BELIEVE ME pt 1

 

Image

Title                  : Believe me pt 1

Author             : Dordor

Main Cast        : Bae Suzy Miss a

Cho Kyuhyun SUJU

And other

Genre              : Sad, Romance, Family

Terserah kalian deh nentuinnya.

Lenght             : two shot

Happy Reading

ATHOR POV ALL

Pesawat pribadi Boeing 708-430 itu melakukan pendaratan terakhir di bandara Incheon, Korea Selatan. Penerbangan yang sangat panjang dan menjemukan bagi cho kuhyun, dan dia merasa penat. Tetapi dia tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Dia terlalu sering melakukan penaerbangan dengan Bae Soo Jae dengan pesawat ini dan kehadirannya masih terasa.

Bae Soo Ji telah menunggu kedatangganya. Kyuhyun telah mengirim pesan dari Swiss, hanya untuk memberitahukan kedatangannya besoknya. Sebenarnya dia bisa saja memberitahukan kabar meninggalnya Ayahnnya lewat telepon, namun Suzy –panggilan akrabnya Bae Soo Ji–berhak  lebih dari itu.

Pesawat telah mendarat sekarang, berjalan pelan menuju terminal. Kyuhyun hanya membawa sedikitbarang segera di giring menuju keluar. Di luar, langit kelabu dan suram pertanda awal musim dingin akan segera tiba. Di samping pintu keluar sudah terdapat limusin yang akan membawa Myungso menuju kediaman Bae Soo Jae, dimana Suzy sudah menunggu.

Selama perjalanan menuju kediaman Bae Soo Jae, kyuhyun berusaha merangkai kata untuk menyampaikan berita kematian Bae Soo Jae, untuk memperkecil keterkejutan gadis itu. tapi begitu Suzy membukakan pintu untuk kyuhyun, semua kata-katanya lari berhamburan. Cho kyuhyun selalu terkesima akan kecantikan Bae Suzy. Gadis itu mewarisi kecantikan yang dimiliki ayahnya , raut wajah keningratan dengan mata hitam pekat yang di bingkai mata bulu mata tebal dan lebat milik ibunya. Kulit putih dan lembut seperti susu dan rambut hitam panjang dan mengkilap. Perawakannya semampai. Dia memakai gaun santai warna putih dengan sepatu hak rendah warna biru muda. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis kecil seperti yang di jumpai  kyuhyun  8 tahun yang lalu. Dia telah tumbuh menjadi seorang wanita, cerdas dan hangat yang sama sekali tidak menyombongkan kecantikannya. Kini dia tersenyum kepadanya, gembira akan kedatangannya. Dia mengamit lengannya dan berkata “Masuklah kyuhyun oppa” serta membimbingnya menuju ruang keluarga. “Apakah Appa terbang bersamamu?”

Kyuhun tidak menemukan cara untuk menyampaikan berita ini lebih bijaksana. Dia menoleh pada gadis itu dan menarik napas dalam-dalam “Bae Soo Jae mengalami kecelakaan berat Suzy” . Dia melihat wajah gadis itu berubah pucat pasi. Diam menunggu kelanjutan kata-kata Kyuhun. “Dan Meninggal.”

Gadis itu berdiri terpaku. Hngga dia kemudian berbicara “Ap..ap..apa yang sebenarnya terjadi?”

“kita belum mendapat keterangan yang lebih rinci, jadi kita belum bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia pergi mendaki dan ada tali yang terputus. Dia jatuh ketebing es yang sangat dalam.”

“Apakah mereka menemukan….”

Suzy memelajamkam matanya sejenak, kemudian membukanya.

“celah yang sangat dalam sekali Suzy.”

Wajah gadis itu berubah semakin pucat. Kyuhun melihat pertanda menghawatirkan. “Apa kamu tidak apa-apa?”

Dia tersenyum cerah. “Tentu saja aku baik-baik saja, terima kasih. Apa kamu mau makan sesuatau atau minum teh?”

Kyuhun memandang heran pada gadis itu. Namun detik berikutnya dia mengerti, gadis itu tidak baik-baik saja. Dia sebenarnya terkejut luar biasa. Dia mencoba berceloteh, berbicara tanpa jelas. Matanya berbinar-binar karena air mata yang hendak keluar, senyumnya mengambang.

“Appa atlet ulung” kata Suzy. “Kau sudah melihat medali-medalinya? Dia selalu menang bukan? Kau tau dia selalu hebat dalam mendaki?”

“Suzy…”

“Tentu kau tau, kau pernah sekali ikut dengan dia mendaki. Bukankah begitu oppa?”

Dia membiarkan gadis itu berceloteh. Membius dari rasa pedih yang dirasahannya. Membangun benteng perthannan dengan kata-katanya ketika menghadapi rasa pedih yang didapatnya. Sambil mendengarkan, dia jadi teringat akan gadis kecil perasa yang pertama di temuinya dan juga pemalu untuk mendapat perlindungan akan kekejaman yang diterimanya. Keadaanya sekarang sangat memperihatinkan. Wajahyanya tegang dan juga rapuh. Ada sesuatu yang menghawatirkan pada gadis itu yang dirasakan Kyuhun.

“Biar kupanggilakan Dokter. Dia bisa memberimu sesu….”

“Oh jangan. Aku sungguh tidak apa-apa, kalu kamu tidak keberatan aku ingin berbaring sebentar.
aku merasa agak lelah.”

“Apa kau mau aku tinggal di sini sebentar?”

“Tidak perlu. Terimakasih”

Kyuhun berjalan menuju keluar hendak pulang. Ketika dia hendak masuk ke mobil, gadis itu memanggil. “Kyuhun Oppa”

Dia menoleh

“Terimaksih sudah mau datang”

…………………………………

Berjam-jam setelah cho kyuhyun pulang, Bae Suzy hanya berbaring di kamarnya. Menatap kosong langit-langit kamarnya, memandang bayangan-bayangan yang ditimbulkan sinar matahari di September yang kelam.

Rasa sakit itu pun datang. Dia sengaja tidak meminum obat penenenang atau obat tidur. Dia ingi merasakan rasa sakit itu. Dia wajib untuk Bae Soo Jae. Dia anak gadisnya. Dia pasti mampu memikul perasaan itu. maka disini lah dia, berbaring sepanjang hari, sepanjang malam. Dia tidak memikirkan sesuatu, memikirkan segalanya, mengingat, merasakan. Dia tertawa, menangis. Dia merasa kehilangan kendali. Dia tidak perlu merasa sungkan, tidak ada seorang pun yang akan mendengarnya. Pada tengah malam dia merasa lapar lalu melahap sepotong besar roti lalu mencampakkanya, namun dia belum bisa merasa baikan juga. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengurangi rasa sakitnya. Dia merasa seperti ujung-ujung sarafnya menyala. Pikirannya kembali ketahun-tahun sebelumnya, ke saat-saat kebersamaannya dengan ayahnya. Dia melihat matahari mulai menyinsing lewat jendela kamarnya. Tidak lama kemudian seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dan dia menyuruhnya pergi. Suara telepon bordering, hatinya melonjak dan menghampiri pesawat itu, sambil berfikir,itu pasti appa! Lalu teringat dan menarik tangannya kembali.

Ayahnya tidak akan pernah menelepon lagi. Dia tidak akan pernah mendengar suaranya lagi. Dia tidak akan pernah melihatnya lagi.

Celah tebing yang sangat dalam

Dalam sekali

Suzy membiarkan dirinya terbaring di sana, membiarkan dirinya melayang kemasa lalu, mengingat semuanya dan merasaknnya.

………………………………….

Kelahiran Bae Soo Ji adalah musibah ganda. Musibah kecil adalah bahwa ibunya meninggal di kamar bersalin. Musibah besar yaitu Bae Soo Ji terlahir sebagai perempuan.

Selama Sembilan di kandung hingga detik terlahir kelahirannya merupakan yang paling di tunggu-tunggu di dunia. Kelahiran pewaris  BS Kingdon, sebuah kerajaan besar. Raksasa multi millyar dollar.

Istri Bae Soo Jae, Park ji  Rin, adalah seorang wanita dengan kecantikan luar biasa. Banyak wanita yang berusa keras untuk kawin dengan Bae Soo Jae, demi martabat, kekayaan dan kedudukan. Park Ji Rin mengawininya karena alasan cinta. Namun teryata alasan itu kesalahan terbesar. Yang di butuhkan Bae Soo Jae ternyata pengaturan bisnis, dan baginya Park Ji Rin memenuhi semua persyaratan itu. Bae Soo Jae tidak punya waktu dan pembawaan sebagai kepala keluarga. Tidak ada tempat apapun di hatinya selain BS Kingdon. Dia mengabdi sepenuhnya pada perusahaan dan mengharapkan orang disekitarnya juga demikian.

Baginya, Park Ji Rin hanya semata-mata berperan sebagai pembentuk citra perusahaan. Ketika Park Ji Rin menyadari arti perkawinannya, sudah sangat terlambat. Soo Jae  memberinya sebuar peran, dan dia memainkannya dengan sangat indah. Dia nyonya rumah yang sangat hebat, nyonya Bae yang sangat sempurna. Dia tidak menerima cinta dari suaminya, dan dia pun belajar untuk tidak memberi sekepingpun cinta untuk suaminya. Dia melayani Bae Soo jae, bagi perusahaan Park Ji Rin hanya sebagai karyawan biasa, tidak lebih dari seorang karyawan rendahan. Dia siap 24 jam sehari, siap menemani Bae Soo Jae kemanapun, siap menjamu pemimpin dunia, siap menjamu ratusan tamu dengan pemberitahuan hanya sehari sebelumnya. Dia mempercantik dirinya, bersenam dan berdiet. Tubuhnya sangat indah. Pakaiannya dan perhiasan yang di gunakan di rancang oleh perancang terbaik di dunia. Hidupnya sibuk dan padat, tidak mengenal keceriaan. Hidupnya hampa. Kehamilannya mengubah semuanya.

Bae Soo Jae keturunan laki-laki terakhir dalam dinasti kerajaanya. Jadi Park Ji Rin tau betapa penting arti anak laki-laki bagi Bae Soo Jae. Dia mengandalkan dirinya. Sekarang dia menjadi ibu suri, sibuk pada kehamilannya, seorang pangeran kecil yang mewarisi kerajaan. Ketika mereka mendorong Park Ji Rink e kamar bersalin, Bae Soo Jae menggenggam tanganya dan mengucapkan . “Terimakasih”

Dia meninggal tiga puluh menit kemudian karena emboli. Mungkin satu-satunya hikmah dari kematian Park Ji Rin ialah bahwa ia meninggal tanpa tau sudah mengecewakan suaminya.

Bae Soo Jae melepaskan diri dari jadwal yang sangat padat untuk menguburkan istrinya, kemudian memikirkan tindakan yang akan diambilnya untuk bayi perempuannya.

Seminggu setelah di Bae Soo JI di lahirkan, dia di bawa pulang ke rumah dan di serahkan pada pengasuh. Selama limatahun awal kelahirannya Suzy tidak banyak melihat ayahnya. Tidak lebih dari bayangan samar-samar yang datang dan pergi. Dia selalu bepergian dan suzy merupakan beban tambahan yang selalu harus di bawa, seperti barang merepotkan. Sebulan Suzy tinggal di rumah mewah mereka yang di lengkapi ruang boling, lapangan tenis, kolam renang, lapangan tenis ruang, bar mini, dan bioskop mini. Beberapa minggu kemudian pengasuh akan memberesi barang-barangya karena akan berangkat ke rumah mewah mereka di New York dengan 50 kamar, yang membuatnya terus-menerus tersesat.

Selain itu Bae Soo Jae mempunyai beberapa rumah mewah dan apartemen mewah di berbagai Negara yang berbeda. Suzy selalu berpindah-pindah dari apartemen yang satu ke rumah yang satu lalu ke apartemen yang satu lagi. Suzy di besarkan dengan kemewahan yang anggun, tapi dia selalu merasa sebagai orang luar yang salah memasuki pesta ulang tahunyang indah yang di hadiri orang-orang tidak dikenal dan tidak mencintainya.

Ketika Suzy makin besar, dia makin mengerti menjadi anak perempuan dari Bae Soo Jae. Sebagaimana ibunya dulu menjadi korban perusahaan, begitu juga dengan dirinya. Kalau dia tidak mengenyam keluarga, itu karena dia tidak memiliki keluarga. Hanya tangan-tangan pengsuh yang di upah dan seorang laki-laki di kejauhan yang kebetulan adalah ayahnya, yang tampaknya tidak menaruh minat terhadapanya. Hanya memikirkan perusahaan.

