THIS MY PUNISHMENT

Image

Author                  : dordor

Cast                       : Bae suzy

Genre                   : Sad, family

Lenght                  : one shot

 

Aku kembali dengan ff one shot lagi, dan lagi sebagai permintaan maaf karena tak bisa mempublis it,s okay because I love you, maaf ya sekali lagi. Part 4 ya sebenarnya sudah selesai. Tapi aku tukaran laptop sama temanku solae dia mau nonton fil di laptoku, katanya dia malas meng copy dan aku juga lupa mengkopinya jadilah belum bisa di post. Dan mungkin baru bisa di post minggu depan.

 Karena merasa bersalah akhirnya aku ketik ff ini semalam suntuk. Dan maaf jika ceritanya maksa banget dan juga kacau. Maklum aku belum ahli dalam hal tulis menuli, masih dalam tahap belajar, semoga pada suka deh.

Oke langsung aja, selamat membaca.

 

09 sept 2012

“Lapor komandan! Gadis pembunuh berdarah dingin itu mencoba kabur lagi,” seorang petugas polosi melapor pada komandannya. Sang komandan langsung mengangkat wajahnya dari berkas-berkas yang sedang di telitinya itu dengan wajah kaget dan marah.

“Bagai mana bisa kalian tidak becus begitu. Apa yang sedang kalian lakukan hingga dia bisa mencoba kabur!” Sang komandan benar-benar murka. “Bukankah sudah kukatan untuk mengawasinya dua puluh empat jam? Apa susahnya menjaga gadis yang bahkan belum genap berusia enam belas tahun?!”

“Maaf komandan atas kecerobohan kami. Kami sudah berusaha keras mengawasi dia, namun dia sangat pintar dan licik. Beberapa kali kami di kecohnya untung pada akhirnya kami berhasil mencegahnya.”

Sang komandan terdiam. Dia bingung harus berbicara apa. Dia juga tau gadis kecil itu sangat pintar, dia bahkan ikut kewalahan mengatasi gadis kecil itu. Gadis itu berulang kali membuat dia dan bawahannya seperti kebakaran jenggot karena sudah lebih dari lima kali berusaha untuk kabur selama hampir setahun sejak di tahan meskipun selalu gagal di detik-detik terakhir. Hampir mempermalukan kepolisian korea selatan dengan kaburnya gadis beursia lima belas tahu dari penjara. Gadis macam apa dia itu?

Ah tentu saja gadis iblis. Mana ada gadis berusia empat belas tahun sudah membunuh empat orang lebih dengan sadis dan yang lebih mengerikan salah satu korbannya adalah ayahnya sendiri. Gadis yang sangat cerdas karena setiap pembunuhannya tak pernah tercium sebelumnya. namun sepintar-pintarnya tupai melompat pasti akan jatuh, begitu juga gadis itu. Pada saat pembunuhan terkhir yaitu ayahnya akhirnya ketahuan juga.

Namun sang komandan masih bingung bagaimana seorang gadis cerdas seperti dia bisa teledor dalam membunuh dan kenapa dia selalu gagal kabur? Bukan kah dia sangat cerdas dalam mengatur waktu?

Mungkin karena dia memang apes saja. Bukankah kejahatan akan selalu terungkapa, pikir sang komandan polisi.

“Pak,” panggil anggota polisi itu pada komandannya, membuat sang komandan tersadar dari lamunannya. “Bagai mana menurut komandan tentang usul kami?”

“Ya, kenapa? Ususl yang mana,” sepertinya sngking sibuknya dengan dunianya dia tak mendengarkan perkataan bawahannya. Sang bawahan menghela nafas, agak tersinggung dengan tingkah komandanya tapi tak bisa marah. Akhirnya dia mengulangi.

“Menurut saya lebih baik kita memasukkanya keruang isolasi saja. Karena dia masih dibawah umur kita tak bisa mengukum mati dia tapi harus di bimbing. Namun menurut saya dia terlalu berbahaya jika dia terus digabung dengan tahanan anak-anak lain. Selain berbahaya dia juga bisa menghasut tahanan lain untuk kabur bersama. Dia sangat berbahaya dan licik, jadi lebih baik di masukkan ruang isolasi saja.”

Sang komandan berfikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju.

“Saya setuju. Kita lakukan sesuai usulmu. Saya akan mengurus surat pemindahan selnya,”

……………………………….

Sept 2005

“Appaaa…” seorang gadis kecil langsung berlari kearah pintu begitu melihat ayahnya pulang dari kantor.

“Aigo, putri ayah yang cantik,” sang ayah langung menggendong putrinya itu dengan penuh kerinduan dan sayang. Lelah seharian bekerja langsung lenyap begitu melihat senyum ceria putrinya. “hmm wangi, putri appa memang selalu terlihat cantik dan wangi,” kata sang ayah sambil mencium pipi putrinya.

“Appa jangan menciumku, appa belum mandi dan bau. Aku sudah mandi dan aku tak mau bau seperti ayah,” kata putrinya sedikit merajuk di gendongan sang ayah. “Appa baru boleh menciumku setelah appa mandi.”

“Aigo, appa sangat merindukanmu makanya appa tak tahan harus menunggu sampai mandi. Apa kau tak merindukan apaa juga?”

“Tentu saja, tapi appa tetap harus mandi dulu. Setelah itu kita makan, omma memasak soup kesukaan appa,” kata sang putri antusias.

