yang satu itu. Mendengar suara Sooyeon Suzy semakin pucat pasi.

Seolah baru tesadar, jiyeon mentap gadis kecil dalam gendongan Suzy. Dia mengamati dan menilai gadis kecil itu, mencoba mereka-reka dan menebak siapa gadis itu. Dan saat menatap matanya jiyeon tiba-tiba mendapat kesadaran.

“Dia anakku.” Katanya tegas pada Suzy. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Suzy masih diam mematung. Kata-kata jiyeon terakhir kali tiba-tiba terngiang-ngiang di keplanya.

“Dan suatu saat aku pasti kembali untuk membalas kalian. jadi persiapkanlah dirimu sampai saat itu tiba.”

ʚ TBC ʚ

hai-hai… aku balik lagi ama ff baru…aku benar2 lagi sibuk akhir2 ini dan tiba-tiba aku pengen nulis ff dengan genre aneh begini. Ini ff super mellow n byk Flass back gitu. Jd buat yg baca aku harap gak bingung n gak pusing..hehehehe

ff ini bakalan aku post 2x seminggu krn aku sdh nulis sampai END(kurang dikit sih)… dan ini terinspirasi dari ff yg aku pernah baca (lupa judul ama Authornya, jd gak bisa cantumin…. hehehe) dgn Cast yg sama. Idenya aja yang mirip, tapi untuk cerita, alur dll semua adalah imajinasiku.

Advertisements

68 thoughts on “LOVE IS HARD part 1

  1. huuuh..tegaang.a
    apa mksud.a jiyeon sbenar.a. Apa suzy eonni sekejam itu apa?! Kau tau slama itu eonni menutupi sakit hatinya krna cintanya. hnya untk sahabat.a ia tau ia salah…tp jngan gt jg dong suzy eonni jg punya perasaan mkanya dia mlakukan itu.

  2. Mskipun alurnya sdikit lbih cpet, tp aq suka sma ffnya thoooor…
    Aq bru dpet ne blog stlah muter2 cri ffnya myungzy…
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s