Park Ji Rin dulu bisa menerima keadaannya, namun bagi sang anak ini merupakan sebuah siksaan. Suzy merasa tidak di cintai, tidak di kehendaki dan tidak tau cara menghadapi keterpurukannya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak di cintai. Suzy berusaha keras merebut kemesraan ayahnya. Ketika Suzy sudah cukup umur untuk bersekolah, dia membuat segalanya di kelas untuk ayahnya. Menggambar kartun kekanak-kanakan, melukis dan membuat kerajinan tangan yang tidak karuan. Dia menyimpanya dengan hati-hati, menunggu kedatangan ayahnya, untuk di tunjukkan dan menyenangkan hati ayahnya dan berharap mendengarkan, “bagus sekali Suzy. Sangat berbakat.”

Ketika ayahnya datang, dengan semangat Suzy menunjukkan hasil karyanya dengan wajah berseri. Ayahnya hanya memandang acuh tak acuh, mengangguk dan menggeleng, “Kau tidak berniat jadi seniman kan?”

Terkadang Suzy terbangun ditengah malam, lalu turun ke lantai bawah rumahnya yang sangat mewah dan melewati lorong yang sangat berkelok-kelok dan memasuki ruang kerja ayahnya. Dia mengelilingi ruang kerja ayahnya dan mengelus semua barang di kamar itu lembut dengan tangan mungilnya. Mengamati setiap sudut ruangan, lalu menyentuh meja kerja ayahnya dan duduk di kursi kerja ayahnya. Ini adalah kamarnya, kehidupannya. Disini dia mengatur dunia dengan kertas-kertas yang tidak dimengertinya. Terkadang sambil duduk di kursi kerja ayahnya dia menjalin percakapan khayalan dengan ayahnya, dan ayahnya menaruh minat dan perhatian, sementara dia berkeluh kesah. Pada suatu malam ketika Suzy duduk di kursi ayahnya dalam kegelapan, tiba-tiba lampu menyala. Ayahnya berdiri di ambang pintu. Dia mengamati Suzy yang hanya mengenakan gaun tidur dan berseru, “Apa yang kau kerjakan dalam kegelapan?” lalu mengmpirinya dan medekapnya dalam gendongannya kemudian menidurkannya. Sepanjang malam Suzy tidak bisa tidur karena mengenang dekapan ayahnya.

Setiap malam Suzy turun keruang kerja ayahnya dan menunggu ayahnya, mengharapakan kedatangan ayahnya dan menggendongnya lagi. Namun hal itu tidak pernah terjadi lagi.

Tak seorangpun membicarakan ibu Suzy kepadanya, namun di ruang tamu tergantung lukisan besar dan indah nyonya Bae –Park Ji Rin. Suzy membandingkan lukisan itu dan dirinya di cermin. Jelek. “Pantas ayahku tidak tertarik padaku” pikirnya.

Kemudin setiap mengingat itu, selera makanya meningkat tak terkendali, berat badannya mulai meningkat. Dia mulai menemukan kenyataan, jika aku jelak tidak akan ada orang yang mengharapkan aku serupa dengan ibuku.

Ketika memasuki remaja, Suzy bersekolah di sekolah mewah yang ekslusif. Dia mengendarai mobil mewah dan dikemudikan supir. Dia masuk ke kelasnya dan duduk membisu. Dia mengacuhkan orang disekitarnya. Tidak pernah mau menjawap pertanyaan dengan suka rela dan jika di tanya seolah tidak tau jawabannya. Guru-guru mulai terbiasa dengannya, dan mengacuhkannya. Guru-guru membicarakkanya dan mereka semua sepakat bahawa Bae Soo Ji adalah anak paling manja dan sombong yang pernah mereka temui. Dan pada laporan akhri semester yang tertutup terhadap kepala sekolah, wali kelas Suzy menulis :

Kami tidak berhasil mencatat kemajuan dari Bae Soo Ji. Dia mengasingkan diri dari semua teman-teman sekelasnya dan menolak ambil bagian dari semua kegiatan kelompok. Dia tidak mau berteman di sekolah. Nilai-nilainya tidak memuaskan, sulit di pastikan apakah karena dia tidak mau berusaha atau dia tidak mampu meyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Dia angkuh dan mementingkan diri sendiri. Kalau tidak karena kenyataan ayahnya penyumbang terbesar di sekolah ini, saya lebih menyarankan dia dia di keluarkan.

Laporan itu berbeda sekali dengan kenyataan. Alasan yang sebenarnya adalah Bae Suzy tidak terlindungi, tidak punya perisai terhadap kesepian yang melingkupinya. Dia menutup diri dari teman-temannya karena takut ketahuan betapa tidak berharganya dirinya. Dia tidak tinngi hati, namun sangat pemalu. Dia merasa tidak termasuk dalam dunia ayahnya. Tidak termasuk dalam dunia manapun. Dia benci naik mobil mewah, karena merasa tidak berharga setinggi benda itu. dia bukan tidak tau jawaban dari pertanyaan gurunya, namun tidak berani untuk berbicara, karena takut menarik perhatian. Dia tidak bodoh. Dia gemar membaca. Dia selalu terjaga tengah malam dan melahap buku-buku yang ada.

Dia mengkhaya! Dan khayalannya sangat indah. Dia di paris bersama ayahnya, menyusuri sungai sein. Dia di bawa kekantornya. Orang-orang keluar masuk kantor ayahnya membawa berkas-berkas untuk ditanda tangani, dan ayahnya mengusir semuanya. “Tidakkah kalian melihat saya sedang sibuk? Saya sedang bicara dengan anakku, Suzy!”

Dia main ski dengan ayahnya di swis, berdampingan menuruni bukit yang terjal. Angin menerpa wajah mereka. Tiba-tiba ayahnya berteriak kesakitan karena kakinya patah dan dia berkata, “jangan khawatir appa, aku akan mencari bantuan untukmu!”. Dan dia pun meluncur kerumah sakit dan berkata, “ayahku terluka!”  lalu ayahnya segera dibawa keruh sakit. Dia menunggui dan menyuapinya –kalau begitu mungkin tangannya yang patah bukan kakinya.  Ibunya masuk –dia ternyata masih hidup–dan ayahnya berkata, “aku tidak bisa menemuimu hari ini Ji Rinah, aku sedang berbicara dengan Suzy.”

Atau mereka di villa di pulai Jaeju yang berakhir dengan serupa. Bel pintu depan berbunyi dan seorang pira muda yang lebih jangkung dari ayahnya, meminta kesediaan menikahi Suzy. Ayahnya lalu mengiba-iba dan menangis, “Tolong jangan tinggalkan aku Suzyah, aku mohon. Appa membutuhkanmu.” Dia pun setuju untuk tetap tinggal bersama ayahnya.

…………………………….

Dari semua vila keluarga Bae, suzy paling suka villa yang di pulau Jaeju. Dia sangat suka dengan udara dan angin di pulau ini. Dia sangat menikmati angin laut yang membelai wajahnya. Dia suka dengan aroma laut pulau itu. villa keluarga Bae menghadap ke laut lepas yang terdapat di atas tebing yang bebas memandang pulau itu. Villa itu tinggi menjulang dengan pohon-pohon rindang yang mengelilinginya dan berbuah yang pahit. Villa ini tidak kalah besar dan mewah dengan villa keluarga Bae yang lainnya, yang membedakan hanya villa ini adalah rumah keluarga Bae yang tertua yang membuat villa ini terasa hangat untuk di tinggali.

Villa ini adalah rumah keluarga Bae yang pertama. Dan di rumah ini juga, ketika ia berusia 13 tahun, Suzy menemukan asal-usul keluarganya. Dan untuk pertama kali juga Suzy merasa mempunyai titik asal. Pertama kali merasa bagian dari sesuatu.

…………………………….

Perasaan itu tumbuh ketika Suzy menemukan sebuah buku. Pada saat itu ayahnya sedang pergi kecabang perusahhan yang di Swiss, kerana sedang libur sekolah Suzy memilih berlibur ke Villa mereka d Jaeju. Seharian Suzy keluyuran di dalam villa dan masuk keruangan seperti perpustakaan ayahnya. Ruangan itu berisi rak-rak buku. Suzy tidak tertarik tentang buku itu, karena sejak lama dia tau buku-buku itu berisi pharmachology dan  pharmacognocy –perusahaan Ayah Suzy adalah perusahaan obat terbesar di Asia dan no 2 di Dunia– dan juga tentang perusahaan multy nasional dan juga hokum internasional. Sangat membosankan dan menyebalkan. Sebagian buku itu adalah buku-buku penting dan langka, disimpan baik-baik dalam lemari kaca. Ada juga lemari berisi buku kedokteran bahasa latin. Karena sedang belajar bahasa latin,suzy jadi tertarik membaca salah satu buku itu dan membuka lemari kaca dan mengambil buku itu. di belakang buku tersebut, tertutup pandangan mata,  dia melihat buku lain. Suzy mengambilnya. Sebuah buku tebal bersampul kulit merah, dan tak berjudul.

Terdorong rasa ingin tahu, Suzy membukanya. Seperti membuka pintu kedunia lain. Sebuah riwayat kakek Buyutnya, Bae Young Jae, dalam bahasa inggris di cetek khusus dalam kertas kulit. Tidak tercantum tangga maupun pengarang, namun Suzy yakin buku itu berusia lebih dari 50 tahun. Sebagian laman buku itu sudah rapuh, sebagian lagi kekuning-kuningan karena lapuk dan tua dimakan usia. Tapi itu tidak penting. Kisah dalam buku itulah yang penting. Kisah yang member kehidupan pada gambar-gambar di bawah. Suzy sudah ratusan kali melihat kakek buyutnya; si lelaki dan wanita cantik dalam pakaian kuno yang sangat mirip sekali dengan ayahnya Suzy. Si lelaki tidak tampan, namun menggambarkan kecerdasan luar biasa. Si wanita berparas cantik, berambut hitam panjang dengan mata hitam batu bara –dan semua setuju wanita itu mewiskan kecantikan pada Suzy. Dua orang asing tak bermakna bagi Suzy.

Tapi sekarang seorang diri di ruangan perpustakaan villanya, ketika Suzy mulai membuka buku itu dan membacaya, Bae Young Jae dan Song Hye Gyo menjadi hidup dan berarti. Suzy merasa seperti di bawa mundur ke Zaman 1900an awal di pulau Jaeju, bersama Bae Younh Jae dan Song Hye Gyo. Semakin dalama membaca buku itu, Suzy makin menyadari Kakek buyutnya, Bae Young Jae, pendiri  BS Kingdom adalah seorang lelaki petualang dan emberc.

……………

Ingata Bae Young Jae yang pertama, begitu yang tertulis pada buku yang di baca Suzy, ialah terbunuhnya ibunya dalam suatu penyerangan ketika ia berusia lima tahun. Dia dan keluarganya yang lain bersembunyi di ruang bawah tanah rumahnya yang kecil di pulau Jaeju. Ketika akhirnya huru-hara itu padam, dan yang terdengar adalah hanya ratap tangis mereka yang selamat, Young Jae keluar dari persembunyiannya dengan hati-hati dan keluar kejalan untuk mencari ibunya. Bagi bocah kecil sepertinya, dunia seolah dimakan api. Langit tampak meyala oleh bangunan-bangunan yang terbakar oleh nyala api di seluruh penjuru, dan asap hitam tebal Nampak menganntung di langit.

Lelaki dan wanita kebingungan mencari sanal keluarganya atau menyelamatka hartanya yang tak seberapa. Si sepanjang jalan Young Jae melangkah dia melihat kematian. Tubuh lelaki dan wanita cacat berserakan seperti beneka rusak. Wanita dan anak-anak korban pemerkosaan dalam keadaan telanjang dan bercucuran darah, mengerang minta tolong.

Bae Young Jae menemukan ibunya tergeletak di jalan bersimbah darah. Setengah sadar. Bocah lelaki itu berlari dan berlutut disamping ibunya. Hatinya berdetak kencang. “Omonim”

Wanita itu membuka matanya dan memandangnya. Ibunya memcoba bebrbicara namun tidak ada suara yang keluar. Wanita itu sedang sekarat. Young Jae ingin menyelamatkannya, tapi tidak tau apa yang harus dilakukannya, namun begitu dia tetap menyeka darah yang keluar dengan lembut. Dia tau dia sudah terlambat.

Kemudian Young Jae melihat penggali menggali tanah dengan hati-hati dibawah tubuh ibunya –sebab tanahnya lembab oleh darah. Menurut kitap Suci harus dikubur bersama, biar dia bisa kembali pada Tuhan dalam keadaan utuh.