“Arasso appa akan mandi, tapi sebelunya kau harus cerita giman tadi di sekolah.”  Kata sang app sambil duduk di sofa ruang tamu  dan masih menggendong putrinya di pangkuannya. Senyum manis langsung menghiasi wajah gadis kecil itu.

“Aku tadi mendapat nilai sepuluh dalam  pelajaran mati-matika dan aku satu-stunya yang dapat nilai segitu. Teman-temanku hanya dapat nilai tujuh saja paling tinggi,” ceritanya antusias.

“Aigoo, uri suzy tak hanya yeppo dan wangi tapi juga sangat pintar.”

“Tadi juga guru kesenianku memuji gambarku sangat bagus.”

“Menggambar? Memang kamu mengambar apa?”

“Aku menggambar taman penuh bunga, lalu ada kursinya dan aku, appa dan omma duduk di kursi itu sambil berpelukan.”

“Appa boleh lihat?” tanya sang appa yang di jawaban dengan anggukan oleh suzy.

“Boleh, tapi dengan syarat appa harus mandi dulu, appa bau. Nanti appa di omeli omma,” kata gadis suzy dan lalu mendekatkan mulutnya ketelinga appanya dan berbisik, “Omma kalu sudah mengomel sangat panjang dan menyebalkan, itu membuat kepalaku pusing. Dia seperti ajhuma-ajhuma yang berjualan ikan di pasar. Aku heran kenapa appa mau menikah denganya” Ayahnya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan putrinya itu.

“Memang ommamu begitu, appa saja pusing. Appa juga bingung kenapa appa mau menikah dengannya,” jawab sang ayahj uga dengan nada berbisik. Mereka hanya terkiki-kikik. Suzy baru akan membalas omongan ayahnya ketika ia mendengar suara ommanya.

“Hidung omma gatal tiba-tiba, sepertinya ada yang membicarakan omma secara diam-diam,” suzy mendongak dan langsung kaget begitu melihat ommanya sudah berdiri di samping sofa tempat ia dan appanya duduk. Suzy juga merasakan appanya yang kaget.

“Yeobo..sejak kapan kamu berdiri di situ? Kok datangnya diam-diam?” kata ayah suzy takut-takut melihat ekspresi wajah omma suzy.

“Jadi aku sangat cerewet seperti seorang penjual ikan di pasar?” kini omma suzy berkacak pinggang. “Aku tak percaya justru suami dan anakku yang menjelek-jelek kan aku di belakangku….”

“Appa lebih baik kita lari sebelum omma mengamuk,” bisik suzy di telinga appanya yang langsung di balas anggukan sang ayah. Sementara omma suzy masih tetap mengomel, suzy mulai memberi aba-aba pada appanya, “satu..dua..tiga..APPA LARII!” suzy dan appanya kompak lari sambil tertawa keras.

“Yak, lari ke mana kalian?!”

“Yeobo, aku mau mandi dulu!”

“Omma aku harus mengerjakan PR!”

Omma suzy hanya mendengus kesal, kemudia tersenyum senang melihat kelakuan konyol suami dan putrinya. Dian sangat senang dengan keadaan seperti itu, membuat rumahnya tersa ramai dan hidup. Kemudian memutuskan untuk kembali kedapur menyiapkan makan malam.

……………………..

“Wah, gambarmu sangat bagus suzy-ah,” puji appa suzy ketika melihat gambar putrinya.

Sekarang keluarga kecil itu berkumpul di karpet ruang keluarga setelah makan malam, yang merupakan kebiasaan mereka. Setelah satu harian sibuk diluar dengan kesibukan masing-masing, meraka wajib berkumpul seteleh makan malam dan menceritakan apa yang dilakukan seharian.

“Aku juga berfikir itu sangat bagus. Meskipun sederhana namun terlihat polos dan terlihat potret keluarga bahgia,” kata omma suzy setuju akan perkataan suaminya.

“Aku setuju terlihat sangat bahagia. Apa seperti ini menurutmu gambaran keluarga kita ya chagi?” tanya appanya pada suzy.

“Ne, dan aku berharap kita akan selalu seperti itu,” jawab suzy.

“Wah uri suzy baru berumur sembilan tahun, tapi bicaranya sudah seperti ajhuma,” ledek omma suzy.

“Bukan seperti ajhuma, aku kan memang pintar jadi bicaraku memang lebih dewasa,” jawab suzy meyombongkan diri dan sok dewas, membuat omma dan appanya tertawa.

“Kalian jangan mencium pipiku terus, nanti semakin besar. Lagian aku sudah besar itu memalukan,” omel suzy pada kedua orang tuanya sambil memegang pipi tembemnya.

“Oh ya dua minggu lagi uri suzy akan ulang tahun yang kesepuluh ya?” Tanya ayahnya tak sengaja melihat kalender yang ada di meja di sebalah kanan ayah suzy. “Bagai mana kalau kita pergi berlibur ke pulau Jaeju saja? Appa bisa cuti kerja.”

“Jinja? Appa gak bohong? Kita liburan ke pulau Jaeju?” tanyasuzy dan ommanya berbarengan. Appanya hanya mengangguk sebagai jawaban.

“lagian appa kan belum memberi kamu hadiah karena kamu lolos akselerasi kemarin kan?” suzy hanya memandang appanya senang. “sekalian memberi hadiah, merayakan ulang tahun mu dan sebagai refresing karena kamu sekarang kelas enam berarti akan menghadapi ujian negara.”

“Jadi appa merapel semua hadiahnya?” tanya suzy agak sebal. “Masa hadiahku dijadikan satu, dasar appa pelit.”

“Mau enggak?” tanya appanya lagi.

“Tentu saja,” jawab suzy kembali kompakan bersama ommanya.

“Ya sudah, sekarang waktunya tidur, besok kamu harus sekolah.” Kata appanya sambil menggendong suzy kekamarnya untuk menidurkanya.

“Selamat malam chagi,” kata appanya dan ommanya bergantian sambil mencium pipi suzy. Lalu appanya dan omma suzy mematikan lampu kamar suzy dan keluar dari kamarnya.

…………………………….

10 sept 2008

 

Sengi cukka hammida..sengi cukka hamida….sengicukka uri suzy..sengi cukka hamida…

Suzy terbangun mendengar suara nyanyian seorang wanita dan semakin terharu begitu membuka matanya melihat kue tart di depan matanya dengan lilin berbentuk angka 12. Dia langsung bangun dengan air mata yang keluar dari matanya.

“Omma..”tangis suzy benar-benar pecah. Dia tak menyangka ommanya akan mengingat ulang tahunya kali ini bahkan menyiapkan kue ulang tahun.

“Sudah jangan menangis terus. Cepat tiup lilinya, nanti meleleh dan merusak kuenya. Tapi sebelumnya make a wish dulu” sela ommanya saat melihat suzy akan meniup lilinya, dan suzy langsung menuruti perkataan ommanya.

“Gomawo..” kata suzy ahirnya setelah meniup lilinya. “Aku tak menyangka omma akan mengingat ulang tahunku.” Kata suzy sambil memeluk pinggang ommanya.

“Tentu saja omma ingat ulang tahun putri omma satu-satunya, setiap tahunkan begitu” jawab omma suzy membalas pelukan suzy. “Kamu tadi memohon apa?”

“Ne, tapi melihat situasi keluarga kita tahun ini aku pikir omma tak akan mengingatnya,” ada sedikit jeda sebelum suzy melanjutkan, “Aku memohon, supaya appa kembali seperti appa yang dulu.”

Jawab suzy membuat ommanya memeluk suzy semakin erat. Ada rasa perih yang tiba-tiba menusuk hati kedua wanita itu ketika mereka mengingat pria yang menjadi suami dan ayah mereka.

“Sudah, jangan ingat yang sedih-sedih, ini kan ulang tahun mu jadi harus bergembira. Sekarang potong kuenya,” suzy melepaskan pelukannya dan memotong kuenya lalu menyuapkanya untuk ommanya.

“Aku ingin memberikan potongan kue pertama buat omma dan appa. Tapi karena appa tidak dirumah, aku akan menyimpannya sampai appa pulang.”

Omma suzy tak berkomentar apa-apa. Dia tak ingin merusak suasana hati putrinya dengan mengatakan lebih baik tak menunggu appanya, karena mungkin dia tak pulang.

“Baiklah, ayo cepat bagun dan mandi, kamu harus sekolah. Omma sudah masak makanan kesukaanmu jadi cepatlah mandi dan sarapan. Omma akan menyimpan kue ini di kulkas.” Lalu omma suzy melangkah keluar dari kamar suzy.

“Omma..” ommanya menghentikan langkahnya begitu suzy memanggilnya dan berbalik, “Gomawo dan saranghe..” omma suzy tersenyum dan menjawab,

“Nado, omma menyayangimu selamanya..” lalu keuar dari kamar suzy.

………………………..

“Wahh semuanya enak sekali. Masakan omma memang juara,” kata suzy sambil melahap makanan di meja yang khusus di buat ommanya untuk ulang tahunnya, semua makan kesukaannya.

“Jinja? Kalau gitu makan lah yang banyak. Badamu terlalu kurus karena kamu terlalu banyak belajar,” Nasehat ommanya. “Aku heran dengan badan sekurus itu, bagaiman kamu bisa selalu juara satu dan lulus akselerasi. Di umur yang masih dua belas tahun tapi sudak kelas satu SMA. Itu benar-benar mengerikan. Di usiamu itu seharusnya kamu masih SMP dan menikmati waktu bersam teman-temanmu bukan hanya dengan buku.”

“Omma ini aneh. Semua orang tua ingin anaknya rajin belajar tapi omma malah sebaliknya.” Kata suzy disela-selam makannya. “Lagian aku ingin cepat lulus sekolah dan mencari kerja lalu menghasilkan banyak uang biar omma tak usah bekerja kerasa lagi.” Kata suzy dengan polosnya. “Aku kasin pada omma, sejak appa di PHK omma bekerja sendrian untuk keluarga kita sebagai tukang cuci di restoran. Belum lagi appa yang suka mabuk-mabukan dan melapiaskannya pada omma dan aku. Aku ingin membuat omma bahagia.” Jawab jujur suzy itu membuat ommanya terdiam dan ingin menagis.

“Omma dulu sangat catik dan modis. Aku selalu berharap seperti omma kelak. Tapi sekarang omma terlihat jauh lebih tua dari seharusya. Jangankan modis, omma saja sekarang jarang mengurusi rambut dan baju omma semua sudah ketnggalan jaman.”