Sejak saat itulah Bae Young Jae memutuskan untuk menjadi dokter.

Keluarga Bae tingga di rumah kecil bersama delapan keluarga lainnya. Young Jae menempati satu kamar bersama ayah dan bibinya. seumur hidupnya Young Jae tidak pernah menikmati makan dan kamar seniri untuk dirinya. Hidupnya selalu di penuhi kebisingan dan kegaduhan. Namun dia tidak mendambakan kesendirian, karena menurutnya tidak ada dunia seperti itu. dia selalu hidup dalam kebisingan dan hirup pikuk.

Ayah Young Jae seorang lelaki bungkuk berambut putih, dengan wajah kisut dan kriput. Seorang pedagang kelontong. Dia berjualan di jalanan sambil mendorong gerobaknya yang berisi barang-barang kebutuhan rumah tangga. Young Jae sering membantu ayahnya berjualan, dia suka bau roti bercampur ikan asin ketika mereka melewati pasar. Dia senang melihat para pedagang menjajak kan jualan mereka dan para ibu rumah tangga tawar menawar dengan suara mengiba-iba dan ketus.

Pada ulang tahun Young Jae yang ke 12, ayahnya mengajaknya ke kota Seoul untuk pertama kalinya. Begitu pertama kali menginjakkan di kota dengan keadaan yang menakjubkan, membuat Young jae nyaris meluap-luap kegirangan. Ketika mendekati kjota yang indah dan mengerikan hati Young Jae berdebar lebih kencang. Dia memegang erat tangan ayahnya. Dunia baru penuh keajaiban. Pertama-tama di sana ada rasa kebebasan dan keleluasaan yang membuatnya terkesan. Setiap rumah dibangun tidak saling berhimpitan, dan masing-masing ada tamannya dan juga luas. Pasti setiap orang di Seoul orang-orangnya saangat kaya pikir Young Jae.

Young Jae menyertai ayahnya menemui beberapa pemasok. Dia melemparkan beberapa barang kedalam kereta. Begitu kereta penuh, Young Jae beserta ayahnya melangkah pulang.

“Tidak bisa kah kita tinggal lebih lama?” rengek Young Jae.

“Tidak nak, kita harus segera pulang”

Young Jae tidak ingin pulang. Baru pertama kalinya dia keluar ke Seoul dan dia merasa sangat senang dan gembira hingga dadanya sesak. Ternyata orang bisa hidup sebebas itu dan bisa melangkah kemanapun juga, pikir Young Jae. Seandainya aku di lahirkan di Seoul. Kemudian Young Jae malu pada dirinya sendiri karena berfikiran begitu.

Malam harinya Young Jae tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke Seoul, rumah-rumah yang besar dan bunga-bunga yang indah. Dia harus menemukan cara untuk menuju kebeasan. Dia ingin mencurahkan isi hatinya, namun tidak ada seorang pun yang mengerti dirinya.

………………………..

Suzy meletakkan buku yang di bacanya dan duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Dia membayangkan kesepian Young Jae, keinginannya dan keputus asaannya.

Pada saat itulah Suzy menyamakan dirinya dengan Young Jae, seperti apa yang dirasakannya. Darah Young Jae mengalir dalam tubuhnya. Suatu perasaan bahagia menyelimuti dirinya, dia mempunyai asal-usul.

…………………………………

Setelah matahari dimusim dingin yang hangat di Seoul, terasa seperti di Jaeju. Jalanan bersalju dan  becek, dan angin dingin memebku bertiup, tapi Suzy tidak peduli. Dia hidup di Jaeju, di abad lain, menghayati petualangan kakeknya. Setiap sore setelah pulang sekolah, Suzy bergegas kekamarnya mengunci pintu dan mengeluarkan buku itu. pernah terpikir olehnya untuk membaca buku itu dengan ayahnya, namun pikiran itu buru-buru dibuangnya. Dia takut ayahnya akan membuang buku itu.

Secara indah dan tanpa sadar Bae Young Jae ternyata menimbulkan keberanian pada Suzy. Dia merasa memiliki banyak persamaan. Young Jae seorang kesepian. Dia tak punya seorang untuk mencurahkan hati, begitu juga denganku, pikir Suzy. Dan karena hampir sebaya –meskipun dipisahkan abad– Suzy menyamakan dirinya dengan kakek buyutnya itu.

Bae Young Jae ingin menjadi dokter

Hanya tiga orang dokter yang di ijinkan menangani orang sakit di Jaeju yang selalu diserang wabah penyakit. Dan diantara ketiga dokter itu, Dr. Song Jong Ki  lah yang paling makmur. Diantara tetangganya yang miskin, rumahnya bagai istana di daerah kumuh. Young Jae membayangkan dirumahnya dokter itu menolong mereka, memeriksa mereka,melayani mereka, dan mengobati mereka –melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya. Jika orangf seperti dokter Song menaruh minat padanya, pasti bisa membantunya menjadi dokter, pikir Young Jae. Namun kenyataanya segala sesuatu yang behubungan dengan Young Jae, dokter Song di luar jangkauannya sepertihalknya seorang budak yang lainnya.

sekali-kali8 Young Jae melihat dokter Song lewat, melakukan percakapan dengan orang yang ditemuinya di jalan. Suatu hari Young Jae melihat pintu rumah dokter Song terbuka, dan sangdokter kuluar bersama anak perempuannya. Dia berusia kira-kira sebaya dengan Young Jae. Dia adalah wanita tercantik yang pernah dilihat Young Jae. Dan ketika pertama kali melihata, entah bagai mana dia yakin bahwa dia akan menjadi istrinya. Dai harus  memikirkan cara untuk mewujudkan muzijat itu.

Sejak saat itu, Young Jae selalu memikirkan alasan untuk bisa didekat rumah gadis itu. berharap bisa melihat gadis itu walau hanya sekilas.

Suatu sore ketika sedang melewati keluarga dokter Song, dia mendengan suara alatmusik (aku lupa nama alat music khas korea) dari dalam. Dia yakin gadis itulah yang memainkannya. Dia harus melihatnya. Setelah yakin tidak ada yang melihatnya, Young Jae mendekati rumah dokter itu dan mulai memanjat tembok.sura music terdengar lebih jelas. Young Jae merasa seolah music itu di tujukan padanya. Begitu mendongakkan kepala, Young Jae melihat gadis itu bermain embe membelakanginya, dan dokter Song duduk didepan gadis itu sambil membaca buku, dia tidak memperdulikan sang dokter. Dia hanya melihat gadis itu tanpa berkedip. Dia mencintainya! Dia akan melakukan sesuatu yang berani hingga gidia itu menoleh padanya. Dia terlalu asik melamun hingga tak sadr melepas peganyannya. BRRUUUKKKK!!

Dia tersadar di meja  operasi ruang kerja dokter Song. Ruangan itu luas di lengkapi lemari berisi obatan dan alat-alat bedah. DOKTER Song memegang segumpal kapas berbauh aneh di bawah hidung Young Jae. Young Jae langsung terbatuk-batuk lalu duduk.

“Nah begini lebih baik” kata dokter Song. “Sebenarnya aku harus menyingkirkan otakmu terlebih dahulu, tapi aku ragu apakah kamu memiliki otak.” Lanjut dokter itu. “Apa yang mau kamu curi nak?”

“Aku tidak mau mencuri apa-apa” sahut Young Jae sebal.

“Siapa namamu”

“Bae Young Jae”

Jari-jari dokter itu mulai memegang pergelangan tangan kanan Young Jae, dan Young Jae berteriak  kesakitan.

“Sepertinya pergelangan tangan kananmu patah nak. Kita harus memanggil polisi untuk membereskannya.”

Young Jae mengerang sangat keras. Terpikir olehnya apa yang terjadi bila dia di tangkap polisi. Bibinya akan sedih, dan ayahnya akan membunuhnya. Dan yang lebih penting lagi bagaimana dia bisa menikahi anak perempuan dokter Song? Dia seorang penjahat, seorang narapidana.  Young Jae meresakan setakan yang sangat menyakitkan pada tangannya dan memandang dokter itu dengan amat terkejut.

“Nah, sudah selesai.” Kata dokter Song. “Sudah kubereskan.” Dia memasang belat pada pergelangan tangan anak laki-laki itu. “Kau tinggal di sekitar sini Bae Young Jae?”

“Tidak tuan.”

“Bukan kah aku sering melihatmu di sekitar sini?”

“Ya, tuan.”

“ Kenapa?”

Kenapa?? kalau Young Jae menceritakan alasan sebenarnya, dokter Song akan menertawakannya.

“Aku ingin menjadi seorang dokter.” Jawab Young Jae tanpa pikir panjang, karena tak mampu menahan diri.

Dokter Song memandang tak percaya padanya. “Karena itukah kame memanjat rumahku seperti seorang pencuri?”

Young Jae akhirnya menceritakan semuanya. Dia menceritakan tentang ibunya yang mati mengenaskan. Menceritakan. Dia menceritakan bagaimana perasaanya pada anak gadis dokter Song. Dokter Song hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bagi Young Jae sendiri alasan itu terdengar konyol. Dan setelah selesai bercerita, dia berkata. “Saya –saya sangat menyesal.”

Dokter Song memandang Young Jae sangat lama sekal dan kemudian berkata, “Saya juga menyesal untukmu, untukku dan untuk semuanya. Kita semua adalah tahanan dan yang paling menyakitkan kita adalah tahanan orang lain.”

“Saya tidak mengerti tuan”

Dokter itu menarik napas yang panjang. “suatu hari nanti kamu akan mengerti.” Dokter Song beranjak ke meja operasinya, “Saya khawatir, hari ini adalah hari naas bagimu Bae Young Jae.” Dokter Song kemudian berjalan kearahnya. “Bukan karena kamu akan mematahkan tanganmu, itu akan cepat pulih. Tapi aku akan melakukan sesuatu padamu yang mungkinakan tidak akan cepat pulih.”Younh Jae memandang dokter Song tidak percaya. “Tidak semua orang yang membangun impian. Kamu punya dua impian, dan aku khawatir akan menghancurkan kedua impianmua Bae Young Jae..”

“Saya tidak…”

“Kamu tidak akan mungkin menjadi dokter. Di sini hanya kami bertiga yang di ijinkan menjadi dokter –tidak di dunia kita ini. Ada begitu banyak dokter yang cakap  disini, menunggu salah satu di antara kami pension untuk menggantikan kami. Tidak ada kesempatan untukmu, sama sekali tridak ada. Kamu terlahir di tempat yang salah dan di waktu yang salah. Kau mengert nak?”

Young Jae menelan ludah “Ya, tuan.”

“Tetang impianmu yang kedua, aku khawatir itu juga tidak mungkin. Kau tidak akan dapat mengawini Hye Gyo.”

“Kenapa?” Tanya Young Jae.

Dokter Song mebelalakkan mata. “Sama sepert halnya kamu tidak mungkin menjadi dokter, kamu tidak mungkin mengawini Hye Gyo. Kita hidup menurut peraturan, menurut adat istiada. Anak gadisku akan mengawini seorang dari kalangannya sendiri. Eorang yang bisa mempertahankan gaya sebagaimana dia dibesarkan. Seorang ahli hokum, seorang rabi atau seorang dokter. Jadi kau harus menyingkirkannya dari pikiranmu.”

“Tapi….”

“Mintalah seseorang memeriksa bebatmu.” Dokter Song langsung mendorongnya kearah pintu. “Usahakan pembalutnya tetap kering dan bersih.”

“Baik tuan. Terimakasih dokter Song.”

Dokter Song memperhatikan pemuda ceking dan kumuh  dengan wajah cerdas itu. “Selamat berpisah Bae Young Jae.”

………………………

 

Ke esokan harinya Young Jae mengetuk pintu rumah keluarga Song. Dokter Song melihatnya dari jendela, dia tau dia harus mengusir pemuda itu.

“Biarkan dia masuk.” Kata dokte Song pada pelayan di rumahnya.

Sejak saat itu, Young Jae datang dua atau tiga kali seminggu kerumah dokter Song. Dia melakukan tugasnya sebagai pesuruh dokter itu. sebagai upahnya Young Jae di ijinkan melihat dokter itu mengobati pasienya dang meracik obat di laboratoriumnya. Pemuda itu melihat, mengamati dan belajar semuanya. Dia punya bakat alamiah. Melihat itu dokter Song merasa bersalah. Dia seolah mendorong seseorang kepada sesuatu yang tak mungkindicapainya, namun demikian dia tidak tega mengusirnya.

Entah sengaja atau tidak, Hye Gyo jadi sering terlihat disekitar Young Jae. Pemuda itu seing melihat gadis itu melewati laboratorium atau keluar rumah.dan sekali mereka pernah hampir bertabrakan di dapur, jantung Young Jae berdetak sangat kencang, sampai Young Jae mengira dia akan pingsan.gadis itu mengamtinya lama sekali, dengan  pandangan menduga, lalu mengangguk dingin lalu pergi. Setidaknya gadis itu sudah memandangnya! Itu langkah awal. Langkah berikutnya hanya soal waktu. Itu sudah takdir. Tidak ada keraguan sedikitpun di hati Young Jae. Kalau dulu dia bermimpi untuk dirinya sendiri, sekarang dia bermimpi tentang mereka berdua. Dia akan membawa Sonh Hye Gyo keluar dari kota perbudakan ini, dia akan mencatat keberhasilan gemilang. Dia bersama Song Hye Gyo.

Meskipun itu mustahil.

………………………….

Suzy tertidur, membaca tentang Young Jae. Pagi harinya ketika terbangun, Suzy merapikan bukunya dengan hati-hati lalu bergegas berganti pakaian ke sekolah. Suzy tidak bisa menyingkirkan Bae Youn Jae dari pikirannya. Bagaimana cara Bae Young Jae bisa menikahi Song Hye Gyo?

Bagaimana cara dia keluar dari daerah perbudakan itu? bagaimana ia jadi terkenal? Suzy terserap oleh buku itu dan dia kesal oleh apapun yang merenggutnya dari buku itu, yang menariknya kembali kea bad duapuluh.

Salah satu pelajaran wajib yang harus diikuti Suzy adalah, balet. Dia tidak suka pelajaran itu. dia mengenakan seragam balet warna merah jambu, dam mengamati bayangannya di cermin. Dia berusaha keras meyakinkan dirinya kalu tubuhny menggiurkan, namun kenyataannya tidak. Dia gemuk. Dia tidak mungkin menjdai seorang penari balet.

Tidak lama setelah ulang tahunnya yang ke empat belas, Miss Coi, guru tarinya, mengumumkan dua minggu lagi aka nada pementasan balet tahunan di auditorium sekolah. Setiap murid harus mengundang orang tua mereka masing-masing. Suzy ketakutan setengah mati. Membayangkan akan menari didepan umum membuatnya ketakutan. Dia tidak akan bisa melakukannya.

Seorang anak hampir tertabrak karena lari hendak menyebrang jalan. Suzy melihatnya dan menyelamatkannya. Sayang sekali bapak-bapak, ibu-ibu jari kaki Suzy patah karewna terlindas mobil sehingga dia tidak bisa ikut menari mala ini.

Seorang pelayan yang ceroboh meninggalkan sisa sabun di tangga. Suzy terpleset sehingga tulang pinggulnya patah. Todak parahkok kata dokter, dalam tiga minggu dia akan sembuh.

Tidak ada keberuntungan seperti itu. Di hari pementasan Suzy segar bugar, dan tak kuasa mengendalikan diri. Lagi-lagi Bae Young Jae tua yang membantunya. Dia masih ingat bagai mana pemuda itu di cekam ketakuatan, namun dia masih berani meng hadapi dokter Song. Dia tidak akan memalukan Bae Young Jae. Dia akan menghadapi takdirnya.

Suzy bahkan tidak menceritakan pementasan itu kepada ayahnya. Seringkali dia mengundang ayahnya di acara pertemuan orang tua murid dan acara-acara lain, namun ayahnya terlalu sibuk untuk ikut acara seperti itu.

Suatu sore sebelum Suzy berangkat kepementasan, ayahnya pulang. Ketika ayahnya melewati kamar Suzy, ayahnya menyapa. “Sore Suzy” ayahnya masuk kekamarnya. “Kau bertambah gemuk”

“Ia, Appa.” Suzy tersipu dan berusaha mengempiskan perutnya.

Dia berusaha ingin mengatakan sesuatu, tapi mengubahnya dan akhirnya, “Bagaimana sekolahmu?”

“Baik Appa.”

“Ada masalah?”

“Tidak Appa”

“Bagus.”

Percakapan yang terjalin ratusan kali diantara mereka. Serangkain kata-kata tak berarti. Bagaimana kabar mu-baik-bagaimana sekolahmu-baik-tidak ada masalah-tidak-bagus. Seperti orang yang sedang membicarakan cuaca yang mana mereka tidak saling pedulidengan yang lainnya. Tapi salah satu dari kita peduli pikir Suzy.

Namun kali ini Bae Soo Jae tetap berdiri. Mengamati anak gadisnya itu. dia terbiasa menghadapi masalah-masalah kongkret dan meskipun dia tau ada yang tidak beres namun dia tidak tau apa masalah itu. dan jika ada orang yang memberitahu masalah itu, Bae Soo Jae pasti akan menjawab, “Jangan bercanda, aku sudah memberikan segalanya pada Suzy.”

Ketika Bae Soo Jae hendak beranjak, Suzy mendengar dirinya berkata, “Ke..kelas baletku mengadakan pertunjukan. Aku juga ikut! Appa tidak ingin datang bukan?”

Meskipun dia berkata begitu, dia diliputi ketakutan luar biasa. Dia tidak ingi ayahnya melihat kecanggungannya. Kenapa dia harus mengundang ayahnya, tapi dia tau jawabannya karena hanya dia satu-satunya murid yang orang tuanya tidak hadir. Ah tenang saja, ayah pasti tadak bisa datang pikir Suzy. Dan dibelakangnya dan sangat di luar dugaan dia mendengar, “Aku senang sekali.”

…………………..

Auditorium itu penuh sesak oleh orangtua, teman-taman dan kerabat para murid. Miss Coi berada di samping panggung untuk membantu mengatur embe. Para murid akan pada awalnya akan menari bersama-sama lalu aka nada acara puncak yang member mereka kesempatan tampil sendiri-sendri. Banya dari anak-anak itu yang terlihat memiliki bakat alami, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang lebih menunjukkan semangat dari pada bakat atau keluwesan.

Suzy sangat gugup di belakang panggung. Berkali-kali dia mengintip di balik tirai panggung. Setiap kali dia melihat ayahnya duduk di barisan tengah penonton, dia menganggap betapa konyolnya dirinya yang mengudang ayahnya datang. Selama pementasan Suzy berhasilmenyembunyikan dirinya di tiria atau di belakang penari-penari lainnya. Namu sekarang dia harus menari solo.

Dia melihat penari-penari lain bergantian menari kaluar masuk pangguang. Sekarang tiba gilirannya, miss Coi meneriakinya, “Ayo Suzy sekarang giliranmu.” Namun Suzy bergeming, berdiri kaku di tempatany. “Ayo, masuk” miss Coi Sedikit mendorongnya. Dengan gugup dia berjalan ke panggung dan mulai menari. Dia berusaha keras menari dengan konsentrasi penuh menghayati music. Dia nerjinjit, berputar, melangkah, dan ketika alunan music berhenti dia membungkukkan badan dan semua bertepuk tangan padanya. Dia melihat ayahnya bertepuk tangan bangga. Bertepuk tangan untuk dirinya.

Lalu ada suatu lonjakan dalam diri Suzy. Music telah berhenti, namun Suzy tetap menari. Dia berputar-putar di luar kesadarannya. Pemain piano yang kebingungan, berusaha memainkan music mengikuti iramanya. Sibuk mencari iramanya. Sementara mis Coi tak henti-hentinya meneriaki Suzy untuk berhenti. Mukanya merah karena marah. Tapi Suzy tidak melihatnya. Dia melambung di luar sadarnya. Yang penting baginya dia menari, menari untuk ayahnya.

“Saya harap anda maklup tuan Bae, bahwa sekolah tidak bisa membiarkan tingkah seperti ini.” Suara miss Coi bergetar karena menahan marah. “Putri anda mengacuhkan setiap orang dan memborong semuanya. Dia berlagak seperti seorang bintang.”

Suzy merasakan ayahnya menoleh padanya. Dia tidak berani memandang ayahnya. Dia tau perbuatannya tidak bisa dimaafkan, tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin menciptakan panggung yang indah. Ingin menari untuk ayahnya. Dia ingin agar ayahnya memandangnya dan bangga padanya. Dia ingin dicintai ayahnya.

“Anda memang benar miss Coi. Saya pastika Suzy akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” Jawab ayahnya.

Miss Coi memandang kemenangan kearah Suzy, dan berkata, “Terimakasih tuan Bae. Saya serahkan sepenuhnya kepada anda.”

Suzy dan ayahnya berdiri di luar gedung sekolah. Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkannya, dia bingung mau mengucapkan apa. Sudah berulang kali di pikirnya kata penyesalan, namun dia gagal. Dia bingung menjelaskan alasan dari kekacauan yang disebabkannya. Ayahnya asing baginya, dan dia takut padanya. Suzy sudah sering mendengar ayahnya sering meluapkan kemarahannya kepada orang=orang yang melakukan kesalahan atau yang tidak mendengarkannya. Kini dia menantikan kemarahan ayahnya.

Lalu ayahnya membalikkan badan menghadap dia dan berkata, “Suzy bagaimana kalau kita mampir ke took eskrim dan makan eskrim disana?”

Dan Suzy pun menangis tersedu-sedu.

………………………….

Malamnya Suzy tak bisa tidur. Dia terlalu bergairah untuk tidur. Dia terus-menerus mengulang  kejadian malam itu dalam pikirannya. Kegembiraannya tak dapat dibendung. Sebab ini bukan khayala, ini benar-banar terjadi. Dia masih bisa merasakan ketika ia duduk di took Ice Cream Café bersama ayahnya di kelilingi boneka beruang, gajah, singa besar. Dia memesan banana split dalam porsi besar dan ayahnya tidak menegurnya. Dia melakukan percakapan dengan ayahnya, bikan sekedar percakapan, bagaimana kabarmu-baik-bagaimana sekolahmu-baiak-apa ada masalah-tidak-bagus. Dia bercerita. Ayahnya bercerita tentang perjalanannya baru-baru ini ke jepang. Bagai mana tuan rumah menyajikan belalang disiram coklat untuk menghormati dirinya. Bagaimana ia terpaksa memakan hidangan itu untuk tidak mempermalukan dirinya.

Ketika Suzy memakan suapan terakhir dari eskrimnya, ayahnya bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan itu Suzyah?”

Suzy tau seluruh malamnya akan hancur berantakan. Ayahnya akan memberi peringatan keras atas sikapnya itu. “Aku ingi menjadi yang terbaik dari orang-orang lain.” Dan dia tidak sanggup untuk menambahkan ‘untukmu’.

Ayahnya menatapnya lama sekali, lalu tertawa, “kamu benar-benar mengejutkan semua orang.” Ada nada bangga terdengar dalam suaranya.

Suzy merasakan darah naik kepipinya, “Appa tidak marah pada ku?”

Ada pancaran yang belum pernah dilihat Suzy di mata ayahnya. “Karena kamu ingin menjadi yang terbaik? Itu menjadi satu-satunya tekad dalam keluarga Bae.” Dan dia membungkuk dan meremas tangannya lalu memeluknya.

Ketika akhirnya tertidur, pikiran terakhir yang memenuhu kepala Suzy, “Appa menyukaiku. Dia benar-benar menyukaiku. Mulai sekarang kami akan selalu bersama. Dia akan selalu membawaku kemanapun dia bepergian. Kami akan bicara tentang banyak hal dan kami akan menjadi sahabat.”

………………………..

Keesokan harinya, sekretaris ayah Suzy memberitahukan padanya bahwa dia akan dipindahkan sekolah asrama di inggris. Semuannya sudah diatur.

…………………….

Suzy di daftarkan di sebuah sekolah internasional khusus sekolah putri. Sekolah itu terletak di sebuah desa di Manchester. Sekolah itu adalah sekolah dengan sistem pendidikan terbaik di inggris.

Suzy benci sekali.

Suzy merasa seperti di buang. Di usir dari rumah, seolah dihukum untuk suatu kesalah yang tidak di perbuatnya. Pada malam istimewa dia sudah dekat dengan sesuatu yang indah. Dia menemukan ayahnya, ayahnya menemukan dia. Mereka menjadi sahabat, namun sekarang ayahnya semakin menjauh.

Suzy bisa mengikuti sepak terjang tentang ayahnya dari surat kabar atau televise yang di lihatnya. Dia bisa melihat ayahnya yang melakukan pertemuan dengan perdana mentri mana, pertemuan dengan pejabat mana, mebuka pabrik baru di Negara mana dan yang lainnya. Dia selalu mengukuti berita ayahnya dan mengkiping kegiatan ayahnya dari majalah di sebuah buku dan menyimpannya dengan hati disamping buku Bae Young Jae.