“Apa sekarang kamu tak ingin seperti omma lagi?” tanya ommnya untuk mencairkan suasana.

“Ani, aku tetap ingin seperti omma. Karena omma adalah omma terbaik untukku, aku juga akan menjadi omma terbaik untuk ankku kelak. Jadi untuk membahagiakan omma aku akan melakukan apapun yang omma suruh,”

“Gomawo..” tidak ada air mata dimata omma suzy, namu terlihat jelas dia menahan perasaannya sambil menelan ludah.

“Sama-sama omma..” balas suzy sambil melanjutkan makannya.

“Aku pulang..” Suzy dan ommanya langsung tengang mendengar suara itu. Suara yang sudah seminggu ini tak terdengar dirumah mereka, suara yang dirindukan suzy sekaligus di takutinya.

“Appa pulang Suzy-ah..” ya, suara appa suzy. Suara yang dulu sangat di sukai suzy, tapi suara ini menjadi suara yang di takuti suzy dan ommanya selama enam bulan terkahir ini.

“Wah hari ini makan besar ternyata..” tidak ada jawaban dari suzy maupun ommanya. Mereka was-was memperhatikan tingkah pria itu. “Kenapa kalian diam saja? Apa kalian marah karena appa tidak pulang seminngu ini?” tetap tidak ada jawaban.

“Mianhe, appa pergi keluar kota, teman appa menawarkan bisnis di sana.” Suzy langsung melirik ommanya was-was, terlihat ommanya juga was-was. Mereka waspada menanti kelanjutan dari kalimat appanya berikutnya. Biasanya appanya akan meminta uang secara paksa pada omma suzy yang berlajut pada pertengkaran hebat kedua orang tuanya yang berujung pada ayahnya akan melemparkan semua benda yang bisa di raihnya pada dia dan ommanya atau bahkan menghajar mereka berdua sampai appanya puas. Setelah puas appanya akan pergi dari rumah lagi untuk mabuk-mabuakan. Dan suzy tak mau hal itu terulang apalagi ini masih pagi dan di hari ulang tahunnya.

“Hmm karena ini hari ulang tahun uri suzy, jadi appa mengucapkan sengi cukka dan ini kado untukkmu,” kata appa suzy sambil menyerahkan kotak kecil. Suzy menarik nafas lega begitu yakin ayahnya sedang tidak mabuk. Jika tidak sedang mabuk appanya akan menjadi appa yang di sukainya, appa yang lembut,sabar dan penyayang. Berbeda jika sedang mabuk. “Di buka dong.”

Suzy membuka kotak sebesar telapak tangan suzy itu dan melihat isinya. Sebuah jepit rambut. Suzy langsung memeluk ayahnya dengan terharu. Ayahnya masih ingat jika ia sangat menyukai hiasan rambut. “Mian jika ayah hanya bisa memberi barang murah seperti itu, dan maaf juga untuk semua kesalah appa selama ini pada kalian berdua saat appa mabuk.”

“Gomawo, ini sangat bagus” suzy hanya mampu berkata seperti itu. Dia merasakan persaan nyaman yang sudah lama hilang saat ayanhya mengelus kepalnya dengan penuh sayang.

“ehm, sudah lebih baik kita sekarang makan, suzy harus berangkat sekolah,” omma suzy mengintrupsi suzy dan appanya.

“Gomawo, yeobo..” kata appa suzy yang di balas dengan senyum tulus oleh omma suzy.

Suzy memandang senang pada kedua orang tuanya. Pemandangan yang sudah jarang terjadi selama enambulan terakhir ini. Semoga kenyamanan dan ketenangan ini abadi, doa suzy dalam hati.

……………………………

“…..Aku sudah bilang aku tak punya uang lagi…..hiks..hiks” suzy mendengar suara ibunya yang menagis langsung berlari menuju rumah. Dia memang pulang agak malam hari ini karena ada latihan sebelum dia ikut lomba olimpiade biologi. Ketika dia membuka pintu rumah dia melihat pemandangan yang sudah tak asing lagi setiap appanya pulang kerumah.

Baru kemarin mereka hidup tenang, kenapa sekarang ayahnya kumat lagi? Apa ayahnya sengaja menahan diri satu hari saja agar tak merusak ulang tahunnya?

“Dasar permpuan jalang tak tahu diri!!!” murka ayah suzy. Suzy langsung berlari memeluk ibunya begitu dia melihat tangan ayahnya yang bersiap memukul ibunya, alhasil dia merasakan darahnya medesir kencang dan juga rasa panas di sekitar telinganya.

Appanya sempat kaget melihat itu, namun karena mabuk dan di kuasai emosi appanya malah menarik suzy dan mendorongnya kuat hingga kepalanya membentur lamari yang memang berada di sebelah kiri ommanya.

ARRGGGHH!!

Jerit suzy kesakitan. Melihat putrinya di perlakukan kasar, omma suzy emosi dan balik memukul appanya secara brutal. Mendapat serangan mendadak dari istrinya appa suzy sempat kewalah melawan, namun kekuatan laki-laki jauh dari kekuatan wanita, apalagi pria mabuk yang sedang kerasukan dibandingkan wanita lemah seperti ibu suzy.