Suzy tetap tak acuh terhadap siswa yang lain. Umumnya siswa lain mendapat satu kamar untuk bertiga atau berdua, namu Suzy meminta satu kamar untuk dirinya sendiri. Dia menulis surat-surat yang panjang pada ayahnya dan merobek-robek surat yang terlalu mengungkapkan perasaannya. Kadang-kadang dia mendapat sura-surat pendek dari ayahnya. Dan setiap ulang tahunnya dia mendapat kiriman kado dari took-toko terkenal yang dikirim sekretaris ayahnya. Suzy benar-benar merindukan ayahnya.

Suzy berencana akan mengahabiskan natal dengan ayahnya di villa mereka di Swiss. Dan ketika itu semakin dekat dia tak kuasa membendung kegembiraanya, dia tak sabar menunggu. Dia membuat untuk dirinya sendiri, dan mencatatnya dengan cermat:

Jangan membuat ulah

Jadilah menarik

Jangan mengeluh tetang apapun, terutama sekolah

Jangan tunjukkan jika kau keepian

Jangan menyela ketika ia berbicara

Jagalah penampilanmu tetap rapi, bahkan ketika sarapan

Bayanyaklah tertawa sehingga dia melihat betapa bahagianya kamu

Catatan itu adalah sebuah doa, permohonannya pada Tuhan. Dia berharap dengan menjalankan semua itu ayahnya akan melihat dan berkata, “Kau sangat cerdas Suzy.” Atau “aku tidak tau kau sangat menarik Suzy.” Lalu berkata kepada sekretarisnya, “Aku kira Suzy tidak perlu lagi pergi kesekolah. Kenapa tidak kita biarkan saja dia disini bersamakau?”

Sebuah doa.

……………………………..

Sebuah pesawat jet perusahaan menjemput Suzy di Manchester dan menerbangkannya ke swiss, yang mana sebuah mobil limusi sudah menunggunya. Suzy tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menutupi kegugupannya. Akau tidak akan membiarkan dia melihatku menangis. Aku tidak mau menunjukkkan betapa rindunya aku padanya.

Mobil meju rumah, dan ketika berhenti suzy keluar dan berjalan muju rumah lalu berlari secepat yang dia mampu. Pitu depan terbuka, dan seorang pelayan perempuan bernama Margatetta berdiri disana dan menyambutnya, “Selamat datang Miss Suzy?”

“Dimana ayahku?” Tanya Suzy

“Belia harus pergi ke Australia karena urusan yang mendesak, tapi dia meninggalkan banyak hadiah yang indah untuk anda. Hari Natal nanti pasti sangat menyenangkan.”

……………………………………..

Suzy membawa si buku bersamanya. Dia berdiri di ruang depan villa mengamati lukisan Bae Young Jae dan Song Hye Gyo. Setelah lama sekali dia beranjak  menuju menara villa membawa serta si buku. Dia mengambil tempat di sudut ruangan, setiap hari dia lewatkan berjam-jam membaca dan mmbacalagi tentang Young Jae. Dan setiap hari dia semakin dekat dengan Young Jae dan Hye Gyo. Abad-abad yang memisahkan mereka pun sirna.

Beberapa tahun berikutnya, begitu yang di baca Suzy, Young Jae menghabiskan waktunya di laboratorium dokter Song, membantu dokter itu meramu salep dan obat-obatan dan mempelajari khasiatnya. Hye Gyo selalu hadir menjadi latar belakang. Meski hanya sekilas, kehadiran gadis itu sudah cukup menjadi semangat buat Young Jae. Dia dan dokter Song cukup akur. Namun tidak dengan istrinya, ia wanita yang sombong dan histeris apalagi ketika melihat Young Jae. Dan Young Jae berusaha mengindari wanita itu.

Young Jae sangat terkesan dengan banyaknya obat-obatan yang bisa menyembuhkan manusia. Kotoran buaya, daging kadal, darah kelelawar, ludah unta, kaki katak, hati singa, serbuk tanduk kuda adalah ramuan obat-obatan yang di gunakan orang mesir kuno, dari yang dibaca Young Jae. Tanda Rx dalam resep yang tertera adalah merupakan doa kepada dewa penyembuh Mesir kuno. Bahkan kata ‘kimia’ berasal dari nama Mesir kuno yaitu ‘Negara Kahmi’ atau ‘Khemi’. Pendeta dan dukun disebut ‘magi’. Begitulah yang dibaca Young Jae.

Toktoko obat di Jaeju sangat payah. Sebagian besar guci-guci berisi obat-obatan yang belumpernah di uji coba, sebagian lagi tak berguna dan sebagian lagi sangat berbahaya. Young Jae akrab dengan semua obat-obat itu. orang-orang biarasnya membeli obat batuk, kejang perut dan demam tifus. Karena tidak ada usaha untuk menjaga kebersihan sudah biasa jika salep, atau obat kumur tercemar bangkai serangga, kotoran tikus, bulu binatang.sebagian besar orang yang menggunakan obat-obat itu mati. Bisa karena penyakitnya, tapi bisa juga karena obat itu sendiri.

Beberapa buku menjelaskan tentang pandangan obat itu sendiri, dan Yong Jae semakin keranjingan mebacanya. Dia selalu mebicarakan pandangan-pandanganny pada dokter Song.

“Menurut akal sehat, mestinya ada penyembuh pada setiap penyakit,” kata Young Jae penuh keyakinan. “kesehatan adalah kewajara, dan penyakit adalah ketidak wajaran.”

“Mungkin.” Kata dokter Song. “Tapi sebagian pasienku tidak bersedia jika aku mencobakan obat-obat baru pada mereka.” Tambah dokter Song dengan suara datar, “Dan kukira mereka bijak sana.”

Young Jae melap semua buku-buku di perpustakaan dokter Song yang tidak seberapa itu. setelah membaca dan membaca ulang, Young Jae kesal sendiri. Begitu banyak pertanyaan yang muncul yang tidak bisa dijawabnya.

Young Jae terangsang oleh revolusi yang terjadi. Bebrapa peneliti yakin ada kemungkinan untuk melawan sebab-sebab penyakit dengan membangun pertahanan yang bisa menghancurkan penyakit itu.dokter Song pernah mencobanya sekali, dia mengambil darah penderita difter dan menyuntikkan pada se ekor kuda. Begitu kuda itu mati, Dokter Song menghentikan percobaanya. Tapi Young Jae yakin dokter Song sudah melakukan langkah yang benar.

“Anda tidak boleh berhenti sekarang.” Kata Young Jae. “Saya yakin anda akan berhasil.”

Dokter Song menggelengkan kepalanya, “itu karena kamu masih terlalu muda Bae Young Jae. Seandainya kamu seusiaku, kamu tidak akan menyakini sesuatu. Jadi buang saja itu dari pikiranmu.”

Namun Young Jae tidak puas. Dia memerlukan binatang. Padahal tidak banyak binatang yang didapatnya selain tikus-tikus dan kucing liar yang ditangkapnya. Tapi berapa kecil pun dosis yang di berikan Youngt Jae, binatang- binatang itu langsung mati. “Mereka terlalu kecil. Aku perlu yang lebih besar seperti sapi, domba atau kuda. Tapi dimana aku mendapatkannya.” Pikir Young Jae.

Suatu ketika ketika Young Jae pulang kerumah, dia menemukan seekor kuda dengan gerobak di depan rumahnya.ada tulisan di samping gerobak itu “BAE FAMILY”. Young Jae tidak percaya dengan mata berkaca-kaca dan berlari kerumah dan berseru, “ku..kuda di luar dari mana ayah mendapatnya?”

“Beli. Kita bisa berjualan ketempat yang lebih jauh dengan se ekor kuda. Mungkin lima atu empat tahun lagi kita akan mampu membeli se ekor kuda lagi, coba bayangkan.”

Itulah segala cita-cita ayahnya, mempunyai dua ekor kuda rentan untuk menarik gerobak. Young Jae ingin menangis karena miris mendengarnya.

Malam ketika semua tidur, Young Jae keluar ke kandang dan mempersiapkan semua percobaanya. Tentu saja ayahnya tidak boleh tau apa yang dilakukannya, dia harus hati-hati. Setelah berharil menyelinap kekandang, Young Jae langsung meracik ramuannya.

Setelah selesai membuat laboratoriumnya sendiri, Young Jae membuat kultur difteri pada cawan menggunakan kaldu ayam. Lalu melemahkan kuman itu dengan mengencerkan dan memanaskannya, lalu memasukannya kebotol untuk disuntikkan. Sesaat sebelum menyuntikkan sampelnya Young Jae berkata, “Kau akan terjun dalam usaha obat-obatan” dia memberitahu kudanya. Young Jae menyuntikkan ramuan itu pada punggung kudanya sesuai buku yang dibacanya. Lalu kudanya memandang Young Jae dengan tatapan menuduh lalu menghadiahi Young Jae dengan air seninya.

Young Jae memperkirakan kumandifteri itu membutuhkan tujuh puluh dua jam untuk berkembang di tubuh si kuda, kemudian dia akan menyuntikkan dengan dosis yang lebih besar lagi dan melakukan hal yang sama lagi. Jika dosis genetika itu benar, maka dalam setiap dosis akan membentuk ketahanan tubuh yang sangat kuat untuk melawan penyakit itu di darah. Young Jae akan mendapatkan Vaksinnya. Kemudian dia akamencobakannya pada manusia, itu tidak sulit. Seorang dengan penyakit yang mematikan akan dengan senang hati akan memcoba segala kemungkinan untuk sembuh.

Selama dua hari kemudian Yong Jae nyaris melawat semua waktunya bersama kudanya.

“Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mencintai binatang.” Kata ayahnya “Kamu tidak bisa pisah dengannya bukan?”

Young Jae menggumankan jawaban yang tidak jelas. Dia diliputi rasa bersalah, tapi dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Dia tau apa akibatnya jika dia mengatakan yang sebenarnya. Yang perlu dilakukan beriktnya adalah mengambil darah kudanya untuk membuat ramua. Dan tak perlu ada yang tau.

Pada pagi yang ketiga, yang merupakan hari yang menetukan. Young Jae bangun karena suara ayahnya di depan rumah. Dia segera bangun dan bergegas ke tempat ayahnya. Ayahnya berdiri di depan rumah dengan gerobak dan berteriak-teriak. Dia tidak melihat kudanya.

“Budak sialan!” Teriak ayahnya. “Penipu, pembohong! Pencuru!”

“Diaman kudanya?” Tanya Young Jae yang berhasil menyeruak dari kerumunan yang melai mengelilingi ayahnya.

“Syukur kau menanyakannya,” jawab ayahnya, “Dia mati. Dia mati ditengah jalan seperti se ekor anjing!”

“Semuanya berjalan baik selama ini. Aku mengurus jualanku, tidak memukulnya, atau mendorong-dorngnya seperti pedagang yang lainnya. Atpi apa yang kudapat? Dia mati di tengah jalan. Jika aku menemukan penipu yang menjualnya. Akan kubunuh dia!”

Hati Younh Jae hancur dan luluh. Kematian kuda itu lebih dari itu. dengan matinya kuda itu, maka impian Young Jae juga mati, kesempatan membebaskan dari kemiskinan, kebebasan dan rumah indah Song Hye Gyo dan anak-anak mereka.

Namun bencana yang lebih besar masih akan terjadi.

Sehari setelah kematian kudanya, Young Jae mendapat kabar dokter Song dan istrinya berencana menikahkan Hye Gyo dengan seorang Rabi. Dia tidak bisa percaya. Hye Gyo adalah miliknya! Young Jae bergegas ke rumah dokter Song. Dia menemui dokter Song dan istrinya di ruang tamu. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menanyakan, “Ada suatu kekeliruan, kekeliruan tentang Hye Gyo. Hye Gyo akan menikah dengan saya.”

Mereka memandang dengan mata terbelalak padanya.

“Saya tau saya tidak layak dengan dia” dia lalu menambahkan. “Dai tidak akan bahagia selain menikah dengan saya. Rabi itu terlalu tua…”

“Pengemis!Gila!keluar!keluar!keluar!!” teriak istri dokter Song tak mampu mengendalikan diri.

Semenit kemudian Young Jae dilempar kejalan. Dilarang keras menginjakkan kaki dirumah dokter Song. Di tengah malam Young Jae melakukan percakapan dengan Tuhan.

“Apa yang kau kehendaki dariku? Jika aku tidak bisa memiliki Hye Gyo, kenapa kau biarkan aku mencintainya? Apakah Kau tak berperasaan?” dalam keputus asaan Young Jae berteriak, “Kau dengar!?”

Dan kemudian orang-orang di rumah yang penuh sesak itu menjawab, “Kami semua mendengarmu Young Jae. Demi Tuhan, tutup mulutmu dan biarkan kami tidur sebentar.”

Sore hari berikutnya dokter Song memanggil Young Jae, mereka semua berkupul di ruang tamu, Dokter Song, istrinya dan juga Hye Gyo.

“Rupanya kami menghadapi suatu masalah.” Dokter Song membuka pembicaraan. “Anak gadis kami ternyata bisa keras kepala. Dengan beberapa alasan ternyata dia juga menaruh minat kepadamu. Aku tidak bisa menyebutnya cinta Young Jae, karena saya tidak yakin gadis remaja mengerti cinta. Namun ternyata dia menolak menikah dengan Rabi Lee. Dia merasa ingin menikah denganmu.”

Young Jae mencuri pandang pada Hye Gy. Gadis itu tersenyum padanya. Young Jae nyaris meluap karena kegirangan, namun kebahagiaan itu hanya sekejap.

“Kau mengatakan bahwa kau mencintai anakku?” dokter Song meneruskan.

“y..y..ya, Tuan.” Jawab Young Jae terbata-bata. Dia menjab lagi dengan suara yang meyakinkan, “Ya, tuan.”

“Kalau begitu Young Jae, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah kamu ingin membiarkan Hye Gyo menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang istri pendorong gerobak?”

Young Jae melihat sebuah jebakan, namun tidak ada lagi langkah mundur. Dia memandang Hye Gyo sesaat lalu menjawab, “Tidak Tuan.”

“Nah, sekarang kau bisa melihat masalahnya. Tidak seorang pun diantara kita yang ingin melihat Hye Gyo menikah dengan seorang pendorong gerobak. Padahal kau seorang pendorong gerobak Young Jae. Aku tidak akan membiarkan anak gadisku menikahi orang seperti itu.”

Young Jae memandang mereka dengan perasaan kalut. Dia datang kesini dengan perasaan kalut, lalu diangkat dan kemudian dibanting lagi dengan tak berperasaan kejurang kesedihan yang hitam kelam. Apa yang mereka inginkan darinya?

“Kami sudah mencapai suatu kesepakatan” Kata dokter Song. “Kami akan memberimu waktu enam bulan untuk membuktikan kalau kamu lebih dari seorang pendorong gerobak, Young Jae. Kalau dalam enam bulan kamu belum mampu membuktikan kamu layak untuk menikahi Hye Gyo, maka seperti yang dialaminya selama ini, dia akan menikahi Rabi Lee.”

Young Jae memandang dengan pandangan kaku, “Enam bulan!”

Tidak ada seorang pun yang mencapai keberhasilan dalam enam bulan! Jelas Tidak seorang pun penghuni daerah ini.

“Kau mengerti, Young Jae?” Tanya dokter Song.

“Ya, Tuan.” Perut Young Jae seperti diaduk-aduk. Dia tidak hanya membutuhkan jalan keluar, dia membutuhkan Mukzizat. Keluarga dokter Song hanya mau menantu seorang dokter, seorang rabi atau seorang kaya. Young Jae lalu meneliti setiap kemungkinan.

Hokum melarangnya menjadi seorang dokter.

Pendidikan seorang rabi dimulai ketika umur tiga belas. Sekarang dia berumur hampir delapan belas.

Kekayaan? Hal itu diluar jangkauan. Mesikipun dia menjajakan barang dagangannya selama dua puluh empat jam selama Sembilan puluh tahun, dia kan tetap dililit kemiskinan. Keluarga dokter Song memberikan tugas yang mustahil padanya. Sepertinya mereka menuruti keinginan Hye Gyo dengan menunda pernikahan dengan ember sayarat pada Young Jae, yang mereka yakin tak mungkin dicapainya. Hanya Hye yang percaya padanya. Dia yakin Young Jae akan mampu menemukan suatu kehebatan atau keberuntungan dalam enam bulan. Dia lebih edan dariku, pikir Young Jae putus asa.

Dan waktu enam bulan itu pun berjala. Waktu berlalu dengan sangat pesat. Young Jae menjalani harinya menjadi pedagang kelontong membantu ayahnya di pasar, dan begitu senja datang dia akan bergegas pulang lalu makan dengan kilat. Lalu dia akan menghabiskan waktunya di laboratorium pribadainya untuk meracik serum, yang kemudian disuntikkannya pada kacing, anjing, kelinci, tikus dan burung-burung. Dan semua hewan itu mati. Mereka terlalu kecil, aku butuh yang lebih besar lagi, pikir Young jae.

Tapi dia tidak punya seekor pun dan waktu berpacu sangat cepat.

Dua kali seminggu Young Jae akan ke kota untuk menambah barang dagangan yang dijualnya bersama ayahnya dalam gerobak. Namun pikirannya di dunia lain.

Dia berusaha berbicara pada saudagar kaya di Jaeju, dan hanya sedikit dari mereka yang mau meluangkan waktunya. Mereka yang mempunyai waktu itu hanya member saran tak berharga. “Kau ingin mendapat uang? Tabunglah uangmu nak. Sehingga suatu saat, kamu mempunyai uang untuk membeli perusahaan sperti punyaku.”

Mudah bagi mereka berkata begitu, sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga kaya.

Young Jae terpikir untuk membawa Song Hye Gyo dan melarikan diri. Tapi kemana? Pada akhirnya dia akan menjadi budak yang terbuang. Tidak, dia terlalu mencintai Song Hye Gyo. Dia tidak sampai hati melakukan itu kepadanya. Disinalah perangkap itu, dia telah terjebak di dalamnya.

Waktu enam bulan bagi young Jae cepat menyusut menjadi lima bulan, kemudian empat bulan, kemudian tiga bulan. Tiada satu hari pun, satu jam pun waktu yang dihabiskan Young jae tanpa memikirkan jalan keluar untuk masalahnya. Satu-satunya hiburan bagi Young Jae, dia beleh bertemu kekasihnya, Hye Gyo, tiga kali dalam seminggu. Tentu saja Hye Gyo di sertai pendamping dalam pertemuan mereka, dan setiap kali dia bertemu Hye Gyo, dia semakin mencintai gadis itu. namun, semuanya menumbuhkan perasaan pedih. Semakin sering ia menemui kakasihnya itu maka semakin dekat dekat waktu dia akan melepaskan kekasinya itu. “Kau pasti akan  menemukan suatu jalan.”Song  Hye Gyo terus- menerus menyemangatinya.

Dan sekarang waktunya tinggal tiga minggu dan Young Jae masih belum menemukan satu jalan pun. Keadaanya masih tetap sama seperti awalnya.

Pada suatu malam Hye Gyo datang mengunjunginya dikandang. Dia mengalungkan tanganya di bahu pemuda itu, dan berkata, “Ayo kita melarikan diri Young Jae.”

Young Jae belum pernah mencintainya sedalam ini. Gadis itu rela merendahkan derajatnya, melepaskan Ayah-Ibunya, melepaskan kenyamanannya, untuk dirinya.

Dia memeluk gadis itu erat-erat, dan berkata, “Aku tidak bisa. Kemana pun aku pergi, aku tetap pendorong gerobak.”

“Aku tidak peduli.”

Young Jae membayang kan rumah Hye Gyo yang besar dengan kamar yang kuas, serta para pelayan dan membandingkan kamar kecil dan kumuh yang dia tinggali bersama ayahnya. “Tapi aku peduli Hye Gyo.”

Lalu Hye Gyo pun berbalik pulang.

Keesokan harinya, Young Jae bertemu dengan Yoon Jae Suk, matan teman sekolahnya dulu, yang berjalan menuntun seekor kuda. Kuda itu hanya bermata satu, menderita kejang akut, tuli dan lumpuh.

“Pagi Young Jae.”

“Pagi Jae Suk. Aku tidak tau kau mau kemana dengan kuda malang itu, tapi sepertinya kau harus bergegas karena sepertinya kuda itu tidak memiliki banyak waktu lagi.”

“Dia tak perlu berlama-lama, karena aku Bou Youl ke pabrik pengerat.”

Mendadak Young Jae mengamati binatang itu dengan penuh minat, “Sepertinya mereka tak membayarmu terlalu mahal untuknya.”

“Aku tahu. Aku hanya butuh beberapa koin untuk membeli gerobak.”

Hati Young Jae berdebar keras, “Rasanya aku bisa menolongmu. Aku bersedia menukar gerobakku, sehingga tidak perlu melakukan perjalanan panjang.”

Tawar-menawar itu tak sampai lima menit.

Sekarang, dia hanya perlu merakit gerobak lain, dan menjelaska bagaiman dia kehilangan gerobak itu dan bagaimana ina memperoleh se ekor kuda rentan.

Young Jae menuntun Bou Youl ke kandang kudanya dulu. Semakin diamati, keadaan kuda itu lebih mencemaskan dari yang terlihat. “Jangan kawatir Bou Youl, kau akan membuat sejarah pengobatan.” Kata Young Jae.

Beberapa menit kemudian, Young Jae langsung mengerjakan sebuah serum baru.

……………………

Karena keadaan Jaeju yang padat dan kotor, wabah penyakit sangat mudah berjangkit. Wabah petrakhir adalah berupa demam, disertai batuk parah, pembengkakan kelenjar dan kematian yang memilukan. Para dokter tidak tau penyebabnya atau bagaimana cara mengobati penyakit itu. Ayah Yoon  Jae Suk terkena penyakit itu. Ketika Young Jae mendengar iru dia langsung bergegas menemui Yoon Jae Suk.

“Dokter seudah kesini,” Kata pemuda itu terisak. “Katanya tidak ada yang bisa dilakukan.” Young Jae bisa mendengar suara batuk yang memilukan itu.

“Ada sesuatu yang ingin kamu lakukan untukku,” Kata Young Jae. “Berikan padaku sehelai sapu tangan ayahmu.”

Jaesuk memandang Young Jae dengan tatapan heran. “Apa?”

“Saputangan yang bekas dipakainya. Hati-hati saputangan itu penuh dengan kuman.”

Satu jam kemudian Young Jae sudah berada di kandang. Dengan hati-hati dia memindahkan isi saputangan itu ke cawan berisi kaldu. Dia bekerja seharian hingga malam, lalu esoknya, esoknya dan esok hari berikutnya. Dia menyuntikka dosis-dosis kecil kepada Bou Youl yang sabal, lalu dosis yang lebih besar lagi. Dia melawan waktu, berusaha menyelamatkan hidup ayahnya Jae Suk.

Berusaha menyelamatkan hidupnya sendiri.

…………………………….

Bertahun-tahun kemudian Young Jae tidak tahu, apakah Tuhan memilihnya atu si kuda yang rentan. Bou Youl mampu menghadapi dosis yang semakin meningkat, hingga ia memperoleh anti toksinnya yang pertama. Tugas berikutnya adalah membujuk ayah Jae Suk untuk mencobakan anti toksin itu kepadanya.

Ternyata usaha itu tidak memerlukan bujuk rayuan. Ketika Young jae menemui laki-laki itu, rumahnya penuh sesak oleh sanak saudaranya yang menangisi lelaki yang menyambung nyawa itu.

“Dia hanya punya waktu sebentar lagi,” Kata Jae Suk

“Boleh kah aku menengoknya?” Tanya Young Jae.

Katika ia melihat ayah Jae Suk, Nampak sekali pria itu sedang menunggu maut. “Aku ingin bicara padamu dan ibumu,” Kata Young Jae.

Tak ada satupun diantara mereka berdua pada botol kecil yang di bawa Young Jae, tapi biarbagaimanapun tidak ada kemungkinana selain mati. Mereka mengambil resiko itu, semata-mata karena tidak rugi.

Young Jae menyuntikkan serum itu kepada ayah Jae Suk, lalu dia menunggui pria itu selama tiga jam. Tidak ada perubahan. Serum itu tidak bekerja. Malah sebaliknya, batuk sisakit tambah gencar. Young Jae pulang tanpa berani menatap Jae Suk.

Karena kelelahan fisik dan mental Young Jae terhempas di ranjangnya seketika itu juga. Young Jae terbangun karena seseorang yang memanggil-manggil dan mengguncang-guncang tubuhnya. Ia membuka matanya, Jae Suk berdiri didepannya dengan keadaan tak terkendali. “Sudah berhenta!” Teriaknya. “Batuk-batuk itu sudah berhenti. Benar-benar sebuah keajaiba! Ayo ikut kerumah.”

Ayah Yoon Jae Suk duduk di tempat di tempat tidurnya. Demannya hilang secara ajaib, batuk-batuknya berhenti.