Suzy ingin membantu tapi ibunya melarang keras, dia hanya bias melihat sambil menangis dan memohon supaya mereka berhenti.

“Appa, jebal berhenti lah…” teriak suzy di tengah tangisnya. “…Appa aku mohon, kasihan omma…sadar lah appa…”suzy benar-benar sudah tidak tahan melihat ommanya di pukuli appanya dan  berusaha menarik appanya, “…aku mohon..” bukanya mendengarkan putrinya appanya malah memukul balik suzy.

Omma suzy yang tidak tahan akan perlakuan suaminya itu semakin emosi.

“Kamu boleh menyakiti aku tapi tidak dengan putriku!!”.

Dia bangkit dan mengambil payang yang ada di dekat lemari dan memukuli ayah suzy. Appa suzy benar-benar kerasukan setan menarik payung itu dari tangan omma suzy dan menyerang balik ibu suzy, dia menusukkan ujung tajam payung sekuat tenaga pada perut ibu suzy sampai berdarah. Tak berhenti sampai di situ dia mengambil vas bunga yang terbuat dari keramik dan memukulkan ke kepala ibu suzy. Darah segar langsung mengalir dari kepala ibu suzy. Masih belum puas appa suzy kembali memukul ibu suzy dan menendangnya sekuat tenaga sampai tak berdaya.

“…appa..berhenti…appa ku mohon….”tangis suzy sambil berusaha menarik tangan ayahnya untuk berhenti, tapi ayahnya tak mendengarkan. Appanya sekara bukan appanya lagi, dia adalah iblis. Dengan penuh nafsu ayahnya terus menendang ibu suzy sekuat tenaga. “..Appa…omma bisa matai..berhentilah..”

Bagai baru mendapat kesadaran ayah suzy langsung berhenti. Dia sangat terkejut melihat hasil perbuatanya. Rambut suzy yang berantakan dan wajahnya yang lebam-lebam. Rumah yang berantakan dengan barang-barang berserakan dilantai, pecahan keramik bertebaran dimana-mana, darah yang begelimang dikakinya dan istrinya yang tergeletak dilantai tak berdaya dengan kepalanya hampir tertutup darah yang sudah mau mengering.

Dia langsung ketakutan dan tak percaya ini hasil perbuatannya. Dia tersadar setelah terlambat. Dia melihat suzy sekarang yang memeluk ommanya dan berteriak agar ommanya bertahan dan cepat sadar. Karena ketakutan dia langsung berlari keluar rumah.

………………….

“..omma sadarlah kumohon..omma..omma…” tangis suzy histeris sambil mengguncang tubuh ommanya. Pikiranya kalut, pikirannya buntu. Dia tidak tau harus berbuat apa, dia tak bisa berfikir apa-apa, yang dia tau ommanya harus bangun, ommanya harus segera membuka mata. Dia tidak bisa berfikir jika dia perlu mencari bantuan, perlu memanggil dokter. Tidak, dia tidak tau apa yang harus dilakukan.

“..omma..omma..aku takut..palli bangun..” jeritnya frustasi. Dan keinginanya terkabul, ommanya membuka mata. “..omma kau membuatku takut..hiks..aku tau kamu pasti bangun..hiks..kamu tak akan meninggalkanku kan…?”

“S..suzy..ah…”

“Ne omma?” kata suzy sambil mendekatkan telinganya kemulut ommanya, namun dia tak dapat menangkap kata yang di ucapakan ommanya. “Kamu tak uasah banyak bicara dulu, biar aku panggil dokter dulu. Nanti kita bisa lanjutkan,” setelah ommanya membuka mata, suzy mulaib isa berfikir. Ya, dia harus mencari bantuan dan memangil dokter. Suzy baru hendak berdiri saat tangan ommanya mencegahnya.

“S..su..zy..ah..dengarkan om..mma….” suzy terdiam. Otaknya kembali buntu, entah kenapa dia punya firasat buruk, “..kamu..ha..harus..mem..balas..dendam omma…” dengan susah payah ommanya berbicara, “kamu harus..membunuh..ap..pa mu..untuk..omma.” Suzy membeku. Dia tau itu permintaan terakhir ommanya. Tapi membunuh appanya? Dia tak akan sanggup. Sepertinya ommanya menyadari keraguan suzy, lalu melanjutkan.

“..i..i..ini..permo..honan..terakhirku..dari..mu..kamu..su..sudah..janji..akan..menga..bulkan..per..mo..ho..nanku..kamu..janji..kan..suzy-ah..putri..omma?” suzy menganggukkan kepalanya sebagai persetujuannya. Ia, dia sudah janji akan memenuhi semua permintaan ommanya. Membuat ommanya bahagia, jadi dia harus mengabulkan permintaan terakhir ommanya.

Suzy menangis histeris. Bukan hanya karena ommanya yang menutup matanya untuk selamanya namun juga karena tugas yang diberikan ommanya. Kewajiban yang harus dikerjannya dan juga menangisi nasibnya yang sebatang kara.

……………………………..

Suzy masih duduk mematung di depan nisan ommanya. Dia menatap kosong pada gundukan tanah yang ada di depannya. Dia ingin menyul ommanya, dia ingin bersama ommanya didalam gundukan tanah itu. Dia ingin menemani ommanya agar ommanya tak kesepian, namun dia tak bisa dia harus menunaikan tugas dari ommanya.