Ketika Young Jae melengkah mendekati ranjang itu, ayah Jae Suk berkata, “Rasanya aku ingin makan soup ayam.” Dan tangis Young Jae pun pecah.

Berita tentang ayah Jae suk dengan cepat menyebar keseluruh daerah. Keluaraga yang diambang kematian berduyun-duyun mendatangi rumah keluarga Bae, memohon pada Young Jae untuk diberi sedikit serum ajaibnya. Young Jae kewalahan melayani permintaan mereka. Dia mendatangi Dokter Song. Dokter itu sudah mendengar apa yang dilakukan Young Jae, namun dia belum yakin.

“Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,” kata dokter Song padanya. “Buatlah satu adonan serum. Aku akan mencobakannya pada seorang pasienku.”

Ada puluhan pilihan, dan dokter  Song memilih yang paling tidak punya harapan hidup. Dalam duapuh empat jam, pasien itu sudah menuju kesembuhan.

Dokter Song menemui Young Jae di kandang, tempat dia bekerja siang-malam membuat serum,dan berkata, “Serum itu bekerja Young Jae, kau berhasil. Apa yang kau minta sebagai mas kawin?”

Young Jae pun mendongak, dan menjawab letih, “Seekor kuda lagi.”

Tahun 1921 adalah awal kelahiran BS Kingdom.

Bae Young Jae dan song hye gyo kemudian menikah. Young Jae menerima mas kawin berupa enam ekor kuda dan sebuah laboratorium kecil, namu dengan peralatan yang lebih lengkap.

Young Jae mengembangkan penelitiannya. Dia mulai menyuling ramuan dari tumbuh-tumbuhan, dan tetangganya mulai mendatangi laboratorium kecilnya untuk membeli obat berbagai penyakit. Mereka tertolong, ketenaran Young Jae pun semakin menyebar. Kepada mereka yang tak mampu mambayar Young Jae selalu berkata, “Tidak perlu khawatir, ambil sajalah.” Sedangkan kepada Hye Gyo, “obat adalah untuk menyembuhkan, bukan untuk mencari keuntungan.”

Usahanya terus melaju pesat, dan tidak lama kemudian dia berkata pada Hye Gyo, “kurasa kita perlu membuka took kecil, yang mana kita bisa menjual salep, serbuk obat dan bahan-bahan lain disamping resep.” Usaha itu berhasil sejak awal. Para bangsawan dan hartawan yang dulu menolak membatu Young Jae datang dan menawarkan uang.

“Kita bisa menjadi mitra usara,” Kata mereka. “mari kita membuka rantai pertokoan.”

Young Jae berkata pada Hye Gyo, “aku takut pada mitra usaha.ini usaha kita. Aku tidak suka orang luar ikut memiliki bagian hidup kita.”

Hye Gyo setuju dengannya.

Ketika usaha itu semakin maju dan berkembang dengan took-toko baru. Tawaran uang terus mengalis. Young Jae tetap menolak.

Ketika ayah mertuanya bertanya, dia akan menjawab, “jangan sekali-kali memasukkan rubah yang ramah kekandang ayam. Suatu hari dia akan lapar.”

Sementara usaha Young Jae terus berkembang, demikian juga pernikahannya. Shye Gyo melahirkan satu anak laki-laki dan empat perempuan –Bae Jin Young, Bae Min Young, Bae Lin young,Bae Hye Soo, Bae Hye Rin. Setiap kelahiran anak dibarengi dengan cabang baru yang di bukanya. Mulanya Young Jae mempekerjakan satu orang untuk membantunya, kemudian dua dan dalam waktu singkat dia sudah mempekerjakan lebih dari dua lusin orang.

Suatu hari seorang pejabat pemerintah datang mengunjungi young Jae dan berkata, “Kami menghapuskan batasan kepada seorang budak, kami ingin anda membuka sebuah apotek dan took obat si Seoul.”

Young Jae pun melaksanakannya. Hanya dalam waktu tiga tahun dia sudah cukup makmur untuk mendirikan sebuah bangunan sediri dipusat kota Seoul, dan membelikan rumah yang indah untuk Hye Gyo. Young Jae akhirnya mampu mengapai cita-citanya untuk keluar dari tanah perbudakan.Namun impiannya jauh menembus batas-batas perbudakan.Dan ketika anak-anaknya cukup umur untuk sekolah, dia menggaji guru-gru pribadai pada mereka. Setiap anak belajar bahasa yang berbeda.

“Dia sudah gila,” ujar ibu mertua Young Jae. “Dia menjadi bahan tertawaan tetangga sekitar dengan menyuruh Jin Young dan Min Young belajar bahasa inggris,lin Young bahasa Jerman, Hye Soo bahasa prancis dan Hye Rin bahasa Italia. Tak seorang pun di daerah ini berbicara bahasa-bahas tak karuan itu, kepada siapa mereka akan berbicara? Bahkan sesame anak itu tak bisa saling berbicara.”

Young Jae hanya tersenyum dan menjawab, “Ini hanya awal pendidikan mereka.” Dia tau kepada siapa kelak anak-anaknya berbicara.

Ketika anak-anak mereka remaja, mereka sudah bepergian bersama ayah mereka keluarga mereka. Dia menetapkan rancangan masa depan yang kuat pada mereka. “Jin Young akan ke Amerika, Min Young ke  Inggris,Lin Young ke  Jerman, Hye Soo ke  Prancis dan Hye Rink e Italia.” Ibu Hye Gyo menolak keras usul Young Jae.

“Tidak! Mereka tidak akan kemana-mana. Mereka akan tetap disi, di tempat yang aman!”

“Tidak, mereka harus pergi keluar negri dan membangun setiap pabrik di Negara itu.” kata Young Jae tegas.

“Baik Ayah.” Jawab mereka.

Demikianlah terjadi. Young Jea berhasil mengirim anaknya keluar negri dan dalam tujuh tahun memiliki tujuh cabang pabrik di lima negra berbeda. Dia membantu anak-anaknya membangun setiap pabrik. Mereka hampir sebuah dinasti, dan Young Jae memerintahkan pengacaranya sedemikian rupa untuk mengatur, meskipun mereka perusahaan yang bebas mereka semua tetap bertanggung jawab pada perusahaan induk.

“Jangan ada orang luar,” Young Jae terus mengingatkan pengacaranya. “Saham tidak boleh meninggalkan keluarga.”

Dalam tahun-tahun berikutnya, ramalan Young jae pun menjadi kenyataan. Perusahaan itu tumbuh dan berkembang. Meskipun keluagannya berpencar di berbagai Negara, Young Jae dan Hye gyo tetap membuat suatu ikatan yang erat. Mereka akan selalu pulang dalam setiap perayaan dan ulang tahun. Tapi itu tidak hanya sekedar acara keluaga, namun mereka akan dengan cepat membahas masalah perusahaan.

Karena Bae Jin Young adalah anak laki-laki satu-satunya dan anak tertua maka dia yang memegang pusat kendali dan pemimpin perusahaan. Dian akan memegang limah puluh persen perusahaan, dan limahpuluh persen sisanya akan dibagi untuk empat orang anak perempuannya.

Tidak lebih dari setengah abad setelah dibangun, BS Kingdom sudah menjelma menjadi perusahaan multi internasional yang melingkari dunia.Perusahaan itu berpusat di Amerika dan di Seul sebagai kota berdirinya.

………………..

Setelah selesai membaca buku itu, mungkin untuk yang kelima kalinya, Suzy dengan tenang mengembalikannya kebalik lemari kaca. Dia tidak memerlukannya lagi. Dia merupakan bagian darinya, seperti buku itu merupakan bagian dari dirinya.

Untuk pertamakalinya dalam dirinya Suzy tau siapa dirinya dan darimana asal usulnya.

………………………………….

Suzy pertama kalinya bertemu dengan cho Kyuhun  pada hari ulang tahunya yang kelima belas, semester kedua di tahun pertama di sekolah. Lelaki itu tiba untuk membawakan hadiah ulang tahun untuknya dari ayahnya.

“Sebenarnya ia ingin datang sendiri,” Kyuhun menjelaskan, “tapi ia sibuk sekali.” Suzy berusaha menyembunyikan kekecewaannya, namun Kyuhun dapat menangkapnya. Ada suatu kesenduhan pada gadis itu, suatu kepolosan yang menyentuh hatinya. Tanpa pikir panjang, ia berkata, “bagaimana kalau kau dan aku makan bersama?”

Itu gagasan yang berbahaya, pikir Suzy. Dia bisa membayangkan mereka jalan berdua bersama –dia pria yang luarbiasa tampan, sopa. Sedangkan dirinya? Gemuk, berwajah tembam dan berkawat gigi – “Tidak, terimakasih..tidak.” jawab Suzy kaku, “Sa..sa..saya masih banyak pelajaran.”

Namun, Kyuhun tidak mengenal penolakan. Dia membayangkan berbagai ulang tahunnya sendiri, yang berlalu dalam kesepian. Dia berhasil mendapat ijin dari kepala sekolah suzy untuk keluar, membawa Suzy untuk makan. Mereka masuk ke mobil Kyuhun, yang berjalan menuju bandara.

“Jadi kita mau kemana?” Tanya Suzy.

“Ke London Long’s Café . Itu lah tempat yang pantas untuk merayakan ulangtahun yang kelimabelas.”

Mereka terbang ke London dengan pesawat pribadi, dan menikmati makan malam yang hebat. Mereka makan makanmalam dengan menu yang luar biasa lezat dan juga sampanye yang ditutup dengan kue ulang tahun. Mereka pulang ke Manchester malamnya.

Itu adalah malam paling luar biasa dalam hidup Suzy. Entah bagaimana, Kyuhun berhasil membuatnya merasa cantik, menarik dan merupakan pengalaman memabukkan baginya. Ketika Kyuhun menurunkannya disekolah, Suzy berkata, “Aku tak tau caranya berterimakasih padamu. Ini..ini adalah malam yang paling indah yang pernah kualami.”

“Baerterimakasih lah pada ayahmu, semua ini atas anjurannya,” jawab Kyuhun.

Tapi Suzy tahu, bahwa itu semua tidak benar.

Suzy menyimpulkan cho Kyuhun adalah paling mengagumkan yang pernah di temuinya. Tak diragukan juga lelaki paling menawan. Malam itu dia naik ke tempat tidur dengan memikirkan lelaki itu, kemudian bangkit lagi menuju meja belajarnya dan mengambil sehelai kertas dan pena lalu menulis, “NYONYA CHO KYUHYUN”

Lama sekali ia menatap kata-kata itu.

……………………

Cho Kyuhun terlambat duah puluh empat jam menghadiri kencanya dengan seorang model inggris. Dia bersama model itu mengunjungi tempat yang sama dengan dengan Suzy. Namun entah bagai mana dia merasa ketika ia bersama suzy jauh lebih menyenangka.

Suatu saat, Bea Suzy akan menjadi gadis yang harus diperhitungkan, pikir pemuda itu.

………………….

Suzy tidak tau siapa yang paling berpengaruh atas perubahan dirinya –Bae Young Jae atau Cho Kyuhun. Tetapi dia mulai merasa bangga pada dirinya sendiri. Dia tidak lagi makan terus-menerus, tubuhnya mulai langsing. Dia mulai menyukai olah raga, dia mulai menikmati masa-masa sekolah. Teman-temannya nyaris tak percaya. Mereka sering mengundang Suzy di pesta piyama mereka dan Suzy selalu menolak. Tanpa diduga, dia muncul di suatu pesta piyama.

Pesta itu berlangsung di kamar berisi empat orang gadis sekamar. Ruangan itu penuh sesak oleh dualusin gadis berpakaian piyama. Begitu Suzy masuk, mereka semua menoleh dan berkata, “coba lihat siapa yang datang! Kami sudah bertaruh bahwa kau tidak akan datang.”

“Tapi, aku..aku ada disini.”

Udara diliputi asap rokok yang pekat. Suzy tahu banyak diantara gadis-gadis itu mengisap mariyuana, tapi ia belum pernah mencobanya sekalipun. Seorang gadis pirang warga Negara Prancis menghampiri dia dan berkata, “kau pernah merokok?”

Itu lebih ke pernyataan dari pada pertanyaan. “Tentu.” Kata suzy berbohong dan menerima rokok itu, bimbabg sesaat lalu mulai menghirup rokok itu. dia merasa wajahnya berubah warna menjadu hijau dan paru-parunya bergolak, tapi ia mampu mengulun senyum. “Asik.”