Dia mengingat lagi kenangan bersama ibunya, kenangan saat mereka masih utuh dan saat keluarganya mereka bahagia. Dia ingat ibunya yang suka mengomel dan sangat membencinya saat mengomel, tapi sekarang dia merindukan ibunya mengomel. Dia lebih suka ibunya mengomel dari pada terbujur kaku.Dia teringat ketika ommanya memarahinya karena dia makan berantakan, mengomel saat dia tak mau makan sayur, mengomel saat dia malas mandi dan mengomel akan banyak hal spele lainnya.

Dia juga teringat ketika ommanya di pukuli appanya, teringat ketika ommanya harus luntang-lantang mencari pekerjaan buat hidup mereka, teringat saat ibunya berangkat kerja lebih pagi dan pulang sangat larut, teringat saat ibunya diam-diam masuk kamarnya mengelus rambutnya dan mencium kepalanya karena ibunya tak tau dia pura-pura tidur, teringat saat ibunya diam-diam menangis di kamar mandi, teringat saat menyanyikan selamat ulang tahun untuknya, teringat saat-saat terakhir ibunya dipukuli ayahnya, saat ibunya terbaring lemah berlumuran darah, saat ommanya memintanya untuk membunuh appnya.

“Aku janji omma, aku akan membalas dendamu..” katanya di sela air matanya yang mengalir deras. “Aku akan membunuhnya setelah ia keluar dari penjara.” Suzy suda mendengar ayahnya di penjara. Rupanya setelah membunuh ibunya ayahnya langsung lari dari rumah dan menyerahkan diri kepolisi.

………………………….

10 sept 2009

Suzy mengangkat sedikit rok miniya saat hendak duduk,memperlihatkan paha mulusnya dengan jelas. Dia merapikan rambut panjangnya sambil melirik kearah pria paru baya yang sedari tadi melihatnya dengan napsu. Suzy terus menatap pria itu dengan tatapan nakal dan mulai memberi sinyal jika dia tertarik pada pria itu. Tak butuh waktu lama baginya samapi pria berusia kira-kira di akhir empat puluhan itu mendekatinya.

“Boleh duduk disini?” tanya pria hidung belang itu. Suzy mendongak dan tersenyum.

“Tidak ada larangan..”

“Sendirian?” suzy hanya tersenyum, “Boleh saya temani?”

“Dengan senang hati,” jawab suzy dengan nada sedikit nakal.

“Apa kamu masi kuliah atau sudah kerja?”

“Saya masih SMA om, kelas XI..” kata suzy sambil mengibas-ngibaskan kaosnya memperlihatkan belahan dadanya, membuat pria hidung belang itu menelan ludah berkali-kali.

“Masih SMA? Wow. Badan kamu luar bisa, masih SMA tapi….”

“Tapi apa om?” tanya suzy menggoda.

“Montok…”

“Memang om tau?”

“Saya ingin mencari tahu…”

“Bagai mana jika kita kerumah ku saja…” si pria hidung belang langsung mengangguk tanda setuju.

……………………………….

Pria itu menatap takut pada gadis didepannya dengan pandangan tak percaya. Wajah yang tadinya menurutnya sangat cantik dan menggoda itu ternyata hanya sebuah topeng. Wajah itu sesungguhnya adalah wajah dingin, tanpa ekprsi dan menakutkan. Tidak ada pandangan menggoda sekarang, namun hanya tatapan kosong dan mengerikan. Pria itu semakin ketakutan saat tangan gadis itu mulai memegang pisau dapur.

“Sudah sadar om?” suara itu dingin dan dalam. “Apa masih pusing karena obat biusnya? Ah aku lupa om tak bisa menjawab karena ikatan di mulut om ya.” Masih dengan ekspresi yang sama datar tanpa tanpa ekspresi.

“Apa om tau aku paling benci pada pria hidung belang seperti om itu? Mengingatkan aku pada pria itu,” kini suzy mulai menggoreskan pisaunya di kulit wajah sang korban yang terikat kuat salah satu tiang di rumahnya. “Mengingatkanku pada kewajibanku,” kini pisau itu bergeser ke sisi sebelahnya. Darah segar mulai menetes dari jejak yang di tinggalkan pisau itu.

“Mengingatkanku akan kewajibanku,” sekarang pisau itu mulai mengiris pergelangan tangan priaitu. Pria itu berusaha menjeri namun suara yang keluar hanya berupa gumanan.

“Membunuh adalah kewajibanku,” kini sebuah senyum kepuasan di bibir gadis itu.

“Ini adalah kewajibanku…” kini lengan pria itu sudah mulai terputus, namun tak ada perubahan ekspresi dari suzy. Masih dengan senyum kepuasan, seolah itu adalah kesenangannya.

“Ini kewajibanku,” kata suzy datar. Kini dia berpindah ke lengan sebelahnya setelanh yang tadi sudah terputus. Sementara si korban sudah tak sadarkan diri setelah tak mampu menahan rasa sakit dan juga karena kehabisan darah.

“Aku harus membunuh….”sekarang dia sudah memulai mengiris paha.

“Aku harus membunuh….”

“Aku harus membunuh….”

Suzy terus mengulang-ngulang kalimat itu hingga korbanya tinggalpotongan-potongan daging yang bergeletakan dilantai rumahnya yang sudah dilapisi dengan plastik terlebih dahulu. Setelah melaksanakan kewajibannya, dengan tenang dia membereskan pekerjaanya. Dia masukkan semua hasil karyanya ke dalam kantong plastik. Dia membawa bungkusan plastiknya kehalam belakang rumahnya dan mulai membakar sampahnya. Lalu kembali bergegas kembali kerumah dan melanjutakan pekerjaanya membersihkan rumah lalu mebakar semuanya kecuali pisau yang di pakainya.

………………………………..

“………untuk laporan hilang kedua untuk hari ini adalah seorang pria berumur 48 tahun, memiliki tinggi 172, berat 87 kg, perut agak buncit. Kulit putih ada tahi lalat di pipi sebelh kanan. Baju yang terakhir digunakan adalah setelan jas warna hitam dengan kemeja warna putih. Terakhir terlihat dua hari lalu yaitu hari sabtu sepuluh oktober. Bagi yang melihatnya silakan hubungi no……”

……………………………..

“Om tau membunuh adalah kewajibanku..” seorang pria menatap ketakutan pada gadis didepanya. Bagai mana bisa dia di tipu oleh gadis remaja, bukankah yang penipu adalah dia?

“Selain pria hidung belang aku juga membenci penipu…” kini pisau itu mulai mengiris wajah korbannya.

“Itu juga mengingatkanku pada orang itu. Dia telah menipu ibuku…”

“Jadi aku harus membunuh…” tangan korbanya sudah lepas dari tubuhnya.

“membunuh adalah kewajibanku….” senyum kemenangan terukir jelas didbibirnya.

“Aku harus membnuh……” dia membereskan semua hasil karnyanya yng berikutnya, entah sudah yang keberapa, mungkin ke lima, atau enam , atau tujuh. Suzy tak pernah menghitung.

“Aku harus membunuh….” dia masih terus menggumankan kalimat itu, meskipun semua sudah hangus menjadi debu.

……………………..

Sept 2011

“Appa…” suzy langsung berlari memeluk ayah begitu keluar dari ruang tahanan.

Hari ini appa suzy keluar dari penjara setelah menghabiskan tiga tahun masa tahanan. Ayahnya memang tak dihukum terlalu berat karena sudah menyesal, tidak ada unsur kesengajaan dan juga mau menyerahkan diri sendiri ditambah remisi setiap hari besar dan berkelakuan baik.

“Appa aku merindukanmu..”kata suzy dalam pelukan ayahmu.

“Appa juga merindukanmu. Appa minta maaf atas semua perbuatan appa, appa tau seberapun appa minta maaf itu tak akan cukup, appa benar-benar menyesal, biarkan appa memperbaikinya,” kata appanya. Suzy bisa mendengar nada tulus dan sungguh-sungguh dari appanya. Dia menangis karena merindukan appanya dia juga menangis karena appanya yang di kaguminya sudah kembali. Benar-benar kembali.

“Kajja, kita langsung pulang. Appa merindukan rumah, “ suzy memeluk appanya semakin erat, seolah akan kehilangan appanya lagi. Seolah mereka akan terpisah lagi.

“Aku sangat menyayangi appa..”

“Appa juga..”

“Aku benar-benar menyayangi appa..”

“Appa tau…”

………………………

“Apa yang kau lakukan suzy-ah?” tanya appa suzy kaget. Ketika terbangun tangan dan kakinya sudah di ikat suzy dengan erat.

“Ini kewajibanku. omma menyuruhku untuk membunuhmu. Jadi, aku harus melakukannya.”

Belum sempat ayahnya menjawab, suzy sudah mengikat rapat mulut ayahnya.

“Ini adalah tugas utamaku, jadi aku harus segera menyelesakannya..”

Suzy lalu memegang pisau yang biasanya digunakan untuk membunuh korban-korbannya sebelumnya. Namun kali ini berbeda.

Tidak ada ekspresi dingin dan datar yang biasa ditunjukkannya. Tidak ada tatapan dingin dan mengerikan, tak ada senyum kemenangan seperti biasanya. Kali ini tangannya bergetar ia ketakutan. Tiba-tiba mata yang biasanya dingin itu mengeluarkan airmatanya, “ini semua demi omma, aku harus melakukannya,” katanya di sela tangisnya.

Appanya yang diikat keras-keras oleh suzy tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memberi tatapan menenangkan dan mengangguk seolah menyetujui pertuatan putrinya itu dan seolah berkata, lakukanlah.

Tangan suzy semakin keras, air matanya semakin deras mengalir, dia mulai melakukan langkah-langkah seperti yang biasa dia lakukan, “aku sudah membunuh banyak orang, aku pasti bisa menyelesaikannya..aku hanya perlu melakukan seperti biasanya…” dia mulai mengiris wajah ayahnya, berlanjt ke tangan. Tangannya bergetar hebat, dia juga terluka. Setiap rintihan yang dikeluarkan ayahnya membuatnya semakin kesakitan,

Ekspresi yang biasa di tunjukkan saat memutilasi korbanya, tak terlihat sama sekali. Setiap dia memotong setiap tubuh ayahnya, dia merasakan sakit yang sama seolah dia lah yang di mutilasi. Dia juga terluka hebat. Emosinya terkuras semua. Setelah selesai memutilasi tubuh ayahnya menjadipotongan kecil dia memasukkan tubuh ayahnya kedalam kantong plastik.