Tak lama ketika gadis Prancis itu berbalik, Suzy menghempaskan tubuhnya ke bangku. Dia merasa pusing sebentar lalu lenyap. Dia menghirup lagi, kepalanya ringan luar biasa. Suzy pernah mendengar efek dari mariyuana. Bahan itu mampu member perasaan bebas,membebaska sesuatu dari dirinya. Dia menghirup lagi, kali ini jauh lebih dalam, dan merasa dirinya mulai melayang-layang, seperti berada di pelanet lain. Dia bisa mendengar suara-suara dan pembicaraan temannya hanya samar-samar dan jauh sekali, cahaya lampu silau sekali dan dia menutup matanya. Ketika ia menutup matanya dia merasa seperti ia berada di luar angkara. Perasaan itu sangat menyenangkan. Sesorang memanggil-manggil namanya, seolah menurunkan ia kembali kebumu dan dengan enggan ia membuka matanya. Dia melihat gadis perancis itu mengguncang-guncang tubuhnya dengan kekhatiran.

“Kau tidak apa-apa, Bae?”

“Oh aku merasa hebat,” dengan perasaan yang belum sadar dia melanjutkan, “aku belum pernah menghisap mariyuana.”

Gadis perancis itu memandangnya dengan mata terbelalak, “Mariyuana? Tapi itu tadi hanya rokok Gualoise.”

……………………………………..

Dalam liburan paskah, ditahun terkhir sekolah –ketika berumur delapan belas, Suzy pergi ke villa di Jaeju untuk menghabiskan sepuluh hari disana. Dia sudah belajar mengemudikan mobil, dan untuk pertamakalinya ia bebas menyusuri pulau iti seorang diri. Dia menyusuri setiap pantai di pulai itu dan mengunjungi kampong-kampung nelayan kecil. Dia berenang di villa. Malamnya dia menghadiri karnaval di pulai itu yang mana setiap penduduk menggunakan pakaian daerah. Kemudian dia mengunjungi tempat-tempat lain.

Di pulau itu terdapat sebuah pub kecil yang sangat terkenal dengan sepuluh meja dan bar kecil, Suzy sangat sering mengunjungi pub itu.

Suzy menjuluki liburan itu, liburan masa pemuda. Mareka dari kalangan golongan atas mengerumuninya dan mengajaknya berenang bersama dan menunggang kuda. Itu lah langkah pertama dalam pencarian jodoh.

“Mereka semua sangat memenuhi syarat.” Ayah Suzy meyakinkan.

Tapi bagi Suzy mereka hanya lah tong kosong. Mereka terlalu banyak minum dan banyak omong yang berusaha menggaetnya. Suzy yakin mereka menggaetnya bukan karena ia cerdas dan bermartabat, mereka menggaetnya karena ia keturunan keluarga Bae, ahli waris dinasti BS Kingdom. Suzy sama sekali tidak sadar dia telah tumbuh menjadi gadis yang sangat luarbiasa cantik, baginya lebih mudah mempercayai masa lalu dari pada pantulan yang di berikan kaca.

Para pemuda itu menyanjungnya tinggi-tinggi dengan berusaha menyeretnya ketempat tidur, ereka terperangkap oleh ego kelelakian mereka. Mereka tau Suzy masih perawan. Mereka berpikir Bae Suzy akan tahluk pada pria yang berhasil merobek keperawanannya, serta bersedia menjadi budaknya seumur hidup, karena biar bagaimanapun Suzy tetap lah seorang gadis Asia yang menjujung tinggi keperawanan. Mereka tak mau menyerah. Setiap kali para pria itu mengajaknya kemana pun akan berakhir sama, “Ayo kita tidur,” dan Suzy selalu menolaknya dengan sopan.

Mereka tak tahu bagai mana harus menghadapi Suzy. Mereka tau Suzy sangat cantik, dan dengan sendirinya mereka menganggap gadis itu bodoh. Tidak terpikir oleh mereka gadis itu jauh lebih cerdas dari mereka. Siapa sih yang percaya seorang gadis yang cantik sekaligus cerdas?

Maka Suzy pun pergi dengan pemuda-pemuda itu demi menyenangkan hati ayahnya. Tapi bagi Suzy mereka semua membosankan.

Kyuhun datang ke villa. Suzy jadi herean pada dirinya entah mengapa dia jadi begitu bersemangat begitu melihat pria itu lagi. Dia bahkan jauh lebih tampan dari terakhir kali ia melihat pria itu.

Kyuhun tampak senang melihatnya, “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya.

“Apa maksudmu?”

“Kau sudah menengok kecermin belakangan ini?”

Dia tersipu-sipu, “Tidak.”

Lalu Myungso menoleh pada Bae Soo Jae, “aku rasa semua pemuda sudah buta, tuli dan dungu. Aku yakin Suzy tidak akan lama bersama kita.”

Kita! Suzy senang menyebut kata itu. Dia mendampingi ke dua pria itu sebatas keberaniannya, menyiapkan minum dan membantu mengerjakan berbagai tugas untuk mereka. Suzy sudah senang sebatas bisa memandang Kyuhun. erkadang Suzy duduk menjadi latar belakang yang hanya mendengarkan mereka berbicara. Membahas tentang penggabungan dan membangun pabrik-pabrik baru, membahas tentang pesaing, menyusun siasat dan siasat-balik, membahas tentang produk-produk baru, produk yang berhasil dan produk yang gagal serta sebab-sebabnya. Bagi Suzy semua serba memusingkan.

Suatu hari ketika Soo Jae sedang asik bekerja sendiri, Kyuhun mengajak Suzy untuk makan siang bareng. Suzy membawa Kyuhun ke bar yang sering di kunjunginya di pulau itu. suzy mengamati Kyuhun  yang sedang asik main lempar panah di bar itu bersama pengunjung lain. Suzy sangat kagum akan pembawaan pria itu. Lelaki itu sepertinya sangat mudah menyesuaikan diri di setiap tempat. Dia pernah mendengar istilah Spanyol yang tidak di mengertnya, namun ketika melihat Kyuhun dia mengerti, dia seorang ‘ketika masuk kandang kerbau menguak, masuk kandang kambing mengembik.’

Mereka duduk di sudut ruangan dengan meja kecil, makan daging panggan dan minum soda dan bercakap-cakap, Kyuhun menanyakan keadaan sekolahnya.

“Yah ternyata menyenangkan,” Suzy mengaku. “sekarang aku menyadari betapa sedikit yang ku ketahui.”

Kyuhun tertawa mendengar itu, “tidak banyak sang sampai ke tahap itu. kau selesai bulan Juni, bukan?”

Suzy heran bagaiman ia tahu, dan menjawab, “Iya.”

“Sudah tau apa yang akan kau lakukan setelah itu?”

Itu pertanyaan yang sering di pikirkannya akhir-akhir ini, “Belum, aku belum yakin tentang itu?”

“Ada rencana untuk menikah?”

Sesaat jantungnya berdetak kencang, kemudian menyadari itu pertanyaan yang wajar, “tidak. Aku belum menemukan yang tepat.” Dia pun terkekeh.

Lalu dia mengamati  Cho Kyuhun dan menyadir dia tidak mengenal pria memikat  yang ada di depannya itu, mereka sama-sama asing satu sama lainnya. Dia mendapati Cho Kyuhun adalah pria yang terdiri dari beberapa lapis yang sulit di mengerti dan terkesan misterius. Suzy berguman dalam hati, “apakah ada seseorang yang benar-benar mengenal pria ini?”

………………………

Bulan-bulan terakhir sekolah berlalu dengan sangat cepat, sudah waktunya memikirkan hari depannya. Suzy memikirkan pertanyaN Kyuhun ‘sudah tau apa yang akan kau lakukan setelah itu? dia masih bimbang. Karena Young Jae, Suzy jadi tertarik dengan perusahaan keluarga dan dia ingin menjadi bagian dari perusahaan itu. Dia masih bimbang dengan apa yang akan dia lakukan, mungkin dia bisa membantu ayahnya. Dia sudah sering mendengar cerita tentang beta hebatnya ibunya menjadi pendamping ibunya, betapa ia berhasil membuat ia sangat berate di hadapan Soo Jae.  Ia akan berusaha menggantikan tempat ibunya.

Ini akan menjadi langkah awal!

………………………………

Tangan duta besar Swedia dengan bebas membelai-belai pantat Suzy sementara mereka berdansa mengitari ruangan. Dengan senyum mengum, Suzy berusaha tidak menggubrisnya. Dengan ahli matanya mengamati tamu yang berpakaian anggun, orkes pengiring, pelayan yang berseragam, hidangan yang eksotis, anggur yang berkualitas, dan dia merasa puas dengan dirinya sendiri. Sebuah jamuan yang sempurna.

Mereka berada diruang dansa di rumah di Seoul. Tamu yang hadir sekitar dua ratusan, dan semua tamu adalah orang-orang yang sangat penting untuk BS Kingdom. Suzy merasa sang dubes mulai merapatkan tubuhnya berusaha merangsanganya, membelaikan lidahnya di telinganya dan berbisik, “Anda mahir sekali berdansa.”

“Begitu juga dengan anda,” Sahut Suzy. Mendadak ia melakukan kesalahan langkah dalam berdansa yang berakibat pada tumitnya yang runcing menginjak kaki sang dubes. Sang dubes mengaduh kesakitan dan Suzy berkata penuh penyeslan, “Maaf tuan saya tidak sengaja, bagaimana jika saya mengambilkan minum untuk anda?”

Dia pun dengan cepat meninggalkannya menuju bar, melangkah dengan ringan diantara tamu. Matanya dengan cermat menelititi ruangan, mengamati bahwa semuanya beres.

Kesempurnaan itulah tuntutan ayahnya. Suzy sudah menjelma menjadi nyonya rumah yang luarbiasa untuk ratusan jamuan yang diselenggarakan Soo Jae, namu Suzy belum bisa belajar santai.

TBC

Maaf ya aku lama gak post ff. Soale aku tak ada ide benar. Sebenarnya da ide yang berkeliaran di keplaku, tapi stelah d ketik setengah eh sudah kabur entah kemana dan berganti ke cerita yang berbeda, jadi aku punya banyak ff yang Cuma setengah jalan.

Ini ff gak bisa di bilang ideku, ini ide dari SIDNEY SHELDON, dia dalah salah satu pengarang favoritku, entah kenpa saat iseng cari-cari ide di internet muncul namanya, dan cerita yang ku pakai adalah yang paling aku suka, meskipun sudah sebagian besar ku ubah jalan ceritanya,  juga di next partnya akan jauh berbeda dari puya Sheldon.

Aku Cuma terinspirasisama idenya, tapi untuk cerita dan bahasanya aku kreasikan sendiri, tapi mungkin ada beberapa yang mirip, aku harap tak terlalu banyak. Sebenarnya novel sheldon yang ini juga aku sudah lupa dimana, sepertinya ada yang pinjam tapi belum balik, tapi aku sudah hapal ceritanya karena aku baca sdh lebih dari sepuluh kali, karena itu mungkin akan ada yang mirip. Kalau punya sheldon tentang pembunuhan dan perebutan harta, disini lebih ke masalah asmara, dan pekerjaan tanpa ada rebutan dan  tentang tanggung jawab juga kepercayaan. Tak ada pembunuhan sama sekali.

Jadi selamat membaca saja ya.

19 thoughts on “BELIEVE ME pt 1

  1. I’m the first…yey..
    Itu flashback semua ya thor? Sedikit membingungkan
    ada sedikit typo thor…tetep bagus kok, menghibur walaupn hrs sdkt berpikir

  2. rumit bgt, sbgian besar crita’a tntang yong jae.. Typo’a jg byk, jd pnasarn ma next’a.. D’lanjut gk nie min

  3. bagus dan seru thor, cuma awalnya agak bingung krn alurnya flashbag. ceritanya agk complex tp menarik. ada typo thor. di tunggu lanjutanya.^^
    😀

  4. meski ada typo tp aku msih bisa menikmatinya kok thor
    ceritanya bgus bnget thor…berasa baca novel
    dan kisah kakek buyut suzy bae yong jae luar biasa bnget
    awal2 cerita dibikin miris ma kehidupan suzy..kasian

  5. keren meski bigung tapi masalahnya kompleks banget, serumit silsilah keluarga suzy.
    suzy itu ibarat youn ja, kesepian. g dinggap ……..
    next thor

  6. Kisah yang sangat mengagumkan dri kakek buyut suzy. Astaga kerja keras nya bener2. Hemm kasian suzy.

  7. aku suka ff ini kerja keras kakek suzy patut di acungi jempol, dan cara ia mendidik anak-anaknya luar biasa aku suka.
    keaeluruhan aku suka di part ini masih tenang meskipun tak terlalu tenang. dan perkenalan keluarga bae itu menarik.
    ya meakipun agak bingung karna typo tapi akhirnya ngerti juga kk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s