Tida seprti biasa, mungkin karena emosinya yang terkuras dan pikirannya yang kacau, dia tidak merapikan perlengkapannya dengan rapi dan bersih, bahkan dia juga tak membakar tubuh ayahnya seperti kornanya yang lainya. Dia hanya membuang tubuh ayanhya di tempat sampah depan rumahnya. Tatapannya kosong dan tak terbaca. Tentu saja kelalaiannya itu membuat polisi bergerak cepat. Tak butuh waktu 2x 24 jam seperti melaporkan orang hialang, bahkan tak perlu waktu 24 jam untuk menggirng suzy kekantor polisi.

……………………

10 sept 2012

Suzy di kawal oleh delapan orang personel polisi bersenjata lengkap kedalam ruang isolasi. Mungkin jika orang tidak tau seperti apa gadis itu, mereka pasti menganggap berlebihan perlakuan tersebut. Dia hanya bocah perempuan kecil berusia enam belas tahun. Mereka akan terkecoh dengan tampang polos dan datar bocah perempuan itu.

Tapi  tidak bagi yang mengenalnya, ada iblis di balik tubuh gadis itu dan perlakuan itu tak berlebihan sama sekali.

Begitu suzy di jebloskan keruang isolasi, hal pertama yang dilakukannya adalah tersenyum puas yang tak lama kemudian digantikan oleh tangis yang menyayat hati. Dia tersungkur di ruang kotor dan pengap itu. Menangis meraung-raung seperti orang sakit jiwa.

……………….

Sengi cukka hammida..sengi cukka hamida….sengicukka uri suzy..sengi cukka hamida…

Suzy terbangun dari tidurnya, dia tertidur karena merasa kelelahan menangis. Senyum manis langsung terukir di bibirnya begitu melihat omma dan appnya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

“Omma aku sudah melakukan tugasku, apa omma sudah bahagia sekarang?” omma suzy hanya tersenyum,

“Mianhe suzyah…omma membuatmu menjadi begini..”

“Itu adalah kewajibanku, omma tak usah minta maaf…” suzy tersenyum melihat mata indah ibunya yang di wariskan padanya.

“Suzy-ah…”

“Mianhe appa….”

“Ani, ini bukan salah mu, ini semua salah appa kamu jadi begini…” kata appanya menyesal. “kamu harus dihukum seperti ini…apa kamu tak mau ikut dengan appa, di sini menyenangkan.”

“Ini memang pantas aku terima. Hukuman sepertiini lah yang pantas di terima orang keji sepertiku. Rasa sakit ini adalah hukuman Tuhan padaku.”

“Apa kamu sengaja melakukan itu semua untuk mendapatkan hukuman seperti ini..” suzy hanya mengguk.

“Jika hanya membunuh ayahku aku tidak akan dihukum berat appa, aku membutuhkan banyak korban yang membaut mereka menghukum aku sebesar-besarnya. Ternyata karena di bawah umur, aku juga tak bisa di hukum. Karena itu aku berusa kabur dari penjara dan dngan sengaja ketahuan biar mereka menghukumku lebih berat lagi.

Aku tau mereka tak akan menghukum mati aku karena aku masih di bawah umur. Jadi aku menghukum diriku sendiri dengan hukuman yang lebih pantas. Menanggung semua rasa sakit ini seumur hidupku. Aku juga tak mau mati, karena itu terlalu mudah.”

“Mianhe suzy-ah…appa benar-benar menyesal….”

“Aku memaafkanmu appa……”

………………………..

suzy terbangun dari tidurnya, ternyata dia hanya memimpikan ayah dan ibunya. Dia menatap langit-langit tahananya dan kembali menangis pilu.

“Hukuman ini adalah yang paling pantas untuk orang keji sepertiku, aku adalah orang paling jahat di dunia. Aku tak ingin mati, aku ingin merasakan sakit ini selamanya…hidup yang sulit…” guman suzy lalu kembali air matanya menetes. Wajahnya menahan rasa sakit yang terus ia rasakan di dada, isakan itu terus terdengar selamanya.

 THE END

Advertisements

17 thoughts on “THIS MY PUNISHMENT

  1. kasihan suzy karena janji balas dendam dia harus jadi pembunuh padahal usianya masih kecil. di tunggu thor ff it’s okay because i love you.

  2. kasian bget suzy,, sedih baca’a. feel’a dpet
    but, ff’a bgus qok^^
    tpi lain x jgn ad adegan bunuh2#sadis

    • wah terimakasihh…

      ya biasanya itu sesuai ide yang muncul…
      entah kenapa pas melihat foto suzy yg itu kepengen buat dia seorang yang agak sadis gt lah…
      mudah2an lain kali idenya gak kyk gt lagi..hehehehehe

  3. sadiiis bnget…suzy jd pembunuh berdarah dingin…mpe dimutilasi gitu korbannya sereem

    tp ide ceritanya bgus..beda dr yg lain..

  4. Ngga mampu berkata lagi 😦
    Serem amet bacanya u,u apalagi ini saya baca malem lagi 😦
    Jd takut u,u

    • hahaha
      memang baca yg sadis2 itu momenya paling pas tengah malam gt, meskipun ffnya gak terlalu sadis alias gagal tp krn suasanya mencakam, jd feelnya jd terasa bgt (tp bukan ceritanya, krn suasanya aja, hehehehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s